16. Satu Titik Dua Koma

4203 Kata
CHAPTER 16: SATU TITIK DUA KOMA Pahami dan baca baik-baik, jangan sampai kalian kelewatan satu pun partnya, kalau misalnya ada typo tolong kasih tau ya, happy reading! ✨✨✨ "Ra, jangan marah lagi napa sih?" ujar Alen nampak gusar sendiri, karena sedari tadi gadis disebelahnya ini tetap asik pada dunianya sendiri, seperti tidak menganggap Alen ada disini. Raina malah memajukan duduknya, gadis itu men-selonjorkan kakinya, dan menjuntaikannya kebawah, dirinya kini sedang duduk dipinggiran rumah pohon. Alen mengikutinya, cowok itu menjuntaikan kakinya kebawah, duduk bersandingan disebelah Raina. "Ra, mending lo marahin gue habis-habisan ketimbang lo diemin gue kaya gini terus. Gak enak sumpah," Alen kesal sendiri, wajahnya menghadap ke wajah Raina. "Gue tau gue salah, gue minta maaf, kejadian kemarin itu bener-bener diluar kesadaran gue, mana mungkin kan gue nerima perlakuan Pingkan yang genit kaya gitu. Lo kan tau sendiri Pingkan orangnya kaya apa, dia emang udah suka sama gue dari dulu," ujar Alen, seperdetik kemudian Alen merasakan ada yang salah dari ucapannya, "Ehh maksudnya bukan gitu, aduh! Alen begoo!" Raina hanya meliriknya dengan jengkel, bisa-bisanya Alen berucap seperti itu. Jadi maksudnya Alen mau pamer kalo dia itu disukain sama Pingkan, kakak kelas yang populer itu? "Lo mau apa? Gue beliin deh, apapun. Coklat sepuluh? Es krim sepuluh? Atau se abang-abangnya yang jualan deh gue beliin buat lo. Asal jangan marah lagi, Ra." bujuk Alen, cowok itu nampak frustasi. "Car! Pacar? Heiii? Suaranya ilang ya? Atau mulutnya lagi digembok? Ngomong kek Ra," Alen masih terus membujuk. Alen mendekatkan wajahnya kearah Raina, cowok itu menatap Raina terus-terusan, sedangkan Raina yang digitukan hanya mengacuhkan Alen, gadis itu malah asik bersenandung sendiri. "Ra, tau nggak panda-panda apa yang bikin seneng?" tanya Alen, tanpa menunggu Raina menjawab cowok itu langsung berseru terlebih dahulu. "Pandangin kamu setiap harii!" Krik. "Ada lagi nih, awan-awan apa yang membuatku bahagia?---------iwanna be with youuu!" serunya lagi, cowok itu sudah memberikan dua gombalan, tetapi tetap tak berpengaruh. Tidak, Alen tidak boleh menyerah, masa baru gitu aja udah nyerah? Coba lagi Len. Alen berfikir keras, memikirkan gombalan yang pernah Devan pakai saat merayu adik kelas. "Apa bedanya kamu sama garuda?---kalau garuda didadaku kalau kamu dihatikuu," gombal Alen lagi. Cowok itu menatap frustasi kearah Raina, cowok itu mengacak rambutnya kesal sendiri. "Aduhhh gue gak tau lagi harus gombal macam apa? Lo dari tadi gak ngomong-ngomong, berasa gombalin patung tau gak?" kesal Alen. "Siapa suruh," balas Raina tanpa menatap. Alen mendengus, cowok itu akhirnya bernekat untuk mencari cara lain yang sekiranya lebih ampuh. "Ra, lo tunggu disini dulu ya? Jangan kemana-mana, inget ya Car? Pacar." ujar Alen memperingati, cowok itu langsung menuruni tangga, Raina hanya mengamati kepergian cowok itu, entah kemana. Sambil menunggu Alen, Raina mematikan musik yang ia putar, dan melepaskan airpods nya yang ada ditelinga. Ia tidak marah pada laki-laki itu, hanya saja ia masih kesal, padahal tadi Raina sudah ingin memaafkannya, tetapi malah ada salah kata yang keluar dari mulut Alen. Raina memejamkan matanya, menikmati setiap hembusan angin yang menerpa kulit wajahnya. Rambutnya yang sedang ia ikat satu keatas seperti kuda itu membuatnya terlihat lebih lucu. Saat Raina sudah membuka matanya, ia melihat kearah bawah, Alen sudah tidak memakai jaketnya, lengan jaketnya itu ia ikat dilehernya, jaketnya itu kini bertengger dipunggungnya. Raina mengernyit bingung saat Alen membawa sebuah gitar. Cowok itu kembali naik keatas, walaupun agak kerepotan karena membawa gitar, tetapi Alen tetap bisa sampai dengan aman keatas. "Mau ngapain?" tanya Raina, sambil menatap Alen dengan satu alis yang terangkat. "Mau ngamen, buat Neng Raina," ucap Alen sambil tersenyum. Alen pun memposisikan duduknya seperti tadi, ia memangku gitar yang ia bawa, dan mulai menggenjrengnya. Aku tak tau apa yang lain Darimu hari ini Apa itu karena sepatu flatmu Atau kukumu Yang baru kau warnai Pernahkah kau bertanya Seperti apa bentuk air tanpa wadah Pernah pernahkah kau mengira Seperti apa bentuk cinta... Rambut warna warni Bagai gulali Imut lucu walau tak terlalu tinggi Pipi chuby dan kulit putih Senyum manis Gigi kelinci Membuatku tersadar Bentuk cinta itu Ya kamu... Alen tersenyum penuh arti pada Raina, ia telah selesai menyanyikan sepenggal lirik lagu untuk Raina. Raina tak bisa menyembunyikan senyumnya, gadis itu senang mendengarkan Alen bernyanyi lagu itu untuknya, apalagi saat Alen menyanyikan lirik terakhir 'Ya kamu' matanya menatap Raina sangat dalam. "Nah gitu dong senyummm, kan makin cantik," puji Alen. Alen meletakkan gitarnya dibelakang tubuhnya, setelah itu tangannya langsung bergerak ke ikat rambut Raina yang berwarna merah muda, dengan tiba-tiba Alen menarik ikat rambut itu, membuat rambut panjang Raina langsung tergerai begitu saja. Alen memiringkan wajahnya, cowok itu menyelipkan beberapa helai rambut Raina ke belakang, membuat Raina merinding seketika. Cowok itu lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celana belakangnya, ada sekuncup bunga berwarna merah keunguan, Alen tidak tau apa nama bunganya, yang pasti Raina terlihat semakin cantik saat memakai bunganya. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Alen, rasanya pasokan oksigen disekitarnya berkurang, Raina seperti hampir kehabisan napas karena Alen berada sangat dekat dengannya. "Satu titik dua koma, Raina cantik Alen yang punya," kata Alen, lalu langsung mengacak pelan rambut gadis itu, ia tertawa. Raina merunduk, malu-malu. Ia merasakan ada semburat merah yang muncul dikedua pipinya, ingin rasanya ia berteriak saat ini juga, tetapi ia tahan kuat-kuat. Jantungnya selalu tak terkondisikan saat dirinya bersama Alen, apalagi saat laki-laki itu bersikap romantis dan manis padanya. Kalau sudah begini apakah Raina masih kuat marah sama Alen? Jawabannya tidak. "Udah dimaafin atau belum Alen nya?" tanya Alen, sambil ikut merunduk, mengintip wajah Raina yang masih bersembunyi. "Udah," balas Raina. "Yakin udah? Serius? Demi apa? Sumpah? Cius mi apa?" tanya Alen malah menggoda, membuat Raina langsung memukul lengannya kesal. Alen tertawa diikuti oleh Raina yang cemberut, lalu tangan Alen langsung mencubit gemas kedua pipi Raina, yang ia apit diantara keempat jari dan jempolnya. "Ihhh Alen udah, sakit tau!" adu Raina, agak kurang jelas. "Gemes, pengen karungin terus bawa ke penghulu." celetuk Alen. "Udah Lennnn!" Raina menampol pipi Alen, membuat cowok itu langsung melepaskan cubitannya, dan langsung meringis, perih. Luka-luka yang ada diwajah Alen belum benar-benar kering, namun Raina malah menampolnya barusan. "Aduh! Maaf-maaf, nggak sengaja, sakit ya?" tanya Raina, sambil meringis. "Sakit banget Ra," keluh Alen, masih meringis. "Ya ampun, Alennnn maafff, enggak sengaja, tadi refleks beneran deh," ujar Raina, menunjukkan tampang bersalahnya. "Enggak papa, orang cuma bercanda kok," Alen langsung tertawa cekikikan, "Kan gue kuat," lanjutnya. "Ishhh kan! Kumat, kumat tuh penyakitnya, nyebelin!" kata Raina, kesal. "Tapi sayang kan? Ya kannn?" goda Alen, membuat Raina salah tingkah. Alen pun terkekeh, lalu tersenyum sambil mengacak pelan rambut Raina. Ternyata bidadari itu ada. ✨✨✨ Minggu pagi ini Alen gunakan untuk latihan karate dibelakang rumahnya, didekat kolam renang, cowok itu memakai kaos tanpa lengan berwarna abu-abu muda, dengan celana boxernya. Ia beberapa kali memukul samsaknya dengan kuat, membayangkan jika itu adalah seorang musuhnya yang akan ia lawan besok. "YUHUUUU! DEVAN IS COMINGGG!" suara lengkingan yang menggema diseluruh sudut rumah Alen itu berasal dari Devan, teman laknatnya. "Wedeehhhhh lagi main tinju-tinjuan nih mas fakboi?" ucap Devan yang kini sudah duduk diayunan kayu milik Alen. "Fakboi-fakboi palalu peang! Lo tuh yang fakboi! Setiap hari godain adek kelas mulu, ngajakin ke kantin, tapi nraktir cilok," balas Alen, mengatai Devan. "Wahhh mana ada! Asal ngomong aja lu!" balas Devan tak terima. "Ngapain lo kesini?" tanya Alen, disela-sela memukul samsaknya. "Main lah! Gue lama gak mainin PS lo, dirumah gue PS nya rusak," ucap Devan, sambil mengayunkan ayunan itu. "Yang nanya," sahut Alen. "Anjing lo!" kesal Devan, lalu ia tertawa dan disusul juga oleh Alen. "Gimana lo sama Raina?" tanya Devan. "Gimana apanya?" "Enak gak?" Devan berucap ambigu. "Enak apanya woy?" sahut Alen, agak galak. "Enak apa nggak pacaran sama Raina? Orangnya nyamanin kan? Itu maksud gue, ngeres aja pikiran lu tong!" balas Devan saat menyadari jika Alen salah tangkap. "Iya, anaknya lucu, polos-polos gimana gitu," balas Alen. "Enak lu ye, udah punya pacar sekarang, gue masih jomblo," Devan mendadak melow. "Mangkanya cari pacar sono! Cewek-ceweknya SMA Galaksi emang masih kurang buat lo pilih?" tanya Alen. "Ya gak gitu coy, gue mau nyarinya yang bener-bener cocok sama gue, yang anak baik-baik. Ya walaupun gue nakal begini, gue maunya nyari cewek yang baik-baik." kata Devan. Alen sudah menghentikan aktivitasnya, cowok itu melepaskan kain panjang yang ia lilit dijari-jarinya, peluh dan keringat sudah terlihat jelas diseluruh tubuhnya, bajunya saja sudah basah. "Ya lo bener, dimana-mana semua orang juga maunya nyari pasangan yang baik-baik," ucap Alen membalas perkataan Devan. Devan manggut-manggut, "Oh iya gue lupa, kemarin ada adek kelas yang nanyain lo, anaknya cewek. Kemarin dia titip kotak makanan ke gue, katanya sih buat lo," ujar Devan memberitahu. "Siapa?" Alen bertanya, setelah itu ia membuka botol air mineral dingin, dan langsung ia tenggak habis tak tersisa. "Siapa ya namanya? Lupa gue. Bentar-bentar," Devan tampak berusaha mengingatnya sambil menempelkan telunjuknya didagu. "OH IYA! FREYA! BARU INGET GUE!" teriak Devan dengan spontan, Alen yang masih menyimpan air dalam mulutnya itu langsung menyemburkannya begitu saja karena kaget. Alen terbatuk-batuk, ia keselak air minum gara-gara Devan berteriak seperti itu. "Sialan lo, keselek gua!" marah Alen, wajahnya memerah karena hal itu. "Ehehehe sorry bro. Awokawokawok," Devan tertawa sambil menunjukkan dua jarinya 'peace'. "Trus? Mana makanannya? Kok gak nyampe ke gue?" tanya Alen, cowok itu lalu duduk di sun lounger nya. Devan nyengir, menampakkan deretan giginya, "Gue makan Len, soalnya waktu itu pas lo lagi pergi sama Raina, dan pas keadaan gue laper banget, uang jajan gue abis, yaudah deh gue makan aja. Gak kenapa kan? Gak enak gue," "Halah, sok gak enakan lo. Biasanya juga coklat, kue, snack, minuman, yang ada dikolong meja gue lo yang makan! Pakek bilang gak enakan segala," cibir Alen, karena memang Devan selalu seperti itu. Ia selalu mendapatkan makanan gratis dari penggemar Alen yang tak pernah atau jarang Alen makan. "Nah, iya itu lo tau kan," ucap Devan cengengesan. Tiba-tiba saja ada Bi Marini yang datang dari dalam rumah, membawa dua gelas minuman sirup berwarna orange. "Ini Den Alen minumnya, sama Den Devan," ucap Bi Marini sambil menaruh minuman itu dimeja bundar. "Makasih Bi," balas Alen. "Waduhhh Bi Marini baik banget pakek dibuatin minum segala, saya jadi enggak enak kan," ucap Devan pada Bi Marini, ya Devan juga sudah kenal lama dengan asisten rumah tangga Alen ini. "Nggak papa Den, kan Aden temennya Den Alen sama sekaligus tamu disini," balas Bi Marini sambil menelungkupkan nampannya. "Ngentolan lo jadi orang," kata Alen. "Yeee sirik aja lo bambang! Gue kan sengaja kaya gini biar ada topik pembicaraan sama Bi Marini, ya gak Bi?" ucap Devan sambil memprovokarori Bi Marini agar menjawab iya. "Oh iya Bi makasih ya," lanjutnya "Enggeh Den. Bibi permisi dulu, mau ngelanjutin masak," pamit Bi Marini sambil sedikit membungkuk, lalu langsung berjalan pergi dari sana. Devan mengambil es sirupnya dan langsung meminumnya hingga seperempat, "Om Fathur gak ada dirumah?" tanya Devan. "Nggak." "Kemana?" tanya Devan, ia tau jika ia salah besar menanyakan pertanyaan itu. "Gak tau, gak peduli." "Mumpung hari minggu nih, lo gak mau gitu main kerumah Mama lo?" tanya Devan. "Lagi gak minat," "Mama lo pasti kangen Len, Oma lo juga, kan udah lama tuh gak ketemu," ucap Devan lagi, membuat Alen yang tadinya sedang menatap ke depan kini langsung menoleh menatap Devan dengan tatapan marah. "Kalo tujuan lo kesini buat bahas mereka, lebih baik lo pulang. Gue males dengerinnya," ucap Alen terlihat marah, cowok itu langsung bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam rumah. "Woi Len! Gue gak maksud! Suwerrr! Jangan marah sama gue Len!" teriak Devan yang langsung menyusul Alen masuk kerumahnya. ✨✨✨ Hari senin, hari dimana semua murid harus melaksanakan upacara bendera yang sangat tidak mengenakkan, dijemur dibawah sinar matahari, mendengarkan amanat panjang dari kepala sekolah, atribut harus lengkap, tidak boleh telat, dan banyak lagi lainnya. Jam sudah menunjukkan pukul 06.55, lima menit lagi bel masuk akan berbunyi, dan upacara akan segera dimulai. Tetapi Alen belum juga datang, membuat Raina cemas sendiri, ia takut jika cowok itu dihukum lagi karena terlambat. "Alen mana ya? Kok belum dateng sih?" tanya Raina yang sedang duduk dikursi panjang depan kelas bersama Via. "Nggak tau tuh, telat lagi kayaknya, si Devan aja juga belum dateng, biasanya tuh anak jam segini udah dateng," balas Via sambil memakai dasinya. "Seneng banget itu anak dateng telat, padahal udah sering dihukum sama Bu Yuni, nggak kapok-kapong emang ya?" Raina heran sendiri. "Tau tuh, namanya juga badboy, ya gak afdhol kalo gak telat," sahut Via. Tak lama setelah itu, akhirnya bel berbunyi nyaring diseluruh sudut sekolah, Raina, Via dan murid-murid yang lain pun langsung berkumpul dan berbaris ditengah lapangan sesuai kelas masing-masing. Semua perangkat dan petugas upacara juga sudah siap bertugas didepan sana, tak lama dari itu, upacara bendera pun dimulai. Raina menoleh saat barisan yang ada disebelahnya sedang berbisik-bisik, sampai Raina dapat mendengarnya. "Ya ampun Zidan! Ganteng banget deh, keren ya dia kalo kaya gituu? Pengen deh jadi pacarnya Zidan," "Udah ganteng, pinter, sopan, baik, ramah, ketua OSIS pula! Haduhhh nikmat mana yang engkau dustakan!" "Itu mah modelannya sama kayak Alen, cuman dia itu versi good boy nya," "Zidaannnn i love youuu!" "Apaan sih lo? Kemaren juga bilang kayak gitu pas liat Alen, sekarang pas Alen nya gak ada bilang kayak gitu ke Zidan, dasar fakgirl lo," "Bodo amat deh, yang penting gue itu selalu jadi pengikutnya cogan-cogan di SMA ini," Itulah hasil pembicaraan yang Raina dengar, bukannya Raina bermaksud menguping, tetapi cewek-cewek itu memang agak keras berbicaranya. "Vi, yang namanya Zidan itu yang mana sih? Kenapa mereka pada ngomongin dia?" tanya Raina pada Via, ia mendadak penasaran. "Ihh ituloh, yang jadi pemimpin upacara didepan, ganteng kannn?" Via bertanya sambil terpana melihat Zidan. "Idih, semua cowok aja kamu bilang ganteng. Pak Amin satpam sekolahan sekalian," cetus Raina, membuat Via mendelik. "Ehh ya gak lah, kalo ada yang bening-bening ngapa harus milih yang tua?" ucap Via, kurangasem. Raina hanya mendengus kesal, lalu ia kembali fokus melaksanakan upacara bendera. Di lain situasi, kini Alen baru saja sampai disekolah, bersama Devan. Karena cowok itu semalam menginap dirumahnya dan bermain PS sampai tadi subuh, jadinya mereka sampai datang kesiangan seperti ini. Baru saja mereka mengendap-ngendap untuk masuk ke barisan, tetapi langsung ada suara yang menghentikannya. "Mau kemana kalian? Alen, Devan?" itu suara milik Pak Syaifudin--seorang guru BK disekolah ini, kerjaannya adalah memantau dan mengawasi murid-murid yang terlambat, seperti sekarang ini, ia telah menangkap basah Alen dan Devan yang ingin kabur. "Eh Bapak, udah lama Pak?" sapa Devan sambil cengar-cengir. "Kenapa kalian baru datang ke sekolah jam segini? Udah tau hari senin waktunya upacara bendera, lah kok malah terlambat!" hardik Pak Syaifudin, tanpa mengindahkan ucapan Devan. "Iya kita tadi bangun kesiangan Pak, gara-gara ngerjain tugas, jadi gini deh," jelas Alen, jelas berbohong. "Pergi kesana, berdiri didekat tiang bendera, bersama anak-anak yang lain," perintah Pak Syaifudin, dan langsung dituruti oleh Alen maupun Devan. Alen dan Devan pun langsung ikut berbaris bersama anak-anak lain yang  sedang dihukum, karena terlambat, atribut tidak lengkap, dan sejenisnya. Raina memicingkan matanya, berusaha melihat jelas kearah laki-laki yang baru saja masuk ke dalam barisan anak-anak yang sedang dihukum. "Itu Alen kan? Terlambat beneran dia sama Devan," ucap Via, mendahului Raina. "Iya, astagaaa! Kapan berubahnya itu anak?" geram Raina. "Entah, mungkin sampe ayam jantan bisa bertelor kali ya?" ucap Via mengawur. Lima belas menit kemudian, akhirnya upacara bendera selesai, setelah Pak Salman--sang kepala sekolah itu memberikan banyak amanat kepada murid-muridnya. Zidan sebagai pemimpin upacara itu pun langsung memberikan intruksi dan membubarkan barisan. Raina pun langsung melepaskan topi upacaranya, gadis itu menggunakan topinya itu sebagai kipas. "Eh Ra, gue mau ke toilet bentar ya? Udah kebelet banget nih nahan dari tadi, lo kalo mau ke kelas duluan aja gak papa," ucap Via. "Ohh iya-iya," balas Raina. Via pun langsung cepat-cepat berlari menuju toilet. Saat Via sudah pergi, tiba-tiba saja ada keinginan didalam benak Raina untuk membelikan Alen minuman untuk ia berikan padanya nanti, tanpa pikir panjang akhirnya Raina pun langsung bergegas menuju kantin. Setelah berhasil mendapatkan satu botol air minum, akhirnya Raina langsung kembali ke arah lapangan, ia bisa melihat Alen dan anak-anak lainnya yang sedang dihukum suruh hormat ke tiang bendera, ada Pak Syaifudin juga yang mengawasi dan memarahi mereka. Tetapi saat Raina hendak berjalan kearah bangku yang ada dibawah pohon rindang, tiba-tiba saja ada seseorang yang ia tabrak, cukup kencang, sampai membuat botol yang Raina pegang dan jatuh begitu saja. "Yahhh jatuh, bocor botolnyaa," ucap Raina sambil melihat kearah botol itu dengan prihatin. "Ehh sorry ya, gue nggak sengaja, biar gue ganti ya?" ujar cowok yang menabrak Raina. "Ehh ehh gak usah, nggak papa kok. Aku bisa beli lagi sendiri," balas Raina pada cowok itu. "Beneran nih? Gue jadi nggak enak," balas cowok itu lagi. "Iya nggak papa, santai aja," Lalu cowok itu tersenyum dan mengangkat tangan kanannya didepan Raina, "Salken, nama gue Zidan Wibisana, lo bisa panggil gue Zidan," ucapnya memperkenalkan diri. Raina langsung membalas uluran cowok itu, "Iya aku udah tau, nama kamu Zidan." balas Raina, karena tadi ia sudah menanyakannya terlebih dahulu pada Via. Zidan mengerutkan kening, ada senyum yang tercetak disudut bibirnya, "Kok udah tau?" "Iya tadi banyak anak-anak cewek yang ngomongin kamu pas jadi pemimpin upacara, kamu juga ketua osis kan?" tanya Raina, sudah melepaskan salamannya. Zidan mengangguk, "Oh iya, nama lo siapa?" "Raina," "Kelas apa?" "XI IPA 5," balas Raina seadanya. Dari kejauhan, Alen bisa melihat Raina dengan laki-laki itu, mereka terlihat sedang mengobrol sangat asik, bahkan Raina sampai tertawa. Alen memanas, ia melirik-lirik kedua orang itu dari sudut matanya, karena ia sedang dihukum hormat tiang bendera. "Ngapa wajah lo asem gitu Len? Kebelet boker lo?" tanya Devan yang berbaris disebelahnya. "Gak," "Terus kenapa?" Devan penasaran, cowok itu lalu mengikuti arah pandang Alen, ohhhh pantas saja, ternyata ada cowok yang sedang mengajak Raina mengobrol. "Ehm pantesan aja, pasti gara-gara Raina ngobrol sama Zidan si ketua osis itu kan?" tebak Devan, dan Alen hanya bergumam menjawabnya. "Hati-hati loh, nanti kalo dia tertarik sama Raina, Raina kan cantik, cantik banget, imut, kayak dede emesh lah pokoknya, suaranya aja masih kayak anak kecil, kepincut ntar loh si Zidan gara-gara baru sekali diajak ngomong," Devan malah memanas-manasi Alen, membuat cowok itu mengepalkan tangan kirinya dengan kuat. "Bisa diem gak sih lo?" marah Alen. "Hehehehe gak bisa Len, apalagi dalam keadaaan seperti ini, gue gak bisa banget kalo gak ngomporin lo," balas Devan sambil cengengesan. "Alen! Devan! Hadap ke depan! Jangan malah mengobrol," hardik Pak Syaifudin saat mengetahui keduanya sedang mengobrol dan melirik kearah samping dikit-dikit. Alen mendengus kesal, ia sudah jengah, ia tidak bisa menahan lagi. Rasa cemburunya itu sudah sampai ke ubun-ubun, ia ingin dengan segera menghampiri Raina dan mengusir cowok itu. Alen pun langsung menurunkan hormatnya, cowok itu langsung keluar dari barisan, tetapi baru selangkah ia maju, Pak Syaifudin sudah meneriakinya. "Mau kemana kamu? Mau kabur? Hormat! Kembali ke tempat, atau Bapak akan hukum kamu jalan jongkok keliling lapangan," seru Pak Syaifudin. Alen berdecak, "Pak, saya mau nyamperin pacar saya. Dia lagi dideketin sama cowok lain, masa saya diem aja?" ucap Alen. "Kamu itu lagi dihukum, jadi harus menjalankan hukumannya dulu, sampai nanti bel masuk jam pertama baru kamu boleh bubar," ucap Pak Syaifudin, sambil berkacak pinggang sebelah tangan. "Ya Allah Pak, sebentar, sebentaaaarrrr aja Pak, cuman buat ngusir itu cowok, gak lama-lama kok Pak. Plis Pak, demi Ratu Neptuna yang sekarang muncul lagi di tv, saya mohon," ujar Alen, melebih-lebihkan. Belum sempat Pak Syaifudin menjawab, Alen langsung ngacir begitu saja, ia langsung berlari menghampiri Raina dan Zidan. Alen dibuat semakin dongkol saat melihat Zidan tengah berjongkok dihadapan Raina, mengikatkan tali sepatu cewek itu. "EKHEM!" Alen datang sambil berdehem sangat keras, agar keduanya langsung sadar jika dirinya berada disini. "Ngapain lo? Mau modusin cewek gue?" tanya Alen dengan ketusnya, membuat Zidan langsung mendongak dan berdiri setelah selesai mengikatkan tali sepatu Raina. "Alen? Bukannya kamu lagi dihukum?" tanya Raina, tetapi Alen tidak menjawabnya, cowok itu hanya menatap kearah Zidan dengan seram. "Lo pacarnya Raina?" tanya Zidan, enteng sekali jika bertanya. "IYALAH! Lo gak tau? Mangkanya jangan ngurusin proposal doang! Buka sosmed!" balas Alen, ngegas. "Ohhh," hanya itu balasan dari Zidan. "Ah oh ah oh! Lo pikir lo ngedesah gitu?" tanya Alen, gedeg sendiri. "Ih ngomongnya!" Raina langsung mendelik kearah Alen. "Gue tadi cuman kenalan doang sama Raina, terus ngobrol-ngobrol agak banyak, pas gue liat ke bawah tali sepatunya ternyata lepas, yaudah gue iketin. Emang salah?" ucap Zidan, kalem sekali. "SALAH! Lo salah besar! Dia itu udah punya pacar, pacarnya itu gue. Jadi lo gak usah sok-sok an kayak gitu, Denger lo Mas ketua osis?" ujar Alen menekankan kata 'mas ketua osis'. Zidan hanya mengangkat kedua bahunya acuh, membuat Alen semakin emosi melihatnya. "Kak Zidannnn! Ayo ke ruang osis! Bantuin gue ngerjain proposal, gue belum begitu pahammm," teriak seorang cewek, sambil berlari dari ruang osis menuju Zidan. "Iya bentar ya Fre," balas Zidan. "Loh! Ada Kak Alen disini? Tadi kayaknya aku liat Kak Alen masih dihukum disana sama yang lain," ucap Freya saat menyadari keberadaan Alen yang ada disebelahnya. "Yaudah, gue duluan ya Ra? Mau ngurusin osis," ucap Zidan berpamitan pada Raina. "Iya," "Dah sana lo pergi, pakek pamitan segala, kayak gue lagi gak ada disini aja," sahut Alen. "Kak Alen pacaran ya sama Kak Raina?" tanya Freya, gadis itu menatap Raina dan Alen secara bergantian. "Iya," balas Alen. Raut wajah sedih bercampur kecewa langsung muncul diwajah Freya, tetapi ia langsung menyembunyikannya dengan senyuman paksa. "Yang langgeng ya kalian," seru Freya. "Makasih," Raina membalasnya sambil tersenyum ramah. "Yaudah yuk Kak, ke ruang osis sekarang," ajak Freya pada Zidan. Gadis blasteran itu memang anak osis yang baru ikut bergabung dalam organisasi, anak itu hanya iseng-iseng daftar dan mengikuti semua tesnya, dan hasilnya anak itu keterima. "Iya," Zidan dan Freya pun langsung berbalik badan dan pergi menjauh dari Alen dan Raina. Kini tinggalah Raina dan Alen yang ada dibawah pohon rindang ini, mereka sama-sama diam, hening, sampai akhirnya Raina mengucapkan sesuatu. "Maaf ya?" kata Raina. "Kenapa minta maaf?" tanya Alen. "Kamu marah kan gara-gara tadi?" tebak Raina. Alen hanya menggeleng. "Masa nggak marah? Bohong ya? Keliatan kok dari wajah kamu," ucap Raina, raut wajahnya sedih. "Kalo udah tau ngapain nanya? Sama kaya kata lo kemarin waktu marah sama gue, siapa yang gak marah liat pacarnya sama cowok lain, itu juga berlaku buat gue," ucap Alen, membuat Raina meneguk ludahnya dengan susah payah. "Iya..." "Gue juga nggak suka ngeliat lo sama cowok lain, biar pun cuma ngobrol doang, apalagi tadi dia ngiketin tali sepatu lo," ucap Alen. Raina hanya diam, gadis itu menatap kebawah, ke sepatunya. "Masuk ke kelas, jangan nungguin gue," kata Alen. "Tadi aku niatnya mau ngasih kamu air minum sambil nungguin kamu, tapi botolnya jatuh, udah kotor, maaf." ucap Raina. Alen tercenung mendengarnya, Raina sudah ingin berbuat baik padanya, tapi cowok itu malah terkesan memarahinya tadi karena cemburu. "ALEN! LARI KELILING LAPANGAN 50 KALI!" teriak Pak Syaifudin terdengar menggema ditelinga, membuat Alen langsung menoleh dan mendapati guru itu sedang berjalan kearahnya. Alen melihat kearah barisan teman-temannya yang dihukum tadi, tapi sudah tidak ada siapa-siapa disana. "Kamu itu, tadi katanya cuman sebentar, tapi ditunggu-tungguin kok malah lama. Sampai teman-teman kamu sudah Bapak bubarkan. Sekarang kamu harus terima hukuman saya, lari keliling lapangan lima puluh kali!" perintah Pak Syaifudin, guru BK dengan kumis hitam melinting itu dengan galaknya. "Ya pak." balas Alen tanpa membantah. Cowok itu melirik Raina sebentar, lalu langsung mulai berlari mengelilingi lapangan. ✨✨✨ Alen tergeletak lelah ditengah-tengah lapangan, cowok itu tiduran disana tanpa malu, karena dirinya benar-benar lelah berlari. Keringat dan peluh memenuhi tubuh Alen, rambutnya juga sedikit basah dan berantakan, apalagi seragamnya, sudah tidak berbentuk lagi. Tapi itulah yang menjadi daya tarik Alen, berantakan tetapi malah menjadi keren dan cowok banget. Cewek-cewek yang masih berada diluar kelas pun menatap Alen penuh puja, mereka benar-benar tergila-gila pada Alen. Alen masih sibuk mengatur napasnya yang tak beraturan, cowok itu seperti ikan asin yang sedang dijemur sekarang. "Sudah selesai larinya?" tanya Pak Syaifudin. "Udah Pak." "Ya sudah, cepat kembali ke kelas, dan jangan diulangi lagi, mengerti?" peringat Pak Syaifudin. "Ya." Setelah itu, akhirnya Alen langsung mendudukkan tubuhnya, ia mengipas-ngipasi wajahnya dengan tangan, gerah sekali. Alen pun berdiri dan menuju ke toilet untuk mencuci muka. Setelah selesai mencuci muka, Alen pun langsung masuk ke dalam kelasnya, tidak ada guru, tetapi ada tas dan beberapa buku yang ada dimeja guru. Alen berjalan ingin menuju ke bangkunya, namun langkahnya berhenti disebelah bangku milik Raina, cewek itu sedang melipat kedua tangannya, dan menaruh kepalanya disana, dengan posisi miring. "Via, lo bisa pindah ke bangku gue gak? Duduk sama Devan dulu," ucap Alen pada Via yang sedang mengerjakan tugas. "Yayayaya," balasnya tanpa lama. Akhirnya Via pun pindah duduk dibangku Alen bersama Devan. Alen pun langsung duduk dikursi milik Via, tepat disebelah Raina. Cowok itu juga melakukan hal sama seperti Raina, melipat tangannya dan menaruh kepalanya disana, kepalanya menghadap ke wajah Raina, sangat dekat. Bahkan cowok itu dapat merasakan hembusan napas hangat milik Raina. Alen tersenyum, jika saja ini tidak sedang dikelas dan tidak sedang ramai pasti Alen sudah...nggak Len! Buang jauh-jauh!  Alen menggerakkan jari telunjuknya, menempelkannya pada dahi Raina, turun kebawah pelan-pelan, sampai berhenti dihidung. Raina melenguh karena sentuhan Alen itu, gadis itu langsung membuka matanya perlahan, dan langsung terlonjak kaget begitu saja karena ada wajah Alen terpampang tepat didepan wajahnya. Untung saja cewek itu tidak refleks berteriak. Jantungnya berdebar karena itu, Raina langsung menjauhkan wajah Alen dengan telapak tangannya. "Jangan deket-deket!" "Kenapa?" tanya Alen. "Ini dikelas," "Ohh berarti kalo nggak dikelas boleh ya?" Alen menggoda, sambil menyeringai. "Apaan sih!" Alen terkekeh, "I love you Ra." ✨✨✨
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN