Bab 2. Menerima lamaran Rio

1572 Kata
Rio hari ini mengajak Lyra keluar tepatnya di sebuah kafe yang tempatnya tidak jauh dari kediaman kekasihnya. Di sana nantinya menjadi saksi bisu bagaimana Rio melamar pujaan hati. Rio sudah mendesain meja yang lebih dulu di reservasinya dengan sangat indah. Lyra sambil menatap sekeliling ruang VVIP yang sudah di reservasi Rio. “Sepertinya ini bukan desain kafe karena aku pernah beberapa kali ke sini.” “Aku yang sudah mendesain semuanya sebaik mungkin karena hari ini akan menjadi hari yang sangat spesial. Tempat ini akan menjadi saksi bagaimana hubungan kita ke depannya.” Perkataan Rio membuat Lyra mengernyitkan dahi karena tidak paham dengan maksud semua ini. Tidak berselang lama, datang beberapa orang membawa alat musik seperti biola dan saxophone. Mereka melantunkan lagu romantis yang membuat Lyra semakin merasa bingung dan kini menatap kekasihnya untuk meminta penjelasan. Tiba-tiba Rio berlutut di hadapannya sambil membuka kotak kecil berwarna merah hati, setelah terbuka sepenuhnya barulah terlihat sebuah cincin. "Lyra, maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Jujur saja, semakin lama aku mengenalmu semakin besar dan yakin hatiku memilihmu menjadi pendamping hidup. Aku serius denganmu," Lyra yang tiba-tiba dilamar tentu saja merasa terkejut apalagi mereka baru saja saling mengenal, ada keraguan di dalam hatinya untuk langsung menerima, bukan karena tidak menyukai Rio malah semakin lama Lyra merasa nyaman dengannya tetapi lamaran ini terasa terlalu cepat. Rio berusaha meyakinkan kekasihnya dengan mengatakan, "Tidak perlu waktu yang lama untuk memantapkan hati ini.” "Tapi ini terlalu cepat." Merasa jika kekasihnya meragukannya membuat Rio merasa tersinggung. "Kamu meragukan keseriusan dariku? Apa pembuktian yang aku berikan itu kurang?" "Bukan begitu, tapi aku terkejut karena kamu tiba-tiba melamar," Lyra tidak enak hati karena merasa sudah salah ucap. "Aku mau melamarmu secara empat mata dulu, kalau kamu menerima baru aku datang ke rumahmu beserta kedua orang tuaku," ucap Rio sangat meyakinkan. Mendengar jika nantinya akan datang ke rumah untuk melamar secara resmi membuat Lyra akhirnya luluh juga karena merasa jika saat ini kekasihnya memang benar-benar ingin mempersuntingnya meski ada perasaan ragu di dalam hati. “Besok aku akan membawa kedua orang tuaku menemui keluargamu, jadi persiapkan semuanya dengan baik. Terima kasih, aku senang mendengarnya," ucap Rio bernafas lega lalu memasangkan cincin berlian bernilai fantastis yang sudah dibawanya ke jari manis Lyra setelah itu memeluk erat. Lyra menyambut pelukan kekasihnya dengan hangat dan merasa terharu karena semua ini terasa seperti mimpi apalagi kekasihnya bukanlah orang sembarangan yang di mana status social mereka berdua sangat berbeda jauh, itulah alasan utamanya sempat ragu meski ada hal lain juga yang entah dia sendiri tidak mengetahuinya apa tetapi merasa jika keraguan tersebut karena sesuatu hal yang besar. "Akhirnya sudah menemukan rahim pengganti. Tunggu sebentar lagi aku dan Cecillia akan menjadi keluarga yang sempurna," batin Rio lalu mereka pulang ke rumah masing-masing. Sesuai janji, Rio datang dengan membawa kedua orang tuanya beserta Cecillia yang diperkenalkan sebagai sepupunya."Ini rumahnya, Mas?" tanya Cecillia menatap sekeliling dengan nada merendahkan. Rio menganggukkan kepala pertanda jika pertanyaan tersebut adalah benar. Sebelum memasuki rumah, Katarina terlebih dahulu memperingatkan Cecillia supaya tidak bersikap berlebihan sehingga nantinya malah membuat curiga. Dengan wajah kesal, terpaksa Cecillia menyetujui. "Sebenarnya Papah tidak setuju mengajaknya ke acara lamaran anak kita, takut dia merusak acara," sindir Suganda melirik Cecillia. Belum sempat Katarina menjawab tiba-tiba sudah ada orang tua Lyra yang menyambut mereka sehingga masalah Cecillia dinomor duakan lebih dahulu. "Selamat sore, selamat datang di rumah sederhana kami, mari masuk," sapa Sri dengan ramah lalu bersalaman. Dengan senyuman ramah serta suara yang halus, Katarina memperkenalkan siapa saja yang datang ke rumah calon istri anaknya. "Sore, perkenalkan saya Katarina dan ini suami saya Suganda. Kami orang tua dari Rio, di sebelah ini adalah sepupu kami namanya Cecillia, kebetulan dia menginap karena ada acara di kota ini, jadi kami ajak sekalian," Lalu mereka saling memperkenalkan diri, tetapi untuk acara lamaran ini hanya ada Sri beserta saudaranya saja karena suami serta kakaknya Lyra sedang bekerja di luar kota dan tidak bisa langsung mengajukan libur apalagi acara lamaran ini diadakan secara mendadak, tetapi Sri bisa memastikan jika di acara pernikahan Lyra nanti mereka akan hadir. Kedua orang tua Rio tidak mempermasalahkan hal tersebut dan memaklumi karena memang acara ini mendadak, bagi mereka kini yang terpenting anaknya bisa segera menikah dan nantinya memiliki penerus. Basa-basi yang dilakukan mereka membuat Cecillia merasa muak sehingga kini berbisik di telinga Rio. "Mas, mana calonmu?" "Mungkin masih di dalam, sabar dulu," jawab Rio pelan. Melihat Rio serta Cecillia saling berbisik membuat Suganda merasa geram tetapi sebisa mungkin menyembunyikan perasaan tersebut dan bersikap santai meski sempat menatap mereka berdua tajam. Tidak mau jika nantinya merusak suasana, akhirnya Suganda segera menyampaikan maksud dan tujuannya ke sini. "Maksud dan tujuan kami datang ke sini untuk meminang perempuan pilihan anak saya yang bernama Lyra untuk menjadi pendamping hidup anak saya-Rio, apakah anda bersedia menerima lamaran kami?" "Saya merasa bahagia ketika diberitahu oleh anak saya jika dia di lamar oleh laki-laki yang dia suka, saya sebagai orang tua merasa bahagia karena anak saya mendapatkan pasangan yang sama-sama saling memiliki rasa, untuk jawaban lamaran anda akan saya serahkan semuanya kepada Lyra karena dialah yang nantinya akan menjalani," ucap Sri lalu memanggil Lyra. "Kelamaan banget sih banyak basa-basinya," cibir Cecillia tak suka meski berbicara pelan tapi Katarina mendengarnya. "Bisakah kamu itu bersikap layaknya saudara?" gertak Katarina geram meski berbicara berbisik. "Kalau bukan permintaan mamah kamu mana mau aku mencari wanita pengganti supaya bisa memiliki keturunan," bisik Rio kesal karena kekasihnya terus berceloteh. Tidak lama kemudian Lyra keluar dan menemui calon suami dan keluarganya. Semua yang melihat merasa takjub akan kecantikan alami yang dimiliki. Katarina dan Suganda menjadi tak tega harus mengorbankan Lyra sebagai rahim pengganti, mereka langsung tau jika Lyra adalah perempuan yang baik-baik. "Selamat sore Om, Tante, Mas Rio dan maaf ini siapa?" sapanya ramah sambil berjabat tangan meski pandangan matanya tidak bisa lepas dari wanita yang ikut bersama calonnya. "Perkenalkan ini sepupuku namanya Cecillia," jawab Rio berbohong. Lyra menyapa Cecilia dengan ramah, sayang sekali saat ini sepupu pura-pura suaminya itu sudah merasa cemburu buta jadinya memasang wajah masam. "Ada apa dengan sepupu Mas Rio? apa dia tidak menyukaiku?" batin Lyra heran. Merasa tidak nyaman dengan tatapan yang diberikan oleh Cecillia membuat Rio beserta keluarganya merasa kerepotan. Takut jika nanti ketahuan sebelum tujuan awal tercapai, akhirnya Suganda mempersingkat semuanya supaya segera selesai dan bisa pulang. "Selamat sore Lyra, saya Suganda, orang tuanya Rio, pastinya kamu sudah tau tujuan kami datang kemari, bagaimana? sudah ada keputusannya?" "Saya sudah tau karena kemarin mas Rio sudah mengatakannya, untuk jawabannya, tentu saja menerima lamaran dan bersedia menjadi istri mas Rio," jawab Lyra mantap membuat kedua orang tua Rio merasa lega. "Syukurlah, kami lega dan bahagia mendengarnya," ucap Suganda senang dan Mayang tersenyum bahagia. "Terima kasih sudah mau menjadi pendampingku," ucap Rio lalu menggenggam tangan Lyra dengan rasa sangat bahagia. "Iya, Mas, semua ini berkat kegigihanmu untuk meyakinkanku," ucap Lyra tersipu malu. Di saat semuanya tengah berbahagia, ada yang merasa tidak suka bahkan muak dengan drama yang dilakukan oleh keluarga Rio. "Sialan! Kenapa semuanya jadi terbawa suasana, ini gak boleh dibiarkan! Jangan sampai Lyra mengambil alih perhatian dan hati mereka," Setelah acara lamaran diresmikan kedua belah pihak dan acara pernikahan diputuskan tiga bulan lagi kini Rio beserta keluarganya disuguhkan beberapa makanan yang ada di meja. Di sana semuanya sangat bahagia karena sebentar lagi akan menjadi besan, termasuk Lyra terlihat jelas sekali aura kebahagiaannya begitu juga dengan Rio yang sangat sempurna melakoni perannya dengan terlihat bahagia. Memang saat ini Rio sangat bahagia karena dengan Lyra menerima lamarannya otomatis sebentar lagi mereka akan menikah dan nantinya keturunan untuk keluarga Suganda akan hadir dari rahim calon istrinya. Cecillia tidak kuat melihat adegan mesra sang kekasih hingga secara refleks memukul pisau dan garpu secara keras di meja makan, semua orang yang sedang bercengkerama merasa terkejut dan sekarang tertuju padanya dengan tatapan heran. "Ada apa? anda tidak suka dengan hidangan yang kami sajikan?" tanya Lyra mencoba berpikir positif. "Kamu ini kenapa?" bisik Katarina geram. "Masakannya enak kok, lanjut makan semuanya, tadi saya sedang memikirkan sesuatu yang tidak menyenangkan," jawabnya ketus dan kembali makan. Lalu, mereka memilih cuek akan ulah Cecillia meski di satu sisi Lyra merasa heran, apa salahnya sampai tidak suka padanya, Setelah selesai makan, Lyra mengajak calon suaminya untuk berbicara. "Yuk ikut aku sebentar." Rio tidak bisa menolak ajakan Lyra sebab merasa penasaran, hal apa yang ingin di bahas sepertinya serius sekali meski ia tau jika Cecillia menatap mereka sangat tajam. "Ada apa Lyra?" tanya Rio penasaran setelah mereka tiba di halaman belakang. "Apa benar kalau Cecillia itu sepupumu?" tanya Lyra to the point membuat Rio langsung kaget. "Dia memang sepupu aku, memangnya ada apa?" tanya Rio penasaran. "Sepertinya dia memiliki rasa padamu makanya tidak menyukaiku," jawab Lyra sedih. "Kamu ngomong apa sih? enggak mungkin, dia memang begitu kalau ketemu orang asing, jangan negatif thingking ya," bujuk Rio dan Lyra lebih memilih mengalah, bisa saja memang sepupu suaminya tidak bisa langsung akrab dengan orang baru atau memang pembawaannya judes. "Semoga perasaanku ini salah kalau sepupumu itu memiliki rasa padamu, dari awal saja dia sudah memasang wajah tidak bersahabat apalagi nanti kita menikah.” Batin Lyra berusaha untuk berpikir positif dan bisa saja ini hanya perasaannya saja yang merasa jika Cecillia tidak menyukainya. Tanpa mereka sadari, di saat tengahnya berpelukan ada seseorang yang mengamati dari kejauhan dengan perasaan sangat benci dan penuh amarah, “Aku tidak akan membiarkan Mas Rio nantinya dikuasai oleh calon istrinya! Apa yang awalnya jadi milikku maka harus selamanya untukku! Enak saja dia baru datang di hidup Mas Rio tapi ingin menguasai semuanya!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN