Dari sudut matanya, Raditya memperhatikan Clarissa yang terus menerus menggerutu kesal setiap kali menatap pantulan dirinya didepan cermin meja rias. Raditya terkekeh saat mata Clarissa mendelik tak suka. Wanita mungil itu protes karena Raditya kembali membuat tanda merah diarea sekitar bahu dan leher.
"Sudah, jangan dipikirkan. Nanti juga hilang sendiri. Mereka pasti maklum kok, namanya juga pengantin baru." ujar Raditya kembali terkekeh pelan.
"Malu mas, nanti pasti banyak orang yang lihat." sahut Clarissa sambil memanyunkan bibirnya. Terlihat menggemaskan sekali dimata Raditya. Beginikah rasanya menikah dengan wanita yang usianya jauh lebih muda, Raditya merasa hidupnya sekarang lebih menyenangkan.
"Biar saja orang-orang lihat, agar mereka tahu kalau kamu sekarang sudah menjadi milik Raditya. Lagi pula katanya kamu masih ada libur satu hari lagi, mungkin besok tanda merahnya sudah hilang." tutur Radutya dengan santai.
"Ini semua gara-gara mas Radit. Kalau mau buat tanda merah jangan di area yang terlihat oleh banyak orang." Sungut Clarissa dengan nada kesal. Ia kembali menatap pantulan dirinya dicermin.
Raditya menatap Clarissa sambil menaikan sebelah alisnya. "Jadi aku boleh membuat tanda merah lagi asal ditempat yang tersembunyi, begitu?" dengan sengaja Raditya menggoda istrinya. Clarissa kembali merona malu lalu memalingkan wajahnya.
"Bukan begitu maksudku Mas!"
Raditya tak kuasa menahan tawa saat melihat wajah istrinya bersemu malu-malu. Pipinya merona. Biasanya dia selalu bersikap ketus pada Raditya namun kali ini ia seperti anak kucing yang jinak. Setidaknya perlahan hubungan keduanya mulai ada kemajuan. Istrinya itu juga sudah mulai banyak bicara, justru cenderung lebih cerewet menurut Raditya. Tak apa, Raditya tetap menyukainya.
Raditya berjalan mendekati Clarissa lalu mendekapnya dari belakang. "Aku hanya bercanda sayang." diciuminya puncak kepala Clarissa dan tidak ada penolakan darinya.
Hening sejenak. Raditya selalu ingin menikmati momen seperti ini. Terasa sangat menenangkan baginya, ia seperti menemukan tempat ternyaman yang selama ini ia cari-cari. Sampai akhirnya terdengar bunyi perut Clarissa yang kelaparan.
"Kamu lapar?" tanya Raditya, menatap Clarissa melalui cermin.
Clarissa mendengkus. "Sudah tahu, masih aja nanya," jawabnya kesal.
Raditya kembali tertawa melihat tingkah istrinya yang galak. "Mumpung besok masih libur, bagaimana kalau malam ini kita makan diluar saja? Kamu juga belum masak kan?" Raditya mencoba menawari.
"Mau makan dimana?" tanya Clarissa menoleh. Raditya terlihat seperti sedang berpikir sejenak.
"Kamu suka seafood?" tanya Raditya dan dibalas anggukan oleh Clarissa.
"Aku tahu tempat makan seafood yang enak. Ayo kita berangkat!"
°°°
Raditya menggandeng tangan Clarissa setelah turun dari mobil lalu masuk kesalah satu restoran seafood yang cukup terkenal disini. Tempatnya lumayan ramai jadi ia tidak ingin ambil resiko kalau istrinya ini hilang ditengah keramaian pengunjung. Itu hanya alasan Raditya saja, sebenarnya ia tidak suka jika ada laki-laki lain yang menatap istrinya.
Raditya baru melepas genggaman tangannya setelah mendapat tempat untuk duduk.
"Clarissa?"
Raditya dan Clarissa menoleh karena mendengar ada yang memanggil. Seorang pria muda berdiri sambil tersenyum. Raditya melirik Clarissa, ada keterkejutan dimatanya.
"Barra?"
Laki-laki yang bernama Barra itu berjalan mendekati Clarissa.
"Iya, ini aku Barra. Senang bisa bertemu lagi denganmu Ris. Sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" Barra mengulurkan tangan dan Clarissa menyambutnya.
"Aku baik. Kamu kok bisa ada disini?"
"Iya, aku pindah lagi kesini tapi orangtuaku tetap stay di Surabaya."
Diam-diam Raditya menyaksikan interaksi antara istrinya dengan laki-laki yang bernama Barra. Dia masih terlihat muda dan sepertinya seumuran dengan Clarissa. Jika melihat wajah Barra, Raditya yakin kalau lelaki ini ada keturunan timur tengah. Clarissa bahkan sepertinya lupa akan keberadaan Raditya disini sebagai suaminya.
"Boleh aku minta nomor ponselmu?" Barra bertanya diakhir percakapannya.
What?
Darah Raditya seketika mendidih saat Clarissa mengetikan nomor ponselnya di handphone laki-laki itu. Raditya tidak terima.
"Terima kasih. Aku pamit dulu, nanti akan aku hubungi. Bye..." Barra melambaikan tangannya pada Clarissa lalu pergi.
Setelah Barra si pengganggu itu pergi, Raditya menatap Clarissa tajam sambil bersedekap. Ada ketakutan diraut wajah istrinya.
Clarissa terlihat gugup, ia menggigit-gigit bibirnya. "Mas maaf-- aku.."
"Jelaskan nanti saja di rumah."
°°°
"Mas..."
Raditya mengabaikan panggilan Clarissa dan memilih terus berjalan menuju kamar. Mereka berdua baru saja tiba di apartemen. Selama dalam perjalanan pulang, Raditya memang sengaja mendiamkan Clarissa. Bahkan wanita itu tidak mengenalkan Raditya adalah suaminya kepada Barra.
"Mas Radit... marah?" panggilan Clarissa kembali terdengar namun Raditya tetap melangkah lalu membuka pintu lemari pakaian, mengambil kaos dan celana pendek.
"Mas tunggu dulu..." tanya Clarissa seraya menahan tangan Raditya.
Raditya menoleh, memberikan sedikit senyum pada istrinya. "Aku mau ganti baju dulu. Kamu mau ikut?"
Wajah Clarissa bersemu. Ia langsung menggelengkan kepalanya. "Aku tunggu diluar aja."
Raditya menggelengkan kepala melihat tingkah istriku yang masih saja malu-malu menggemaskan. Sejak tadi Raditya memang cemburu pada Clarissa karena memberikan nomer handphonenya pada laki-laki lain didepan matanya tapi Raditya tidak bisa marah pada Clarissa.
Usai mengganti baju, Raditya keluar dari kamar. Matanya menyusuri ruangan mencari keberadaan Clarissa. Bibirnya langsung melengkungkan senyum ketika mendapati Clarissa tengah duduk menghadap kearah televisi sambil memakan es cream.
Raditya duduk disamping Clarissa lalu mengambil remote tv yang tergeletak diatas meja.
"Mas... kok channelnya diganti sih?" Clarissa langsung protes ketika Raditya mengganti channel ke acara berita. Bibirnya merengut kesal.
"Kamu belum menjelaskan siapa laki-laki yang tadi?" ucap Raditya tanpa menoleh pada Clarissa. Matanya tetap fokus menatap layar datar yang tengah menampilkan acara berita.
"Dia bukan siapa-siapa kok, cuma teman lama. Sungguh, aku berani sumpah."
Raditya menoleh, matana beralih menatap Clarissa yang menyuap sesendok es cream kedalam mulutnya. "Tapi aku lihat dia kayaknya suka sama kamu."
"Barra itu mantan pacar aku." Clarissa menjawab sambil terus memasukan sendok es cream kedalam mulutnya.
"Mantan pacar?" mata Raditya memicing penuh selidik.
"Iya. Dulu waktu kelas dua SMA," Clarissa menjeda kalimatnya dan kembali menyuapkan sesendok es cream kedalam mulutnya. "Cuma pacaran sekitar 3 bulan karena Barra pindah sekolah ke Surabaya, ikut orangtuanya yang pindah dinas. Aku ga tahu kalau Barra ternyata sudah kembali lagi ke Jakarta."
Cerita itu meluncur begitu saja dari bibir Clarissa dan Raditya yakin istrinya itu tidak berbohong.
"Dengar, aku hanya akan mengatakan ini sekali saja. Jangan pernah menerima telpon dari laki-laki lain tanpa sepengetahuanku. Ingat itu!" Raditya menatap tepat ke manik mata Clarissa.
"Berjanjilah satu hal, jangan khianati janji suci pernikahan kita. Apapun yang terjadi, jangan pernah berpikir untuk berpisah dariku." ucap Raditya lagi. Clarissa balas menatap lalu mengangguk. Raditya percaya pada Clarissa, dia tidak akan berbuat yang macam-macam.
Raditya memperhatikan istrinya yang tengah memakan es krim. Sejak tadi fokusnya hanya satu, bibirnya. Ya Tuhan, aku tidak yakin bisa tahan hanya dengan memandangnya saja, batin Raditya.
"Mas mau?" Clarissa melirik Raditya, menawarkan sesendok es cream. Raditya berpikir istrinya yang mungil ini akan menyuapinya namun ternyata tidak, dia malah kembali menyuapkan es cream itu ke mulutnya sendiri. Ya ampun dia ngeselin aja aku tetep sayang, ucap Raditya dalam hatinya.
Clarissa kembali menyendok es cream dan bersiap melahapnya namun Raditya langsung menahannya kemudian menyuapkan sendok itu kedalam mulutnya.
"Manis ya es krimnya, kayak kamu."
"Mas! Dilemari es kan masih ada, jangan minta punyaku." Clarissa cemberut kesal namun tetap menyuap es cream lagi.
Gemas sekali Raditya melihat tingkah istrinya ini. Apalagi saat melihat ada es cream yang menempel disudut bibirnya. Raditya mencondongkan tubuh lalu menjilat es cream yang menempel disudut bibir Clarissa.
"Sangat manis." ucap Raditya lalu mengambil alih sendok dan box es cream yang dipegang oleh Clarissa.
Clarissa melotot kesal. Sebelum dia mengeluarkan serentetan kalimat protes, Raditya kembali membungkamnya. Ia tidak akan pernah bosan mengecap rasa manis bibir Calrussa yang ranum dan manis seperti ice cream.