bandot tua

1143 Kata
Di sebuah ruang rawat umum, di rumah sakit di kota Bandung. seorang gadis yang mengenakan seragam putih abu-abu masih setia menggenggam tangan ibunya, dalam hati dia terus berdoa agar ibunya cepat sadar. Adel menoleh ke arah pintu, saat dia mendengar keributan di luar ruang rawat ibunya. secara perlahan Adel melepaskan genggamannya pada tangan Ibunya, dan meletakkan tangan itu Kak di atas ranjang Rumah Sakit dengan perlahan. Adel ingin membuka pintu, namun saat dia mendengar suara ayahnya dia mengurungkan niatnya. tangannya hanya sampai memegang knop pintu, namun tidak jadi membukanya. "dok, Apa istri saya tidak bisa langsung dioperasi lebih dulu? saya janji akan membayar kekurangannya setelah saya mendapatkan uang." "Bisa Pak, tapi tetap harus mengikuti prosedur yang ada sesuai pelayanan, yang dimiliki asuransi." "Bisakah istri saya mendapatkan dokter bedah jantung terbaik, dok?" dokter itu hanya tersenyum menepuk pundak yadi, kemudian berjalan menjauh dari laki-laki yang sudah tidak muda lagi itu. percakapan itu adalah percakapan yang terakhir adel dengar, Adel kembali berjalan menuju ranjang Ibunya. Di sana juga ada Andre, sang adik. mereka berdua sama-sama bertugas untuk menjaga ibunya untuk sementara waktu ini, sementara Yadi Dia sedang sibuk mengurus ini dan itu. Kriett... Adel dan Andre menoleh ketika pintu ruang rawat itu terbuka, Yadi datang dengan senyuman di bibirnya. getir, itulah perasaan yang sedang dirasakan oleh Adel. dia tentu saja tahu, dibalik senyuman yang diberikan sang ayah, terdapat tumpukan luka dan beban yang ayahnya tanggung. "apa Ibu kalian belum sadar juga?" Tanya Yadi mendekati ranjang niken lalu mengusap kepala istrinya lembut. Andre menggeleng, sedangkan Adel Dia hanya diam sambil menunduk. Dia sedang memikirkan ucapan ayahnya tadi pagi. "Ayah, Adel mau menikah dengan orang yang ayah maksud." Yadi langsung menoleh ke arah Adel, dia tersenyum lalu memeluk putrinya itu erat. "Apa kamu sudah yakin nak? Adel tidak akan menyesal, bukan?" tanya Yadi memastikan, meskipun dia merasa sangat bersalah namun dia juga tidak mempunyai pilihan lain. ini adalah jalan satu-satunya supaya istrinya bisa sembuh, dan semua hutangnya bisa lunas. "Adel serius Ayah, tapi adel mempunyai permintaan." Yadi melepaskan pelukannya, lalu menatap mata putrinya dengan lekat. "Ada apa Nak? kamu memiliki permintaan apa?" "keluarga calon suamiku adalah keluarga yang berada, bukan?" Tanya adel. Yadi hanya mengangguk sebagai jawaban. "Tolong katakan pada mereka, untuk membiayai semua pengobatan Ibu. kalau perlu mereka harus membantu ibu sembuh, Adel mau dokter terbaik dan pelayanan yang bagus untuk ibu." Yadi mengangguk dia menerima permintaan putrinya, dia sangat yakin karena keluarga wijaya adalah keluarga yang sangat kaya raya. jika adel hanya meminta hal itu, Yadi yakin keluarga Wijaya tidak mungkin akan keberatan. Adel kembali menoleh ke arah sang Ibu, meskipun dia harus mengorbankan masa depannya, dia rela. melihat ibunya terbaring lemah seperti ini, membuat Adel tidak tega, dia ingin melihat ibunya sehat tanpa harus bolak-balik ke rumah sakit untuk melakukan pengobatan. sudah cukup, selama ini ibunya mendapat pengobatan yang biasa, Adel ingin ibunya mendapatkan pengobatan terbaik. Karena mengandalkan asuransi terlalu banyak prosedur yang harus dijalani, Jika dengan uang yang dimiliki keluarga Wijaya bisa membantunya ibunya, adel akan merasa lebih tenang. Setelah mendengar keputusan dari putrinya, Yadi langsung keluar dari ruang rawat itu lalu berjalan agak menjauh dari ruang rawat istrinya. Yadi mengeluarkan ponsel dari saku celana yang dia kenakan, lalu mencari nomor seseorang untuk melakukan panggilan. "Halo tuan." sapa yadi pada orang di seberang telepon. "Ada apa yadi? Apa kau sudah membuat keputusan?" "anak saya mau menikah dengan anak Anda tuan, tapi dia memiliki satu permintaan. ini tentang ibunya, Adel ingin meminta tolong pada tuan untuk membiayai semua pengobatan istri saya." "kau tenang saja, kalau hanya itu permintaannya, aku akan menurutinya. karena kau sudah setuju, besok lusa aku dan keluargaku akan datang untuk menikahkan anakku dan anakmu. tidak perlu membuat persiapan apapun, kita nikahkan saja mereka secara agama dulu, toh juga adil masih muda dia belum bisa membuat surat nikah." Wijaya tersenyum tipis, "maaf karena aku mempersulit jalanmu Yadi, aku rasa ini adalah jalan terbaik. setelah ini aku akan kembali membuka semua akses milik keluargamu." "Baik tuan, Saya akan menunggu kedatangan Tuan." *** hari di mana keluarga Wijaya akan datang ke rumah yadi akhirnya tiba, Yadi sudah memperingatkan Adel untuk tidak pergi ke sekolah, namun anaknya itu menolak. dia mengatakan kalau dirinya ingin menikmati suasana sekolah terlebih dahulu, sebelum dirinya menikah. Hari sudah semakin sore, Adel sudah pulang dari sekolahnya dan kini sedang berjalan di jalanan Komplek dekat rumahnya. wajahnya terlihat sangat kesal, dia juga selalu menendang semua benda yang dia lihat di jalanan. entah itu batu kerikil, batang kayu, atau sampah botol minuman yang sekiranya bisa dia tendang. "Dasar orang kaya tidak berperasaan, bisa-bisanya kalian membeliku dengan uang yang kalian miliki! kalian pikir kalian Siapa, sampai bisa seenaknya seperti itu? aku doakan, semoga kalian cepat bangkrut dan terlilit hutang! supaya kalian bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini." masih terus menggerutu, dia menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah kaleng bekas minuman instan yang tergeletak di jalan. dengan gerakan cepat Dia menendang kaleng bekas minuman itu, membuat kaleng yang dia tendang melayang ke udara. "Akh,, tidak!" Teriak Adel ketika melihat Sebuah mobil melaju, sedangkan kaleng yang melayang di udara itu hampir jatuh menimpa mobil yang hendak lewat. Adel menutup wajahnya dengan kedua tangan, dia merenggangkan jemarinya membuat celah agar dia bisa melihat keadaan di depan. Mobil itu berhenti, lalu membuka kaca jendela mobil. "Apa yang kau lakukan anak kecil?" tanya sopir di dalam mobil itu. adil membungkukkan badannya beberapa kali, "Maafkan saya pak, saya tidak sengaja." Sopir itu hanya menggelengkan kepalanya, lalu menutup kembali kaca mobil yang tadi dibuka dan mobil kembali melaju. dari jauh Adel memperhatikan mobil itu, dia melihat seseorang duduk di bangku penumpang sambil menunduk, entah sedang fokus melihat apa. Adel kembali melanjutkan langkah kakinya, beberapa menit kemudian dia akhirnya sampai di depan rumah. keningnya berkerut, manik matanya melihat dua buah mobil yang terparkir rapi di depan rumahnya. "apa ini mobil yang tadi ya?" tanya Adel pada dirinya sendiri. dia memutari Mobil itu, lalu memperhatikannya dengan seksama. saat tiba di depan mobil satunya, dia langsung membulatkan matanya dan membekap mulutnya. "Astaga! ini memang mobil yang tadi, itu adalah bekas botol minuman yang tadi aku tendang bukan.x ucap Adel menunjuk noda merah di kaca mobil bagian depan. "Wah, ini gawat!" ucap Adel menggelengkan kepalanya, dia langsung menengok ke arah pintu rumahnya yang terbuka. jantungnya mendadak berdegup kencang, Dia berjalan memasuki rumahnya dengan langkah yang sangat pelan. "Assalamualaikum." ucap Adel, mencondongkan kepalanya melihat ke dalam rumah. Deg.. jantungnya berpacu ketika netranya melihat beberapa orang sedang duduk di ruang tamu, pakaian mereka sangat rapi. juga penampilan mereka, tidak bisa dibandingkan dengan penampilan keluarganya sehari-hari. "kamu sudah pulang, nak? Masuklah ke kamar dan ganti pakaianmu, calon suami dan calon mertuamu sudah menunggu." Ujar yadi, mendorong punggung Adel untuk masuk ke kamarnya. Adel menurut, meskipun kepalanya masih tidak menoleh dan masih memperhatikan orang-orang yang sedang duduk di sofa. dalam hati, dia bertanya-tanya. 'itu? Oh, astaga! apa bandot tua itu yang akan menjadi suamiku?' tanyanya dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN