Bab 7. Terbongkar Sudah

971 Kata
"Mau tau apa alasan mas Rio menikahimu?" tanya Sisil tersenyum licik. "Memangnya apa? Bisa tolong jelaskan sejujurnya?" pinta Lyra berlinang air mata. "Ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya!" tolak Rio panik. "Lagi-lagi kamu berkelit, ingat tujuan awal menikahinya!" protes Cecillia. "Aku mohon jangan memperkeruh suasana karena ini bukan saat yang tepat, aku gak mau terjadi sesuatu pada bayinya," pinta Rio penuh harap. "Mas!" pekik Cecillia emosi. “Aku ingin mendengarkan semuanya sekarang juga, Mas!” tantang Lyra sudah siap menerima risiko apa pun nantinya asal semua jelas. Cukup lama terdiam, kini Rio sudah siap mengatakan yang sebenarnya, butuh waktu untuk menelaah kata-kata agar tidak menyakiti hati karena selama ini istrinya sanggatlah baik padanya apalagi dengan kedua orang tuanya. Rasanya tidak tega harus menyakiti istrinya apalagi sedang mengandung anaknya, jika bukan karena janji, mungkin sekarang Rio bisa membuka hati untuk Lyra dan menjalin keluarga yang bahagia dan harmonis. "Baiklah, aku akan mengatakan sejujurnya. Maafkan aku, memang aku menikah denganmu ada alasan tersembunyi, aku ingin kamu mengandung anakku. Jadi, intinya aku menikah denganmu karena rahimmu, rahim yang kau miliki sebagai pengganti milik Cecillia," ucap Rio akhirnya jujur yang membuat hati Lyra terpukul dan sakit. Dengan suara bergetar dan penuh amarah, Lyra mengungkapkan isi hatinya. "Di mana hati kalian? Bisa-bisanya mengorbankan orang lain demi ambisi memiliki keturunan! Mengapa kalian tidak menikah lalu memiliki anak, kenapa harus melalui aku? Kenapa, Mas? Kamu ternyata pria yang sangat jahat dan tidak memiliki perasaan!” "Kamu ini jadi perempuan repot banget sih, tadi penasaran kenapa menikahimu sekarang sudah terjawab malah kamu gak terima," ucap Cecillia sinis. "Apakah kamu sudah tidak memiliki perasaan? Wanita mana yang rela jika tujuannya dinikahi hanya untuk dijadikan rahim pengganti saja! Coba posisinya terbalik, apakah kamu akan menerimanya?” pekik Lyra tersulut emosi oleh ucapan Cecillia yang sesuka hatinya. "Hei! Mana mungkin aku mau diperlakukan seperti itu, semua ini sudah kehendak Tuhan. Terima saja nasibmu itu, masih mending Mas Rio menikahimu dan memperlakukanmu dengan baik, syukuri itu," ucap Cecillia masih tetap sinis. "Apakah sebelumnya aku memiliki salah padamu sampai akhirnya tega melakukan ini kepadaku, katakan!” pekik Lyra. "Kamu tidak bersalah karena di sini memang kami yang bermasalah, sebenarnya aku dan Cecillia beberapa waktu lalu berencana akan menikah namun semua itu gagal karena Cecillia mengalami kecelakaan ketika menolong mamahku, dia mengalami benturan cukup keras di perutnya hingga menyebabkan rahimnya rusak, dokter menyarankan rahimnya harus di angkat, jadi inilah alasanku menikah denganmu karena Cecillia tidak bisa memiliki keturunan tapi di satu sisi aku harus tetap memiliki penerus untuk melanjutkan usaha keluargaku, jadi mau gak mau aku harus menyetujui usul untuk mencari perempuan lain agar aku tetap bisa memiliki keturunan," ucap Rio menatap Lyra tajam seolah tidak memiliki rasa bersalah. Tatapan yang diberikan suaminya semakin membuat Lyra murka, "Apa?? Kalian sudah tidak waras! Jadi, setelah aku melahirkan nantinya kalian semua akan menghempaskanku, begitu?” "Ya benar sekali, ternyata kamu cerdas juga," jawab Cecillia membenarkan. Tentu saja Lyra menolak dengan keras karena anak bukanlah barang yang bisa dipermainkan begitu saja. "Sampai kapan pun aku tidak akan menyerahkan anakku kepada kalian, jangan harap aku akan menyerah begitu saja! Aku akan memperjuangkan anakku meski sampai babak belur sekalipun, kalian tidak ada hak untuk melarangnya karena secara hukum aku adalah ibu sahnya!” "Sudahlah terima saja semua ini, setidaknya aku tidak pernah bersikap buruk terhadapmu ‘kan?" ucap Rio enteng sekali. "Semua kata cinta dan sayang dari mulutmu hanyalah semu! Aku kecewa dan menyesal sudah mau menikah denganmu!" pekik Lyra sungguh emosi apalagi kini Rio menunjukkan sifat aslinya. "Ceraikan dia, Mas!" perintah Cecillia sudah sangat geram. "Dia sedang hamil, tidak bisa untuk diceraikan sampai nanti anak itu lahir," protes Rio kesal karena terus menerus diperintah. "Benar apa kata pacarmu itu, segera ceraikan dan biarkan aku mengurus anakku seorang diri, aku sanggup," tantang Lyra sama sekali tidak gentar. "Jangan banyak mau gitu, mana mungkin wanita hamil digugat cerai suaminya. Syukuri yang ada, selama ini aku selalu baik dan perhatian bahkan memberikan yang terbaik, jadi terima saja nasibmu sebagai rahim pengganti. Aku sebenarnya juga sudah muak terus bersandiwara, capek! Aku tau jika yang ada di perutmu itu penerus perusahaan esok hari, makanya itu aku mohon jaga kandungan ini dengan sangat baik, sekali saja kamu lalai jangan harap aku memaafkan mu," gertak Rio menatap tajam. "Aku masih syok dengan pengakuan dari mulut manismu sekarang kamu sudah menggertakku? Kamu sepertinya benar sudah tidak waras! Berarti acara lamaran dulu kamu memperkenalkannya sebagai sepupumu itu hanya palsu? dia ternyata kekasihmu? sandiwara yang hebat. Rupanya ini jawaban kecurigaanku selama ini," sindir Lyra tersenyum getir. "Iya, makanya ketika mamah ke rumahmu aku langsung ke sana karena aku gak mau mamah makin dekat denganmu. Ingat ya, setelah anakmu lahir serahkan langsung kepada kami setelah itu kamu akan di gugat cerai, tunggu saja," jawab Cecillia dengan senyum penuh kemenangan. "Dan aku tidak akan menyerahkan anakku apa pun itu kondisinya, ingat itu! Sebentar lagi dia lahir maka uruslah perceraian kita," gertak Lyra. Sebelum memutuskan untuk pergi, terlebih dahulu Rio memperingatkan kepada istrinya. "Tinggal menikmati apa yang ada dan tetap lanjutkan sandiwara ini sampai selesai, harusnya kamu bersyukur karena selama ini aku memperlakukanmu dengan baik apalagi aku tidak pernah mengecewakanmu! Setelah anak ini lahir maka segera serahkan padaku atau nanti kamu akan tau akibatnya! Ingat, kamu aku nikahi hanya untuk dijadikan rahim pengganti saja.” "Makanya jadi cewek jangan belagu, tinggal nikmati aja apa yang diberi Mas Rio. Besok juga masih bisa hamil lagi, jadi gak terlalu masalah jika anakmu diberikan ke kami apalagi memberikan pada ayahnya sendiri. Jangan halangi langkah kami atau nanti kau tau sendiri akibatnya!!" ancam Cecillia lalu bergegas pergi juga. Lyra sama sekali tidak akan mau mengalah. "Aku tidak pernah takut akan ancamanmu, mau kamu membunuhku jika Tuhan berkehendak aku tetap hidup maka aku akan hidup, begitu juga dengan calon anakku kelak, aku akan terus memperjuangkannya meski kalian menghalangi dengan berbagai cara! Jangan anggap remeh lawanmu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN