Baca baik-baik ya semuaaa! Happy Reading!
Bagaimana rasanya kalau seseorang yang benar-benar kamu cintai, benar-benar kamu sayangi, ternyata lebih memilih mencintai orang lain secara diam-diam? -Raina.
✨✨✨
"SELAMAT HUT SMA GALAKSI YANG KE-36 TAHUN"
"WELCOME TO THE GALAKSIFEST 2020"
"SMAGAL'S PARTY!"
"TAKE A STAND, LAND A HAND"
Begitulah tulisan-tulisan besar yang dipasang diatas panggung yang menjadi backgroundnya. Bukan hanya dipanggung saja, tulisan-tulisan besar yang isinya mengucapkan selamat hari ulang tahun SMA Galaksi itu juga dipasang didepan pintu gerbang sekolah dan didinding pembatas yang berada dikoridor atas, jadi semua tulisan yang ada di banner itu akan terlihat jelas dan terpampang nyata dimata semua orang yang ada disini.
Voucher dan tiket masuk sudah ludes dan soldout dibeli oleh para anak-anak sekolah lain, karena nantinya dimalam puncak perayaan akan ada banyak bintang tamu yang hadir, seperti Sheila On 7, Tipe-X, RAN, Petrus Mahendra, dan Feby Putri.
Raina ternyata sudah salah pikir kemarin, ternyata ini memang benar-benar konser. Pantas saja jika panggung yang dipasang sangat besar dan megah, ternyata banyak bintang tamu yang datang untuk memeriahkan acara ini.
Hari ini sangat cerah dan terik, jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Semua murid sudah berkumpul ditengah-tengah lapangan yang sangat luas ini, mereka dikumpulkan disini untuk mengikuti kegiatan pembukaan acara.
Sang pembawa acara atau yang sering disebut MC itu mulai menyerukan suaranya, membuka acara dan mengajak semuanya untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya, setelah itu acaranya dilanjut dengan sambutan kepala sekolah, sambutan ketua OSIS si Zidan, berdoa bersama dan yang terakhir adalah pelepasan balon.
Setelah acara dibuka, lagu-lagu pop dan ber-energik langsung menyeruak menggema diseluruh sudut sekolah. Acara hari ini adalah bazar dan lomba-lomba, bazar itu akan ada setiap harinya sampai acara ini selesai. Semua warga SMA Galaksi sudah siap dengan baju seragamnya masing-masing, mereka semua akan berlomba antar kelas yang sudah diberikan bagian lombanya masing-masing tiap anak. Jadinya nanti ada yang berlomba mewakili kelas, dan juga ada yang menjaga stand.
Berbagai lomba banyak yang diselenggarakan disini, mulai dari cerdas cermat, pantun berbalas, basket, volly, sepak dangdut, balap karung pakai helm, dan masih banyak lainnya.
Raina terpilih untuk mengikuti lomba cerdas cermat bersama Alen, hal itu membuat Raina malas untuk ikut. Padahal masih ada partner cewek yang bisa menemani Raina untuk mewakili kelas.
"Raaaa! Semangat yaaa LCC nya, gue jamin lo bakalan menang mah," ujar Via dengan menggebu-gebu.
"Hmmm,"
"Kok lo kayak males gitu sih? Kenapaaa? Ini kan acara ultah sekolah, harusnya lo semangat dong!" tambah Via.
"Iya Pia, ini aku semangat, noh semangat!" Raina mengangkat kepalan tangannya sambil nyengir sekilas.
"Nah gitu dong, HAHAHA!"
"Yauda ya Rain, gue mau kesana dulu, kan gue ikut lomba nangkep belut sama gigit stik," ucap Via.
"Aku juga pengen tau ikut lomba yang kaya gitu, padahal seumur hidup belum pernah," Raina menghela napas.
"SERIUS? BELUM PERNAH?!"
"Lo tinggal dimana sih Ra?"
"Kan di California nggak ada kaya gituan," balas Raina kesal.
"Oh iyaya, maap gue lupa," Via cengengesan.
"Yaudah sana," ucap Raina.
"Eh iya, kostum buat besok udah siap kan Ra?" tanya Via saat tiba-tiba ia ingat tentang drama yang akan ditampilkan besok.
"Udah, Tasya yang cari sewaan, nanti kita tinggal bayar ke dia aja," balas Raina.
"Ohhhh oke deh! Kalo gitu d**a Raaa!" Via melambaikan tangannya pada Raina lalu langsung pergi menuju ke lapangan.
"Daaa! Yang semangat ya nangkep belutnyaa!" teriak Raina yang mendapatkan dua jempol dari Via.
Sementara itu, kini Raina sedang membaca buku, buku yang sekiranya bisa membantunya untuk menjawab soal kuis nanti. Cewek itu harusnya sekarang sedang bersama Alen, tapi cowok itu sedari tadi pagi belum terlihat disekolah. Raina ingin mengiriminya sebuah pesan atau menelponnya, tetapi Raina enggan, karena ia masih kesal pasal hal kemarin.
Akhirnya Raina memilih beranjak dari sana, gadis itu ingin ke toilet terlebih dahulu untuk membuang air kecil. Suasana sekolahnya hari ini benar-benar ramai, suara musik menggema dari sound, diatas panggung sana ada yang bernyanyi dengan suka rela. Dibagian lapangan ramai karena banyak yang berlomba, didalam aula juga ramai anak-anak yang ikut lomba puisi, pantun berbalas, dan juga LCC. Tetapi waktu penyelenggaraannya tidak bebarengan.
Saat Raina melewati koridor kelas sepuluh, Raina tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Freya bersama salah satu temannya. Raina berhenti berjalan dan memfokuskan pendengarannya saat dirinya tak sengaja mendengar nama Alen disebut.
"Ih lo kok bisa gitu sih sama Kak Alen? Gila Freya!" pekik Gea, teman sekelas Freya.
"Iya! Gue seneng banget tau! Sekarang Kak Alen gak cuek lagi sama gue! Mimpi apa gue ya Tuhan bisa deket sama Kak Alen,"
"Padahal dulu gue mau deketin dia aja nggak berani, eh sekarang malah jadi deket banget!" seru Freya.
"Terus kemarin Kak Alen nganterin gue pulang!!! Percaya gak lo?" Freya berucap dengan sangat antusias, membuat Gea terkejut sekaligus takjub pada temannya yang satu ini.
Perkataan Freya barusan mampu membuat Raina terdiam seribu bahasa, pikirannya kalut, gadis itu mendadak merasakan sesak didadanya.
"Serius lo? Lo apain dia sampe dia mau nganterin lo Frey?!" Gea menyeru.
"Enggak gue apa-apain. Cuman gue kan lagi sakit kemarin, asma gue kambuh, terus dia nolongin gue, dia bawa gue ke UKS," ujar Freya masih dengan raut wajah yang senang. "Terus jadinya gue dianterin pulang deh sama dia," lanjutnya.
"Ihhh jadi pengen digituinnn, kapan lagi coba bisa dianterin pulang sama Kak Alen? Diajak ngomong aja gue udah bersyukur banget," balas Gea.
Freya terkekeh, "Mungkin nggak ya kalo Kak Alen itu bisa suka sama gue?" tanyanya tiba-tiba.
"Nggak tau lah. Lagian Kak Alen kan udah punya pacar, Kak Raina, cantik tau, cocok sama Kak Alen," ujar Gea.
Saat mendengar nama Raina disebut, entah kenapa raut wajah Freya seketika berubah menjadi biasa saja, tidak sesenang tadi.
Raina yang sejak tadi sudah berdiri disini langsung melanjutkan langkahnya untuk menuju toilet, tak seharusnya ia menguping pembicaraan Freya tadi. Dengan langkah cepat akhirnya Raina pun sampai ditoilet, gadis itu tidak masuk kedalam bilik, ia malah berdiri didepan cermin sambil menumpu kedua tangannya diwastafel.
Matanya memerah menahan buliran bening yang akan menetes, Raina benar-benar merasa dimainkan jika seperti ini. Alen seolah mempermainkannya seperti boneka, jadi kenapa sekarang rasanya malah Freya yang menjadi prioritas Alen? Kemarin ngucapin hati-hati, terus diem-diem mereka chatan sama telfonan, terus kemarin Freya menabrak Raina malah Freya duluan yang ditolongin, dan bahkan Freya ternyata diantar pulang oleh Alen? Pantas saja kemarin siang Alen sudah tidak ada disekolah saat dicari untuk latihan drama, ternyata cowok itu sudah pulang duluan bersama Freya. Dan, Raina tidak tau akan hal itu.
"Apa Alen ada hubungan sama Freya?" Raina bertanya pada dirinya sendiri, rasanya mengucapkan itu saja sangat berat.
Raina melirik kearah gelang berbandul bulan yang diberikan oleh Alen waktu itu. Raina memegangnya dengan hati yang sesak, tanpa Raina sadari buliran bening itu sudah mengalir dikedua pipinya. Raina jadi mendadak pusing, ia menatap pantulan dirinya dicermin besar itu, tubuhnya berbayang menjadi banyak karena pusing dikepalanya.
Raina mencengkram kepalanya dengan kedua tangan, hingga rambutnya itu kini menjadi berantakan, pusingnya itu semakin menjadi-jadi. Cairan kental berwarna merah keluar dari kedua lubang hidung Raina, darah itu turun sampai menetes diseragam putih Raina.
Raina yang menyadari itu langsung cepat-cepat membuka keran air dan membasuh hidungnya. Air dan darah itu menyatu menjadi satu digenangan air wastafel, membuat Raina takut sendiri melihatnya.
"Raina?" suara berat itu muncul bertepatan sesaat setelah pintu utama toilet dibuka.
Dengan cepat-cepat Raina langsung mengelap hidungnya yang basah, ia berharap agar mimisannya cepat berhenti.
"Kamu dari tadi aku cariin, Ra, bentar lagi lombanya mulai," ucap Alen.
Nggak salah denger? Dari tadi aku juga nyariin kamu.
Alen menoleh kearah genangan air diwastafel yang baru saja menyurut ke bawah, airnya berwarna kemerahan. Ia lalu menatap Raina yang sedang membenahi rambutnya.
Mata Alen nampak melebar saat melihat ada sedikit noda merah diseragam putih Raina.
"Itu seragam kamu kena apa Ra? Kok merah?" tanya Alen sambil berjalan hendak mendekati Raina.
"Kena saos, tadi habis makan dikantin," Raina berbohong.
"Yahh makan dikantin? Kok nggak ngajak-ngajak sih?" ujar Alen.
"Ngapain juga ngajak kamu," balas Raina, kini pusingnya sudah mereda, tidak seperti tadi.
"Kamu dari tadi ditoilet? Aku nyariin keliling sekolah," ucap Alen.
"Udah ayo keluar, ngapain kamu masuk ke toilet cewek," ucap Raina yang langsung pergi duluan keluar dari sana, rasa ingin membuang air kecilnya tiba-tiba hilang gara-gara hal tadi.
Alen pun mengikuti Raina dari belakang, cowok itu menghela napasnya berat, dari kemarin Raina selalu bersikap cuek padanya.
"Ra, kamu lagi marah sama aku?" tanya Alen, masih berjalan dibelakang Raina.
"...."
"Kalo marah bilang Ra, kenapa?"
"...."
"Besok drama loh, masa kamu mau marahan kaya gini sama aku?"
"...."
"Udah hafal sama semua dialognya kan? Nanti ada latihan lagi nggak Ra? Buat terakhir kali sebelum tampil?"
"Kemarin udah latihan terakhir, tapi kamu nggak ada. Berdoa aja semoga besok bagus dramanya," sindir Raina masih terus berjalan.
"Maaf ya Ra, kemarin aku pulang duluan," balas Alen.
"Kenapa?" tanya Raina.
"Ada urusan mendadak, Ra," sahut Alen.
Bahkan Alen nggak mau jujur.
Raina hanya berdehem singkat menanggapinya.
"Panggilan kepada peserta lomba cerdas cermat dari kelas XI IPA 5, XI IPA 1, XI IPS 4 dan XI IPS 6. Harap segera merapat diruang aula!" siar seorang panitia lomba.
"Tuh kelas kita udah dipanggil Ra, buruan kesana ayo," ajak Alen sambil meraih sebelah tangan Raina.
Alen menariknya untuk menuju aula, Raina memandang tangan kirinya yang sedang digenggam oleh Alen, lalu pandangannya langsung naik memandang wajah Alen dari samping.
Salah nggak sih kalau aku cemburu sama sakit hati ngeliat kamu kaya gitu Len?
✨✨✨
Raina dan Alen sudah keluar dari aula, mereka berdua berhasil lolos sampai ke babak final yang nanti akan dilanjutkan sekitar jam satu siang sehabis sholat duhur.
Jadinya sekarang mereka berdua berjalan kearah lapangan, hendak menonton perlombaan yang lain. Jika hari ini acaranya adalah lomba-lomba, maka besok adalah pentas seni budaya, pertunjukan dari siswa-siswi SMA Galaksi, dan esoknya mulai dari pagi sampai malam adalah puncak acara yang akan didatangi oleh bintang tamu atau guest star.
"Mau minum nggak Ra? Aku beliin ya di stand sebelah sana," ucap Alen.
Tetapi Raina menggeleng pelan.
"Hmm atau mau makan? Mau es krim? Atau tahu bulat? Kentang goreng? Burger? Float? Jus? Teh sisri? Atau Vodka deh," celetuk Alen yang langsung membuat Raina menoleh sambil mendelik.
"Nggak. Aku nggak pengen apa-apa." balas Raina.
"Kamu kenapa sih Raaa?" Alen menguyel kedua pipi Raina, membuat Raina kesal dan jengkel.
"Ihh Alen! Lepasin!" Raina menepis kedua tangan Alen.
"Jangan kaya gini dong Ra," kata Alen.
"Yaudah kaya gitu," sahut Raina asal.
Alen kini sedang berpikir cepat, lalu diotaknya langsung terlintas suatu hal yang mungkin bisa membuat pacarnya ini tak kesal lagi.
"Bentar Ra, tunggu disini dulu," ucap Alen, lantas cowok itu langsung pergi dari hadapan Raina, Alen berlari kearah keramaian bazar, entah apa yang akan dilakukan oleh cowok itu.
Tetapi sambil menunggu Alen, Raina memilih untuk duduk saja dikursi yang ada didekatnya. Banyak murid yang berlalu-lalang didepannya, terlihat sangat sibuk dan antusias dengan kegiatan yang dilakukannya.
Tak lama akhirnya Alen datang, sambil membawa gantungan panda yang lucu, Alen lalu duduk disebelah Raina.
"Tadaaa, ini buat kamu," Alen memberikannya pada Raina.
Raina melihatnya, ia menahan untuk tidak tersenyum.
"Kenapa nggak diambil? Nggak suka ya?" tanya Alen, membuat Raina langsung mengambilnya tanpa ekspresi.
"Makasi," ucap Raina.
"Iya," balas Alen. Kini cowok itu mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya, ada jepit berwarna kuning cerah yang terlihat cantik. Alen tiba-tiba memasangkannya dihelaian rambut Raina sebelah kiri, menjepitkannya disana.
Raina langsung memegang jepitnya, lalu menatap Alen dengan tersenyum kecil, bahkan hampir tak terlihat.
Jepit itu terlihat sangat cocok dipakai oleh Raina, karena warnanya kuning dan itu sangat kontras dikulit Raina yang putih.
"Makasi lagi," kata Raina.
"Sama-sama cantik," balas Alen.
"Udah berapa orang yang kamu puji cantik?" tanya Raina tiba-tiba.
Alen tampak langsung memandang Raina dengan kening yang mengerut, "Kenapa tanya gitu?"
"Nggak papa, pengen nanya aja. Tapi lupain aja, lagian enggak penting," ucap Raina.
✨✨✨
Alen kini sedang termenung dibalkon kamarnya, ia mengingat kata-kata Freya pada beberapa minggu yang lalu.
Saat itu Alen masih berada disekolah karena masih ada jadwal ekstra karate, tanpa sepengetahuannya ternyata Freya tengah menontonnya dari bawah pohon, cewek itu membawa botol minuman dingin ditangannya. Ia sangat suka jika melihat Alen sedang latihan seperti ini, makin terlihat ganteng katanya.
Setelah latihannya selesai, Alen langsung beranjak pergi untuk mengambil tas didalam kelas, saat diperjalanan tiba-tiba saja Freya menghadangnya.
"Kak Aleennn! Capek yaa? Pasti capek kan? Ini aku bawain minumm," ucap Freya dihadapan Alen.
Alen hanya menatap cewek itu tanpa mintat, peluh yang membasahi tubuhnya serta panas dan gerah semakin menjadi ketika melihat Freya lagi-lagi bersikap caper didepannya.
Alen tak membalasnya, cowok itu langsung berjalan menerobos Freya, membuat Freya mengejarnya dengan susah payah.
"Kak? Kok gak diterima?"
"Kak?"
"Plis Kak, terima dong minumannya, aku bakalan seneng banget kalo Kak Alen nerima ini,"
"Kak? Bisa berhenti sebentar nggak?"
"Kak Alen? Aku nggak kuat kalo ngejar Kak Alen yang jalannya cepet kaya gini,"
"Plis Kak," mohon Freya yang sudah mulai lelah mengejar Alen.
"Gue gak nyuruh lo ngejar gue," balas Alen masih tetap berjalan tanpa peduli pada Freya yang ada dibelakangnya.
"Tapi aku cuma mau Kak Alen nerima minuman ini aja kok," ucap Freya, napasnya mulai tak beraturan.
"Gue gak mau," sahut Alen.
"Tapi kenapa?"
"Kak Alen risih ya?"
"Aku cuma mau niat baik aja,"
"Kak!"
Bruk!
Alen mendengar suara seperti orang jatuh, lalu cowok itu langsung menoleh ke belakang, ia terkejut saat melihat Freya yang pingsan, cewek itu sudah tergeletak diatas keramik koridor yang dingin.
Alen langsung berlari menghampirinya, cowok itu berjongkok dihadapan Freya, menghela rambutnya yang menutup wajah. Tidak mungkin kan jika Alen meninggalkan cewek itu disini sendirian, apalagi sekolah ini sudah sepi. Alen tidak setega itu.
Akhirnya Alen mau tidak mau langsung mengangkat tubuh Freya untuk ia gendong, tetapi baru saja Alen berdiri tiba-tiba saja ada suara derap langkah kaki yang menghampirinya.
"Freya lo apain hah!?" Kenzo berseru marah.
"Gak gue apa-apain," sahut Alen.
"Kok bisa sampe pingsan!"
"Salah dia sendiri, ngapain ngejar-ngejar gue," balas Alen jengah.
"Tanggung jawab lo! Bawa dia ke rumah sakit! Dia itu punya asma! Kalo dia kenapa-napa, awas aja lo!" ancam Kenzo.
Tanpa membalas perkataan Kenzo, Alen langsung membawa Freya menuju mobilnya, kebetulan hari ini Alen membawa mobil. Lalu cowok itu langsung mengemudikan mobilnya dan disusul oleh Kenzo dibelakangnya yang naik motor.
Di Rumah Sakit.
Freya sedang diperiksa oleh seorang dokter, untungnya dokter itu bilang jika Freya tidak kenapa-napa, gadis itu hanya kelelahan dan paru-parunya sesak akibat berlari mengejar Alen tadi.
Kini Freya sudah sadar, dirinya kini tengah diterapi oksigen. Alen dan Kenzo menemaninya diruangan putih ini.
"Freya pernah cerita ke gue, katanya dia suka sama lo dari awal MOS," ucap Kenzo.
Alen menoleh, "Trus kenapa,"
"Ya heran aja gue sama dia, bisa-bisanya suka sama cowok kaya lo. Padahal masih banyak cowok lain," kata Kenzo, terdengar malas.
"Maksudnya lo iri gitu?" Alen bertanya.
"Anjing, ngapain gue iri sama lo, najis," balas Kenzo.
"Terus maksud lo apa njing?" Alen bertanya dengan sedikit emosi.
"Nanti kalau dia minta sesuatu sama lo, terima aja, kabulin aja. Demi dia gue jadinya harus minta tolong sama lo, aslinya gue ogah banget," ucap Kenzo.
"Gak, ngapain juga gue nurutin lo," balas Alen.
"Woy, ini demi kesehatan Freya, dia itu asma. Dia selalu gak pernah mau minum obat sama terapi oksigen kalo lagi kepikiran sama lo. Dia itu suka sama lo," ucap Kenzo.
"Lah emang gue pikirin?" sahut Alen.
"Gue tau lo gak suka sama dia, lo juga udah pacaran sama Raina. Tapi dia cuma butuh semangat dari lo, dia pernah bilang ke gue kalo itu mungkin cuma mimpi. Gue kasian ngeliat dia murung terus, ya gue emang bukan orang baik, gue b******k, tapi kalo gue liat dia kaya gitu gue gak tega, apalagi dia cewek," jelas Kenzo.
Alen hanya diam, tidak membalas perkataan Kenzo, sampai akhirnya Freya keluar dari bilik, gadis itu membuka gorden rumah sakit. Lalu matanya berbinar saat melihat ada Alen disini.
Freya kembali duduk dibrankarnya, melihat Alen yang sedang berdiri disebelahnya.
"Kak Alen tadi yang nganterin aku kesini?" tanya Freya dengan excited.
"Hm."
"Serius?! Makasih ya Kakkk! Aku gak percaya banget!"
"Berarti t-tadi Kak Alen g-gendong aku?"
"Hm,"
Mata Freya langsung berbinar, ia tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.
"Kak," panggil Freya.
"Apa," sahut Alen.
"Aku boleh minta sesuatu ga?" tanya Freya.
"Apa?"
"Kak Alen mau nggak jagain aku, nyemangatin aku, dan nemenin aku terapi?" tanya Freya dengan hati-hati. "Aku nggak akan berharap lebih, tapi kalau misalnya Kak Alen mau aku bakalan seneng banget," lanjutnya.
"Sampe kapan?" tanya Alen.
"Sampe kita kenaikan kelas, sampe aku naik ke kelas sebelas, dan Kak Alen naik ke kelas dua belas, setelah itu aku janji nggak akan gangguin Kak Alen lagi, aku bakalan ngagumin Kak Alen diem-diem aja kaya dulu," balas Freya sambil tersenyum berharap Alen akan mau.
Alen nampak berfikir, tak ada salahnya jika ia berbuat baik, toh ia harus seperti itu pada Freya tidak selamanya.
"Oke," balas Alen singkat. Hal itu membuat Freya langsung memeluk Alen dari samping tanpa sadar karena sangking senangnya.
Alen dibuat cukup terkejut, tapi ia membiarkannya tanpa membalas pelukan itu.
Saat Freya sedang nyaman memeluk Alen, tiba-tiba saja Freya teringat akan sesuatu, mengingat perkataan seseorang padanya beberapa hari lalu, perkataan itu terus terngiang dikepalanya, apakah Freya harus mekakukan hal itu juga kepada Alen? Freya tau, dirinya memang benar-benar suka pada Alen, dan sepertinya perasaan itu lebih dari kata suka.
Freya menguraikan pelukannya, cewe itu baru saja tersadar, "Ehm maaf Kak," ucap Freya.
"Kak.."
"Hm?"
"Aku boleh minta satu lagi nggak?" tanya Freya dengan hati-hati.
"Apa?"
"Perlakuin aku kaya Kak Alen merperlakuin Kak Raina, walaupun tanpa ada rasa suka." ucap Freya.
Alen langsung tersadar dari lamunannya itu, ia menyandarkan tubuhnya pada kursi santai yang ada dibalkon itu. Pikirannya saat ini gusar, ia harus melakukan hal itu. Perhatian kepada cewek lain selain Raina. Sekalian Alen ingin menebus rasa bersalahnya karena selalu bertindak kurang baik pada Freya.
Sampai hari kenaikan kelas Alen akan bebas dari perjanjiannya.