15. Dalam Diri Alen

3801 Kata
✨✨✨ Alen dan Raina baru saja memasuki pekarangan sekolah, mereka baru sampai setelah dari mall tadi. Setelah Alen memarkirkan motornya, ia langsung menarik sebelah tangan Raina untuk kembali menuju ke kelas, sebentar lagi bel pulang akan berkumandang. Koridor utama tampak sepi, hanya ada beberapa murid yang lewat disini, tiba-tiba saja saat dipersimpangan jalan ada seorang lekaki yang menghadang jalan mereka. "Dari mana?" tanya Raka memasang wajah dingin. Raina kaget karena Raka tiba-tiba ada dihadapannya, menatapnya dengan tatapan menghunus, ia tau pasti Raka akan marah padanya. "D-dari--" "Jalan-jalan sama gue," Alen memotong ucapan Raina, membuat gadis yang ada disebelahnya itu mendelik karenanya. Tatapan Raka langsung beralih ke Alen, ia menatap Alen dengan tatapan tak bersahabat, "Lo ajak adek gue bolos?" tanya Raka. "Kalo iya kenapa?" Alen malah balik tanya, wajahnya sangat tenang, tidak seperti Raka yang sudah terlihat mengeraskan rahangnya. "Lo emang gak tau diri jadi orang! Ngapain lo ajak adek gue buat bolos?" Raka langsung mendorong bahu Alen ke belakang, membuat cowok itu langsung mundur beberapa langkah. "Lagi jamkos, guru-guru juga pada gak tau, jadi kenapa?" tanya Alen masih santai. "b******n!" desis Raka, cowok itu langsung melayangkan bogem mentah ke wajah Alen. Membuat Raina langsung terkejut. "Alen!" teriaknya. "Lo kalo dibiarin malah makin ngelunjak! Lo ngajarin yang gak baik buat Raina!!" teriak Raka didepan wajah Alen, wajah cowok itu memerah. Alen menahan rasa nyeri yang menjalar dipipinya, cowok itu menatap nyalang kearah Raka, ia sebisa mungkin menahan agar tidak membalas pukulan Raka. "Besok apa lagi? Lo mau ngajak dia ngerokok? Minum? Apa?" sarkas Raka. "Kak Raka, udah." lerai Raina, gadis itu tampak memohon agar tidak memperpanjang masalah ini. "Gue gak pernah punya niatan sekali pun buat Raina jadi cewek gak bener!" balas Alen. Raka tertawa miring, merendahkan Alen. "Cowok gak bener kayak lo gak cocok buat deket-deket sama adek gue! Lo itu sampah!" Bugh! Alen langsung menghajar Raka dengan gerakan cepat, ia tidak bisa tinggal diam jika harga dirinya diinjak-injak. Kedua cowok itu kini malah berkelahi, Alen menyeret Raka hingga ke tengah lapangan. Raina yang menyaksikannya langsung syok, ia sudah berteriak memanggil kedua nama cowok itu untuk berhenti, tetapi tak ada yang mau mendengarkan. Alen menendang perut Raka, sampai cowok itu terpental kebelakang, didekat ring basket. Raka langsung berdiri dengan tertatih, ia balas memukul Alen diperut, diwajah, kemudian menendang perutnya, sampai cowok itu terbatuk-batuk. Raina kepalang panik, ia sudah mencoba memisahkan keduanya, tetapi tetap saja tak ada yang mau berhenti. "Kak Raka! Alen! Udah!" "Jangan berantem kaya gini! Ini gak akan nyelesaiin semuanya!" Raina berteriak, ia gemetaran sendiri karena melihat kedua laki-laki itu sama-sama terluka dan mengeluarkan darah. Sampai akhirnya bel pulang pun berkumandang, tak butuh waktu lama akhirnya semua murid kini langsung menggerumbuli mereka untuk menonton, bukannya membantu melerai. "LEN! UDAH LEN!!!" suara teriakan itu berasal dari Devan yang baru saja datang, dan menjadi penengah diantara mereka. Devan berusaha menjauhkan keduanya, tetapi tenaganya tak cukup untuk menahan kedua cowok yang sudah sama-sama murka ini. "KAK RAKA UDAH!" "ALEN UDAH!" Raina terus berteriak, dari pelipisnya mengalir keringat, gadis itu benar-benar takut dan panik. Kedua cowok itu kini sudah berhenti karena Yuda menarik Raka menjauh, dan Devan melakukan hal yang sama pada Alen. Dada Alen naik turun, napasnya terpenggal-penggal, ia masih emosi. "Jangan pernah lo injek-injek harga diri gue lagi!" "Kenapa? Lo emang sampah kan?" sahut Raka, membuat Alen ingin kembali maju menyerangnya, namun dengan cepat Devan menariknya menjauh. "Udah woy! Si rak buku masih aje nyahut!" balas Devan pada Raka. "Alen! Lo kenapa? Lo gak papa kan? Wajah lo babak belur gini," pekik Pingkan yang baru datang bersama ketiga temannya yang lain. Lisa yang termasuk anggota gengnya itu langsung berpisah dengan Pingkan, cewek itu langsung mengahampiri Raka yang sama babak belurnya. "Raka! Pacar gue! Lo kenapaaa?! Habis berantem sama Alen? Ya ampun! Gara-gara apa sih?" Lisa bertanya dengan beruntun, cewek itu memegang pipi Raka, namun cowok itu langsung menepisnya, membuat Lisa langsung tersentak. Raina yang berdiri ditengah-tengah Raka dan Alen menatap kedua cowok itu bergantian, jika dalam keadaan seperti ini ia bingung, harus memilih menghampiri kakaknya atau pacarnya, Raina dilema. Saat Raina hendak menghampiri Alen, tiba-tiba saja Pingkan langsung memegang pipi Alen dengan mesra, cewek itu juga sangat dekat dengan Alen, hampir seperti berpelukan dari samping. "Wajah lo banyak yang luka, gue obatin ya Len? Nanti keburu infeksi kalo gak cepet diobatin," ujar Pingkan--cewek berseragam nge-pas dibody itu sambil merangkul genit Alen dari samping. Raina yang melihatnya langsung merasakan sakit yang menjalar dihatinya, gadis itu cemburu melihat Alen diperlakukan seperti itu oleh cewek lain. Dan lebih parahnya, Alen tidak menolak sama sekali perlakukan Pingkan padanya, cowok itu hanya diam. Raina terus memperhatikan Alen dan Pingkan, sampai akhirnya Alen tersadar jika Raina sedang memperhatikannya, cowok itu langsung melepaskan rangkulan tangan Pingkan dari lengannya. "Sorry Ping," ucapnya, membuat Pingkan langsung menatapnya kecewa. Alen beralih menatap Raina, cewek itu terlihat membisu dan tak bergeming, ia langsung membuang muka dan berbalik badan, cewek itu langsung berlari dan menjauh dari kerumunan teman-temannya yang menyaksikan perkelahian tadi. "BUBAR WOY BUBAR!!" teriak Devan pada semua teman-temannya, mereka pun langsung berhamburan bubar untuk pulang, untung saja tidak ada guru yang mengetahui. Alen langsung berlari mengejar Raina, gadis itu berlari cepat dari Alen, ia ingin menghindari cowok itu, hatinya benar-benar merasakan sesak saat melihat perlakuan Pingkan pada cowok yang berstatus pacarnya itu. "Ra!" panggil Alen. "Ra! Berhenti Ra!" Alen terus mengejar Raina yang berlari dilorong, mereka berdua berlari berlawanan jalur dengan anak-anak lain yang ingin menuju keluar sekolah. Raina tak peduli dengan banyak orang yang tengah melihatnya dengan kebingungan, ia juga tak sengaja menabrak beberapa anak-anak lain yang berlawanan jalur dengannya. "RA!" akhirnya Alen bisa menggapai tangan Raina, karena mau seberapa jauh Raina berlari pasti Alen bisa mengejarnya, karena langkah Alen lebih besar ketimbang Raina. Alen menarik tangan itu, membuat Raina langsung berbalik badan seketika dengan satu hentakan. Bahkan tubuhnya hampir menabrak tubuh Alen jika ia tidak bisa menahannya. "Apa?" "Lo kenapa lari Ra? Kenapa lo malah pergi?" tanya Alen, tangannya masih mengamit tangan kecil itu. "Kenapa? Masih bisa kamu tanya kaya gitu ke aku?" Raina berujar sambil menatap mata Alen yang juga sedang menatapnya. "Karena Pingkan? Kamu cemburu?" tanya Alen. "Pikir aja sendiri. Cewek mana yang nggak cemburu ngelihat cowoknya dideket-deketin sama cewek lain, udah gitu cowoknya nerima aja gak nolak." cetus Raina kini membuang wajahnya kesamping. Ada rasa yang muncul didalam diri Alen ketika Raina menyebutkan kata cemburu, biarpun tidak secara frontal. "Maaf Ra. Tadi itu gue nggak sadar sama perlakuannya Pingkan, mangkanya gue diem aja. Setelah gue sadar gue juga langsung ngelepasin rangkulannya kan?" ujar Alen, berusaha menjelaskan agar tidak salah paham. "Gak tau," balas Raina acuh. "Kok gak tau sih? Tadi kamu liat kan? Aku nggak mungkin kaya gitu Ra, maaf kalo misalnya perlakuan Pingkan ke aku tadi buat kamu cemburu. Tapi makasih juga Ra, karena kamu udah cemburu, aku seneng." kata Alen sambil tersenyum, begitu manis. Raina masih membuang wajahnya, ia masih enggan menatap Alen. "Jangan marah Ra," ucap Alen, suaranya rendah. "Nggak marah," balas Raina. "Kalo nggak marah, coba liat sini, liat aku." ucap Alen sambil mengarahkan dagu Raina ke wajahnya, gadis itu hanya diam menurut. "Coba bilang sekali lagi kalo kamu nggak marah," suruh Alen. Raina menatap mata Alen, cowok itu berhasil mengunci matanya hanya untuk melihat dirinya saja. "Ayo bilang." "Aku gak marah, cuma kesel dikit." balas Raina, masih terdengar ketus. "Kesel apa cemburu?" tanya Alen sambil menyeringai. "Dua-duanya! Udah ah aku mau ngambil tas, pulang," ucap Raina dan langsung pergi memasuki kelasnya. ✨✨✨ Alen berjalan memasuki rumahnya yang besar, cowok itu melempar tasnya ke sofa dengan sembarang, ia langsung berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman dingin dilemari es. Setelah selesai menenggak habis satu gelas lemon water, akhirnya Alen duduk dikursi tinggi yang ada disana, seperti kursi yang ada dibar cafe. Ia melemaskan tulang lehernya ke kanan dan kekiri, ia meringis pelan saat merasakan perih dilukanya yang tersengit akibat tarikan oleh kulit. "Den Alen? Ya Allah Den, itu mukanya kenapa bisa jadi kayak begitu Den? Kok banyak sekali luka-lukanya," ucap Bi Marini yang baru saja datang dari belakang, raut wajah khawatir terlihat jelas disana. "Nggak apa-apa kok Bi, biasalah cowok." balas Alen santai. "Aduhhh, Bibi ambilin obat merah sama rivanol ya Den? Bibi obatin lukanya, dari pada infeksi nanti," ucap Bi Marini yang diberi anggukan oleh Alen. Tak lama kemudian, akhirnya Bi Marini datang dengan membawa kapas, rivanol dan obat merah. Asisten rumah tangga itu langsung meletakkannya dimeja depan Alen. "Biar Alen sendiri yang obatin Bi, Bibi lanjut kerja aja," ujar Alen. "Den Alen bisa sendiri?" "Bisa Bi," balas Alen. "Ya sudah kalau gitu Bibi kembali ke belakang ya? Ngurusin cucian," ucap Bi Marini, "Iya Bi." setelah itu Bi Marini pun langsung pergi dari hadapan Alen. Bi Marini adalah asisten rumah tangga yang sudah bekerja disini dari Alen masih duduk dibangku taman kanak-kanak. Bi Marini juga yang selalu mengurusi kebutuhan Alen dan menyiapi seragam sekolah laki-laki itu semenjak Mama nya tidak lagi tinggal disini. Alen cukup tertekan saat tau kabar jika kedua orangtuanya itu memilih cerai, dan pisah rumah. Saat itu Alen ingin ikut tinggal bersama Mamanya, tetapi Papanya melarang keras, karena Papanya sangat membutuhkan Alen untuk meneruskan perusahaannya. Tetapi, Alen juga masih sering berkunjung kerumah Mamanya, lebih tepatnya kerumah Nenek dan Kakek Alen. Tujuannya berkunjung kesana adalah untuk menemui Oma nya. Alen jarang sekali berbicara dengan Mamanya semenjak wanita itu bercerai dengan Papanya. Semenjak itu pula kehidupan Alen yang tadinya berjalan lurus langsung berubah menjadi berlika-liku, cowok itu benar-benar berubah dari sikapnya yang dulu. Alen berubah menjadi anak bandel, tukang buat onar, pembangkang, anak yang suka keluar malam, merokok, minum, atau bahkan balapan liar yang dapat membahayakan nyawanya. Hidupnya kini benar-benar kelam dan gelap, seperti tidak ada cahaya yang meneranginya, semuanya hilang, semua harapan Alen agar keluarganya tetap harmonis dan utuh itu sudah hancur, Alen tidak tau bagaimana cara menyatukannya kembali seperti dulu. Mama dan Papa nya bercerai dengan alasan yang tidak jelas, mereka bilang kalau mereka itu tidak cocok, dan mereka dulu menikah karena terpaksa oleh pihak Papa Alen. Papa Alen terpaksa menikah dengan Mama Alen yang tidak ia cintai. Alen juga tidak tau jelas mengapa begitu. "Alen, tumben sudah pulang," suara berat dan sedikit serak itu membuat Alen menghentikan aktivitasnya yang sedang memakai obat merah, cowok itu menoleh. "Harusnya Alen yang bilang kaya gitu ke Papa." balas Alen dan kembali melanjutkan aktivitasnya, cowok itu terlihat malas saat melihat Papanya yang sudah berada dirumah saat sore seperti ini. Fathur menghela napas berat, ia tau jika anak laki-lakinya ini masih memendam marah padanya, "Papa bisa pulang cepat hari ini karena Papa menyelesaikan pekerjaan Papa lebih cepat. Papa kangen sama kamu Alen," ucap Fathur dengan suara berat. "Terus apa peduli Alen? Mau Papa pulang cepet, pulang tengah malem, atau bahkan nggak pulang sekali pun Alen nggak peduli," balas Alen dengan tenang, cowok itu tidak melihat ke arah Fathur sedikit pun. "Jaga cara bicara kamu Alen, Papa itu orangtua kamu." tegas Fathur. "Kenapa wajah kamu luka-luka seperti itu? Kamu habis berantem?" tanya Fathur sambil memperhatikan wajah anaknya itu. "Ya." balasnya pendek. "Kenapa kamu sekarang sering berantem? Dan sering keluar malam?" tanya Fathur, "Kamu bukan Alen yang dulu, Alen yang Papa kenal nggak seperti ini, anak Papa yang dulu sudah berubah jadi anak urakan," lanjutnya. "Itu semua karena Mama dan Papa, Alen berubah karena kalian. Alen nggak akan jadi seperti ini kalau Mama dan Papa nggak pisah waktu itu. Kalian pisah waktu Alen duduk dikelas 9, waktu itu Alen lagi simulasi untuk nyiapin Ujian Nasional yang bakal dilaksanain beberapa minggu lagi, Alen seneng karena Mama sama Papa masih ada didekat Alen walaupun Papa sibuk kerja. Alen bener-bener fokus belajar dan les sana-sini buat dapetin nilai ujian yang bagus, supaya Alen bisa buat Mama sama Papa bangga," "Tapi semua usaha Alen itu sia-sia, tiga hari sebelum Alen Ujian Nasional, Mama sama Papa tiba-tiba aja mutusin buat cerai, Alen denger dengan jelas saat Papa bilang cerai ke Mama. Waktu itu semua yang ada didalam pikiran Alen hilang gitu aja, semuanya lenyap, bahkan saat Ujian Nasional Alen gak bisa fokus sama sekali, semua pelajaran yang ada diotak Alen langsung hilang, kalau waktu itu nilai Alen kurang sedikit aja dibawah standar, udah dipastiin Alen nggak akan lulus," "Semua kerja keras Alen yang udah belajar mati-matian langsung lenyap gitu aja, Mama sama Papa terus minta maaf sama Alen, karena kalian merasa bersalah kan gara-gara nilai ujian Alen rendah," "Dan saat itu Alen udah terlanjur kecewa sama Mama dan Papa," ujar Alen panjang lebar, sambil menatap mata Fathur yang terlihat sayu dan lelah karena bekerja seharian. "Maaf Alen, jika ke egoisan kami berdua membuat kamu jadi seperti ini." balas Fathur sambil mengusap kepala Alen, tetapi dengan cepat Alen langsung menepisnya. "Kami?" Alen menjedanya sambil tertawa miris, "Papa yang egois, Papa yang mutusin buat cerai sama Mama, kenapa Pa? Sampai sekarang Alen belum pernah denger penjelasan yang cukup jelas dari Papa atau pun Mama," lanjutnya. "Papa baru sadar Alen, kalau selama ini Papa menikah dengan Mama kamu itu tanpa ada rasa cinta," ucap Fathur menatap sendu mata Alen. Mereka terdiam selama beberapa detik, lalu Alen langsung berucap. "Alen mau istirahat," Alen pun langsung bangkit dari duduknya, ia mengambil tasnya yang ada di sofa dan langsung berjalan naik keatas tangga lebar yang melingkar, menuju kamarnya. Fathur menghela napas cukup panjang, ia tau sikap anaknya itu langsung berubah dengan sekejap karena dirinya dan Salsa yang bercerai dua tahun yang lalu, disaat Alen masih duduk dikelas sembilan SMP. Dimana saat-saat Alen harus mendapatkan dukungan penuh dari kedua orangtuanya untuk menghadapi Ujian Nasional. Tetapi disaat itu Fathur malah memutuskan hubungan suami istrinya bersama Salsa yang sudah mereka jalin selama lima belas tahun, karena Fathur tau jika selama ini ia tidak bisa benar-benar mencintai Salsa sepenuhnya. Ia tidak ingin membuat wanita itu tersakiti olehnya. ✨✨✨ "Pa, tadi Rara habis bolos keluar sekolah." ucap Raka yang baru saja turun dari kamarnya menuju ke ruang keluarga. Arka yang baru saja melepaskan jas kerjanya itu langsung mengernyit menatap Raka, "Bolos?" "Iya Pa, Rara tadi bolos, dia diajak sama temannya yang gak bener," lanjut Raka terkesan mengadu, dan hal itu langsung menyorot perhatian Cherry yang baru saja datang membawakan teh hangat untuk suaminya. "Siapa temennya? Laki-laki atau perempuan?" tanya Arka. "Laki-laki," Cherry langsung mengambil duduknya disofa, "Terus itu wajah kamu bisa kaya gitu gara-gara apa?" Cherry bertanya. "Berantem sama dia, Raka marahin dia karena udah ngajak Rara bolos," balas Raka. "Sekarang mana adik kamu?" tanya Arka pada Raka. "Enggak tau Pa, mungkin dikamar atau ditaman belakang," balas Raka. Arka pun langsung berdiri dari duduknya, setelah selesai menyeruput sebagian teh hangatnya. "Mau kemana mas?" tanya Cherry saat melihat suaminya itu berdiri. "Mau nyamperin anak perempuan kita lah," balas Arka santai, logatnya masih sama seperti saat ia masih remaja dulu. "Inget ya, jangan dikasarin, ngomongnya yang halus, biar dia nggak salah paham dan mengerti," pesan Cherry. "Iya sayang," balas Arka, lalu ayah dua anak itu langsung menuju ke lantai atas, ke kamar Raina--putri kesayangannya. Setelah sampai Arka pun mengetuk pintu berwarna putih itu, ada gantungan kayu terpajang bertuliskan Rara's Kingdom. "Rara sayang, tolong buka pintunya," ucap Arka dari luar. "Papa?" tanya Raina sedikit berteriak dari dalam sana. "Iya." Raina pun langsung membukakan pintu putih yang berisi gantungan dan hiasan itu, nampaklah tubuh Arka yang tinggi, tegap dan berwibawa itu. Gadis itu langsung saja memeluk tubuh Papanya, ia merasa kangen karena bisa dibilang jarang bertemu. "Rara kangennn banget sama Papa," ucap Raina didalam pelukan hangat itu. "Setiap pagi kan selalu ketemu sayang," balas Arka. Raina merenggangkan pelukannya, "Kan pagi doang, ini sore mah kebetulan aja pas Papa pulang sore." ujar Raina. Arka tersenyum sambil mengelus pelan rambut panjang Raina. "Maaf ya. Kalau Papa selalu sibuk kerja, jadi jarang bisa kumpul sama kamu, Kak Raka dan Mama kamu," ujar Arka, kini mereka sudah duduk disofa panjang yang ada didekat jendela besar. "Iya Pa, Rara ngertiin kok, Papa kerja kan juga buat kita," balas Raina sambil tersenyum penuh arti. "Jadi, kok tumben Papa nyamperin Rara kesini, ada apa?" tanya Raina. Arka terdiam sebentar, laki-laki yang kini sudah berkumis tipis--namun masih terlihat ganteng dan keren itu membenahi posisi duduknya. "Papa mau ngomong sesuatu sama kamu," "Ngomong apa Pa?" "Sebelumnya Papa mau tanya dulu, apa bener tadi kamu bolos sekolah terus pergi keluar sekolah bareng temen cowok kamu?" tanya Arka, mulai mengintrogasi. Raina terkejut mendengarnya, darimana Papanya bisa tau, sudah pasti dari Raka, siapa lagi. "I-iya Pa, maafin Rara, Rara tau itu salah," ungkap Rara sedikit merunduk. "Kamu tau kan kalau itu salah, terus kenapa masih kamu lakuin?" tanya Arka halus, seperti yang diingatkan Cherry tadi. "Enggak tau, karena Rara tiba-tiba pengen aja, tapi Papa jangan salah sangka dulu sama temen Rara ini," balasnya. "Kenapa? Tadi Raka bilang kalau temen kamu ini cowok nggak bener, kenapa kamu masih main sama dia sayang?" tanya Arka. Raina mendengus, kesal dengan aduan kakaknya itu. "Alen itu baik kok Pa, dia juga pinter, mungkin bisa dibilang lebih pinter dari Rara, ya walaupun anaknya bad, tapi setidaknya kan masih ada sisi positifnya," balas Raina. "Ohh...jadi namanya Alen?" Raina mengangguk. "Iya Papa tau, tapi kamu juga tetep harus hati-hati sama dia, walaupun dia baik ke kamu, karena setiap orang itu pasti pernah khilaf atau nggak sengaja ingin berbuat jahat," kata Arka. "Tapi kata Mama, Papa dulu juga nakal kaaannn?" Raina memicingkan matanya. Arka menggaruk tengkuknya, "Yaa iya sih, tapi nakalnya temen kamu itu kaya gimana dulu?" "Suka berantem, dihukum guru, merokok, terus selain itu Rara nggak tau, Pa." balas Raina, tentu saja tidak langsung blak-blakan memberitahu bagaimana sikap dan perilaku Alen yang lebih rinci, ia tidak ingin jika ayahnya itu memaki Alen. "Papa dulu juga kaya gitu, sampe Mama kamu terus-terusan marahin Papa, supaya Papa berubah ," jelas Arka. "Kalau misalnya Rara ngelakuin itu juga ke Alen, nggak apa-apa kan Pa? Rara pengen ngerubah Alen biar dia bisa jadi lebih baik," ucap Raina, mata coklat itu menyiratkan kepedulian. "Papa nggak ngelarang Rara buat berteman sama siapa aja kan?" Arka tersenyum, tangannya terangkat untuk mengusap lembut rambut Raina, "Nggak, Papa nggak ngelarang kamu sayang. Yang penting kamu harus bisa jaga diri kamu sendiri, kamu harus bisa menilai orang, apakah dia itu jahat atau baik buat kamu, itu kamu sendiri yang nilai," ucap Arka bijak. Rara pun langsung tersenyum lebar, gadis itu sangat senang mendengar perkataan Papanya, "Makasih Paaaa! Rara sayang banget sama Papa!" Raina langsung berhamburan ke pelukan Arka. "Iya, tapi kamu harus inget. Siapa pun orang yang berani nyakitin peri kecil Papa, kamu harus bilang, Papa nggak bakalan tinggal diem," ujar Arka sambil mengecup puncak kepala Raina. "Aye-aye kapten!" "Oh iya, lain kali kamu jangan bolos lagi ya? Apalagi sampe keluar dari lingkungan sekolah, Papa nggak mau kamu jadi bandel, terus nggak disukain sama guru-guru," lanjut Arka memberi peringatan. "Terus, kalau kakak kamu ngasih tau kamu, kamu juga harus dengerin dia, dia itu juga mau yang terbaik buat kamu, jadi Rara harus dengerin omongannya Kak Raka juga ya?" Raina menguraikan pelukannya, gadis itu menatap Arka, "Tapi Kak Raka selalu ngekang Rara, Rara nggak suka kalau digituin." ucapnya dengan nada seperti anak kecil yang sedang mengadu pada ayahnya. "Itu memang udah sifat yang nggak bisa dihilangin dari kakak kamu, cuek, posesif, pemarah, dan keras kepala. Tapi percaya sama Papa, Kak Raka kaya gitu juga buat kebaikan kamu, jangan sering berantem ya?" ujar Arka. "Siap kapten!" Raina hormat patuh kepada Arka, membuat lelaki itu tersenyum. "Tapi kalau Kak Raka gak nyebelin jadi orang!" lanjutnya, membuat Arka terkekeh. Raina senang saat dirinya bisa berbagi cerita bersama Arka seperti ini, Arka selalu bisa membuatnya menuruti perkataannya. Apalagi Arka selalu nyambung dan selalu enjoy jika diajak cerita, jiwa-jiwa anak mudanya masih benar-benar melekat didirinya, sudah penampilannya fashionable, berwibawa, bijak, humoris, romantis menjadi satu dalam dirinya. Pantas saja jika teman-teman Raina saat di LA dulu seperti mengidolakan Papa Raina. Kadang Cherry--Mamanya itu juga cemburu sendiri saat mereka berempat pergi ke mall, karena banyak mata mama muda yang selalu mencuri-curi pandang pada Arka. Kesal. Satu kata itu selalu mengekspresikan raut wajah Cherry jika Arka dilirik genit seperti itu. ✨✨✨ Hari ini adalah hari sabtu, hari libur dan hari untuk istirahatnya para pelajar, ketetapan libur dihari sabtu dan minggu itu biasanya ditetapkan disekolah-sekolah yang fullday, atau jam sekolahnya seharian. Tetapi itu mungkin tak disemua sekolah, hanya disekolah tertentu saja. Setelah selesai sarapan dan berjemur tadi, Raina langsung menuju ke belakang rumahnya, untuk menghampiri rumah pohonnya yang dibuatkan oleh Kak Raja. Ah iya, tiba-tiba saja Raina teringat oleh kakak sepupunya itu, iya benar-benar menginginkan sikap Raka agar seperti Raja. Karena menurut Raina, Raja itu cowok yang kalem, lembut, penyabar, ramah, tidak pernah marah--atau jarang, selalu menuruti apa yang Raina inginkan, mereka sama-sama bersekolah disekolah yang sama dulu saat di LA, jarak umur mereka hanya terpaut satu tahun, tetapi karena Raja terlalu pintar maka ia harus dilompati kelasnya atau bisa disebut juga dengan akselerasi. Jadi sekarang Raja sudah kuliah dan masuk di Universitas terbaik di California, sekarang dirinya sedang liburan, dan dalam liburan kali ini Nata dan Nesya--kedua orangtuanya itu mengajaknya untuk ke Indonesia. Raina memanjat kayu yang dipaku menempel dipohon besar itu, dibuat seperti tangga. Gadis itu tidak takut sama sekali, ia bisa dengan mudah naik keatas sana tanpa kebingungan. Setelah sampai diatas, Raina bisa melihat pemandangan banyak pohon-pohon rindang, ia memasang airpods nya yang berwarna pink pastel, ia menyetel musik BTS yang baru saja mengeluarkan albumnya. Drrttt ponselnya bergetar, menandakan ada yang menelponnya, ia melihat layar ponselnya, ternyata dari Alen. Cewek itu segera menggesernya ke tombol hijau. "Kenapa?" tanyanya dengan jutek, masih marah ternyata. "Lo lagi dimana Ra?" tanya Alen diseberang sana. "Dibelakang rumah, nangkring dirumah pohon, kenapa?" "Gue kesana ya? Gue lagi ada dideket rumah lo nih," "Ehhh ehh ngapain?" Tut tut tutttt "Alen? Len! Ihhh Alen! Dimatiin lagi!" Alen memutuskan telponnya sepihak, membuat Raina kesal. Akhirnya Raina pun tak terlalu memikirkannya, tak perlu bingung Alen akan lewat mana nantinya, karena disini banyak jalan keluarnya. Gadis itu kembali asik bernyanyi-nyanyi sendiri, bahkan ia joget-joget asik mengikuti gerakan dancenya. Sampai akhirnya Raina dikejutkan oleh teriakan seseorang dari bawah. "Raaaa!" teriak Alen, cowok itu sudah berkali-kali memanggil Raina. "Ehh beneran kesini dia," cetus Raina saat ia sudah sadar. "Boleh naik kan?" tanya Alen sambil mendongak, cowok itu agak kesusahan melihat wajah Raina, karena Raina duduk agak ke dalam. "Terserah," sahutnya. "Kok gitu sih jawabnya?" tanya Alen, tetapi gadis itu tak mengindahkannya, ia hanya acuh, mau naik, mau tidak, ya terserah. Tanpa berpikir panjang, akhirnya Alen pun segera naik dengan gaya cekatannya. Wajahnya yang tiba-tiba muncul itu membuat Raina sedikit terjingkat. Untung saja gadis itu tidak refleks mendorong kepalanya. "Hai cantik," sapa Alen sambil nyengir. Cowok itu sudah mengambil posisi duduknya disebelah Raina yang sedang bersila. "Hmm." "Masih marah kah?" "Gak tau," Raina mengedikkan bahu, malah sibuk memilih lagu yang ada diponselnya. "Please dong, jangan ngambek terus, ntar cantiknya hilang," goda Alen. "Bodo amat." Alen mendengus, pacarnya ini tampaknya masih marah karena kejadian kemarin. Dengan seribu akalnya, kini ia tengah memikirkan suatu cara agar Raina tak marah lagi. ✨✨✨
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN