Bab 1. Mencari Rahim Pengganti
Cecillia dan Mamah Katarina sedang berbelanja di sebuah mall ternama, keduanya memiliki hobi yang sama sehingga tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk mengakrabkan diri. Setelah selesai berbelanja, mereka sedang menunggu taksi online, beberapa menit kemudian taksi online pesanan mereka sudah tiba tapi posisinya ada di seberang jalan. Ketika sedang menyeberang, ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, spontan Cecillia mendorong Katarina ke tepi jalan namun malang bagi Cecillia, ia justru tertabrak dan mengalami benturan sangat keras.
"Cecillia," Teriak Katarina histeris lalu banyak warga yang membantu mengevakuasi.
Katarina menghubungi anaknya untuk memberitahu insiden ini. Rio yang mendapat kabar langsung menuju ke rumah sakit, di sepanjang jalan terus memanjatkan doa supaya keadaan kekasihnya tidak parah meski tidak bisa dipungkiri jika merasa sangat terkejut.
Kini Cecillia sudah berada di rumah sakit dan segera mendapatkan penanganan pertama di ruang UGD, kurang lebih dua jam lamanya Katarina, Ira serta Rio menunggu, kini dokter keluar dari ruangan untuk memberitahu kondisi pasien. "Keluarga pasien?" tanya dokter.
Ira serta Katarina langsung menghampiri dokter karena sudah tidak sabar untuk mengetahui bagaimana kondisi Cecillia. “Bagaimana kondisinya, Dok? Dia bisa diselamatkan ‘kan?”
Dengan tenang dokter mengatakan jika kondisi Cecillia kritis bahkan rahimnya mengalami kerusakan akibat benturan yang sangat keras jadinya pihak rumah sakit meminta persetujuan keluarga pasien untuk menandatangani surat persetujuan pengangkatan rahim karena hanya itu saja opsi terakhir yang bisa dilakukan, jika terus mempertahankan rahim Cecillia nantinya akan berdampak lebih buruk untuk ke depannya.
Mendengar penjelasan dokter membuat mereka semua tentu saja terkejut bukan main apalagi Ira langsung histeris dan terus memohon kepada dokter supaya memberikannya opsi kedua selain mengangkat rahim anaknya karena dia tidak bisa membayangkan jika nanti Cecillia tidak memiliki rahim sudah pasti tidak akan bisa memberikan keturunan dan hidupnya akan hancur karena tidak bisa menerima kenyataan ini.
Dokter tidak memiliki pilihan lain dan hanya itu saja opsi terakhirnya, sampai akhirnya Ira terpaksa menyetujui dengan berat hati. Katarina yang mengetahui hal tersebut sempat dilanda rasa kecewa tetapi ada juga rasa menyesal karena dengan Cecillia menyelamatkannya membuat calon menantunya harus kehilangan rahim.
Setelah selesai operasi, kini Cecillia dibawa ke kamar inap.
"Mamah," ucap Cecillia lirih dan tubunya sangat terasa lemas.
"Iya sayang, Mamah selalu di sini menemanimu, ada mamah Katarina juga yang tak hentinya mendoakan kesembuhanmu," ucap Ira lembut sambil membelai rambut anaknya.
Karena bosan tiduran terus Cecillia berusaha untuk bangun, tanpa tau penyebabnya tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit seperti habis disayat. Karena tidak kuat menahan sakit membuatnya refleks merintih yang membuat calon mertua, calon suami serta mamahnya saling memandang.
Melihat mereka berdua saling memandang dengan tatapan mencurigakan, membuat Cecillia akhirnya bertanya kepada calon suaminya-Rio. Ia tahu betul jika kekasihnya tidak akan mungkin tega membohonginya. "Apa yang sudah terjadi padaku, Mas?”
Rio terdiam cukup lama dengan posisi tidak berani menatap Cecillia yang membuatnya semakin penasaran dan akhirnya mendesak untuk jujur. "Tolong, jangan ada yang disembunyikan, jawablah,"
"Biarkan saya saja yang mengatakannya," ucap Ira mengatur nafas supaya sedikit tenang sebelum akhirnya memberanikan diri untuk memberitahu semuanya. “Maafkan Mamah yang harus terpaksa mengambil tindakan ini, percayalah ini demi keberlangsungan hidupmu, maafkan Mamah yang sudah menyetujui untuk mengangkat rahimmu.”
Bagai petir di siang bolong, mendengar hal yang seharusnya tidak diinginkannya membuatnya merasa sangat terpukul. "Ini gak boleh terjadi! Apa Mamah lupa kalau aku mau menikah? Apa jadinya kalau sampai tidak memiliki rahim, siapa nantinya yang akan meneruskan keturunan keluarganya Mas Rio, siapa Mah? Kenapa Mamah tidak berpikir sampai sana! Kalian jahat! Kalian semua sudah membuat hidupku hancur! Aku kecewa sama kalian! Pergi dari sini!”
"Kami sebenarnya juga tidak menginginkan ini, tapi percayalah, Mamah tetap menyayangimu apalagi sudah menyelamatkan nyawa Mamah," ucap Katarina mencoba menenangkan tetapi Cecillia terus menangis histeris sebagai bentuk luapan amarah serta kecewanya.
"Begini saja, bagaimana kalau Rio menikah dulu dengan perempuan lain dan mempunyai anak setelah itu baru mereka cerai dan buat hak asuh jatuh ke tangan Rio, setelah itu kalian menikah, jadi Rio memiliki penerus dan juga menepati janjinya menikahi Cecillia," usul Ira membuat mereka terkejut.
"Aku tidak mau berbagi dengan orang lain, Mah! Mas Rio hanya untuk aku, titik!”
"Kamu terima saja, ini juga demi kebaikanmu, kalian nanti akhirnya tetap menikah meskipun Rio harus menikah dulu dengan orang lain sebagai pengganti rahimmu, ini jalan terbaik untuk semuanya," ucap Ira tak mau dibantah.
"Saya tidak munafik kalau sangat menginginkan penerus apalagi Rio anak semata wayang kami, siapa lagi yang akan meneruskan perusahaan nantinya? Sebenarnya usul anda itu terbilang kejam tapi mau bagimana lagi, semua ini di luar kendali kita, jadi saya menyerahkan semuanya pada Rio," ucap Katarina penuh kebimbangan tapi tidak ada jalan lain.
"Rio gak bisa membayangkan bagaimana nanti perasaan calon istriku jika nantinya tau kalau dia hanya dijadikan rahim pengganti," ucap Rio berusaha menolak secara halus.
"Tapi tidak ada pilihan lain, kamu sudah berjanji ingin menikahi anak saya, jangan karena tidak bisa memiliki keturunan lalu dengan mudahnya kalian campakkan," protes Ira geram.
"Baiklah, akan Rio turuti kemauan Mamah Ira tapi berikan aku waktu karena mencari rahim pengganti tidak bisa dengan orang sembarangan, harus kenal latar belakang dan individunya juga," ucap Rio akhirnya pasrah, janji menikai kekasihnya tidak bisa dibatalkan begitu saja setelah tau semua ini apalagi penyebab hilangnya rahim Cecillia karena menyelamatkan nyawa mamahnya, secara tidak langsung Rio beserta keluarganya hutang budi.
"Baiklah, semakin cepat kamu mendapatkannya maka semakin baik, jika istrimu itu sudah melahirkan segera urus proses cerai dan buat hak asuh jatuh ke tanganmu," ucap Ira memperingati dan Rio hanya mengangguk patuh meskipun itu bertolak belakang dengan isi hatinya.
Satu minggu setelah kejadian kecelakaan, Cecillia diperbolehkan pulang dan itu artinya Rio harus segera mencari pengganti rahim supaya tetap memiliki penerus.
****
Karena pikirannya semakin pening membuatnya memutuskan untuk jogging di sebuah taman untuk me refresh pikirannya. Ketika tengah berlari kecil, Rio menabrak seorang wanita yang sedang jongkok membenarkan tali sepatu, mereka bertatapan dan membuatnya merasa klik dengan wanita di depannya dan bermaksud ingin mengenal lebih jauh,
Setelah basa-basi dan berkenalan secara singkat, diketahui jika nama wanita tersebut adalah Lyra. Entah kenapa merasa sangat nyaman padahal mereka baru pertama kali bertemu, sepakat untuk joging bersama sambil bercengkerama ringan, sampai akhirnya tak lupa bertukar nomor, dari situlah mereka semakin akrab.
Tiga bulan sudah mereka saling mengenal, merasa sudah cukup mengetahui latar belakang dan sifat Lyra, akhirnya Rio membicarakan ini kepada Cecillia. "Sayang, aku sudah menemukan pengganti rahimmu, ini orangnya," ucap Rio memperlihatkan foto Lyra.
"Apa dia tidak terlalu cantik, Mas? aku takut kalau nanti kamu jatuh hati padanya."
"Aku sudah kenal dengannya beberapa bulan ini bahkan sudah mengenali sifatnya dengan baik, aku merasa kalau dia pantas menjadi rahim penggantimu," ucap Rio sangat yakin tanpa memikirkan jika wanita di depannya sedang cemburu dan insecure.
"Tak bisakah mencari wanita lain? dia cantik, aku takut kamu jatuh hati dengannya apalagi nanti kalian akan menikah, sudah pasti kalian akan sering bertemu," ucap Cecillia cemburu.
"Percayalah, aku tidak akan mencintainya karena sampai saat ini hatiku hanya untukmu dan kamu tau sendiri kalau aku melakukan semua ini karena keinginanmu dan keinginan mamah, jadi, jangan lagi meragukan perasaanku," ucap Rio dengan lembut dan penuh keyakinan sehingga akhirnya Cecillia luluh.
"Aku menyetujui kamu menikah dengan dia tapi berjanji padaku jangan sampai menaruh hati padanya, setelah dia melahirkan segera ambil anaknya dan ceraikan. Buat hak asuhnya jatuh ke tanganmu," pinta Cecillia dengan menatap tajam.
"Apa itu tidak terlalu kejam?" tanya Rio terkejut.
"Ingat tujuan awal menikahinya, kenapa kamu protes?" sindir Cecillia kesal.