4. Terlambat

1961 Kata
Hari ini sama seperti dihari sebelumnya, Raina datang ke sekolah bersama Raka, dan lagi-lagi mereka menjadi pusat perhatian. "Hai Rakaaa!" "Raka ganteng banget sihhh," "Semalem aku follow i********: kamu lohhh, jangan lupa di follback yahhh," ucap seorang gadis ber-seragam ketat dengan genitnya kepada Raka, membuat cowok itu bergidik ngeri. "Siapa lo?" tanya Raka dengan ketus. "Ohhh iya, kita belum kenalan," ucap gadis itu sambil mengangkat tangan kanannya dihadapan Raka, "Nama aku Lisa." Raka hanya menatap tangan itu tanpa ingin membalasnya, Raina yang ada disampingnya pun menyenggol pelan lengan Raka, bermaksud memberi kode agar Raka membalas uluran tangan cewek yang tak ia kenal itu. "Raka..ih itu cepet salamin!" bisik Raina. "Lo aja yang salamin, gue ogah," balas Raka yang langsung berjalan duluan meninggalkan Raina dan cewek genit itu. "Ehh.!!" "Ihhhhh! Kok jahat banget sih! Ganteng-ganteng songooong!" teriak gadis bernama Lisa itu, sambil menghentak-hentakkan kakinya. "Euhmm, sorry ya, aku duluan.." pamit Raina dan langsung berlari mengejar Raka yang sudah lumayan jauh. Bruaaaak! Raina tidak sengaja menabrak seseorang, ia merintih kesakitan karena bertabrakan cukup keras, ia mengangkat kepalanya, melihat siapakah orang yang ia tabrak barusan. "Heh! Kalo jalan tuh pake mata! Lo punya mata gak?! Main tabrak-tabrak gue gitu aja! Lo pikir ini jalan punya lo!!!" omel seorang cewek yang lebih tinggi sedikit dari pada Raina, kelihatannya ia adalah Kakak kelas Raina, terlihat dari penampilannya. "M-maaf Kak, saya nggak sengaja kok, saya tadi nggak ngeliat kalo ada Kakak didepan saya..." ucap Raina dengan wajah bersalahnya, ia juga merasa sedikit terkejut atas sentakan yang diberikan oleh cewek itu. "Alah! Nggak usah sok-sok an bilang gak liat lo! Lo emang sengaja nabrak gue kan?!" balas cewek itu semakin membuat Raina takut, disini juga banyak pasang mata yang terpusat pada mereka berdua. "Enggak kak, saya beneran nggak sengaja nabrak kok..jugaan buat apa saya nabrak kakak." balas Raina mencoba tenang. "Ohh! Jadi lo nyalahin gue?! Siapa lo?! Adek kelas kan? Kok gue nggak pernah ngeliat lo sih? Anak baru? Cih anak baru aja belagu lo!" ucap cewek itu lagi sambil mendorong tubuh Raina kebelakang, membuat Raina mundur beberapa langkah. "Kak! Saya emang anak baru disini, saya emang cuma adek kelas, dan kamu itu kakak kelas, tapi kakak juga nggak bisa seenaknya nindas saya. Saya juga udah minta maaf, kalo saya emang nggak sengaja nabrak kakak, jadi nggak usah main dorong-dorong gitu dong!" balas Raina dengan beraninya, ia mengangkat dagunya, membuat cewek yang ada didepannya saat ini semakin emosi dan berapi-api. "HEH! LO KOK MAKIN NGELUNJAK SIH?!! LO SIAPA? YANG PUNYA SEKOLAH!? SOK CANTIK LO BIT*H!" tangan cewek itu terangkat hendak menampar pipi Raina, Raina dan anak-anak lain yang menyaksikan pun memejamkan mata. Raina memejamkan matanya erat-erat, ia pikir sebentar lagi pipi nya akan terasa panas karena ada tangan yang ingin menamparnya, tetapi kenapa tidak terjadi apa-apa. Raina pun akhirnya membuka matanya perlahan, ia dibuat terkejut saat tangan cewek yang akan melayang itu ditahan oleh Raka. "Maksud lo apa mau nampar Raina?" tanya Raka dingin, ia menatap mata cewek itu dengan tajam, membuat siapapun yang diperlakukan seperti itu ketakutan. "Lepasin!" sentak cewek itu sambil berusaha melepaskan tangannya yang dicengram keras oleh Raka. "Jangan mentang-mentang lo kakak kelas disini, lo jadi seenaknya nindas adek kelas! Lo pikir lo itu cantik? Cih," ucap Raka sambil melihat wajah cewek itu yang dipoles oleh make up cukup tebal. "Ke sekolah pake make up! Mau sekolah apa mau pesta?" Cewek itu balas menatap Raka penuh emosi, tangannya masih belum bisa lepas dari Raka. "Lo nggak ngaca? Yang lo sebut b***h itu siapa? Raina atau diri lo sendiri? Nggak liat tuh, seragam ketat, rok pendek, aurat kemana-mana, ngaca! Apa perlu gue beliin?" ejek Raka, nadanya berbicara tidak tinggi sama sekali, namun bisa menusuk hati bagi yang mendengarnya. Semua yang menonton mereka pun dibuat terdiam, tidak ada yang berani bersuara, mereka dibuat takjub dengan keberanian Raka dan Raina dalam melawan kakak kelasnya yang terkenal sok berkuasa di SMA Galaksi ini. Cewek itu dibuat naik darah, dengan sekuat tenaga akhirnya ia bisa melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Raka. Ia meringis pelan, tangannya itu memerah dan membekas bentuk cengkraman. "Arrgghh! Lo siapa sih?! Pacarnya?! Sok banget! Serasi deh lo berdua, sama-sama belagunya!" balas cewek itu dengan menggebu-gebu. Namun, Raka tak mengindahkan ucapan cewek gila itu, ia segera menarik tangan Raina untuk menjauh dari cewek itu. Mereka berjalan melewati koridor yang masih ramai karena kejadian barusan, wajah Raka terlihat semakin dingin. "Sorry Ra, tadi aku ninggalin kamu duluan," ucap Raka datar. "I-iya, nggak papa kok, Ka. Tt-tapi tadi itu...nggak bakalan bermasalah sama guru kan? Raina nggak mau dihukum cuma karena masalah gituan..." balas Raina, merasa sedikit cemas. "Nggak, dia kali yang bakal bermasalah sama guru. Sekolah penampilannya kaya b***h," ceplos Raka. "Ehhhh! Husss," Raina langsung menutup mulut kakaknya itu, "Ngomongnya ih.." "Kenapa? Emang kan? Tadi kamu nggak liat?" "Liat." "Nah, yaudah. Kakak kelas cap apaan tuh, udah kaya jalangg--" "Ssttssss! Ih Rakaaaa! Stop!" lagi-lagi Raina membekap mulut Raka karena kesal. Raka memang seperti itu, ia tidak akan pernah terima dan tinggal diam jika ada yang mengusik ketenangannya atau ketenangan orang yang dekat dengannya, seperti Raina salah satunya. ✨✨✨ Jam menunjukkan pukul 7.30 pagi, menandakan jika gerbang sekolah sudah ditutup sekitar setengah jam yang lalu. Tetapi, Alen masih berada diatas motornya yang masih terjebak kemacetan kota Jakarta pagi ini. Ia mengumpat kesal, memencet klakson motor ninja nya berkali-kali, padahal lampu merah itu sudah berganti menjadi hijau, tetapi kendaraan yang ada didepannya tidak kunjung bergerak. Tin tin tiiinnnn! Lagi-lagi Alen memencet klaksonnya dengan geram, berkali-kali ia melirik jam tangan hitam yang ada dipergelangan tangan kirinya. Ia sudah terlambat masuk sekolah setengah jam, gara-gara dirinya tadi bangun kesiangan, akibat habis bermain PS sampai jam tiga pagi. Brrmmm brrrmmm brrmmm Deruman motor besarnya itu memekikkan telinga pengendara yang lainnya, ia benar-benar tidak sabaran menunggu mobil depannya untuk berjalan, sangat lambat pikirnya. "Woii! Lama banget sih jalannya! Mobil butut aja masih dipake!" teriak Alen tanpa tahu malu, ia mengejek mobil yang ada didepannya dengan sebutan mobil butut, padahal mobil yang ia ejek butut itu adalah mobil BMW mewah. Setelah kendaraan didepannya itu mulai berjalan, akhirnya Alen segera menancap gas motornya dengan kecepatan diatas rata-rata, seperti orang kesetanan, tak jarang ada pengendara lain yang memberikan Alen berbagai sumpah serapah. Udah tau jalan rame, tapi masih kebut-kebutan, bener-bener nggak mentingin nyawa sendiri dan nyawa orang lain. Dasar Alen belegug. Sepuluh menit kemudian, akhirnya Alen berhasil sampai didepan gerbang sekolah yang menjulang tinggi. Benar saja, gerbang besar itu sudah digembok dan ditutup rapat oleh pak satpam penjaga sekolah. Alen mendesah kasar, sambil memukul tangki bensinnya. Ia mendongak mencari keberadaan pak satpam berkumis hitam yang kelihatannya garang padahal mah hatinya selembut sutra, namanya Pak Amin. Kebetulan sekali, didalam pos satpam itu tidak ada Pak Amin, jadinya Alen bisa dengan mudah masuk ke dalam sekolah tanpa harus terkena hukuman. Ia turun dari motornya, berusaha membuka pintu gerbang, ia berharap semoga saja pintu gerbang itu tidak dikunci. "Yes! Nasib gue bagus hari ini." ucap Alen karena berhasil membuka gerbang itu, karena tidak dikunci, sepertinya Pak Amin lupa menguncinya. Tak ingin membuang kesempatan emas ini, akhirnya Alen segera menaiki motornya lagi, tanpa ia hidupkan mesinnya, agar tidak terdengar suara bising, karena parkiran murid dekat dengan ruang guru. Setelah Alen berhasil memarkirkan motornya, ia pun segera melepas helmnya dan ia taruh dispion motor. Selepas itu, Alen pun segera berjalan mengendap-ngendap memasuki gedung sekolah, sampai akhirnya kakinya menapak pada lobby utama yang menghadap kearah lapangan, Alen berniat untuk melewati tengah lapangan saja ketimbang harus melewati koridor dan melewati banyak kelas yang jelas sudah ada guru yang mengajar. Lalu ia kembali melangkahkan kakinya, dengan perlahan, seperti maling. Ia sudah sampai tepat ditengah lapangan, sedikit lagi ia akan sampai, tetapi tiba-tiba saja langkahnya terhenti. "Ekhem, Alen!" Alen memejamkan matanya erat, ia mendesah kecewa, lagi-lagi suara merdu milik Bu Yuni terdengar digendang telinganya. "Mau kemana kamu Len?" tanya Bu Yuni sambil tersenyum sok manis, bebarengan dengan Alen membalikkan badannya menghadap ke Bu Yuni. "Ehh, Ibu..manggil saya Buk?" tanya Alen, seperti orang bodoh. "Iyalah, saya manggil kamu! Siapa lagi orang yang ada disini selain saya sama kamu!" balas Bu Yuni. "Ehh iya Bu, hehehe," Alen memberikan cengiran khasnya. "Bu Yuni makin hari makin cantik aja.." puji Alen. "Haha hehe! Rayu aja terus! Ibu nggak bakalan luluh sama rayuan kamu Alen!" balas Bu Yuni, mulai gerah dengan sikap Alen. "Iya Bu, maaf." "Nggak ada maaf-maaf, ini bukan lebaran! Kenapa kamu bisa telat?" tanya Bu Yuni sambil berkacak pinggang. "Jangan bilang alesan kamu telat itu bangun kesiangan, iya?!" tebak Bu Yuni. "Nah, iya. Itu ibu tau, jadi saya nggak perlu susah-susah jelasin kan bu..." balas Alen. "Aleeeennn!! Kamu itu ya! Selalu saja telat, memangnya kamu ini sekolah disekolahan milik bapak kamu apa?" omel Bu Yuni sambil menjewer telinga kanan Alen, membuat sang empunya meringis kesakitan. "Ehhh bu..bu...sakit bu...aww! Ampun bu..astagfirullah!" pekik Alen. "Kapok! Anak bandel kayak kamu gini ini pantes dikasih hukuman, setiap hari terlambat, seragam tidak pernah rapi, ini lagi rambut sudah melebihi batas, tapi tidak dipotong! Kamu mau ibu botakin kepala kamu?!" ucap Bu Yuni membuat Alen memelotot kaget. "Jangan bu! Besok saya potong rambut sendiri, jangan Bu Yuni yang potongin, nanti bukannya makin ganteng malah jadi jelek saya." balas Alen yang akhirnya sedikit melega karena Bu Yuni sudah melepas jewerannya. "Eehhh sok ganteng kamu ya?" "Saya nggak sok ganteng bu, emang saya ganteng kok. Buktinya cewek-cewek disekolah ini pada ngejar-ngejar saya." balas Alen dengan sombongnya, padahal Alen jarang sekali menyombongkan wajahnya. "Alen! Kamu ini! Sekarang kamu saya hukum buat bersihin toilet perempuan! Sampai bersih, kinclong, dan wangi! Ingat!" perintah Bu Yuni. "Hah? Serius Bu? Kenapa harus toilet perempuan? Kan--" "Sudah! Hukuman saya tidak bisa diganggu gugat lagi! Kamu pilih menjalankan hukuman atau masuk ruang BK dan mendapatkan poin, pilih mana?" tawar Bu Yuni, semua pilihannya tidak ada yang bagus. Alen berdecak, "Ya ya ya...saya pilih bersihin toilet," balas Alen kesal sambil pergi meninggalkan Bu yuni, untuk bergegas menuju toilet dengan hati yang menggerutu. ✨✨✨ Alen menyiram seluruh lantai kamar mandi, menuangkan cairan pembersih dengan wangi yang lumayan menusuk hidung. Ia sudah menuangkan banyak cairan pembersih ke dalam semua kloset, untung saja toilet perempuan pagi ini tidak ramai, biasanya kan toilet perempuan akan selalu ramai, karena banyak yang berhias dan bercermin. Tetapi sepertinya dewi fortuna masih berpihak padanya, karena dirinya tidak perlu susah payah untuk mengusir cewek-cewek penghuni kamar mandi ini. Alen menyikat lantai toilet itu dengan sikat bergagang panjang, sudah lima belas menit ia melakukan hal ini, tetapi kenapa rasanya tidak selesai-selesai juga dari tadi, ia ingin cepat-cepat tidur dikelas, menikmati dinginnya AC. Bruaaakkk! Alen tersentak kaget saat mendengar pintu utama toilet terbuka, terdengar suara kaki yang berlari tergopoh-gopoh. "AAAAAAAA!!!!" teriak seorang cewek yang melihat keberadaan Alen ditoilet siswi. Alen sontak menutup kedua telinganya dengan telapak tangan, suara cewek itu sangat kencang, melebihi suara toak masjid. "Eehhhh! Jangan teriak woy!" peringat Alen pada cewek itu. "Ih, kamu ngapain disini? Ini kan toilet perempuan, kamu pasti lagi ngintipin cewek yang ada disini ya! Hayo ngaku!" tuding Raina dengan menunjuk wajah Alen sambil menyipitkan kedua matanya penuh selidik. "Eh nggak njir! Ngapain gue ngintipin cewek disini, kurang kerjaan banget. Gue itu lagi dihukum sama Bu Yuni, gara-gara telat." balas Alen, meluruskan tuduhan Raina. "Masa sih?" "Iya. Ngapa? Lo nggak percaya? Mau bukti?" tantang Alen. "Iya-iya percaya." "Ya udah, lo mau ngapain tadi kesini Raina?" tanya Alen mengingatkan Raina. "Oh iya! Aku tadi tuh kebelet pipis, yaudah minggir! Udah diujung kematian iniii! Awas! Jangan ngintip!" peringat Raina sambil berlari kearah bilik kamar mandi, hampir saja ia terpeleset karena tidak hati-hati. "Ehh hati-hati dong, ntar kalo lo jatoh gua yang disalahin sama Bu Yuni." ucap Alen. "Berisik!" balas Raina dari dalam kamar mandi. "Wah, dasar bocah, cantik-cantik bar bar juga ternyata.." Alen berujar pelan, namun dapat didengar oleh Raina. "Heehhh! Ngomong apa barusaaaannnn!??" teriak Raina. "Nggak, lo cantik and kalem." balas Alen. ✨✨✨
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN