Arsen memberikan selembar tisu kepada Adel, sebenarnya arsen sangat kesal kepada istri kecilnya itu yang menangis sesegukan. arsen tidak menculiknya namun istrinya itu bertingkah seolah dirinya menculiknya dan akan menjual organ tubuh bocah kecil itu.
"Apa kau tidak lelah menangis terus saja sejak tadi? ini sudah hampir 3 jam, Sebentar lagi kita akan sampai di rumah. jangan membuat Ayah khawatir, kau mau membuat ayah salah paham dan berpikir kalau aku menyiksamu, hah?"
Adel mendelik kesal, dia tidak menjawab perkataan suaminya. Adel lebih memilih untuk diam sembari menatap luar jendela kaca mobil suaminya, ketika mobil arsen sudah melewati perbatasan kota, Adel melihat suasana yang sangat berbeda.
di Bandung sudah banyak bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, namun ketika dia mulai melihat gedung-gedung di Jakarta, dia merasa kalau dua kota itu sangatlah jauh berbeda. tubuh Adel sudah kecil dan dia merasa lebih kecil lagi ketika datang ke kota ini, gedung-gedung di sini amat sangatlah tinggi.
karena terlalu lelah Menangis, tanpa sadar Adel mulai memejamkan mata kemudian tertidur. Hari ini adalah hari yang sangat berat untuknya, di mana dia harus pergi meninggalkan keluarganya untuk mengikuti sang suami, dan yang lebih membuat Adel sedih adalah karena ibunya masih belum sembuh. namun Adel sudah harus meninggalkannya, suaminya itu memang sangat tega. sebenarnya bisa saja adel berangkat belakangan, namun arsen tetap Kekeuh dengan pendiriannya kalau adel harus ikut pergi ke Jakarta hari ini juga.
30 menit kemudian mobil arsen sudah berada di depan sebuah rumah dengan gerbang yang menjulang tinggi, gerbang itu terbuka ketika seseorang dari dalam mengetahui kalau mobil arsen sudah datang. Pandangan arsen tertuju pada Adel yang kini masih tertidur dengan lelap di sampingnya, arsen mendengus kesal. lelaki itu melepaskan safetybelt yang Adel kenakan, lalu keluar dari mobil.
saat arsen hendak memangku tubuh Adel, tiba-tiba saja mata Gadis itu terbuka dengan lebar. arsen maupun adel membulatkan mata mereka secara bersamaan, posisi yang sedang mereka lakukan saat ini adalah posisi yang sangat intim. di mana wajah Arsen hanya berjarak beberapa centi dari wajah adel.
Plakk...
tanpa sadar adel menampar Pipi arsen, laki-laki itu memejamkan matanya demi menahan emosi. bisa-bisanya dia yang hendak membantu Adel malah mendapatka hadiah istimewa berupa tamparan dari istrinya, Arsen tersenyum sinis kemudian menjauhkan dirinya dari Adel.
"Om, maaf Adel tidak sengaja." Ujar Adel merasa bersalah.
Adel tadi memukul wajah arsen lumayan kuat, jangan sampai wajah suaminya yang tampan itu lecet dan dia akan diminta untuk mengganti rugi, mau dapat uang dari mana Adel? sedangkan sekolah SMA saja belum lulus, mau jadi kuli bangunan? Ah, itu tidak mungkin! tidak akan ada yang mau mempekerjakan dirinya, karena dia terlihat seperti anak-anak yang baru akan memasuki bangku SMP.
"Ini terakhir kalinya kau kau berbuat seperti ini, Kalau kau melakukan hal yang sama lagi, aku tidak akan membiarkan hidupmu damai!"
Adel memundurkan badannya, suaminya ini memang keturunan iblis. dia bahkan setelah sampai di rumahnya arsen Malah semakin beringas dan galak, gadis cantik itu mengikuti langkah arsen sembari komat-kamit membaca mantra. Ah, sebenarnya itu bukan mantra karena adel hanya sedang mengulang apa yang tadi arsen katakan tapi tanpa suara.
"Aaaakh!" Adel memekik sembari mengusap keningnya.
"Om, kenapa berhenti mendadak seperti itu, sih? kepalaku bisa benjol kalau aku tidak segera mengerem langkahku."
arsen menggeleng pelan, "Sudahlah jangan banyak bicara, aku hanya ingin mengingatkan satu hal padamu, bersikaplah sopan di depan kedua orang tuaku dan ya mereka tidak tahu kalau kita bermusuhan. jadi berpura-puralah menjadi istri yang baik di depan keluargaku."
Adel mengangguk paham meskipun ini tidak masuk akal, namun arsen pasti memiliki alasan kenapa dia melakukan semua ini. Adel bukan tidak penasaran, namun dia bertekad akan mencari tahu sendiri alasan kenapa arsen melakukan ini.
"Assalamualaikum." ucap Adel ketika masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam." jawab seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik, wanita paruh baya itu berjalan mendekati Adel sembari tersenyum.
"Wah, ini menantu ibu ya? cantik sekali, kamu juga masih sangat muda." ujar beliau.
Adel Tersenyum lebar, mereka berdua berpelukan seperti Teletubbies.
"Ibu adalah Ibunya arsen, ibu mertua kamu. nama Ibu Riani, orang-orang sering memanggil Ibu Ani tapi suami Ibu Wijaya bukan Roma."
Adel menahan tawa mendengar ocehan Ibu mertuanya, bisa-bisanya mertuanya itu melawak ketika mereka baru pertama kali bertemu. sepertinya hari-hari Adel tidak akan seburuk yang pernah dia pikirkan, kalau dia memiliki ibu mertua sebaik ini.
"Ibu sangat cantik, Ibu juga lucu. Adel senang bisa menjadi menantu Ibu." ujar Adel membuat Riani tersipu, Riani memang suka sekali dipuji namun Meskipun begitu dia tidak pernah menyombong atas segala pujian yang dia dapatkan.
"ah sayang, kamu bisa saja. ibu kan sudah tua, masa iya ibu masih cantik."
Adel mengangguk antusias, "Adel tidak bohong Bu, lagi pula kata orang Sunda kalau bohong itu pamali tidak boleh, apalagi dengan orang tua sendiri nanti Adel berdosa."
Riana terkekeh, mereka berdua terus melanjutkan obrolan mereka sampai pada akhirnya Riani dan Adel duduk di depan meja yang ada di ruang tv.
"Mbok Sumi! Mbok Sum, tolong ambilkan menantu Saya minum Ya mbok."
beberapa menit kemudian Mbok Sumi membawa nampan berisi air minum juga beberapa cemilan dan buah-buahan segar untuk Adel, Adel tersenyum ke arah Mbok Sumi.
"Terima kasih Mbok."
"Inggih Bu." jawab Mbok Sumi.
"wooah, di rumah ini kita pakai berapa Bahasa bum Adel bisa bahasa Sunda, mbok Sumi bahasa Jawa, Ibu bagaimana?"
arsen mendengus melihat keakraban ibu dan juga istrinya, Bagaimana bisa ibunya yang sudah berumur hampir 50 tahun berbincang dengan bocah 17 tahun. dan yang lebih mengherankannya lagi, mereka berdua mengobrol sangat nyambung. kalau ibarat bestie, mereka itu sudah Satu Frekuensi sejak awal.
Plakkk.
Riani memukul punggung tangan arsen yang hendak mencomot cemilan di atas meja.
"ini untuk menantu ibu, kamu ambil saja sendiri di dapur. sana minta pada Mbok Sumi."
Arsen menarik nafas panjang menahan kesal, "Ibu, arsen ini akan anak kandung Ibu. kenapa ibu lebih menyayangi dia dari pada arsen?"
"Adel itu anak perempuan Ibu satu-satunya, jadi jangan pernah berpikir untuk menindas Adel. Kalau sampai itu terjadi, ibu akan bilang pada ayah kalau semua apa fasilitas yang kamu miliki harus segera dicabut!"
Arsen semakin merasa Jengah, dia berdiri kemudian pergi meninggalkan dua wanita yang kini sama-sama harus dia jaga. menjaga Riani karena dia adalah ibunya, sedangkan Adel adalah kunci agar dia tidak kehilangan semua fasilitas yang dia miliki sekarang ini.
"mau ke mana kamu, arsen?" teriak Riani.
"ke planet Mars! arsen mau ke kamar lah bu, malas sekali harus menghadapi ibu tiri yang pilih kasih ini."
Adel menjulurkan lidahnya mengejek Arsen, Kini dia tahu apa yang harus dia lakukan supaya arsen tidak semena-mena lagi padanya.
'Om arsen, sekarang kartu As Om ada padaku. Om harus bersiap-siap mulai sekarang.'