si tua bangka

1025 Kata
"Heh bocah, bocah!" arsen mengibaskan tangannya di depan wajah Adel. Gadis itu sedang memejamkan mata sembari memonyongkan bibirnya, seperti orang yang hendak mencium. "bocah!" Panggil arsen menjtak kening Adel. "Aaaws." Adel mengernyit sembari mengusap keningnya yang terasa panas, Kenapa ini bisa terjadi? Padahal tadi dia sedang menikmati ci*man yang diberikan oleh suaminya, kenapa sekarang dia malah mendapatkan jitakan yang luar biasa sakit. "kau sedang menghayal apa?" Seloroh arsen, dia mengambil pakaian yang ada di tangan Adel, lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi. "Haiish." Desis Adel. "aku pasti tadi berhalusinasi, Astaga. punya suami sudah tua juga kalau tampan seperti ini, siapa yang akan nolak. Ah, dasar om om gila! Seharusnya aku tidak menerima Perjodohan ini, di awal saja sok-sok'an menolak sampe mau kabur, eh taunya malah jilat ludah sendiri kan. Aaaargh" Tidak lama setelah itu, arsen keluar sembari mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. Adel memperhatikan setiap gerak-gerik suaminya itu dengan mata yang memicing, bahkan ketika arsen mengenakan baju murah dan biasa saja, dia masih terlihat sangat keren. wah ini mah *The Power of wajah tampan*. Adel buru-buru masuk ke dalam kamar mandi karena tidak mau terlalu lama memperhatikan suaminya itu, dia masih harus menjalani kehidupan dengan normal. Adel tidak bisa membiarkan dirinya terjebak dalam Persona arsen, dia harus membuat benteng yang kuat dan kokoh. Sepuluh menit kemudian, Adel hendak keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk saja. dia tadi lupa membawa piyama tidurnya, karena fokusnya teralihkan dengan raja iblis berwajah dingin yang tampan dan sialnya kini telah menjadi suaminya. "Om." Panggil Adel menyembulkan kepala dari pintu kamar mandi. "Om, Bisa tidak menutup mata dulu? Aku mau pakai baju Om." Tidak ada sahutan dari dalam kamar. "Om." Panggil Adel sekali lagi. karena masih tidak ada yang menjawab, akhirnya adel memberanikan diri untuk keluar dari kamar mandi. Dia Melangkah dengan sangat pelan, bahkan kakinya melangkah lebih lambat dari kepalanya. "Om." panggilnya dengan suara yang pelan. Adel melangkah lebih dekat ke arah ranjang, dia melihat arsen sedang tidur terlentang menggunakan tangannya sebagai bantalan. "Ah, pantas saja aku tidak mendengar suaramu." Adel memperhatikan wajah damai arsen ketika sedang tidur, suaminya ini benar-benar sangat tampan. hanya saja wajahnya begitu dingin, bahkan melebihi dinginnya Kutub Utara. wajah Adel semakin dekat ke wajah suaminya, dia mengangkat tangan untuk menyentuh hidung mancung suaminya. namun belum sempat dia menempelkan tangannya, ada tangan lain sudah lebih cepat menariknya. Adel mengerjapkan matanya berkali-kali, wajah iblis itu sekarang berada di atas wajahnya. betapa luar biasanya Tuhan menciptakan keindahan seperti ini. " Apa yang kau lakukan, Hah?" tanya arsen dengan tatapan tajamnya. Adel ingin menjawab namun dia merasa ada yang salah dengan posisinya kali ini, kedua tangannya dikunci oleh Arsen. Adel tidak bisa bergerak karena tubuhnya ditekan oleh tubuh arsen. Adel menunduk untuk memastikan sesuatu, dan saat adel menunduk arsen mengikuti Arah pandangannya, seketika mata Adel langsung melotot karena melihat tubuh bagian atasnya terpampang dengan jelas tanpa ada sehelai kain yang menutupi. Karena handuk yang dia pakai melorot, itu artinya hanya bagian bawahnya saja yang aman. "Kau om, dasar mes*m!" teriak Adel Adel melotot marah kepada arsen, namun laki-laki itu hanya menunjukkan ekspresi datar seolah tidak terjadi apapun. Arsen mengambil selimut lalu menyelimuti tubuh Adel, dan kembali berbaring di samping Gadis itu dia memejamkan mata kembali ke posisi semula. "dasar otak mes*m. pakai bajumu, Aku ingin muntah melihat pemandangan buruk seperti itu. jangan memamerkan sesuatu yang tidak bisa kau pamerkan, Aku tidak akan tertarik." Adel yang mendengarnya langsung matanya, apa yang baru saja arsen katakan? dia mengatakan tubuh adel tidak bagus? tubuh adel tidak yang bisa di pamerkan? Oh god. 'dasar tua Bangka, seharusnya matamu itu jeli karena kau terbiasa tinggal di tempat gelap. kau bersikap seperti ini supaya aku membencimu bukan? oke baiklah.' Adel membatin dengan segala kekesalannya. Brukk... arsen ambruk di atas lantai setelah adel menendangnya dengan kuat, 'rasakan itu, memang kau pikir kau siapa berani menghinaku? jangan sok tampan deh.' Arsen duduk kembali sembari mengusap pinggangnya yang sakit, Adel ini benar-benar Bar bar. kekuatannya sangat besar Padahal tubuhnya kecil seperti semut. "Heh, Bocil! Kenapa kau menendangku?" hardik arsen berseru marah kepada Adel. Adel melotot dia tidak mau menatap wajah arsen, harga dirinya sudah diinjak-injak oleh lelaki yang baru saja menjadi suaminya, jadi sekarang dia tidak bisa bermurah hati lagi sekarang. "Kau Tidurlah di bawah, kalau kau berani naik ke atas ranjang ku, Aku pastikan mulai besok kau tidak akan bisa berjalan lagi." Adel beranjak dari ranjang dengan selimut yang melilit tubuhnya, Ia membuat gerakan seolah dia akan mencolok kedua mata arsen dengan jari telunjuk dan jari tengahnya kalau arsen berani naik ke atas ranjang. "Huh, dasar orang aneh! kalau aku tidak tidur di atas ranjang, aku harus tidur di manam" gerutu arsen dia berdiri kemudian kembali tidur di atas ranjang. selang beberapa menit, Adel keluar dengan baju tidur bergambar Doraemon kesukaannya. matanya kembali membulat saat melihat arsen yang sedang asik tidur di atas ranjangnya. "orang gila itu benar-benar minta dihajar." "Om! Om, aku sudah bilang jangan tidur di sini, kalau Om tidur di atas ranjang aku harus tidur di mana?" Helaan nafas Adel Terdengar sangat keras, karena dia begitu kesal melihat arsen malah anteng tidur tanpa mau mendengar ocehannya. "Om, Apa kau tuli atau bagaimana sih? aku mau tidur!" kembali tangan besar itu menarik tangannya membuat adel terjatuh di samping arsen, dia menatap arsen dengan tetapan mautnya. Namun Sepertinya itu Percuma saja, karena arsen masih menutup matanya. "Om tidur di lantai." Titah Adel. "Sudah, tidur saja. aku tidak akan menyentuhmu, lagi pula tidak ada yang aku bisa aku sentuh, ini hanya satu malam besok kita akan berangkat ke Jakarta." Adel mendengus kesal, mau tidak mau aku dia bergeser kemudian mulai bersiap untuk tidur. 'Awas saja kau, aku pasti akan membalas setiap apa yang sudah kau lakukan padaku. kau juga berani memanggilku Bocil karena aku pendek, Jangan panggil aku Adel Kalau aku tidak bisa membuatmu menjilat ludahmh sendiri, aku akan membuat kau bertekuk lutut kepadaku.' "tidur." ucap arsen seolah dia bisa melihat kalau Adel sedang komat pamit dalam hatinya. "Ih amit-amit, kau benar-benar mengerikan Om." Arsen tidak menanggapi ucapan Adel, dia memilih untuk tidur lebih awal karena dia harus mengisi ulang energinya untuk besok. 'sebaiknya aku harus menjaga jarak dengan bocah ini.' gumam arsen dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN