27. Heart's Owner

2648 Kata
Karena aku baik dan lagi mood jadi aku upload hari ini. Happy Reading! ✨✨✨ Raina berjalan cepat menuju koridor atas, dress nya yang panjang itu membuatnya agak kesusahan untuk menaiki tangga, tetapi persetan dengan itu, Raina tidak peduli, ia tetap menaiki anak tangga. Di koridor atas ini sangat sepi, tidak ada siapa-siapa disini, Raina ingin menyendiri dan menenangkan pikirannya. Semakin hari dirasa-rasa semakin aneh, sikap Alen pada Freya sangat berbeda, ia terlihat memperlakukan Freya lebih manis ketimbang dulu. Dari lantai atas Raina bisa melihat semuanya, mulai dari panggung, lautan manusia, bazar, dan termasuk Alen dan Via yang kini terlihat sedang kebingungan mencari dirinya dibawah sana. Saat Raina tengah menatap mereka dari atas, tiba-tiba saja ada tangan yang menyentuh bahunya, hal itu berhasil membuat Raina terkejut. Raina menoleh, ia menatap biasa saja orang yang ada dihadapannya saat ini. Orang itu tengah tersenyum. "Kak Raina kenapa pergi?" tanya Freya, entah dari mana cewek itu tau jika Raina sedang berada disini, padahal tadi ia masih bersama Alen dibawah sana. "Nggak pa-pa," balas Raina. "Kak Raina cemburu ya ngeliat aku sama Kak Alen?" pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut Freya. "Nggak kok," "Kalo Kak Raina nggak cemburu boleh ya aku sama Kak Alen? Sementara aja, nggak lama kok Kak," ucap Freya. Pernyataan Freya barusan mampu membuat Raina mengernyitkan keningnya dan berpikir maksud dari omongannya. "Maksudnya gimana?" tanya Raina yang tak paham. "Ya...ehm..aku yang gantiin posisinya Kak Raina, aku pengen jadi pacarnya Kak Alen," ujar Freya yang langsung membuat Raina tercenung tak percaya. Raina tersenyum tipis, "Nggak usah ngada-ngada Frey, Alen itu udah punya aku," balas Raina. Freya menggeleng cepat, "Nggak Kak, Kak Alen itu punya aku. Aku yang lebih dulu tau Kak Alen, aku yang lebih dulu liat Kak Alen, dan aku yang lebih dulu suka sama Kak Alen." ucap Freya. "Kak Raina itu cuman orang baru disekolah ini," tambahnya. Raina langsung membuang muka, ia hanya diam. "Boleh ya Kak? Kalau Kak Raina diem aja, berarti boleh kan?" ujar Freya. "Lagian selama ini Kak Alen udah deket banget sama aku, sikapnya jadi hangat dan jadi perhatian sama aku, kalau kaya gitu berarti tandanya Kak Alen kenapa?" Freya bertanya pada Raina. "Kak Alen suka sama aku," lanjut Freya, karena Raina hanya diam saja. Gara-gara perkataan itu, dengan cepat Raina langsung kembali menolehkan wajahnya pada Freya, menatap perempuan didepannya ini dengan pandangan terkejut. "Nggak mungkin Frey, nggak mungkin Alen suka sama kamu se-gampang itu," balas Raina. "Kenapa nggak mungkin? Kalau Kak Alen udah nyaman gimana?Mendingan sekarang aku mohon sama Kak Raina ya? Kakak mendingan mundur aja, ketimbang sakit hati ntar," ujar Freya sambil tersenyum, hampir seperti senyuman licik. "RA?" panggilan itu berasal dari Alen yang baru saja sampai dianak tangga terakhir. Raina dan Freya langsung memusatkan perhatiannya pada Alen, cowok itu berjalan mendekati mereka berdua. "Lo..? Disini juga Frey? Bukannya tadi lo bilang mau balik ke stan kelas lo?" tanya Alen pada Freya. "Iya Kak, tadi aku urungin soalnya ngeliat Kak Raina jalan kesini jadi aku ikutin," balas Freya. Alen hanya berdehem singkat, lalu pandangannya menuju pada Raina. Gadis itu menatapnya dengan ekspresi datar, tanpa senyum sedikitpun. "Ra...kamu mau foto bareng?" tanya Alen. Tidak. Raina tidak akan mau foto bersama Alen. Alen sudah foto duluan bersama Freya tadi. Jadi Raina tidak ingin sama sekali. Raina menghela napasnya sejenak, "Kamu kalau mau sama Freya nggak apa-apa kok. Aku nggak ngelarang," Raina malah berujar seperti itu. Kedua alis tebal Alen langsung bertautan, Alen cukup terkejut dengan ucapan Raina, "Kok kamu ngomong gitu sih Ra?" "Tanya aja sama diri kamu sendiri," balas Raina. "Maksudnya gimana?" Alen tampak gusar. "Kamu sekarang suka sama Freya kan? Mangkanya dari kemarin sifat kamu beda banget ke dia," ucap Raina. "Kalau cemburu bilang Ra," kata Alen. "Nggak. Aku nggak cemburu kok," balas Raina acuh. "Aku mau turun ganti baju dulu. Silahkan berduaan ya kalian," ucap Raina sambil tersenyum sangat manis, tapi ketahuilah, dibalik senyum itu ada sakit yang terpendam. Raina pun langsung melenggang pergi meninggalkan mereka berdua. Alen terpaku ditempat selama beberapa sekon, lalu sesaat setelah itu Alen langsung memutar tubuhnya, melangkahkan kaki dengan cepat untuk mencegah Raina. Hap. Dengan satu kali tarikan Alen bisa menghentikan Raina. Alen mencekal lengannya saat Raina sudah berada didekat tangga turun, otomatis Raina memutar tubuhnya menghadap Alen. "Kenapa kamu ngomong kaya gitu?" tanya Alen. "Tadi kan aku udah bilang, tanya aja sama diri kamu sendiri. Kurang jelas?" Raina tampak mulai jengah, nada bicaranya juga ketus. Freya datang menghampiri mereka, kini posisi mereka benar-benar tepat berada diundakan tangga paling atas. "Ra.." Alen hendak memegang bahu Raina, tetapi Raina langsung menggerakkan bahunya, menolak hal itu. "Kalau kamu sukanya sama Freya, pacaran aja sama dia, ngapain sama aku?" tanya Raina. Freya langsung berujar, "Kenapa Kak Raina bilang gitu? Kan jelas-jelas Kak Alen itu pacarnya Kakak, jadi sukanya sama Kak Raina, bukan sama aku," ucap Freya, berbanding balik dengan apa yang ia ucapkan tadi pada Raina saat tidak ada Alen. Raina menatap Freya dengan kesal, ia geram dengan tingkah Freya yang baik didepan saja tapi aslinya licik dibelakang. Raina mengepalkan kedua tangannya disamping tubuh, matanya menajam kearah Freya, kesabarannya telah diuji sejauh ini, dan sekarang kesabaran Raina seakan-akan sudah habis. Lalu, tanpa Raina sadari, Raina langsung mendorong tubuh Freya ke belakang dengan refleks, tubuh Freya langsung terhuyung ke belakang, Freya jatuh terjungkal ditangga, sampai tubuhnya berguling-guling.  "FREYA!" teriak Alen. Tubuh Freya berguling sampai ke bawah, kepala gadis itu menabrak tembok pembatas tangga. Alen yang melihat itu langsung berlari dengan cepat untuk menuruni tangga, berniat menolong gadis itu. Raina yang melihat itu langsung membeku ditempat, ia menatap Freya dengan tatapan terkejut, mulutnya agak terbuka sedikit karena kaget dan tak percaya dengan apa yang telah tak sengaja ia lakukan. Demi apapun. Raina benar-benar tidak sengaja. Raina mendorong Freya dengan refleks karena emosi tadi. Alen langsung melihat keadaan Freya, dahinya berdarah, gadis itu tidak sadarkan diri, Alen benar-benar panik. Raina berjalan ke bawah untuk menyusul mereka, kaki dan tangannya bergetar, tangan Raina berkeringat dingin. Saat menyadari keberadaan Raina yang sedang berdiri disebelahnya, Alen langsung mendongak dan menatap Raina dengan tatapan dingin dan menusuk. "Kenapa kamu dorong Freya? Kalau kamu cemburu dan ada masalah sama aku cukup kita aja yang nyelesaiin, nggak usah bawa-bawa oranglain. Kamu liat sekarang? Apa yang udah kamu lakuin?" ujar Alen. Tubuh Raina semakin panas dingin, ia benar-benar tidak sengaja. Suara ramai derap langkah kaki langsung mendekati mereka, Devan, Via dan yang lainnya baru saja datang, wajah mereka langsung kaget saat melihat Freya yang sedang tidak sadarkan diri. "Kenapa nih woi? Astaga Dek Freya? Itu kenapa??" Devan bertanya dengan panik. Alen tak membalasnya, ia kembali menatap Raina, "Kalau sampe Freya kenapa-napa, gue nggak akan maafin lo Ra," ucap Alen dingin. Wajah Raina memucat, "T-tapi a-aku bener-bener nggak sengaja Len..aku refleks, aku nggak sadar.." jelas Raina. "Gue liat pake mata kepala gue sendiri Ra, lo sengaja." ucap Alen. "Sumpah Len, aku nggak sengaja, kamu nggak percaya?" Raina terlihat begitu takut. Namun Alen tak menggubrisnya, cowok itu langsung mengangkat tubuh Freya dalam gendongannya. Alen berdiri ingin membawa Freya ke rumahsakit. "Pinjem mobil lo Van, Freya harus dibawa ke rumah sakit," ucap Alen pada Devan. "Ohh oke-oke." Devan pun berjalan mengikuti Alen dibelakangnya. Kini tinggalah Raina, Via dan anak-anak cewek yang lain yang berada disini. Via menghampiri Raina yang sedang menatap nanar kearah punggung Alen yang mulai menjauh. "Kenapa Ra? Kenapa bisa Freya kaya gitu?" tanya Via. "Aku nggak sengaja dorong dia Vi..sumpah demi apa pun aku bener-bener nggak sengaja.." mata Raina memerah, hidungnya terasa sakit seperti ingin menangis. Via langsung mengusap kedua pundak Raina, "Jadi..Freya jatuh gara-gara lo?" Via bertanya dengan hati-hati, lalu Raina mengangguk, bersamaan dengan air matanya yang langsung jatuh begitu saja. "Eh..eh..udah Ra..jangan nangis..gue percaya kok sama lo, nanti masalah ini bisa dibicarin baik-baik.." ucap Via berusaha menenangkan Raina. "Ehm..gais..gue sama Raina pergi dulu ya..lagi butuh ketenangan nih.." Via pamit pada teman-teman satu kelompok dramanya, dan diangguki oleh mereka. Via pun langsung mengajak Raina untuk menuju kelas. ✨✨✨ Malam ini langit tampak gelap, tidak ada cahaya bulan dan bintang yang biasanya menerangi bumi pada malam hari. Suara langit yang bergemuruh mulai terdengar, diluar sana tampak ingin turun hujan. Raina yang biasanya sangat senang jika akan turun hujan itu kini malah murung didalam kamar, ekspresinya sangat menunjukkan jika ia sedang sedih. Raina terduduk dipojokan kamar, gadis itu menekuk kedua lututnya, lalu kedua tangannya memeluk lututnya itu. Selepas kejadian tadi, Raina langsung mencari Raka dan mengajaknya untuk pulang, padahal cowok itu baru saja akan tampil diatas panggung. Raka awalnya menolak, tetapi saat melihat mata Raina yang sendu Raka langsung menurutinya. Teng! Suara jam besar yang ada dilantai bawah rumah Raina baru saja terdengar, memberi tanda jika saat ini sudah jam dua belas malam. Raina belum makan, belum minum obat, dan belum kontrol ke Dokter minggu ini. Badannya lemas seperti tak bertenaga, pikirannya masih saja memutar kejadian tadi. Ia masih tak percaya dengan apa yang ia lakukan pada Freya tadi, ia tidak bermaksud untuk mencelakai Freya, hal itu terjadi secara spontan. Raina mengambil ponselnya yang ada diatas kasur, cewek itu sedang berusaha menelpon Alen, tetapi sudah Raina coba sedari tadi Alen tetap saja tidak mengangkat telponnya, malah kali ini sepertinya Alen mematikan ponselnya, karena tidak ada suara sambungan. "Segitu sayangnya kamu sama Freya ya Len? Sampe-sampe kamu ngancem aku tadi," Raina melirih. "Kalau sampe Freya kenapa-napa, gue nggak akan maafin lo Ra." Ucapan itu terus saja terngiang-ngiang dikepala Raina. Raina memejamkan matanya, lagi-lagi rasa sakit itu datang lagi, hal yang membuat Raina benci, penyakit itu tiba-tiba saja datang menyerang tubuh Raina. Beberapa minggu yang lalu saat Raina dibawa ke Rumah Sakit oleh Raka karena dirinya tiba-tiba merasakan pusing yang hebat. Raina ingat saat Dokter Alya memeriksanya, Dokter Alya tersenyum sendu pada Raina saat mengetahui ada sel kanker yang mengendap didalam tubuh Raina. Hari itu Cherry sangat terpukul saat mendengar penuturan dari Dokter Alya bahwa anaknya mengidap Kanker Leukemia atau yang biasa disebut dengan Kanker darah. Dokter Alya bilang jika sel darah Raina mengalami perubahan, hal itu menyebabkan sel menjadi tidak normal dan tumbuh tidak terkendali. Bila jumlahnya makin bertambah sel-sel leukemia akan masuk ke aliran darah dan menyebar ke organ tubuh Raina yang lainnya. Maka dari itu, Dokter Alya menganjurkan Raina untuk kontrol setiap minggu dan melakukan kemoterapi atau bisa juga dengan melakukan transfusi darah. Menyedihkan. Itulah yang Raina rasakan sekarang, tidak boleh makan sembarangan, tidak boleh kelelahan, tidak boleh melakukan aktivitas yang berat, tidak boleh telat minum obat. Tetapi malam ini Raina telah melanggar beberapa peraturan itu, makanya sekarang Raina merasakan sakit dikepalanya, rasanya benar-benar sakit, sampai Raina tak bisa berkata-kata. Tok tok tok Suara pintu kamar Raina diketuk dari luar, Raina hanya bisa menatap pintu itu dengan nanar, Raina sedang berusaha untuk berdiri tetapi rasa sakit itu mengalahkannya, Raina kembali terduduk dilantai ubin yang dingin. "Ra? Are you okay?" tanya Raka dari luar. Cowok itu sedari tadi tak bisa tidur, ia terus memikirkan keadaan Raina, makanya sekarang Raka ingin mengecek keadaan adiknya itu. Perlahan-lahan Raina mencoba bangkit kembali, ia tidak boleh lemah, ia tidak boleh dikalahkan oleh penyakit ini. Raina berhasil berdiri, perutnya mual seperti ingin muntah tetapi Raina tahan, gadis itu berjalan dengan tertatih-tatih menuju pintu sambil memegangi kepalanya. Cklek Raina membuka pintu kamarnya yang tadi ia kunci, dilihatnya ada Raka yang sedang berdiri didepannya, tubuhnya penuh bayang-bayang, seperti menjadi dua. Raka menatap Raina dengan wajah terkejut, saat melihat wajah Raina yang benar-benar pucat pasi, bibirnya memutih dan ada darah segar yang mengalir dari hidungnya. Bertepatan dengan itu tubuh Raina langsung terjerembab dilantai. ✨✨✨ Pagi ini Alen tidak datang ke sekolah, cowok itu dari semalam menemani Freya yang menginap di Rumah Sakit, kemarin dahi Freya harus dijahit sampai tiga jahitan karena lukanya agak dalam, badannya juga panas. Orangtua Freya sedang tidak ada dirumah, mereka sedang bekerja diluar kota, jadinya mau tidak mau Alen lah yang harus menemaninya disini. Kemarin malam Kenzo sudah mengabari orangtua Freya untuk segera pulang. "Kak?" "Kak Alen?" panggil Freya. Alen yang tadi tengah tidur langsung terbangun karena mendengar panggilan dari Freya. Cowok itu langsung menegakkan duduknya lalu mengusap wajahnya dengan satu tangan. "Lo udah bangun?" "Iya Kak..ehm semalem Kak Alen ya yang bawa aku kesini?" tanya Freya. "Iya." "Makasih ya Kak!" Alen pun berdehem. "Kenapa Kak Raina tega banget dorong aku sampe aku jatuh, dia nggak suka ya sama aku?" Freya bertanya dengan nada disedih-sedihkan. Alen langsung tercenung sesaat, "Gue nggak tau, mungkin aslinya dia kesel sama gue, tapi yang kena malah lo, sorry ya." Freya tersenyum kecil, "Nggak papa kok Kak, aku seneng kalo Kak Alen perhatian gini sama aku." "Ehm..walaupun habis ini udah nggak bisa kaya gini lagi. Kan sebentar lagi udah mau Ujian kenaikan kelas.." Alen tidak membalasnya, cowok itu langsung berdiri sambil menarik hoodie nya ke bawah. Membuat Freya mengikuti pergerakannya. "Mau kemana?" "Mau keluar sebentar, sama beli minum," balas Alen. "Lo nggak papa kan gue tinggal sebentar, mungkin bentar lagi Kenzo bakalan kesini." ucap Alen pada Freya. "Iya nggak papa kok, hati-hati yaa." ucap Freya, lalu Alen pun mengangguk dan langsung keluar dari kamar inap Freya. ✨✨✨ Setelah membeli minum tadi, kini Alen ingin berkeliling disekitar Rumah Sakit, karena dari pada ia bosan menemani Freya lebih baik ia jalan-jalan disini. Rumah Sakit ini sangat luas, maka dari itu Alen harus benar-benar menghafal jalannya, tapi tanpa menghafal pun Alen masih bisa melihat petunjuk arah. Saat sedang berjalan dikoridor depan ruangan ICU, tiba-tiba saja Alen tak sengaja melihat ada Raka dan Via yang baru saja keluar dari pintu utama ruang ICU. Saat mereka baru menutup pintu utama dan ingin melangkah pergi, Alen segera memanggilnya. "Via!" panggil Alen. Seketika Via dan Raka menoleh, Alen langsung menghampiri mereka. "Kalian ngapain disini? Siapa yang sakit?" tanya Alen to the poin. Via tampak kebingungan harus menjawab apa, ia gelisah, ia tidak boleh memberikan jawaban yang sebenarnya. "Ehm...itu..ehm.." Via panik. "Temen." sahut Raka singkat. "Temen? Siapa? Kalau itu temen kalian, berarti temen gue juga kan?" tanya Alen dengan tatapan mengintimidasi. "Ehm iya! Temen. Tapi temen yang ini lo kayaknya nggak kenal deh Len," ucap Via. "Masa sih?" "Udahlah, buang-buang waktu." kata Raka, cowok itu langsung pergi berjalan meninggalkan Alen dan Via. "Ehhh Raka!" teriak Via. "Udah ya Len, gue mau pergi dulu, penting," ucap Via pada Alen, lalu cewek itu dengan cepat langsung berlari menyusul Raka. Alen memandang mereka dengan aneh, memangnya siapa yang sakit? Teman? Teman yang mana? Bukan kah kalau yang sakit teman mereka otomatis itu juga teman Alen kan? Siapa tapi? Alen langsung menolehkan kepalanya ke pintu berbahan kaca itu, ia bisa melihat lorong sepi yang disebelah kanan dan kirinya ada deretan panjang kamar-kamar pasien diruang itu. Alen tak ingin terus memikirkannya, tetapi kenapa rasanya ada yang menjanggal ketika melihat ruangan itu. Hati Alen tiba-tiba tidak tenang, dan entah kenapa pikirannya langsung mengingat Raina. Semalam Alen sudah berkata kasar pada gadis itu, tapi menurutnya Raina memang salah, hanya karena cemburu Raina langsung mendorong Freya sampai cewek itu terluka. Akhirnya Alen pun berjalan pergi dari sana, ia mengambil ponselnya yang ada disaku hoodie. Semalam Alen sengaja mematikan ponselnya. Saat layar ponsel itu sudah menyala, Alen bisa melihat banyak notifikasi chat dan telepon dari Raina. Raina Arkayla Terakhir dilihat pukul 00.06 "Sampe malem dia belum tidur?" gumam Alen saat melihat terakhir dilihat Raina. Alen langsung merasa cemas, ia terus kepikiran karena semalam saat insiden itu Alen telah kasar pada Raina. Pasti sekarang gadis itu sedang sedih atau bahkan mungkin menangis. Alen merasa gagal menjadi pacar untuk Raina, ia merasa menjilat ludah sendiri saat mengingat perkataannya dulu sebelum ber-pacaran dengan Raina. Saat gadis itu nampak senang dan bahagia bermain hujan. "Kalau lo suka sama gue, gue juga bakalan sama kaya hujan Ra, nggak akan nyakitin lo." Perkataannya sendiri yang dulu pernah ia ucapkan untuk Raina didalam hati. Itu terus terngiang-ngiang diotaknya. Tanpa ia sadari ia telah menyakiti Raina berkali-kali. Cowok itu duduk dikursi panjang yang ada dibawah pohon, ia mencoba menelpon Raina, tetapi ponselnya tidak aktif atau berada diluar jangkauan, cowok itu berdecak. Alen gusar, ia mendadak tidak tenang. "Ra..maaf Ra.." lirih Alen sambil mengusap wajahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN