A New Beginning

1341 Kata
"Clarissa, hei... wake up!" Sayup-sayup Clarissa mendengar suara Raditya dan merasakan belaian lembut dipipinya. Matanya masih mengantuk, padahal hari sudah menjelang subuh, ia hanya bergumam sebentar lalu tertidur lagi. Raditya meneliti setiap inci wajah wanita yang telah berhasil mencuri perhatiannya. Cantiknya natural, ia tahu itu. Pilihannya kali ini memang tidak salah, Clarissa sudah membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama. Sebenarnya Raditya ingin menikmati momen seperti ini lebih lama lagi tapi waktu subuh sebentar lagi habis. "Clarissa, ayo bangun... sudah subuh!" Raditya berbisik pelan. Clarissa membuka mata ketika Raditya kembali mengusap pipinya. Pandangan mereka bertemu. Clarissa terdiam sesaat, matanya menatap suaminya tanpa berkedip. Mungkin terpesona melihat kondisi Raditya yang acak-acakan, wajahnya khas orang bangun tidur. "Mau sampai kapan kamu meluk aku seperti ini?" Raditya bertanya sambil tersenyum jahil. Clarissa langsung menjaga jarak. Pipinya bersemu kemerahan. Raditya terkekeh melihatnya. "Morning, sayang!" Raditya mengecup singkat bibir Clarissa yang sejak tadi menggoda dan minta dicium. Clarissa mengerjapkan mata, ciuman singkat tapi sepertinya berefek besar padanya. Pipi Clarissa semakin bersemu dan membuat Raditya kembali terkekeh melihat reaksi istrinya yang menggemaskan. "Jangan terlalu tegang begitu sayang, ini baru morning kiss sebagai menu pembuka, belum masuk ke menu utama." Raditya berbisik mesra, sengaja menggoda istrinya lalu beranjak ke kamar mandi. "Arrghh... Pak Raditya m***m!!" Dari dalam kamar mandi, Raditya bisa mendengar teriak Clarissa yang keras. _________________ Hari ini, untuk pertama kalinya Raditya menjadi imam sholat subuh berjama'ah dengan seorang perempuan yang telah resmi berstatus sebagai istrinya. Momen yang sudah sejak lama ia nantikan. "Mau sarapan di bawah atau di kamar?" tanya Raditya sambil merapikan sajadahnya. "Kita sarapan di kamar saja Pak... Eh... Mas." sahut Clarissa agak sedikit canggung dan gugup. Sebelum sholat, Raditya sudah meminta Clarissa untuk tidak memanggilnya dengan sebutan 'Pak', panggilan itu terkesab terlalu tua untuknya dan kurang romantis. Lagi pula dia suaminya bukan bapaknya. "Ya sudah... cepat kamu mandi, biar aku saja yang pesan sarapannya." ucap Raditya. Clarissa hanya mengangguk lalu beranjak mengambil handuk dilemari. "Clarissa--" Tiba-tiba Raditya menahan tangan istrinya ketika hendak membuka pintu kamar mandi. "Ada apa?" Clarissa bertanya. Raditya mencondongkan badannya namun Clarissa malah mundur dan menghindar, mungkin dia berpikir kalau Raditya akan menciumnya lagi. Meskipun memang benar dalam hati Raditya ingin mencium istrinya sekali lagi. "Jangan lupa basahi rambut kamu, agar tidak ada yang curiga dan bertanya-tanya pada kita." ucap Raditya berbisik ditelinga istrinya. Pipi Clarissa lagi-lagi kembali bersemu merah, Raditya yakin istrinya pasti paham dengan apa yang ia maksud. °°° Raditya sudah selesai menata menu sarapan di balkon. Sambil menunggu Clarissa selesai mandi, ia membaca koran pagi ditemani secangkir kopi dan udara yang cukup segar. Ketika mendengar suara derap langkah mendekat, Raditya langsung memutar kepalanya. Satu senyuman langsung tercipta disudut bibirnya Raditya saat melihat Clarissa sudah rapi dan dari rambutnya yang masih basah menguar aroma strawberry yang begitu kuat. "Ayo duduk! Tidak perlu takut, aku tidak akan memakanmu untuk menu sarapan pagi ini." Tutur Raditya sambil terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana. Ia tahu kalau istrinya ini masih sedikit takut dan gugup jika tengah berdekatan dengannya. Mereka berdua menikmati sarapan dalam diam. Hanya terdengar suara denting sendok yang beradu. "Setelah selesai sarapan, bereskan semua barang-barang. Hari ini juga kita checkout lalu ke rumah orangtua kamu untuk mengambil beberapa barang yang kamu perlukan untuk kuliah. Kita akan tinggal di apartemen untuk sementara waktu sampai aku dapat rumah yang cocok." ucap Raditya memecah keheningan lalu kembali menyesap kopinya yang tersisa sedikit lagi. Clarissa hanya menganggukan kepala tanpa banyak protes. _____ Tepat jam 2 siang Raditya dan Clarissa sampai di apartemen, barang yang dibawa Clarissa tidak banyak hanya perlengkapan kuliah, alat make up dan beberapa stel baju. Lagi pula Raditya sudah menyiapkan banyak baju untuknya di apartemen. "Bagaimana? Kamu suka?" tanya Raditya menoleh pada Clarissa yang sedang menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru apartemen. "Suka. Apartemennya bersih dan rapi." sahut Clarissa. "Apartemen ini memiliki dua kamar tapi kamar yang satunya sudah aku jadikan perpustakaan dan ruang kerja. Kamu ga keberatan kan kalau kita tidur satu kamar?" kata Raditya sambil mengajak Clarissa melihat-lihat isi apartemennya. Clarissa hanya mengangguk, menolak pun pasti ia tidak akan menang dari Raditya. Lagipula Raditya tidak akan membiarkan istrinya itu tidur terpisah. Ranjangnya masih cukup luas untuk ditempati berdua. Ini adalah langkah awal agar Raditya dan Clarissa mulai terbiasa bersama. Bukankah cinta itu bisa datang karena terbiasa? Meski sebelumnya Raditya tinggal sendirian, perlengkapan di apartemennya cukup lengkap dan ia berharap Clarissa betah tinggal disini sampai ia menemukan rumah yang cocok untuk mereka tempati nanti bersama anak-anak. "Ayo! Aku mau tunjukan kamar kita." kata Raditya merangkul pinggul Clarissa namun malah ditepis oleh istrinya. "Risih!" seru Clarissa "Okay" Raditya tertawa pelan melihat tingkah Clarissa yang menggemaskan dan jujur Raditya sangat menyukainya. Bulan lalu Raditya sudah menata ulang beberapa bagian ruang apartemennya dan juga mengganti catnya ke warna yang lebih soft. Raditya membuka pintu kamar dan mempersilahkan Clarissa masuk lebih dulu. Sambil bersandar ditepian pintu, Raditya memperhatikan Clarissa yang berjalan mendekati jendela besar yang terhubung ke balkon lalu menyibak gordennya. Kaki Raditya melangkah, mendekati Clarissa yang berdiri ditepi balkon. Ia menunduk, menempelkan keningnya dikepala Clarissa lalu menyelipkan tangan kepinggul Clarissa. Mendekapnya erat. "Aku harap kamu betah tinggal disini bersamaku." Awalnya Clarissa menolak, ia berusaha melepaskan dekapan Raditya namun Raditya sengaja mempereratnya. Ia tidak akan membiarkannya terlepas. Tidak akan. "Biarkan seperti ini, sebentar saja." pinta Raditya berbisik ditelinga istrinya. °°° Setelah selesai membereskan barang-barangnya, Clarissa tertidur di kamar dan Raditya memilih untuk menghabiskan waktu sore di ruang tamu. Menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda. Lusa ia sudah mulai kerja lagi seperti biasa untuk menafkahi keluarga kecilnya yang baru saja ia bangun. Tanggung jawab atas Clarissa kini berpindah kepundaknya. "Mas..." Raditya menoleh kearah suara. Bibirnya tersenyum ketika melihat Clarissa mendekat, tangannya membawa baki berisi dua gelas orange juice. "Hei.. sudah bangun?" Clarissa hanya mengangguk. Raditya segera merapikan kertas yang berserakan disofa dan mengisyaratkan Clarissa duduk disampingnya. "Terima kasih." ucap Raditya saat Clarissa memberikan segelas orange juice padanya. Meskipun jutek dan galak, Raditya tahu kalau Clarissa sangat perhatian. Perlahan tapi pasti, ia akan membuat Clarissa jatuh cinta padanya. "Mau makan apa? Aku mau delivery untuk makan malam." tanya Raditya pada Clarissa yang duduk disampingnya. Clarissa menggelengkan kepalanya. "Ga usah delivery, saya lihat di lemari es ada bahan yang bisa dimasak." Raditya menatap Clarissa dengan satu alis terangkat lalu bertanya, "Kamu bisa masak?" Clarissa mengangkat bahunya. "Kita lihat aja nanti." Raditya menarik napas pelan lalu menahan tangan Clarissa yang hendak beranjak dari sofa. "Sayang .." Clarissa kembali duduk. Raditya menggeser posisi duduknya menghadap Clarissa lalu menggenggam kedua tangan istrinya. "Aku ga akan nuntut kamu mengerjakan semua pekerjaan rumah." Clarissa menatap Raditya datar, "Saya hanya tidak ingin menjadi istri yang durhaka." ujarnya. Masih sedikit kaku. Raditya menggelengkan kepala. "Jangan bicara terlalu formal. Kamu sedang berbicara dengan suami kamu bukan dosen di kelas." "Saya akan coba membiasakan diri. Beri saya waktu." ucap Clarissa lalu menunduk. Tangan kanan Raditya terulur menyentuh pipinya Clarissa. "Kita masih punya banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Kita akan sama-sama belajar." Clarissa mengangguk, ia kembali merasakan jemari tangan Raditya kembali mengusap lembut pipinya. "Aku tidak bisa memberikan janji-janji manis dan aku juga tidak bisa menjamin pernikahan kita akan berjalan mulus tanpa masalah namun apapun yang terjadi nanti, meski badai menghantam sekalipun tetaplah bertahan disisiku, kita hadapi bersama karena kamu adalah sumber kekuatan yang aku miliki, pegang erat tanganku hingga terbit pelangi." Clarissa terdiam. "Aku akan berusaha untuk selalu membahagiakan kamu." Raditya menangkup wajah Clarissa, menatap tepat ke manik matanya yang bening. Clarissa adalah anugrah yang diberikan oleh Tuhan untuknya. Tidak ada penolakan saat Raditya mengecup bibir tipisnya yang merona, justru kali ini Clarissa mulai membalas ciumannya. Matanya terpejam ketika bibir Raditya beralih menyusuri garis rahang dan leher jenjangnya, meninggalkan beberapa bercak kemerahan sebagai tanda Clarissa adalah miliknya. Hanya milik Raditya seorang. "Hentikan, Mas!" Tiba-tiba Clarissa berteriak. Ia mendorong tubuh Raditya dan menahan tangan besarnya yang mulai nakal membuka kancing teratas blusnya. "Kenapa?" Raditya menatap Clarissa dengan dahi berkerut. Clarissa berusaha mengatur nafasnya yang tak beraturan lalu mengancingkan kembali pakaiannya. "Aku... kebelet pipis."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN