20. I'm Fine

3072 Kata
Baca baik-baik ya, jangan sampai ketinggalan satu pun partnya. Plagiat dilarang mendekat! Happy Reading semangat puasanya semua ✨✨✨ Mentari pagi baru saja keluar dari persembunyiannya, suara kicauan burung bersautan, gorden kamar Raina yang semula tertutup kini langsung terbuka lebar, membiarkan sinar matahari pagi masuk ke dalam kamar ber-wallpaper pink dan abu-abu itu. Raina membuka matanya perlahan, kepalanya masih terasa pusing karena efek benturan kemarin. Ia menoleh kearah kanan, ada Raka disana, tadi Raina pikir yang membuka gorden itu adalah Mama nya, ternyata kakaknya. "Masih pusing Ra?" tanya Raka sambil menghampiri Raina, lalu duduk dipinggiran kasur. Raina mengangguk, "Masih," "Kak Raka hari ini nggak ke sekolah?" tanya Raina. "Sekolah, habis ini mau turun ke bawah, surat ijin kamu juga udah Kak Raka buatin tadi," ujar Raka lembut, tidak seperti biasanya. "Makasih Kak," Raina tersenyum, Raka hanya membalasnya dengan anggukan. Raka lalu mengelus rambut Raina, dan memegang keningnya, rasanya sudah tidak sepanas kemarin malam. Sepulang dari rumah Mama Alen kemarin, Cherry sebenarnya ingin mengajak Raina untuk ke rumah sakit, tetapi gadis itu menolak, ia bilang ia sudah tidak kenapa-napa, hanya butuh obat penurun demam saja. Arka dan Cherry pun hanya menuruti saja, tetapi syaratnya adalah hari ini Raina tidak dibolehkan untuk datang ke sekolah terlebih dahulu. "Kak Raka nyesel kemarin, karena nggak nganterin kamu ke tempat olimpiade, kalo misalnya kamu sama Kak Raka, nggak bakal kejadian kaya gini," kata Raka, raut wajahnya penuh penyesalan. "Nggak papa Kak, lagian ini juga udah terjadi, mau gimana lagi," balas Raina. "Emangnya Pingkan kenapa bisa sampe ngelakuin hal itu ke kamu?" tanya Raka. Raka memang tau jika penyebab adiknya menjadi seperti ini karena ulahnya, tapi tanpa tau penyebabnya. "Karena dia nggak suka aja kali sama Rara," balas Raina. "Nggak suka kenapa?" Raina hanya menggeleng pelan, ia tidak mau menjawab yang sejujurnya. Takut jika nanti Raka malah tambah membenci Alen. Raina melirik kearah jam dinding, "Udah jam setengah tujuh, Kak Raka buruan sarapan sana, nanti terlambat lagi," ucap Raina mengingatkan. Raka ikut menoleh kearah jam dinding, lalu mengangguk, "Iya, kamu istirahat ya, nanti Kak Raja mau kesini," balas Raka. "Yang bener?" Raina excited. "Iya, dia nelfon tadi." "Yesss!" "Pangerannya dateng langsung sembuh," cibir Raka cuek, membuat Raina tertawa kecil, sampai matanya menyipit. "Kak Raka juga pangeran kokkkk! Prince Raka uuwuu," kekeh Raina, membuat Raka hanya meliriknya malas, sikap cueknya mulai kembali lagi. "Yaudah gue mau turun." ucap Raka, tidak lagi manis seperti tadi. Cowok itu langsung bangkit dari duduknya, dan berjalan keluar dari kamar Raina, untuk turun ke bawah, meninggalkan Raina sendirian dikamar ini. "Tadi ngomongnya lembut banget pake kamu-kamu, sekarang pake gue-gue lagi," dengus Raina saat Raka tak lagi nampak. Gadis itu lalu mendudukkan tubuhnya diatas kasur, menyibak selimut tebalnya dan menggeser duduknya sampai kakinya itu turun ke lantai yang dingin. Raina langsung berdiri, namun tiba-tiba saja pandangannya langsung gelap, tubuhnya bergoyang pusing, ia mencoba untuk menatralisirkannya lagi, dan akhirnya pandangannya itu kembali normal. Raina pun berjalan masuk ke dalam kamar mandinya, gadis itu berniat untuk mandi air hangat pagi ini, agar badannya kembali segar. Sepuluh menit berlalu, Raina sudah keluar dari kamar mandinya. Gadis itu memakai pakaian santai hari ini, seperti hari-hari biasanya jika sedang berada dirumah. ✨✨✨ Raina kini sedang duduk didepan meja makan, dihadapannya ada sepiring nasi, sayur, dan lengkap dengan ayamnya. Namun Raina hanya menatap makanan itu dengan tidak minat, ia hanya memainkan sendoknya sedari tadi. Bukan karena makanannya tidak enak, tapi karena Raina tidak sedang nafsu makan. Cherry yang baru saja keluar dari dapur langsung menghampiri Raina yang tengah seperti itu, "Kok nggak dimakan makanannya sayang? Masakan Mama nggak enak ya?" tanya Cherry, membuat Raina langsung mengerjap beberapa kali. "Enggak kok Ma, bukan karena itu," balas Raina cepat. "Terus karena apa?" "Assalamualaikum, Tante," suara itu berasal dari ambang pintu utama yang terbuka. Membuat Cherry dan Raina langsung menoleh kesana. "Wa'alaikumsalam," balas Cherry dan Raina. "Itu Raja deh kayanya," ucap Cherry. "Sini Ja, masuk," teriak Cherry dari dalam. Raja pun langsung masuk kedalam rumah itu, berjalan sampai menemui Cherry dan Raina yang sedang berada diruang makan. Raja pun langsung menyalami tangan Cherry. "Sendirian Ja?" tanya Cherry. "Iya Tante," balas Raja ramah seperti biasa. Lalu pandangan Raja tertuju pada Raina yang masih duduk dikursi sambil memainkan sendok dan makanannya itu. "Liat itu, dia nggak mau makan, coba kamu rayu dulu, siapa tau langsung mau," ucap Cherry pada Raja. "Oke siap." balas Raja, lalu Cherry hanya tersenyum dan meninggalkan mereka berdua. "Kok nggak dimakan makanannya Ra?" tanya Raja sambil duduk dikursi sebelah Raina. Raina menoleh, "Nggak laper, nggak pengin." "Jangan gitu, kamu harus tetep makan, inget banyak orang diluaran sana yang kelaparan karena nggak ada makanan. Kamu itu harusnya bersyukur, masih bisa makan enak kaya gini." ujar Raja membuat Raina langsung menoleh. "Iya-iya-iya, Rara makan." balas Rara lalu langsung menyendokkan makanan itu ke mulutnya. "Nah gitu kan pinter," puji Raja sambil mengacak rambut Raina. Setelah selesai makan, Raja langsung mengajak Raina untuk menuju ke belakang, tepat ditempat santai dekat kolam renang, dan tempat ini merupakan tempat favorit Raina dirumah ini.  Raina duduk dipinggiran kasur itu bersama Raja. "Perbannya udah diganti?" tanya Raja saat melihat perban yang ada didahi Raina. "Belum, tadi Rara lupa," balas Raina. "Kak Raja ambilin P3K nya dulu ya, kamu tunggu disini," ucap Raja. "Iya Kak." Tak lama kemudian akhirnya Raja pun datang sambil membawa kotak P3K ditangannya. Ia langsung melepas hansaplast dan kasa yang ada didahi Raina dengan hati-hati, agar tidak sakit. Raina hanya diam, membiarkan Raja melakukannya, gadis itu menatap wajah Raja terus-terusan, ganteng. Raina baru tersadar jika didalam kehidupannya ini ia dikelilingi oleh para cowok-cowok ganteng. "Kenapa ngeliatinnya sampe kaya gitu?" tanya Raja, membuat Raina langsung mengerjapkan matanya. "Karena Kak Raja ganteng, kalo Rara pikir-pikir Rara itu beruntung banget ya?" kata Raina. "Beruntung gimana?" "Rara dikelilingin sama cowok-cowok ganteng, mulai dari Kak Raka, Kak Raja, terus Alen," balasnya. "Alen? Siapa dia?" "Pacarnya Rara, oh iya, Kak Raja belum tau yaa?" Raja menggeleng, ia sudah selesai mengganti perban milik Raina dengan rapi. "Kamu nggak mau cerita, sampe Kak Raja ketinggalan berita kaya gini." "Bukannya nggak mau cerita, tapi kan kita jarang ketemu, Kak Raja belajaaarrr terus dirumah, padahal sekarang Kak Raja lagi liburan di Indonesia," balas Raina. Raja terkekeh, "Iya sih ya," "Ya udah sekarang mau Rara ceritain nggak tentang Alen?" tawar Raina. "Boleh." ✨✨✨ Alen duduk dikursinya dengan tidak tenang, ia melirik kursi kosong milik Raina yang ada disebelahnya, gadis itu tidak sekolah hari ini. Jelas saja, gadis itu tidak mungkin sekolah sekarang, karena keadaannya sedang sakit. Pelajaran yang sedang diterangkan didepan oleh Bu Yuni pun Alen tidak memperhatikannya sama sekali. "ALEN!" panggil Bu Yuni dengan suara keras, membuat Alen langsung terkejut dari lamunannya, bukan hanya Alen saja yang terkejut, namun hampir anak satu kelas. "Ya Bu?" "Dari tadi kamu ngapain?" "Duduk," "Dari tadi kamu ngapain?" "Diem aja," "Dari tadi kamu ngapain?" tanya Bu Yuni semakin diperjelas, "Kenapa kamu nggak memperhatikan saya didepan? Apa dikursi Raina ada yang lebih menarik?" tanya Bu Yuni, langsung membuat anak-anak sekelas menahan tawanya. Alen menghembuskan napasnya panjang, "Iya, nggak ada yang lebih menarik selain apapun yang bersangkutan sama dia," jawab Alen enteng. Membuat Bu Yuni langsung mendelik, teman-teman sekelasnya sudah bersorak-sorak heboh dan men-cie-ciekan nama mereka berdua, walau Rainanya tidak ada. "Udah lah Len, besok dia juga sekolah, nggak usah galau gitu lah!" sahut Devan dari bangkunya, membuat Alen menoleh sekilas. "Gue tau lo kangen sama dia! Ihir!" "Sudah-sudah diam semua, kamu juga Devan!" peringat Bu Yuni. "Alen, maju ke depan, kerjakan soal yang ada dipapan tulis," perintah Bu Yuni. "Nggak mau Bu," tolak Alen cepat. "Loh, kenapa?" Bu Yuni semakin emosi. "Males," "Pilih kerjakan soal ini, atau keluar dari kelas saya?" Bu Yuni mengancam. Tanpa lama akhirnya Alen berdiri dari duduknya, cowok itu berjalan kedepan, saat sudah didepan ia melirik kearah Bu Yuni dengan ketus, lalu dengan enaknya cowok itu berbelok kearah kiri dan berjalan keluar kelas. Bu Yuni speechless melihat perilaku Alen, begitu juga teman-teman sekelasnya, banyak yang melongo tak percaya. Alen keluar begitu saja, ia memilih opsi kedua yang diberikan oleh Bu Yuni, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. ✨✨✨ Disini lah Alen berdiri, diatas rooftop luas milik SMA Galaksi, ia benar-benar hilang semangat saat tidak ada Raina seperti ini. Ia ingin menemui Raina sekarang, ingin melihat langsung keadaan gadis itu. Alen mengambil ponselnya yang ada disaku celana abu-abunya, ia terlihat sedang mengetikkan sesuatu disana. Alen Dirgantara: Ra, gimana? Kamu udah sehat? Jangan lupa makan ya, istirahat yang banyak, biar kamu cepet sembuh. /send. Tak lama setelah itu, ada notifikasi masuk dari ponselnya, membuat Alen langsung mengeceknya. Raina Arkayla: Udah kok. Siap kaptennn. Kamu kok bisa nge-chat aku? Bukannya ini lagi jam pelajaran ya? Alen Dirgantara: Iya, aku lagi diluar kelas. Raina Arkayla: Kenapa? Ngapain? Alen Dirgantara: Mau mikirin kamu, biar nggak ada yang ganggu. Raina Arkayla: Issss kok gitu sih? Aku nggak perlu dipikirin, aku baik-baik aja. Alen Dirgantara: Tapi aku kangen. Raina Arkayla: Apaansiiiihhh, besok aku udah sekolah kokkk. Alen Dirgantara: Masih lama tuh. Raina Arkayla: Sabaaaarrr. Alen Dirgantara: Nggak mau sabar Alennya. Maunya Raina. Raina Arkayla: Iya deh iyaaaa. Alen Dirgantara: Yaudah, istirahat sana, jangan main hape, ntar pusing. Raina Arkayla: Siap kaptennnn. Setelah itu, Alen kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celana, ia berjalan kedepan, duduk dipinggiran atap, dengan menjuntaikan kakinya kebawah. Pikirannya agak tenang saat sudah mengetahui keadaan Raina saat ini. Tetapi pikirannya tiba-tiba malah mengingat kejadian kemarin, saat Mama dan Papa Raina datang untuk menjemput. Saat Alen masih menemani Raina didalam kamar kemarin, ia dapat mendengar samar-samar pembicaraan Mama-nya dan kedua orangtua Raina. Mereka tampak berbicara serius. Alen juga sempat mendengar jika Salsa----Mamanya itu mengucapkan kata maaf dengan suara bergetar. Mereka semua seperti tengah membicarakan masa lalu, nama ayah Alen yang bernama Fathur itu juga beberapa kali disebut oleh Salsa. Mereka berbincang seolah mereka adalah teman, bukan orang asing. Itu yang membuat Alen menjadi penasaran, bukannya kemarin itu adalah pertama kalinya orangtua Raina bertemu dengan Mamanya? Tetapi kenapa mereka seakan-akan adalah sahabat yang sudah lama tidak bertemu, lalu tak sengaja dipertemukan dirumah itu. Apalagi saat dirinya kemarin baru keluar kamar bersama Raina, ia terkejut saat melihat Mamanya itu tengah menangis sambil memeluk Mama Raina. Atau mungkin mereka memang sudah saling kenal dulu? Entahlah, Alen tidak menanyakan hal itu kemarin pada Salsa. ✨✨✨ "Len, gue minta maaf ya atas perbuatan gue kemarin.." ucap Pingkan pada Alen yang tengah berdiri didepannya tanpa ingin menatap. "Gue nggak bermaksud buat ngejatuhin harga diri gue didepan lo, gue tau lo kemarin pasti jijik sama tingkah laku gue ke lo," lanjutnya. Alen masih terdiam, ia melirik Pingkan sebentar, Alen pikir Pingkan akan meminta maaf karena perbuatannya pada Raina, tapi malah hal itu yang ia bahas. "Udah gue lupain hal itu," balas Alen dingin. "Jadi lo maafin gue?" "Jangan diulangin lagi, lo itu cewek, nggak sepantesnya lo kaya gitu," ucap Alen. "Iya Len, sekali lagi maaf. Gue lost control kemarin," tambah Pingkan. Alen hanya berdehem singkat, "Gue belum bener-bener maafin lo, sebelum lo minta maaf sama Raina," ucap Alen. Pingkan langsung merubah raut wajahnya menjadi ketus saat mendengar nama Raina disebut, "Gak mau, ngapain juga gue minta maaf ke dia?" "Karena lo udah membahayakan Raina kemarin, lo culik dia, lo bawa dia ke rumah kosong, terus lo dorong dia sampe dia terluka. Itu sama aja lo udah ngelakuin tindak kriminal," ujar Alen, nadanya tampak marah. "Lo itu seharusnya udah keluar dari sekolah ini, atau bahkan lo udah ada dipenjara sekarang," tambah Alen. "Gue gak akan pernah sudi minta maaf sama cewek gatel kaya dia," balas Pingkan. "Lo itu kapan sadarnya sih? Nasib lo masih beruntung kemarin, karena orangtua Raina nggak memperpanjang masalah ini, juga nggak ada yang ngelaporin lo ke guru atau ke polisi," ucap Alen. "Cukup minta maaf dan bilang terimakasih, apa itu susah banget buat lo?" "Iya! Sampe kapan pun gue gak akan minta maaf atau pun bilang terima kasih sama dia!" pekik Pingkan. "Gue gak mau ngerendah didepan dia," lanjut Pingkan, menekankan perkataannya. Alen tertawa meremehkan, "Gitu didepan gue kemarin lo rendahan banget." Pingkan mengepalkan kedua tangannya disamping badan, ia menatap mata Alen dengan marah bercampur jengkel. "Terserah!" teriak Pingkan lalu langsung pergi dari hadapan Alen. ✨✨✨ Alen dan Devan kini sedang makan dikantin, untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan karena lapar. "Gimana keadaannya Raina Len?" tanya Devan disela-sela makannya. "Baik," "Lo nggak mau jenguk dia gitu?" "Maunya sih gitu, tapi-" "Tapi apa?" Alen memutar bola matanya jengah saat Devan tiba-tiba memotong pembicaraannya, "Tapi gue nanti ada acara," "Acara apaan dah? Sok penting banget lo," kata Devan. "Acara kematian lo, kan bentar lagi lo mati, tukang peti jogetnya udah siap." balas Alen ngawur. "Woyyy, ngawur aja lo kalo ngomong! Astagfirullah! Jangan sampe amit-amit! Ya Allah hamba masih mau hidup, jangan dengerin kata-kata temen hamba yang laknat ini Ya Allah," ucap Devan memelas, seraya mengangkat kedua tangannya berdoa. "Alay lo," cibir Alen. "Mati gak ada yang tau, entah itu nanti, besok, atau sekarang, lo gak bakalan tau. Percuma aja lo berdoa kayak gitu, tanggal dan hari mati lo udah ditulis dilauhul mahfuz," ucap Alen. "Lo ngerti kayak gituan Len? Takjub gue," balas Devan terheran-heran. "Ya iyalah, emangnya lo? Pas pelajaran agama malah tidur," sahut Alen. "Eh nggak ye! Enak aja lo kalo ngomong, gini-gini bapak gue haji lima kali," ucap Devan tak mau kalah. "Kan bapak lo, bukan lo!" kesal Alen. Lalu cowok itu bangkit dari duduknya setelah menghabiskan satu piring nasinya. "Mau kemana loooo?" teriak Devan. "Cari cewek," balas Alen bercanda. "WAHHH PARAH! GUE ADUIN KE RAINA LO YE!!" teriak Devan heboh. Namun Alen tak menggubrisnya, ia tetap melanjutkan jalannya, dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celana. Saat dirinya tengah berjalan dilorong sekolah kelas sepuluh, ia tiba-tiba dihadang oleh Freya yang baru saja keluar dari kelasnya X IPS 3. Gadis itu nampak membawa sebuah kotak sandwich berwarna bening. "Hai Kak Aleeennnn!" sapa Freya dengan semangat, gadis itu mengembangkan senyumnya. Alen hanya memperhatikannya saja, tanpa ingin membalas, ia heran kenapa akhir-akhir ini cewek ini selalu muncul dihadapannya secara tiba-tiba. "Ini aku buatin sandwich buat kakak, dimakan yaaaa???" ucap Freya masih dengan antusias. Padahal disini banyak teman-temannya yang kelas sepuluh, dan banyak juga anak-anak kelas sebelas dan dua belas yang lewat sini. "Lo makan aja, gue habis dari kantin," tolak Alen. "Yahhhh masa gak diterima sih kak? Aku buat sendiri loh tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah, sampe hampir telat," balas Freya menunjukkan tampang sedikit kecewa. "Emang gue nyuruh lo?" "Udah lah, lo makan sendiri aja, atau kasih ke oranglain," tambah Alen. Alen melihat ke sekeliling, banyak yang memperhatikannya, lalu dengan cepat cowok itu langsung melangkahkan kakinya untuk pergi. Namun, Freya tampak mengejarnya sambil memanggil-manggil namanya. "Kak! Kak Alen! Tungguin kak!" teriak Freya berusaha menyamai langkah Alen yang besar, karena kakinya yang panjang. "Yaudah nggak papa kalo misalnya kak Alen nggak mau nerima ini, tapi jangan marah sama aku ya? Aku nggak ada maksud apa-apa kok." "Jangan marah ya Kak?" "Kak?" "Siapa yang marah sama lo sih?" sahut Alen masih sambil berjalan. "Syukurlah kalo gitu," Freya kembali mengembangkan senyumnya yang tadi sempat luntur. "Ehm Kak, aku boleh minta nomor telfonnya nggak?" tanya Freya dengan hati-hati. "Buat apaan," "Buat ngechat kak Alen lah-----ehh maksud aku--itu-it-itu buat..buat simpen-simpen aja," balasnya gugup. "Nggak." "Lohhhh kenapa? Nggak bakalan aku teror kok, sumpah deh kak!" ujar Freya sambil mengangkat jari telunjuk dan tengahnya. Alen tiba-tiba saja berhenti berjalan, membuat Freya yang tadinya ada dibelakang Alen, hampir menabrak punggung cowok itu jika saja ia tidak bisa mengerem langkahnya. "Lo bisa gak usah gangguin gue? Gue risih ngeliat lo," geram Alen, sambil menatap wajah Freya dengan garang. "I-iya m-maaf," "Jangan sampe gue ngomong kasar sama lo, lo jangan mancing-mancing gue," ucap Alen. Freya terlihat takut, ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata Alen. "Kenapa nunduk? Gak mau liat wajah gue?" tantang Alen. Freya menggeleng pelan, ia melihat dua pasang sepatunya dan sepatu Alen, "Maaf kalo tingkah laku aku selama ini buat Kak Alen risih atau terganggu, tapi aku kaya gini karena aku suka sama Kak Alen. Sama kaya penggemar Kakak yang lain," ujar Freya. Alen tertawa remeh, "Lo tuh seharusnya mikir, buat apa lo suka sama orang kaya gue? Gak guna, mendingan lo belajar, biar pinter." Freya tiba-tiba saja merasakan sesak didadanya, napasnya mulai tak beraturan, "Apa suka sama Kak Alen itu salah?" "Salah, lo sama mereka semua itu salah kalo suka sama orang kaya gue. Gue juga udah punya pacar Frey," sebut Alen. Napas Freya malah semakin tak beraturan, dadanya naik turun, sepertinya asmanya kambuh. Tetapi Alen hanya melihatnya dengan tatapan datar, tidak peduli sama sekali. "Ngapain lo? Akting? Mau caper?" sarkas Alen sangat menusuk. Perkataannya itu membuat Freya semakin kesusahan untuk bernapas. "Kak...akh-aku...sesek..t-tolong kak," ucap Freya dengan susah payah, satu tangannya memegangi dadanya, satunya lagi memegangi tembok untuk menahan tubuhnya yang ingin merosot. Alen masih diam ditempatnya, ia tidak melakukan apa-apa. Benarkah gadis didepannya ini sedang sesak napas? Atau memang ia hanya caper? "Kak..t-tolong..ambilin..inhalerku..ditas.." ucapnya tertatih-tatih. "Lo beneran sakit?" itu adalah pertanyaan bodoh yang diucapkan Alen. "FREYA!" suara teriakan itu berasal dari seorang cowok yang kini sedang berlari menghampirinya dengan tergesa-gesa. Cowok itu memegang kedua pundak Freya, menatapnya dengan panik bercampur khawatir, ia adalah Kenzo. Hal itu membuat Alen menatapnya dengan penuh pertanyaan. Kenzo kenal dengan Freya? "Inhaler lo dimana?" tanya Kenzo pada Freya. "Di..kelas.." Kenzo pun langsung berlari dan menuju kelas Freya yang tak jauh dari sini untuk mengambil barang penting gadis itu, sebuah inhaler. Tak lama kemudian akhirnya Kenzo datang dan langsung memberikan inhaler itu kepada Freya, dengan cepat Freya langsung memakainya, rasanya langsung lumayan lega, napasnya mulai membaik, walau wajahnya pucat. Kenzo menatap tajam kearah Alen, "Woy! Lo punya hati gak sih? Segitu susahnya kah lo buat nolongin dia?! Dia bisa kehabisan napas kalo gak cepet-cepet pake inhaler! Nyawanya bisa melayang! Otak dipake!" marah Kenzo pada Alen. "Sorry, gue kira dia lagi akting buat caper ke gue," balas Alen santai. Kenzo menggeram, "b*****t!" Kenzo hendak melayangkan pukulannya kearah Alen, namun tangan Freya langsung mencegahnya. "Jangan Kak, nggak papa kok," ucap Freya. "Lo bisa mati Frey karena dia!" kata Kenzo makin marah. "Yang penting sekarang aku nggak kenapa-napa," balas Freya masih agak lemas. "Sorry Frey, gue nggak maksud," ucap Alen pada Freya, ia mengakui jika ia salah. "Iya Kak, nggak papa." balas Freya. Alen sekilas melirik Kenzo, lalu ia berbalik badan dan langsung meninggalkan mereka berdua dikoridor ini. "Masalah ini gak akan gue diemin Len! Lo masih berurusan sama gue!" teriak Kenzo saat Alen sudah berjalan didepannya. Alen mendengarnya, tapi ia tak menganggap hal itu penting. Buat apa juga. Lagian ia sudah minta maaf. ✨✨✨
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN