Update! Siapkan hati, siapkan kesabaran, happy reading!
✨✨✨
Pagi ini Alen datang ke sekolah bersama Freya, cowok itu menjemput Freya dirumahnya tadi, hal itu membuat Freya senang bukan kepalang, didahinya masih ada perban yang menempel, ditubuhnya ia memakai jaket milik Alen. Iya. Jaket milik Alen yang ia pakai. Tadi saat dijalan Freya mengeluh kedinginan, padahal saat masih didepan gerbang rumah Freya tadi Alen sudah mengingatkan cewek itu untuk memakai jaket, tetapi ia tidak mau.
Jadinya, tadi saat dijalan tiba-tiba Freya merengek meminta jaket, akhirnya Alen menepikan motornya dan melepaskan jaketnya untuk digunakan Freya. Jaket yang sama yang pernah Alen pinjamkan ke Raina.
Motor Alen kini sudah terparkir diparkiran sekolah, cowok itu melepaskan helmnya dan turun setelah Freya turun terlebih dahulu. Setelah itu mereka berdua langsung berjalan memasuki gedung sekolah, dilapangan sudah sepi tidak ada lagi panggung seperti kemarin. Alen sampai tidak bisa melihat guest star yang datang kemarin gara-gara menjaga Freya.
Anak-anak yang ada dikoridor dan yang berpapasan dengan mereka kini tengah memperhatikan mereka dengan tatapan terheran-heran, karena setau mereka pacarnya Alen itu Raina, bukan Freya. Ada juga yang sampai bisik-bisik membicarakan mereka, Alen yang merasa sedang diperhatikan hanya bersikap acuh tak acuh, sedangkan Freya cewek itu terus tersenyum sedari tadi, seperti tak ada beban hidup.
"Masuk sana," ucap Alen pada Freya ketika sudah sampai didepan kelasnya X IPS 3.
"Oke Kak! Sampe ketemu nanti yaa!" seru Freya sambil mengembangkan senyumnya.
"Hmm."
Alen pun langsung pergi untuk masuk ke dalam kelasnya, baru saja Alen masuk satu langkah suara-suara ribut dan ramai dari teman-temannya langsung terdengar. Ada Devan yang sedang bermain pesawat-pesawatan sambil merecoki Via yang sedang mengerjakan PR.
"DEVAAAANNNNN! EMAK LO TUH NGIDAM APA SIH DULU?! TINGKAH LO UDAH KAYAK CACING KEPANASAN TAU GAK!" Via mengamuk seperti ada asap yang keluar dari hidungnya.
"Ehm...ngidam apaan yak?" Devan berlagak sedang berfikir. "Nggak tau gue, ngidam cacing beneran kali, makanya sekarang gue suka main game cacing," sahut Devan.
"Lo juga suka main itu kan? Wah kalo iya, berarti emak lo juga ngidam cacing kaya emak gua Vi!" seru Devan yang langsung mendapatkan lemparan buku dari Via. Buku itu mendarat mulus dikepala Devan.
"GUNDULMU!" teriak Via geram pada Devan.
"EH GUE GAK GUNDUL YA!" Devan tak terima, cowok itu mengambil buku Via dan ia lempar balik ke cewek itu.
"Kekeyi beli tomat, bodo amat!" balas Via jengkel setengah mati.
"Berantem mulu lo berdua, awas aja jodoh ntar," celetuk Alen saat cowok itu duduk dibangkunya.
"Dih, jodoh sama Devan? Ogah banget amit-amit, yang ada ntar gue mati muda jodohan sama dia!" balas Via dongkol.
"Dih, lu pikir gua mau gitu jodohan sama cewek bar-bar kayak lu?" Devan membalas sambil memperagakan tubuhnya seperti tengah kegelian, "Bukan tipe aing."
"FUCEKKK LO VANNN FUCEKKK!!!" teriak Via seperti emak-emak ingin menagih hutang.
"Apanya yang dikucekkk? Bajuuu? Lo mau ngucekin baju gueee? Oke bolehhh dengan senang hatiii gue ngebabuin lo! HAHAHAHA!" balas Devan dengan tawa menggelegar.
Via yang mendengar itu langsung mendengus kasar dan memutar kedua bola matanya malas, lalu cewek itu menggerakkan bibirnya seperti menyinyir pada Devan. Lalu kembali melanjutkan menulis PR nya.
Devan berjalan duduk disebelah Alen, cowok itu nampak sedang memikirkan sesuatu. "Kenapa lo Len? Kusut amat tuh muka, udah kaya gak disetrika setaun aja," celetuk Devan.
"Raina mana ya? Dia nggak sekolah? Kok jam segini tumbenan belum dateng," ucap Alen.
Via tiba-tiba menyahut, "Ada acara keluarga dia makanya gak sekolah!"
Alen dan Devan sontak menoleh kearah Via, "Serius Vi?"
"Yaiyalah," sahut Via, cewek itu tetap fokus pada menulisnya. Perlu kalian ketahui, Raina hari ini tidak masuk bukan karena ada acara keluarga, tetapi karena Raina masih sakit dan dirawat di RS. Raina sudah berpesan kepada Via, agar cewek itu tidak memberitahu Alen atau pun yang lainnya jika Raina sedang sakit.
Alen kembali menghadap ke depan, jika Raina tidak masuk hari ini, lantas kenapa cewek itu tidak mengabarinya? Tidak sempat kah?
"Len," panggil Devan, cowok itu mendadak memandang Alen dengan tatapan serius.
"Apaan?"
"Lo sekarang beda ya ke Freya? Gue baru ngerasainnya akhir-akhir ini," ucap Devan. Alen hanya berdehem sekilas.
"Kenapa lo kaya gitu men? Lo suka sama tuh cewek? Lo udah gak suka lagi sama Raina yang imut nan mempesona bak Rose Blackpink itu?" tanya Devan diselingi candaan.
Alen langsung meliriknya, "Gak lah, gue masih suka sama Raina, sayang malah," balasnya.
"Trus kenapa lo deket-deket sama Freya?" tanya Devan agak geregetan.
"Bukan gue yang deket-deket, tapi dia. Gue gak suka sama dia, tenang aja." sahut Alen dengan santai.
"Ya tapi lo gak boleh kaya gini dong, lo kan pacarnya Raina tapi lo malah deket juga sama Freya, jadi pandangannya orang-orang tuh buruk ke lo Len," ujar Devan.
"Pandangan mereka emang udah buruk dari dulu ke gue," sahut Alen.
"Weii jangan gitu, banyak yang nge-fans sama lo, mereka gak cuman liat lo dari jeleknya aja," ucap Devan.
"Lo juga jadi orang jangan maruk Len, udah dapetin Raina jangan sama Freya juga, satu-satu aje, kasian Raina dia pasti sakit hati ngeliat lo kaya gitu," Devan mendadak bijak.
Alen menghela napas, seperti lelah dengan keadaan saat ini, "Gue juga gak mau kaya gini Van, gue cuma mau nepatin janji gue sebagai cowok," balas Alen.
"Janji apaan?" Devan kepo.
"Jagain Freya sampe kenaikan kelas," sahut Alen yang langsung membuat Devan melotot dan spontan menggebrak meja, membuat anak-anak sekelas memperhatikannya.
"Wah yang bener aja lo Len?! Sejak kapan lo mau disuruh-suruh sama dia, mau-mau aja lo yee! Gue aduin bapak lo baru tau rasa," ucap Devan.
"Sebentar lagi udah nggak, gue bakalan lepas dari tugas gue."
✨✨✨
Raja membantu Raina untuk duduk dan bersandar dibrankar dengan posisi nyaman. Cowok itu baru saja sampai disini satu jam yang lalu, ia tadi datang kesini bersama Mama dan Papa nya alias Nata dan Nesya, tetapi baru beberapa menit yang lalu mereka pamitan pulang untuk mengurusi pekerjaannya.
Raja mengelus rambut Raina dari kening sampai ke ubun-ubun, keningnya terasa hangat.
"Makan ya Ra? Belum makan kan tadi?" tanya Raja.
Raina menggeleng, pandangannya sangat sayu dan meredup, membuat Raja sangat tak tega melihatnya. Senyumnya pun juga tak ada, seolah-olah Tuhan telah merenggutnya.
Raja langsung mengambil piring yang berisi bubur dan bertoping suwiran ayam yang lembut. Cowok itu menyendokkannya sedikit dan menyuapkannya ke mulut Raina. Perlahan Raina membuka mulutnya, dan melahap makanan hambar itu.
Raina mengunyahnya perlahan, sambil menatap kosong kearah infus yang terpasang ditangan kirinya. Saat ini Raina sedang memikirkan Alen dan Freya. Apakah gadis itu baik-baik saja? Raina takut jika Freya kenapa-napa nanti malah timbal baliknya pada Raina, Raina tidak akan dimaafkan oleh Alen, dan Raina tidak ingin hal itu terjadi, ia sangat sayang Alen.
"Lagi mikirin apa Ra? Jangan diem-diem kaya gini terus, kamu harus semangat," ucap Raja seperti bisa membaca pikiran Raina. Cowok itu kembali menyuapkan sesendok bubur pada Raina.
Raina menerimanya, lalu menoleh kearah Raja, "Rara kemarin nggak sengaja buat kesalahan Kak, Rara takut kalau Alen marah dan nggak mau maafin Rara.." lirih Raina, nada suaranya bergetar.
"Emangnya kamu buat kesalahan apa?" Raja bertanya dengan lembut.
"Rara nggak sengaja ngedorong adik kelas Rara, namanya Freya. Kemarin Rara kebawa emosi, jadinya Rara refleks dorong dia sampe dia jatuh dan kepalanya berdarah," balas Raina.
"Terus kemarin Alen bilang ke Rara, katanya kalau sampe Freya kenapa-napa Alen nggak akan maafin Rara," lanjutnya, suaranya semakin bergetar dan hatinya terasa sesak.
Raja tersenyum penuh arti pada Raina, cowok itu kembali mengusap rambut Raina, ia sangat sayang pada adiknya yang satu ini.
"Nanti kan Rara bisa bilang baik-baik ke Alen, pasti dia ngerti. Kalau Alen sayang sama kamu, dia nggak mungkin nggak maafin kamu, Ra." ujar Raja.
Raina menatap mata Raja yang sangat meneduhkan itu, lalu berkata, "Kak? Kalau Alen tau penyakit Rara yang kaya gini, apa Alen masih mau pacaran sama orang penyakitan kaya Rara? Apa Alen mau nerima Rara?" Raina bertanya dengan air mata yang sudah merembes dipelupuk mata.
Raja semakin tidak tega mendengarnya, cowok itu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Kalau Alen sayang sama kamu, dia pasti bakalan terima kamu apa adanya. Alen belum tau kalau kamu sakit?" tanya Raja.
Raina menggeleng pelan, "Belum."
"Kenapa nggak coba kamu kasih tau aja?"
Lagi-lagi Raina menggeleng, "Rara nggak mau buat Alen khawatir, Rara nggak mau ngerepotin Alen, itu pun kalau Alen masih mau sama Rara. Kalau enggak?" Raina menghembuskan napasnya, matanya berkedip sekali, dan air mata itu lolos mengalir begitu saja dipipinya.
Raja yang melihat itu langsung mengusap air mata Raina dengan lembut, "Hei..jangan nangis, adiknya Kak Raja yang cantik ini nggak boleh nangis, Rara kan masih punya Raka, Raja, Mama, Papa, Om sama Tante yang sayang sama Rara," ucap Raja menyemangati Raina.
Namun perkataan Raja barusan malah membuat Raina semakin menangis dan terisak. Membuat Raja langsung berdiri dan memeluknya, memberikan Raina kehangatan.
"Rara takut Kak..Rara takut sama semuanya, Rara takut ditinggalin sama orang yang Rara sayang, Rara juga takut sama penyakit ini..penyakit ini buat Rara kesakitan, Rara takut kalah dan nggak bisa ngelawan penyakit ini, kalau Rara nggak kuat gimana Kak? Rara bakalan pergi ninggalin kalian semua--"
Raja memotong perkataan Raina, dan semakin mengeratkan pelukannya. "Ssttt kamu nggak boleh ngomong kaya gitu. Kamu pasti kuat, Rara kan cewek hebat yang pernah Raja kenal, jadi Rara jangan ngomong kaya gitu."
"Kenapa penyakit ini harus dateng ke Rara? Rara punya salah apa sama Tuhan?" Raina berujar masih menangis sesegukan.
"Rara sayang, kamu itu nggak salah, Tuhan cuma ngasih kamu cobaan, Tuhan lagi ngetes kesabaran kamu Ra, dan tandanya Tuhan itu sayang sama kamu." ucap Raja menenangkan Raina sambil terus mengusap rambutnya.
Raina masih menangis terisak, seolah-olah masih tidak terima dengan penyakit yang sedang dideritanya saat ini.
✨✨✨
Disekolah saat ini Alen tengah makan dikantin bersama Freya. Freya terlihat sangat senang memakan makanannya apalagi ditemani dengan cowok yang ia suka. Tetapi berbanding balik dengan Alen, cowok itu sedari tadi hanya menatap nasi yang ada didepannya tanpa selera.
"Kenapa nggak dimakan sih?" tanya Freya saat memperhatikan Alen.
"Gue gak selera," balasnya.
"Mikirin Kak Raina ya pasti?" tebak Freya tapi Alen menggeleng, padahal cowok itu memang sedang memikirkan Raina.
"Dia kenapa nggak sekolah hari ini? Dia juga nggak minta maaf ke aku, nyebelin banget sih," celetuk Freya, membuat Alen langsung menatap kearahnya dengan tatapan datar.
"Raina ada acara keluarga, makanya dia nggak sekolah," jawab Alen dengan datar.
"Oh..gitu.."
"Kalo gitu nanti anterin aku ke toko buku ya? Aku mau beli buku sama alat tulis," tambah Freya.
"Kenzo kemana?" Alen langsung bertanya seperti itu, membuat Freya menghentikan acara makannya.
Cewek itu diam sesaat, "Kak Kenzo selalu sibuk sama temen-temennya, dia jarang mau nganterin aku," balas Freya.
Lo pikir gue juga nggak sibuk gitu? batin Alen.
"Yaaa? Mau kan? Kamu mau kan?" tanya Freya lagi, seakan memaksa Alen.
Kamu? Barusan Freya menggunakan kata 'kamu' kepada Alen. Biasanya cewek itu selalu menggunakan embel-embel 'Kak' atau 'Kak Alen'. Tetapi ini malah berubah menjadi kata 'kamu' sudah seperti dirinya saat sedang bersama Raina saja.
Dilain tempat, dimeja kantin yang ada disebelah kanan yang jaraknya hanya beberapa meter dengan meja yang ditempati Alen dan Freya. Ada Pingkan dan ketiga temannya yang sedang memperhatikan mereka sedaru tadi. Pingkan terlihat tersenyum miring.
"Ihh lo waras kan Ping?" tanya Lisa saat melihat Pingkan yang tersenyum seperti itu.
"Waras lah, banget malah." sahutnya.
"Trus kenapa lo malah senyum-senyum gitu ngeliat gebetan lo dideketin sama adek kelas?" tanya Retha bingung.
"Kan gue yang nyuruh dia girls, jadi kalian jangan kaget kalo gue diem aja," ucap Pingkan sambil memainkan ujung rambutnya yang berwarna pirang.
"WHAT?!" sontak mereka bertiga berteriak dan hampir tersedak mendengarnya.
"Huh biasa aja kali, nggak usah kaget kaya gitu," balas Pingkan santai.
"Kesurupan setan apa lo Ping?! Sampe-sampe nyuruh bocah kaya dia deketin Alen?! Raina aja lo singkirin, nah ini malah lo suruh buat deketin, aneh lo dasar!" ujar Lisa.
Pingkan terkekeh mendengarnya, "Semua ini ada tujuannya, gue nyuruh dia buat deketin Alen supaya Raina putus sama Alen, dan Freya yang bakal keliatan jadi pelakornya mereka," ucap Pingkan dan disusul oleh tawa jahatnya.
"Apalagi si Freya kan lagi sakit tuh? Yaudah gue suruh manfaatin aja. Nanti kalo Alen sama Raina udah putus, gue bakalan nyuruh Freya pergi, trus Alen bakalan nggak suka sama dia karena jadi pelakor dihubungannya sama Raina. Trus Raina bakalan benci sama Alen, dan gue balik lagi deketin dia," kata Pingkan sambil menunjukkan wajah angkuhnya.
"Wah gila! Ini mah liciknya mendarah daging!" seru Lisa dan disusul tawa oleh semuanya.
"Hmm. Lo pikir gue bodoh gitu nyuruh tuh bocah buat deketin Alen? Ya nggak lah, gue udah mulai permainannya tanpa kalian tau," balas Pingkan.
"Emang debess temen kita yang satu ini, antagonis banget ya lo? Hahahaha!" kekeh Intan.
Pingkan mengulas senyum kemenangan, padahal ia tidak tau kalau selama ini Freya juga memanfaatkan hal ini untuk mendekati dan menarik perhatian Alen agar cowok itu suka padanya.
Jadi, yang lebih licik disini siapa? Pingkan atau FreySuka gak kalian kalo aku buat story chatnya mereka kaya gini? Atau ada yang mau request pengen tau chatnya ? Komen yaa. Contohnya Raka sama Raina, Raja.