seperti kakek-kakek

1044 Kata
Di sebuah ruangan yang ada di rumah sakit, Adel melirik suaminya menggunakan ekor matanya. Gadis itu belum pergi ke Jakarta, karena Pak Wijaya memberikannya waktu 2 hari untuk berpamitan kepada ibunya. sementara surat-surat kepindahan sekolahnya telah diurus oleh orang-orang yang di pekerjakan oleh keluarga Wijaya, seharusnya Adel sudah tidak bisa pindah bukan? Karena sudah kelas 12. Namun karena koneksi dan uang, apa yang seharusnya tidak terjadi bisa saja terjadi. "Adel, sebaiknya kalian pulanglah. kasihan suami kamu Nak." Niken berbicara dengan suara yang masih sangat lemah, belum lagi masker Oksigen yang menutupi mulut dan hidungnya, membuat suara dari Niken semakin sulit untuk didengar dari jarak jauh. "Ibu, Adel ingin menemani Ibu. kenapa ibu malah menyuruh Adel pulang? Adel hanya memiliki waktu 2 hari sampai Adel benar-benar akan pergi jauh dari kalian." Niken mengangguk, dia bukan tidak mengerti maksud dari niat putrinya. namun, putrinya itu sekarang sudah memiliki suami. dia tidak bisa bertingkah Seenaknya saja sekarang, karena ada orang lain yang harus dia perhatikan, dan dia utamakan. "sebaiknya kamu memang pulang nak Biarkan Ibu di sini bersama ayah dan Andre. kamu Pulanglah ini sudah malam, suami kamu juga pasti sudah mengantuk." "Iih Ayah, ayah dan ibu sama saja! ya sudah, kalau begitu Adel pulang saja. besok Adel tidak perlu ke sini lagi saja, Adel akan langsung berangkat ke Jakarta." Gadis itu berdiri kemudian berjalan menuju pintu ruang rawat ibunya, "Om, Ayo kita pulang!" ajak Adel pada suaminya, arsen menoleh lalu dia berdiri kemudian membungkuk ke arah mertuanya, dan pergi mengikuti bocah yang tadi memanggilnya dengan sebutan Om. "Assalamualaikum!" ucap Adel Ketus, dia tidak menunggu jawaban dari orang tuanya, dan langsung menutup pintu lumayan keras. "Maafkan putri saya, ya." ucap yadi pada pasien yang ada di ruangan itu. Niken mendapatkan kamar kelas 1, jadi dia hanya memiliki satu rekan di kamar Itu. sebenarnya keluarga Wijaya sudah menawarkan kamar VVIP, namun yadi menolaknya karena tidak mau terlalu memanfaatkan status yang dimiliki besannya. "tidak apa-apa pak, anak gadis memang seperti itu. emosinya masih belum stabil dan bisa meledak kapanpun, tanpa ada alarm pemberitahuan sebelumnya." semua orang yang ada di ruangan itu terkekeh, Adel memang memiliki sifat yang ceria dan mudah bergaul. meskipun dia mudah marah dan kadang tidak bisa mengendalikan emosinya, namun dia adalah anak yang baik. *** "Baca doa dulu, Om! Om tidak pernah membaca doa ya, kalau keluar dari suatu tempat menuju ke tempat lain?" arsen yang hendak menginjak pedal gas mobilnya tidak jadi melakukan itu, dan malah menatap Adel dengan tatapan tajamnya. Baru kali ini arsen mendapatkan lawan bicara yang berbicara dengan sangat santai kepadanya, Ingin rasanya arsen melempar gadis kecil itu keluar namun dia masih memiliki janji kepada ayahnya untuk membawa Adele ke Jakarta dengan selamat tanpa ada yang lecet sedikitpun. arsen diam untuk sejenak, lalu mulai melajukan mobilnya. tatapannya lurus ke depan, suasana di dalam mobil itu terasa sangat sepi seperti kuburan karena tidak ada yang mau membuka pembicaraan. "berhenti!" tiba-tiba Adel berteriak, membuat arsen dengan refleks menghentikan laju kendaraannya. arsen menatap Adel sengit, namun Gadis itu tidak peduli. dia malah membuka pintu mobil, lalu keluar dan menghampiri beberapa pedagang kaki lima yang sedang berjualan di pinggir jalan. "Huh, sial! bocah kecil itu benar-benar minta di bumi hanguskan, apa Dia pikir aku ini sopirnya, sampai dia bisa seenaknya minta berhenti seperti ini?!" Arsen merasa sangat kesal dengan tingkah istri tidak jelasnya itu, belum lagi Adel berhenti di tempat kumuh dan kotor seperti ini. makanan di sini juga tidak higienis, arsen bergidik ngeri membayangkan berapa banyaknya kuman yang akan menempel pada makanan yang dijual di pinggir jalan. saat sedang menunggu Adel kembali, tiba-tiba saja pintu mobilnya terbuka, Adel muncul dengan menyembulkan kepalanya ke dalam mobil. "Om." Panggil Adel bersuara, arsen hanya menoleh tanpa mau mengeluarkan suara apapun. "Om, Sekarang Om kan suamiku. Jadi Adel minta uang jajan ya Om, adel lupa membawa uang." "kenapa kamu memesan makanan Kalau kamu tidak punya uang." sahut arsen dengan nada suara dinginnya. Arsen menggerutu, namun dia tetap mengeluarkan dompetnya. "ini." Arsen memberikan kartu kredit miliknya. "Aduh, Om. mana bisa jajan di pinggir jalan bayar menggunakan benda seperti itu, aku maunya uang cash bukan kartu model seperti itu! om pikir ini Mall apa?" "Saya tidak ada uang cash, ada juga hanya 50 ribu, tidak akan cukup." Adel masuk ke dalam mobil, meski hanya sebagian dari tubuhnya. dia langsung menyambar uang yang ada di tangan arsen, lalu tersenyum sumringah. "ini sudah lebih dari cukup." Arsen menggelengkan kepalanya, Bagaimana bisa dia menikahi bocah kecil yang masih kekanakan seperti ini. Ayahnya benar-benar tega menjodohkannya dengan gadis yang masih bau kencur, arsen menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Sepertinya hari-hariku tidak akan berjalan dengan baik setelah ini." ucap Arsan pada dirinya sendiri. Setelah beberapa menit kemudian, Adel kembali masuk sembari membawa beberapa makanan ringan di tangannya. "Om, mau tidak?" tanya Adel menyodorkan cemilan itu pada arsen. "Iyuh, makan saja sendiri! makanan seperti itu kok dibeli sih, pasti banyak kumannya itu." Adel memutar bola matanya malas, bisa-bisanya arsen mengatakan makanan yang setiap hari Dia makan banyak kumannya. "om, kalau ini memang banyak kumannya, Adel pasti sekarang sudah mati karena Adel setiap hari jajan seperti ini di sekolah." Adel memperlihatkan cilok, cimol Dan beberapa makanan lainnya. Arsen yang tidak menyukai makanan seperti itu, segera menjauhkan tubuhnya dan lebih memilih bersandar pada pintu mobil, dia merinding sendiri melihat makanan itu. "Oh iya, ini uang kembaliannya Om.' Adel memberikan uang sebanyak 3 lembar, lembaran itu terdiri dari uang 20ribu, 10ribu dan 5ribu. Arsen menatap uang itu dengan mata yang melotot hampir keluar dari tempatnya, "kau simpan saja, Aku sudah tidak membutuhkan uang itu lagi." ucap arsen. "Ya sudah kalau begitu, Adel anggap ini adalah nafkah yang om berikan untuk Adel." arsen diam, dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Adel, Dia hanya ingin cepat-cepat sampai rumah supaya dia bisa mandi dan istirahat. "Om." Panggil Adel dengan mulut yang penuh makanan. "om, tahu tidak? sebenarnya kita itu tidak cocok jadi suami istri, bukan? Om kan sudah tua, sedangkan aku masih muda. Om memang tampan sih, tapi kalau nanti aku sudah berumur 40 tahun, Om pasti sudah seperti kakek-kakek yang bungkuk. sedangkan Adel akan terlihat masih sangat cantik." uhukk.. tiba-tiba saja arsen tersedak ludahnya sendiri. "Apa kau bilang barusan?! kakek-kakek?" tanya arsen dengan wajah yang memerah padam menahan emosi, dan dengan polosnya Adel mengangguk mengiyakan. "Adel, kau!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN