14. Nonton Bareng

3371 Kata
CHAPTER 14: NONTON BARENG Alen berjalan dikoridor sekolah yang sepi, pasalnya semua murid-murid sudah pergi untuk menuju kantin guna mengisi perutnya yang keroncongan. Tetapi langkah Alen tidak menuju kesana, kakinya melangkah menuju ruang ekstra karate, guna mengecek perlengkapan yang akan ia gunakan saat pertandingan karate beberapa hari ke depan. Tetapi tiba-tiba saja ada seorang gadis yang menghadangnya tepat didepan ruang jurnalistik. "Hai Kak Alen!" sapanya sambil tersenyum ramah. "Hai." balas Alen singkat, cowok itu langsung menyingkirkan gadis itu agar ia bisa lewat. "Minggir, gue mau lewat." ucap Alen. "Ehhh Kak Kak! Sebentar duluuu! Aku mau ngomong," ucap gadis itu, Alen memperhatikannya, wajahnya sepertinya tidak asing, ah iya Alen baru ingat, gadis ini adalah adik kelasnya yang waktu itu. "Apa?" "Kemarin kan aku kasih coklat buat Kak Alen, udah Kak Alen makan atau belum?" tanyanya. "Udah," balas Alen. "Hah? Serius Kak? Demi apa Kak Alen makan coklat pemberian aku?! Beneran Kak? Nggak bohong kan? Sumpah? Aku seneng bangeeeettt!" serunya dengan menunjukkan ekspresi yang sangat gembira. Alen hanya menatapnya dengan tatapan datar dan cuek, "Ya." "YESSSS! MAKASIH KAKKKK!" serunya lagi, masih menunjukkan wajah yang berseri-seri, ia sangat senang karena coklat pemberiannya sudah dimakan oleh Alen, itu merupakan suatu bentuk keberuntungan. Karena biasanya Alen jarang atau bahkan tidak pernah memakan coklat, kue, atau makanan lain yang diberikan oleh penggemarnya. "Udah kan? Gue mau pergi dulu," ucap Alen. Tetapi saat Alen baru saja melangkahkan kakinya beberapa langkah, tiba-tiba saja gadis itu memanggilnya lagi. "Kak. Boleh kenalan nggak? Nama aku Freya Anindita Maurin, Kakak bisa panggil aku Freya, aku dari kelas X IPS 3." ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya, persis seperti beberapa hari yang lalu. Awalnya Alen hanya menatap tangan itu, tetapi akhirnya Alen langsung membalas jabatannya, sambil mengangguk. Freya yang dibalas jabatannya itu pun langsung mendelik tak percaya, ia baru saja merasakan genggaman tangan Alen, tak tahu bagaimana lagi caranya mengekspresikan kesenangannya hari ini, sebut saja jika Freya alay, tetapi memang itulah yang ia rasakan, pasalnya Freya sudah menyukai Alen sejak ia MOS disekolah ini. Alen melepaskan jabatannya, cowok itu langsung pergi meninggalkan Freya yang masih terkejut. "Kak! Makasih yaaaa!" teriak Freya pada Alen yang sudah mulai menjauh. Alen dapat mendengarnya, tetapi cowok itu hanya acuh, ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju ruang ekstra karate. "Fre! Lo kenapa senyam-senyum kayak gitu? Habis kesambet?" tanya Gea--teman satu kelas Freya yang tiba-tiba ada disebelah Freya. "Iya gue habis kesambet. Kesambet cintanya Kak Aleeeennnn! Oh my god! Gue jadi tambah nge-fans sama diaaaa! Lo tau gak? Coklat yang kemarin gue taruh dilaci mejanya dimakan tauuuu! Terus tadi gue ngenalin diri gue ke dia, lo tau respon dia apa? Disalamin balikkk!" ucap Freya menggebu-gebu, lalu ia mencium tangan kanannya yang baru saja dipegang oleh Alen tadi, menghirupnya dalam-dalam, "Wanginya cowok banget..." "Sumpah lo demi apa?! Lo habis dipegang tangannya sama Kak Alen? Pakek jampi-jampi apa lo? Parah." takjub Gea geleng-geleng sendiri. "Gue aja yang nge-fans dari dulu cuma berani ngeliatin doang dari jauh, elo malah berani kayak gitu ke dia." lanjutnya. "Ya iya dong. Freya gitu loh!" ✨✨✨ Alen sedari tadi hanya memperhatikan Pak Umar yang tengah menerangkan pelajaran Bahasa Inggris tentang report text dan narrative text. Ia sebenarnya sangat mengantuk dan ingin tidur, ralat, sebenarnya Alen tadi sudah ingin bolos dipelajaran Bahasa Inggris ini, tetapi tadi Raina sempat melarangnya. Jadinya, berada lah ia disini, didalam kelas XI IPA 5. Duduk anteng bersama Devan yang sudah terlelap sedari tadi, temannya yang satu ini memang suka ngebo. Alen sebenarnya juga mengantuk, ademnya air conditioners atau pendingin ruangan itu membuat Alen ingin memejamkan matanya sekarang juga. Namun, niat itu ia urungkan, saat Raina meliriknya bolak-balik sedari tadi, sudah seperti CCTV. Teng! Teng teng teng. Bla bla bla. *anggap suara notifikasi sekolah. "Mohon maaf kepada Bapak Ibu guru yang sedang mengajar dikelas, diharapkan semua Bapak Ibu guru dan seluruh staff tata usaha, sekarang juga dimohon hadir dan berkumpul diruang guru. Dikarenakan ada rapat kepentingan dari Bapak kepala sekolah." suara siaran itu berasal dari ruang tata usaha, dan langsung terdengar dan ter-sampaikan disemua sudut sekolah ini. Semua murid yang mendengar siaran itu pun langsung bersorak senang, keadaan kelas yang tadinya hening langsung ramai seketika, mereka semua kesenangan karena tiba-tiba saja guru-guru rapat, dan mereka akan jamkos setelah ini. "Yes! Mantul bener!" ucap Devan yang kini sudah membuka matanya saat mendengar berita bagus itu. "Yeh! Tau ada berita jamkos aja langsung bangun lo nyet!" cibir Alen pada Devan. Lelaki itu pun langsung nyengir, "Hehehe yaiya dong! Jamkos itu waktu paling berharga, enak kan kagak ada pelajaran." ucap Devan. "Ada pelajaran sama kagak ada pelajaran lo juga gak pernah merhatiin, selalu molor!" balas Alen. "Wah, lo gak ngaca yak? Lo juga gimana woy?" tambah Devan. "Kan gue pinter, gak kayak lo!" sahut Alen dengan kejamnya. Devan mendengus, ia tidak bisa membalas perkataan Alen lagi, cowok itu menyadari jika dirinya memang bodoh, sabar Van. Pak Umar yang tadinya sedang menerangkan pelajaran didepan, kini langsung kembali ke mejanya guna merapikan semua buku-bukunya. Semua murid yang tadinya berisik kini langsung diam untuk memberikannya celah berbicara. "Mohon maaf anak-anak, pelajaran Bahasa Inggris hari ini cukup sampai disini, saya mau rapat dulu. Jangan lupa ya semua yang saya tulis dipapan ini dicatat dibuku catatan khusus Bahasa Inggris kalian masing-masing." ujar Pak Umar sembari berpamitan. "Siap Pak!" "Oke Pak!" "Iya Pak! Hati-hati ya Pak! Sebenernya saya masih pengen ngikutin pelajarannya Pak Umar, ehh malah Bapak ada rapat." ucap salah satu murid laki-laki, sangat berbohong. "Hilih! Pencitraan aja lu dugong!" sahut Alen pada temannya itu, dan langsung didukung oleh teman-temannya yang lain. "Ya sudah, kalau gitu saya pergi dulu. Assalamualaikum wr.wb." salam Pak Umar sambil berjalan keluar kelas. "Wa'alaikumsalam wr.wb." balas murid-murid serentak. Setelah Pak Umar pergi, suasana kelas pun kembali ribut, ada yang langsung bergerombol untuk bergosip, ada yang langsung keluar kelas untuk menuju kantin, ada yang langsung mengeluarkan ponselnya untuk selfie, ada yang mengeluarkan laptopnya untuk menonton film, dan ada juga yang sedang mencatat tulisan Pak Umar dipapan tulis. Alen melihat ke sekeliling, ia merentangkan kedua tangannya keatas, merenggangkan otot-ototnya yang kaku, Alen menguap lebar, membuat matanya itu langsung merah dan berair. "Basket yuk Len!" ajak Devan. "Ogah, males gue." balas Alen sambil memasukkan buku-bukunya yang berserakan ke bawah meja. "Gak seru lo!" Alen tak menggubris perkataan Devan, cowok itu langsung mengambil jaket jeansnya dan langsung berdiri dan berjalan menghampiri bangku Raina, gadis itu terlihat masih mencatat tulisan yang ada dipapan. "Mau kemana lu nyet?" seru Devan saat tau jika Alen menghampiri bangku Raina. "Urusan, jomblo gak usah ikut-ikut," sahut Alen, dan langsung membuat Devan ingin melemparkan sepatu ke arahnya. "Ra," panggil Alen membuat gadis itu menoleh. "Iya Len?" "Ikut gue yuk?" ajak Alen. "Kemana?" tanya Raina sambil melanjutkan tulisannya. "Udah pokoknya ikut aja, ayo." ajak Alen lagi. "Tapi ini belum selesai nyatetnya, Len." balas Raina. "Udah gampang, kan masih bisa nyontek punya Via, nanti gue yang tulisin." ujar Alen, membuat Raina langsung mendongak menatapnya lagi. Raina menghela napasnya, "Oke-oke." Raina pasrah. "Pia, aku keluar dulu ya, nggak apa apa kan?" pamit Raina pada Via. "Iya Ra, nggak papa kok, yang baru jadian mah bebas," balas Via menyindir, gadis itu memang sudah tau beritanya. "Apa sih!" Setelah itu, Raina pun langsung mengemasi buku-bukunya, dan langsung berdiri. "Ayooo!" Alen dan Raina pun berjalan keluar kelas, dikoridor banyak yang memperhatikan mereka berdua, karena Alen merangkul pundak Raina. Ada yang melihatnya dengan tatapan tidak suka, iri, senang, dan berbagai macam tatapan lainnya. Pasalnya, berita Alen dan Raina pacaran itu sudah menyebar luas disekolah ini, gara-gara semalam Alen mengupload foto Raina tanpa ijin ke i********:, dan banyak komentar-komentar netizen yang muncul disana. "Mereka kenapa pada kayak gitu sih ngelihatinnya?" tanya Raina risih karena ditatap seperti itu. "Udah, biarin aja. Kamu jangan ngelihatin mereka, liat aku aja." balas Alen sambil tersenyum kearah Raina, hal itu membuat Raina menahan senyumnya, karena barusan Alen mengatakannya dengan panggilan Aku-Kamu. Tak lama akhirnya langkah mereka berhenti diparkiran motor, Raina mengernyit bingung, untuk apa Alen mengajaknya ke parkiran? "Mau ngapain kesini?" tanya Raina. "Bolos," balas Alen dengan entengnya, cowok itu langsung melepaskan rangkulannya saat sudah berada didepan motornya. "Hah? Bolos? Gak ah! Ngapain sih? Nanti kalo ketauan kita bisa dihukum Alen!" omel Raina tak menerima ajakan Alen. "Ini kan lagi jamkos Ra," sahut Alen yang kini sudah memakai helmnya. "Ya walaupun jamkos tapi kan gak boleh keluar sekolaaaah!" Alen langsung menatap Raina dan tersenyum manis kearahnya, "Enggak apa-apa Raina sayang, aman kok, percaya deh sama aku." kata Alen. Melihat senyuman dan perkataan lembut itu, rasanya langsung berhasil membuat Raina meleleh dan ingin menurutinya. "T-tapi--" "Apa? Beneran kok nggak papa, nggak bakalan dihukum, ayo buruan naik," ucap Alen yang sudah naik ke atas motornya. Raina tampak ragu, gadis itu masih terus memerhatikan Alen dan motornya, merasa ada yang janggal dipenglihatannya. "Loh, ini motornya siapa? Kamu nggak salah motor kan?" tanya Raina saat melihat motor yang dinaiki Alen bukanlah motor yang biasanya. "Enggak, ini motor gue yang satunya. Ninja yang biasanya gue pake lagi diservice dibengkel, nggak papa kan naik motor KLX?" tanya Alen pada Raina. "Ohhh, nggak papa." balas Raina. "Yaudah ayo, kenapa masih diem disitu?" tegur Alen. Raina masih ragu untuk naik ke motor Alen, ia takut jika Raka mengetahui dirinya pergi keluar sekolah bersama Alen. "Iya ini mau naik." Raina pun langsung naik keatas motor KLX Alen yang tinggi itu. Setelah Raina sudah memposisikan duduknya dengan pas, akhirnya Alen pun langsung melajukan motornya itu keluar gerbang sekolah yang sedang tak dijaga oleh Pak Amin, seorang satpam disekolah ini. Didalam perjalanan tak ada yang bersuara, Alen fokus mengendarai motor, sedangkan Raina asik menikmati terpaan angin yang membuat rambutnya itu bergerak kesana-kesini. "Pegangan Ra, gue mau ngebut." suruh Alen sambil mengambil tangan Raina yang ada dibelakangnya, dan langsung ia arahkan ke pinggangnya. Raina pun langsung menuruti, gadis itu jadinya duduk lebih maju kedepan, tangannya bergerak untuk memeluk tubuh Alen dari belakang, tanpa sadar gadis itu juga menopang dagunya dipundak Alen, membuat Alen tersenyum. Motor Alen pun langsung melaju dengan kecepatan diatas rata-rata, membelah padatnya kendaraan dijalan Ibukota.  *motornya Alen. ✨✨✨ Alen memarkirkan motornya di basemant setelah dirinya menerima karcis parkir tadi, Raina turun dari motor Alen, ia tidak menyangka jika ternyata cowok ini mengajaknya ke mall. "Ngapain kesini Len?" tanya Raina. Alen melepaskan helmnya dan ia taruh dispion motornya, "Jalan-jalan Ra," balas Alen sambil menyisir rambutnya ke belakang. "Kenapa harus ke mall coba? Kita kan lagi pake seragam dan ini itu masih jam sekolah, nanti kalo diusir gimana?" tanya Raina. "Kan kita lagi pake jaket, jadi nggak kelihatan kalo lagi pake seragam Ra, cuma kelihatan bawahannya doang yang putih, ini kan seragam almamater." balas Alen. Raina menghembuskan napasnya, mengalah, "Hufttt okeeey." Tangan Alen tiba-tiba terangkat untuk membenahi rambut Raina yang sedikit berantakan karena terkena angin tadi. Raina hanya diam menerima perlakuan manis Alen, ia mengamati wajah Alen yang terlihat sangat fokus mengurusi rambutnya. Mulai dari alisnya yang tebal, iris mata yang berwarna hitam legam, hidung mancung dan rahang yang kokoh, pahatan yang indah. Jelas saja jika banyak perempuan yang mengejar-ngejar Alen untuk dijadikan pacarnya. "Ganteng ya?" celetuk Alen tiba-tiba, membuat Raina langsung tersadar dari amatannya pada Alen. "Ih apasih! Pede banget!" elak Raina, dirinya jadi malu sendiri sekarang. Alen pun hanya terkekeh menanggapinya, ia sudah selesai merapikan rambut panjang Raina. Setelah itu ia pun langsung mengamit jemari Raina untuk ia genggam dan mereka pun langsung berjalan menuju lift. Tujuan pertama Alen mengajak Raina kesini adalah untuk menonton film, jadi Alen langsung memencet tombol lift untuk menuju ke lantai 4. Setelah sampai dilantai 4, akhirnya Alen dan Raina langsung masuk kedalam lobby bioskop, dan Alen menyuruhnya untuk menunggu saja disini, biar Alen yang mengantre. "Len, nonton yang romance atau komedi yaaa? Jangan nonton film horror," pinta Raina. "Oke." jawab Alen, "Tunggu disini aja ya Ra, jangan kemana-mana." peringat Alen. "Iya," balas Raina, setelah itu Alen pun pergi untuk mengantre membeli tiket bioskop, untung saja antrean-nya tidak terlalu panjang, karena ini masih jam kerja dan jam sekolah. Raina yang sedang duduk dikursi tunggu pun langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, ia ber-selfie, membuka i********:, line, dan terakhir membuka i********: lagi guna melihat i********: stories teman-temannya yang sedang ada disekolah dan beberapa artis dan selebgram yang ia ikuti. Setelah beberapa menit ia menunggu Alen sampai bosan, akhirnya Alen datang sambil membawa dua tiket dimulutnya dan satu popcorn caramel berukuran besar dan dua gelas minuman semacam starbucks. "Bantuin Ra," ucapnya kurang jelas, karena Alen sedang menggigit dua tiket yang ia beli. Raina yang melihat Alen kesusahan akhirnya langsung membantu cowok itu untuk membawa popcornnya. "Kenapa beli yang besar?" "Nggak papa, biar puas Ra." jawab Alen. "Nonton apa jadinya?" tanya Raina. "Udah, nanti liat aja sendiri, habis ini filmnya mulai kok." balas Alen dan Raina hanya mengangguk mengiyakan. Ting ting tung teng! "Pintu teater dua telah dibuka, para penonton yang memiliki karcis, dipersilahkan memasuki ruangan teater, mohon perhatian anda, pintu teater dua telah dibuka--" Suara pemberitahuan itu terdengar ditelinga Alen dan Raina, mereka berdua pun langsung masuk kedalam ruang teater dua, tempat dimana mereka menonton filmnya. Setelah Alen memberikan tiketnya, akhirnya mereka berdua pun langsung masuk dan menaiki anak tangga guna mencari tempat duduk yang sudah Alen booking. Alen dan Raina kini sudah duduk dikursinya masing-masing, Alen sangat pas mencari kursi, ia mencari kursi dibagian tengah dan sangat nyaman tempatnya. Beberapa iklan dan trailer film lain pun ditampilkan dilayar putih yang lebar itu, para penonton juga sudah mulai banyak yang berdatangan dan menduduki kursinya masing-masing. Setelah beberapa menitan menampilkan iklan dan trailer, akhirnya film pun dimulai. Suara piano yang sangat cekat ditelinga dan suara nyanyian lagu sunda membuat Raina langsung mendelik dan menoleh ke arah Alen dengan tatapan tajam. "Alen! Kok film horror sih jadinyaaa?! Ihhhh kamu sengaja ya? Itu bukan film romance tau! Itu Danur!" ucap Raina sambil meremat tangan Alen yang ada disebelahnya. "Iya gue tau itu emang film horror Ra, kan romantis ntar bakalan." sahut Alen seenak jidat. "Romantis apanya sih! Aku gak suka nonton film horror, ada trailernya ditayangin di tv aja aku gak berani lihat, apalagi suara nyanyiannya itu, kebayang-bayang terus tau gak?" kesal Raina. "Ada gue Ra, tenang aja. Hantu nya lucu-lucu kok, masih kecil-kecil, gemoy," balas Alen yang langsung menatap kembali kearah layar lebar itu. "Ishh Aleeen!" Raina kesal, ia mengerucutkan bibirnya, ia sedari tadi hanya memiringkan kepalanya menatap ke wajah Alen terus, karena ia tak berani melihat kearah layar. Suara-suara dentuman dan suara jumpscare mulai keluar, Raina masih bisa tahan dengan suara itu, tetapi saat ada suara Prilly Latuconsina yang menjadi Risa di film itu mulai bernyanyi lagu boneka abdi, tiba-tiba saja Raina langsung menutup kedua telinganya sangat rapat, matanya juga ia pejamkan erat-erat. Alen yang menyadari pergerakan Raina itu, langsung beralih menatap Raina yang terlihat ketakutan. "Nggak mau denger itu, nggak mau, nggak mauuu." Raina berucap sambil terus menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ra, Ra? Lo takut beneran? Sorry Ra, gue nggak maksud bikin lo ketakutan.." jelas Alen sambil memeluk Raina dari samping. Gadis itu sepertinya sedang menangis, Alen merutuki dirinya sendiri, ia telah membuat Raina ketakutan seperti itu. "Aku nggak mau lihaatt!" kata Raina sambil membuka sedikit matanya, gadis itu sedikit tersentak saat mengetahui jika wajah Alen berada sangat dekat didepan wajahnya. "Iya-iya nggak usah diliat, liatin gue aja." ucap Alen sambil mendekatkan tubuh Raina kearahnya, lengan kiri Alen masih merangkul Raina, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menggenggam tangan Raina yang dingin. ✨✨✨ Setelah satu jam lebih mereka ada didalam bioskop akhirnya mereka pun keluar bersama penonton yang lain. Raina tampak lega saat sudah berada diluar bioskop, ia benar-benar kesal pada Alen yang ternyata malah mengajaknya nonton film horror. "Sorry ya Ra..." ucap Alen ke sekian kalinya. "Hmm." Tetapi jawaban deheman dari Raina saja itu tidak cukup untuk membuktikan jika Raina tidak marah padanya. Karena sedari tadi saat filmnya sudah habis, Raina langsung melepaskan rangkulan Alen dari pundaknya, dan langsung menekuk wajahnya. "Masih kesel ya? Makan aja yuk sekarang? Pasti laper kan?" tanya Alen. "Balik ke sekolahan aja," jawab Raina tanpa menatap Alen. "Rugi kalo balik sekarang Ra, nanti malah ketauan kalo kita bolos, bel pulangnya masih satu jam lagi, rapatnya tuh lama." ujar Alen. "Ya udah, pulang kerumah aja," balas Raina, terdengar cuek ditelinga Alen. "Kok malah pulang? Jangan dong. Gue beliin es krim aja ya? Lo suka es krim kan? Gelato deh dua cup, atau tiga cup?" tanya Alen menawari Raina. Saat Raina mendengar tawaran itu, hatinya langsung bersorak mengatakan iya mauuu, tapi bibirnya mengatakan hal lain. "Enggak." Satu kata itu mencelus keluar dari mulut Raina, biar pun itu sulit untuk dikatakan, tapi mau bagaimana lagi? Raina masih kesal. Alen menghembuskan napasnya berat, ia bingung harus melakukan hal apa agar Raina tidak kesal lagi dengannya. Tiba-tiba saja, Alen langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Raina, membuat Raina mundur was-was, karena ini masih diarea lorong bioskop, tetapi sepi. Raina menahan napasnya, ia bisa merasakan deru nafas Alen, beberapa senti lagi hidung mereka pasti akan menempel. "Jangan marah sayang, Alen nya minta maaf ya?" Alen berbisik didekat telinga Raina, membuat gadis itu langsung merinding mendengarnya. Jantungnya serasa ingin keluar dari tempatnya, saat mendengar suara berat dan pelan itu. Raina meneguk ludahnya dengan susah payah, entah kenapa hatinya langsung luluh saat mendengar kata sayang dari Alen. Alen pun menjauhkan wajahnya dari Raina, cowok itu tersenyum geli saat melihat wajah Raina yang memerah, gadis itu tampak seperti patung pajangan. "Ayo Raina sayang." ajak Alen sambil meraih tangan kanan Raina yang dingin. Tetapi gadis itu masih diam sambil mengerucutkan bibirnya kedepan, matanya yang bulat itu terlihat memerah dan berair. "Kenapa ngelihatinnya kaya gitu?" tanya Alen, tetapi Raina hanya menggeleng pelan. "Itu juga kenapa bibirnya dimaju-majuin, pengin dicium ya?" tanya Alen lagi, dan seketika saja Raina langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Enggaaaakkk!" "Terus?" "Jadi beliin es krimmm." ucap Raina dengan nada manjanya, tetapi itu langsung keluar begitu saja, tanpa sengaja. Alen terkekeh, "Iya ayo." ✨✨✨ Ting! Suara notifikasi pesan masuk dari ponsel Raina, gadis itu pun langsung mengeceknya, ternyata dari Via. Piaaa: Ra, lo ada dimana sih sekarang? Dari tadi gue cariin disekolah gak ada. Raina dengan cepat langsung membalas. Raina: Lagi di mall sama Alen. Kenapa emangnya? Piaaa: What?! Mall? Gila lo ya? Parah banget lo Ra. Dari tadi gue nyariin elo, ternyata malah asik di mall. Raina: Iya maaf ya piaaaa. Piaaa: Gue bingung nih sekarang. Raina: Bingung kenapa? Piaaa: Kakak lo tadi nyariin lo kekelas, dia nanyain lo ke gue. Raina: Hah? Yang bener? Terus km bilang gimana? Piaaa: Ya gue bilang aja kalo lo lagi ada urusan diluar kelas. Terus dia langsung pergi deh. Raina: Ohh yaudah, makasih ya Pi. Piaaa: Iya, mendingan sekarang lo buruan balik ke sekolah deh, keburu ada guru yang tau ntar. Raina: Oke. Raina pun langsung meletakkan kembali ponselnya diatas meja, dan melanjutkan memakan es krimnya. "Siapa Ra?" tanya Alen. "Via." "Kenapa?" "Via bilang tadi Kak Raka habis nyariin aku ke kelas," balasnya. "Ngapain?" "Enggak tau deh, terus katanya Via mendingan kita cepet-cepet balik ke sekolah, sebelum guru-guru pada tau." balas Raina. "Iya," sahut Alen. "Raka tau kalo kita pacaran?" tanya Alen. Raina terdiam sebentar, lalu menggeleng, "Mungkin enggak." "Tapi beritanya kita pacaran itu udah nyebar Len, gara-gara kamu ngepost foto aku kemarin, semuanya pada heboh kan jadinya." kata Raina. Alen meringis, "Iya sih." "Raka itu nggak suka kalo aku deket-deket sama kamu, dia itu kaya nggak suka banget sama kamu," Raina menjedanya, "Ehh tapi jangan marah, jangan tersinggung ya?" Alen menggeleng, "Buat apa marah? Gue gak pernah tersinggung karena hal itu. Lagian gue emang nakal kan? Gue sadar dan gue sebenernya gak pantes jadi pacar lo Ra," ujar Alen. Raina langsung merasa tidak enak, "Tuhkan mulai lagi jelek-jelekin diri sendiri, nggak boleh. Kurang-kurangin deh perasaan kaya gitunya, malah kadang sebenernya aku yang ngerasain 'apa aku pantes pacaran sama kamu'? Soalnya kamu kan banyak yang suka, diluaran sana banyak cewek yang lebih cantik, populer, tapi kenapa kamu malah milih aku?" tanya Raina pada Alen. "Karena gue sayangnya sama lo," balas Alen. "Kalo lo, kenapa mau jadi pacar gue? Bisa aja kan kemarin itu lo nolak gue?" tanya Alen. "Ya karena aku juga---mm j-juga---juga---" Raina menggantungkan ucapannya, terlihat sedang berfikir. "Juga apa?" "It-ttu--loh.." Raina mendadak gagu. "Itu apa?" desak Alen. "Sayang sama Alen." kata Raina sambil meremat kedua tangannya dibawah sana. Mendengar perkataan Raina barusan, Alen langsung menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyuman yang tak bisa disembunyikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN