Bab 5. Lyra positif hamil

1256 Kata
Satu bulan menjadi sekretaris suaminya sama sekali tidak membuatnya menemukan hal yang mencurigakan, malah justru hubungan mereka perlahan semakin membaik dan sekretaris lama juga turut bahagia melihatnya karena memang Lyra pantas mendapatkan kesetiaan. Perlahan pula kepercayaan kepada suaminya kembali pulih, hubungan mereka kembali seperti sedia kala yang penuh akan keromantisan. Rio akhirnya merasa lega karena sudah berhasil kembali meyakinkan istrinya sehingga tujuan utama menikahi Lyra kembali dijalankan. Merasa jika sudah berbaikan, setiap malam mereka melakukan penyatuan yang penuh akan gairah. Sebenarnya Rio merasa puas ketika bersama Lyra tetapi sebisa mungkin harus disingkirkan perasaan itu karena ada Cecillia yang tengah menunggu di luar sana untuk menjadi istrinya, mungkin karena pertama kali Lyra melakukan penyatuan padanya sehingga ada sensasi dan kebanggaan tersendiri dalam diri Rio ketika melakukan penyatuan dengan istrinya. **** Sudah beberapa minggu terakhir ini Lyra merasakan ada yang aneh pada tubuhnya dan baru tersadar jika bulan ini telat datang bulan. "Mas bisakah nanti pulang lebih awal?" tanyanya penuh harap. "Akan aku usahakan sayang, memangnya ada apa?" tanya Rio sambil sarapan. "Aku mau periksa, Mas," jawab Lyra ragu-ragu. “Kamu kurang enak badan? apa periksa sekarang aja?" usul Rio penuh perhatian. Lyra menyetujui usulan suaminya karena lebih cepat mengetahui lebih baik. Mereka sarapan terlebih dahulu setelah itu bergegas menuju rumah sakit, tidak hanya Lyra saja yang ingin segera mengetahui apa yang tengah dirasakannya tetapi Rio juga. **** Kini mereka sudah tiba di rumah sakit dan kebetulan Lyra mendapat urutan nomor pertama. "Kalau sampai ada masalah di dirimu apalagi di rahim, jangan harap gue akan bertahan, kalau bukan permintaan Cecillia dan mamah mana mau gue menikahimu," batin Rio sambil menuntun istrinya menuju ruang dokter. "Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" sapa dokter cantik dengan ramah. "Akhir-akhir ini badan saya seperti kurang enak badan, terkadang mencium bau sesuatu yang dulunya saya suka kini malah mual," ucap Lyra menjelaskan keluhannya. "Jangan-jangan hamil? Yes akhirnya setelah ini permasalahan selesai," batin Rio tersenyum senang. "Kalau boleh saya tau apakah siklus haid anda lancar?" tanya dokter memastikan. "Bulan ini saya telat tiga minggu dan saya baru menyadarinya tadi pagi setelah melihat kalender," ucap Lyra semakin membuat Rio merasa bahagia. Lalu Dokter memeriksa dengan sangat teliti hingga membuat mereka penasaran. Beberapa menit diperiksa, mereka kembali ke tempat duduk sambil menunggu hasil pemeriksaan dokter. "Istri saya kenapa dok?" tanya Rio sudah tidak sabar. "Istri anda sehat dan tidak ada gejala penyakit yang berbahaya, menurut diagnosa saya istri anda sedang hamil muda, selamat buat kalian berdua karena sebentar lagi akan menjadi orang tua," ucap dokter dengan senang. "Hamil? Mas, aku hamil?" tanya Lyra tak percaya dan terharu. "Lebih tepatnya silakan periksa di dokter kandungan supaya di USG untuk memastikan berapa usia kandungan ibu," usul dokter dan mereka kompak mengangguk setuju. "Terima kasih dok terima kasih banyak," ucap Rio sangat bahagia. "Sama-sama, tolong dijaga kandungan istrinya dan jangan terlalu kecapekan," saran dokter. "Pasti dok," jawab Rio mantap lalu mereka langsung periksa ke dokter kandungan. Hasil yang disampaikan pun sama, Lyra positif hamil tujuh minggu. Kabar kehamilannya membahagiakan banyak pihak terutama Cecillia karena tidak perlu menunggu lama lagi akan menjadi ibu. Setelah tiba di rumah, Rio mewanti-wanti istrinya untuk menjaga diri supaya tidak banyak gerak dan kecapekan, mengetahui jika tengah hamil maka tugasnya menjadi sekretaris juga sementara ditinggalkan dulu karena Rio tidak mau ada sesuatu yang terjadi pada calon buah hatinya. Setelah itu Rio berangkat ke kantor dan kebetulan sedang banyak pekerjaan hingga mengharuskannya lembur, tidak mau ada salah paham lagi akhirnya segera mengabari istrinya. "Sayang, maaf banget hari ini aku pulang telat, pekerjaan di kantor banyak sekali, aku sudah suruh Mamah menemanimu mungkin sedang perjalanan. I love you sayang," isi chat Rio membuat Lyra menelan kekecewaan karena malam ini ia tidak bisa bersama suaminya, ia sudah hafal jika Rio lembur pasti pulang larut malam. Tak berselang lama mertuanya datang dan bersikap sangat antusias ketika tau Lyra hamil. Tak lupa Katarina membawa buah-buahan dan s**u hamil. "Hai sayang, tadi Rio telepon katanya harus pulang malam jadinya Mamah dengan senang hati ke sini," “Tadi Mas Rio sudah bilang, ayo masuk Mah," ajak Lyra lalu mereka berbincang di ruang keluarga. "Mamah bawa banyak sekali, malah merepotin jadinya," ucapnya sungkan. "Jangan bilang begitu karena Mamah tidak suka, ini semua Mamah siapkan untuk gizi calon cucuku," ucap Katarina antusias. "Terima kasih, Mah," jawab Lyra terharu, ia merasa beruntung memiliki mertua baik. Dari awal menikah hingga sekarang mengandung, tidak pernah sekali pun mertua membuatnya sedih. Setelah meletakkan buah tangan dari mertuanya di meja, Lyra kembali ke ruang keluarga untuk berbincang ringan dengan mertuanya. Banyak hal yang mereka bahas sampai tertawa bersama, suasana yang hangat nyatanya langsung berubah ketika ada pesan masuk di ponsel Katarina yang ternyata dari Cecillia yang mengetahui jika saat ini sedang menemani menantunya di rumah, tentu saja kesempatan ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Dirinya takut jika nanti orang tua Rio juga menyayangi Lyra otomatis perhatian serta kasih sayang yang pernah diberikan untuknya nanti akan tergantikan. Cecillia: Mamah lagi menemani Lyra di rumah? Katarina: Iya, kamu tau dari mana? Cecillia: Mas Rio yang memberitahukannya, Mah. Setelah itu pesannya tidak dibalas lagi oleh Katarina karena lebih memilih bercanda dengan menantunya yang sebentar lagi akan memberikan cucu. Cecillia yang merasa kesal lalu mengirimkan pesan kepada Rio. Cecillia: Mas, aku ke rumahmu sekarang, aku gak rela kalau mamah makin dekat sama istrimu. Rio: Jangan gila, Cecillia! Cecillia: Bodoh amat, intinya aku sudah bilang padamu lebih dulu. Sudah cukup istrimu hampir mendapatkan semuanya! Berulang kali Rio menghubungi tapi tidak satu pun dijawab dan itu membuatnya merasa resah, bagaimana nanti mereka bertiga ketika bertemu terlebih Cecillia, apakah bisa meredam emosinya? Mengingat istrinya tengah hamil seharusnya bisa bersabar sedikit karena semuanya akan berakhir sesuai rencana. Mendengar suara bel pintu rumah membuat Lyra dan Katarina saling menatap satu sama lain karena penasaran. "Siapa yang bertamu?" tanya Lyra heran dan ingin membukakan pintu namun ditahan oleh Katarina. "Biarkan Mamah saja, kamu duduk di sini," ucap Katarina lalu bergegas membuka pintu. "Cecillia?" pekik Katarina terkejut. "Hai, Mah," sapanya tersenyum kaku. "Ngapain kamu ke sini? tolong ya jangan bikin ulah, Mamah capek hadapi kamu," tanya Katarina geram. "Mau menemani kalian berdua, apa itu salah?" tanya Cecillia tak merasa berdosa. "Jelas salah, pulanglah sebelum kamu membikin onar," usir Katarina dan Cecillia kekeh masuk ke rumah. "Dasar wanita tidak tau tata krama," gumamnya sangat kesal dan terpaksa mengikuti Cecillia ke dalam. "Loh, Mbak Cecillia? apa kabar?" sapa Lyra ramah dan menjabat tangan Cecillia. "Kabar baik, oh iya katanya kamu hamil? selamat Lyra," tanya Cecillia basa-basi. "Iya, alhamdulillah dikasih cepat, bentar aku buatkan minum dulu," ucap Lyra lalu pergi ke dapur membuat minuman. "Awas aja kalau kamu sampai buat ulah," ancam Katarina. "Tenang saja, gak bakal rusuh kok," jawab Cecillia santai. Setelah Lyra selesai menyuguhkan minuman kini mereka mengobrol ringan, hingga tak terasa Rio sudah pulang. sebenarnya Rio sedikit canggung dengan suasana ini namun ia berusaha tenang. "Selamat malam, Cecillia, kok kamu ikut ke sini?" sapa Rio canggung. "Iya, tadi aku ke rumah, katanya tante lagi jagain Lyra, aku ikut ke sini deh," ucap Cecillia dengan entengnya. "Sayang tidur yuk, hari ini capek banget nih, Mamah tidur di sini apa langsung pulang?" tanya Rio kikuk. "Mamah langsung pulang saja deh, besok-besok ke sini lagi, ayo pulang, Cil," ucap Katarina sedikit kesal dan mengajak Cecillia pulang padahal aslinya ingin menginap di sini untuk lebih memastikan kebutuhan calon cucunya tercukupi. "Kenapa Mamah kesal sama Cecillia? memang ada apa sih?" batin Lyra penasaran lalu menatap suaminya yang sepertinya tidak suka dengan kehadiran Cecillia di sini. Sebelum berpamitan pulang, Cecillia mengucapkan sesuatu di telinga Lyra yang membuat Rio serta Katarina saling melirik dengan perasaan cemas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN