Happy Reading! Ini chapternya mereka drama ya gaisss
✨✨✨
Hari mulai menjelang malam, lampu-lampu yang ada dipanggung mulai menyorot kemana-mana, para penonton yang datang juga semakin banyak dan memadat.
Raina dan keenam cewek lainnya kini sedang menunggu giliran tampil dibelakang panggung. Mereka memakai dress seperti putri-putri kerajaan, mereka juga merias wajah mereka dengan make-up natural.
"Cowok-cowok pada kemana sih? Kok nggak keliatan?" Via bertanya sambil celingak-celinguk.
"Enggak tau, lagi boker kali," celetuk Mita asal.
Fyi, kelompok mereka kini dirombak oleh Bu Irma, jadinya ada pemeran tambahan yang diambil dari anak perempuan, karena didalam drama ini membutuhkan lebih banyak perempuan.
"WOEEEEE!!! HELOW EPERIBADEHHH!!!" suara teriakan rusuh itu berasal dari Devan, dibelakang cowok itu ada Alen dan Jagas yang menyusul. Mereka sudah memakai pakaian ala-ala pangeran kerajaan.
"IHHHH! LO APAAN SIH? RIBUT! DARIMANA AJA WOEEE?!" teriak Via cempreng didepan wajah Devan, membuat cowok itu memundurkan wajahnya.
"DARI NGISI BENSIN WOEEE! NI PERUT DAH LAPER DARI TADI WOEEE!" sahut Devan ikut berteriak mengikuti Via.
"EMANG DASAR PERUT GEMBEL LO WOEEE!" sahut Via.
"BIARIN AJA LAH WOEE! PERUT-PERUT GUE KAN WOEEE?!" sahut Devan.
"YAUDAH WOEE! GAK USAH TERIAK-TERIAK DIDEPAN WAJAH GUE WOEEE! KUPING GUE b***k WOEE!" teriak Via semakin kencang, tetapi tidak terlalu terdengar keras, karena masih kerasan suara sound yang bunyinya sampe jedang-jedung.
"YAU---"
Alen langsung menyumpal mulut Devan menggunakan kertas kosong yang sedari tadi ia pegang, sebelum teman gilanya yang satu ini melanjutkan teriakannya.
"Bacot lo," ucap Alen.
"Yeee si k*****t!" Devan langsung mengambil kertas itu dari mulutnya, dan membuangnya dengan kesal.
Kini Alen sedang menatap Raina, gadis itu benar-benar cantik malam ini, apalagi wajah Raina sedang dipoles make-up tipis, membuat kadar kecantikannya bertambah, hal itu membuat Alen terpana sesaat.
"EEHHH SI NENG RAINAA? GEULIS PISAN EYYYY!" heboh Devan saat dirinya baru menyadari keberadaan Raina didepannya.
"Pacar gue ini," Alen merangkul pundak Raina, bermaksud menyombongkan dirinya pada Devan.
"Sa ae lu!" sahut Jagas. "Nanti jangan salah sebut nama ye Len! Ati-ati aja lo salah nyebut nama Juliet dengan sebutan Raina," Jagas terkekeh.
"Aamiin!" Alen berucap sambil disusul kekehan. "Soalnya yang gue inget-inget cuman namanya Raina doang, bukan Juliet," tambahnya, membuat Raina nampak malas mendengarnya.
Semua yang ada disini malah asik mencuit-cuit, bersiul-siul dan menggoda mereka. Sampai akhirnya terdengar suara tepuk tangan yang meriah dari arah panggung depan, sepertinya pensi anak kelas XI IPA 7 baru saja selesai. Hal itu membuat mereka was-was.
"Yaaaaa! Berikan tepuk tangan yang meriah untuk anak-anak SEBELAS IPA TUJUH!!! Penampilan dramanya sangat luar biasa sekali!!!"
"Selanjutnya, ini sepertinya akan ada penampilan yang sangat spektakuler dari kelas XI IPA 5, mana suaranya yang nungguin penampilan pensi dari kelas sebelas IPA LIMAAAA?!!!" suara MC itu terdengar heboh dan menggelegar.
"Nah kan, kelas kita abis ini woeeee!!!" Via berseru, mulai menetralisirkan rasa geroginya.
"Oke-oke, semuanya tenang, kalian harus yakin dan percaya kalo kita bisa! Semangatttt!" ucap Jagas memberi semangat dan dibalas anggukan antusias oleh mereka.
"Mari kita sambut, penampilan pensi dari kelas SEBELAS IPA LIMAAA!!!" panggil MC tersebut, Raina dan kelompoknya langsung berjalan naik keatas panggung.
Mata Raina mengerjap beberapa kali, saat dirinya melihat begitu banyaknya lautan manusia yang tengah menontonnya. Apalagi kini lampu sorot itu menyorot kearah Raina dan teman-temannya, hal itu membuat Raina agak nervous sedikit.
"Selamat malam semuanya, Kami dari kelas XI IPA 5, akan menampilkan sebuah drama yang berjudul Romeo dan Juliet, selamat menonton! Enjoyyy!" ucap Jagas, sang narator.
Suara riuh tepuk tangan dan sorakan-sorakan heboh langsung muncul, tak lama setelah itu, akhirnya mereka semua langsung bersiap ditempatnya masing-masing.
Drama pun dimulai...
"Pada zaman dahulu kala, di kota Verona, Italia. Hiduplah keluarga kaya yang bernama Capulet, dan Keluarga miskin yaitu Montague. Pada suatu malam, keluarga Capulet mengadakan pesta untuk ulang tahun Juliet. Dan rosaline sepupu juliet mengajak pacarnya, Romeo." Jagas yang berperan sebagai narator itu berujar.
Alen, Raina, Devan, dan Via sedang memperagakan tarian dansa. Raina sedang berdansa bersama Devan, sedangkan Alen berdansa bersama Via.
"Juliet, hari ini kau sudah berulang tahun yang ke-21, dan kita sudah bertunangan, jadi aku akan segera menikahimu," Devan berujar, dalam perannya menjadi Paris.
"Paris, perkenalan ini adalah keinginan keluargaku, dan aku tidak menginginkan ini," ucap Raina, sebagai Juliet.
"Rosaline, apakah dia yang bernama Juliet?" Alen yang berperan sebagai Romeo bertanya kepada Via yang menjadi Rosaline.
"Iya, dia dipaksa untuk menikah dengan Paris," balas Via sebagai Rosaline.
Jagas kembali berucap, "Ternyata, Romeo sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Juliet, ia ingin berkenalan secara langsung."
Alen pun berjalan menghampiri Raina, "Perkenalkan Juliet, saya Romeo," ucap Alen sambil mengangkat tangan kanannya.
Raina membalasnya, "Oh..senang berkenalan denganmu."
"Kau sangat cantik Juliet, kau membuatku terpana malam ini," ucap Alen sambil menatap lekat mata Raina.
"Terimakasih Romeo, kau juga sangat tampan," balas Raina sambil tersenyum. Walau aslinya Raina sedang kesal pada Alen, tetapi Raina harus profesional dalam dramanya.
Tiba-tiba saja, Caca yang berperan sebagai Ibu Juliet datang menghampiri mereka, "Siapa kau? Dari keluarga mana kau berasal?"
"Saya Romeo, dari keluarga Montague," balas Alen.
"Apa?! Keluarga Montague tak pantas menginjak istanaku ini. Pergilah! Dan jangan pernah bertemu dengan Juliet lagi!" ujar Caca pada Alen.
"Baiklah, aku akan pulang Nyonya," balas Alen yang langsung pergi dari sana.
Dirumah Romeo...
Tasya yang berperan sebagai Ibu Romeo datang menghampiri Alen, "Ada apa Romeo anakku? Kenapa kau begitu murung sepulang menghadiri pesta?" tanyanya.
Alen membalas, "Aku bingung Ibu, keluarga Capulet mengusirku."
"Sabar saja Romeo anakku," ujar Tasya.
"Mengapa keluarga Juliet tidak menerimaku, ibu? Apa salah keluarga ini?" tanya Alen.
"Keluarga Capulet memang tak pantas untukmu. Banyak gadis-gadis cantik di Verona ini. Mengapa harus Juliet?" tanya Tasya.
"Maaf ibu. Hatiku ini telah tertutup kepada wanita-wanita selain Juliet." balas Alen.
"Lalu bagaimana dengan Rosaline? Dia adalah kekasihmu," Tasya berujar.
"Tetapi aku tidak mencintainya, dia yang memaksaku untuk menjadi kekasihnya," balas Alen.
Jagas sang narator kembali berucap, "Akhirnya Romeo pun berkeluh kesah kepada sahabatnya yang bernama Andreana."
Alen kini berjalan menuju Aurel yang berperan menjadi Andreana, "Apa yang harus aku lakukan Andreana? Aku sangat mencintai Juliet," ucap Alen.
"Perjuangkan cintamu, jadikan dia kekasihmu," balas Aurel.
"Apakah aku bisa? Keluarga kami telah bermusuhan secara turun-temurun," ujar Alen.
"Romeo, kamu jangan menyerah, semangat, jangan putus asa." ucap Tasya.
"Dilain tempat, di istana keluarga Capulet...." narator kembali berujar.
Caca sebagai ibu Juliet berujar, "Apa kamu mengetahui siapa laki-laki yang berasal dari keluarga Montague, sepertinya dia menyukai Juliet. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" ucapnya pada Rosaline yang diperankan oleh Via.
"Romeo adalah kekasihku, bibi. Aku juga cemburu melihat Romeo bersama Juliet, aku mohon jangan biarkan mereka bersatu, aku sangat mencintai Romeo," ucap Via.
"Tenang saja Rosaline, ikutlah denganku!" Caca pun langsung menarik tangan Via untuk pergi.
"Ibu Juliet dan Rosaline pergi ke gubuk keluarga Montague...." ujar narator.
"Ada maksud apa kau datang kemari?! Tak puaskah kau membuatku miskin seperti ini?!" Tasya alias Ibu Romeo berujar marah pada Caca.
Caca membalas, "Hahaha! Jelas saja aku puas. Aku tidak akan membuatmu lebih menderita jika anakmu Romeo tidak mendekati anakku."
"Bukan salahku jika itu terjadi. Semua ada ditangan Romeo. Aku tidak bisa memaksakannya." balas Tasya, Ibu Romeo.
"Ibu, buatlah Romeo menjadi pasangan hidupku," Via alias Rosaline berujar melas pada Tasya.
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Romeo tidaklah mencintaimu, Rosaline..." balas Tasya.
"Keluargamu akan tinggal dijalanan jika Romeo tak menikahi Rosaline," ancam Caca sebagai Ibu Juliet, kepada Tasya sebagai Ibu Romeo.
"Tapi..." Tasya menggantungkan ucapannya.
"Ibu, apakah kau mau tinggal dijalanan?" tanya Via sebagai Rosaline.
Tasya alias Ibu Romeo menghela napas, "Baiklah, aku akan menikahi Rosaline dengan Romeo.."
Jagas sang narator kembali berujar, "Disaat yang sama, Juliet tengah jalan-jalan ditaman bersama Valliant Paris."
Devan pun berujar pada Raina, "Juliet. Aku sangat mencintaimu, aku tak ingin berpisah denganmu."
"Tapi...aku tidak mencintaimu, aku...aku sudah mencintai oranglain," Raina sebagai Juliet membalas perkataan Devan.
"Apa?! Beraninya kau! Siapa orang itu?!" Devan bertanya marah.
Jujur saja, disini Raina benar-benar menahan tawanya karena melihat ekspresi Devan yang seperti itu.
"Dia Romeo. Aku sangat mencintainya," balas Raina.
"Apa kau tau resikonya? Ibu akan marah padamu," ujar Devan alias Paris.
"Aku tidak peduli. Lagi pula kupikir kau mau menikah denganku hanya karna kekayaan keluargaku saja bukan?" kata Raina alias Juliet.
"Tidak. Aku benar benar mencintaimu juliet. Aku ingin kau menikah denganku dan menjadi milikku." balas Devan sambil menggenggam dua tangan Raina.
Dalam hati Devan berucap seperti ini, "Emmm asik eyy, kesempatan megang tangan Raina!"
"Kalau begitu buktikanlah padaku, aku ingin melihat kesungguhanmu," balas Raina.
"Baik, tunggulah disini." sahut Devan, cowok itu langsung pergi meninggalkan Raina.
"Setelah kepergian Paris, tiba-tiba saja Romeo datang menemui Juliet." ucap Jagas.
Alen pun datang menghampiri Raina,
"Hai Juliet, apakah kau masih ingat denganku?" Alen sebagai Romeo bertanya pada Raina.
"Tentu Romeo, kita bertemu dipestaku..." balas Raina.
"Apa yang sedang kau lakukan disini Juliet?" tanya Alen.
"Tidak ada. Lalu apa yang kau lakukan disini Romeo?" Raina balik bertanya.
"Ehm...aku ingin membicarakan sesuatu padamu," balas Alen.
"Apa itu Romeo?"
"Juliet. Sebenarnya aku mencintaimu ketika pertama kali kita bertemu di pesta itu! Pesona indah wajahmu mampu mengalihkan duniaku. Tak henti membayangkanmu terganggu oleh cantikmu..." ujar Alen alias Romeo.
"Masaaa? Freya tapi cantik juga kan?" batin Raina.
Dengan cepat Raina membalas, "Aku... aku sebenarnya juga mencintaimu, Romeo. tapi bagaimana dengan keluarga kita? Mereka pasti tidak akan setuju."
"Kita akan merahasiakannya, kita backstreet." ucap Alen sebagai Romeo.
"Baiklah." sahut Raina.
Jagas kembali berucap, "Kemudian, asisten Alexandria datang mencari Juliet."
Vivi yang berperan sebagai asisten Alexandria datang menghampiri Alen dan Raina. "Apa yang sedang kau lakukan disini, nona Juliet? Aku sudah mencarimu kemana-mana. Siapa dia?" Vivi menunjuk Alen dengan dagunya.
Alen membalas, "Aku adalah Romeo."
"Apa dia menyakitimu nona?" tanya Vivi.
"Tidak, dia adalah kekasihku," balas Raina.
Vivi alias Alexandria itu terkejut, "Apa? Bukankah nona..."
"Sssttt rahasiakan semua ini," pungkas Raina.
"Kemudian, Paris datang membawakan hadiah..." ujar narator Jagas.
Devan pun kembali menghampiri Raina. "Apa yang sedang kau lakukan disini?! Berani-beraninya kau menemui kekasihku!" Devan berucap marah, sambil memukul wajah Alen.
"Anjing Devan mukul gue beneran!" batin Alen, marah pada Devan.
"Sorry Len..kapan lagi kan gue bisa mukul lo hahaha!" balas Devan dalam hati, saat melihat ekspresi Alen.
"Stop! Cukup Paris! Jangan lakukan itu, dia tidak bersalah!" lerai Raina.
"Tapi dia lancang sudah mendekatimu, Juliet." balas Devan.
Vivi alias Alexandria berujar, "Tunggu tuan Valliant Paris, anda salah paham. Tadi nona Juliet hanya duduk. Dan Romeo kebetulan lewat dan mengobrol." belanya.
"Benar, Paris." ucap Raina.
"Dirumah Romeo...." ucap Jagas.
Kini Alen bersama Tasya, "Romeo, minggu depan pertunanganmu dengan Rosaline akan dilangsungkan." ucap Tasya, Ibu Romeo.
"Apa? Aku tidak mau, aku hanya mencintai Juliet, walaupun seluruh dunia melarangku, aku akan tetap mencintai Juliet!" balas Alen.
Jagas sang narator berucap lagi, "Di istana keluarga Capulet...."
Alen mendatangi Caca sang Ibu Juliet, "Nyonya, aku tidak ingin menikah dengan Rosaline. Berikanlah syarat apapun agar aku dapat menikah dengan Juliet." ucap Alen pada Caca.
"Apakah kamu sanggup menerima syarat apapun?" tanya Caca, Ibu Juliet.
"Sanggup." balas Alen lugas.
Alen pun pergi, dan Via alias Rosaline pun datang.
"Ibu, mengapa kau biarkan Romeo menikahi Juliet? Kalau seperti ini aku lebih baik mati!" Via berujar, lalu Via berpura-pura menusukkan pisau ke perutnya.
"Keesokan harinya, teman Romeo, Madam Xena, menyamar menjadi pelayan di Istana dan berbicara kepada Juliet." ucap narator, Jagas.
Mita yang berperan sebagai Madam Xena langsung menghampiri Raina.
"Hai Juliet, aku adalah sahabat Romeo. Aku ingin kau dan Romeo menjadi pasangan sejati," ucap Mita.
"Tapi malam nanti aku akan menikah dengan Paris," balas Raina.
"Iya aku tau. Aku sudah mempunyai rencana untuk itu. Aku akan memberikanmu sebotol ramuan. Ramuan ini dapat membuatmu tidur selama 4 hari. Dan mereka akan menganggapmu sedang koma." ucap Mita.
"Bagaimana caranya?" tanya Raina.
"Minumlah disaat yang tepat, jangan sampai mereka curiga," balas Mita.
"Lalu apa yang akan terjadi setelah itu?" tanya Raina lagi.
"Pernikahanmu dengan Paris akan dibatalkan, dan kau bisa hidup abadi bersama Romeo," balas Mita alias Madam Xena.
"Didalam kamar Juliet..." ucap Jagas.
Dalam scene ini, Raina akan bernyanyi lagu Love Story milik Taylor Swift.

(Itu dengerin lagunya ya, dan bayangin kalau Raina lagi nyanyi).
Setelah selesai bernyanyi Raina langsung berucap. "Demi kebahagiaan. Aku akan menunggumu. Aku ingin menjadi cinta abadimu. Jemputlah aku dan kita akan menikah." Raina langsung berpura-pura meminum botol ramuan. Dan sesaat setelah itu, Raina langsung tertidur.
Para asisten berdatangan kepada Juliet, akhirnya mereka memilih memanggilkan Dokter khusus kerajaan.
"Bagaimana ini?" Caca sang Ibu Juliet bertanya dengan panik.
Madam Xena yang menyamar menjadi dokter itu membalas, "Nona Juliet sudah meninggal, tidak ada lagi yang bisa dilakukan." ucap Mita pada Caca.
"Semua menangis, dan pernikahan Juliet dengan Paris akhirnya dibatalkan...." ujar Jagas.
"Tiga hari kemudian, akhirnya Romeo datang membawakan bunga dari jauh, syarat permintaan Ibu Juliet, kepada Juliet..." Jagas berujar lagi.
Alen datang menghampiri Raina yang tergeletak tak berdaya, Alen mengelus sayang rambut Raina.
"Juliet, bangunlah dari tidurmu, aku telah membawakan bunga cinta untukmu.." ujar Alen.
Vivi yang berperan menjadi Alexandria berujar, "Sudah empat hari ia begini, kata dokter ia sudah meninggal."
"Ini tidak mungkin, Juliet tidak mungkin meninggal. Dia tidak mungkin meninggalkanku, Juliet pasti kelelahan menungguku." ujar Alen masih tidak percaya.
"Tidak. Nona sudah meninggal, tidak ada lagi yang bisa kau lakukan," ucap Vivi.
"Wajahnya masih terlihat cantik, kaya bidadari," ucap Alen, menambahkan kalimat 'kaya bidadari' padahal diteksnya tidak ada.
Vivi menghela napas, "Kami sengaja merawat Juliet untukmu. Agar kau bisa melihat Juliet untuk terakhir kali," ucap Vivi alias Alexandria.
"Jika seperti ini. Aku akan meminum racun ini untuk menjemput Juliet disana. Akan aku bawa cinta putih ini. Tak ada gunanya aku hidup tanpa Juliet." ucap Alen bucin sekali.
Akhirnya Alen pun meminum racun, tak lama setelah itu, Alen langsung tergeletak disebelah Raina, Alen mati.
MATI.
boongan tapi.
Jagas berucap, "Para asisten pergi meninggalkan ruangan itu, setelah Romeo meninggal, Juliet terbangun dari tidur panjangnya. Lalu Juliet kaget saat melihat Romeo yang sudah meninggal...."
"Romeo kekasihku, kenapa kamu meninggalkanku? Aku tak bisa hidup tanpamu. Aku akan menyusulmu.." Raina pun ikut meminum racun bohongan yang telah diminum Alen tadi. Raina pun langsung tergeletak tak berdaya tepat disebelah Alen.
"Akhirnya Romeo dan Juliet tenang abadi dalam kehidupan selanjutnya, kisah mereka melegenda hingga ke penjuru dunia, cerita mereka akan selalu diingat sepanjang masa..." ujar Jagas menutup drama mereka.
"Yess selesaii!" pekik mereka pelan.
Setelah itu, Raina dan Alen pun bangun, mereka berbaris memanjang kearah penonton, memberikan salam hormat, lalu turun.
Suara MC yang menggelegar datang bersamaan dengan suara tepukan meriah dan teriakan-teriakan histeris yang tadi sempat tertahan oleh penonton, kini langsung lepas seketika.
Setelah sampai dibawah panggung, mereka saling ber tos ria, karena telah berhasil membawakan dramanya dengan baik.
"Gilaaaa! Akhirnyaaa! Lega banget gueee, walaupun tadi agak nahan ketawa gara-gara liat muka lu Pan!" ucap Via sambil menabok lengan Devan.
"HAHAHA! GANTENG KAN GUE?"
"IYA GANTENG, GAJAH TENGGELAM!" sahut Via, Devan langsung menoyor kepalanya pelan.
"Tadi gue hampir lupa naskah gara-gara dansa trus ditatap dalem sama Raina, adem benerrr!" seru Devan membuat semuanya tertawa kecuali Alen.
"Cewek gua!" protes Alen.
"Bodo amwattt! HAHAHA!"
"Tadi kenapa lo mukul gue beneran hah?" tanya Alen, sebenarnya itu tidak sakit sama sekali, tetapi Alen hanya kesal saja.
"O ow...maap ye...hehehehe...pisss bro..gue gak sengaja.." Devan nyengir, padahal mah Devan sengaja tadi itu.
Alen menatapnya tajam, lalu sesaat setelah itu tiba-tiba saja ada Freya yang datang menghampiri Alen. Membuat semuanya yang tadi tertawa langsung diam dan memperhatikan mereka.
"Kak Alen....boleh foto bareng nggak?" tanya Freya.
Alen langsung berdiri dengan kikuk, ia menatap kearah Raina yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Alen mengangguk pelan, lalu senyum Freya langsung mengembang, cewek itu langsung memberikan ponselnya pada Raina, iya Raina. Dari banyaknya orang yang ada disini Freya memilih Raina untuk memfotokannya bersama Alen.
Freya menyodorkannya, "Kak Rain, tolong fotoin yaaa?"
Alen membeku ditempat, bagaimana bisa Freya sengaja melakukan itu, sepertinya sebentar lagi perang dingin akan dimulai.
Raina tak menerima ponselnya, gadis itu malah berbalik badan dan berjalan cepat meninggalkan teman-temannya. Membuat semuanya melongo, lalu seperdetik kemudian Via langsung mengejarnya.
"Disini masih ada gue sama yang lainnya, kenapa lo malah nyuruh Raina?" tanya Devan, namun Freya hanya membalasnya dengan kedikan bahu.
✨✨✨