Baca baik-baik ya, jangan sampai ketinggalan satu pun partnya. Plagiat dilarang mendekat! Happy Reading
✨✨✨
"RAINA!" suara teriakan lantang itu berasal dari pintu rumah kosong yang terbuka. Membuat Pingkan seketika menoleh kebelakang, matanya langsung terbelalak kaget.
Alen langsung masuk kedalam, ia melihat Raina yang sedang tergeletak lemah dilantai kusam dan kotor. Cowok itu langsung berjongkok dan melihat keadaan gadis itu, Alen menyisihkan rambut Raina kebelakang, betapa terkejutnya ia saat melihat ada banyak darah yang mengalir di dahi dan pelipis gadis itu.
"Astaga, Ra," Alen mengusap kedua pipi Raina.
"Alennn.." rintih Raina, gadis itu samar-samar melihat wajah Alen yang ada didepannya.
"Kenapa bisa sampe kaya gini sih Ra," ucap Alen, nadanya benar-benar khawatir.
"Sakit.." Raina menangis.
Alen tak tega melihatnya, ia menghapus air mata gadis itu yang ada dipipinya. Alen tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai Raina kenapa-napa.
Alen menggeram, rahangnya seketika mengeras, "Sebentar ya Ra," ucap Alen pada Raina. Ia berdiri dan berbalik menghadap kebelakang, matanya menyorot tajam kearah Pingkan yang sedang berdiri didepannya saat ini.
Pingkan tak bisa menutupi ketakutannya, wajahnya langsung pucat saat melihat mata Alen yang menatapnya dengan tajam, cowok itu terlihat benar-benar marah.
"Woy! Lo ngapain Raina disini?!" sentak Alen, membuat nyali Pingkan langsung menciut.
"G-gue--gue--" Pingkan terbata-bata.
"Apa?! Lo punya masalah apa sama Raina? Sampe lo tega nyakitin dia!" bentak Alen lagi.
"Gue gak suka ngeliat dia deket-deket sama lo, apalagi pacaran sama lo, Len." jawab Pingkan mencoba berani.
Alen melangkah maju mendekati Pingkan, sampai cewek itu mundur dan menabrak tembok dibelakangnya. Alen menyudutkannya, matanya terus menyorot mata Pingkan, ada kilatan kemarahan disana. Dirinya sangat dekat dengan Alen saat ini, tetapi itu bukan membuatnya senang, tetapi malah membuatnya semakin takut.
"Lo siapa?" tanya Alen dingin.
"Lo itu bukan siapa-siapa gue, dan lo nggak pantes ngelakuin hal ini ke Raina hanya karena lo nggak suka kalo Raina itu pacaran sama gue," lanjutnya.
"Gue mantan lo! Gue masih gak terima kalo lo pacaran sama dia!" balas Pingkan.
"Cuma mantan. Inget. Man-tan. Jadi udah nggak ada hubungan apa-apa." ucap Alen, menekankan setiap perkataannya.
"Iya tapi gue masih sayang sama lo Len, gue cemburu ngeliat lo sama Raina!" ucap Pingkan, sedikit berteriak.
Alen tertawa remeh, "Sayang? Lo bilang lo masih sayang sama gue? Cih," Alen membuang mukanya ke samping.
"Kenapa? Gue emang masih sayang sama lo! Lo juga kan? Lo masih sayang sama gue juga kan? Lo belum bisa move on dari gue kan? Iyakan?" Pingkan mengguncangkan kedua bahu Alen.
"Pede gila lo," balas Alen.
Pingkan mengerutkan keningnya, kesal bercampur marah, "Gue mau balikan lagi sama lo! Lo harus putusin Raina, tinggalin dia, balik lagi sama gue," ucap Pingkan.
"Ogah! Ngapain juga gue harus balikan sama lo?" tanya Alen.
"Karena gue cewek yang lebih pantes buat lo, bukan dia!" tunjuk Pingkan pada Raina. "Heh jalang! Lo pake pelet apa sampe Alen mau sama cewek kayak lo!" teriaknya.
"Jalang teriak jalang!" seru Alen, membuat Pingkan kembali menoleh kearahnya, matanya memerah marah.
"Argh! Gue bukan jalang!"
"Bukan jalang tapi ngamar sama om-om berduit," sarkas Alen. "Beruntung gue tau kebusukan lo dibelakang gue, nggak salah kalo gue mutusin cewek kayak lo," tambahnya.
Pingkan mendorong d**a Alen, membuat cowok itu mundur beberapa langkah.
"Asalkan lo tau, gue gak pernah kayak apa yang lo omongin!" balas Pingkan tak terima.
"Gue ngeliat pake mata kepala gue sendiri," ujar Alen tegas.
"Udahlah, mending sekarang lo pergi dari sini, sebelum gue lapor polisi, lo mau?" ancam Alen. "Dan jangan gangguin Raina lagi."
"Gak! Gue mau lo balikan dulu sama gue, baru gue gak akan gangguin Raina lagi!" ucap Pingkan, cewek ini benar-benar gila pikir Alen.
"Sinting lo ya," desis Alen. Cowok itu pun langsung berjalan menuju Raina lagi, tetapi baru selangkah ia berjalan, Pingkan langsung menarik tangannya dengan cepat, membuat Alen langsung berbalik badan lagi.
"Lo liat ini!" tangan Pingkan bergerak membuka resleting jaketnya, melepasnya dan membuangnya ke lantai, Alen hanya memperhatikannya dengan tatapan bingung. Lalu cewek itu mulai memelorotkan kaus tanpa lengannya kebawah, membuat Alen langsung mendelik.
"Heh, lo mau ngapain?" tegur Alen, terdengar panik dan bingung menjadi satu.
"Biar lo liat, kalau gue itu lebih wah ketimbang Raina!" pekiknya dan semakin menurunkan pakaiannya itu ke bawah.
"Stop! Lo udah bener-bener gila ya!" Alen emosi, ia menahan tangan Pingkan agar menghentikan aksinya itu.
"Iya! Gue gila karena lo! Gue pengin lo jadi milik gue seutuhnya! Gue bakalan kasih apapun buat lo Len!" teriaknya, sambil berusaha berontak dari cekalan tangan Alen.
"Sadar Ping! Sadar! Lo itu terlalu terobsesi buat pacaran sama gue," ucap Alen mencoba menyadarkan Pingkan yang sudah mulai tidak terkontrol.
Pingkan menggeleng cepat, "Lo yang seharusnya sadar, kalo gue itu cewek yang lebih pantes sama lo ketimbang Raina. Raina nggak ada apa-apanya sama gue,"
Pingkan tiba-tiba mengarahkan tangan Alen itu ke dadanya, namun dengan cepat Alen langsung menarik tangannya itu, "Gila lo!" ucap Alen.
"Lo mau coba godain gue? Gak mempan, gak akan bisa, yang ada gue malah jijik sama tingkah lo, Ping." tambah Alen, ia menatap Pingkan dengan tidak suka.
"Alen..." suara rintihan pelan itu berasal dari Raina, gadis itu tidak bisa mendengar semua pembicaraan Alen dan Pingkan dengan jelas sedari tadi.
Alen menoleh, menatap khawatir gadis itu, ia tidak bisa berlama-lama disini hanya untuk mengurusi cewek tidak waras macam Pingkan.
"Len, please..." pinta Pingkan, cewek itu menatap sayu kearah Alen, tangannya kembali memegang tangan Alen, sepertinya dirinya memang sedang kehabisan obat.
"Gak! Apaan sih lo," sentak Alen, sambil mendorong Pingkan ke belakang.
Alen pun langsung dengan cepat berjalan kearah Raina, cowok itu mengambil sebelah tangan Raina untuk ia taruh dibelakang lehernya, ia membantu Raina untuk berdiri, Alen memapahnya.
Tubuh Raina sangat lemas, Alen bisa merasakannya. Tanpa lama, Alen pun langsung berjalan sambil memapah Raina sampai keluar dari rumah kosong yang mengerikan itu.
"ALEN!!" teriak Pingkan yang masih berada didalam rumah itu, tetapi Alen tidak menghiraukannya.
"Ra, masih kuat kan aku bonceng dibelakang? Nanti aku pegangin kamu, kamu pegangan yang kuat ya," ucap Alen lembut.
Raina pun mengangguk lemah, kini ia dan Alen sudah berada diatas motor, Alen juga sudah memakai helmnya. Tangan sebelah kirinya ia gunakan untuk memegang tubuh Raina dibelakang, lalu kedua tangan Raina melingkar diperut Alen, memeluk cowok itu sangat erat, agar ia tidak jatuh.
Alen pun langsung mengendarai motornya dengan perlahan tapi pasti. Pingkan masih memanggil namanya berkali-kali, tetapi Alen tak sudi untuk menoleh.
✨✨✨
Alen menggendong Raina masuk kedalam rumah, ia tidak membawa Raina pulang atau ke rumah sakit. Karena letak rumahnya dan letak rumah sakit itu masih jauh dari sini, jadi sebelum Raina benar-benar pingsan, jadinya Alen terpaksa harus mengajaknya kesini terlebih dahulu, karena tempat inilah yang lumayan dekat dengan tempat sepi yang tadi.
Tingnung!
Tingnung!
Tingnung!
Alen memencet bel rumah itu berkali-kali, sampai ada suara yang menyahut dari dalam sana.
"Iya, sebentar..." sahutnya.
Cklek
Pintu besar itu pun terbuka, menampakkan seorang wanita yang masih nampak muda. Ia terlihat terkejut saat melihat Alen datang kesini bersama seorang gadis yang sedang pingsan didalam gendongannya.
"Alen?" gumamnya, "Ah ya, ayo masuk dulu ke dalam," ucapnya saat tersadar.
Alen pun langsung masuk kedalam rumah itu, ia membawa Raina masuk kedalam salah satu kamar yang ada dirumah ini, yaitu kamarnya.
Dengan perlahan Alen menggeletakkan tubuh Raina dikasur, dan sedikit membenahi posisi tidurnya.
"Dia siapa Alen?" tanya Salsa--Mama Alen, yang terlihat kebingungan, karena Alen datang kesini secara tiba-tiba sambil membawa seorang gadis yang tengah pingsan dan terluka.
"Pacar Alen," balasnya.
Salsa sedikit terkejut mendengarnya, tetapi ia langsung mengubah raut wajahnya, "Itu keningnya berdarah, sebentar ya, Mama ambilin baskom, air, sama PK3 dulu," ucapnya.
"Iya."
Salsa pun langsung keluar kamar menuju dapur untuk mengambil baskom berisi air dan kotak P3K. Sementara itu didalam kamar Alen duduk dipinggiran kasur sambil mengelus rambut Raina, raut wajahnya benar-benar khawatir. Ia merasa tidak becus menjadi pacar Raina, ia merasa gagal menjaga Raina.
"Ra...maafin aku, karena aku kamu jadi kaya gini.." lirih Alen.
"Alen? Kamu ternyata pulang, Oma kangen sekali sama kamu," suara itu berasal dari ambang pintu, wanita paruh baya yang merupakan Oma Alen itu pun langsung menghampirinya.
Ada ulasan senyum disana saat melihat cucunya datang lagi kerumah ini, tetapi senyumnya itu terganti dengan kerutan bingung didahinya saat menyadari keberadaan Raina disini.
"Ini siapa? Kok berdarah keningnya?" tanya Oma Alen.
"Pacar Alen, Oma." jawab Alen.
"Kenapa bisa sampai berdarah kaya gini?" tanya Oma.
"Tadi ada yang jahatin dia Oma, terus Alen tolongin, dan langsung Alen bawa kesini aja, soalnya Alen lagi nggak bawa mobil, dia nya lemes. Mau ke rumah sakit kejauhan, rumahnya dia juga jauh dari sini, yaudah Alen bawa dia kesini aja," ujar Alen sambil melihat Omanya.
Oma pun hanya mengangguk sambil mengusap pelan rambut Alen. Saat itu Salsa pun kembali dengan baskom berisi air dan kotak P3K ditangannya.
Salsa menaruhnya diatas nakas, lalu ia langsung membersihkan darah Raina dengan handuk kecil berisi air, setelah itu ia langsung membersihkan lukanya dengan kapas berisi rivanol. Dilanjut lagi dengan mengobati luka goresan itu menggunakan obat merah, setelah selesai Salsa langsung memakaikan kain kasa steril dan direkatkan menggunakan hansaplast.
"Udah selesai, sekarang biarin dia sadar dulu," ucap Salsa sambil tersenyum kearah Alen.
"Makasih," ucap Alen.
Salsa tersenyum, ia berdiri dan langsung mengusap lembut rambut putranya itu, "Nggak usah bilang makasih kaya gitu, kaya lagi sama siapa aja," kata Salsa, membuat Alen meliriknya.
"Ya udah..mumpung Alen lagi ada disini mending kita makan bareng, Mama barusan masak makanan kesukaan kamu," ucap Salsa.
"Nanti aja, Alen mau nemenin Raina disini," balas Alen.
Salsa dan Oma pun hanya saling melempar pandang, lalu Oma mengangguk sambil tersenyum kearah Salsa.
"Yaudah, kalau gitu Oma sama Mama kamu keluar dulu ya?" pamit Oma.
"Iya Oma."
Salsa dan Oma pun langsung keluar dari kamar pribadi Alen yang ada dirumah ini, meninggalkan Alen dan Raina berdua disini.
Tangan Alen mengambil tangan kanan Raina, ada gelang berbandul bulan sabit yang ia berikan padanya waktu itu, gelang yang sama dengan bandul yang berbeda. Alen tersenyum getir, ia masih terngiang-ngiang kejadian tadi, hal itu masih terus berputar dikepalanya. Bisa-bisanya Pingkan melakukan hal senekat ini, hal yang bisa membahayakan Raina.
Cewek sinting. Umpat Alen.
"Gila beneran tuh cewek, bisa-bisanya bawa Raina ke rumah kosong kaya gitu, buat Raina sampe luka kaya gini lagi. Lebih gilanya lagi tuh cewek mau buka baju didepan gue, anjing!" Alen mengumpat, bukannya merasa tergoda, Alen malah merasa jijik pada tingkah Pingkan tadi.
Mungkin jika cowok lain yang ditunjukkan tingkah laku Pingkan tadi, akan langsung ngiler dan tergoda, atau mungkin bisa sampai khilaf karena terpancing nafsu. Untung saja Alen tidak tergoda sama sekali, nafsunya juga tidak sedang terpancing, jadinya ia bisa bebas dari cewek sinting itu.
"Engh.." Raina melenguh, cewek itu sedikit menggerakkan tubuhnya, membuat Alen langsung tersadar dari bayangannya.
"Ra?" panggil Alen.
"Pusing Len.." rintih Raina, gadis itu hanya membuka matanya sedikit.
Alen terus mengusap kepala Raina dengan lembut dan pelan, "Badan kamu panas," ucap Alen saat menyentuh kening Raina. Lalu tangannya bergerak ke leher gadis itu, panasnya makin terasa.
"Aku ada dimana?" tanya Raina pelan.
"Ada dirumah Mama aku, tadi aku mau bawa kamu ke rumah sakit atau ke rumah kamu, tapi kejauhan, aku takutnya kamu keburu pingsan dan nggak kuat, jadinya aku bawa kamu kesini aja, karena rumah ini lebih deket," jelas Alen, membuat Raina langsung mengangguk pelan.
"Kamu tau dari mana kalo aku ada disana?" tanya Raina.
"Aku ngelacak keberadaan kamu pake hape, untung aja ketemu," balas Alen.
"Aku ambilin kamu makan ya? Sama teh anget," ucap Alen, tetapi Raina hanya diam saja.
Tanpa pikir panjang, akhirnya Alen pun langsung beranjak dari duduknya, cowok itu keluar kamar untuk menuju dapur guna mengambilkan Raina makanan dan minuman.
Saat Alen pergi, Raina tiba-tiba saja langsung teringat dengan kejadian tadi, kejadian itu membuatnya benar-benar ketakutan pada sosok Pingkan, kakak kelasnya itu sangat kejam padanya. Raina tak habis pikir, Pingkan tega melakukan hal seperti itu padanya hanya karena dirinya tak suka jika Raina dekat dan berpacaran dengan Alen. Sebegitu tidak pantas kah Raina menjadi pacar Alen?
Raina tadi juga sempat mendengar beberapa kalimat yang diucapkan oleh Alen dan Pingkan, meski tak begitu jelas. Intinya Raina mendengar jika Pingkan masih sayang pada Alen, dan cewek itu menyuruh Alen untuk memutuskan hubungan dengannya. Raina mendadak parno jika seperti ini, mungkin jika Raina bertemu dengan Pingkan disekolah, Raina tidak berani bertatap muka dengannya.
"Hai cantik, makanannya udah dateng," sapa Alen yang baru saja masuk kedalam kamar sambil membawa nampan berisi sop ayam dan teh hangat.
Sapaan itu langsung membuat Raina membuyarkan lamunannya, gadis itu menoleh kearah Alen sambil tersenyum kecil, karena dirinya memang masih lemas.
Alen menaruh nampan itu diatas nakas, mengambil mangkuk berisi sop ayam, dan duduk kembali dipinggiran kasur. Tangannya bergerak untuk menyuapi Raina, "Buka mulutnya----kapalnya mau masuk,," ucap Alen sambil menggerakkan sendok itu seperti pesawat terbang, sudah mirip seperti sedang menyuapi anak kecil.
"Aaaaaa aemmm..." suara Alen seperti itu, saat satu sendok makanan berhasil masuk ke dalam mulut Raina, disusul dengan suara kekehan kecil.
Raina mengunyahnya sambil tersenyum, ia sangat senang saat Alen memperlakukannya semanis ini. Mata coklatnya itu terus memandang wajah Alen yang ganteng, tidak bohong. Alen memang benar-benar ganteng. Apalagi saat sedang memakai kaos hitam polos seperti sekarang ini. Membuat Raina terpesona melihatnya.
"Ngelihatin apa sih? Aku ganteng yaa?" Alen menggoda, membuat Raina memukul pahanya pelan.
"Aaa' lagi aaa' tadi pesawat, sekarang kereta nihhh, tut tut tutttt...." lagi-lagi Alen berucap seperti itu, membuat Raina memandangnya kesal. Tapi gadis itu langsung membuka mulutnya, dan menerima suapan itu lagi.
Drrttt drrtttt drtttt
Ponsel Raina bergetar dari dalam tas kecilnya, gadis itu masih pusing jika harus menggerakkan kepalanya, jadinya karena Alen peka, cowok itu langsung mengambil ponsel Raina yang ada didalam tas, lalu mengeluarkannya.
"Siapa?" tanya Raina.
Alen melihatnya, "Mama," katanya.
"Aku yang angkat ya?" ujar Alen, Raina hanya mengangguk. Setelah itu Alen pun langsung menggesernya ke tombol hijau.
"Halo Tante, Assalamualaikum," sapa Alen.
"Eh iya halo, wa'alaikumsalam, i-ni siapa ya? Kok suaranya kaya cowok," ucap Cherry dari seberang sana, nadanya seperti orang kebingungan.
"Saya Alen Tante, sahabatnya Raina," ucap Alen, membuat Raina langsung mengerut 'sahabat?'
"Kok?" Raina terlihat ingin protes.
"Maksud saya pacarnya Raina Tante," ralat Alen, sebenarnya Alen mengucapkan kata sahabat agar Cherry tidak langsung menghujaminya dengan banyak pertanyaan.
"Terus Raina nya ada dimana sekarang? Kenapa dia belum pulang juga jam segini? Ini udah malam, setau saya tadi dia bilang olimpiadenya selesai sore," balas Cherry.
"Iya Tante, ini Raina lagi sama saya, saya lagi jagain Raina," ucap Alen.
"Jagain? Memangnya Raina kenapa?" suara Cherry mulai terdengar panik dari seberang sana.
"Raina tadi habis kena musibah kecil Tante, terus saya tolongin dia, jadinya sekarang Raina lagi ad--"
"Ada dimana? Raina dimana sekarang? Biar saya jemput kesana," sahut Cherry semakin khawatir saat mendengar kata 'musibah'.
"Iya Tante, Tante tenang aja nggak usah khawatir, saya jagain Raina terus kok. Kalau Tante mau jemput kesini, alamatnya ada di Jalan Cempaka nomor 145, dideketnya POM bensin," ucap Alen.
"Yaudah, kalau gitu Tante langsung kesana ya sekarang. Tolong jagain Raina nya ya Alen?" pinta Cherry.
"Siap Tante,"
"Assalamualaikum,"
"Wa'alaikumsalam,"
Sambungan pun terputus. Alen langsung menjauhkan ponsel Raina dari telinganya, lalu ia meletakkannya dinakas.
"Gimana kata Mama?" tanya Raina.
"Mama kamu mau jemput kamu kesini," balas Alen.
"Yaudah kalo gitu," kata Raina.
"Ayo lanjutin makannya lagi," ucap Alen. Akhirnya cowok itu kembali menyuapi Raina sampai supnya habis setengah.
"Makasih ya Alen," ucap Raina.
"Buat apa?"
"Karena kamu udah nolongin aku tadi," balas Raina.
Alen mengangguk sambil tersenyum, "Kamu nggak sepantesnya bilang makasih sama aku, karena ini semua salah aku. Aku yang harusnya bilang maaf sama kamu, gara-gara aku nggak becus jagain kamu, kamu jadi kaya gini," ujar Alen.
Raina menggeleng, "Nggak, ini semua bukan salah kamu. Tapi emang Kak Pingkan aja yang nggak suka sama aku, jadinya dia sampe kaya gitu,"
"Tadi dia bilang apa aja sama kamu?" tanya Alen.
"Dia nyuruh aku buat jauhin kamu, buat mutusin kamu, katanya dia aku nggak pantes buat jadi pacar kamu. Katanya dia aku nggak ada apa-apanya ketimbang cewek-cewek kamu yang dulu," Raina berkata pelan, ia mengalihkan pandangannya ke samping, enggan melihat wajah Alen.
"Hei...kamu itu paling istimewa buat aku, kamu beda dari yang lain, aku sayang sama kamu bukan karena ada apanya kamu, tapi karena apa adanya kamu," ujar Alen sambil menatap mata Raina yang tidak menatapnya.
Raina kini kembali menatapnya, "Tapi dia bilang kamu bakalan buang aku, sama kaya cewek-cewek yang lain, apa bener?" Raina bertanya dengan tatapan sendu.
"Nggak, aku nggak bakalan buang kamu. Waktu kenal kamu aku jadi tau gimana rasanya memiliki yang sesungguhnya. Kamu udah jadi milik aku, jadi aku nggak mungkin buang kamu, buat apa juga?" balas Alen sambil mengelus rambut panjang Raina yang halus. "Kamu jangan langsung percaya dan terhasut sama omongannya Pingkan ya?"
Raina lalu mengangguk, "Kamu harus janji sama aku,"
"Janji apa?"
"Janji jangan pernah tinggalin aku," ujar Raina sambil mengangkat jari kelingkingnya keatas.
Alen tersenyum, sambil menggeleng, "Aku nggak mau janji."
"Kenapa?"
"Karena janji nggak akan berarti apa-apa kalau aku nggak bisa nepatinnya, daripada janji lebih baik aku tunjukin dengan tindakan nyata, pake bukti." balas Alen tegas penuh makna, sambil menarik kelingking Raina itu dan menggigitnya pelan.
"Aduhh," rintih Raina. "Okeeee, beneran yaaa?"
"Iya pacar." sahut Alen lalu mengacak rambut Raina. Lalu tiba-tiba Raina hendak bangun dari posisi tidurannya, membuat Alen langsung membantunya untuk duduk dan bersandar disandaran kasur.
"Te amo mi!" bisik Raina, gadis itu menarik Alen untuk mendekat.
"Yo también te amo!" balas Alen, wajahnya sangat dekat dengan Raina, bahkan hidung mereka sedikit lagi akan menempel.
Mereka saling bertatapan, saling merasakan hembusan napas hangat satu sama lain. Alen memiringkan kepalanya, semakin mengikis jarak diantara mereka, Raina dan Alen sama-sama terpejam, oksigen disekitarnya terasa habis. Saat jaraknya hanya beberapa senti lagi, Alen langsung membuka matanya dan menggeleng pelan. Tidak seharusnya ia melakukan ini sekarang.
Dengan cepat bibir Alen langsung mencium kening Raina yang hangat itu cukup lama, membuat Raina langsung membuka matanya, gadis itu tersenyum, lalu kembali memejamkan matanya, rasa hangat langsung menjalar begitu saja, apalagi saat Alen merengkuhnya dalam pelukannya. Rasanya sangat nyaman.
✨✨✨
Tingnung!
"Permisi, assalamualaikum," salam Cherry yang kini sedang berdiri didepan pintu.
Cherry datang kerumah ini sesuai dengan alamat yang diberitahu Alen tadi. Ia datang kesini bersama Arka.
"Iya, wa'alaikumsalam," sahut Salsa dari dalam rumah, wanita itu langsung membukakan pintunya.
Saat pintu itu sudah terbuka sempurna, Salsa tersenyum ramah seperti orang yang biasa kedatangan tamu, tetapi tiba-tiba saja senyumnya itu luntur saat melihat kedua orang yang ada dihadapannya saat ini. Dua orang yang selama bertahun-tahun ini tidak pernah ia temui. Luka dan kesalahan lama yang sudah tertutup rapat itu kini seakan terbuka.
"S-salsa?" sebut Cherry pelan, ia terkejut, ia menoleh kearah Arka, lelaki itu juga sama terkejutnya dengan Cherry.
"K-kalian t-tau dari mana rumah ini? Ada apa kalian kesini?" tanya Salsa, lidahnya terasa kelu untuk berbicara.
"Kita kesini mau jemput anak kita, Raina." balas Cherry.
Salsa terdiam sesaat, ternyata anak perempuan yang dibawa Alen kesini itu adalah anak Arka dan Cherry. Tadi Alen juga bilang kalau anak perempuan yang bernama Raina itu adalah pacarnya. Fakta macam apa ini.
"Ohh iya, silahkan masuk," ucap Salsa mempersilahkan, akhirnya Arka dan Cherry pun masuk ke dalam rumah yang cukup besar itu.
"Duduk dulu, Ka, Cher," ucap Salsa lagi, mereka benar-benar merasa canggung sekarang.
"Iya, makasih," balas Cherry. Ia menoleh kearah Arka, suaminya itu juga menoleh menatapnya. Mereka memilih diam, padahal ada beribu tanda tanya yang ada dipikiran mereka masing-masing.
Salsa pun berjalan menuju kamar, memberitahu Alen dan Raina jika kedua orangtua Raina sudah datang kesini untuk menjemput.
Kemudian Salsa berjalan menuju dapur guna membuatkan minuman untuk dua tamunya itu, tamu yang tak pernah ia duga kedatangannya.
Saat dirinya tengah menyiapkan gelas, entah kenapa tiba-tiba saja dadanya terasa sesak. Salsa memegang dadanya, napasnya naik turun, matanya memerah dan berkaca-kaca. Semua kesalahan dan kejahatan yang pernah ia perbuat dulu, kini langsung berputar begitu saja diotaknya, seperti film usang.
"Salsa, kamu kenapa sayang?" Mama Salsa alias Oma Alen yang bernama Rossa itu bertanya sambil memegang kedua pundak anaknya itu.
Salsa menoleh, wanita itu menarik napasnya dengan tersendat, "Ad-ada Arka sama Cherry Ma, mereka dateng kesini."
✨✨✨