21. Kerja Kelompok

3514 Kata
Baca yang bener oke, happy reading ✨✨✨ Hari ini Raina sudah datang ke sekolah, ia memakai sweater berwarna mustard yang nampak agak kebesaran ditubuhnya yang kecil. Gadis itu berjalan dikoridor bersama Raka, Raka berniat mengantarkan Raina sampai depan kelas, untuk memastikan jika gadis itu aman dan selamat sampai kelasnya. Padahal tadi Raina juga sudah menolak, tapi Raka tetap kekeuh dengan pendiriannya. "Udah sampe nih, sana buruan masuk ke kelas, mau nganterin Rara sampe tempat duduk juga?" ujar Raina saat dirinya sudah berdiri didepan pintu kelasnya. "Nggak, yaudah gue mau ke kelas dulu," kata Raka. "Okeee," balas Raina. Raka pun langsung berbalik badan dan berjalan menuju kelasnya. Setelah itu Raina pun langsung melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kelasnya yang masih sepi itu, hanya ada beberapa murid disini. Raina berjalan menuju bangkunya, menaruh tas ranselnya dan langsung duduk anteng disana. Dari pada bosan, akhirnya Raina mengeluarkan novel kesayangannya yang belum selesai ia baca. "RAINAAAA! OH MY GOD! LO GIMANA? APA KABAR? UDAH SEHAT? YA AMPUN GUE KHAWATIR BANGET SAMA LOOOO!" suara cempreng nan memekikkan telinga itu terdengar dari Via yang baru saja masuk kedalam kelas, membuat Raina dan beberapa anak disini langsung menutup telinganya rapat-rapat. Via berlari mendekati Raina, memegangi pipi, pundak, dan menggerak-gerakkan tubuh Raina kekanan dan kekiri, seperti tengah mengecek keadaan gadis itu. "Aku nggak papa Viaaa," balas Raina saat Via menampakkan wajah paniknya yang over. "Ihhh serius? Ini jidat sampe ditambal gini lo bilang gak papa? Gila temen gue yang satu ini," sahut Via. "Iya ini udah nggak kenapa-napa," balas Raina meyakinkan Via. Via pun langsung duduk dikursi kosong sebelah Raina, yang merupakan kursi lamanya, yang kini sudah diambil alih oleh Alen. "Gue denger-denger dari Devan, katanya lo bisa kayak gini gara-gara si Pingkan itu kan? Iya kan? Ih dasar bola pingpong rusuh banget jadi cewek!" ucap Via dengan raut wajah yang kesal. "Gue sih kemarin nggak nonton pertandingannya si Alen, jadinya gak bisa ketemu atau nemenin lo deh, coba kalo misalnya ada gue, udah gue sleding tuh orang!" tambah Via. "Udahlah Vi, nggak usah bahas dia, aku udah nggak mau inget-inget itu lagi," ujar Raina. "Ih tapi ini tuh gak bisa dibiarin Ra! Lo kenapa gak laporin dia ke guru-guru? Atau ke polisi sekalian? Biar dia dapet hukuman karena udah keterlaluan sama lo," ucap Via menggebu-gebu. "Iya sebenernya kemarin Papa udah mau ngelaporin kejadian ini, tapi aku bilang nggak usah, lagian dia kan udah kelas dua belas, sebentar lagi lulus, kasian kalo misalnya dia di drop out ntar," balas Raina, membuat Via langsung mendelik tak percaya dengan temannya yang satu ini. "WHAT? Lo masih bisa kasian sama makhluk gak ada akhlak kayak dia? Oh em jiii Rainaaaaa! Lo itu sebenernya gimana sihhh? Kalo gue jadi lo nih ya, gue bakalan langsung laporin dia ke polisi! Biar dipenjara seumur hidup!" ucap Via. "Nggak ada deh tuh yang namanya kasian-kasianan, bodo amat sama dia yang udah kelas dua belas, kalo misalnya orang kayak dia didiemin terus, bakalan terus ngelunjak, mentang-mentang dia kakak kelas." tambahnya. "Iya Via, aku tau. Kamu kesel sama dia, tapi untuk sekarang nggak papa dimaafin---" "Dimaafin? Hellowww emangnya dia udah minta maaf sama looo? Enggak kan Raaa????" tanya Via semakin jengkel dengan Pingkan. Raina terdiam, memang benar jika Pingkan sama sekali tidak meminta maaf padanya atas kejadian kemarin. "Sumpah ya, baru kali ini gue punya temen yang sabarnya tumpah-tumpah, gue takjub sama lo Ra," ujar Via. Tiba-tiba saja ada seorang cowok yang berdiri disebelah bangku yang diduduki mereka berdua, dirinya berdehem, "Ekhem," Suara deheman yang terdengar cool itu langsung membuat Raina dan Via mendongak, melihat siapa orang itu, ternyata Alen, cowok itu tengah menggendong tasnya dipundak sebelah kiri. Tumben cowok itu datang sepagi ini, biasanya ia akan datang mepet-mepet saat gerbang akan ditutup. "Permisi ya pia kacang ijo, gue mau duduk, lo lupa ya kalo tempat duduk lo udah pindah?" tanya Alen. Via mendengus, menatap Alen dengan tatapan kesal, "Apa lo bilang tadi? Pia kacang ijo?! Woy enak aja lo ganti-ganti nama orang! Emak gue ngasih namanya bagus-bagus lo ganti pake nama makanan!" gerutunya. "Oke kalo nggak mau diganti pake nama makanan, gue ralat lagi. Ekhem, permisi Via Valen, gue mau duduk," ucap Alen. Via menggeram, sambil mengepalkan kedua tangannya didepan wajah, sangat geregetan terhadap Alen. Dengan kesal akhirnya Via pun langsung berdiri dari duduknya, menatap tajam kearah Alen, lalu langsung berjalan kearah tempat duduknya yang baru. Alen pun langsung tersenyum penuh kemenangan, cowok itu langsung duduk disebelah Raina yang sedang senyum-senyum sendiri sekarang, membuat dirinya menaikkan sebelah alisnya, bingung. "Kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Alen pada Raina. "Kamu annoying banget," balas Raina sambil terkekeh. Alen pun ikut terkekeh, "Nggak papa, yang penting kamu suka." "Ih geer banget, emangnya aku suka sama kamu?" Alen hanya mengangkat kedua bahunya, "Oh iya aku lupa, kamu kan nggak suka, tapi cinta, iyakan?" kata Alen. "Apaan sih," Raina tertawa, lalu seperdetik kemudian tawanya itu hilang saat menyadari wajah Alen yang banyak dihiasi luka lebam dan goresan. "Muka kamu kenapa? Kok banyak lukanya kaya gini? Kamu habis berantem?" tanya Raina beruntun, sambil memegang pipi Alen dan melihat luka-luka itu. Tangan Alen langsung bergerak untuk mengambil tangan Raina yang sedang memegang pipinya itu, lalu Alen tersenyum kecil, "Nggak kenapa-napa, Ra," ucap Alen. "Kamu berantem sama siapa?" tanya Raina. "Sama Kenzo tuh," celetuk Devan yang baru saja masuk kedalam kelas sambil meminum s**u kotak. Alen dan Raina sontak menoleh kearah Devan yang kini sedang berjalan kearah bangkunya, "Marahin aja tuh Ra, gue ikhlas sebagai temen," ucap Devan, membuat Alen menatapnya dengan tajam. Pandangan Raina kembali beralih ke Alen, "Sama Kenzo? Kenapa lagi? Ada masalah apa kamu sama dia?" tanya Raina. "Gara-gara Freya tuh, kemarin Alen gak mau nolongin Freya yang lagi sesak napas gara-gara ngejar-ngejar Alen terus minta nomor telfonnya, jadinya Kenzo marah," celetuk Devan lagi, benar-benar membuat Alen ingin menendangnya sekarang juga, karena dengan enaknya itu cowok menyahut pertanyaan Raina yang tidak ditujukan untuknya. "Bener Len?" "Bentar Ra, aku bisa jel--" "Kenapa nggak kamu tolongin?" tanya Raina memotong ucapan Alen. Alen terdiam, ia pikir Raina akan marah saat tau jika Freya mengejar-ngejar dirinya, ternyata malah pertanyaan itu yang muncul. "Alen pikir si Freya itu lagi caper sama dia Ra-------aduh!" Devan langsung mengaduh sambil memegangi perutnya yang baru saja ditinju oleh Alen. "Raina ngomongnya sama gue, bukan sama lo njing, lo dari tadi kenapa nyautin mulu? Dasar mulut mercon," ketus Alen. "Aduhhh, baru sarapan gue, nih perut udah lu tinju aja! Sakit woeee!" pekik Devan masih memegangi perutnya itu. "Sukurin. Sekarang lo pilih pergi atau mau gue tendang dari sini?" "Oke-oke gue pergi," balas Devan kesal. "Gak mau gue tendang aja? Enak jadinya lo langsung nyampe dibangku lo tanpa jalan, langsung mendarat mulus," ucap Alen sungguh kejam. "OGAH! MENDING GUE JALAN SENDIRI! TERIMAKASIH!" sahut Devan jengkel, cowok itu pun langsung berjalan ke bangku urutan ke-empat, dimana bangkunya berada. Alen tertawa melihatnya, sedangkan Raina hanya menahan senyum, "Kalo mau ketawa, ketawa aja, nggak ada yang ngelarang," ucap Alen pada Raina. Akhirnya Raina langsung tersenyum sambil memperlihatkan gigi putihnya, sambil menggelengkan kepalanya. "Udah makan belum? Ke kantin yuk?" ajak Alen. "Aku udah makan, kamu belum?" "Belum, tadi nggak sempet makan dirumah," alibi Alen, padahal tadi ada banyak waktu untuk sarapan dirumah, tetapi Alen enggan, karena ada Papanya. "Yaudah, aku anterin yuk," Raina hendak bangkit dari duduknya, dan disusul pula oleh Alen. Mereka pun berjalan keluar kelas untuk menuju kantin sekolah. Setelah sampai Alen langsung memesan satu piring nasi goreng dan air mineral pada penjual kantin. Ia juga membelikan Raina roti coklat dan juga s**u kotak. "Kok banyak banget belinya?" tanya Raina saat Alen baru saja duduk dimeja kantin sambil membawa makanannya. "Ini roti sama s**u kotaknya buat kamu," ucap Alen sambil menyodorkannya. "Ih kan aku tadi bilang kalo aku udah sarapan dirumah," "Gapapa, makan aja lagi, biar makin chubby," ujar Alen sambil terkekeh lucu. "Kamu suka ya kalo aku gendut?" Raina mengerucutkan bibirnya lucu. Alen tersenyum geli melihat ekspresi Raina, "Iya kan biar nggak kecil-kecil banget badannya, biar enak buat dipeluk," balas Alen, membuat pipi Raina langsung merona merah. "Pacaran saja sana sama boneka panda," ucap Raina. "Enggak mau, enggak bisa diajak ngomong," balas Alen. "Isssss." "Udah makan itu rotinya, cuman roti doang," kata Alen disela-sela makannya. Raina pun mendengus, ia lalu membuka bungkus roti coklat itu dan langsung memakannya. Mulutnya mengembung, lucu. Membuat Alen gemas ingin menciumnya. Eh. ✨✨✨ Jam pelajaran terakhir hari ini adalah pelajaran Bahasa Indonesia, yang diajar oleh Bu Irma. Guru itu sedari tadi sedang menjelaskan tentang pengertian drama, ciri-ciri drama, dan struktur teks drama. "Jadi anak-anak, kalian harus memahami dengan benar bagaimana cara mendalami karakter didalam drama tersebut. Sekarang, Ibu ingin membentuk beberapa kelompok untuk membuat drama teater," ucap Bu Irma. "Bu, kelompoknya kenapa gak milih sendiri aja sih?" "Nanti kalian jadi ribut kalau milih sendiri," balas Bu Irma. "Enggak Buuuu! Udah milih sendiri aja, nanti kalo Ibu yang pilihin malah gak cocok, malah jelek aktingnya ntar Buuu!" seru salah satu anak, dan didukung juga oleh yang lainnya. "Ya sudah, terserah kalian, yang penting sekarang kalian bentuk kelompok yang terdiri dari delapan orang, jangan sampai ada yang nggak dapat kelompok." peringat Bu Irma. "Bu, mending sesuai absen aja deh!" seru Wulan, anak perempuan yang duduk dibangku depan. "EHHH JANGAN! JANGAN BU JANGANNNN!" tolak anak-anak bangku belakang. "Bu, nanti pasti didalam kelompok itu ada yang gak kerja buat bantuin bikin naskahnya, terus gak mau dikasih dialog yang panjang, mending pilih sendiri aja," sahut Tasya. "Bilang aja kalo lo maunya sekelompok sama anak-anak yang rajin, terus pinter. Ntar isi kelompok anak-anak yang pinter kumpul jadi satu, nah terus anak-anak yang g****k-g****k tuh jadi kayak apa nasibnya?" sahut Devan. Tasya menoleh kearah Devan, "Yaudah, terus mau lo apa dugong?!" "Gak usah buat kelompok, mandiri aja, mandi sendiri," balas Devan nggak jelas. "Sudah-sudah, Ibu cuma nyuruh kalian buat bentuk kelompok yang isinya delapan orang. Nanti kalian akan tampil didepan kelas, setelah itu----" "Apa Bu Apa?" potong Devan dengan tidak sopan, membuat Bu Irma mendelik kearahnya. "Setelah itu nanti kalian bakalan tampil satu kelas untuk menjadi pengisi diacara ulang tahun sekolah nanti," lanjut Bu Irma. "Semua kelas sebelas yang diajar oleh saya, saya suruh untuk tampil dipanggung sewaktu acara itu," tambahnya. "HAHHH? MALU BU, MALUUU," teriak anak-anak sekelas, terutama yang cowok. "Tahun lalu aja yang nampilin drama cuman anak-anak yang ikut ekstra teater, sekarang kenapa malah kita-kita jugaaaa?!" heboh mereka. "Supaya acaranya lebih meriah, nanti kalian juga boleh unjuk bakat diatas panggung, dan nanti juga bakalan ada guest star seperti tahun lalu yang lebih spesial." jelas Bu Irma. "Satu kelompok sama aku ya, nanti kita bikin cerita sendiri, pokoknya harus banyak adegan romantisnya, terus akhirnya harus happy ending," ujar Alen tiba-tiba pada Raina. Raina menoleh, "Itu mah maunya kamu!" "Kenapa? Emangnya nggak mau ya kalo akhir kisah kita nanti happy ending?" tanya Alen. Raina terdiam menatap Alen, "Ya mau lahhh," "Bu! Bu! Bu! Nanti buat ceritanya tentang Romeo dan Juliet aja! Yang jadi Romeonya Alen, terus yang jadi Julietnya Raina! Bahhh cocok tuh!" seru Devan dengan antusias, membuat teman-teman sekelasnya pun ikut menyeru dan ribut menyetujui perkataan Devan. "Bener tuh Bu, benerrr!" timpal Via ikut nimbrung. "Cocok bangeeet! Setuju gue mah!" "Couple goals punyanya SMA Galaksi nihhh," "Udah deh percaya aja, nanti kalo mereka yang meranin, bakalan baper banget!" Anak-anak sekelas semakin ramai dan gaduh, sedangkan Alen dan Raina hanya diam saja, Alen melirik kearah Raina, gadis itu nampak kepanasan dan tak nyaman karena mendengar seruan-seruan yang menggodanya itu. "Udah, biasa aja Ra, nggak usah gitu juga mukanya," ucap Alen. "Malu tau..." Namun Alen malah terkekeh, ia mengusap kepala Raina dengan refleks, membuat anak-anak sekelas makin menjadi-jadi ketika melihatnya. "Tuhkan! Tuhkan! Didalem kelas malah asik pacaran woeee! Ngelus-ngelus rambut gituuu yhaaaa!" seruan heboh itu berasal dari Devan. "Gemes dedek banggg!" "Yang jomblo tutup mata aja guyss! Dari pada lo kejang-kejang ntar ngeliat mereka." "Sudah-sudah....diam semua! Kalian itu kenapa malah ribut sih? Sekarang cepat bentuk kelompok, ditulis dikertas lembaran, nanti dikumpulkan ke depan," perintah Bu Irma, dan langsung dituruti oleh semuanya. ✨✨✨ Jam menunjukkan pukul 15.10 menit, bel pulang sudah berkumandang sepuluh menit yang lalu, semua murid-murid langsung berhamburan keluar sekolah untuk menuju ke rumah masing-masing, tetapi biasanya diantara mereka semua banyak yang masih nongkrong bersama teman-temannya diwarung, cafe, atau pun taman kota dekat gedung sekolah. Sama seperti halnya Raina pada hari ini, ia hari ini tidak bisa langsung pulang ke rumahnya, karena hari ini anggota kelompok Bahasa Indonesia nya mengadakan janjian untuk berkerja kelompok guna memikirkan dan membuat naskah drama untuk ditampilkan nanti. Raina sudah berpamitan pada Raka, dan tumben saja hari ini Raka tidak bersikap mengekang atau posesif seperti biasanya, cowok itu mengijinkan Raina untuk pulang bersama Alen dan bekerja kelompok dicafe dekat sekolah. Suara lonceng yang nyaring berbunyi, saat pintu kaca kafe baru saja dibuka, menampilkan Alen dan Raina disana, mereka berdua langsung masuk ke dalam kafe tersebut, mereka menaiki tangga untuk menuju bagian kafe yang ada diatas, karena disana ada area outdoor nya yang bagus dan menarik tempatnya. Teman-teman satu kelompok Raina juga sudah janjian untuk berkumpul diarea ini. "Nahhh itu Alen sama Raina udah dateng," ujar Devan sambil memandang kearah mereka berdua. Alen dan Raina pun langsung duduk disebelah teman-temannya, melingkari meja bundar yang agak besar. Anggota kelompok mereka terdiri dari; Alen, Raina, Devan, Via, Jagas, Caca, Tasya, dan Brian. Banyak yang berebutan agar bisa satu kelompok dengan Alen tadi, sampai-sampai diantara mereka tadi melakukan hompimpa alaiyum gambreng. "Pesen makan woi pesen makan, laper guaaaaa!" ucap Devan sambil mengelus-elus perutnya. "Mbak-mbak!" panggil Jagas sambil melambaikan tangannya, pelayan perempuan itu pun langsung mendatangi meja mereka. "Iya Mas, mau pesan apa?" tanya pelayan itu. "Mau pesen semua makanan dan minuman yang paling enak dikafe ini ya," kata Jagas. "Woy, siape yang mau bayarin? Elo?!" Devan kaget. "Yeee pakek nanya lagi, ya elu lah, lo kan tadi nyuruh buat pesenin makanan, yaudah gue baik, gue panggilin mbak-mbaknya buat pesenin makanan," sahut Jagas. "Jadinya lo semua lah yang bayar." Devan mendelik, "Enak banget lu Gas kalo ngomong! Duitnya maneee?!" "Mene ketehek!" Devan lalu mendengus, "Yaudah mbak, saya mau pesen buat saya sendiri, mereka-mereka biarin aja," "Gimana sih lo Van? Tadi yang ngajakin buat kerja kelompok disini kan lo, masa lo gak mau beliin kita-kita?" ujar Tasya. "Tau! Gitu sok-sok an ngajakin ke kafe!" timpal Via. "Kan gue cuman ngajakin lo pada, gak bilang kalo mau beliin makanan disini!" sahut Devan. "Udah, biar gue aja yang traktir kalian, pesen gih," ucap Alen melerai perdebatan mereka, dan hal itu mampu membuat semuanya menatap girang kearah Alen. "Wah! Serius? Gini kek dari tadi," ujar Devan. "Sultan mah bebas yak," ucap Brian. "Yaudah mbak, kalo gitu pesenan yang dibilang sama Jagas tadi keluarin semua! Ntar temen saya yang tajir ini yang bayarin," ucap Devan dengan semangat sambil menunjuk Alen dengan dagunya. "Oke Mas pesanannya ditunggu ya, kalau gitu saya permisi dulu," ucap pelayan itu dengan ramah sambil tersenyum, lalu langsung pergi meninggalkan mereka. Setelah itu, mereka pun langsung sibuk mencari naskah drama yang cocok dan pas untuk mereka perankan nantinya, mereka kerja kelompok sambil bercanda gurau, makan, minum, numpang wi-fi gratis, dan lain sebagainya. Detik jam terus berjalan, menit-menit berlalu sampai menjadi hitungan jam. Akhirnya tugas mereka selesai juga, naskah sudah terbentuk, dan tinggal latihan dramanya saja nanti. Karena tugas ini masih lama akan ditampilkannya. Nantinya mereka juga akan tampil diacara dies natalis sekolah yang selalu diselenggarakan setiap tahunnya. Mereka pun keluar dari kafe itu secara bersamaan, lalu mereka saling berpamitan untuk pulang kerumah masing-masing. "Van! Lo kalo naik motornya ngebut-ngebut gue jitak kepala lo ye!" ancam Via yang sudah naik diatas motor besar Devan. "Iya-iya! Lo tuh udah nebeng sama gue, cerewet lagi!" omel Devan. "Yeee biarin! Keselamatan gue itu nomor satu!" "Iyain biar cepet," sahut Devan malas. "Len, Ra, gue pulang duluan ya," pamit Devan pada Alen dan Raina, mereka pun mengangguk. "d**a Raaaaa!" ucap Via sambil melambaikan tangannya pada Raina saat motor Devan sudah melenggang pergi dari parkiran kafe. "Daaaa..." balas Raina. "Pulang yuk," ajak Alen, lalu Raina hanya mengangguk. Alen sedari tadi merasakan ada yang aneh pada sikap Raina, mulai dari masuk kafe tadi gadis itu jarang sekali bicara. "Kamu kenapa Ra?" tanya Alen saat dirinya sudah berada diatas motor. Raina memejamkan kedua matanya, sambil memegangi perutnya yang keram, "Nggak papa," "Sakit perut?" Raina mengangguk. "Ke toilet aja dulu, aku tungguin," ucap Alen. "Enggak usah," tolak Raina. Lalu saat Alen tengah memakai helmnya dan tidak sedang melihat Raina, Raina tiba-tiba saja merasakan ada yang aneh pada rok belakangnya, rasanya tidak nyaman. Raina pun melihatnya, matanya langsung mendelik saat melihat ada noda merah disana. Astaga, bagaimana ini. Raina panik, wajahnya berubah menjadi kebingungan, membuat Alen mengernyit saat melihatnya. "Kenapa Ra?" Raina melihat Alen dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kenapa hei?" tegur Alen lagi. "Itu..." Raina memainkan ujung roknya. "Itu apa?" sergah Alen cepat. "Itu loh.." Alen seketika langsung turun dari motornya, dan melepas helmnya. Ia mendekat kearah Raina. "Kenapa?" tanya Alen dengan suara lembut, membuat darah Raina berdesir. "Bocor.." ucap Raina dengan suara yang pelan, sangat amat pelan, bahkan terdengar seperti bisikan, namun Alen masih dapat mendengarnya. "Hah?" Alen malah menatap langit sore yang masih cukup cerah, sambil menengadahkan tangannya keatas. "Nggak hujan tuh, Ra." sahut Alen, membuat Raina menjadi kesal karena ternyata cowok itu belum paham dengan maksudnya. "Ishhh!" Raina mencubit perut Alen, membuat cowok itu mengaduh, "Bukan itu!" "Terus apa dong?" Alen masih cengo, ia masih belum paham. Namun saat Raina terus-terusan menatapnya, seperti anak kecil yang sedang marah, akhirnya otak Alen langsung berputar dan bereaksi lebih cepat. Dan akhirnya ia langsung peka. Alen pun langsung terkesiap, "Ohh itu---, maaf Ra baru peka." ucap Alen sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Cowok itu langsung melepas jaket yang ia kenakan, dirinya langsung bergerak cepat untuk mengikatkan lengan jaketnya itu dipinggang Raina, agar rok belakangnya tertutupi. Raina tersenyum salah tingkah pada Alen, sekarang ia sedang merasakan antara senang dan malu diperlakukan seperti itu oleh Alen. "Nggak papa?" tanya Raina sedikit tidak nyaman. "Enggak papa lah," "Nanti kalo kotor gimana?" "Kan bisa dicuci Ra," balas Alen sambil tersenyum. "Tenang aja, nggak masalah." ucap Alen yang membuat wajah Raina langsung memerah. "Ke rumah aku dulu ya Ra, aku pinjemin baju," ucap Alen. "Eh---" "Nggak papa," Alen kembali naik keatas motornya dan memakai helmnya. "Sini naik," Raina pun langsung naik keatas motor Alen, saat Alen ingin menyuruh Raina untuk berpegangan, gadis itu sudah terlebih dahulu melingkarkan dua tangan kecilnya diperut Alen, dan itu berhasil membuat Alen menarik kedua sudut bibirnya. Alen pun langsung melajukan motornya dengan kecepatan normal, membelah kepadatan ibukota disore hari. ✨✨✨ Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Alen dan Raina sudah sampai di pekarangan rumah Alen, Raina turun duluan dari motor Alen, mengedarkan pandangannya pada rumah besar ini, ini adalah pertama kalinya ia diajak ke rumah Alen. Ada satu sudut tempat yang ada dirumah ini yang membuat Raina tertarik untuk mendekatinya. Kolam ikan yang sangat bagus lengkap dengan air mancurnya, ada jembatan kayu kecilnya juga disana. "Itu kolam ikan ya?" tanya Raina. "Iya, banyak ikan hiasnya di sana, udah aku rawat dari aku masih kecil," balas Alen, lalu Raina hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Mau kesana boleh?" "Boleh lah, siapa yang mau ngelarang?" Alen terkekeh mendengar pertanyaan Raina yang polos itu. Raina pun langsung nyengir, gadis itu langsung berlari kearah kolam ikan itu, melewati taman yang ada banyak tanaman hijaunya. Alen tertawa kecil melihatnya, tingkah Raina benar-benar seperti anak kecil yang baru melihat suatu wahana seru di dufan. "Ra, aku ganti baju dulu ya di dalem," ucap Alen sedikit berteriak. "Iyaaa!" Alen pun langsung masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Raina di depan rumahnya itu sendirian, Alen tak perlu khawatir pada Raina, karena ini sudah masuk kedalam lingkup pekarangan rumahnya yang dibentengi oleh pagar tinggi. "Eh Den Alen sudah pulang, makan Den? Bibi tadi udah masakin ayam kare, rendang, cap cay, tumis kang--" "Iya Bi, iya," potong Alen saat dirinya tengah disambut dengan hangat oleh Bi Marini. "Alen mau ganti baju dulu di atas, ada pacar Alen dateng ke sini," ucap Alen. Bi Marini langsung terkejut mendengarnya, "Pacar? Pacarnya Den Alen? Ke sini? Di mana Den?" Bi Marini celingak-celinguk. "Iya Bi, tolong buatin dia minum ya, tanyain dia maunya apa, dia lagi ada di depan ngeliatin ikan-ikan," balas Alen, lalu langsung naik menuju kamarnya melewati tangga besar yang melingkar. "Baik Den," balas Bi Marini. Setelah Alen pergi, Bi Marini pun langsung berjalan mendekati Raina yang tengah asik melihat sekelompok ikan hias yang tengah berenang di dalam kolam. Bi Marini tersenyum lalu perlahan menyentuh pundak Raina dari belakang. "Permisi Non..." panggil Bi Marini. Raina terjingkat kecil, gadis itu dibuat kaget oleh kedatangan Bi Marini yang tiba-tiba menepuk bahunya, walaupum secara pelan, tetap saja Raina berhasil dibuat terkejut. "Eh iya, ada apa ya?" tanya Raina yang bingung. "Saya asisten rumah tangga keluarganya Den Alen, nama saya Bi Marini. Tadi Den Alen bilang katanya saya disuruh nanyain Non---?" "Raina Bi," sahut Raina. "Oh iya Non Raina, mau minum apa? Biar bibi buatin, tadi Den Alen nya masih ganti baju di kamar," ucap Bi Marini. "Ehm...apa aja deh Bi, tapi jangan pake es yaa," ujar Raina sambil tersenyum simpul. "Siap Non, ayo masuk dulu ke dalam sambil nunggu minumannya," ucap Bi Marini. Raina pun mengangguk lalu akhirnya ia mengikuti langkah Bi Marini untuk masuk ke dalam rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN