Raditya sengaja membawa Clarissa ke apartemennya setelah mereka resmi menjadi suami istri. Dia tidak ingin tinggal di rumah orang tuanya ataupun di rumah orang tua Clarissa. Kata Raditya mereka harus hidup mandiri dan Clarissa menghormati sepenuhnya keputusan itu. Meskipun menikah dengan Raditya tanpa cinta, Clarissa akan tetap menjalaninya dan tidak ada niat untuk berpisah. Kesan pertama yang dirasakan Clarissa saat pertama kali menginjakan kakinya di apartemen Raditya; rapih, mewah, bersih dan wangi. Clarissa berpikir, selera laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya ini sungguh bagus dan berkelas.
Kamar tidur dengan ranjang king size, ada sofa dan jendela besar dengan balkon yang menyuguhkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit. Walk in closet dengan lemari besar yang penuh pakaian kerja Raditya tergantung rapi, bahkan ia sempat melihat salah satu jas yang masih baru dihangtagnya tertera harga yang cukup fantastis. Raditya juga menyediakan banyak pakaian untuknya. Ada blouse, dress, kemeja, lengkap sampai ke underwear-nya. Belum lagi ada sepatu dan sandal yang berjejer rapi.
Pagi hari, Clarissa bangun lebih awal, sementara Raditya masih bergelung dengan selimut tebalnya. Waktu subuh masih setengah jam lagi. Clarissa beranjak ke kamar mandi dan memandangi pantulan dirinya di cermin. Ada beberapa tanda merah menghiasi lehernya karena ulah Raditya kemarin. Jemari tangan Clarissa terulur menyentuh bibirnya yang kemarin sempat beradu dengan bibir Raditya, ia tidak pernah membayangkan hal ini terjadi bahkan dalam mimpi terliar sekalipun. Dalam hati kecilnya mengakui kalau kemarin ia pun begitu menikmati ciuman panasnya bersama Raditya.
Clarissa mendesah pelan, lalu membasuh wajahnya dengan air.
"Sialan, Pak Raditya memang berbahaya." rutuknya dalam hati.
Usai membasuh wajah dan menggosok gigi, ia kembali ke kamar. Berniat membangunkan Raditya yang masih tertidur pulas karena sebentar lagi masuk waktu subuh.
Clarissa berjalan mendekati ranjang, suaminya masih tidur pulas sambil memeluk guling.
"Mas..." Clarissa menepuk pelan bahu Raditya, namun tidak ada respon.
"Mas Radit ... bangun!" Clarissa mencoba mengguncang bahu Raditya namun masih belum ada respon. Ia menarik napas pelan, menatap wajah damai Raditya ketika sedang tidur. Matanya masih terpejam dan hembusan napasnya teratur. Dipandanginya wajah Raditya, menelusuri garis rahang yang tegas dan berwibawa, bibir yang memikat, hidung yang mancung dan alis tebalnya yang rapi.
"Mas... bangun! Sudah mau subuh." Clarissa kembali mengguncang bahu Raditya, kali ini lebih kencang.
Raditya melenguh lalu membuka matanya.
"Selamat pagi!" sapanya sambil tersenyum. Dan Clarissa baru menyadari kalau Raditya bermata sipit dan ada lesung pipi saat dia tersenyum.
Manis sekali.
_______
Clarissa menyiapkan sarapan untuk Raditya, ia sedang berusaha menjadi istri yang baik. Roti bakar dan s**u hangat. Hanya bahan ini yang tersisa dilemari es.
"Pagi sayang!"
Clarissa langsung menoleh kearah suara. Raditya berjalan mendekat lalu mencium sekilas pipi Clarissa kemudian duduk dan membuka koran pagi. Raditya berpakaian santai hari ini, celana pendek selutut dan kaos casual polos.
Clarissa menaruh s**u hangat didekat Raditya, pria itu tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.
"Kalau pagi, sebaiknya kamu buatkan kopi saja. Aku butuh caffeine untuk memulai hariku. Malam harinya, susumu boleh."
Clarissa melotot kesal mendengar penuturan Raditya.
Raditya terkekeh. "Maksud aku s**u buatan kamu, sayang. Tapi kalau kamu mau ngasih yang itu, aku ga akan nolak."
"Mas!"
Raditya malah tertawa melihat kekesalan diwajah istrinya.
"Besok aku sudah mulai masuk kantor. Kamu kapan mulai masuk kuliah lagi?" Raditya bertanya sambil menggigit roti bakar buatan Clarissa.
"Lusa, Mas." Clarissa menjawab singkat.
"Kamu tidak ada rencana hari ini?"
Clarissa menggelengkan kepala. Selain Karen, ia tidak punya banyak teman yang bisa diajak jalan. "Paling ke supermarket aja nanti siang, aku lihat kulkasnya kosong."
"Aku temani." Raditya tersenyum pada Clarissa. Ia merogoh saku celana dan mengeluarkan dompet. Dua buah kartu kredit dan debit ia sodorkan pada Clarissa.
"Apa ini?" tanya wanita itu sambil menaikan sebelah alisnya.
"ATM dan kartu kredit." Raditya menjawab dengan santai.
Clarisaa memutar bola matanya, kesal dan gemas. "Anak kecil juga tahu itu kartu kredit. Maksudku untuk apa kartu kredit ini?"
"Tentu saja untuk kamu sayang." Raditya meraih tangan Clarissa lalu menciumnya. "Pergunakan sebaik mungkin ya untuk keperluan kamu dan keperluan rumah tangga kita. Pinnya tanggal pernikahan kita."
Wajah Clarissa memanas setiap kali mendapat perlakuan manis dari Raditya dan sepertinya ia mulai menyukai hal itu.
"Mas ga takut uangnya aku habiskan untuk shopping?" Clarissa menatap Raditya dengan satu alis terangkat.
Raditya tersenyum dan kembali mencium jemari tangan Clarissa. "Tidak masalah asal kamu senang. Milikku adalah milikmu juga." tuturnya.
Clarissa menarik diri karena harus membereskan meja makan. Sementara Raditya memilih pindah ke sofa dan menyalakan televisi. Kartu kredit pemberian Raditya sudah ia simpan dengan baik.
----
Usai membersihkan meja makan dan dapur, Clarissa ikut bergabung di sofa bersama Raditya yang entah sejak kapan sudah disibukan dengan kertas-kertas dan laptop yang menampilkan grafik, entah grafik apa. Clarissa duduk disamping Raditya sambil memegang stoples berisi camilan keripik kentang. Hari masih pagi dan ia bingung mau mengerjakan apa. Cucian kotor sudah ia masukan ke mesin cuci, tinggal menunggu mesinnya selesai bekerja.
"Aku juga mau." tiba-tiba Raditya menahan tangan Clarissa yang sedang memegang kripik kentang lalu menyuapkan keripik kentang itu kedalam mulutnya.
"Nih! Ambil sendiri kan bisa." gerutu Clarissa kesal sambil menyodorkan stoplesnya.
Raditya menggeleng. "Aku maunya disuapi."
"Dasar manja!" Clarissa mencebik.
Raditya membereskan kertas-kertasnya lalu mematikan laptop. Ia menggeser posisinya jadi menghadap padaku.
"Jangan mencebikan bibir kamu seperti itu sayang, kamu tidak tahu bagaimana rasanya menahan hasrat ingin menggigit bibirmu itu." Raditya menatap Clarissa dengan serius. Ia merebut stoples dari tangan istrinya lalu menaruhnya diatas meja.
"Sejak kapan Pak Rektor berubah jadi m***m begini?" Clarissa beringsut mundur ke sudut sofa namun sepertinya salah langkah, Raditya malah ikut bergeser dan mengurung pergerakannya disudut sofa dengan kedua lengan kekar Raditya.
"Aku hanya berbuat m***m pada istriku."
"Mas mau apa?" Clarissa menahan d**a Raditya saat suaminya itu semakin menghimpitnya di sofa namun sepertinya sia-sia. Dengan mudahnya Raditya menahan kedua tangan Clarissa dan menguncinya diatas kepala.
"I want to kiss you, baby."
°°°
Pukul satu siang, Clarissa dan Raditya sampai di apartemen setelah membeli banyak belanjaan untuk keperluan dapur dan lainnya. Dengan dibantu Raditya, semua belanjaan sudah dirapikan. Sayuran, daging dan buah-buahan sudah masuk kedalam lemari es sementara yang lainnya disimpan didalam lemari dapur.
Clarissa pamit pada Raditya ke kamar ingin berganti pakaian lalu istirahat. Badannya terasa capek, kaki pegal semua dan mata pun rasanya mulai mengantuk sekali. Setelah mengganti pakaiannya dengan tanktop dan shortpants, Clarissa menjatuhkan diri diatas kasur. Hawa sejuk dari AC membuat matanya semakin mengantuk. Sebelum benar-benar terlelap, ia merasa ada yang memeluk tubuhnya dari belakang lalu mengecup bahu dan puncak kepala. Pasti Raditya, pikirnya. Clarissa mengabaikannya. Saat ini matanya sangat mengantuk dan benar-benar tidak memiliki daya untuk berdebat dengan Raditya.
_______
Selang beberapa saat, mata Clarissa mengerjap, tidurnya terusik karena Raditya tidur sambil memeluknya. Tangan Raditya melingkari pinggang sambil menyerukan wajahnya dilekukan leher jenjang istrinya. Clarissa melirik jam dinding, waktu sudah menunjukan jam 16:00 sore.
Clarissa sudah membuka mata sepenuhnya. Badannya mulai terasa kaku karena Raditya memeluknya dengan begitu erat. Hembusan nafas Raditya yang teratur begitu terasa hangat ditengkuk Clarissa. Ia ingin membangunkan Raditya namun merasa tidak enak karena tidurnya pulas sekali. Dengan perlahan, Clarissa mencoba memindahkan tangan Raditya yang terasa melilit pinggang.
"Biarkan seperti ini, sebentar saja!" Gumam Raditya sambil menyerukan wajahnya semakin dalam dilekukan leher Clarissa.
Aku menarik napas sebentar.
"Mas, bangun!" Clarissa mengguncang pelan bahu Raditya. Namun tak ada respon sedikitpun dari lelaki itu. Clarissa kembali mencoba melepaskan tangan Raditya sekali lagi namun ia merasa kali ini tangan Raditya malah sengaja memeluknya semakin erat.
"Mas, aku tahu kamu sudah bangun," ucap Clarissa, lagi. Ia sudah hampir menyerah. "Badanku kram mas, gak bisa gerak." Lanjutnya sambil terus mencoba melepaskan diri.
Raditya tersenyum lalu dengan sengaja mengusel-ngusel hidung mancungnya. Clarissa berusaha mati-matian menahan gejolak yang muncul dalam dirinya ketika Raditya memberikan kecupan-kecupan dibahu dan leher. Terlebih lagi saat tangan nakal Raditya mengusap puncak dadanya dari luar, membuat Clarissa merasa tersiksa karenanya. Ia tahu Raditya sengaja melakukan hal itu.
Clarissa terkesiap, tiba-tiba dalam sekali hentakan Raditya membalik tubuhnya, saling berhadapan. Clarissa menggerutu kesal, tapi Raditya malah tertawa melihat wajah kesal wanitanya.
"Kamu... Cantik." Raditya berbisik.
Clarissa menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merona di d**a bidang Raditya. Setiap kali mendapat rayuan gombal dari suaminya ini, ia merasa seperti abg labil yang sedang kasmaran.
Raditya mengusap pipi Clarissa dengan lembut lalu kemudian beralih meraih dagu agar mendongak. Clarissa menatap mata Raditya yang sudah diliputi kabut gairah.
"Aku menyukai rona alami pipimu, sayang!" Raditya kembali berbisik lalu perlahan wajahnya mendekati wajah Clarissa. Bibir mereka kembali menyatu, terasa manis. Raditya mencium secara perlahan.
Tangan Raditya mulai menyusuri punggung lalu turun kebawah dan berhenti dipinggul lalu menariknya pelan agar lebih merapat. Bahkan Clarissa bisa merasakan pusat tubuh suaminya yang sudah menegang. Tanpa melepas tautan bibirnya, Raditya merangkak naik keatas tubuh istrinya. Sore yang sejuk tiba-tiba berubah jadi terasa panas.
Bibir Raditya perlahan turun keleher dan kembali meninggalkan beberapa jejak kepemilikan disana. Awalnya Raditya mencium Clarissa secara perlahan namun lama-lama menjadi semakin dalam dan menuntut. Samar, Clarissa mendengar Raditya mengumpat pelan.
"Aku akan merasa seperti pria b******n kalau sampai melakukannya secara paksa." Gumam Raditya lalu berguling ke samping.
Ada sebersit perasaan bersalah yang timbul. Clarissa tahu suaminya sudah berusaha menahan gejolak hasrat. Raditya sudah terlanjur berjanji akan menunggu sampai istrinya siap. Entah sampai kapan, Clarissa belum tahu kapan ia akan siap. Raditya masih terasa asing baginya.
"Aku mau mandi dulu!"
Raditya bangun dan menghilang dibalik pintu kamar mandi, meninggalkan Clarissa sendirian bersama rasa bersalah karena belum juga memenuhi hak suaminya.