22. Ada Apa?

3004 Kata
Baca baik-baik ya, jangan sampai ketinggalan satu pun partnya. Happy Reading ✨✨✨ Raina mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang ada didalam rumah ini, semuanya terkesan klasik. Raina melangkah perlahan mendekati  tembok putih yang dipajangi oleh foto keluarga dengan bingkai yang besar, ada Mama dan Papa Alen disana, juga ada Alen yang nampak masih berumur sepuluh tahunan difoto itu. Lalu pandangan Raina menoleh kearah tangga, terbesit rasa untuk naik keatas sana, tadi Bi Marini sudah mempersilahkan Raina untuk masuk dan memberitahu jika kamar Alen berada dilantai atas. Sudah lumayan lama Raina menunggu Alen yang tadi katanya sedang berganti baju, tetapi sampai sekarang cowok itu tidak turun-turun untuk menemuinya lagi. Akhirnya Raina memutuskan untuk naik ke kamar Alen. Gadis itu berjalan menaiki tangga, ia agak takut berada dirumah ini, karena rumah ini besar dan sepi, seperti tidak ada siapa-siapa disini. Sesampainya diatas, Raina pun langsung menebak-nebak, dimana kah pintu kamar Alen. Entah dapat feeling darimana, akhirnya Raina mendekati pintu yang ada banyak stiker-stikernya, ia pikir itu mungkin adalah kamar milik Alen. Tok tok tok Raina mengetuk pintu itu. "Alen?" "Ini kamar kamu kan?" "Kok lama sih?" "Kamu ngapain?" "Bosen tau nungguinnya," "Kamu mandi?" "Atau jangan-jangan ketiduran?" "Aleeennnn!" "Takut tau, dirumah kamu sepi, mana ini udah magrib lagi," ucap Raina dari depan kamar Alen, gadis itu berdiri disana. "Kamu mah nggak keluar-keluar, aku pulang aja deh," "Lennnn?" "Leeennnnnn?" Raina menggedor-gedor pintu itu. Raina kesal sendiri, ia mendengus. Tiba-tiba saja knop pintu itu berputar, membuat pintu itu langsung terbuka lebar, menampilkan Alen yang sedang berdiri disana, cowok itu sedang tidak memakai baju, hanya ada celana pendek seatas lutut yang ia pakai, rambutnya basah, aroma segar dari shampoo khas cowok tercium diindera penciuman Raina. "Aaaaaaaaa!!!!" Raina berteriak sangat kencang, sambil menutup kedua matanya menggunakan telapak tangan. "Kamu kok gak pake baju sihhhhh?" "Zina mata tau gaaakkkk?!" "Gak boleh gitu ish Alen mah!" Alen meringis saat mendengar suara lengkingan Raina yang cukup memekikkan telinga. Cowok itu memijat pelipisnya. "Kenapa sih Ra? Aku habis mandi," balas Alen. "Kok nggak bilang-bilang sih kalo mau buka pintunya, kan bisa nyahutin aku dari dalem," ucap Raina masih menutup matanya. "Aku tadi nggak denger, lagian gedor-gedor pintu udah kaya apa aja," sahut Alen. "Takut tau, disini nyeremin, enggak ada siapa-siapa," balas Raina sambil membuka jemarinya sedikit, agar bisa melihat wajah Alen. "Bibi dimana?" tanya Alen. "Di dapur." "Yaudah, kenapa sih tutup mata kaya gitu? Biasa aja Ra," ucap Alen, membuat Raina mendelik dibalik telapak tangannya. "Ish nggak mau lah, pake baju dulu sana," suruh Raina, namun Alen malah terkekeh jail sambil meraih kedua tangan Raina, tapi dengan cepat Raina menahannya. "Alen!" "Hahahahahaha!" Alen terbahak. "Pake baju!" "Iya-iya," Alen pun langsung masuk lagi ke dalam kamarnya, lalu membuka lemari dan mengambil kaos garis-garis warna hitam dan putih, cowok itu segera memakainya. "Sini Ra, buka matanya, aku udah pake baju," ucap Alen saat melihat Raina yang masih berdiri diambang pintu. Raina pun mulai membuka tangannya, ia kini bisa melihat dengan jelas, pemandangan pertama yang ia lihat adalah kamar Alen yang bernuansa hitam putih. Cewek itu perlahan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar Alen. "Kamu ngedekor kamar ini sendiri?" tanya Raina sambil melihat-lihat isi dari kamar itu. "Iya," balas Alen yang sedang menyisir rambutnya, cowok itu tidak pernah menggunakan pomade, karena akan membuat rambutnya menjadi kering. Lagi-lagi Raina memegangi perutnya yang kembali keram, cewek itu agak membungkuk menahan rasa nyerinya. Alen yang baru saja menoleh langsung tercekat saat melihat Raina yang seperti itu. "Kenapa Ra? Sakit lagi?" tanya Alen sambil menghampiri Raina yang masih mengenakan seragam putih abu-abu, dengan jaket Alen yang masih terbelit dipinggangnya. Raina mengangguk, sambil meringis, rasanya ingin sekali ia menangis sekarang, karena perutnya kali ini benar-benar sakit. "Sakit banget ya?" "Duduk dulu," ucap Alen sambil menggiring Raina ke sofa didekat kasur. Alen kini sedang berpikir seribu kali, apa yang harus ia lakukan. Tiba-tiba saja otaknya langsung bekerja, walau mungkin ini bisa menjatuhkan harga dirinya sebagai laki-laki. ✨✨✨ Alen kini sedang berada di minimarket yang ada didekat rumahnya, cowok itu nekat kesini untuk mencari sesuatu untuk Raina. Tadi dirumah, ia menyuruh Raina untuk mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian milik Alen. Alen juga menyuruh Bi Marini untuk membuatkan Raina minuman hangat, dan melakukan apapun agar Raina tidak kesakitan lagi, karena Bi Marini kan perempuan, jadi sesama perempuannya pasti tahu. Alen berdiri didepan rak barang-barang yang dijual di minimarket ini, Alen menggaruk tengkuknya yang gatal, ia sudah berdiri disini sekitar tiga menitan, menimang-nimang yang mana yang harus ia ambil. "Yang mana ni anjir!" umpat Alen saat melihat berbagai macam bungkusan warna-warni yang sangat dibutuhkan perempuan ketika kedatangan tamu. Alen menengok ke kanan dan ke kiri, seperti sedang melihat keadaan sekitar, mau ditaruh dimana mukanya nanti saat mbak-mbak pelayan kasir tau jika Alen kesini membeli barang itu. Didengkul?! "Anjing...anjing..." umpatnya lagi. "Astagfirullah..." Alen menepuk mulutnya sekali, saat tersadar apa yang sudah ia katakan barusan. Tanpa ingin berlama-lama lagi, akhirnya Alen langsung mengambil lima macam barang itu, biar saja, biar Raina sendiri yang memilih nanti dirumah. Setelah itu Alen pun cepat-cepat ke kasir, mumpung sepi tidak ada yang mengantre. Alen pun meletakkan semuanya diatas meja kasir, membuat mbak-mbak penjaga kasir itu mendongak menatap Alen dengan menganga, tidak percaya. "M-mas nya beli ini?" tanya mbak kasir. "L-lima?" "Iya. Mbaknya nggak usah mikir aneh-aneh, itu bukan buat saya," balas Alen agak jutek. "Buat Mamanya ya?" tebak mbak kasir sambil senyum-senyum. "Bukan. Buat pacar saya," balas Alen. Mata mbak-mbak penjaga kasir itu seketika langsung berbinar, menatap Alen dengan kagum, sudah ganteng, keren, perhatian, nggak gengsi lagi buat beli barang cewek. "Ngelihatin apa sih mbak?" tegur Alen. "Ehhhh iya Mas, maaf, saya kesemsem---ehh maksud saya, itu-anu-aduh-itu, masnya perhatian banget sama pacarnya," ucap mbak-mbak itu dengan gelagapan, lalu dengan cepat ia mengecek barcode semua barangnya. "Mau pakai kantong belanjaan?" "Ya," "Totalnya xxxx," "Ada lagi yang mau dibeli? Ini ada roti variant terbaru, beli satu gratis satu," "Atau ini beli minumannya satu paket, lagi ada promo lima belas rib--" "Nih-nih uangnya, ambil aja kembaliannya," Alen menyodorkan uang lembar seratus ribuan, dan langsung mengambil tas belanjaan berwarna biru itu, dengan cepat ia keluar dari minimarket, sudah enek mendengar suara mbak-mbaknya. "Loh, lohhh mas ganteng! Ini kembaliannya belum!" teriak mbak-mbaknya, tetapi Alen tak menggubrisnya. ✨✨✨ Sesampainya dirumah, Alen langsung duduk disofa sebelah Raina duduk. Wajahnya ia tekuk kesal, tas belanjaannya kini sudah ada dipangkuan Raina. Sedangkan Raina menatap Alen dengan tatapan bingung, kenapa cowok ini? "Kamu kenapa?" tanya Raina, gadis itu kini sudah berganti pakaian, dengan hoodie Alen yang berwarna abu-abu, nampak kebesaran ditubuh Raina, sedangkan bawahannya Raina memakai celana jogger pants, nampak pas, karena itu adalah celana Alen waktu ia masih SMP. "Gara-gara beliin kamu itu tuh," tunjuk Alen pada tas belanjaannya. Raina pun langsung melihat isinya, matanya membulat ketika melihat ada banyak bungkusan, "Kamu ngapain beli ginian?" tanya Raina, membuat Alen langsung menoleh cepat. "Lah, kamu butuh itu kan?" tanya Alen balik. "I-iya, tapi aku udah punya, aku bawa ditas," balas Raina, membuat Alen langsung menganga kaget dan menyesali perbuatannya. "Ra, kenapa nggak bilang? Aku udah nahan malu beli gituan, ternyata kamu--arhh," Alen mengacak rambutnya kesal. "Kan aku nggak nyuruh kamu, aku pikir tadi kamu mau beli jajan atau apa gitu kesana," balas Raina. "Malu Ra, malu." Alen berucap dramatis. Raina meringis, "Maaf yaaa? Tapi kamu baik banget mau beliin itu," Raina terkikik. Alen berdehem panjang, lalu ia melirik Raina, gadis itu nampak sangat menggemaskan karena hoodienya, apalagi Raina memakai topi hoodie tersebut, dan talinya ia seratkan. "Udah nggak sakit perutnya?" tanya Alen. "Enggak, tadi sama Bibi dikompresin jadi langsung sembuh," balas Raina. Jika kalian bertanya dimana Raina dan Alen sekarang, mereka sedang berada dikamar Alen berduaan, iya yang ketiganya ntar setan. Raina tengah asik menonton kartun spongebob squarpants, ia asik tertawa menikmati tontonannya itu, Raina tenang-tenang saja walaupun ini sudah malam, karena ia tadi sudah mengabari Cherry jika dirinya berada disini, Cherry juga mengizinkannya, Cherry malah menyuruh Raina dirumah Alen sampai nanti, karena saat ini dirumah Raina sedang tidak ada orang, dari pada Raina dirumah sendirian, lebih baik ia disini saja dulu. "Ra," panggil Alen. "Hmmmm?" "Imbalannya mana?" tagih Alen. "Imbalan apa?" "Tadi kan aku udah nahan malu buat beliin itu," balas Alen. "Emangnya mau apa?" Raina menoleh kearah Alen. "Cium," Alen nyengir. Raina terkejut, "Hah? Apaan sih, enggak." tolak Raina. "Pleaseeeee!" mohon Alen, wajahnya sangat memelas. Sifat dan sikap Alen sangat bertolak belakang dan akan berubah seratus delapan puluh derajat ketika ia sedang bersama Raina. Raina mendengus sambil memutar bola matanya malas, "Enggak mau," Alen menjatuhkan kepalanya dipundak Raina, membuat Raina sedikit terkejut, Alen mengambil sebelah tangan Raina dan ia arahkan ke wajahnya, terasa hangat, Alen memejamkan matanya dengan tangan Raina yang sedang ia genggam dan menyentuh wajahnya, wangi tangan Raina seperti aroma bayi. Lalu Alen membenahi posisi duduknya, menjadi lebih tegap, cowok itu tersenyum sambil menunjukkan pipi kanannya. "Buruan Ra," ucap Alen sambil mengangkat kedua alisnya beberapa kali dengan cepat. "Ogah banget, modus mulu kamu," kata Raina. "Cium pipi doang Ra, kanan kiri," cengir Alen tak berdosa. Raina mendengus kesal, "Merem!" perintah Raina. Dengan cepat Alen pun langsung menutup kedua matanya, ia menunggu Raina. Tanpa kelamaan, Raina langsung memajukan wajahnya, dan dengan cepat mencium pipi kanan dan kiri Alen. Wajah Raina seketika memerah, entah kenapa ia malu sendiri. Alen membuka matanya sambil senyum-senyum tidak jelas, "Cuman pipi aja Ra? Yang ini enggak mau gitu?" goda Alen sambil menunjuk bibirnya. Plak! Raina menampol wajah Alen, ia benar-benar kesal, sudah minta ini nambah lagi minta itu. Maruk banget. Alen meringis sambil memegangi pipinya, "KDRT kamu ya," ujar Alen. "Dih, KDRT, nikah aja enggak mana ada KDRT," balas Raina malas. "Yaudah, nikah yuk," ucap Alen, menggoda Raina, membuat Raina geli sendiri. "Apaan sih," kesal Raina, membuang mukanya kearah televisi. Alen tertawa terbahak-bahak, ia sangat senang membuat Raina kesal karenanya, dan menunjukkan ekspresi lucunya seperti itu. Lama-kelamaan Alen menetralisirkan ketawanya itu, ia berdehem sejenak. "Ra, turun aja ya, jangan disini," ucap Alen tiba-tiba, membuat Raina langsung menoleh. "Kenapa? Aku kan masih mau nonton spongebob," balas Raina. "Iya, nontonnya diruang santai aja, disana juga ada tv nya," ujar Alen. "Kenapa tiba-tiba gini?" Raina kebingungan. "Bakalan bahaya Ra kalo kamu lama-lama dikamar aku, banyak setannya nih disini," ujar Alen. "Jadi sebelum aku dibisikin yang macem-macem sama setan, mending turun ke bawah aja," saran Alen. Takut khilaf. "Yaudah, aku turun," balas Raina setelahnya, ia pikir memang tidak baik jika berada didalam kamar laki-laki, apalagi hanya berduaan. Alen pun mengikuti Raina dari belakang, mereka berdua berjalan menuruni tangga untuk menuju ruang santai. ✨✨✨ Hari-hari berlalu, sampai tak terasa jika Raina sudah satu bulan lebih bersekolah disini. Gadis itu masuk ke sekolah ini saat semester genap baru dimulai, jadinya beberapa bulan lagi Raina akan melaksanakan PAS untuk naik ke kelas XII/duabelas. Beberapa hari ini juga sering diadakan ulangan disemua bidang mata pelajaran. Hubungannya dengan Alen juga baik-baik saja, walau kadang Pingkan masih sering memperingatinya dan memberikan dirinya tatapan sinis ketika bertemu atau berpapasan. Akhir-akhir ini juga Raina merasakan jika Freya terlihat lebih akrab dengan Alen, entah itu perasaannya saja atau memang begitu. Satu Fakta yang Raina ketahui baru-baru ini, ternyata Freya adalah adik sepupu Kenzo. "Dorrr!" suara kagetan itu berasal dari Alen, cowok itu datang dari arah belakang, ia berhasil membuat Raina terkejut. Raina menoleh sambil menatap geram, "Ish! Alen! Kaget tau!" Alen lalu tertawa dan langsung berjalan kedepan bangku besi berwarna putih yang ada ditaman sekolah, ia duduk disebelah Raina, lalu merangkul pundak gadisnya itu. "Ih malah ketawa, bahagia banget gitu?" kata Raina. "Woah iya dong, aku tuh selalu bahagia setiap ngeliat muka kamu yang lucu," Alen terkekeh menyebalkan. "Iya kamunya bahagia, akunya yang sengsara, setiap hari dijailin terus, emangnya enggak ada kerjaan lain apa?" Raina kesal sendiri. Alen sok-sok an sedang berpikir, "Hmmm? Enggak." "Kerjaan aku kan cuma mikirin kamu," tambah Alen. "Pikirin pelajaran sana," suruh Raina. "Orang udah pinter," ucap Alen dengan bangga. "Dih sombooooong!" seru Raina. Alen lagi-lagi tertawa, "Kamu mau kalo aku mikirin Pingkan atau Freya gitu?" Raina langsung menoleh kearah Alen dengan cepat matanya membulat kaget. "Pikirin aja sana," "Yakin?" "Iya!" "Nggak cemburu?" "Enggak." "Yaudah," "Kok yaudah?" Raina tidak terima. "Tadi katanya nggak cemburu, yaudah sekarang aku mau mikirin mereka," balas Alen. Raina berdecak lalu membuang mukanya, "Yaudah," "Bercanda Raa, jangan ngambek," bujuk Alen sambil mencubit hidung Raina. "Siapa yang ngambek sih?" "Kamu kan," Raina hanya diam, gadis itu malah mengambil ponselnya dari dalam saku, ia membuka akun instagramnya disana, mengacangi Alen. Kepala Alen menoleh kearah samping, tepat didepan perpustakaan, tak sengaja matanya menangkap sosok Freya disana, gadis itu tengah memperhatikannya, Freya tersenyum dan melambaikan tangannya kearah Alen. Alen membalas senyuman Freya, membuat gadis itu terlihat senang ditempatnya. Sudah semingguan ini Alen tampak tak dingin lagi pada Freya, sikapnya tiba-tiba menjadi hangat, dan Freya suka itu. Beberapa detik kemudian Alen langsung mengarahkan pandangannya kedepan, membuang mukanya dari Freya, tatapannya menjadi kosong, pikirannya tiba-tiba berputar pada kejadian seminggu yang lalu, hal itu membuat Alen ingin sekali menarik kembali ucapannya pada hari itu. "Alen?" panggil Raina, membuat Alen langsung tersentak dari lamunannya. "Iya Ra?" "Kamu beneran lagi mikirin Kak Pingkan sama Freya ya?!" tuding Raina sambil mengerucutkan bibirnya. "Ehh nggak kok," elak Alen. "Mikirin siapa terusan?" "Mikirin kamu lah," dusta Alen. "Yang bener aja," "Ehm ke kantin yuk Ra," Alen mengalihkan pembicaraan, cowok itu menarik tangan Raina agar ikut berdiri. "Ngapain? Kan udah habis makan," ucap Raina yang tangannya sudah ditarik oleh Alen. "Ya makan lagi nggak papa," balas Alen. "Nggak mau," tolak Raina mentah-mentah. "Yaudah ke perpustakaan aja," ucap Alen, namun sedetik setelah itu Alen terdadar, "Eh jangan deh, ke ruang musik aja," ralatnya cepat. "Kamu kenapa sih?" tanya Raina sambil mengerutkan keningnya. "Nggak..nggak kenapa-napa." "Aneh!" ✨✨✨ Beberapa hari ini entah kenapa Raina sering merasakan kepalanya yang sakit dan pusing. Tubuhnya menjadi lemas jika terlalu kecapekan, tulang-tulangnya serasa sakit, rasanya tubuhnya sangat remuk. Entah ini karena Raina kecapekan belajar setiap hari sampai malam dan les privat, atau memang dirinya sedang tidak enak badan. Raina memegangi kepalanya saat dirinya sedang belajar bersama Raka digazebo pinggir kolam renang. Tulisan yang ada dibuku-bukunya seketika mengabur dan sulit untuk dilihat dengan jelas. Raina mengusap bagian hidungnya saat merasa ada cairan yang keluar dari sana, tangannya bergetar saat melihat ada darah disana. Raina baru saja mimisan. "Astaga, Ra!" pekik Raka saat melihat adiknya itu mimisan, cowok yang tadinya sedang menulis sesuatu dibukunya itu kini langsung berdiri dan mendekati Raina. "Kamu kenapa?" paniknya saat melihat wajah Raina yang tiba-tiba menjadi pucat. "Pusing Kak.." rintih Raina. Darah dari hidungnya itu masih terus mengalir, membuat Raka semakin panik. Karena saat ini dirumah sedang tidak ada siapa-siapa kecuali dirinya dan Raina. "Ayo kita ke rumah sakit." ucap Raka cepat, cowok itu segera mengangkat tubuh Raina yang terkulai lemas. Raka mengambil kunci mobilnya, menggendong Raina untuk masuk kedalam mobil, dan segera melajukan mobilnya itu ke rumah sakit dengan kecepatan diatas rata-rata. ✨✨✨ Raina sedang diperiksa dokter didalam, setelah sampai dirumah sakit tadi, Raka langsung mengabari Mama dan Papanya jika Raina sedang sakit dan ia bawa ke rumah sakit. Raka duduk dibangku besi panjang depan ruang IGD, ia duduk dengan tidak tenang, lengan bawahnya ia tumpu diatas paha, dengan kedua telapak tangan yang saling bertautan. Dirinya panik bukan main, ia takut terjadi apa-apa pada adiknya itu, ia trauma pada kejadian beberapa tahun silam, saat Raina kecelakaan dan harus mendapatkan penanganan intensif dari medis. Saat itu Raka selalu saja menyalahi dirinya sendiri, karena ia merasa tidak becus menjadi seorang kakak bagi Raina. Saat itu mereka berdua masih sama-sama berumur tujuh tahun. Raka mengurung dirinya dikamar, cowok itu bahkan tidak berani melihat keadaan Raina yang cukup parah pada hari itu, Raka juga pernah berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan memaafkan dirinya jika Raina sampai kehilangan nyawanya. Gara-gara kecelakaan itu, Raina yang masih menjadi gadis kecil harus merasakan sakitnya dioperasi, sakitnya tulang yang remuk akibat tabrakan, dan tidak sadarkan diri selama satu bulan. Arka dan Cherry mencoba tenang dan tabah, mereka berdua tidak menyalahkan Raka. Karena pada saat itu mereka juga yang lalai karena meninggalkan Raka dan Raina tanpa pengawasan orangtua dibandara. Maka dari itu, inilah sebab yang membuat Raka menjadi kakak yang over protektif kepada Raina. "Raka! Dimana Rara?" tanya Cherry yang baru saja tiba dengan raut wajah yang begitu panik. Raka langsung menengadahkan wajahnya, lalu menegapkan duduknya, "Rara ada didalem Ma, masih diperiksa sama dokter," ucap Raka. Cherry pun berjalan kearah depan pintu IGD, perempuan itu mengintip kearah pintu yang ada kaca beningnya, tetapi tetap saja ia tidak bisa melihat Raina. Cherry akhirnya duduk disebelah Raka, sambil menghela napasnya. "Gimana ceritanya adik kamu bisa kaya gitu?" tanya Cherry. "Tadi waktu Raka lagi belajar bareng sama Rara di gazebo, tiba-tiba aja Rara mimisan, terus dia bilang kalau kepalanya pusing. Jadi Raka langsung bawa dia kesini," jelas Raka. Cherry menutup wajahnya dengan telapak tangan, menahan tangisnya, takut jika anak perempuannya itu kenapa-napa. Raka yang melihatnya langsung memeluk Mama nya itu dari samping, memberikan ketenangan. "Tenang Ma, Rara pasti baik-baik aja," ujar Raka sambil mengusap punggung  Cherry. Tak lama setelah itu, akhirnya dokter perempuan muda yang memakai jas putih dan stetoskop yang menggantung dilehernya itu keluar dari ruangan. Membuat Raka dan Cherry langsung berdiri menghampiri dokter itu, bermaksud bertanya bagaimana keadaan Raina saat ini. "Gimana dok keadaan anak saya?" tanya Cherry dengan raut wajah gusar. Dokter itu tersenyum simpul, "Lebih baik kita tidak membicarakannya disini, karena ini merupakan pembicaraan pribadi. Jadi, mari kita bicara diruangan saya saja," ucap dokter itu dengan ramah. "Baik dokter," Cherry pun menurutinya. "Ehm Dokter, apa saya boleh masuk ke dalam?" tanya Raka sebelum dokter itu pergi bersama Cherry. Dokter itu mengangguk, "Iya, boleh." Setelah itu, Raka segera masuk ke dalam ruangan putih dengan aroma khas obat-obatan itu, menghampiri Raina yang sedang terbaring dibrankarnya. Sementara Cherry dan dokter perempuan itu langsung berjalan pergi untuk menuju ruangan pribadi dokter tersebut. Dilain tempat, kini Alen sedang berada diarea kafe. Cowok itu datang kesini bersama seseorang, hanya berdua saja. Tidak ada orang lain. "Kenapa nggak dimakan makanannya? Enggak suka ya?" tanya seseorang itu. Alen yang tadinya hanya diam saja kini langsung menggeleng sambil tersenyum, entah senyuman macam apa yang ia berikan. Tetapi, ini semua bukan kehendaknya. ✨✨✨
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN