"Kau, bilang apa barusan? kakek-kakek?" tanya arsen dengan wajah yang memerah pada menahan emosi, dan dengan polosnya Adel mengangguk mengiyakan Adel kau.
"Eh, Om Jangan marah-marah. Berdosa tahu, marah-marah sama istri. Adel juga tidak marah kok sama Om yang lahir lebih dulu dari aku, aku pikir aku akan di nikahkan dengan orang yang sebayaku tapi ternyata aku malah dijodohkan dengan om-om. tapi tidak apa-apa sih, Om ganteng, jadi aku tidak akan malu kalau jalan berdua dengan om."
"Adel kau ini, benar-benar!" arsen memukul setir mobilnya dengan amarah, sebenarnya Adel ini kerasukan jin apa sampai bisa dengan berani membuat emosinya meradang. selama ini belum pernah ada orang yang berani membuat mood arsen tidak baik, namun bocah bau kencur ini malah dengan entengnya terus menghina dia sejak tadi.
"eh Om, sekarang kita kan sudah jadi suami istri. tapi aku mohon maaf nih ya Om, aku masih belum siap melakukan malam pertama dengan Om, jadi tidak ada apa-apa kan Om. Om tidak boleh lho memperkosa istri sendiri, kan sekarang sudah ada undang-undangnya."
Ckiiiiitt..
arsen langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan, Astagfirullah amit-amit jabang bayi arsen harus punya istri yang mulutnya sudah seperti pipa air yang bocor, Kenapa dia selalu nyeplos kalau ngomong.
"Om, hati-hati kenapa sih! Om mau di jemput malaikat maut ya? Kalau iya, jangan ajak-ajak aku dong, aku ini masih muda tahu."
arsen yang sudah sangat Jengah, menatap istri kecilnya itu dengan horor. dia menatap Adel dengan tajam, namun orang yang ditatap tidak menunjukkan reaksi apapun dan malah asik memakan cilok dengan tusukan bambu yang sudah terlihat seperti lidi.
"Hei, kau bocah bau kencur! jangan pernah berpikir kalau aku tertarik dengan tubuh kerempengmu itu, masih banyak perempuan di luaran sana yang bodinya jelas jelas lebih bagus dari kau! dan asal kau tahu ya, aku menikahimu itu karena sebuah paksaan. kalau ayah tidak memaksaku, mana sudi Aku menikah dengan Bocil yang jelek dan pendek sepertimu."
Adel tidak menghiraukan perkataan suaminya, "Om, aku ini tidak pendek ya. tinggi badanku 165 cm, Om saja yang terlalu tinggi dan Adel juga tidak jelek ya, enak saja!"
"Aaargh." Arsen menarik rambutnya sambil menggeram kesal, belum satu hari dia menikah dengan Adel tapi dia sudah hampir gila karena tingkah bocah itu.
"rambut om ada kutunya, ya? Kok garuk-garuk kepala gitu? gatal?"
"Terserah kau saja, Adel! Aku malas berbicara dengan kresek bekas sepertimu! jangan bicara apapun lagi, kalau kau berbicara, aku akan melemparkanmu ke jalanan sekarang juga."
Adel mengangguk saja, dia tadi hendak membalas perkataan suaminya. Namun, tak lantas melakukan itu, Adel kembali duduk dengan anteng sambil memakan makanannya.
setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di depan rumah keluarga Adel, Adel turun dari mobil lalu membuka kunci pintu dan masuk ke dalam. dia tidak cerewet seperti sebelumnya, kali ini Adel diam dan hanya banyak bergerak.
Arsen turun dari mobilnya lalu berjalan mengikuti Adel masuk ke dalam rumah, saat itu keadaan rumah terlihat sangat sepi membuat arsen merasa jauh lebih nyaman.
"Adel."
"Adel!" Panggil arsen pada istrinya.
"hmm." Adel menyembulkan kepalanya di atas pagar pembatas ruangan yang ada di lantai 2.
arsen mengikuti Adel, Dia tadi hanya ingin menanyakan keberadaan istri tidak jelasnya itu. Namun karena Arsen sudah melihat Adel, Dia tidak ingin terlalu banyak bicara dan hanya akan mengikuti Adel saja.
mereka sampai di dalam kamar Adel, arsen memperhatikan area kamar itu dengan seksama. kamar ini sangat kecil, bahkan ranjangnya saja hanya muat untuk satu orang kalau muat untuk 2 orang itu artinya mereka harus tidur menyamping.
"Adel, Aku mau mandi."
"Adel."
"Adel!" arsen berteriak karena Adel masih tidak menjawab panggilannya, Adel menoleh kemudian mendongak menatap sang suami.
"apa?" Adel bergumam dengan mulut yang masih tertutup.
"Kau ini kenapa? sariawan?" tanya arsen Tidak mengerti, kenapa istrinya itu bertingkah konyol di depannya.
"Bicaralah!" ucap arsen yang sudah tidak tahan.
"huftt, akhirnya. Om ini bagaimana sih? tadi melarang aku untuk jangan berbicara, sekarang om malah menyuruh aku untuk berbicara kembali. om itu maunya apa sih sebenarnya? sudah tua tapi kok masih labil, sih."
arsen memejamkan matanya sembari memijat pangkal hidungnya, baru satu dia bertemu orang seperti Adel dan dia sudah stress. apalagi kalau ada dua atau mungkin tiga, bisa-bisa Arsen gila saat itu juga.
"Aku mau mandi Del, Aku minta handuk dan baju ganti."
Adel mengangguk kemudian berjalan menuju lemar, dia mengambil handuk dan juga beberapa baju miliknya.
"ini, Om." Adel menyerahkan handuk dan juga baju kaos yang tadi dia ambil.
Arsen mengambil handuk itu, dan mengangkatnya agak tinggi.
"apa tidak ada handuk lain, selain ini?" tanya arsen.
"Tidak ada Om, Memangnya kenapa? karena handuknya berwarna pink? itu lucu tahu."
arsen Hanya bisa pasrah, percuma dia mendebat Adel, Dia hanya akan semakin pusing kalau melakukan hal itu.
"Lalu bajunya mana?"
Adel kembali menyerahkan baju kaos yang ada di tangannya, "Apa kau gila sudah gila?!" geram arsen melemparkan Baju Adel di atas ranjang.
"kau, menyuruh aku memakai bajumu?"
Adel mengangguk mengiyakan, "lalu Om ingin memakai baju siapa? Om kan tidak membawa baju ganti."
Arsen merutuki kebodohannya, dia terbiasa dilayani oleh seseorang akibatnya Dia meminta hal yang sama dari Adel. namun arsen lupa kalau ternyata adel itu bukanlah orang yang selama ini selalu memenuhi kebutuhannya.
"Kau pikir bajumu itu akan muat jika aku pakai?"
Adel menggedikan kedua bahunya Acuh, "kalau tidak, begini saja deh. Om mandi saja dulu, nanti aku ambilkan baju kak Denis, sepertinya kakak tidak membawa semua bajunya."
akhirnya arsen setuju, dia masuk ke dalam kamar mandi. sementara Adel keluar dari kamar menuju kamar yang lain yaitu kamar kakaknya Denis.
Tiga puluh menit berlalu, adel masuk kembali ke dalam kamar Setelah dia berhasil mengambil beberapa pakaian milik kakaknya untuk dipinjamkan kepada arsen.
Ceklek..
Pintu kamar mandi terbuka, Adel langsung menoleh ke arah pintu kamar mandi. Dia terpaku untuk beberapa saat, arsen laki-laki itu terlihat sangat tampan, wajahnya, tubuhnya dan semuanya. Ah Adel sungguh sangat menyukai pemandangan gratis yang ada di depan matanya, dia bahkan sampai lupa untuk berkedip.
"Adel." Panggil arsen yang ternyata sudah ada di depan Adel.
Tess..
wanita itu terkejut dan langsung mendongak.
Setetes Air dari rambut arsen yang basah jatuh mengenai wajah Adel, Gadis itu memejamkan mata sambil merasakan tetesan air yang selanjutnya.
Perlahan Adel mulai melihat arsen semakin mendekat ke arahnya, laki-laki itu menarik pinggang Adel lalu menatap adel dengan lekat. wajah dingin Arsen sudah tidak ada lagi, kini laki-laki itu tersenyum sambil mendekatkan wajahnya ke wajah adel.
Cup..
Adel menempelkan Bibirnya di bibir arsen, dia tersenyum sembari terus merasakan sensasi luar biasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.