17. Olimpiade atau Karate

4128 Kata
Baca baik-baik, jangan sampai kalian kelewatan satu pun partnya, agar kalian nggak bingung nanti. Happy Reading! ✨✨✨ Jam istirahat telah berbunyi sekitar tiga menit yang lalu, Raina yang baru saja mencatat tugas yang baru diberikan oleh Bu Yuni, langsung memasukkan semua buku-bukunya ke loker meja. Raina melirik kearah Alen, cowok itu masih menulis disebelahnya, karena sejak tadi Alen tidak pindah ke bangku asalnya, ia tetap duduk disini bersama Raina. "Udah selesai? Mau ke kantin?" tanya Raina saat cowok itu menutup bukunya. "Udah, ayo yang," ajak Alen lalu bangkit sambil menarik tangan Raina. "Ih apaansih, jangan panggil kaya gitu, geli tau," ucap Raina. "Kan biar mesra Ra," jawab Alen. "Mesra apanya, akunya yang geli dengernya, udahlah panggil pake nama aku aja," ujar Raina. "Iya deh iya," Alen mengalah. Setelah itu mereka berdua pun berjalan menuju kantin, Devan dan Via sudah kesana duluan tadi, saat bel baru saja dibunyikan, memang dasar perut orang gembel ya gitu. Saat mereka baru saja memasuki area kantin, tiba-tiba saja kantin yang tadinya ramainya naudzubillah, langsung hening seketika, semua pasang mata langsung menyorot kearah mereka berdua. Hal itu membuat Raina menjadi tak nyaman dan kikuk sendiri berada disebelah Alen. "Udah tenang aja, nggak usah dipikirin, ada aku," ucap Alen, mengerti dengan perasaan Raina saat ini. Raina baru saja ingin melepaskan rangkulan tangan Alen dari pundaknya, tetapi cowok itu malah semakin mengeratkan rangkulannya pada Raina. "Kenapa?" tanya Alen. "Enggak nyaman, banyak yang ngeliatin," bisik Raina. "Enggak papa," balas Alen, lalu mereka langsung duduk bersama dibangku pojok kantin, berdua saja. Murid-murid yang tadinya hening dan memperhatikan mereka kini langsung ramai kembali, banyak yang berbisik-bisik sambil melirik kearah Alen dan Raina. Entah apa yang dibicarakan. "Kamu mau makan apa?" tanya Alen. "Apa aja, samain kaya kamu," balas Raina. "Oke, tunggu sebentar ya," ucap Alen, lalu langsung pergi dari hadapan Raina untuk memesan makanan. Raina pun menunggu Alen sambil melihat ke sekeliling, ia merasa tak nyaman saat dilihat seperti tadi. Ada yang melihatnya dengan tatapan sinis dan tidak suka, ada yang melihatnya dengan tatapan memuja, ada yang biasa saja, dan ada pula yang memekik tertahan saat mereka berdua datang tadi. Ya, Raina paham dan tau betul jika cewek-cewek disekolah ini banyak yang menyukai Alen, dan banyak yang tidak suka saat Alen berpacaran dengannya. Raina tau saat ia membaca banyaknya komentar yang ada diinstagram milik Alen, saat cowok itu memposting fotonya, ada komentar yang baik, dan ada juga komentar hujatan. Saat Raina tengah melamunkan hal itu, tiba-tiba saja ada seseorang yang menggebrak mejanya, membuat Raina tersentak kaget. "EH LO! LO SIAPA SIH? BERANI-BERANINYA PACARAN SAMA ALEN!" ucap Pingkan sambil menatap nyalang kearah Raina. Dibelakang cewek itu ada Lisa, Retha, dan juga Intan. "Emangnya kenapa? Ada yang salah?" tanya Raina, kalem. "EH! Malah nanya lagi, yaiya lah! Lo itu salah besar pacaran sama Alen! Lo itu gak pantes buat dia!" sentak Pingkan, membuat beberapa anak yang sedang duduk didekat meja Raina langsung menoleh. "Lo itu benalu! Lo itu perebut cowok orang! Gue udah kenal lama sama Alen, dan lo itu anak baru! Gue lebih tau Alen ketimbang lo!" ucap Pingkan lagi, matanya benar-benar menatap Raina dengan tidak suka. "Kak Pingkan suka sama Alen?" tanya Raina. "Iya! Dari dulu! Terus lo dateng gitu aja dan embat dia seenak jidat!" jawab Pingkan. Cewek primadona sekolah dan hits itu memang menyukai Alen sejak dulu, wajahnya yang cantik dan bodynya yang wah itu membuat banyak kaum laki-laki yang mengejarnya. "Ada apaan nih?" suara berat Alen terdengar, cowok itu baru saja datang sambil membawa nampan yang berisi makanan dan minuman. Raina, Pingkan dan teman-temannya itu pun langsung menoleh, kaget. Alen langsung menaruh nampannya dan duduk dengan tenang dihadapan Raina. Kepalanya lalu mendongak menatap Pingkan. "Kenapa Ping?" tanya Alen sekali lagi. Pingkan menahan emosinya, ia harus bisa menjaga sikapnya didepan Alen, cewek itu meremat kedua tangannya disamping rok. "Nggak papa kok, gue kira Raina sendirian duduk disini, ehh ternyata udah sama lo," ucap Pingkan. Alen hanya manggut-manggut, "Yaudah gue pergi dulu," pamit Pingkan, cewek itu pun pergi keluar kantin diikuti oleh ketiga temannya. "Nih, dimakan, suka siomay kan?" tanya Alen sambil menyodorkan satu piring siomay yang masih hangat kepada Raina. "Suka kok, makasih ya," ucap Raina, dan Alen hanya mengangguk sebagai jawaban. Saat Alen makan, cowok itu memperhatikan Raina yang sedari tadi hanya menatap kosong makanannya, seperti tidak ada selera untuk memakannya. "Kenapa nggak dimakan? Tadi katanya suka," tegur Alen, langsung membuat Raina mengerjapkan matanya beberapa kali. "Ehh, iya-iya. Ini mau dimakan," balas Raina yang langsung mengambil sendoknya. "Atau mau disuapin?" tawar Alen, membuat Raina langsung menggeleng cepat. "Enggak, nggak usah," tolaknya halus. ✨✨✨ Didalam kelas saat pelajaran matematika berlangsung, Raina tidak memperhatikan Bu Arum yang sedang menjelaskan rumus didepan, cewek itu malah mencoret-coreti bagian belakang bukunya sambil melamunkan sesuatu. "Ra, kayaknya rumusnya emang lebih gampangan yang dikasih tau Bu Arum ketimbang yang ada dipaket, ya nggak?" tanya Alen menoleh pada Raina. Cowok itu memang memilih duduk disini bersama Raina sekarang, ia mengusir Via saat cewek itu ingin duduk kembali disini. Saat Via menolak dan marah, Alen langsung menawarinya dengan banyak coklat yang ada dilaci bangkunya, seketika itu juga Via langsung tergiur dan mau duduk dibangkunya bersama Devan. Alen terdiam sebentar, saat Raina tidak memberikan respon apa-apa. Ia melihat kearah buku Raina, sudah penuh dengan banyak coret-coretan. Jadi dari tadi Raina tidak memperhatikan penjelasan Bu Arum sama sekali. "Ra?" "Ra," "Raaaa?" panggil Alen panjang, Raina pun langsung menoleh, dengan tatapan seperti orang linglung. "I-iya kenapa Len?" tanya Raina kelabakan. "Dari tadi ternyata nggak merhatiin ke depan? Cuman ngelamun doang?" tanya Alen. "S-siapa yang ngelamun? Aku merhatiin kok," balas Raina. "Masa? Tadi aku lagi nanya ke kamu, kamunya diem aja nggak jawab," ucap Alen. "Masa sih? Kamu tadi nanya apa? Maaf aku mungkin kurang denger," balas Raina, beralasan. Alen menghela napas, menatap mata Raina dalam, "Aku tau kamu lagi ngelamunin sesuatu, sejak dari kantin tadi kamu diem terus, kenapa sih?" tanya Alen. "Nggak papa kok, lagi mikirin tugas aja, banyak yang numpuk soalnya," jawab Raina, berbohong. "Tugas yang mana? Kita ini satu kelas, minggu ini belum dikasih tugas Ra. Tugas minggu lalu? Kamu belum selesai? Nanti ke perpus sama aku, aku kerjain." ucap Alen, membuat Raina langsung melotot. "Eh nggak usah, aku bisa ngerjain sendiri kok. Mentang-mentang pinter mau ngerjain tugas aku segala," balas Raina sambil sesekali melihat ke papan tulis. "Ya ini gunanya punya pacar pinter, enak kan kalo tugasnya dikerjain?" "Ya tapi nggak gitu juga Len, kan bisa ngerjain tugasnya bareng-bareng, ketimbang harus nyuruh kamu yang ngerjain," ucap Raina. "Kamu kan nggak nyuruh aku, tapi aku sendiri yang mau," balas Alen tak mau kalah. "Yaudah-yaudah, terserah kamu," Raina mengalah. Alen terkekeh mendengarnya, karena suara dan nada bicara Raina itu lucu, seperti anak kecil. "Alen Raina! Perhatikan ke depan! Jangan asik mengobrol, saya perhatikan kalian dari tadi ngomong terus," omel Bu Arum dari depan sana. "Eh iya Bu maaf! Saya yang ngajak Raina ngomong tadi," sahut Alen. "Anak baik-baik jangan kamu hasut untuk tidak memperhatikan pelajaran saya Alen," tambah Bu Arum, marah. "Iya Bu..." balas Alen panjang. "Kok kamu bilang gitu? Kan jadi kamu yang dimarahin," bisik Raina. "Udah nggak papa, diem. Perhatiin ke depan, jangan ngelamun lagi yang," ucap Alen, lagi-lagi menggoda Raina. Raina pun hanya mendengus kesal. ✨✨✨ Saat Alen dan Raina melewati koridor untuk menuju ke perpustakaan, ditengah jalan mereka melihat keramaian murid-murid yang tengah menggerumbuli mading sekolah. "Itu apaan ya?" tanya Raina pada Alen, namun Alen menjawab tidak tahu. "Coba liat yuk?" ajak Raina, lalu gadis itu menarik tangan Alen menuju ke mading. Saat sampai, Raina kesusahan untuk melihat pengumuman apa yang ada dimading, karena benar-benar ramai disini. Tetapi tiba-tiba saja Alen langsung berdehem, membuat semuanya menoleh dan menyingkir. "Ihhh Kak Alennnn! Oh my god, ganteng banget kalo diliat dari dekettt!" "Salah lo, kalo diliat dari deket malah makin ganteng nget nget ngetttt! Gak ngerti lagi gue, mening banget!" "Ssttt pelan-pelan kek kalo ngomong, orangnya ada disebelah lo," "Seneng banget bisa sedeket ini sama diaaa, wangiiiii...." "Prince Mateen mah kalah sama Alen," Alen yang mendengar itu hanya acuh, menulikan pendengarannya, jengah mendengarkan semua itu. Setiap hari. Setiap waktu. Setiap detik. Semua cewek selalu membicarakannya dimana saja. "Ohhh ternyata ada olimpiade matematika sama bahasa inggris. Tiga hari lagi, kok mendadak ya?" tanya Raina saat sudah membaca pengumuman yang ada dimading itu. "Kenapa? Mau ikut?" tanya Alen. "Iyaaaa, ayo ikut! Kita bisa daftar buat tes, siapa tau nanti dikirim buat ngewakilin sekolah," ajak Raina dengan antusias. "Nggak mau ah, aku nggak pernah ikut kayak ginian," tolak Alen. "Yahhh ayolahhh ikuttt! Pleaseee! Sama akuu, kamu kan pinter, pasti ntar lolos," bujuk Raina. "Enggak mau Ra, udah lama gak ikut olimpiade kayak gini, terakhir waktu SMP," ucap Alen. "Kan nggak papa ikut lagi sekarang, ini kan dua orang yang bakal diikutin olimpiade ngewakilin sekolah," balas Raina. Alen sebenarnya sangat malas mengikuti olimpiade seperti ini, tetapi karena Raina terlihat sangat bersemangat, Alen jadi tidak enak jika ingin menolaknya. "Eh Ra? Lo mau ikut olimpiadenya juga? Gue juga ikut by the way," suara Zidan terdengar dari samping, cowok itu datang sambil membawa beberapa brosur. "Iya maunya sih gitu, tapi Alen aku ajakin nggak---" ucapan Raina terpotong karena Alen menyambarnya. "Ikut, aku ikut. Daftar sekarang daftar, dimana sih daftarnya? Buruan Ra daftarin nama kita." ucap Alen cepat. Lalu ia melirik Zidan dengan pandangan tidak suka. Alen memang sengaja langsung memotong ucapan Raina, karena ia tidak suka jika Zidan ikut dalam olimpiade ini. "Loh tadi katanya..." "Aku ikut Ra...sebelum aku berubah pikiran," ucap Alen. "Oke..." Zidan lalu mendengus, melihat Alen yang sedang memberikannya senyum kemenangan. "Ini kapan tes nya Dan?" tanya Raina pada Zidan. "Nanti pulang sekolah, diaula," balas Zidan. "Okeee! Makasih ya!" ucap Raina sambil tersenyum. "Sama-sama," "Udah ayo belajar, ngapain masih disini?" tanya Alen, terdengar sewot. "Iya-iya, yaudah aku dul--" Belum sempat Raina melanjutkan perkataannya, Alen langsung menarik tangan cewek itu, menjauh dari mading dan Zidan. ✨✨✨ Seperti yang diberitahukan oleh Zidan tadi, para murid-murid yang akan tes untuk ikut olimpiade mewakili sekolah, kini harus berkumpul di aula. Mereka disuruh untuk mengerjakan beberapa soal, dan yang nilainya bagus nanti akan dipilih untuk mengikuti olimpiade. Raina dan Alen sudah selesai mengerjakan soalnya dengan mudah. "Besok akan Ibu umumkan siapa yang kepilih untuk mengikuti olimpiade," ucap Bu Yuni. "Dua orang kan Bu?" tanya seorang murid perempuan. "Iya." "Ya sudah, sekarang kalian boleh pulang," ucap Bu Yuni. Semua murid yang ada disini pun langsung bergegas keluar untuk pulang meninggalkan sekolah. Alen dan Raina jalan beriringan menuju parkiran. Tetapi saat dilorong tiba-tiba saja Raka datang dan langsung menarik tangan Raina, hingga cewek itu terkejut. "Pulang bareng Kak Raka," ucap Raka, dengan nada penuh perintah. Raina melirik kearah Alen seolah bertanya 'gimana?', tetapi cowok itu masih diam menatapnya. "Pulang sama Raka aja, Ra. Gue masih mau latihan karate hari ini, lupa belum bilang sama lo tadi," ucap Alen. Raina pun mengangguk, "Yaudah, aku pulang duluan ya?" pamitnya. "Iya, hati-hati Ra," ucap Alen sambil mengacak pelan rambut gadis itu, membuat Raka yang ada dihadapannya menatap tidak suka. Raina pun langsung kikuk sendiri, lalu setelah itu Raka langsung menariknya menuju parkiran. Setelah mereka sampai dimobil, keduanya sama-sama terdiam, tidak ada yang memulai pembicaraan. Raka sibuk menyetir mobilnya, dan Raina menatap kedepan kearah jalan raya. "Kamu pacaran beneran sama Alen?" tanya Raka, kini nadanya agak lembut sedikit. Bahkan Raka menggunakan kata 'kamu'. Raina langsung terkejut dengan pertanyaan itu, sudah pasti Raka tau semuanya, anak-anak satu sekolahan pun sudah tau kalau Raina itu berpacaran dengan Alen. "I-iya Kak," balas Raina, gugup. "Kenapa?" tanya Raka. "Kenapa apanya?" "Ya kenapa harus Alen? Kan masih banyak cowok yang lain," ucap Raka. "Kak Raka bener-bener nggak suka ya sama Alen?" tanya Raina dengan nada pelan. "Ya," "Emangnya nggak ada ruang dikiiiit aja yang kebuka buat Alen?" tanya Raina. "Nggak," "Tapi kenapa?" "Ya karena gue emang nggak suka, Ra." balas Raka, menoleh kearah Raina sebentar. Raina berdecak, "Dikiiiittt aja Kak, coba deh temenan sama Alen, pasti seru, dijamin!" ucap Raina, yakin. "Bukan tipe temen gue banget," balas Raka jutek. "Kenapa sih selalu milih-milih temen? Emangnya tipe temennya Kak Raka itu kayak apa?" tanya Raina kesal. "Anak baik-baik," "Ihh dia juga baik kok. Cuman nakal aja dikit, kan bisa diubah itu," sahut Raina. "Terserah, gue nggak peduli," ucap Raka cuek. Raina menghela napasnya, mencoba sabar, "Oke-oke. Berarti sekarang Kak Raka udah ngebolehin Rara sama Alen kan?" "Nggak." "Lohhhh! Kok gituuu sihhhh!!?" Raina  melotot geram sendiri, coba saja jika saat ini Raka tidak sedang menyetir, sudah pasti Raina akan mengguncang-guncangkan tubuhnya. "Karena nggak gini," balas Raka datar. "Demi Prince Mateen yang sering muncul diberanda t****k nya Rara, Kak Raka nyebelin bangeeeettttt!!!" pekik Raina. Raka hanya diam, cowok itu masih fokus menyetir, menghadap kedepan. "Sumpah ya, selama enam belas tahun Rara hidup didunia ini, Kak Raka selalu garing, gak pernah asik, flat terus, kayak gak ada jiwa-jiwanya yang hidup!" "Diajakin ngomong jawabnya singkat-singkat, sekalinya ngomong panjang itupun pas lagi marah-marah.  Diajakin bercanda diem aja, wajahnya tetep datar. Aslinya Mama itu dulu ngidam apa sih pas hamil Kak Raka?!!" gerutu Raina, cewek itu mengeluarkan unek-uneknya. "Lo lupa?" ucap Raka. "Apa?!" sahut Raina ngegas. "Lo sama gue itu kembar." jawab Raka. Ohh iya Raina lupa. Bagaimana gadis itu bisa lupa jika dirinya ini kembar dengan Raka? Saat hamil Mamanya jelasnya mereka berdua sama-sama sedang berada diperut Cherry. "Hehehehe, iya lupa. Maafin," ucap Raina cengengesan. "Tapi Kak Raka emang kayak gitu kan? Beda banget sama Rara, yang sering ngoceh kayak gini. Emmm kenapa Kak Raka gak jadi soft boy aja kayak Kak Raja? Kan asikkk, gak pernah marah-marah, kalem, penyabar, penyayang, ramah, pokoknya Kakak idaman benget lah," ucap Raina memuji-muji Raja. "Yaudah, jadi anaknya Tante Nesya sama Om Nata aja sana, gue nggak keberatan," cetus Raka, membuat Raina langsung mendelik. "Ihhhhh! Kok gitu? Jahat banget! Berarti selama ini Kak Raka gak sayang sama Rara? Pengen Rara jadi anaknya Aunty Nesya sama Om Nata? Iya????" ucap Raina menggebu-gebu, cewek itu langsung menyandarkan tubuhnya dikursi mobil, sambil bersendekap didepan d**a. "Sayang lah," sahut Raka. "Gue cuman bercanda, gitu aja marah, dasar baperan." lanjutnya. Raina mengerucutkan bibirnya, sambil melirik kearah Raka dengan sebal. "Suka-suka Rara dong!" "Semua orang nggak bisa lo suruh buat jadi orang lain. Mereka itu akan memperlakuin orang yang mereka sayang dengan caranya sendiri," ujar Raka tenang. Perkataan barusan mampu membuat Raina langsung merasa bersalah, dengan tidak sengaja Raina telah membanding-bandingkan Raka dengan Raja, yang memang memiliki sifat yang berbeda. Jika Raja adalah cowok yang lembut, ramah dan penyayang, maka Raka adalah cowok cuek yang perhatian. ✨✨✨  Liked by alvia.gbrla, zidanwbsn, and 54,624 others rainaarkaylaaa fantasy See all 5.654 comments alvia.gbrla gilaaaaaa cans banget temen gue alvia.gbrla kapan itu raaaa? zidanwbsn imut banget zidanwbsn gue baru follow ig lo, difollback ya ra? kenzoguttiero cantik banget sih Ra, lo makan apa? kenzoguttiero Btw gue belum punya id line lo Ra, boleh lah bagi-bagi;) kenzoguttiero Lewat DM ya raaaa rakaadhitamaa gue yg fotoin g ditag pingkan.allesya ewh sok cantik pingkan.allesya sok manis, sok imut, sok lucu, sok candid. lisaaaa22 @rakaadhitamaa oh my god my boyfriendddd!!! iloveyouuu!❤ lisaaaa22 @rakaadhitamaa kenapa nggak fotoin gue aja raka? lebih bagus bakalan hasilnyaaaa freyaanindita kak raina cantik bangetttt❤❤❤ freyaanindita boleh minta follbacknya ga kak? rajamahapranaa adeknya siapa nih? cantik amat. Besok aku ke rumah kamu ya? devannn.o wedeeehhhhh raaaaa! kenapa gue ketinggalan segini banyaknya komen? yahhh gak asik. padahal gue pengen bgt jadi orang pertama yg komen dipostan lo. devannn.o loh loh loh! si alen belom liat dia? belum like? belum komen? parah tuh anak. pacarnya udh dipuji-puji cantik sm banyak orang dianya belum nongol-nongol. devannn.o gue tag lo nyet @alendirgantara @alendirgantara @alendirgantara devannn.o jam-jam segini biasanya dia itu aktif i********: ra! tim gercep biasanya kalo liat postingan cewek cantik. devannn.o buruan muncul len, keburu aib lo gue bongkar disini. biar fans-fans lo pada tau ntar. devannn.o btw sorry ya ra kalo gue banyak banget komen dipostingan looo zidanwbsn lupa bilang kalo lo cantik, soal minuman yang tadi, gue minta maaf lagi ya? kenzoguttiero ra? bales dm gue dong? alendirgantara gue udah dikirimin fotonya duluan sama dia sebelum dia posting. alendirgantara udah milik gue. cowok dilarang masuk. alenrainashipper oh my goshhhh kak alen akhirnya muncul juga dikomennnnn alenrainashipper sooo sweett banget deh❤❤❤ alenersssssfans alennnn ganteng banget, cuman komen padahal. jual.harga.diri keju mozarella khas malangnya kak? bisa di go-food in guehhhsiapahhh? dijual followers murah 1000 followers 500 perak. devannn.o mana sempat, keburu telat. alvia.gbrla he'em mana sempat keburu telat. (and many others) Raina capek sendiri membaca banyaknya komen yang mengisi kolom komentarnya, ia tidak membalas, hanya memberikan notifikasi like dikomennya mereka satu-satu. Setelah selesai mandi tadi, Raina langsung membuka laptopnya, ia ingin mengerjakan tugas power point dari Bu Yuni yang akan dikumpulkan besok lewat flashdisk. ✨✨✨ Hari ini Bu Yuni akan mengumumkan nama siswa yang akan mengikuti olimpiade mewakili sekolah. Semua murid yang kemarin mengikuti tes juga sudah pada berkumpul diaula. "Tanpa banyak bicara, saya akan langsung mengumumkan dua nama murid yang akan mengikuti olimpiade," ucap Bu Yuni didepan sana. "Disini sebenarnya ada tiga orang yang nilainya tinggi-tinggi, tetapi saya akan tetap memilih dua," lanjutnya. "Anak pertama yang berhasil lolos tes uji coba kemarin bernama; Raina Arkayla dari kelas XI IPA 5," ucap Bu Yuni, membuat Raina langsung melebarkan senyumnya, membuat Alen yang ada disebelahnya ikut senang melihatnya. Suara riuh tepuk tangan langsung menggema diruangan ini. "Untuk anak kedua yang berhasil lolos tes adalah-----" Bu Yuni menggantungkan ucapannya, membuat semua murid yang ada didalam aula ini tegang menunggu jawaban. "Semoga kamu Len, biar bisa sama aku," ujar Raina. "Zidan Wibisana dari kelas XI IPA 2," ucap Bu Yuni, dan langsung diberi tepuk tangan riuh oleh semuanya. Zidan yang duduk tak jauh dari Raina itu pun langsung tersenyum kearahnya. "Yah, kok Zidan?" Raina kecewa, karena bukan Alen yang ikut olimpiade bersamanya besok. Alen berdecak, padahal kemarin ia benar-benar mengerjakan soalnya dengan sangat mudah dan benar, Alen sangat yakin itu. "Baik anak-anak, terima kasih untuk kalian yang sudah berkeinginan dan berjuang untuk mengikuti olimpiade mewakili sekolah, jangan berkecil hati karena kalian belum bisa terpilih, tetapi kalian semua itu pintar, kalian semua itu cerdas. Mungkin dilain kesempatan kalian masih bisa ikut untuk lomba cerdas cermat mewakili sekolah, karena itu membutuhkan lebih banyak peserta untuk ikut. Semangat semua ya, kalian boleh kembali ke kelas sekarang, terkecuali Raina dan Zidan," ucap Bu Yuni panjang kali lebar. "Iya Buuuu!" semua murid pun langsung berbondong-bondong keluar dari aula untuk kembali ke kelas masing-masing. Kini tinggalah Zidan, Raina, Alen, dan Bu Yuni yang berada di aula ini. "Alen, kenapa kamu masih ada disini? Kenapa nggak kembali ke kelas?" tanya Bu Yuni pada Alen. "Saya mau protes Bu," ucap Alen. "Protes apa?" "Kenapa saya nggak lolos tes? Saya yakin seyakin-yakinnya kalo nilai saya itu tinggi kemarin," ucap Alen. "Kenapa malah Zidan yang kepilih? Saya juga pinter kok Bu, saya masih pantes buat nemenin Raina ikut olimpiade," ucap Alen. "Iya Alen, Ibu tau kamu pinter. Tadi saya juga sudah bilang kalau yang lolos tes itu sebenarnya ada tiga orang, ya orang itu adalah kamu. Tapi saya ingat, jika hari dilaksanakannya olimpiade itu bebarengan dengan pertandingan karate kamu mewakili sekolah, iyakan? Apa kamu lupa?" tanya Bu Yuni pada Alen. Alen yang mendengar itu pun baru ingat, cowok itu lupa jika tiga hari lagi dirinya akan mengikuti lomba pertandingan karate mewakili sekolah, dan hari itu bertepatan dengan dilaksanakannya olimpiade juga. Alen melirik kearah Raina, gadis itu sedang menatapnya dengan tatapan sedih dan kecewa. "Iya saya baru ingat, tapi saya gak rela kalau Raina olimpiadenya sama Zidan Bu," balas Alen. "Ya sudah, jadi kamu tinggal pilih saja, pilih ikut pertandingan karate atau olimpiade?" tanya Bu Yuni, itu merupakan pilihan yang sulit bagi Alen. Alen melirik Raina sekali lagi, tetapi cuma sebentar, setelah itu pandangannya beralih menatap Zidan, Alen menatapnya dengan tatapan tidak suka dan mengancam. "Gimana Alen?" Alen menghembuskan napasnya cukup panjang, "Saya pilih karate," ucap Alen dengan berat. Alen harus berani dengan pilihannya, ia harus rela membiarkan Raina bersama Zidan yang jelas-jelas nantinya akan sibuk belajar bersama selama tiga hari ke depan. Cemburu? Sudah pasti jelas. "Baik kalau begitu, kamu fokusin latihan karatenya ya? Sementara untuk Zidan sama Raina, nanti Ibu akan kasih kalian lembar-lembar soal matematika sama bahasa inggris untuk kalian kerjakan, dan nanti juga banyak kisi-kisi yang akan saya berikan. Kalian harus menyiapkannya mulai dari sekarang, kalian harus sering belajar bersama, saling memberi masukan dan bertukar pikiran," pesan Bu Yuni. "Iya Bu," balas Zidan dan Raina bersamaan. "Ya sudah kalau begitu saya mau pergi ke ruang guru dulu," pamit Bu Yuni, guru paruh baya itu pun pergi keluar aula meninggalkan mereka bertiga. "Ayo ke kelas," ajak Alen sambil menarik tangan Raina. "Raina sama gue kan mau belajar Len," ucap Zidan menghentikan pergerakan mereka. Alen berbalik badan, begitu pun Raina. "Harus banget belajarnya sekarang?" tanya Alen, menukik. "Iya," "Kenapa lo? Mau cari-cari kesempatan buat deket-deket sama Raina? Inget. Lo bisa ngewakilin olimpiade ini karena gue mengalah. Gue lebih pilih karate ketimbang olimpiade. Tapi jangan mentang-mentang lo yang kepilih buat jadi partner nya Raina lo seenaknya." ujar Alen, pada Zidan. Zidan terkekeh, terkesan menertawakan Alen, "Gila lo ya? Gue gak kayak yang lo pikir, gue cuman ngewakilin olimpiade doang bareng Raina. Nggak akan gue embat cewek lo, tenang aja." balas Zidan santai. "Oke. Gue pegang omongan lo. Sampe gue tau lo liat-liatin Raina, pegang-pegang dia, ngobrolin hal lain selain pelajaran, awas aja lo," ucap Alen, nadanya mengancam. "Iya santai aja, aman." balas Zidan. "Ra, kalo lo diapa-apa in sama dia, bilang ke gue," ucap Alen pada Raina, cewek itu hanya mengangguk patuh. "Kamu masuk ke kelas duluan ya sekarang? Jangan bolos, jangan tidur dikelas," kata Raina sambil tersenyum. "Siap pacar!" Alen tersenyum, lalu mengacak pelan rambut gadis itu. Alen pun langsung pergi dari hadapan Raina dan Zidan, cowok itu meninggalkan mereka berdua di aula ini. Raina terdiam, ia menatap punggung Alen yang mulai menjauh dan menghilang dari penglihatannya. "Kenapa Ra? Nggak suka ya kalo partner nya gue?" tanya Zidan, menyadarkan Raina dari diamnya. "Ehh nggak kok. Bukan gitu," balas Raina. "Terus kenapa kayak gak rela gitu kalo Alen pergi?" "Nggak papa, aku baru nyadar, nanti pas pertandingannya dia, aku nggak bisa nontonin," ucap Raina lesu. "Nyusul masih bisa kok Ra, setau gue pertandingan karatenya itu lama, terus mulainya juga duluan olimpiade," balas Zidan. "Beneran?" tanya Raina dengan antusias. "Iya beneran," "Yesss! Oke deh kalo gitu, semoga aja besok masih bisa nonton Alen," ucap Raina sambil tersenyum lebar. "Yaudah, sekarang mending nyari Bu Yuni dulu, buat minta soal-soal latihannya," ucap Zidan. "Okee." ✨✨✨ Selama tiga hari belakangan ini, Alen sering sekali melihat Raina dan Zidan bersama, mereka sering dipanggil guru saat jam pelajaran untuk pergi ke perpustakaan guna belajar bersama. Selama tiga hari ini pula Alen jarang sekali mempunyai waktu bersama dengan Raina, mereka juga tak pernah pulang bareng. Mungkin mereka hanya bisa bersama saat jam pertama didalam kelas, itupun hanya dua jam, dan tidak bisa dipakai untuk mengobrol. Kini Alen sedang nongkrong dipojok tangga sekolah bersama Devan, Yuda, Liam, dan Zio. Mereka sedang asik bercanda gurau dan menggoda para cewek-cewek yang lewat, yang paling parah adalah Devan, cowok itu sedari tadi memberikan gombalan kepada adik kelas, bahkan tadi sampai ada adik kelas yang hampir menabrak tembok gara-gara salting sama Devan. "Nessy!! Nesss! Oi oi oiii! Noleh ngapa neng? Judes amat wajahnya," goda Devan, membuat cewek yang bernama Nessy itu menggeram. "Eh Van! Lo bisa gak sih gak usah godain cewek-cewek yang lewat didepan lo? Tuh mulut sama mata emang gak bisa dijaga ya?! Mau gue sumpel pakek sepatu mahal gue?!" omel Nessy sambil berkacak pinggang. "Widihhhh, santai dong Nes, bilang aja kalo lo cemburu kan ngeliat gue godain banyak cewek?" ucap Devan dengan pedenya. "Yaelah Van, Van. Lo pede amat jadi orang, makan apaan?" tanya Zio sambil tertawa disebelahnya. "Makan nasi lah," "Udah lah Nes, mending lo pergi aja, omongannya Devan gak usah didengerin, emang kurang waras dia," ucap Liam. "He'eh bener banged, mending lo buruan pergi aja, nggak usah diladenin bisa ikutan stres lo ntar," sahut Yuda, semuanya pun langsung tertawa mendengarnya, kecuali Alen. Nessy pun langsung pergi dari hadapan mereka berlima, setelah semuanya selesai tertawa, mereka sama-sama baru sadar jika dari tadi Alen tak ikut-ikutan nimbrung. "Len, lo kenapa? Wajah lo serem amat," ucap Devan. "Tau nih," sahut Zio. "Gak kayak biasanya," sahut Yuda. "Si Zidan bener-bener kurangajar jadi orang, selama tiga hari ini dia manfaatin kesempatan buat deket-deket sama cewek gua," ujar Alen. "Yaelah Len, namanya juga belajar bareng, ya pastinya bakalan deket. Lagian kenapa lo gak pilih olimpiade aja? Karate nya kan masih bisa lain kali," balas Devan membuat Alen langsung meliriknya dengan tajam. "g****k! Itu dia baru diomongin lewattt brooo!" seru Yuda membuat Alen dan yang lainnya langsung menoleh kearah tunjukan Yuda. Mata Alen seketika menajam, rahangnya mengeras, cowok itu sedang menahan emosi yang akan meluap. Alen melihat Zidan yang tengah memeluk Raina. ✨✨✨
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN