Episode prasaan yang berubah

1562 Kata
📖 BAB 11: Perasaan yang Berubah Sejak pertemuan malam itu, sesuatu mulai bergeser di antara Alesha dan Daven. Mereka bertemu di kampus, berjalan bersama, berbicara seperti dua orang yang sedang mencoba memahami satu sama lain tanpa beban masa lalu yang terlalu berat. Tapi, hati Alesha bergejolak. Ia mulai merasakan perasaan yang selama ini ia coba sembunyikan. Di kantin kampus, Alesha duduk sendiri sambil menatap secangkir kopi yang mulai dingin. Temannya, Rina, menghampiri dengan senyum lebar. “Alesha, lo kenapa? Kayak lagi ada yang ngeganggu terus,” tanya Rina santai tapi penuh perhatian. Alesha menghela napas, mencoba menyembunyikan kegelisahan. “Gue gak tahu, Rin. Kayak... ada sesuatu yang beda. Gue gak bisa jelasin, tapi gue mulai ngerasa... sesuatu yang aneh buat gue.” Rina duduk di sampingnya, “Maksud lo gimana? Lo jatuh cinta sama dia?” Alesha tersenyum miris, “Itu yang gue coba hindarin selama ini. Tapi makin ke sini, gue sadar, gue gak bisa bohong sama diri gue sendiri.” Sementara itu, Daven duduk di perpustakaan, matanya menatap buku tapi pikirannya melayang ke Alesha. Dia sadar, perasaannya bukan lagi sekadar rasa bersalah atau penyesalan. Dia mulai benar-benar peduli. Hari-hari berlalu, mereka mulai berbagi lebih banyak waktu bersama. Berjalan pulang bareng, ngobrol sampai larut, bahkan tertawa bersama—sesuatu yang dulu terasa mustahil. Namun, di balik itu, bayangan masa lalu dan kesalahan yang pernah dibuat terus menghantui. Alesha bertanya-tanya, apakah perasaan barunya ini cukup kuat untuk melawan luka lama? Apakah Daven benar-benar bisa berubah? Malam itu, Alesha duduk di balkon kamarnya, menatap langit gelap penuh bintang, dan berkata pada dirinya sendiri, “Ini bukan cuma soal cinta. Ini soal keberanian buat percaya lagi.” --- Kutipan Bab Ini: > “Perasaan yang berubah tak selalu mudah, tapi terkadang justru itula h jalan menuju kedewasaan.” 📖 BAB 12: Pertemuan dengan Masa Lalu Hari-hari terasa lebih berat bagi Alesha dan Daven. Setelah perasaan yang mulai tumbuh, tiba-tiba muncul sosok dari masa lalu Daven yang tak pernah dia harapkan. Di lorong kampus yang ramai, Daven melihat seseorang berdiri dengan tatapan dingin. Itu adalah Kevin, teman lama sekaligus musuh bebuyutannya yang selama ini mengintai di balik bayang-bayang. Kevin melangkah mendekat dengan senyum penuh arti, “Daven, lama gak ketemu. Gue dengar kamu mulai main-main sama Alesha.” Daven mengerutkan dahi, “Kevin, apa maksud lo datang ke sini?” Kevin tertawa kecil, “Gue cuma mau bilang, jangan kira lo bisa kabur dari masa lalu lo begitu aja. Ada utang yang harus lo bayar.” Alesha yang tak sengaja mendengar percakapan itu, merasa jantungnya seperti dihantam batu. Kenapa masa lalu Daven terus datang menghantuinya? Apa sebenarnya yang disembunyikan Daven selama ini? Malamnya, Alesha mencoba konfrontasi. “Daven, siapa Kevin itu? Kenapa dia bawa-bawa masa lalu lo? Kenapa gue gak pernah denger cerita soal dia sebelumnya?” Daven terdiam sejenak, lalu dengan suara berat berkata, “Kevin itu bagian dari alasan kenapa gue dulu jadi orang yang lo benci. Ada hal-hal kelam yang gue coba tutup rapat, tapi dia datang buat buka semua itu lagi. Gue gak mau kamu kena imbasnya, Alesha.” Alesha menatap tajam, “Lo gak bisa terus lari, Dav. Kalau lo pengin kita jalan bareng, lo harus jujur. Semua. Sekarang.” Daven menghela napas panjang, “Baik. Gue siap cerita semuanya. Tapi gue butuh waktu buat mulai.” Malam itu, di kamar Alesha, mereka duduk berdua, perlahan membuka lembar demi lembar masa lalu Daven yang kelam dan penuh luka. Alesha merasa campur aduk: sakit, marah, tapi juga mulai mengerti alasan di balik sikap Daven selama ini. Namun satu hal yang pasti, pertarungan mereka belum berakhir. Masa lalu tak akan begitu mudah dilepaskan. --- Kutipan Bab Ini: > “Masa lalu bukan untuk dihindari, tapi untuk dihadapi—meskipun it u berarti membuka luka lama.” BAB 3: Awal yang Tak Terduga Kampus pagi itu tidak berbeda jauh dari hari-hari sebelumnya. Mahasiswa berhamburan ke sana kemari, beberapa terburu-buru masuk kelas, beberapa lainnya nongkrong di taman atau kantin. Di antara keramaian itu, Alesha duduk di bangku panjang dekat pohon ketapang. Ia membuka buku tebal bertuliskan "Psikologi Komunikasi" namun tatapannya kosong. Ia sama sekali tidak membaca. Pikirannya jauh, terjebak dalam kejadian semalam. Bayangan wajah Daven, pria yang muncul begitu saja di lorong kampus dan mengeluarkan kalimat yang aneh dan menyebalkan, masih melekat kuat. Nada suaranya, cara dia menatap, bahkan cara dia berjalan pun seperti tertanam dalam memori Alesha. Ia tak mengerti kenapa, tapi itu mengganggunya. "Lo ngelamunin siapa sih, Lesh?" tanya Rina tiba-tiba, muncul sambil membawa dua gelas es teh manis. Ia langsung duduk di samping Alesha dan memberikan satu gelas padanya. Alesha tersentak ringan, lalu menerima gelas itu. "Nggak siapa-siapa." Rina menyipitkan mata. "Jangan bohong deh. Lo tuh kalo lagi mikirin cowok, matanya suka kosong gitu." Alesha langsung mengalihkan pandangan. "Apaan sih, Rin. Emangnya gue gampang mikirin cowok?" "Justru karena lo nggak gampang, makanya aneh kalau sekarang lo mikirin seseorang," jawab Rina sambil meneguk minumannya. Alesha menghela napas panjang, mencoba mengalihkan topik. Namun, sebelum ia sempat bicara, suara langkah kaki mendekat. Keduanya menoleh. Dan di sanalah Daven berdiri. Seragam putih kampusnya tidak dikancingkan dengan benar, ransel hanya tersampir di satu bahu, dan senyumnya... tajam. "Kebetulan ketemu, Alesha," katanya, menyebut nama Alesha dengan cara yang membuat Rina langsung menatap curiga. Alesha mengangkat alis. "Lo siapa sih sebenernya? Nggak kenal, tiba-tiba kenal nama gue. Sekarang nongol seenaknya." "Bukannya lo juga pernah bilang ke orang, 'semua yang ada di kampus ini bisa gue lacak kalau gue mau'?" balas Daven santai. "Gue juga bisa." Rina membelalak. "Wah, gila, Lesh. Lo nyari musuh apa gimana sih? Siapa nih cowok?" Daven tertawa kecil. "Santai aja, temennya Alesha. Gue bukan musuh... belum." Alesha berdiri, menatap Daven lurus-lurus. "Gue nggak punya waktu buat main-main sama cowok kayak lo." Daven mendekat satu langkah. "Tapi gue punya waktu buat lo." Perkataan itu membuat Rina terbatuk spontan. Alesha langsung memutar tubuh dan pergi, meninggalkan Daven berdiri dengan senyum miring yang mengganggu. Tapi Daven tidak marah, tidak mengejar. Ia hanya menatap punggung Alesha yang menjauh. Hari-hari setelahnya, Daven seperti bayangan yang terus ada. Kadang muncul di kantin, kadang berdiri dekat pintu kelas Alesha, kadang bahkan duduk di perpustakaan tempat Alesha biasa menyendiri. Ia tak banyak bicara, tapi selalu membuat keberadaannya terasa. "Gue mulai muak, Rin. Cowok itu kayak ngejar, tapi nggak pernah jelas tujuannya apa," keluh Alesha suatu sore saat mereka duduk di bawah pohon rindang dekat parkiran. "Tapi lo juga nggak bisa bilang dia ganggu. Dia nggak pernah nyentuh lo, nggak maksa, bahkan kayak tahu batas." "Justru itu yang bikin gue bingung. Dia bukan tipikal cowok nyebelin biasa. Ada yang disembunyikan." "Atau lo yang mulai suka?" goda Rina sambil mendorong bahu Alesha ringan. Alesha menoleh tajam. "Nggak mungkin." Tapi malam itu, di kamar kosnya yang sempit, Alesha membuka layar ponsel dan tanpa sadar mencari nama Daven di media sosial kampus. Tidak banyak informasi, hanya beberapa foto, sebagian besar gelap dan tanpa keterangan. Tapi ada satu foto yang menarik perhatiannya—Daven berdiri di depan mural besar bertuliskan "Jangan percaya apa yang terlihat." Alesha menggulir layar pelan. Pikirannya kacau. Ia tahu, hidupnya akan berubah. Entah kenapa, ia merasa Daven bukan sekadar cowok sok misterius. Ada sesuatu di balik sikap dinginnya. Sesuatu yang bisa jadi berbahaya... atau justru menyelamatkannya. Dan sejak saat itu, pertemuan yang tadinya tidak penting, menjadi hal yang terus mengisi pikirannya. --- Kutipan Bab Ini: > "Kadang yang lo kira ng gak penting, justru yang bakal ngebalikin arah hidup lo." BAB 4: Mulai Terbakar Pagi itu Alesha masuk kelas lebih awal dari biasanya. Entah kenapa, ada dorongan aneh yang membuatnya ingin datang sebelum semua orang. Tapi alih-alih ruang kelas kosong, yang pertama dia lihat justru Daven. Duduk di bangku belakang, menatap ke luar jendela, seolah dunia tak penting. "Lo ngapain di sini?" tanya Alesha, tidak bisa menyembunyikan nadanya yang kesal. Daven menoleh pelan, menatap Alesha seperti sudah menunggunya. "Mau belajar. Emangnya kelas cuma milik lo?" Alesha mengerutkan kening dan memilih duduk jauh di depan. Tapi hatinya gelisah. Tatapan cowok itu seperti mengupas lapisan dirinya yang selama ini dia sembunyikan. Dan itu membuatnya risih. Sepanjang pelajaran, Daven sesekali bicara dengan dosen, aktif bertanya dan menjawab. Itu di luar dugaan Alesha. Cowok yang dia kira sekadar pengganggu ternyata cukup pintar. Bahkan beberapa mahasiswa lain mulai memperhatikan. Setelah kelas bubar, Alesha masih membereskan buku saat Daven lewat dan berbisik pelan, "Kamu takut aku beneran masuk ke hidup kamu, ya?" Alesha mematung. Kata-kata itu bukan sekadar gertakan. Daven tahu persis caranya bermain di area yang membuat Alesha tidak nyaman. Keesokan harinya, kejadian di kelas itu menjadi topik obrolan di kantin. Banyak mahasiswa mulai membicarakan Daven. Si misterius yang kini mulai menarik perhatian bukan cuma Alesha. "Kayaknya cowok itu emang bukan kaleng-kaleng ya," celetuk Rina. "Lo harus hati-hati, Lesh." "Justru itu masalahnya. Kalau dia cuma playboy, gampang ditebak. Tapi ini beda." Hari demi hari, interaksi Alesha dan Daven meningkat, tanpa sadar. Mulai dari tugas kelompok yang tiba-tiba menyatukan mereka, sampai kejadian-kejadian kecil seperti ketemu di lift atau hujan bareng di halte. Semuanya terasa seperti kebetulan... yang terlalu sering terjadi. Suatu malam, Alesha menerima pesan anonim di ponselnya. 'Hati-hati sama Daven. Dia nggak kayak yang lo kira.' Dan sejak pesan itu datang, rasa penasaran Alesha berubah menjadi api. Ia ingin tahu. Ia harus tahu. Siapa sebenarnya Daven, dan kenapa semua ini terasa seperti jebakan yang dibungkus takdir. --- Kutipan Bab Ini: > "Kadang lo nggak sadar lagi jalan ke jurang, karena lo sibuk nikmatin siapa yang nemenin di sisinya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN