Baca baik-baik ya semuaaa! Biar nggak bingung nanti. Happy Reading
✨✨✨
Alen langsung berdiri dari duduknya, cowok itu mengepalkan kedua tangannya disamping badan. Devan dan yang lainnya juga ikut berdiri karena melihat perubahan ekspresi Alen yang terlihat marah.
"Len-Len. Lo mau kemana?" tanya Devan panik ketika Alen berjalan menuju lorong, menghampiri Raina dan Zidan.
"Ra, sorry ya. Gue nggak sengaja beneran, tadi gue kedorong sama anak yang lari," ucap Zidan pada Raina.
"Iya Dan, nggak papa."
"Maksud lo apa peluk-peluk cewek gue?" ujar Alen yang tiba-tiba sudah berdiri dihadapan mereka sambil menatap tajam kearah Zidan.
"Tadi kamu liat? J-jangan salah paham dulu, tadi Zid---"
"Apa?" sergah Alen, memotong ucapan Raina.
"Jangan salah paham dulu Len, gue tadi nggak sengaja meluk Raina karena ada anak yang nggak sengaja dorong gue," ucap Zidan, berusaha memberi penjelasan.
"Oh ya? Yakin? Nggak percaya gue. Selama tiga hari ini lo udah manfaatin kesempatan buat deket-deket sama Raina, gue selalu merhatiin kalian, mata gue masih berfungsi dengan baik." ucap Alen.
"Lo sama Raina gak cuma sekedar belajar bareng, lo sering kan ngajak Raina makan dikantin, belajar ditempat lain selain perpus, ngajakin dia pulang bareng, iyakan? Lo pikir gue gak tau? Gue selalu tahan setiap ngeliat sikap lo yang kaya gitu, lo ketua OSIS kan? Tapi g****k, nyoba-nyoba deketin cewek orang," ujar Alen, nadanya meninggi seketika.
"Gue cuma mau temenan lebih dekat sama Raina, nggak lebih, jadi lo jangan berasumsi kaya gitu. Kaya bocah lo, pemikiran lo childis banget," balas Zidan.
Tanpa pikir panjang Alen langsung melayangkan bogeman mentah dirahang cowok itu. Membuat Raina dan beberapa orang yang ada dilorong ini langsung terkejut.
"Alen! Jangan berantem disini!" teriak Raina, ketika Alen hendak memukul Zidan lagi.
"Dan, kamu nggak papa?" tanya Raina pada Zidan, cowok itu mengusap rahangnya, sambil meringis dan menggeleng.
"Nggak papa Ra," balas Zidan.
Alen menatap Raina dengan tatapan tak percaya, gadis itu malah menolong Zidan? Dan bertanya keadaannya? Didepan Alen? Sial.
"Ngapain lo nolongin dia?" tanya Alen pada Raina yang berusaha memapah Zidan.
"Karena Zidan nggak salah, tadi emang nggak sengaja dia meluk aku. Kamu jangan suka mukul orang secara tiba-tiba kaya tadi," balas Raina.
"Ohh jadi lo malah belain dia? Selama tiga hari ini enjoy dong ya bisa bareng-bareng terus sama ketua OSIS? Suka kan? Ketimbang harus sama gue, setiap hari lo selalu dikasih tatapan gak enak," ucap Alen, nadanya sangat mengecam.
Raina terdiam menatap Alen yang berdiri dihadapannya, gadis itu tak percaya dengan apa yang diucapkan padanya barusan. Kalimatnya terdengar kasar ditelinga Raina, Alen tidak pernah berkata seperti itu sebelumnya.
"Kamu kenapa bilang kaya gitu? Aku nggak pernah--"
"Udah Ra, gue nggak mau berantem sama lo. Mending sekarang lo lanjutin belajar lo, semangat buat olimpiade nya besok," ucap Alen, cowok itu langsung pergi dari hadapan Raina begitu saja.
"Len! Alen!" Raina memanggil nama Alen sambil mengejar cowok itu, tetapi langkahnya terhenti saat ada Bu Yuni yang memanggilnya.
"Raina, mau kemana kamu? Ini soal-soal latihannya," ucap Bu Yuni, membuat Raina langsung menoleh kebelakang, lalu menoleh kedepan lagi, ia melihat punggung Alen yang sudah menjauh.
"Iya Bu," balas Raina kembali menghampiri Zidan.
"Lebih semangat dan lebih seringin lagi ya belajarnya, karena olimpiadenya sudah didepan mata kalian," ucap Bu Yuni sambil menepuk bahu Raina dan Zidan.
"Iya Bu," balas mereka.
Bu Yuni pun tersenyum, guru setengah baya itu langsung pergi meninggalkan mereka.
"Ra," panggil Zidan.
"Iya?"
"Sorry ya, gara-gara gue Alen jadi marah sama lo," ujar Zidan merasa bersalah.
Raina tersenyum simpul, "Bukan salah kamu, dia cuman salah paham aja, nanti juga balik sendiri," balas Raina.
Zidan mengangguk, "Yaudah, ke lab komputer yuk," ajak Zidan, lalu Raina pun menurutinya.
✨✨✨
Alen baru saja mengganti pakaian karatenya, lengkap dengan pelindung tangan, pelindung tulang kering, pelindung muka, pelindung badan, pelindung kaki dan juga pelindung gigi.
Aura keren dan gantengnya makin bertambah berkali-kali lipat saat Alen sedang menggunakan pakaian karate seperti ini. Suara sorakan teman-teman Alen yang datang untuk menyemangati juga sudah membuat lapangan indoor ini begitu ramai.
"Len semangat eyy, nanti pokoknya habisin aja lawan lo, jangan kasih kendor," ucap Devan sambil menepuk punggung Alen.
"Yoi,"
"Liat tuh temen-temen, adek kelas, kakak kelas, banyak yang nontonin lo, pokoknya lo harus semangat!" seru Devan.
"Raina dateng?" tanya Alen pada Devan.
"Lahhh, dia kan lagi olimpiade sekarang sama Zidan. Jadi nggak tau bisa dateng apa nggak tuh anak, emangnya lo nggak telpon dia?" tanya Devan.
Alen menggeleng, "Dari kemarin gue nggak chatan atau telfonan sama dia,"
"Kenapa? Gara-gara masalah kemarin?" tanya Devan, tetapi Alen hanya diam saja tak menanggapi.
"Raina emangnya nggak nelfon atau ngechat lo gitu?"
"Iya, tapi nggak gue angkat sama nggak gue bales. Biarin dia belajar," ucap Alen.
"Kok lo gituin sih? Raina itu pasti nelfon lo gara-gara pengen nyemangatin lo, karena kemungkinan dia nggak bisa dateng hari ini," ucap Devan, yang mungkin memang ada benarnya.
"Udah lah biarin aja," balas Alen cuek.
"KAK ALEEENNN!!! Semangatttt yaaaa! Aku rela dateng kesini jauh-jauh buat nontoin Kak Alen," seru Freya yang tiba-tiba datang.
"Wedeh ada Dek Freya disini, sama siapa?" tanya Devan.
"Sama temen Kak,"
"Eh Len, Mama sama Papa lo dateng kan?" tanya Devan, membuat Alen langsung menoleh kearahnya dengan tatapan datar.
"Mana mungkin mereka dateng," jawabnya.
"Kenapa Kak?" ucap Freya kepo.
"Gak usah kepo jadi orang," balas Alen judes.
"Kan aku cuma nanya doang," balas Freya sambil memainkan jari-jarinya dengan tatapan sedih.
"Udah-udah, mendingan sekarang kita naik ke tribun aja, biarin aja si Alen, gak fokus ntar dia," ucap Devan, lalu langsung mengajak Freya untuk naik keatas tribun.
"Semangat Bro!"
"Hm," balas Alen singkat, cowok itu tidak tersenyum dari tadi, wajahnya hanya memasang ekspresi datar. Rasanya seperti ada yang kurang saat ini, semangatnya tidak penuh.
Tak lama kemudian, akhirnya suara MC terdengar menggema dilapangan indoor ini, kini saatnya Alen yang akan bertanding melawan anak SMA lain. Dirinya juga sudah siap dengan semuanya.
"Mari kita panggilkan atlet karate kita, dari SMA Galaksi, Alen Dirgantara!!!" panggil MC itu dengan bersemangat, membuat semua pendukung yang datang dari SMA Galaksi untuk menonton Alen langsung berteriak dan bertepuk tangan sangat meriah.
Alen pun langsung keluar dari persembunyiannya, cowok itu berjalan menuju tempat pertandingan, suara-suara teriakan histeris dan heboh langsung memuncak seketika.
"YAAAMPUNNNNN KAKKKK! KENAPA GANTENG BANGET SIHHHH!!!"
"GILAAA WOYYYY MAKIN KEREN PARAHHH!"
"SEMANGATTTT KAKKKK!"
"Mari kita panggilkan lagi, atlet karate kita dari SMA Pertiwi, Wisnu Aswangga!" panggil MC itu lagi, membuat pendukung dari SMA Pertiwi itu langsung bersorak heboh juga, tak kalah dengan anak-anak SMA Galaksi.
Alen dan lawannya itu pun kini sudah berdiri saling berhadapan, wasit juga sudah mengambil tempat ditengah-tengah mereka. Mereka sama-sama membungkuk memberikan hormat, lalu wasit pun langsung memulai pertandingannya.
Pertandingan satu lawan satu itu pun dimulai, dengan gerakan-gerakan karate yang sudah dikuasai oleh Alen, cowok itu dengan langsung memukul, menendang, dan menyepak lawannya dengan mudah.
Ini baru menit-menit awal, tetapi keadaan disini sudah semakin riuh dan panas, para suporter Alen masih terus meneriaki namanya dengan sangat antusias dan bersemangat.
Dilain tempat, kini Raina sedang terjebak macet dimobil bersama Zidan. Mereka baru saja menyelesaikan olimpiadenya, mereka menang, mereka pulang dengan membawa piagam dan piala, membuat harum nama sekolah mereka. Raina sangat senang, karena ini merupakan olimpiade pertamanya disekolah ini.
Tetapi dibalik kesenangannya itu, Raina tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Ia sedari tadi terus mengetuk-ngetukkan jari-jarinya diatas paha, ia ingin cepat-cepat sampai ditempat pertandingan karate Alen.
"Tenang Ra, sebentar lagi nyampe," ucap Zidan, mengerti dengan gerak-gerik Raina.
"Nggak bisa tenang, aku takutnya nanti udah ketinggalan nontonnya," ucap Raina.
"Percaya aja, pertandingannya baru dimulai," balas Zidan.
Tak lama kemudian akhirnya mobil Zidan sudah terparkir didepan gedung olahraga yang besar. Raina langsung keluar dan disusul oleh Zidan, Raina berlari memasuki gedung itu, Raina langsung disambut oleh teriakan penonton yang sangat ramai, ia bisa mendengarkan teriakan nama Alen yang disebut berkali-kali.
"GO ALEN GO ALEN GO!"
"AYOOO KAK SEMANGATTT!"
"JANGAN KASIH KENDOR!"
"ALEN! ALEN! ALEN!"
Raina menoleh ke kanan dan ke kiri, ia mencari keberadaan teman-temannya disini, "Eh Ra, itu Devan," ucap Zidan sambil menunjuk kearah tribun yang berada ditengah.
"Iya, ayo kita kesana!"
Raina pun langsung berjalan menaiki tribun bersama Zidan, Raina langsung duduk tepat disebelah Devan, cowok itu sedikit kaget karena kehadirannya.
"Eh Ra! Kaget gue, salam dulu napa kalo mau duduk disini," ucap Devan sambil mengelus dadanya.
Lalu Raina nyengir, "Iya maaf,"
"Gak papa, gue seneng lo akhirnya dateng, kalo Alen liat lo ada disini pasti dia makin semangat! Dari tadi gue liat dia kurang fokus," seru Devan. "Teriakin sana!"
Raina pun langsung berdiri dan berteriak, "Alennnn! Semangatttt!" seru Raina sambil bertepuk tangan, gadis itu tersenyum sangat lebar.
Alen yang mendengar suara yang tak asing itu pun langsung menoleh kearah tribun, matanya langsung menangkap sosok Raina disana. Gadis itu tengah tersenyum manis padanya sambil melambai-lambaikan tangannya pada Alen. Alen pun langsung mengulas senyum tipis.
Brukkk
Sial. Alen kecolongan, lawannya itu baru saja menendangnya sampai Alen jatuh karena tidak siap. Dengan cepat Alen langsung berdiri, membalas lawannya itu lagi tanpa henti, semangatnya langsung berkobar ketika melihat Raina datang dan memberikannya semangat.
Menit-menit berlalu, Alen telah dinyatakan memenangi pertandingan ini. Membuat semua anak-anak SMA Galaksi semakin berteriak heboh, dan loncat-loncat sana-sini karena melihat Alen menang dan membawa pulang medali emas serta piala.
✨✨✨
Raina masih duduk ditribun, ia hanya diam melihat Alen yang tengah dikerubungi oleh cewek-cewek. Bahunya melemas, ia seperti merasa tidak berguna menjadi pacar Alen. Mungkin jika dirinya tadi tidak datang kesini, itu tidak akan menjadi masalah bagi Alen. Lagi pula disini juga banyak yang mendukungnya.
"Nggak mau nyamperin?" tanya Zidan.
"Nanti aja kalo udah nggak rame," balas Raina.
"Mereka mah bakalan rame terus Ra, sampe Alen pulang." ucap Zidan, membuat Raina langsung berfikir.
"RAAAA! SINII! NGAPAIN LO MASIH DISANAAAA?" teriak Devan dari bawah, membuat Raina langsung menoleh.
"Iya Van!" sahut Raina.
"Ehm Ra, gue pulang duluan ya? Ada urusan mendadak nih," ucap Zidan saat cowok itu baru saja mengecek ponselnya.
"Nggak papa kan? Lo nanti pulangnya sama Alen," lanjutnya.
"Iya nggak papa kok. Yaudah hati-hati ya!" ucap Raina, Zidan pun membalasnya dengan anggukan.
Setelah itu mereka pun turun dari tribun berdua, lalu langsung berpisah dibawah, Raina langsung menghampiri Alen yang masih dikerubungi banyak cewek, banyak yang meminta foto.
"Van," panggil Raina.
Devan menoleh, "Kasih selamet gih," ucapnya.
"Gimana caranya? Rame gitu," balas Raina sambil menoleh kearah gerombolan itu.
"Oke-oke sebentar," balas Devan. "Woy cewek-cewek! Lo bisa minggir dulu gak? Pacarnya Alen mau nyamperin nih!" pekik Devan, membuat Raina langsung melotot, wajahnya memerah karena sekarang cewek-cewek itu tengah memandangnya.
"Ih Devannn! Kok bilangnya gitu sih?" bisik Raina kesal.
"Nggak papa Ra, udah buruan sana," Devan langsung mendorong punggung Raina pelan.
Dengan tubuh yang memanas, Raina pun akhirnya mulai berjalan mendekat kearah Alen, jujur dirinya sangat merasa risih dengan tatapan-tatapan yang diberikan oleh para penggemar Alen.
Raina langsung mengangkat tangan kanannya, saat dirinya sudah berada dihadapan Alen, "Selamat Alen," ucapnya.
Namun Alen hanya melihat tangan itu tanpa minat, kemudian matanya naik menatap mata Raina. Raina kikuk sendiri jika seperti ini, lalu gadis itu langsung menurunkan tangannya perlahan, tapi belum sempat benar-benar jatuh, tangan Alen langsung menariknya menjauh dari keramaian.
"Duduk," perintah Alen.
Raina pun langsung duduk, ia mendongak menatap Alen yang menatapnya dengan datar.
"Kamu masih marah?" tanya Raina.
"Nggak,"
"Terus kenapa sikap kamu kaya gini? Terus kenapa chat aku nggak kamu bales? Telfon aku juga nggak kamu angkat," ucap Raina, ada kilatan sedih dimatanya.
"Gue lagi nggak main hp aja kemarin," alibi Alen.
"Kamu bohong ya?" Raina bertanya sambil menatap sendu wajah Alen, keringat masih menetes dari pelipisnya, rambutnya juga setengah basah.
Alen menggeleng pelan, lalu tangannya mengusap pucuk kepala Raina sebentar, "Tunggu disini ya, gue mau ganti baju dulu," ujar Alen.
"Iya, jangan lama-lama," balas Raina sambil tersenyum.
Alen pun langsung beranjak dari tempatnya, cowok itu pergi ke toilet untuk berganti pakaian yang semula ia pakai tadi.
Raina mengedarkan pandangannya, disini masih cukup ramai, cewek-cewek yang tadi juga sepertinya masih banyak yang belum pulang.
Sambil menunggu Alen, Raina pun menopangkan dagunya dikedua tangan, tangannya itu bertumpu pada pahanya. Seketika kening Raina berkerut saat melihat ada sepatu kets cewek yang ada dibawahnya, sontak Raina langsung mendongak.
"Hellow, anak sok manis," sebut Pingkan, cewek itu berdiri dihadapan Raina yang sedang duduk, sambil menyilangkan kedua tangannya didepan d**a.
"Kak Pingkan," gumam Raina, entah kenapa gadis itu kini merasa takut dan tak aman berada didekatnya.
"Kenapa? Kok wajahnya pucet gitu?" tanya Pingkan sambil tersenyum.
"N-nggak papa kok,"
"Alen dimana?"
"Masih ganti baju kak,"
Pingkan pun hanya berohria. Tiba-tiba saja Pingkan langsung menarik tangan Raina, memaksa cewek itu untuk berdiri. "Ikut gue!" ucapnya penuh dengan penekanan.
"Mau kemana Kak? Aku disuruh nungguin Alen disini," ucap Raina berusaha melepaskan cengkraman tangan Pingkan yang kuat. Pingkan mengajak paksa Raina untuk berjalan keluar dari gedung ini.
"Gak usah banyak omong lo!"
"Kak! Kakak mau bawa aku kemana?" pekik Raina, cewek itu merasa ketakutan, karena tak ada yang menghiraukannya disini, semua teman-temannya masih berada didalam gedung.
"Masuk!" perintah Pingkan, cewek itu langsung mendorong paksa Raina untuk masuk kedalam mobilnya.
✨✨✨
Alen baru saja keluar dari dalam toilet, kini cowok itu sudah memakai kaos hitam polos bersama celana jeans hitam robek dibagian lututnya. Setelah selesai mengemasi semua barang-barangnya untuk dimasukkan kedalam tas, kini Alen langsung pergi untuk menghampiri tempat duduk Raina yang tadi.
Setelah sampai, Alen bingung mencari keberadaan Raina, gadis itu sudah tidak ada disini, lalu Alen dengan cepat langsung pergi menuju teman-temannya.
"Van, Raina mana?" tanya Alen pada Devan.
"Lahhh, ngaco lo? Tadi kan lo yang ngajak Raina pergi," balas Devan.
Alen berdecak, "Iya, tadi itu gue suruh dia buat nungguin gue ganti baju, tapi pas gue balik dia udah nggak ada," ujar Alen.
"Hah? Serius lo? Ilang kemana tuh anak," pekik Devan.
"Masa dia pulang duluan?"
"Nggak mungkin lah, mau pulang sama siapa dia? Zidan? Orang Zidan udah pulang duluan tadi," balas Devan.
"Raina, Raina. Lo kemana sih?" Alen kepalang panik.
"Hai Kak Alennn! Selamat yaaa karena udah menang, pasti Mama sama Papa nya Kak Alen bangga," ujar Freya yang baru saja datang menghampiri Alen.
"Lo tau Raina dimana?" tanya Alen pada Freya, tanpa mengindahkan ucapan gadis itu.
"Kak Raina?----aku nggak tau, tadi bukannya lagi sama Kak Alen ya?" ujar Freya.
"Dia ngilang,"
"Lo harus cari Len! Cewek lo itu! Kalo dia diculik sama orang gimana? Lo kan gak tau, cewek lo itu cantik! Main ditinggal-tinggal aja tadi," Devan berseru.
Tanpa pikir panjang, akhirnya Alen langsung berlari keluar menuju parkiran, tanpa menghiraukan panggilan Devan dan teman-temannya yang lain. Dengan cepat Alen langsung memakai helm dan menaiki motornya, entah mendapat feeling dari mana ia merasakan jika Raina dalam bahaya saat ini.
Sebelum menstater motor KLX nya, Alen membuka ponselnya terlebih dahulu, ia mencoba melacak keberadaan Raina saat ini, ketika dapat, rahangnya seketika langsung mengeras. Ia menemukan Raina sedang berada dijalan tempatnya biasa melakukan balapan liar. Dengan cepat Alen langsung menyimpan ponselnya dan langsung mengendarai motornya dengan gila-gilaan.
Dilain tempat, kini Raina tengah ketakutan setengah mati, pasalnya Pingkan membawanya disuatu tempat yang tidak Raina tau sama sekali keberadaannya. Ini baru pertama kalinya Raina kesini, jalan ini begitu sepi, jarang ada kendaraan yang lewat.
"Kak..sebenernya Kak Pingkan mau bawa aku kemana?" tanya Raina dengan pelan.
"Gak usah banyak tanya lo! Diem aja! Mau gue turunin disini?!" ancam Pingkan, membuat Raina langsung diam seketika.
Mobil Pingkan pun menepi, ia keluar dari mobilnya, berjalan kedepan mobil menuju pintu sebelah kiri, ia langsung membukanya, dan menarik tangan Raina dengan kasar untuk keluar.
"Keluar!" sentaknya.
Raina pun keluar, ia mengamati ke sekeliling, tidak ada siapa-siapa disini, hanya ada rumah kosong yang tak berpenghuni, padahal ini ada dipinggir jalan raya besar.
"Kak..ini dimana?" tanya Raina, ada nada ketakutan disuaranya.
"Ditempat yang gak bakalan ada orang yang nemuin lo!" ucap Pingkan lalu disusul dengan tawa jahatnya.
Membuat Raina langsung merinding seketika, ia meremat kuat kedua tangannya disamping badan, wajahnya yang tadinya masih terlihat biasa saja kini langsung berubah menjadi panik dan ketakutan.
"Sini ikut gue!" Pingkan lagi-lagi menarik tangan Raina dengan paksa. Mengajak gadis itu untuk masuk kedalam rumah kosong yang terlihat sangat mengerikan.
Brakkk
Pingkan mendorongnya sangat kasar, sampai Raina menabrak kursi peyot yang sudah rampung.
"Mati lo disini!" teriaknya.
"Kenapa Kak Pingkan tega ngelakuin ini sama aku?" tanya Raina dengan suara yang bergetar, ia terpojok ditembok kusam dan berlumut.
"Kenapa ya?" Pingkan seolah-olah sedang berfikir, "g****k banget lo! Bisa-bisanya masih nanya kayak gitu!!" sentaknya.
"Lo itu harusnya mikir, lo itu siapa? Lo itu anak baru! Yang sok cantik, sok manis, sok pinter! Inget dulu waktu lo berani ngelawan gue?! Lo sama Kakak lo si Raka itu, udah malu-malu in gue didepan banyak orang! Gue keliatan rendah banget didepan mereka waktu itu,"
"Lo anak baru aja songong! Apalagi si Raka itu. Gue suka heran sama temen gue si Lisa, bisa-bisanya dia suka sama Kakak lo yang songong kaya gitu, padahal masih banyak cowok-cowok diluaran sana yang mau sama Lisa, cuman kakak lo doang yang nolak dia, buta emang matanya," ucap Pingkan.
"Kak Pingkan juga suka kan sama Alen? Tapi kenapa Alen juga nolak ka--"
"DIEM! INI BUKAN WAKTU LO BUAT NGOMONG!"
"Tadi lo bilang apa? Alen nolak gue?" ucap Pingkan sambil mendekatkan telinganya ke wajah Raina.
"Gak tuh! Gue mantannya Alen, gue udah pacaran sama dia hampir satu tahun. Lo nggak tau kan? Apa Alen nggak pernah nyeritain ini ke lo?"
Pingkan terkekeh jahat, "Huuuh, mantannya Alen itu banyak banget, ceweknya dimana-mana, semuanya cantik-cantik, seksi, populer, gak culun kayak lo! Gue heran deh sama Alen, kok bisa-bisanya dia suka dan macarin cewek kayak lo? Ohh iya gue lupa, Alen itu cuman jadiin lo cewek mainannya doang, sekarang dia keliatan sayang banget kan sama lo? Liat aja besok-besok, pasti lo bakalan dibuang kayak cewek-ceweknya dia yang lain," ujar Pingkan, dengan senyum smirknya.
Raina merasakan sesak yang menjalar didadanya, matanya memanas, ia menahan air matanya yang ingin tumpah. Benarkah Alen seperti itu?
Pingkan berjongkok didepan Raina, memegang dagu gadis itu dan menariknya dengan kasar agar wajah Raina menatap wajahnya.
"Hmm kasihan ya? Nggak ada yang bisa nolongin lo disini, Alen nggak ada, Raka nggak ada, mau minta tolong ke siapa lo sekarang? Nggak berani nih lawan gue sendirian? Sad girls,"
"Kak Pingkan sebenernya mau apa?"
"Gue?----gue mau lo jauhin Alen! Tinggalin dia! Putusin, dan jangan berhubungan lagi sama dia, karena Alen itu masih punya gue!" kecamnya.
"Nggak mau," balas Raina, membuat Pingkan langsung melotot marah.
"Kenapa lo gak mau?!"
"Karena aku mau ngerubah Alen buat jadi orang yang lebih baik, Alen itu gak pantes sama orang kaya kamu. Kamu itu jahat!" Raina berteriak tepat didepan wajah Pingkan, membuat cewek itu langsung naik pitam. Tangannya langsung bergerak untuk menjambak rambut Raina sangat kuat, Pingkan menarik rambut Raina sampai Raina berdiri dengan tertatih.
Raina memegangi rambutnya yang ditarik, rasanya sangat sakit.
"NGOMONG APA LO BARUSAN!? BERANI LO YA!!!"
"LO TUH BENER-BENER BELAGU! SOK CANTIK! GUE BILANGIN SEKALI LAGI YA! LO ITU GAK PANTES BUAT ALEN!" teriak Pingkan bersamaan dirinya mendorong Raina ketembok.
Suara hantaman kepala Raina dengan tembok itu cukup keras, membuat kening Raina berdarah, gadis itu meringis kesakitan, ia sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi, Raina sudah menangis kejer.
"Rasain! Lo pantes dapetin ini semua!" teriak Pingkan.
Raina memegangi kepalanya, darah dari keningnya itu sudah mengalir sampai ke pelipisnya, rasanya sangat pusing, pandangannya juga mengabur, perutnya seketika mual, ia sudah sangat lemas.
"RAINA!"
✨✨✨