56 missed call
401 unread message
Raina hanya menatap malas kearah layar ponselnya, cewek itu kini sudah berada dirumahnya lebih tepatnya didalam kamar. Setelah Alen mengantarkannya sampai depan rumah tadi, Raina langsung masuk begitu saja ke dalam rumahnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Alen.
Hal itu membuat Alen uring-uringan, sesampainya dirumah tadi, Alen langsung menelpon dan mengirimi pesan kepada Raina berkali-kali, tetapi tidak ada satu pun yang diangkat atau pun dibalas. Alen sekarang mengerti kenapa Raina mendadak marah seperti itu, itu pasti karena Raina tidak sengaja melihat ada pesan yang masuk dari Freya.
Drrrttt drrrtttt
Ponsel Alen bergetar saat cowok itu sedang duduk dipinggiran kasur sambil memikirkan Raina. Dengan cepat Alen langsung mengambil ponselnya, dilihatnya siapa nama yang tertera disana. Alen berdecak saat melihat nama orang yang menelponnya.
Freya Anindita is calling...
Mau tidak mau Alen langsung menggesernya ke tombol hijau, mendekatkan benda pipih itu ke pipinya. Suara cewek yang terdengar riang itu langsung masuk ke indera pendengaran Alen.
✨✨✨
Esok harinya, Raina datang ke sekolah bersama Raka seperti biasanya. Hari ini sekolah sudah sangat ramai, karena banyak orang-orang tukang yang bergotong royong untuk memasang panggung yang megah.
"Kak Raka kelasnya ada dramanya apa nggak?" tanya Raina.
"Enggak ada," balas Raka.
"Ihh guru Bahasa Indonesia nya Kak Raka bukan Bu Irma ya?" tebak Raina.
"Bukan,"
"Enak banget, Rara pengin pindah kelas aja lah," Raina cemberut.
"Kenapa?"
"Ya kan enak disana nggak disuruh buat tampil drama diatas panggung," ucap Raina sambil menoleh kearah Raka, mereka berbincang-bincang sambil berjalan beriringan dikoridor.
"Tapi disuruh tampil nge-band atau pertunjukan seni sama guru Seni Budaya," balas Raka.
"Itu berkelompok? Bareng-bareng?"
Raka mengangguk, "Iya,"
"Terus-terus, Kak Raka bakalan tampil apa???" Raina bertanya dengan antusias.
"Main gitar sama nyanyi, tapi yang nyanyi bukan gue," balas Raka.
"Kenapa gak Kak Raka aja yang nyanyi? Kan Kak Raka bisa nyanyi, yakan yakannn?"
"Hmm males aja," sahut Raka.
"Yahhh, padahal mah dijamin kalo Kak Raka nyanyi sambil main gitar cewek-cewek satu sekolahan langsung klepek-klepek sama Kak Raka," ujar Raina heboh, membuat Raka terkekeh mendengarnya.
Tanpa mereka ketahui, Alen kini tengah memperhatikan mereka dari balik pilar, cowok itu baru saja sampai disekolah, dan tak sengaja melihat Raka dan Raina tengah asik mengobrol. Entah kenapa Alen merasa kesal, karena mereka terlihat seperti orang yang pacaran, bukan adik kakak.
"Ihhh Alen ngeliatin siapa sih disini?" tegur anak perempuan yang merupakan salah satu fans Alen.
Dih, fans?
Hal itu membuat Alen agak terkejut, cowok itu menoleh ke belakang, ada beberapa gerombolan anak-anak cewek disana tengah memperhatikannya sambil senyum-senyum.
"Eh, nggak ngeliatin siapa-siapa," balas Alen. Cowok itu langsung berlalu dari sana untuk menuju kelasnya.
✨✨✨
Hari-hari mendekati acara sekolah seperti ini sudah jelas pasti akan jamkos, semuanya pasti sibuk mengurusi acara ini. Sekarang acaranya adalah menghias stand untuk tempat mereka mengadakan bazar.
Alen sedang berada disebelah Raina, cewek itu jika diajak bicara sedari tadi hanya menjawab seadanya saja, tidak banyak bicara. Disaat semua teman-temannya tengah berada diluar kelas untuk menghias stand milik kelas mereka, Raina malah berada dikelas sambil komat-kamit menghafalkan teks drama bagian terakhir.
"Ra,"
"Ra,"
"Ra,"
"Sayang," panggil Alen.
Raina yang sedang sibuk menghafal itu kini langsung berdecak dan menoleh sebal kearah Alen.
"Apa sih?!" sahut Raina ketus.
"Galak amat sih Ra," ucap Alen melas.
"Biarin! Lagian aku tuh dari tadi lagi ngehafalin teks drama, kamu ganggu aja tau gak!" Raina kesal setengah mati.
"Yaudah atuh maafin Alen nya," balas Alen.
"Nggak. Ngapain sih kamu disini? Sana keluar aja bantuin yang lainnya, gak usah gangguin aku," ucap Raina mengusir Alen.
"Jadi aku diusir nih?"
"Iya, sana pergi," usir Raina lagi.
"Diusir beneran nih? Tega?"
"Tega lah, ngapain juga nggak tega," balas Raina sewot.
Alen pun manggut-manggut, sambil menepuk kedua pahanya lalu berdiri, Raina hanya acuh, cewek itu tidak mempedulikannya sama sekali.
Sesaat setelah Alen pergi, hanya tinggal Raina yang berada didalam kelas ini, dirinya menyumpah serapahi Alen berkali-kali, geregetan karena Alen tidak meminta maaf karena perbuatannya kemarin.
"Bisa-bisanya dia pergi gitu aja? Gak mau berusaha jelasin masalah yang kemarin gitu? Tuh cowok emang gak peka atau gimana sih?!" kesal Raina.
✨✨✨
Karena Raina sudah hafal dan teks dialognya sudah diluar kepala, akhirnya Raina pun keluar dari kelas, ia hendak menyusul teman-temannya yang sedang sibuk ditengah lapangan.
Mata Raina berbinar saat melihat panggung megah yang kini sudah berdiri ditengah-tengah lapangan sana, sudah seperti mau ada konser saja. Padahal tadi pagi masih belum sepenuhnya berdiri.
Saat Raina hampir mencapai stand kelasnya, tiba-tiba saja ada seseorang yang menabraknya dengan sangat kencang, membuat Raina sampai terjatuh diatas tanah, begitu pun dengan seseorang yang menabrak Raina.
Freya, cewek itu lah yang menabrak Raina, ia habis berlari dari arah panggung ingin menuju ke ruang OSIS untuk mengambil sesuatu yang tertinggal.
Telapak tangan Raina terasa panas dan perih karena menapak pada paping sekolah, ia meringis pelan, tapi matanya langsung menuju pada Freya, cewek itu jatuh dengan posisi telungkup, ia terlihat sedang memegangi dadanya dengan napas yang terengap-engap.
Dengan cepat Raina langsung berdiri bermaksud ingin menolong adik kelasnya itu. Raina menghampiri Freya, dan memegang kedua bahu cewek itu.
"Frey? Kamu nggak papa kan?" tanya Raina sambil membalikkan tubuh Freya agar menghadap kearahnya.
Freya menggeleng sambil masih memegangi dadanya, napasnya tercekat, dan terdengar sangat tipis.
"Inhaler.." rintih Freya.
"Inhaler? Kamu asma? Dimana inhalernya?" tanya Raina terdengar cukup panik.
"K-ketinggalan d-di ruang OSIS Kak," ucap Freya dengan susah payah.
"Yaudah, sebentar ya aku ambilin, kamu tunggu disini dulu," ucap Raina.
Tiba-tiba saja ada suara derap langkah kaki yang berlari mendekat kearah mereka, Raina mendongak, itu adalah Alen, cowok itu nampak khawatir.
"Ini kenapa?" Alen bertanya saat sudah berjongkok disebelah Raina dan Freya.
"Aku ngg--" ucapan Raina terpotong.
"Kenapa Frey? Lo kenapa?" Alen bertanya dengan cepat, cowok itu datang-datang langsung menanyai keadaan Freya bukan keadaan Raina. Tadi Raina sempat berfikir jika Alen akan menghampirinya dan bertanya keadaannya terlebih dahulu, tetapi yang terjadi malah sebaliknya.
"Sesek Kak, aku b-butuh inhaler," ucap Freya.
Alen dengan cepat langsung meraih sebelah tangan Freya dan membantunya untuk berdiri, Alen membopongnya untuk menuju ke UKS.
Raina membeku ditempat, bahkan Alen tidak meliriknya sama sekali, cowok itu lebih memilih membantu Freya, ya walaupun yang lebih urgent memang Freya, tetapi tetap saja, rasanya aneh.
"Ra, sebentar ya, aku mau nganterin Freya ke UKS dulu," ujar Alen, pada Raina yang masih berlutut diatas tanah.
Cowok itu langsung pergi sambil memapah Freya menuju UKS.
Dengan perlahan Raina berdiri, matanya terus menyorot punggung Alen dan Freya yang semakin menjauh, bagaimana bisa menjadi seperti ini?
Kedua matanya memanas, ini baru pertama kalinya Alen mengacuhkannya dan lebih mempedulikan orang lain ketimbang dirinya. Ingin sekali Raina menangis sekarang, sakit hati? Sudah pasti jelas Raina sakit hati. Ia tidak marah jika Alen ingin membantu Freya, tetapi cara dan prilaku Alen terhadap Freya itu berbeda, tampang khawatir sangat tergambar diwajah Alen tadi.
"Ra?" panggil seseorang.
Raina seketika menoleh perlahan, cepat-cepat Raina menengadahkan kepalanya keatas agar air matanya yang tadi sudah menggenang tidak jadi tumpah.
"Kenapa Ra?" tanya orang itu.
"Nggak papa kok Dan," balas Raina pada Zidan.
Zidan lalu melihat kedua telapak tangan Raina yang terlihat kotor dan memerah, rok belakangnya juga kotor akibat jatuh tadi.
"Loh Ra, itu telapak tangan lo kenapa merah-merah? Terus rok lo kenapa kotor? Lo habis jatuh ya?" tanya Zidan.
Raina mengangguk pelan, "Iya Dan,"
"Kok bisa jatuh sih Ra?" tanya Zidan sambil mengambil kedua tangan Raina, lalu membersihkannya.
Hal itu membuat Raina cukup tersentak, "Iya tadi Freya nggak sengaja nabrak aku," balas Raina sambil menarik kembali tangannya.
Zidan langsung menatap Raina, "Freya? Terus dimana dia sekarang? Tadi dia bilang sama gue kalo mau ngambil inhalernya diruang OSIS," ucap Zidan.
"Iya dia sekarang lagi dibawa ke UKS sama Alen," kata Raina sangat berat.
"Alen?" Zidan tampak terkejut.
"Iya."
"DAN! ZIDAN!" panggil seorang anak OSIS dari kejauhan, cowok itu nampak tengah sibuk dengan kegiatannya.
"APAAN?" teriak Zidan.
"Butuh bantuan lo nih, Pak ketos!" balas teman Zidan.
"Oke-oke bentar!" sahut Zidan.
"Ehm Ra, gue mau kesana dulu ya? Bantuin anak-anak OSIS yang lain, ntar gue dikira numpang nama doang jadi ketua OSIS," ujar Zidan pada Raina sambil tertawa kecil.
"Iya Dan, buruan kesana gih," balas Raina, lalu Zidan pun langsung mengangguk dan pergi meninggalkan Raina.
Raina terdiam sesaat, gadis itu memutar badannya ke belakang, melihat kearah lorong yang merupakan jalan untuk menuju ke UKS. Raina menghela napasnya dengan berat, niatnya yang tadinya ingin pergi untuk menyusul teman-teman sekelasnya langsung sirna, ia jadi tidak mood untuk kesana. Jadinya Raina memilih untuk pergi menjauh dari keramaian, gadis itu berjalan tanpa semangat kedepan ruang baca perpustakaan.
Raina duduk didepan kursi panjang yang terbuat dari semen dan dilapisi oleh keramik. Duduk disini sendirian, sambil memikirkan kejadian tadi. Kini masalahnya malah bertambah, yang kemarin saja masih belum kelar, tapi sudah ditambahi saja dengan yang baru. Dan, lagi-lagi masalahnya bersangkutan dengan Freya.
Freya Freya Freya. Siapa sih cewek itu sebenarnya dikehidupan Alen? Raina tau jika banyak anak-anak perempuan yang menyukai Alen disekolah ini, mulai dari adik kelas sampai kakak kelas banyak yang menyukai Alen. Alen memang bukan cowok yang paling ganteng disekolah, masih banyak cowok lainnya yang lebih ganteng dari Alen disekolah ini.
Tetapi Alen itu punya kesan dan aura tersendiri yang melekat didalam dirinya, mangkanya banyak cewek-cewek yang tertarik sama dia, walaupun dia itu nakalnya naudzubillah. Tetapi jika dilihat-lihat, akhir-akhir ini Alen jarang sekali berbuat onar disekolah, itu terjadi semenjak ia berpacaran dengan Raina.
"Kasian ya yang nggak dianggep sama pacarnya sendiri?" suara itu terdengar dari seseorang yang baru saja tiba disebelah Raina, disusul dengan gelak tawa teman-temannya dibelakang.
Raina mendongak dan menoleh, ia menemukan keberadaan Pingkan dan gengnya sedang berdiri disebelahnya, sambil tertawa mengejek.
"Pacarnya siapa, yang ditolongin duluan siapa," ejek Lisa sambil tertawa.
"Bener tuh, lagian mau-mau aja lo jadi pacarnya Alen, udah tau dia cowok playboy," ucap Retha.
"Sakit nggak hatinya ngeliat Alen kaya gitu?" ucap Intan.
Pingkan tertawa mengejek bersama teman-temannya, lalu ia menghentikan tawanya itu dan langsung memasang wajah remeh kepada Raina.
Raina masih menatapnya dengan pandangan yang biasa saja. Pingkan, padahal cewek itu sudah lama tidak pernah mengganggu Raina, tapi kini cewek itu kembali lagi.
"Gimana Ra? Enak digituin sama Alen? Pacarnya siapa yang ditolongin siapa," Pingkan terkekeh.
"Percaya nggak sama yang gue bilang? Alen itu player, sekalinya player ya tetep player, mau seberapa cantik lo kalo dia udah bosen ya bakalan ditinggal," kata Pingkan, semakin memanas-manasi Raina.
"Ups salah, bukan ditinggal lagi, tapi dibuang," kata Pingkan sambil disusul oleh gelak tawanya dan teman-temannya.
Tangan Pingkan bergerak untuk menyentuh dagu Raina, dan ia angkat, "Jadi, jangan merasa lo itu tinggi gara-gara pacaran sama Alen. Enggak pantes. Lo itu sama aja kaya boneka, dijadiin mainan terus dibuang deh kalo udah bosen." ucap Pingkan sambil tersenyum miring.
Raina menatap mata Pingkan dengan kilatan kebencian, cewek itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun sedari tadi, mulutnya ia kunci rapat-rapat.
"Lo bisu ya? Nggak bisa ngomong? Kenapa dari tadi diem aja? Oh gue tau, takut ya sama gue? Takut kalo gue bawa lo ke rumah kosong itu lagi?" ujar Pingkan.
"Kak Pingkan lebih baik pergi dari sini, hubungan aku sama Alen itu bukan urusan Kakak," balas Raina.
Pingkan terkejut sesaat setelah mendengar perkataan Raina yang begitu kurangajar mencelus dari mulutnya. Rasanya Pingkan ingin mencekik Raina saat ini juga.
"Lo?" Pingkan menekankan kalimatnya, matanya menajam bebarengan dengan cengkraman dirahang Raina yang semakin menguat.
Raina dengan berani menepis tangan Pingkan dengan sekali hentakan. Gadis itu langsung berdiri tepat dihadapan Pingkan.
"Kenapa?" Raina bertanya dengan nada menantang.
"Wih, berani ngelawan dia Ping," ucap Retha.
"Jadi adek kelas nggak usah belagu lo!" ucap Lisa.
"Kalian juga, jadi kakak kelas nggak usah belagu," balas Raina dengan lugas.
Membuat ke empat kakak kelasnya itu mendelik marah.
Pingkan mendorong bahu Raina kebelakang, cewek itu sudah naik pitam. Berani-beraninya cewek macam Raina melawannya.
"Woy!" teriak lantang seorang cowok.
Cowok itu langsung berlari menghampiri ke-empat cewek yang sedang mengkroyok Raina.
"Kenzo. Ngapain lo kesini? Lo juga suka sama cewek kaya dia?" tanya Pingkan pada Kenzo sambil menunjuk Raina dengan dagunya.
"Lo semua tuh beraninya pada keroyokan ya? Lo berempat, sedangkan Raina sendirian. Masih jaman main kaya ginian?" ujar Kenzo membela Raina.
Pingkan menggeram, "Lo gak usah ikut campur urusan gue!"
"Gak bisa. Raina itu temen gue." balas Kenzo. "Mendingan sekarang lo-lo semua nih, kakak kelas biang onar, geng-geng kimcil mending pergi aja. Belajar sono yang rajin, bentar lagi kan kalian mau Ujian Nasional tuh, biar nilainya gak jelek ntar," tambah Kenzo.
"Mulut dijaga ya!" emosi Pingkan.
"Mulut dijaga ya!" Kenzo mengulangi perkataan Pingkan dan mengikuti nada bicara cewek itu, seperti mengejek. "Udah sana lo semua pergi!" usir Kenzo.
"Gak usah sok baik lo Ken sama dia!" ucap Pingkan.
"Gue emang baik Ping," Kenzo membalasnya sambil terkekeh.
Tangan Pingkan mengepal kuat disamping tubuh, cewek itu menggeram kesal, lalu dirinya berbalik badan dan memerintahkan teman-teman se-gengnya itu untuk pergi.
Kenzo tertawa penuh kemenangan, cowok itu juga kenal dengan Pingkan begitu pun sebaliknya, siapa anak-anak cowok disekolah ini yang nggak kenal Pingkan? Semuanya kenal dan tau betul sifat Pingkan itu seperti apa.
"Makasih ya Ken," ucap Raina membuat Kenzo langsung menoleh kearah Raina.
"Oke Ra, sama-sama." balas Kenzo. "Kalo boleh tau, emangnya lo punya masalah apa sama Pingkan?"
Raina terdiam sebentar, "Iri mungkin sama aku karena aku pacarnya Alen," balas Raina.
Kenzo tertawa renyah disebelahnya, "Sampe segitunya ya, heran gue," ucap Kenzo, Raina hanya membalasnya dengan deheman.
"Pacar lo mana?" tanya Kenzo.
"Di UKS sama adek sepupu kamu," balas Raina, yang membuat Kenzo langsung terkejut.
"Adek sepupu gue? Maksud lo si Freya?" Kenzo bertanya meyakinkan.
"Iya, Freya tadi tiba-tiba sesek napas, terus jadinya Alen bawa dia ke UKS," balas Raina.
Kenzo terdiam sesaat, ternyata Alen benar-benar melakukannya. Di dalam hati Kenzo banyak membatin, lalu cowok itu langsung tersenyum setelahnya, entah senyuman macam apa yang ia tunjukkan.
"Kamu kenapa?" tegur Raina.
"Ehh gak papa Ra," Kenzo langsung tersadar.
"Udah makan Ra? Ke kantin yuk bareng gue," ajak Kenzo yang membuat Raina langsung berpikir cepat.
"Kenapa? Takut pacar lo marah? Udah tenang aja, orang cuma makan bareng doang di kantin," lanjut Kenzo saat mengetahui ekspresi Raina yang bingung.
"Ehm oke." balas Raina.
Setelah menerima ajakan Kenzo, mereka berdua pun langsung bergegas menuju ke kantin, Kenzo menyuruh Raina duduk disalah satu kursi dan meja yang kosong.
"Lo mau makan apa?" tanya Kenzo pada Raina.
"Eum, salad buah aja deh Ken," ucap Raina.
"Kalo minumnya mau apa?" tanya Kenzo lagi.
"Air putih aja, by the way, kamu gapapa mesenin makanan sama minuman aku?" tanya Raina, karena ia merasa tak enak hati pada Kenzo.
"Gak apa-apa lah, cuma gini doang Ra, gak usah ngerasa gak enak sama gue," balas Kenzo sambil tersenyum lalu langsung berjalan menuju stand makanan dan minuman guna memesan.
Sambil menunggu Kenzo memesankan makanannya, Raina akhirnya memilih untuk berkutat pada pikirannya, gadis itu termenung sambil mengingat kejadian tadi. Ia menatap kedua telapak tangannya yang memerah, gadis itu menghela napasnya pelan.
"Kenapa Alen jadi segitunya banget ya sama Freya, kemarin ada chat dari Freya, isinya kayak gitu lagi, nyebelin banget. Hari ini dia nolongin Freya, ya tau sih kalo emang Freya yang lebih membutuhkan bantuan, tapi...aku kan pacarnya dia, paling enggak tanyain keadaanku dulu kek, lah ini dia gak peduli sama sekali," gumam Raina kesal.
Setelah itu tak lama Kenzo pun datang sambil membawakan nampan berisi makanan serta minuman mereka.
"Nih Ra, dimakan ya," ucap Kenzo saat ia duduk dihadapan Raina.
Raina pun mengeluarkan uang dan ia sodorkan kepada Kenzo, namun Kenzo menolaknya. "Buat apa? Gak usah, ini semua gue yang traktir," ucap Kenzo.
"Enggak ah, nih ambil aja uangnya," ucap Raina yang masih menyodorkan uangnya kepada Kenzo.
"Hey, cantik. Nggak usah ya?" ujar Kenzo lagi sambil menatap wajah Raina.
Raina terdiam selama beberapa detik lalu akhirnya gadis itu mengalah, "Yaudah, makasih ya Ken," ucap Raina pada Kenzo.
"Sama-sama cantik," sahut Kenzo.
"Siapa yang cantik?" suara berat itu tiba-tiba saja muncul, tanpa menoleh pun Raina dan Kenzo sudah tau siapa pemilik suara itu.
Kenzo dan Raina sama-sama mendongak ke atas, tepat ke arah Alen berdiri, cowok itu memasang wajah datar, dan menatap Kenzo dengan tatapan tidak suka.
"Yang cantik? Ya Raina lah, masa gue," kekeh Kenzo, membalas ucapan Alen barusan.
"Gak ada yang lucu, gak usah cengengesan," sahut Alen ketus.
"Lo ngapain makan berduaan di sini sama cewek gue?" tanya Alen nyalang pada Kenzo.
"Santai bro, gue cuma makan bareng doang kok, kasian cewek lo laper tuh, lo ninggalin dia tadi soalnya, jadi gue ajak ke sini deh," balas Kenzo.
Alen tersenyum miring sekilas, "Mau modus? Atau mau pdkt sama cewek gue? Lo nyari kesempatan dalam kesempitan ya," ujar Alen.
"Alen apaan sih," sergah Raina.
"Kenapa kamu marah-marah kayak gini? Aku seharusnya yang marah sama kamu," ucap Raina pada Alen.
Alen langsung menoleh dan menatap Raina, "Kenapa? Gara-gara aku nolongin Freya? Dia kan jatuh tadi, dia juga butuh inhaler," sahut Alen.
"Aku tadi juga jatuh, karena dia duluan yang nabrak aku, apa kamu peduli? Enggak kan? Kamu malah lebih mentingin Freya," ujar Raina.
"Maaf Ra, badan kamu ada yang luka?" ucapan Alen seketika melembut, cowok itu mengecek tubuh Raina dan ia mendapati telapak tangan Raina yang memerah.
"Sakit?" tanya Alen.
"Nanya lagi lo, ya sakit lah b**o," sahut Kenzo.
"Gue gak ngomong sama lo ya, mending lo pergi sana urusin adek sepupu lo itu," ucap Alen pada Kenzo dengan dongkol.
Setelah itu Alen pun menarik tangan Raina untuk ikut dengannya menuju UKS lain guna membersihkan dan mengobati luka Raina.
✨✨✨