BAB 13 – Permainan Ganda
Matahari sudah turun, tapi lampu-lampu taman kampus belum menyala. Liora berdiri di tengah jalur setapak, menatap layar ponselnya. Sudah dua puluh menit, belum ada pesan dari Raka.
"Ngilang kemana lagi sih nih orang," gumamnya.
Beberapa hari ini, sikap Raka berubah total. Tidak ada chat larut malam, tidak ada obrolan basa-basi, bahkan di kelas pun dia cuma melirik sekilas. Padahal seminggu lalu, cowok itu masih sempat-sempatnya nganterin Liora pulang dengan motor, sambil bercanda seolah mereka teman lama.
Liora mulai curiga. Dan dia benci saat dia merasa... ditinggal.
Tasha, sahabat Liora, muncul dari balik tangga gedung perpustakaan.
“Li, lo kenapa masih nungguin dia? Bukannya lo bilang lo lagi mainin dia?”
Liora menghela napas, matanya kosong.
“Gue gak tahu, Sha. Awalnya iya. Tapi sekarang... ribet.”
“Dia tuh bukan cowok baik. Lo juga tahu. Dia deketin banyak cewek.”
Liora tahu. Bahkan dia punya nama-namanya. Tapi dia juga tahu: Raka bisa jadi baik kalau dia mau. Dan itu yang bikin Liora tambah bingung. Cowok itu seperti main dua peran—satu buat dunia, satu buat dia.
---
Malam itu, Liora iseng buka akun medsos Raka pakai akun alter-nya. Dia udah follow dari lama tapi gak pernah komentar. Kali ini dia coba DM, pakai nama samaran.
Dan... dibalas.
Bukan cuma dibalas. Raka bahkan mulai ngobrol lebih panjang, menceritakan soal “cewek aneh dari kelas ekonomi yang bikin dia bingung sendiri.” Liora langsung tahu: itu tentang dirinya. Tapi yang bikin kaget, cara Raka cerita justru terdengar... jujur.
“Ada yang beda dari dia. Tapi gue gak yakin, dia mainin gue atau enggak.”
Liora diem.
“Dan kadang gue rasa... gue pantas dibales kayak gini. Soalnya dulu gue juga sering ngelakuin hal sama ke orang lain.”
Liora mendadak kesel sendiri. Jadi sekarang cowok ini sok-sokan nyalahin diri sendiri biar terkesan korban? Atau emang dia sadar dia nyakitin orang?
Apapun itu, malam itu Liora gak bisa tidur. Antara marah, kasihan, dan—yang paling bikin kesel—masih ada rasa suka.
---
Keesokan paginya, Raka duduk di kursi taman belakang fakultas. Liora datang, diam-diam. Duduk di sampingnya tanpa bicara. Raka juga diam.
Liora akhirnya bicara, datar, “Kalau lo capek main-main, bilang.”
Raka menatapnya sebentar. Lalu tersenyum miris. “Gue gak mainin lo, Li. Tapi mungkin... lo yang lagi mainin gue.”
Liora nyaris bangun dan pergi. Tapi Raka menahan pergelangan tangannya.
“Kalau lo emang pengen tahu siapa gue sebenarnya, datang ke tempat ini malam nanti.” Dia menyerahkan kertas kecil dengan alamat.
Tanpa nunggu jawaban, Raka pergi.
Liora membuka kertas itu. Lokasinya bukan tempat biasa—bukan cafe, bukan tempat nongkrong mahasiswa. Tapi... alamat gedung tua dekat kawasan kosong yang katanya udah gak dipakai kampus.
Dan saat itu juga, firasat buruk mulai muncul.
---
Akhir Bab 13
> Mainin orang bisa jadi mudah. Tapi ngadepin orang yan
g tahu lo juga lagi main? Itu yang bikin jatuh cinta jadi bahaya.
BAB 14 – Rencana Rahasia
Liora sudah duduk di pojok kafetaria kampus sejak dua puluh menit lalu. Laptop terbuka, buku catatan penuh coretan. Tapi bukan tugas yang sedang dia kerjakan. Itu semua adalah file pribadi—dokumen-dokumen yang dia simpan dengan rapi: chat, screenshot, transkrip obrolan, bahkan rekaman suara dari beberapa orang yang pernah disakiti oleh Raka.
Bukan karena dia terobsesi. Tapi karena dia belum bisa lupa. Dan karena, sejak malam itu di taman kampus, saat Raka bilang dia beda, Liora tahu dia mulai ragu pada misi awalnya: balas dendam.
Tapi sekarang bukan waktunya bimbang. Dia sudah terlalu dalam masuk ke permainan. Dan... dia belum bisa ngelepas rasa perih itu. Apalagi setelah mendengar desas-desus terbaru: Raka katanya lagi deket sama cewek baru dari fakultas seni.
“Gue gak ngerti cowok itu,” keluh Liora pelan sambil menutup laptopnya. “Kalau emang serius, kenapa masih keluyuran?”
Tasha duduk di seberangnya, membawa dua minuman dingin.
“Li, cowok kayak Raka tuh gak bisa lo nilai dari ucapan. Liat aja tindakannya. Kalo dia masih main belakang, ya udah. Lo tinggalin, jangan malah makin nyemplung.”
Liora diam. Tapi diamnya penuh konflik. Di satu sisi, dia ingin berhenti. Di sisi lain, harga dirinya belum utuh sejak pertama kali dirusak.
Malamnya, Liora buka email. Di inbox ada satu pesan anonim:
> “Kalau kamu pengen bukti, datang ke parkiran belakang jam 9 malam. Jangan ajak siapa-siapa.”
Dia sempat ragu. Tapi penasaran menang.
Jam 8:45, Liora udah di dekat parkiran. Dia pakai hoodie hitam, nyaru. Di kejauhan, dia lihat seseorang berdiri dekat mobil hitam—bukan Raka. Tapi ada dua orang lainnya di belakang mobil, sedang berbicara. Salah satunya... Raka.
Dan yang bikin Liora hampir jatuh, Raka tampak sedang menyerahkan sebuah amplop ke seorang pria yang dia tahu bukan anak kampus. Orang itu tampak dewasa, berjas, dan berwajah serius.
Dia buru-buru rekam dengan kamera ponsel. Tanpa suara. Cukup untuk bukti.
Tapi kemudian... Raka melihat ke arah kamera. Menatap lurus. Seolah tahu dia sedang diawasi.
Liora langsung kabur.
---
Esok paginya, kampus heboh. Ada gosip bahwa seorang mahasiswa ketahuan menyuap panitia beasiswa untuk dapat jalur khusus.
Nama yang beredar: Raka Alvareza.
Liora terdiam di kelas. Tangannya dingin. Jantungnya berdetak kencang.
Bukan karena takut. Tapi karena merasa... bersalah.
Dia belum kirim videonya ke siapa pun. Tapi gosip itu sudah menyebar. Entah dari mana. Dan dia jadi bingung. Ini belum bagian dari rencananya.
“Lo nyebarin?” bisik Tasha.
“Enggak. Sumpah.”
Tapi tetap saja, semua pandangan tertuju ke Raka saat dia masuk kelas. Dan dia... tetap tenang. Seolah semua gosip gak pernah menyentuh dia. Tapi Liora tahu, sorot matanya... kosong. Kaya orang yang habis kehilangan arah.
---
Malamnya, ponsel Liora berdering. Raka.
Dia angkat, ragu.
“Lo percaya apa yang mereka bilang?” suara Raka datar.
“Gue gak tau. Lo sendiri percaya diri banget keliatan kayak bersih?”
“Gue gak pernah nyuap siapa pun,” kata Raka pelan. “Tapi kalo lo pengen bukti, kita ketemu. Gue mau lo liat semuanya. Termasuk sisi yang selama ini gak pernah gue tunjukkin ke siapa pun.”
Liora terdiam. Kali ini... perasaannya benar-benar campur aduk.
---
Akhir Bab 14
> Kadang rencana paling kuat pun bisa kalah oleh kebenaran
yang datang tiba-tiba. Tapi... apa semua yang tampak benar selalu benar?
BAB 15 – Kartu As di Tangan Cewek
Gedung tua itu ternyata bukan sekadar gudang kosong. Di dalamnya, ada ruang-ruang yang masih menyala lampunya, berdebu tapi jelas pernah dipakai untuk sesuatu yang serius. Liora melangkah pelan, suara sepatunya menggema. Nafasnya berat. Entah karena gugup, marah, atau dua-duanya.
“Raka?” panggilnya, tapi tak ada jawaban.
Tiba-tiba pintu di ujung lorong terbuka. Raka muncul, mengenakan hoodie hitam, tangan masuk ke saku celana.
"Lo datang juga," katanya singkat.
“Apa yang lo mau tunjukin, Rak?” tanya Liora cepat.
Raka gak langsung jawab. Dia jalan menuju meja lama di tengah ruangan, mengambil sesuatu dari dalam tas kecil. Sebuah berkas foto dan kertas.
“Ini,” katanya sambil meletakkannya di depan Liora. “Isi semua omongan orang tentang gue. Bukti gue nyakitin orang. Gue gak akan bela diri. Tapi kalau lo mau mainin gue karena semua ini, ya silakan.”
Liora kaget. Di foto-foto itu, ada Raka dengan beberapa cewek, di tempat berbeda. Ada juga capture obrolan-obrolan yang gak pantas. Semua bukti kebejatan Raka, ditaruh sendiri oleh Raka ke hadapannya.
“Lo nyerah?”
“Gue jujur.”
Liora ketawa sinis. “Lo jujur karena udah kepepet. Bukan karena niat berubah.”
Raka diem.
Dan saat itulah Liora sadar: cowok ini bukan gak punya hati. Tapi hatinya rusak. Parah. Dan anehnya, bagian dari dirinya... mau bantu benerin itu.
---
Malam itu, Liora pulang dengan dua perasaan: kecewa dan iba. Tapi dia juga tahu satu hal—sekarang dia megang kartu as. Semua aib Raka, ada di tangannya.
Dan dia mulai punya rencana.
---
Hari berikutnya, kampus ramai. Tapi Liora tenang. Duduk di pojokan kafe kampus, sambil mantengin layar laptop. Di seberangnya, Tasha mendesah sambil minum kopi.
“Gue takut lo jatuh cinta beneran, Li.”
Liora gak jawab.
Tasha lanjut, “Raka itu kayak bom waktu. Dia bisa manis, tapi lo tahu sendiri, dia bisa balik jadi b******n dalam dua detik.”
“Makanya,” ujar Liora datar, “gue gak bakal jatuh cinta. Tapi gue juga gak akan nyakitin dia... kalau dia bisa berubah.”
“Lo serius?” mata Tasha melebar.
“Gue punya semua bukti itu. Kalau dia nyakitin cewek lagi, gue viralin.”
Tasha nganga.
“Dan kalau dia berubah... ya, kita lihat nanti.”
---
Di sisi lain kampus, Raka duduk di atas motor, diam. Tangannya ngecek ponsel. Belum ada pesan dari Liora.
Tapi dia tahu, permainan udah berubah. Dan untuk pertama kalinya... dia bukan pemain utama.
---
Akhir Bab 15
> Kadang, cinta bukan soal siapa y
ang menang. Tapi siapa yang tahu cara main... tanpa hancur sendiri.