5. Blushing

1966 Kata
Alen akhirnya selesai membersihkan toilet perempuan, tetapi ada satu toilet yang belum ia bersihkan, yaitu toilet yang sedang dipakai oleh Raina. Ia heran, sebenarnya apa yang dilakukan Raina didalam sana? Sedang boker sambil menghalu cogan atau ngeden tapi nggak keluar-keluar? Ahhh! Tidak mungkin, sepertinya gadis itu sedang tidak poop, pasalnya tidak ada bau peleburan kotoran sama sekali dari dalam sana, lalu apa yang dilakukan oleh Raina didalam sana, sungguh! Kenapa tiba-tiba Alen merasa penasaran. "Ra?" panggil Alen, namun tak ada sahutan dari dalam sana. "Are you okay?" tanya Alen sekali lagi, sambil mendekatkan kepalanya ke arah pintu. Tok tok tok Alen mengetuk pintu toilet itu, dirinya dibuat panik. Tetapi tiba-tiba saja pintu itu terbuka dengan lebarnya, menampakkan seorang Raina yang sedang berdiri dengan wajah terkejut, tak beda jauh dengan Alen, cowok itu juga dibuat terkejut olehnya. "Aaaaaaa!!!" pekik Raina sambil mendorong wajah Alen menjauh darinya. "Kamu ngapain?! Ngintip ya! Nggak sopan banget siiiih? Aku aduin ke Bu Yuni biar kamu ditambahin hukumannya!" Raina menuduh Alen, membuat cowok itu memelototkan matanya. "Heh, siapa juga yang ngintipin lo? Gue tadi tuh cuma mastiin, lo baik-baik aja atau nggak didalem sana, lagian lama banget didalem kamar mandi, ngapain sih?" tanya Alen. "Dih kepo banget jadi orang, itu masalah cewek. Kamu nggak perlu tau!" balas Raina. "Ohhh ya udah," balas Alen. "Ya udah, aku mau balik ke kelas, permisi dong." ucap Raina sambil melangkah maju ke depan, namun Alen menghalanginya. "Ishh," Raina bergerak ke kanan, dan Alen mengikutinya, Raina bergerak ke kiri dan Alen masih tetap mengikutinya. "Len! Kenapa sih? Minggir, tolong." Raina berkata sambil menatap mata Alen. "Nggak mau," "Aku udah lama di toilet, nanti aku bisa dimarahin sama guru yang lagi ngajar dikelas." ucap Raina. "Lo boleh lewat asalkan..." Alen menggantungkan ucapannya. "Asalkan apa?" tanya Raina. "Nanti pulang bareng sama gue," jawab Alen, wajahnya sangat dekat dengan Raina, membuat gadis itu ketakutan. "Nggak bisa Len," "Kenapa?" Alen berjalan maju perlahan, membuat Raina mundur, hingga tubuhnya menabrak tembok. "Kenapa deket-deket gini sih?" tanya Raina dengan wajah yang panik, tanpa mengindahkan pertanyaan Alen. "Kenapa? Lo takut?" tanya Alen sambil menapakkan kedua telapak tangannya ditembok, mengunci tubuh Raina. "N-nggak kok! T-tapi kamu ngapain sih deket-deket kaya gini?" kesal Raina. "Yakin lo nggak takut sama gue? Kalo misalnya gue apa-apa in lo disini gimana?" tanya Alen dengan senyum smirknya, ia menatap mata Raina intens, membuat gadis itu seakan-akam terbius. "Kemarin kamu bilang kamu bukan psikopat, j-jadi buat apa aku takut." balas Raina mencoba setenang mungkin. Alen mengangguk-anggukkan kepalanya, "Ohh oke." Alen tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajah Raina, membuat Raina memejamkan matanya erat, ia bisa merasakan hembusan nafas hangat milik Alen. Gila ya ni orang, dia mau ngapain sih sebenernyaaaa! "Ahahaahahahaha! Biasa aja kali ekspresinya, tegang amat Ra." Alen tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi Raina yang ketakutan. Alen pun langsung berdiri tegak seperti biasanya, lalu ia mengacak pelan rambut Raina. "Sorry Ra, nggak maksud bikin lo takut, gue nggak bakal ngelakuin hal macem-macem sama cewek lucu kaya lo." lanjut Alen sambil tersenyum manis. Raina bernafas lega, ia memutar bola matanya malas, kesal terhadap sikap cowok dihadapannya ini. Untung saja Alen tidak melakukan hal yang aneh-aneh terhadapnya. "Apaan sih, nggak lucu tau!" "Yang bilang ini lucu juga siapa? Emangnya tadi lo ngira gue bakal ngapain?" tanya Alen berhasil membuat Raina gelagapan. "N-nggak tau," "Lo pasti ngira gue bakal nyium lo ya kan? Hahahahaha! Ya kali gue senekat itu, yaa walaupun sebenernya dari wajah lo kelihatan pengen," ceplos Alen, ngawur. Tak! Satu jitakan keras mendarat dikepala Alen dengan mulusnya, membuat cowok itu meringis kesakitan. Raina benar-benar kehabisan kesabaran, tangannya sudah gatel ingin menjitak Alen sedari tadi. "Aww! Kok dijitak sih Ra? Sakit nih," adu Alen sambil mengusap-usap kepalanya, ia berharap kepalanya itu tidak benjol. "Rasain! Lagian kalo ngomong seenak jidat! Siapa juga yang pengen dicium sama kamu! Mending kalo kim taehyung, lah ini kamu, siapa juga yang mau wleee!" Raina mengejek sambil menjulurkan lidahnya, membuat Alen terkekeh geli. "Iya deh iya...Raina cantik," balas Alen, membuat pipi Raina tiba-tiba bersemu merah, karena tak ingin Alen melihatnya, Raina pun segera berlari dan pergi meninggalkan Alen sendirian. "Cieee blushing! Gue liat tadi Raa! Percuma lo kabur," teriak Alen dari dalam toilet sehingga Raina masih bisa mendengarnya. Raina menepuk-nepuk jidatnya, ia merutuki dirinya sendiri, kenapa bisa ia merona seperti itu, sama Alen lagi. ✨✨✨ Jam pelajaran fisika telah habis, kini saatnya pelajaran Seni Budaya untuk kelas 11 IPA 5. Sambil menunggu gurunya datang, Raina asik mencoret-coreti buku tulisnya yang berada dihalaman paling belakang. "Aduhhh Ra, gimana nih? Habis ini pelajaran seni budaya," ucap Via terlihat gelisah dan panik. "Kenapa emangnya? Kamu nggak bawa lks nya?" tanya Raina. "Bukan itu, minggu lalu Pak Andre ngasih tugas buat nyiapin lagu untuk dinyanyiin didepan kelas, dan gue nggak bisa nyanyiii gimana dong?" ucap Via merasa bingung. "Hah? Seriusan ini ntar disuruh nyanyi didepan? Gila apa ya, aku kan nggak tau tentang tugas itu, mana belum ada persiapan lagi," Raina ikut-ikutan panik. "Nah itu mang--" "Assalamualaikum anak-anak," ucap seorang guru laki-laki, sambil menggendong tas ransel dan membawa sebuah gitar. "Wa'alaikumsalam, Pak..." jawab murid-murid serentak. "Aduh kan, mampus lo belum tau apa yang bakal dinyanyiin!" "Aduh! Ini beneran jadi nyanyi nya? Suara gue cempreng woyyy!" "Tenang aja, untung suara gue lumayan, setiap hari jadi penyanyi kamar mandi kok." Ucap para siswa dan siswi penghuni kelas ini, ada yang senang karena bisa menunjukkan kemampuannya bernyanyi, ada yang panik dan bingung karena suaranya jelek dan tidak bisa nyanyi, dan ada juga yang biasa saja alias santuy. "Pak, ini jadi nyanyi nya?" tanya salah seorang perempuan yang duduk dibangku paling depan. "Wah, ya jadi dong. Masa saya udah bawa gitar kaya gini nggak jadi sih," balas guru mata pelajaran seni budaya itu, sebut saja namanya Pak Andre, bukan Andre Taulani loh ya. "Yahhhh Pak, kenapa harus jadi sih? Kan saya nggak bisa nyanyi Pak, malu." sahut Via. "Saya nggak nilai kalian dari bisa nyanyi atau nggak, yang saya nilai hari ini adalah kemauan kalian untuk maju dan menunjukkan suara kalian," balas Pak Andre. "Ya sudah, tidak usah lama-lama, langsung saya panggil menurut absen, absen satu; Abidzar Umar," panggil Pak Andre. "Nggak masuk Pak!" sahut anak-anak. "Lanjut absen dua; Adilla Cahya," panggil Pak Andre lagi. "Ehhh ehh belum siap Pak, masih ngehafalin lirik, tinggal dikit lagi kok Pak," balas siswi yang bernama Adilla itu. "Alasan saja terus, sampai anak absen tiga nggak siap maju juga, bakalan saya jemur kalian dilapangan sambil nyanyi lagu dangdut!" ancam Pak Andre, membuat murid-muridnya takut. "Absen tiga; Alen Dirgantara," panggil Pak Andre, membuat seisi kelas menoleh kearah bangku milik Alen. Cowok yang sedang dipanggil itu kini ternyata sedang enak tidur dengan melipat kedua tangannya dan menenggelamkan kepalanya disana, ia kelelahan karena telah membersihkan kamar mandi tadi. "Len! Len! Bangun Len! Lo dipanggil sama Pak Andre! Please Len, buruan maju elahhh! Jangan ngebo lu! Ntar kalo lo nggak maju anak-anak sekelas ini bakalan dijemur sambil nyanyi lagu dangdut! Emang lo mau?" Devan berucap sambil menepuk-nepuk pundak Alen, bermaksud membangunkannya. "Mana ini si Alen?" tanya Pak Andre sambil celingak-celinguk. "Ini Pak ada kok! Sebentar Pak." sahut Devan. "Van, Van! Buruan lo bangunin si Alen, nyawa kita taruhannya nih!" "Iya Van buruan!" "Alen ganteeenggg! Bangun dongggg!!" seru anak-anak sekelas. "Len Alen! Bangun woyyy! Monyet lu!" ucap Devan. Alen yang merasa tidurnya terusik itu pun akhirnya membuka matanya, ia terlihat kebingungan, kenapa semua pasang mata melihat ke arahnya. "Ada apa sih ini?" "Ada apa-ada apa, lo tuh dipanggil sama Pak Andre buat maju ke depan nyanyi, buruan dah!" ucap Devan sambil mendorong Alen yang masih setengah sadar. "Nyanyi apaan? Emang mau ada hajatan apa?" tanya Alen. "Saya hitung sampai tiga, kalau saudara yang bernama Alen tidak maju, siap-siap kalian saya jemur ditengah lapangan sana," peringat Pak Andre membuat semuanya panik. "Satu..." "Alen! Buruan ih!" panggil Raina sambil menatap Alen dengan membulatkan kedua matanya. "Dua..." "Cewek gua nyuruh maju, ya udah gue maju dulu bro," ucap Alen setelahnya, ia pun langsung berdiri dan melewati bangku milik Raina, dengan spontan Alen menarik tangan Raina untuk ikut berdiri dan maju ke depan bersamanya. Raina yang diperlakukan seperti itupun langsung terkejut, "Alen! Ngapain narik aku sih?" Alen tersenyum menggoda, "Mau ijab kabul kan Ra, lo lupa?" ucap Alen dan berhasil membuat anak-anak satu kelas menyoraki mereka dengan histeris, sedangkan Raina, ia membulatkan matanya dengan sempurna. "Apaan sih!" "Pak, boleh duet kan nyanyi nya?" tanya Alen pada Pak Andre saat sudah sampai didepan. Pak Andre terlihat berfikir, "Hmm, ya boleh, asalkan kompak, jangan amburadul." ucap Pak Andre. "Oke! Siap Pak!" balas Alen sambil mengambil dua kursi kosong. "Gitarnya Pak?" tanya Alen, lalu Pak Andre langsung memberikan gitarnya kepada Alen, Alen pun segera menerimanya dan duduk dikursinya. Raina masih terlihat kebingungan berada didepan saat ini, pasalnya ia belum siap sama sekali, ingin rasanya ia menjitak kepala Alen dengan lembut. "Ra, duduk dong." Alen berucap sambil menarik tangan Raina, gadis itu pun akhirnya duduk disebelah Alen. Raina melirik Alen dengan tajam, "Kamu mau buat aku malu ya! Aku tuh belum siap tau," ucap Raina. "Udah tenang aja, lo hafal lagu apa? Lagu yang paling lo suka dan sering lo dengerin," tanya Alen. "Lagu K-Pop, BTS, BLACKPINK, EXO, kayak gitu?" "Eh jangan dong, yang lain-yang lain, masa mau nyanyi lagu korea?" "Lagunya Shawn Mendes yang Imagination lo bisa nggak?" tanya Alen. "Ahh iya! Bisa banget! Lagunya pacar aku ituuu!" Raina nampak exited. Alen memutar bola matanya, "Halu ae ni bocah, yang nyata ada disini malah nggak diliat," celetuk Alen. "Apa kamu bilang?" "Nggak." "Ekhem, apakah bisa dimulai sekarang?" tegur Pak Andre. "Oh, bisa kok Pak." "Mulai nih ya," Alen memberi aba-aba. "Oke." Alen mulai memetik gitarnya, mengalunkan nada yang indah, membuat seisi kelas seketika hening, dan saat Alen menganggukkan kepalanya sekali memberi tanda jika ini sudah masuk kedalam lirik awal, Raina pun mulai bernyanyi mengeluarkan suara halusnya. Oh, there she goes again Every morning it's the same You walk on by my house I wanna call out your name Suara Raina yang lembut dan merdu membuat seisi kelas terpukau dibuatnya. I want to tell you how beautiful you are from where I'm standing You got me thinking what we could because I keep craving, craving, you don't know it but it's true Can't get my mouth to say the words they want to say to you This is typical of love Can't wait anymore, I won't wait I need to tell you how I feel when I see us together forever Dan saat dibagian reff, kini Alen ikut bernyanyi bersama Raina, memadukan suara mereka berdua, membuat anak-anak seisi kelas memekik tertahan, apalagi saat mereka berdua saling adu tatap, membuat yang jomblo pada gigit jari dan baper sama mereka berdua. In my dreams you're with me We'll be everything I want us to be And from there, who knows, maybe this will be the night that we kiss for the first time Or is that just me and my imagination. (sampai selesai) "Woaaaaaaaahhhh!" teriak teman-teman mereka sekelas, mereka memberikan tepuk tangan sangat meriah, semua pada heboh dan takjub, padahal penampilan mereka hari ini bisa dibilang mendadak. Pak Andre pun ikut memberikan tepuk tangan, sambil berdecak kagum pada kedua muridnya ini. "Wah, penampilan yang sangat bagus, saya sangat suka, kalian berdua saya beri nilai 98," ucap Pak Andre, membuat Alen dan Raina tersenyum senang. "Tuh kan, gue bilang juga apa, pokoknya kalo sama gue nilai lo makin bagus." ucap Alen menyombongkan dirinya. "Iya-iya anak pinter." "Tos dulu dong sama gue," ucap Alen sambil mengangkat tangan kanannya. Lalu Raina membalasnya, ia menepukkan tangan kanannya ditangan Alen, ber high five. Tanpa sadar, Alen mengacak rambut Raina gemas, dan lagi-lagi perlakuan Alen itu membuat teman-teman sekelasnya berteriak histeris dan men cie-cie kan mereka berdua. "Pacaran aja udaaahhh kalian berduaaa!!!" teriak Devan dengan kerasnya. Dan lagi-lagi Raina dibuat malu dan bersemu oleh seorang Alen. ✨✨✨ To be continued... Semoga suka sama ceritanya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN