3. Chat

1943 Kata
Raina melirik arloji berwarna biru pastel miliknya, sudah sepuluh menit semenjak bel pulang tadi ia menunggu Raka di depan kelas, tetapi kakaknya itu tak kunjung menjemputnya. Ia bosan, ia ingin cepat-cepat pulang ke rumah untuk rebahan sambil menonton film kartun favoritnya yang tayang setiap hari. "Ck, Raka mana sih? Lama banget, apa aku harus nyusul ke kelasnya ya?" tanya Raina pada dirinya sendiri, karena memang dirinya kini sedang duduk sendirian ditempat duduk panjang depan kelas, karena Via tadi sudah pamit untuk pulang duluan karena dirinya ada acara mendadak. "Ekhem," tiba-tiba saja ada suara deheman yang membuat Raina sedikit terkejut. "Eh," "Kaget ya? Sorry," ucap Alen sambil cengengesan, membuat Raina menatapnya aneh. "It's okay." balas Raina sambil mengalihkan pandangannya dan mengetuk-ngetukkan jarinya diatas paha, kenapa ia tiba-tiba merasa takut dan panik. "Jadi, gimana surat sama bunganya tadi?" tanya Alen basa-basi. "Maksudnya?" Raina tidak paham. "Lo nggak illfeel sama gue?" tanya Alen, sambil ikut duduk disebelah Raina. "Nggak kok, biasa aja." jawab Raina sambil menunduk melihat kearah sepatu converse milik Alen. "Kenapa selalu nunduk sih kalo ngomong sama gue? Kalo ngomong sama orang tuh yang diliat matanya, bukan sepatunya.." ujar Alen yang dengan beraninya mengangkat dagu Raina untuk melihat wajahnya. Raina yang diperlakukan secara spontan itu pun langsung membeku sesaat, matanya yang coklat itu kini telah bertemu dengan mata hitam legam milik Alen. Cowok itu seakan-akan mengunci mata Raina, sehingga membuat Raina tak bisa berkutik. Tanpa sadar, kini Raina tengah mengamati setiap lekukan wajah Alen, mulai dari alis hingga bibir. Alen mengulas senyumnya, membuat aura gantengnya makin bertambah, ia tersenyum karena merasa lucu saja dengan tingkah Raina yang seperti itu padanya. "Hey, ngeliatinnya juga nggak perlu lama-lama kali, entar mata lo copot kan nggak lucu." ucap Alen bermaksud bercanda, dan langsung membuat Raina tersadar. "Apaan sih!" balas Raina kesal sambil memutar bola matanya. "Kamu kenapa SKSD gitu sih sama aku?" tanya Raina asal nyeplos saja, membuat Alen menaikkan satu alisnya. Melihat itu, Raina langsung merutuki mulutnya dalam hati, apakah ia salah mengucapkan itu? "Ya udah, kalo nggak mau gue SKSD in, kenalan dulu kalo gitu, nama gue Alen Dirgantara, kelas sebelas IPA 5, nama i********: gue len.dirgantara kalo penasaran silahkan distalker, follow juga boleh, ntar gue follback." ucap Alen. "ALEN!!" teriak seseorang memanggil nama Alen, cowok itu pun menoleh begitu juga dengan Raina. "t*i lo! Gue udah nungguin lo dari tadi di parkiran setaun, sampe jadi bangke, lo nya kagak dateng-dateng, ehh ternyata malah asik berduaan disini sama Raina, parah lo!" Devan datang berjalan mendekati Alen dan Raina sambil mengomel. "Oh," balas Alen cuek, membuat Devan makin dibuat kesal. "Bagong! Ayo balik! Berduaan mulu lo, yang ketiga setan ntar!" "Ya lo itu setannya!" balas Alen membuat Raina menahan tawanya. Devan melotot, "Serah lo dah ah! Gue mau ke markas sekarang, tadi di grup anak-anak pada nge-chat, nyariin lo, ada kabar penting. Hp lo nggak aktif katanya," ucap Devan yang langsung pergi meninggalkan mereka berdua menuju parkiran. "Lo balik sama siapa? Mau bareng sama gue?" tanya Alen pada Raina. Raina menggeleng cepat, "Nggak usah, aku udah mau dijemput habis ini." tolak Raina. "Ohh yaudah, kalo gitu gue balik duluan," pamit Alen yang langsung berdiri sambil menarik seragamnya ke bawah. "Iya." "Nggak mau ngucapin hati-hati atau apa gitu?" tanya Alen, namun gadis itu hanya diam saja tak tau apakah ia harus benar-benar mengucapkan kalimat itu atau tidak. "Oke, gue bakalan hati-hati, Raina." ucap Alen seakan-akan menjawab ucapan Raina, padahal Raina tidak mengatakan apa pun. Setelah itu, Alen pun segera meninggalkan Raina sendirian disana. Setelah Alen pergi, rasanya pasokan oksigen disekitarnya bisa terasa normal lagi, ia menghembuskan napasnya panjang-panjang, merasa lega karena cowok itu sudah pergi dari hadapannya. "Ra." panggil Raka, membuat Raina menoleh mendongak keatas. "Kamu lama banget sih Ka! Habis ngapain aja dikelas? Bosen tau nungguinnya," omel Raina pada Raka yang baru saja datang untuk menjemputnya. "Iya maaf, tadi dikelas lagi ada masalah dikit, jadinya harus dengerin ceramah dulu dari guru." balas Raka jujur. Raina berdecak, "Ya udah deh, ayo pulang, aku capek," ucap Raina sambil berdiri dari duduknya dan langsung berjalan terlebih dahulu meninggalkan Raka. Raka peka, ia tau jika Raina merasa bete, karena telah menunggunya cukup lama. Tapi ia tau harus melakukan apa saat Raina bersikap seperti itu, adiknya itu memang moody-an. Raka berjalan menyusul Raina dibelakangnya, setelah sampai diparkiran, Raka segera memencet remote mobil hingga berbunyi, lalu Raina dan dirinya segera masuk ke dalam mobil. "Ra," panggil Raka sambil menoleh kearah Raina yang sedang memasang seatbelt. "Hmm," "Kamu mau es krim?" tanya Raka. "Es krim?!" seru Raina dengan antusias. "Iya, mau nggak?" "Mauuuu! Mau banget! Raka mau beliin?" tanya Raina. Raka mengangguk. "Gelato yaaa?" "Iya." ✨✨✨ Alen merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk miliknya, kepalanya terasa sedikit pening, ia memijatnya perlahan, mungkin karena efek alkohol yang ia minum dimarkas bersama teman-temannya tadi. Seragam putih abu-abu miliknya bahkan masih melekat ditubuhnya, padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, tetapi anak itu belum juga mandi. Tiba-tiba saja Alen teringat akan bayang-bayang Raina, membuatnya senyum-senyum sendiri saat mengingat tingkahnya tadi. Dan tiba-tiba saja jiwa penasaran Alen muncul, ia mengambil ponselnya yang ada didalam saku celana, lalu ia membuka aplikasi instagramnya. Sudah seharian ini ia tidak membuka instagramnya, ternyata banyak notifikasi yang masuk. Cepat-cepat ia men-search nama Raina, tak lama akhirnya banyak foto profil yang muncul, dirinya bingung manakah i********: milik seorang gadis yang ia cari. Dan, akhirnya ia menemukan sebuah foto profil yang tak salah lagi jika itu adalah wajah Raina, setelah itu segera ia buka, beruntung, tidak di privasi, jadi ia bisa dengan suka hati men-stalker ig milik gadis itu. Followersnya banyak, hampir mencapai jumlah angka followers nya sendiri. Foto-foto yang di upload hanya ada enam, itu pun terlihat sangat rapi dan aesthetic. Dan ada salah satu foto yang membuat Alen merasa tertarik untuk melihatnya dengan detail. Terlihat Raina yang sedang berada dipantai yang terletak di California, difoto itu Raina sedang berdiri menghadap ke kamera sambil tersenyum lebar, membuat matanya tertutup hingga segaris. Tetapi tangan kanan Raina nampak tengah digenggam oleh tangan seorang cowok, yang sudah jelas bahwa orang itu lah yang memotret Raina. "Siapa nih? Cowoknya? Dia udah punya pacar? Ah s**t!" Alen mengumpat sambil membanting ponselnya diatas kasur. Drttdrtttdrrttt Tiba-tiba ponsel Alen bergetar, ia berdecak, malas. Tetapi ia tetap mengambil kembali ponselnya dan langsung ia angkat setelah mengetahui siapa yang menelpon. "Halo, apaan?" tanya Alen ketus. "Wessseettt, santai dong, gue ada berita bagus hari ini," ucap Devan dari sambungan telpon. "Berita apaan?" "Gue punya id line nya Raina dong hahaha! Lo pasti belum punya kan? Ketinggalan lo sama gue," ucap Devan memamerkan berita bagus yang ia dapatkan. "Dapet dari mana lo njing?" tanya Alen tidak santai. "Dari Via," "Kok bisa?" "Kan Raina belum masuk grup kelas, jadi si Via minta tolong ke gue buat masukin si Raina," balas Devan. "Ngapain harus lo?" "Lo lupa pikun apa gimana? Gue kan salah satu admin nyet!" balas Devan. "Bagi ke gue! Enak aja lo mau nyimpen id line Raina nggak bagi-bagi ke gue!" ucap Alen. "Bayar dulu dong, didunia sekarang kaga ada yang namanya gratisan," ucap Devan mencari kesempatan. "Iya! Gue kasih duit lo besok, sekarang buruan kirim id line nya ke gue," suruh Alen dan langsung memutuskan sambungan telpon sepihak. Sambil menunggu Devan mengirimkan id line milik Raina, Alen pun bergegas ke kamar mandi terlebih dahulu untuk mandi, karena badannya sudah sangat gerah dan lengket. Sepuluh menit berlalu, Alen keluar dengan menggunakan kaos berwarna biru dongker polos, dan celana pendek selutut berwarna hitam. Ia menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk, lalu ia mengambil ponselnya diatas kasur, membuka room chat nya dengan Devan, ternyata anak itu sudah mengirimkannya. Tak perlu pikir panjang, Alen pun segera menambahkan Raina sebagai teman, dan ia langsung mengetikkan sebuah pesan guna memulai chat. Alen dirgantara: Malam Ra. ✨✨✨ Raina nampak asik menonton film kartun favoritnya dilayar televisi, ia tertawa berkali-kali, sampai tersedak, bahkan perutnya sampai sakit karena kebanyakan tertawa. Mood nya kembali membaik saat Raka membelikannya es krim gelato sebanyak dua cup besar. "Uhuk uhuk ahahahahaha! Ekhem hhahahhaha, aduhhhh!" Raina tertawa sambil sesekali melahap keripik kentang yang ada ditoples yang ia pangku. "Raina, kalo makan jangan sambil ketawa, nanti kalo keselek baru tau rasa.." peringat Cherry dari arah dapur, yang memang dekat dengan ruang keluarga. Mama nya itu kini sedang membuat brownis keju kesukaan Raka dan Raina. "Iya Maaaaa...." balas Raina. "Yahhhh iklan, nggak seru nih.." Raina cemberut. Ting! Suara notifikasi berbunyi dari ponsel boba Raina, ia pun segera mencari ponselnya itu dibawah bantal sofa, setelah ketemu ia pun langsung membuka dan mengecek notifikasi, ternyata ada banyak pesan line yang masuk. Pertama, ada Via yang membalas chat nya, kedua, ada Devan yang menambahkannya sebagai teman, ketiga, ada banyak chat dari grup yang bermunculan, ternyata ia sudah dimasukkan kedalam grup kelasnya itu. Ketiga, ada chat yang masuk dari teman-temannya, dan yang ke lima ada permintaan chat masuk dari Alen. "Hah? Ini siapa?" tanya Raina pada dirinya sendiri sambil membuka pesan yang belum ia baca. Alen dirgantara: Malam Ra. "Ini Alen kah?" gumam Raina, yang langsung mengetikkan balasan pesan. R a i n a: Malam, ini Alen? Ting! Tak butuh waktu lama, cowok itu langsung membalas pesan milik Raina. Alen dirgantara: Yooi, jangan lupa di add back ya ra. R a i n a: Iya Alen dirgantara: Kok cuma iya doang? R a i n a: Terus harus bilang apa lagi? Alen dirgantara: Ngetik Ra, bukan bilang. Lo mau bilang langsung? Gue telpon ya? R a i n a: Ehh! Jnagaannnn! Pokknuan jagannn! Awas aja kalo nelpon! *jangan *pokoknya *sorry typo Alen dirgantara: Lah kenapa? Ada mama lo? Takut dikira pacarnya? R a i n a: Nggak Alen dirgantara: Lo udh punya pacar Ra? R a i n a: Nggak Alen dirgantara: Yang di ig lo itu siapa? Yang pegangan tangan dipantai. R a i n a: Kepo banget. Alen dirgantara: Dih Orang nanya beneran dibilang kepo. R a i n a: Ketauan kalo km stalker aku. Alen dirgantara: Iya emang Kan gue tadi udah bilang, kalo lo udh baca surat dari gue, berarti lo udh masuk ke kehidupan gue. R a i n a: Kalo aku nggak mau gimana? Km maksa gitu? Alen dirgantara: Iyalaaah. "Ra!" panggil Raka membuat Raina terkejut, sontak ia segera mengeluarkan aplikasi line dan mematikan ponselnya. "Ihh Rakaaa kaget tau!" "Lagian, lo gue panggil dari tadi, malah asik mainan hape," balas Raka terdengar jutek. "Ih yaudah maaf, kenapa emang?" tanya Raina. "Mama tadi manggil," balas Raka sambil duduk disebelah Raina, dan mengambil alih remote, lalu ia menggantinya dengan film action. "Ihhh kok diganti film action sih? Raina nggak suka liat berantem-berantem kayak gitu Rakaa!" rengek Raina sambil menggoyang-goyangkan tubuh Raka. "Siapa suruh tadi tv nya dianggurin," balas Raka. "Ya udah, kan itu tadiii, sekarang nggak dianggurin lagi kok." Raina memelas pada Raka yang sudah fokus pada filmnya. "Ihh! Rakaaa!" rengek Raina seperti anak kecil. "Nonton tv dikamar sana," usir Raka. "Nggak mau, nggak rame, nggak seru." balas Raina. "Heei, udah dong, dari tadi Mama dengerin kalian berantem terus, kenapa sih?" tanya Cherry yang masih berada di dapur, beliau masih terlihat sibuk menata kue nya. "Raka Ma, nggak mau ngalah sama adeknya! Nyebelin!" adu Raina sambil menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa, lalu kedua tangannya ia lipat didepan d**a, tak lupa juga bibirnya yang ia bulatkan. "Ya udah, nih gue ganti ke film kartun," sahut Raka sambil memencet tombol remote dengan setengah hati, ia berusaha mengalah. "Yeayyyy! Raka baikkk bangeeettt! Makin sayaaaang deh," balas Raina kegirangan sambil memeluk kakaknya itu dari samping. Cherry yang melihatnya pun hanya bisa geleng-geleng, sudah setiap hari ia melihat kejadian anak-anaknya yang seperti ini, dikit-dikit berantem, dikit-dikit baikan lagi, dan yang paling sering mengalah adalah Raka. ✨✨✨
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN