2. Surat dan Bunga

1972 Kata
Jam istirahat telah habis, Raina dan Via akhirnya kembali ke kelas, setelah tadi Raka mengantarnya sampai ke depan kelasnya. Padahal tadi Raina sudah menolak untuk diantar, karena dirinya sudah bersama Via, tetapi Raka tetap kekeh untuk mengantarkannya sampai kelas. Dikantin tadi Raina dan Via bercerita satu sama lain, sedangkan Raka hanya menyimak cerita kedua gadis itu sambil memakan makanannya. Tak jarang juga anak-anak yang ada dikantin memusatkan perhatiannya pada mereka, bahkan kini mereka sudah menjadi topik terpopuler disekolah hari ini, bayangkan, ini masih hari pertama mereka menginjakkan kaki disekolah ini, itu saja sudah bikin gempar satu sekolahan. "Kakak lo itu cuek banget ya?" tanya Via pada Raina saat mereka sudah duduk dibangku masing-masing. "Iya, kadang aku sendiri jengah banget sama sikapnya yang kayak gitu. Tapi sebenernya Raka itu baik kok, dia itu sweet, romantis, mungkin kalo aku sama dia nggak saudaraan udah jadi pacar sekarang..." Raina berucap sambil tertawa kecil. "Ehh tapi lo sama dia itu cocok banget beneran, nggak keliatan kalo sodaraan, tadi aja gue kira dia itu pacar lo, ehh ternyata abang.." balas Via yang ikut tertawa. "Dari dulu emang banyak yang ngira aku sama Raka pacaran. Tapi katanya dulu waktu Mama masih SMA, Mama pernah dikira pacaran juga sama Kakaknya, padahal mah nggak." "Pasti banyak cewek-cewek yang iri sama lo Ra, bayangin dong lo punya kakak yang gans kayak gitu," ujar Via, Raina hanya tertawa saja. Raina meraba laci mejanya, guna mengambil buku tulisnya untuk ia siapkan sebelum guru datang. Tetapi ada sesuatu yang janggal ditangannya, ia pun mengincangnya, ternyata ada sebuah rangkaian bunga. "Apaan nih?" tanya Raina pada Via sambil mengambil bunga itu. "Lah kok ada bunga? Siapa yang naruh disitu?" heran Via. "Ada suratnya Ra! Coba baca!" seru Via menyuruh Raina untuk membacanya. "Oke," Kalau lo udah baca surat ini, berarti lo udah terima bunga dari gue. Sorry aja nih, itu bunganya gue ga beli, gue buat dadakan disekolah, gue ambil bunga yang ada ditaman. Tapi inget! Jangan diaduin ke Bu Yuni, ntar abis gue dimarahin sama dia. Raina menahan tawa saat membaca tulisan ini, ia pikir kenapa orang pemberi surat dan bunga ini sangat jujur kepadanya, aneh. Lo mau tau siapa yang nulis surat alay ini? Coba aja deh lo noleh ke bangku belakang. Raina mengernyit dan merasa penasaran, berarti sang pemberi surat itu anak yang satu kelas dengannya, dengan ragu-ragu Raina menoleh perlahan ke belakang. Dilihatnya ada dua cowok yang tengah bercanda gurau, sampai ada salah satu diantara mereka yang sadar jika Raina sedang melihat ke arah mereka. "Woy Len! Lo dilihatin tuh!" Devan berucap sambil menepuk-nepuk bahu Alen, menyadarkan Alen hingga ia menoleh ke arah cewek incarannya, yang kini sedang menatapnya dengan heran. Dengan kedua sudut bibir yang terangkat, Alen pun melambaikan tangannya ke Raina, tetapi anehnya gadis itu malah segera menghadap kedepan lagi, membuat Alen bingung. "Wahhh lo nulis apaan Len disuratnya? Sampe dia noleh gitu?" takjub Devan pada teman sebangkunya itu. "Nggak tau dah, gue jadi jijik sendiri sama yang gue tulis tadi, alay gak ya? Ntar dia malah nggak suka lagi sama gue," kata Alen. "Alahhh! Alay nggak nya itu pikir nanti, yang penting barusan keberadaan lo udah diketahui sama dia!" ucap Devan, lalu Alen hanya membalasnya dengan acungan jempol. Setelah menoleh kebelakang tadi, kini Raina nampak berpikir, serius kah cowok yang tadi itu yang memberikannya surat dan bunga ini? "Kenapa Ra? Ada apa?" Via bingung. "Nggak pa-pa kok," balas Raina, ia pun kembali melanjutkan membaca suratnya. Nah, kalau lo udah noleh dan ngeliat cowok yang seragamnya berantakan, dan ngelambaiin tangan ke lo, itu berarti gue. Dan, selamat! Karena lo udah baca surat ini, jadi mulai sekarang, lo akan terperangkap didalam kehidupan gue. Tapi lo jangan takut, gue bukan penjahat atau pun psikopat, gue cuma tertarik sama lo semenjak lo senyum tadi. Dan, Raina, lo cantik. ~A.D Raina cepat-cepat menutup surat itu, ia memejamkan matanya sambil menggeleng-gelengkan kepala, tiba-tiba dirinya merasa takut berada dikelas ini. Via yang melihatnya bingung sendiri, "Ra? Lo kenapa? Apa isi suratnya?" "Ihhhh...kok nyeremin banget sihhh!" "Kenapa emang? Kenapa?" Via semakim heran. "Kamu tau nggak cowok yang duduk dibangku belakang urutan ke empat," ucap Raina, Via pun langsung menoleh ke belakang, lalu ia menoleh ke arah Raina lagi. "Iya tau, si Alen sama Devan. Tukang buat rusuh, dan bencananya SMA Galaksi." tutur Via. Glek. Raina meneguk salivanya dengan raut yang tak enak, "Tukang buat rusuh? Disaster? Serius?" tanya Raina. "Iya, kenapa sih?" "Cowok itu yang ngasih aku surat sama bunga ini." jawab Raina dengan wajah panik. "What?! Serius?! Demi apa Rain?!!" pekik Via histeris, membuat Raina langsung membekap mulutnya, merasa kesal karena telah berteriak seperti itu. "Ihhh! Pia! Jangan teriak dong! Nanti kalo mereka tau gimana?" "Ehhh iya-iya maaf Rain, ni mulut emang nggak bisa dikontrol kalo udah denger berita kayak gitu.." ucap Via kini sambil berbisik. "Yaudah nggak papa. Terus sekarang nasib aku gimana?" tanya Raina. "Coba liat suratnya," ucap Via, Raina pun segera memberikannya, Via langsung menerima dan membacanya dengan seksama. Via memelotot saat membaca surat itu, setelah selesai, ia buru-buru menutupnya kembali dan terlihat ingin menjelaskan sesuatu kepada Raina. "Rain..lo harus hati-hati sama dia. Jangan sampe lo jadi korbannya dia, dia itu player, badboy, nakalnya naudzubillah deh! Ya gue tau, dia itu emang ganteng, pinter, most wanted, banyak cewek-cewek yang ngejar-ngejar dia, tapi.." Via menjedanya. "Tapiii? Tapi apa? Dia bad?" ucap Raina. "Iyaaaaa Ra. Lo nggak liat tuh penampilannya? Rambut berantakan, seragam dikeluarin, ahh pokoknya bad lah, dia tuh suka banget berantem, buat gempar anak-anak seantero sekolah. Guru-guru pada takjub sama dia, dia itu pinter tapi bandel banget, aslinya emaknya dulu ngidam apa sih? Heran gue," kata Via panjang lebar, mendeskripsikan seorang Alen dimatanya. Sedangkan Raina pun hanya speechless mendengarnya, se-begitu nakalnya kah seorang Alen? Tetapi baginya itu adalah hal yang biasa bagi seorang cowok, tidak mungkin cowok seperti dia hanya memiliki sisi negatif saja, jelasnya ia juga mempunyai sisi positif, ya contohnya seperti memiliki otak yang pintar. "Terus dia juga banyak yang nyukain?" tanya Raina. "Iya, Ra. Banyak yang suka sama dia, gue heran deh kenapa ya, jangan-jangan dia pakek dukun lagi." ceplos Via ngawur, jika didengar oleh Alen bisa dimarahi dia. "Tadi kamu bilang dia itu ganteng, yaudah itu adalah jawabannya kenapa dia banyak yang suka. Kecuali kalo dia itu jelek, nggak pinter, sok keren, tapi banyak yang suka, itu baru kamu bisa bilang dia pakek dukun.." ucap Raina terlihat sedikit membela Alen, padahal Raina belum kenal sama sekali. "Iyasih, Ra." Akhirnya pembicaraan mereka berdua terhenti karena ada seorang guru matematika yang masuk ke dalam kelas, membuat semua penghuni kelas yang tadinya ramai seketika hening, karena guru matematika itu terkenal killer. "Selamat siang anak-anak," sapa Bu Rum, sambil duduk dan meletakkan beberapa tumpukan buku diatas meja guru. "Selamat siang Bu.." balas mereka serentak. "Sekarang semuanya buka buku paket matematika BAB 8, kita akan membahas tentang Grafik fungsi trigonometri. Ada yang tidak membawa buku paket? Jika ada silahkan maju ke depan." perintah Bu Rum kepada murid-muridnya. Mereka yang merasa tidak membawa buku paket karena alasan ketinggalan, lupa, dan lain-lain pun langsung panik seketika. "Ayo cepat, jujur! Siapa yang tidak membawa buku paket hari ini? Cepat maju ke depan!" perintah Bu Rum lagi dengan tegas. "Mampus! Paket gue ketinggalan nyet," ucap Alen pada Devan yang sedang membuka halaman buku paketnya. "Hah? Yaudah maju sono, sebelum Bu Rum marah," ujar Devan santai. "Lo kok gitu sih nyet? Awas lo nggak bakalan gue kasih contekan lagi!" ancam Alen dengan kejamnya, membuat Devan melotot. "Woi woi, jangan dong Len! Ntar kalo nilai gue jelek terus emak gue marah gimana? Bisa berabe ntar gue nggak boleh main lagi!" ujar Devan memelas. "Itu mah derita lo." balas Alen yang langsung berdiri dari duduknya dan langsung maju kedepan kelas bersama tiga anak yang tidak membawa paket, menuruti perkataan Bu Rum tadi. "Alen, kamu tidak membawa buku paket?" tanya Bu Rum. "Nggak bu," "Kenapa?" "Ketinggalan dirumah Bu," "Alen-alen...kapan kamu itu mau berubah, sayang otak kamu yang pinter ketutupan sama nakalnya kamu." ucap Bu Rum pada Alen. "Baju selalu berantakan, atribut tidak pernah lengkap." omel Bu Rum pada Alen, tapi Alen hanya diam saja. Raina tiba-tiba mengacungkan tangannya, "Bu." "Ya, kenapa?" "Saya anak baru, jadi belum dapat semua buku-buku dari sekolahan.." ujar Raina yang memang belum mendapatkan buku, ia masuk sekolah hari ini hanya membawa beberapa buku tulis dan kotak pensil saja. "Ya sudah tidak apa-apa." jawab Bu Rum memaklumi. "Kalian yang ada didepan ini, sekarang berdiri disebelah sana, sampai jam pelajaran saya habis." perintah Bu Rum pada kelima anak itu. "Yang bener aja bu, pelajarannya ibu kan sampai dua jam? Ya kali saya disuruh berdiri disini sampe dua jam." protes Alen tidak terima, mewakili keempat temannya yang tidak berani angkat suara. "Alen, kamu berdiri sambil angkat satu kaki!" ucap Bu Rum lantang, membuat Alen berdecak kesal, dan memberikan tatapan sinisnya ke Bu Rum sebelum ia melakukan hukumannya. Sedangkan anak-anak lainnya setelah itu hanya memberikan tatapan kasihan terhadap Alen, apalagi Devan, ia juga kasihan pada temannya itu, ia juga kasihan pada dirinya sendiri karena tidak bisa mendapatkan contekan dari Alen hari ini. Lima belas menit berlalu, setelah Raina sibuk menghadap ke papan tulis untuk memperhatikan penjelasan Bu Rum yang rumit itu, kini ia ingin melemaskan badan dan otot matanya. Saat matanya tak sengaja menoleh ke arah dekat pintu kelas, ia menangkap basah Alen yang tengah memperhatikannya sedari tadi. Saat tau akan itu Alen langsung memberikan senyumnya kepada Raina, dan lagi-lagi sikapnya itu membuat Raina seketika mengalihkan pandangannya, entah karena apa. "Ayo, siapa yang bisa mengerjakan nomor satu?" tanya Bu Rum setelah selesai menuliskan lima contoh soal dipapan. "Saya Bu," Raina mengacungkan tangannya." "Ya, kamu silahkan maju." "Wahhh Ra, lo udah paham sama semuanya? Gila, otak gue aja belum nyampe sampe sekarang." ujar Via pada Raina. "Mangkanya, perhatiin, jangan ngelamun terus." ucap Raina lalu berdiri dan maju ke depan untuk mengerjakan soal matematika. Tangan Raina pun sibuk menari-nari diatas papan putih itu, tanpa tersendat sedikit pun, padahal Raina adalah anak baru, dan masih beradaptasi dengan pelajaran disini, tetapi ia sudah paham saja dengan semuanya. Alen yang melihatnya pun hanya diam, dan lagi-lagi tersenyum karena gadis itu. "Udah selesai Bu," lapor Raina. Belum sempat Bu Rum menjawab, Alen sudah nyeplos duluan, "Masih kurang tepat itu jawabannya," celetuk Alen yang langsung berjalan mendekati Raina, membuat gadis itu sedikit memundurkan tubuhnya. "Hei! Alen! Siapa yang suruh kamu buat nurunin kaki?!" tanya Bu Rum sambil menatap Alen dengan mata tajamnya. "Kan saya baik Bu, mau ngoreksi punya nya Raina." balas Alen tak mau disalahkan. "Tapi--" "Pinjem spidolnya," Alen meminta spidol yang dipegang oleh Raina, Raina pun langsung memberikannya, tanpa berani melihat mata Alen. "Ini ditambahin, F dalam kurung min satu, sama dengan min satu." ucap Alen sambil menuliskan jawaban Raina yang kurang lengkap sedikit. Anak satu kelas dan Bu Rum dibuat takjub, bagaimana Alen bisa tahu? bagaimana anak itu bisa mengerti? Padahal materi ini baru dijelaskan tadi, sedangkan sedari tadi Alen dihukum dan hanya asik memperhatikan Raina diam-diam. Wah! Inilah definisi IQ diatas rata-rata. "Nih," Alen memberikan spidol itu kembali ke tangan Raina. "Mm-makasih udah di koreksiin," balas Raina sedikit gugup. "Sama-sama, lain kali kita bisa kok belajar bareng, biar saling nambah pinternya," celetuk Alen, membuat anak-anak satu kelas bersiul-siul dan men-cie-cie kan mereka berdua, dan yang paling terlihat heboh adalah Devan. "Eum...B-Bu, saya ijin kembali duduk ya?" pamit Raina pada Bu Rum, yang langsung diperbolehkan. Jujur, Raina sangat malu dan gugup sendiri saat Alen berbicara seperti itu, apalagi saat anak-anak sekelas banyak yang menggodanya. Setelah Raina kembali duduk dikursinya, tiba-tiba saja Via memekik tertahan. "Oh my goshhh! Raiinnna! Tuh kan, si Alen udah mulai aneh-aneh sama lo." ucap Via sambil memegang lengan kanan Raina. "Aneh-aneh gimana? Dia cuma ngoreksiin jawaban aku, dan terbukti, dia emang pinter siih." balas Raina. "Tapiii Raaaain! Alen itu--" "Iya-iya Via...aku tau," "Tapi kenapa aku nggak berani natap matanya ya?" Kenapaaaa hayoooo? Wahh Raina gawat nih! ✨✨✨ To be continued... Hollaaaa si Alen mulai nih...si Raina juga mulai nih...bahayaaa nih...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN