sah!

1047 Kata
"aku harus kabur! Aku tidak mau menjadi istri p*****l itu, aku harus cari cara supaya bisa keluar dari sini." Adel menggigit kuku tangannya, dia mondar-mandir seperti setrika. dia tidak bisa hanya duduk dan diam manggut-manggut seperti orang bodoh, adel terus mencari cara untuk melarikan diri. dan saat dia melihat sprei yang terpasang di ranjangnya, tiba-tiba saja sebuah ide Brilian muncul. Dia mengobrak-abrik isi lemari, sudut bibirnya tertarik ke atas saat dia menemukan beberapa sprei Di lemarinya. "Maafkan Adel, ayah. tapi Adel tidak mau kalau harus menikah dengan orang tua itu, Adel takut! Bagaimana kalau malam pertama Adel- iih amit-amit!" Celotehnya sambil bergidik ngeri sendiri. Adel membuat simpul pada ujung sprei yang dia ambil tadi, perlahan Dia berjalan menuju jendela kaca kamarnya. "Astagfirullah, Kenapa kamar ini tinggi sekali, sih? Seandainya aku adalah Rapunzel, Pasti akan sangat mudah untuk aku turun dari sini." sekarang dia mulai celingukan mencari tempat untuk mengikat spreinya, "ah itu dia." Adel mengikatkan spreinya, pada kaki ranjangnya. Setelah dia memastikan kalau ikatannya kuat, Adel melempar bagian panjang dari sprei itu keluar jendela kamar. "Bismillah... Maafkan Adelia Ya Allah, tapi Adel tidak mau menikah dengan laki-laki setua itu. Tolong selamatkan Adel, Amin." Gadis itu terus berceloteh sembari turun dengan perlahan. sementara di bawah, seorang laki-laki tampan yang memiliki perawakan tinggi dengan setelan rapi menautkan kedua alisnya saat dia melihat seseorang yang mengenakan seragam SMA meluncur turun dari lantai dua bangunan yang ada di depannya. Laki-laki itu sedang menelpon, namun karena dia melihat simpul tali yang di sprei yang orang itu gunakan akan terlepas, dia Langsung melempar ponselnya dan berlari menuju tempat di mana orang itu akan jatuh. di dalam kamar Adel, Andre sedang berusaha mencari sosok kakaknya yang sejak tadi tidak muncul juga setelah orang-orang di ruang tamu menuju cukup lama. matanya terbelalak saat melihat sebuah gulungan sprei terikat di kaki ranjang Adel, dan terbentang keluar dari jendela kamar. "Kak Adel!" teriak Andre pada kakaknya, Adel mendongak dan, "Aaaaa." Adel berteriak dengan sangat keras, karena simpul tali yang dia buat terlepas begitu saja. 'Innalillahi, ya Allah. apa aku sudah meninggal? apa aku langsung masuk ke surga? Kenapa ini tidak sakit?' batinnya berbicara dengan mata yang terpejam. Andre bergegas untuk turun ke bawah melihat keadaan Adel, begitupun dengan orang-orang yang ada di ruang tamu. mereka semua langsung keluar, karena mendengar teriakan Adele dan Andri tadi. perlahan Adel membuka matanya, pelan, bahkan sangat pelan. karena dia takut apa yang dia pikirkan benar-benar terjadi, dia mulai mengerjapkan matanya, saat manik matanya bertemu dengan Netra seseorang yang terlihat sangat tampan dengan mata tajamnya, membuat Adel Diam tidak berkutik. "Apakah ini seorang malaikat?" gumam Adel menyentuh wajah tampan yang ada dihadapannya dengan lembut, "sepertinya aku memang sudah masuk surga." ucapnya lagi. "Adel!" teriak Yadi menghampiri putrinya. "Ayah? kenapa ada suara di sini? apa Aku akan kembali ke dunia nyata? Aku tidak mau! aku mau di sini saja, biarkan aku melihat malaikat tampan ini lebih lama lagi." "Adel, kamu tidak apa-apa nak?" tanya yadi, membantu Adel turun dari gendongan laki-laki yang sejak tadi diam mendengar ocehan tidak jelas dari mulut Adel. "Ayah?" Panggil Adel, dia menoleh ke arah ayahnya, lalu menoleh ke arah malaikat tampannya. "Apa Adel masih hidup, yah?" tanyanya dengan wajah polos. Pletak... Yadi menyentil kening Adel dengan jemarinya, "kamu ingin kabur, hah? dari lantai setinggi itu, kamu mau turun? bagaimana kalau nak Arsen, tidak ada? Dapat di pastikan kamu sudah masuk rumah sakit, Adel." Gadis itu memanyunkan bibirnya, sembari mengusap keningnya yang panas. "Ayah, Adel tidak mau menikah dengan laki-laki yang sudah tua! Adel memang tidak secantik Princess Rapunzel, tapi masa Adel harus menikah dengan kakek-kakek, mana buncit lagi. adel tidak mau, Ayah!" Arsen melotot saat mendengarnya, apakah yang gadis itu sebut kakek-kakek adalah dirinya? sungguh arsen ingin membuang gadis kecil itu ke dasar bumi yang terdalam. Arsen memperhatikan Adel dari atas sampai bawah, selain pendek dan memiliki wajah biasa saja, tidak ada apapun yang bisa dibanggakan dari gadis yang akan dijodohkan dengannya itu. "mungkin dia salah paham, Yadi. dia pasti menyangka kalau aku yang akan menikah dengannya." ujar Pak Wijaya mendekat ke arah Adel dan Yadi. Adel terlihat sangat bingung, maksudnya salah paham Bagaimana? jadi, kalau orang tua yang baru saja berbicara kepada ayahnya bukan laki-laki yang akan menikahinya, lalu siapa pria yang akan menikahi dia? Pikirnya bertanya-tanya. "Maafkan anak saya, tuan. Sepertinya dia kurang asupan makanan hari ini, jadi otaknya agak sedikit terganggu." "Aaa, ayah ini." rengek Adel tidak terima. Pak Wijaya hanya tersenyum tipis, dia menarik lengan arsen lalu membiarkan arsen berdiri tepat di depan mata calon menantunya itu. "ini adalah anak tertua saya, namanya arsen." Pak Wijaya tersenyum ke arah Adel. Gadis itu membekap mulutnya dengan kedua tangannya, Dia tidak percaya. jadi? yang akan di jodohkan dengannya adalah arsen? laki-laki yang tadi sudah menolongnya, dan laki-laki tampan yang dia kira sebagai seorang malaikat? Adel menoleh ke arah ayahnya, Yadi mengangguk membuat Adel tidak bisa berkata-kata lagi. wajahnya merah padam karena malu, dia telah salah sangka. Rasanya Sekarang ini dia ingin menghilang dari bumi ini. *** "Sah?" "Sah!" Adel menitikkan air matanya, sebenarnya dia belum mau menikah, meskipun suaminya tampan seperti ini. Namun keadaannya memaksanya untuk menerima takdirnya ini. ibunya masih ada di rumah sakit, karena kemarin niken baru selesai melakukan operasi jantung. air mata Adel mengalir deras saat Arsen mencium keningnya sekilas, dia menarik tangan arsen lalu ikut mencium punggung tangan suaminya itu. Jantungnya berdegup sangat kencang, karena Ini adalah kali pertama Adel bersentuhan dengan seorang laki-laki, selain ayah, adik dan kakaknya. karena ayahnya selalu melarang Adel untuk keluar rumah, Adel tidak pernah punya kesempatan untuk dekat dengan laki-laki atau berpacaran layaknya anak SMA pada umumnya. "sekarang kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri." Ucap pak penghulu kepada Adel dan Arsen. "Kalian belum bisa mendapatkan surat nikah, karena Adel masih belum cukup umur. jadi untuk sementara waktu, kalian tidak akan memiliki surat nikah itu." semua orang yang ada di ruang tamu di rumah Yadi mengangguk mengiyakan, termasuk Pak RT dan RW yang kala itu hadir sebagai saksi. "Terima kasih karena sudah mau menjadi saksi." Pak ucap Yadi menyalami Pak RT dan RW, semua orang sudah pergi kecuali keluarga Arsen. Pak Wijaya mendekati Adel, lalu menepuk bahu Gadi yang telah menjadi menantunya itu. "kamu sudah menjadi istrinya Arsen, jadi kamu harus ikut arsen ke Jakarta." Adel langsung mendongak menatap Ayah mertuanya itu. "sekolah Adel, bagaimana om?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN