23. Ini Masih Awal

3139 Kata
Baca baik-baik ya readersku, jangan sampe ketinggalan bagian pentingnya, nanti biar nggak bingung dipart selanjutnya. Happy Reading ✨✨✨ Jika didalam hubungan ada permasalahan yang muncul, itu adalah hal yang biasa~ Hari ini anak-anak OSIS tampak sedang sibuk dengan tugasnya dilapangan, bukan hanya itu saja, mereka juga tengah sibuk mengurusi proposal mengenai acara yang akan diadakan disekolah. Mereka sibuk mencari sewaan panggung, tenda, sound musik, guest star, sponsor, dan banyak lagi hal lainnya. Mereka melakukan kegiatan ini demi memeriahkan acara ulang tahun sekolah nanti, dan agar sekolahnya semakin terkenal meluas dimana-mana. Sekolah ini merupakan sekolah besar, sekolah elite, dan sekolah ternama yang ada di Jakarta. Karena acara besar itu akan diadakan satu minggu lagi, maka dari itu saat ini kelompok Raina tengah menyiapkan perlengkapan drama dan mulai rajin latihan untuk mereka tampilkan nanti, agar tidak mengecewakan. "Nanti mau latihan dimana?" tanya Tasya pada teman-teman satu kelompoknya. "Dirumahnya Alen aja gimana?" usul Devan. "Disana banyak makanannya, enak cuy, dijamin betah dan nggak bakal kelaperan lo disana." "Rumahnya Alen jauh dari rumah gueee," ucap Via. "Dih, itumah DL. Derita lo!" Devan mengejek Via. "Berantem yok Van?!" geram Via sambil melotot kearah Devan. "Ayok!" Devan hendak berdiri, namun Jagas segera menarik tangannya kembali untuk duduk. "Duduk aje! Lo sama dengan cupu kalo ngelawan cewek, udah ngalah aja," ucap Jagas, membuat Devan mendengus. "Tau! Masa mau-maunya ngelawan cewek!" balas Tasya. "Kan gue cuman bercanda, lo lo pada kenapa nge-seriusin?" sahut Devan. "Suka-suka gue dong! Wle!" Tasya menjulurkan lidahnya ke Devan. "Udah-udah, mendingan sekarang kita latihan aja dulu disekolahan, ditempat yang sepi, pokoknya mulai sekarang kita harus rajin latihan, supaya bagus performanya ntar," ujar Jagas, dan disetujui oleh yang lainnya. "Tapi mau latihan dimana?" tanya Via. "Di...." "Lapangan indoor aja, sekarang lagi sepi pasti disana, kan semuanya pada sibuk dilapangan outdoor." ucap Alen yang sedari tadi hanya diam saja menyimak. "Nah iya, ide bagus tuh," "Yaudah cabut yuk!" Mereka semua pun langsung berdiri dari tempat duduknya, bergegas untuk menuju lapangan indoor. Raina. Gadis itu hanya diam saja sedari tadi, entah apa yang sedang ia pikirkan. Gadis itu berdiri dari duduknya, menyusul teman-temannya yang sudah berjalan terlebih dahulu, saat diambang pintu, tiba-tiba saja Raina tercekat saat merasakan ada yang menggandeng tangannya, orang itu adalah Alen. "Kenapa dari tadi diem aja Ra?" tanya Alen. "Nggak papa," balas Raina agak lesu. "Kalo cewek bilang nggak papa, tandanya itu ada apa-apa," ujar Alen. Mereka berdua berjalan dibelakang teman-temannya. "Tapi emang nggak ada apa-apa," balas Raina. Alen langsung diam, namun sedetik setelahnya Alen langsung menoleh kembali kearah Raina, gadis itu nampak berbeda hari ini. Hari ini Raina memakai jaket, tangannya terasa hangat, wajahnya juga tidak sesegar biasanya. "Kamu lagi sakit ya Ra?" Entah kenapa pertanyaan barusan mampu membuat darah Raina berdesir, padahal itu adalah pertanyaan biasa. "Enggak kok. Lagi kecapekan aja, gara-gara belajar, sama ngehafalin teks drama," balas Raina. Tangan Alen bergerak untuk mengusap rambut Raina pelan, "Jangan capek-capek ya, banyakin istirahat," ujar Alen membuat Raina mengangguk sambil tersenyum kecil. Kini mereka semua telah sampai didalam lapangan indoor, dan benar saja, disini sepi tidak ada siapa-siapa. Jadi mereka bisa dengan luwes berlatih drama, berteriak, mendalami peran dan lain sebagainya. Mereka semua pun mulai berlatih, sambil membawa kertas teks bacaannya masing-masing. Disini yang menjadi pemeran utama adalah Alen dan Raina, jelas saja, mau siapa lagi memang? Devan dan Via? Nggak nggak. Itu malah bisa membuat dramanya menjadi kartun tom and jerry yang bertengkar atau bahkan upin ipin, dan bukannya menjadi romantis malah menjadi dramatis. Caca sang narator mulai membacakan awal ceritanya. Mereka semua pun langsung siap pada perannya masing-masing. Setelah berjam-jam mereka latihan dan take ulang terus karena masih banyak yang salah, lupa teks, ketawa-ketawa, dan cengengesan, jadinya sekarang mereka menyelesaikan latihannya terlebih dahulu. Maklum saja, ini adalah latihan pertama mereka, seharusnya mereka sudah latihan dari hari-hari lalu, tetapi mereka baru latihan sekarang. Kini mereka semua pun keluar dari lapangan indoor menuju lapangan outdoor. Semuanya pada berpamitan ingin ke kantin untuk membeli makan dan minum, terkecuali Raina, Alen, Devan dan Via, mereka berempat memilih untuk duduk-duduk dipinggir lapangan sambil melihat anak-anak OSIS yang sedang sibuk mondar-mandir sana-sini mengangkat barang dan membantu memasang kerangka tenda. Karena nantinya juga akan ada bazar yang diadakan oleh anak-anak kelas sepuluh dan sebelas, maka dari itu mereka disediakan tenda untuk dijadikan stand mereka nantinya. "Enak apa ya jadi anak OSIS? Harus sibuk terus kaya gitu, berasa jadi babu nggak sih?" tanya Devan tiba-tiba. "Bukan jadi babu Van, namanya aja organisasi siswa, organisasi yang menaungi sekolah, jadi ya emang harus gitu." balas Raina. "Liat deh, guru-gurunya enggak ada yang bantuin, mereka ngelakuin ini sendiri woi," ujar Devan. "Itu berarti OSIS nya bagus, mereka disanggupin sama sekolah, guru-guru juga pada percaya kalo mereka itu bisa. Lagian dari tahun ke tahun kan OSIS disekolah ini emang a***y-a***y," sahut Via. "Apalagi ketosnya si Zidan, emmm," tambah Via seperti memuji Zidan. Devan meliriknya malas, "Dih bilang aja lu suka sama dia," "Dih bilang aja lo cemburu, yakannn?" "Dih pede amat lu," balas Devan, lalu Via hanya memutar bola matanya malas. "Gue dulu pernah daftar OSIS, tapi gue nggak keterima, jadi gue gedek sama Jidan," ucap Devan jujur. Membuat ketiganya menoleh kearahnya, "Lah elu yang nggak keterima kenapa lu yang gedek sama Zidan?" tanya Alen. "Ya karena waktu lagi debat calon anak OSIS gue di skakmatt sama dia, masalahnya tentang pelajaran lagi, ya gue kalah lah," balas Devan terdengar kesal. Via tertawa terbahak disebelahnya, "Yaudah kalo itu mah DL lo Van! Pake sok-sok an daftar OSIS," celetuk Via. "Suka-suka gue lah, orang gue cuman iseng. Bayangin aja kalo sekarang gue jadi ketos, beuh udah pasti nih sekolahan ancur," ucap Devan. "Bukan ancur, tapi isinya bakalan banyak bibit fakboinya," balas Via. "Eh tapi siapa juga yang bakalan mau pilih lo jadi ketos? Pede amat." "Banyaklah, adek-adek kelas yang sering gue ajakin ke kantin pasti bakalan pilih gue," sombongnya. Sementara Devan dan Via asik mengobrol, Alen dan Raina kini sedang diam-diaman saja, mereka hanya memperhatikan kearah lapangan. Tetapi tiba-tiba saja ada Freya yang berjalan didepannya sambil membawa kardus yang entah apa isinya, ya anak itu sedang sibuk membantu saat ini, karena dia kan anggota OSIS. "Hai Kak Alen!" sapanya ceria seperti biasa. "Hai Frey," balas Alen. "Hai Kak Raina! Kak Devan! Kak Via!" lanjut Freya dengan menyapa semua kakak kelasnya itu. "Hai juga Frey," balas mereka bertiga. "Dek Freya dari mana mau kemana nih? Mau dibantuin nggak?" tawar Devan. "Eh nggak usah Kak, aku bisa sendiri kok," balasnya sambil tersenyum. "Yaudah, aku duluan ya Kak!" pamitnya lalu langsung pergi dari hadapan mereka semua. "Hati-hati Frey," ujar Alen, membuat Raina langsung menoleh karena ucapan Alen barusan. Gadis itu menatap heran kearah Alen, sedangkan Freya yang diberi ucapan seperti itu oleh Alen langsung mengembangkan senyumnya sambil mengangguk. Setelah kepergian Freya, Alen terus memandanginya dari belakang, gadis itu nampak sedang menghampiri teman OSIS nya sambil berbincang-bincang. Raina mengetahuinya, diam-diam gadis itu mengikuti arah pandang Alen. Entah kenapa seperti ada rasa cemburu dan tak terima saat Alen kini bersikap seperti itu pada Freya. Padahal Alen dulu sangat cuek dan tidak pernah peduli pada cewek itu. "Kamu ngelihatin Freya ya?" kata Raina, lalu Alen langsung tersadar dan menoleh kearah Raina dengan sedikit gelagapan. "Enggak kok, aku lagi ngeliatin anak-anak osis, kan banyak tuh disana," balas Alen. Namun Raina hanya diam saja, pikiran-pikiran negatif mulai muncul diotaknya, tetapi dengan cepat Raina langsung membuangnya jauh-jauh. Kenapa ia harus cemburu? Hanya karena Alen kini selalu menerima Freya dengan baik, itu merupakan hal yang wajar. "Alen," panggil Raina. "Iya Ra?" "Nanti malem anterin ke gramedia ya? Aku mau beli novel," ucap Raina. "Siap tuan putri, kamu mau kemana aja pasti bakalan aku anterin kok." balas Alen antusias. Membuat Raina tersenyum sangat manis. ✨✨✨ Malam ini sesuai janjinya kepada Raina, Alen akan mengantarkan pacarnya itu ke gramedia yang ada di mall tempat mereka pernah bolos dulu. Cowok itu sudah sampai didepan gerbang rumah Raina, ia ingin menghampiri Raina ke dalam dan meminta izin ke Cherry jika anak perempuannya akan ia ajak pergi. Alen pun berjalan kedepan pintu rumah besar Raina, ia memencet bel beberapa kali, sampai ada seorang wanita yang tak kalah cantik dengan Raina, membuka pintunya, orang itu adalah Cherry. Ini merupakan kedua kalinya Alen bertemu dengan Mama Raina, dan untuk pertama kalinya Alen masuk kerumah Raina. "Eh ada si kasep, nyariin Rara ya? Ayo masuk dulu," ucap Cherry sambil tersenyum. "Iya Tante," balas Alen ramah. Cowok itu akhirnya masuk kedalam rumah Raina, mengikuti Cherry dari belakang. "Duduk dulu, Rara nya tante panggilin," balas Cherry dan langsung berjalan menaiki tangga. "Iya Tante." Alen pun duduk dengan anteng diruang tamu, sambil menunggu Raina cowok itu memainkan ponselnya. Alen sedang saling mengirim pesan bersama teman-temannya di LINE. Cowok itu juga sedang chatan bersama seseorang secara pribadi. Alen Dirgantara: Intinya lo jangan lupa istirahat yang banyak, jangan capek-capek, jangan lupa minum obat. Freya Anindita: Siappp kakkk! Aku bakal rajin-rajin minum obat kalo kak alen perhatian terus ke aku kaya giniiii Alen Dirgantara: Hm. Freya Anindita: Kak alen lagi sibuk nggak sekarang? Boleh aku telfon? Alen Dirgantara: Jangan. Freya Anindita: Kenapaaa?:((( Read/ Freya Anindita: Kak alen lagi sama kak raina ya? Aku ganggu ya? Maaf kak enggak maksud.. Alen Dirgantara: Iya, nanti aja kalo gue udah dirumah. Freya Anindita: Serius kak??? Demi apa??? Kak alen mau telfonan sama aku?!! Aku gak lagi mimpi kan??? Alen Dirgantara: Nggak. Freya Anindita: Besok kak alen mau aku bawain apa ke sekolah? Coklat? Sandwich? Salad buah? Atau apaaa?? Alen Dirgantara: Nggak usah. Freya Anindita: Yauda deh kalo kak alen nggak mau mah, nggak papa:) Freya Anindita: Selamat malam kak alen, jangan lupa nanti diangkat telfonnya ya kak Read/ Tiba-tiba saja Alen dikejutkan oleh kedatangan Raina dan Cherry yang baru saja turun dari lantai atas, sontak hal itu membuat Alen langsung mematikan ponselnya dan menyimpannya didalam saku celana. Alen seketika berdiri sambil tersenyum membalas sapaan Raina. "Kalian mau langsung berangkat?" tanya Cherry. "Iya Ma, nanti keburu malem kalo nggak cepet-cepet," balas Raina. "Yaudah kalo gitu, kalian hati-hati ya, jangan terlalu malem pulangnya," ujar Cherry memberi amanah. "Siap Ma!" "Alen, tolong jagain Rara ya," pesan Cherry. "Siap Tante, bakal Alen jagain terus dia mah," balas Alen membuat Cherry terkekeh. "Yaudah, kalau gitu Alen sama Raina pamit ya Tante," ucap Alen sambil menyalimi tangan Cherry, dan diikuti juga oleh Raina. "Iya, sekali lagi hati-hati." ✨✨✨ Suasana Mall malam ini tampak ramai pengunjung, banyak anggota keluarga yang kesini, banyak juga pasangan-pasangan muda yang berpacaran atau bahkan yang sudah menikah saling bergandengan tangan dan berjalan beriringan. Seperti Alen dan Raina sekarang. Alen tak ingin melepaskan genggaman tangannya dari tangan Raina, cowok itu benar-benar harus menjaga Raina dengan baik. "Ra, tadi Mama kamu kok manggil nama kamu dengan sebutan Rara?" tanya Alen saat mereka baru saja sampai dilantai atas menggunakan eskalator. Raina menoleh, "Iya, Rara itu nama panggilan aku dirumah, saudara-saudara aku sama keluarga deket aku manggilnya kebanyakan Rara," balas Raina. "Ohhh gitu," Alen manggut-manggut. "Iya." Saat ini mereka berdua telah sampai digramedia, Raina terlihat sangat excited saat melihat begitu banyak deretan pajangan novel-novel best seller bergenre teenfiction, romance, fanfiction, dan banyak lagi lainnya. Rasanya ingin sekali Raina membeli semuanya, tapi dirasa itu tidak mungkin, karena sebagian lemarinya sudah dipenuhi oleh novel. "Ya ampun ini banyak banget yang bagus-bagus, aku jadi pengin beli semuaaa," seru Raina. "Beli aja semua Ra," ujar Alen. "Nggak dibolehin sama Kak Raka beli novel banyak-banyak. Soalnya dirumah udah numpuk," balas Raina sambil mengambil salah satu novel dan ia baca sinopsisnya. "Harusnya sih nggak papa, kan buat dijadiin koleksi." kata Alen. "Iya sih, tapi emang udah banyak banget dirumah," balas Raina. Raina kini sedang berjinjit berusaha untuk mengambil novel yang ada di rak bagian atas, rak itu terlalu tinggi untuk ia capai. "Ihh nggak nyampeee! Tinggi banget rak nyaa," rengek Raina masih terus mencoba menggapai bukunya. Alen tertawa, cowok itu menertawai Raina, "Cie nggak bisa ngambil," ledeknya. "Ish bantuin napa? Bukannya malah ngetawain!" kesal Raina. "Iya-iya, mau yang mana?" "Itu yang sampulnya warna putih," balas Raina, Alen pun langsung mengambilkannya dengan sangat mudah, tidak seperti Raina tadi yang harus berjinjit terlebih dahulu. "Nih," Alen memberikannya pada Raina, "Mangkanya jadi orang jangan pendek-pendek," ledek Alen sambil tertawa, tetapi itu bercanda. Raina mendelik kesal, "Heh, aku tuh tinggi ya! Kamu aja yang ketinggian!" dengusnya. Alen malah menunjukkan muka mengejek, membuat Raina geram, "Mana ada ketinggian," sahut Alen. Raina pun langsung meninggalkan Alen dan pergi menuju rak buku yang lainnya. "Eh Ra! Kok ditinggal sih?" dumel Alen sambil menyusul Raina. Setelah setengah jam an mereka berada disini, akhirnya Raina dan Alen pun keluar dari gramedia, jadinya tadi Raina hanya membeli lima macam novel saja. Karena biasanya Raina akan membeli sepuluh atau bahkan lebih jika sudah keterusan. "Makan yuk?" ajak Alen. "Dimana?" tanya Raina. "Di Pepper Lunch mau?" tawar Alen, yang membuat Raina langsung berpikir. "Iya boleh," kata Raina. Mereka pun akhirnya datang ke tempat makan Pepper Lunch, Alen mencarikan tempat duduk yang kosong, dan tempat itu ada didekat pohon hias. Mereka pun langsung duduk disana. Pelayan datang sambil membawa menu makanan yang ada disini, Alen dan Raina langsung melihat daftar menunya. Raina tiba-tiba saja teringat akan sesuatu, ada makanan yang pantang untuk ia makan. "Saya pesen Beef aglio olio nya mbak," ucap Alen yang langsung ditulis oleh pelayannya. "Kamu apa? Beef juga ya Ra?" tanya Alen, namun dengan cepat Raina menggeleng. "Saya salmon pepper rice aja mbak," ucap Raina pada pelayannya, setelah menyebutkan nama makanan dan minumannya, pelayan itu pun langsung pergi. "Kenapa nggak pilih daging? Setau aku kamu kayanya suka daging kan?" ujar Alen, membuat Raina menatapnya. "Iya, aku suka. Tapi sekarang aku lagi nggak boleh," balas Raina. "Nggak boleh kenapa?" Raina seketika langsung gelagapan mencari jawaban yang pas, "Ehm itu..bukannya nggak boleh, tapi lagi nggak mau makan daging aja, lagi diet," alibi Raina. "Diet? Kamu udah kecil, udah pas badannya, kenapa harus diet?" tanya Alen. "Iya nggak papa. Udah deh yang penting kan aku makan salmon, sama aja," ujar Raina. Raina kini terdiam, tiba-tiba saja Raina menjadi kepikiran tentang masalah kemarin. Dokter Alya kemarin bilang jika Raina tidak boleh makan daging dan makan makanan yang sembarangan. Dirinya seketika murung setiap mengingat hal itu, Raina tidak ingin seperti ini, Raina ingin seperti dulu lagi. ✨✨✨ Malam ini jarum jam menunjukkan pukul delapan malam, Raina dan Alen tengah berada ditaman kota yang ramai, tadi Raina yang mengajak Alen kesini, katanya ia masih ingin jalan-jalan. Mereka duduk dibangku yang dekat dengan patung besar yang berada ditengah-tengah kolam, kolam dan patungnya itu disoroti oleh cahaya lampu warna-warni, menjadikannya indah untuk dipandang, apalagi bagi orang-orang yang sedang berkendara disekitar bundaran taman ini. Raina kini sedang asik memakan gulali sambil melihat lampu yang berganti-ganti warna itu, sedangkan Alen, cowok itu tengah sibuk dengan ponselnya, terlihat seperti sedang chatan bersama seseorang. "Kamu lagi chatan sama siapa sih?" Raina akhirnya bertanya, karena Alen sudah sibuk dengan ponselnya dari mereka sampai ditaman ini. Biasanya jika sedang bersama Raina, Alen tidak pernah atau mungkin jarang memainkan ponselnya, cowok itu pasti selalu menyimpan hape nya disaku, karena ia tidak ingin menggangu waktu quality time nya bersama Raina, hanya untuk bermain handphone. "Sama..." Alen tercekat, mencari jawaban yang tepat agar Raina tidak salah paham, "Temen," Raina melirik ponselnya, namun dengan cepat Alen langsung mematikannya dan menjauhkannya dari pandangan Raina, membuat cewek itu mendengus. "Alennnn...." panggil Raina. "Iya sayang," "Pinjem hapenya donggg, buat foto, aku kan lama nggak pernah foto dihape kamu," ucap Raina, membuat Alen langsung menatapnya dengan tatapan yang aneh. "Enggak boleh ya? Yaudah nggak papa," Raina mendadak lesu. Dirinya memang ingin sekali foto menggunakan ponsel milik Alen. Karena terakhir ia meminjam dan memegang ponsel Alen itu pada saat seminggu yang lalu, itu pun Raina pinjam untuk dipakai selfie, bajak story Alen dengan foto selfienya, menonton vlog youtube, iseng mainin mobile legend atau pun free fire milik Alen walaupun selalu kalah, dan intinya banyak sudah foto-foto Raina yang ada diponsel Alen. "Ini boleh, apasih yang nggak boleh buat kamu," kata Alen sambil mengeluarkan kembali ponselnya. "Yessss! Sini-sini," Raina langsung merebut cepat ponsel itu. Wallpaper yang dipasang Alen saat ini adalah fotonya bersama Raina saat Raina sedang dirumah Alen waktu itu. Raina mengerut saat password yang ia ketik tidak berhasil untuk membuka ponsel Alen. "Kamu ganti password ya? Apa passwordnyaa?" tanya Raina. "Tanggal jadian kita," sahut Alen. Raina tiba-tiba saja langsung senyum-senyum sendiri, padahal password yang digunakan Alen terakhir kali itu adalah 1111, sungguh simple, dan jelasnya password seperti itu hanya digunakan untuk orang-orang yang mager. Raina pun langsung mengetiknya, dan benar saja ponsel itu langsung terbuka. Raina langsung membuka i********: dan kamera, disana banyak sekali filter-filter i********:. Tidak, bukan Alen yang menyimpannya, tetapi Raina. Mana mungkin Alen suka mengumpulkan filter seperti itu, selfi aja nggak pernah kalau nggak diajak sama Raina. Saat Raina sedang asik selfi-selfi ria dengan banyak gaya dan ekspresi, tiba-tiba saja ada bubble notifikasi yang muncul dari atas. Ada pesan Line masuk dari sana, Raina sempat membaca nama pengirim dan isi chatnya sekilas sebelum bubble notifikasi itu hilang. Freya Anindita. Nama itulah yang muncul dari sana, Raina seketika terdiam cukup lama, saat mengingat isi pesan yang dikirim oleh Freya untuk Alen. Raina melirik Alen sekilas, cowok itu tidak sadar, ia sedang melihat lalu lalang kendaraan sambil memainkan kunci motornya. Begini isi chatnya yang dibaca Raina tadi dengan sekilas. Kak Alen belum pulang-pulang juga ya? Kapan telfonannya? Nanti aku keburu ngantuk malah enggak jadi:( Pikiran aneh-aneh langsung menggerayangi otak Raina, tadi disekolah Alen membalas sapaan Freya, dan mengucapkan kata 'hati-hati'. Sekarang Raina lihat sendiri jika Freya mengechat Alen, dan chat itu terlihat bukanlah chat yang baru dimulai, tetapi chat itu terlihat chat yang sudah nyambung percakapannya. Apalagi ada kata-kata telfon, jadi Freya dan Alen akan berkomunikasi lewat telfon? Apa jangan-jangan yang dari tadi chatan sama Alen itu Freya? Raina membatin, tanpa sadar Raina telah meremas ponsel Alen ditangannya. Matanya memejam, pusing dikepalanya mulai terasa, napasnya memburu, hatinya terasa sesak saat mengetahui hal yang baru ia tau. Alen yang baru sadar langsung memberikan perhatiannya pada Raina, cowok itu lebih mendekat kearah Raina. "Kamu kenapa Ra?" tanya Alen dengan raut wajah khawatir. Raina membuka matanya, menatap Alen dengan tatapan datar, "Aku mau pulang sekarang," ucap Raina mendadak dingin tidak seperti tadi. "Loh, kenapa? Udah puas emangnya disini? Tadi katanya bosen dirumah," balas Alen. "Aku mau pulang." Raina menekankan setiap perkataannya. "Emang udah selesai fotonya?" Alen masih belum menanggapi permintaan Raina untuk pulang. Raina malah menaruh ponsel itu disebelah Alen, cewek itu langsung berdiri, membuat Alen kebingungan. Alen pun akhirnya langsung mengambil ponselnya dan menyusul Raina yang sudah mulai berjalan menjauh. "RA!" "RA!" Alen berhasil meraih tangan cewek itu dan menariknya, mau tidak mau Raina langsung memutar tubuhnya menghadap kearah Alen. "Kamu kenapa sih?" "Aku cuma mau pulang, kalo kamu nggak mau nganterin, aku bisa pulang sendiri naik taksi," balas Raina. Alen terdiam sesaat, Alen bisa melihat ada kilatan kemarahan dimata Raina. "Iya kita pulang Ra, aku anterin." kata Alen setelahnya. ✨✨✨
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN