BAB 16 – Liora Mulai Menyerang
Tiga hari.
Sudah tiga hari sejak Liora dan Raka bertemu di gedung tua itu. Sejak malam itu, kampus gak berubah banyak. Mahasiswa tetap datang dengan gaya sok sibuk, dosen tetap galak kalau tugas belum dikumpulkan, dan kantin tetap jadi tempat gosip.
Tapi satu hal yang berubah total: aura di sekitar Raka.
Biasanya, cowok itu jalan dengan santai, tangan di saku, sesekali lempar senyum ke cewek-cewek yang manggil namanya. Sekarang, dia seperti orang yang waspada setiap saat. Mata Raka gak pernah tenang. Dia jadi sering menengok ke belakang, seperti orang yang nunggu ditusuk dari arah mana aja. Bahkan di kelas pun, dia duduk paling pojok dan jarang angkat tangan—hal yang gak biasa buat dia.
Liora?
Sebaliknya. Cewek itu seperti baru menemukan panggungnya. Gaya jalannya makin mantap. Tatapannya jelas. Dia gak banyak bicara, tapi sekali ngomong... bikin satu ruangan diam.
Tasha, sahabat Liora, bahkan sampai bilang, “Lo tuh kayak orang yang tahu semua rahasia dunia sekarang, Li. Bikin serem.”
Liora cuma nyengir. “Karena gue sekarang pegang kendali.”
---
Senin pagi, kelas Psikologi Perilaku.
Dosen mengumumkan: “Kita akan mulai proyek kelompok. Tugas observasi dan analisis perilaku manusia. Kalian boleh pilih kelompok sendiri, maksimal dua orang per kelompok.”
Mahasiswa mulai bisik-bisik, saling tengok.
Liora berdiri. Tegas.
“Pak, saya mau kerja kelompok sama Raka.”
Hening.
Seketika ruangan seperti membeku. Beberapa mahasiswa kaget, ada yang ngedesis, bahkan si Dosen pun butuh waktu beberapa detik sebelum mengangguk ragu.
“Baiklah… kalau itu yang kamu pilih.”
Raka menatap Liora dari bangku belakang. Gak senyum. Gak komentar. Cuma menatap lama, tajam, penuh tanda tanya.
---
Sore harinya, taman belakang kampus.
Liora duduk di bangku semen yang menghadap danau buatan kecil. Tempat itu sepi, cuma ada suara angin dan daun-daun yang jatuh pelan. Tak lama, Raka datang dan duduk di ujung bangku yang sama.
"Lo mau ngapain?"
Suara Raka berat, nadanya lebih bingung daripada marah.
“Kerja kelompok. Gue gak main-main sama nilai,” jawab Liora, santai.
“Udah, Li. Lo bisa bilang langsung kalau lo mau jatuhin gue. Nggak usah pake akting kerja kelompok.”
Liora menoleh. “Justru gue serius, Rak. Lo pikir cuma lo yang bisa main dua muka? Gue juga bisa. Tapi bedanya, gue nggak numpuk korban kayak lo.”
Raka cemberut. “Lo sekarang mainin posisi aman ya? Mau jadi cewek yang terlihat bijak tapi sebenarnya nungguin waktu buat nyerang?”
“Enggak. Gue bukan orang bijak. Gue marah. Tapi gue nggak bodoh.”
---
Tasha, malam harinya, menelpon Liora.
“Gue takut lo beneran kepincut, Li. Gue gak bohong. Raka itu bisa aja berubah… atau makin gila.”
“Justru itu. Gue pengen lihat batasnya. Sampai mana dia bisa bertahan kalau dia yang dipojokin.”
Tasha diem. Di sisi lain, ia tahu Liora bukan lagi cewek naif yang mudah jatuh. Tapi dia juga tahu: permainan kayak gini berbahaya. Terlalu emosional, bisa ngebakar siapa aja di dalamnya.
---
Selasa pagi, Raka dapet pesan w******p dari nomor tanpa nama:
> “Main cantik atau main kasar? Pilih. Tapi kali ini, lo bukan yang pegang pion.”
Raka langsung tahu: Liora.
Dia tersenyum miring. Entah marah, entah kagum. Tapi yang pasti, dia mulai sadar—permainan kali ini bukan kayak biasanya.
---
Ruang kelas siang itu, Liora menempelkan selembar kertas di mading fakultas.
Isinya cuma satu kutipan:
> “Jangan pernah bermain hati kalau jantung lo belum kuat menerima serangan balik.”
– Dari seseorang yang lo pikir cuma korban.
Mahasiswa yang lewat langsung baca. Beberapa langsung ngerti maksudnya. Beberapa mulai bergosip.
Dan Raka? Dia lihat itu dari jauh. Lalu pergi. Tanpa komentar.
---
Hari-hari berikutnya, tekanan mulai terasa.
Raka mulai kehilangan pijakan. Cewek-cewek yang dulu dekat dengannya mulai menjaga jarak. Beberapa bahkan menyebar cerita bahwa mereka “pernah didekati Raka tapi trauma.” Beberapa bukti mulai muncul di akun anonim i********:. Screenshot chat. Foto-foto lama. Tapi tidak semuanya lengkap. Hanya sepotong-sepotong—cukup untuk membuat nama Raka mulai turun dari singgasananya.
Dan dia tahu: Liora sengaja nahan semuanya.
---
Jumat malam, Liora duduk di balkon kamar kosnya, video call sama Tasha.
“Gue belum bakal hancurin dia. Tapi dia harus tahu rasa. Gue pengen liat dia takut kehilangan kontrol. Itu pelajaran paling penting buat orang kayak dia.”
Tasha nyender ke bantal. “Tapi lo harus siap juga, Li. Kadang, orang kayak Raka tuh… balik nyerang lebih kejam.”
Liora diem sebentar. Lalu menatap kamera.
“Kalau dia nyerang, gue lebih siap nyakitin balik.”
---
Akhir
Bab 16
> Kekuatan paling mengerikan bukan pada siapa yang marah, tapi pada siapa yang mampu mengendalikan marahnya.
BAB 17 – Bukan Sekadar Balas Dendam
Hari itu kampus terasa panas. Bukan karena cuaca, tapi karena nama Raka makin sering disebut—dan bukan dalam cara yang bagus. Kabar tentang dia yang “mainin banyak cewek” mulai terdengar di berbagai tongkrongan, bahkan ada yang ngebahas di kelas bareng dosen, padahal topiknya gak ada hubungan.
Raka jalan di lorong kampus dengan tatapan dingin. Tapi langkahnya gak sekuat dulu. Sekarang, orang-orang mulai lihat dia sebagai pusat gosip, bukan pusat pujian.
Dan yang lebih parah…
Ada spanduk baru digantung di depan mading kampus:
> "Bermain hati seperti Raka? Jangan harap dapet nilai plus dari hidup."
– Tim Observasi Sosial Psikologi
Orang-orang ngakak, foto-foto, dan posting di Story.
Raka cuma ngelirik. Dia tahu siapa dalangnya. Dan dia tahu, ini bukan sekadar iseng. Ini gerakan sistematis.
---
Kantin sore itu.
Raka duduk sendiri, makan mie goreng. Biasanya, satu meja bisa berisi dia dan tiga atau empat cewek sekaligus. Sekarang kosong.
Sampai seorang cowok duduk di depannya. Namanya Arvin, teman satu kelas. Gak terlalu dekat, tapi juga gak musuhan.
“Lo gak mau nyari tahu siapa yang mulai semua ini?” tanya Arvin, datar.
Raka ngangkat alis. “Lo pikir gue gak tahu?”
“Ya udah. Kalo lo tahu, kenapa lo gak lawan?”
Raka diem. Matanya sayu, tapi bukan lemah. Lebih ke bingung. Bukan karena dia gak bisa ngelawan, tapi karena dia bingung cara ngelawan orang kayak Liora.
“Gue gak yakin dia main kotor,” kata Raka pelan.
Arvin kaget. “Lo ngebelain?”
“Bukan ngebelain. Tapi... kayaknya dia punya tujuan yang beda.”
Arvin ngelirik. “Jangan-jangan lo beneran suka sama dia.”
Raka senyum miring. “Gue juga mulai mikir gitu.”
---
Liora, malam harinya, di kamar kos.
Dia nyoret-nyoret papan tugas di dinding. Ada grafik kecil, timeline kegiatan, dan beberapa nama orang. Liora bukan lagi cewek yang mikirin skincare dan tugas kuliah aja. Dia sekarang seperti pemimpin operasi rahasia.
Tasha masuk sambil bawa dua gelas kopi.
“Gue takut nih, lo makin tenggelam dalam permainan ini, Li.”
Liora minum, lalu menatap lurus ke papan.
“Gue udah terlalu lama jadi korban diem-diem, Tash. Kali ini... biar dia yang ngerasain gimana rasanya diliatin semua orang tanpa bisa ngebela diri.”
Tasha duduk di kasur. “Tapi kalau dia berubah?”
Liora nyengir sinis. “Orang bisa berubah, tapi bukan berarti kita harus lupa apa yang udah mereka lakuin.”
---
Besok paginya, Raka bikin langkah pertama.
Dia berdiri di depan kelas Psikologi, di mana Liora udah duduk.
Semua mata tertuju. Raka bawa selembar kertas, dia tempelkan di papan presentasi.
Tulisannya:
> “Lo bilang gue mainin banyak cewek? Bener. Tapi kali ini gue gak main-main. Sama lo.”
Kelas langsung heboh.
Liora baca, tapi gak bereaksi. Dia tetap duduk tenang, bahkan sempat senyum kecil.
Setelah kelas, dia nyamperin Raka di lorong.
“Lo pikir itu romantis?”
“Enggak,” jawab Raka. “Tapi itu jujur.”
Liora mendekat. Jarak mereka tinggal sejengkal.
“Lo tahu, Rak, gue bisa bikin hidup lo hancur dalam seminggu.”
Raka balas menatap. “Lo bisa. Tapi kenapa belum lo lakuin?”
Hening.
Mereka saling pandang. Bukan sebagai musuh, tapi bukan juga sebagai pasangan. Ini lebih rumit dari itu.
“Karena gue belum yakin,” kata Liora pelan. “Apakah lo beneran jahat… atau cuma manusia.”
---
Sore hari, kampus geger lagi.
Akun anonim bernama @MainHatiLoPikirLucu mulai upload bukti lebih parah—voice note, video call, bahkan foto lama Raka di acara privat. Tapi... satu hal janggal: kali ini, bukan cuma Raka yang kena.
Ada nama lain.
Cewek-cewek yang dulu deketin Raka demi pamor—ikut kebongkar.
Publik mulai sadar, permainan ini lebih dari sekadar balas dendam. Ini pembersihan.
Liora? Dia diem. Tapi hatinya mulai goyah.
---
Malam itu, Raka kirim voice note ke Liora.
> “Gue gak minta lo percaya. Tapi kalau lo udah mulai buka semua ini, jangan berhenti di tengah jalan. Karena kebenaran... gak bisa separuh-separuh. Lo siap gak kalau lo juga harus buka luka sendiri?”
---
Akhir Bab 17
> Kadang, yang paling menyakitkan bukan diserang... tapi dipaksa ngaca. Siapapun bisa main cantik. Tapi siap gak kalau permainannya ngebuka borok sendiri?