Alen berdiri didepan gerbang tinggi rumah Raina, rumah besar itu terlihat kosong dan tak berpenghuni dari luar. Hanya ada satu cahaya dari lampu teras rumah, Alen memegang erat pagar besi dengan kedua tangannya, ia menatap rumah itu dengan hampa. Sudah tiga hari Raina tidak datang ke sekolah, dan sudah tiga hari pula gadis itu tidak memberikan kabarnya pada Alen. Hal itu membuat Alen uring-uringan selama tiga hari.
Kemana perginya Raina? Dimana acara keluarganya? Bagaimana kabar gadis itu? Dan kapan Raina akan pulang? Alen tidak tahu sama sekali. Alen sudah mengirimi begitu banyak pesan di w******p tetapi selalu centang satu, Alen juga menelponnya berkali-kali tetapi selalu tidak aktif atau berada diluar jangkauan.
"Argh!" Alen memukul pagar besi itu dengan kuat, sampai berbunyi nyaring.
Cowok itu membalikkan tubuhnya ke depan, ia mengacak rambutnya frustasi, lalu mengusap wajahnya dengan gusar.
"Kamu dimana Ra?"
"Kenapa pergi nggak bilang-bilang aku?"
"Kapan kamu pulang Ra?"
"Udah tiga hari kamu nggak ada kabar,"
"Kalau kamu marah sama aku, jangan kaya gini caranya Ra,"
"Jangan ngilang Ra,"
"Aku kangen."
Raut wajah Alen benar-benar menampakkan kekesalan bercampur dengan kusut. Alen melirik gelang couple nya bersama Raina, seketika wajah Raina langsung terbayang dihadapannya. Baru tiga hari Raina tidak ada kabar Alen sudah seperti ini, bagaimana kalau ditinggal selama-lamanya? Bisa gila dan mati muda dia.
Bagi Alen tiga hari ditinggal Raina itu sama seperti tiga ratus tahun lamanya. Apalagi ditinggal pergi tanpa pamit dan tanpa kabar pula.
Lantas Alen langsung menatap rumah itu dengan lama, setelahnya cowok itu langsung kembali ke motornya, memakai helm dan langsung pergi dari sana dengan kecepatan diatas rata-rata. Pikirannya sedang kalut, jika sedang seperti ini pasti Alen akan melakukan hal itu lagi.
✨✨✨
Plak!
Satu tamparan keras mengenai pipi kanan Alen, suaranya bisa terdengar hingga menggema didalam rumah ini, itu tandanya kerasnya tidak main-main, bahkan ada bekas galuran tangan dipipi Alen. Alen memegangi pipinya yang jelas-jelas terasa panas itu, dadanya naik turun, matanya menajam menatap Fathur, Papanya.
"Harus berapa kali Papa bilang? Jangan balapan liar! Itu bisa membahayakan nyawa kamu Alen!" hardik Fathur, tangan kanannya yang baru saja dipakai untuk menampar Alen masih terasa kebas.
"Oh..Papa masih peduli ternyata sama Alen?" ujar Alen dengan datar.
"Saya ini orangtua kamu! Jelas saya peduli sama kamu!" balas Fathur, laki-laki ini benar-benar marah saat mengetahui Alen pulang malam karena ikut balapar liar lagi tadi.
"Peduli kalau nggak sayang sama aja," sahut Alen enteng.
"Kamu semakin lama semakin ngelunjak kalau dibilangin orangtua!" ucap Fathur, matanya merah menandakan ia marah, rasanya sudah cukup kesabarannya selama ini untuk Alen.
"Yaudah, nggak usah dibilangin. Emangnya saya nyuruh?" Alen bertanya dengan wajah santai.
"Alen!" bentak Fathur.
"Kenapa? Mau tampar saya lagi? Tampar aja, nih." Alen memperlihatkan pipinya yang sebelah kanan, menantang Fathur.
Fathur mengepalkan kedua tangannya disamping tubuh, laki-laki itu baru saja pulang kerja, tetapi baru sampai rumah ia sudah disuguhi oleh sikap anaknya yang seperti ini. Kalau begini caranya, bisa stres lama-lama.
"Jangan mancing Papa buat makin marah ke kamu. Seharusnya kamu itu belajar, sebentar lagi kamu ujian, bukannya malah main trek-trekan motor kaya tadi." kata Fathur, mencoba sabar.
"Hm." balas Alen malas, Alen tidak ingin berlama-lama beradu argumen dengan Papanya. Lalu tanpa ada tata krama, cowok itu langsung melenggang pergi begitu saja dari hadapan Fathur.
Fathur hanya memandang punggung Alen dengan pandangan lelah, tidak tahu lagi bagaimana caranya mendidik putranya itu agar menjadi anak baik-baik seperti dulu lagi.
✨✨✨
Hari ini adalah hari ke empat Raina tidak sekolah, di buku absensi Raina ditulis izin, karena disuratnya memang tertulis izin ada acara keluarga, bukan izin sakit.
Saat ini sudah jam delapan lebih sepuluh menit, dan Alen baru datang sekitar lima menit yang lalu. Saat ini cowok itu tengah dihukum lari keliling lapangan sebanyak lima puluh kali. Panas matahari pagi ini cukup terik, membuat Alen kepanasan dan mengeluarkan keringat dari permukaan wajahnya.
Alen berhenti berlari sejenak, mengatur napasnya yang sangat engap, ia sudah berkeliling sebanyak empat puluh putaran, hanya kurang sepuluh putaran lagi maka hukumannya akan selesai. Jika berlari lima puluh putaran dilapangan milik sekolah ini, rasanya itu sama saja dengan berlari mulai dari Jakarta ke Surabaya, sangat engap, ngos-ngosan dan capek. Gimana nggak capek? Orang lapangan seluas sejuta lapangan sepak bola.
Baru saja Alen membungkuk dan menumpu kedua tangannya dilutut, tetapi suara menggelegar dari Bu Yuni sudah terdengar dari lantai atas.
"ALEN DIRGANTARA! KENAPA KAMU BERHENTI BERLARI? MAU SAYA TAMBAH HUKUMANNYA?!" teriak Bu Yuni sambil berkacak pinggang.
Awalnya Alen celingak-celinguk mencari keberadaan guru itu, saat Alen mendongak keatas barulah ia menemukan sosok cantik dari seorang Bu Yuni.
"Ya Allah Bu, capek. Istirahat sebentar masa gak boleh? Jahat bener," jawab Alen.
"NGGAK BOLEH! SIAPA SURUH TERLAMBAT! BURUAN, LANJUTIN LARINYA!" perintah Bu Yuni sambil melotot ke arah Alen.
Alen mendengus kasar kesal dengan hukuman yang diberikan oleh guru itu, akhirnya dengan hati yang dongkol cowok itu langsung melanjutkan hukuman larinya.
Beberapa menit kemudian akhirnya Alen telah selesai menyelesaikan hukumannya, kini cowok itu langsung berjalan masuk ke dalam kelas untuk mengademkan tubuhnya dengan AC.
"Udah selesai?" tanya Bu Yuni saat guru itu baru turun dari tangga dan berpapasan dengan Alen.
"Udeh," sahut Alen.
"Besok jangan diulangin lagi, sekarang cepat masuk kelas." peringat Bu Yuni.
Alen hanya membalasnya dengan deheman malas. Sesampainya dikelas ternyata kelasnya itu sedang jamkos sekarang, tahu gitu tadi Alen ke kantin aja makan sama beli minum, tapi sekarang sudah terlanjur mager.
"Ciyeee yang habis dihukum, enak bang?" sindir Devan.
"Enak your head," balas Alen lalu duduk dibangkunya.
Devan langsung tertawa, tetapi Alen hanya mengacuhkannya, tiba-tiba saja Alen teringat akan sesuatu.
"Eh Vi!" panggil Alen pada Via.
Cewek yang sedang asik selfi itu langsung mengangkat pandang pada Alen, "Kenapa?"
"Raina acara keluarganya dimana sih? Diluar kota? Kok sampe sekarang belum balik-balik?" tanya Alen karena cowok itu penasaran.
Via yang ditanyai seperti itu langsung was-was, ia sudah berjanji pada Raina agar tidak memberitahu penyakitnya itu sekarang.
Via berfikir cepat, "Gue kurang tau sih, dia cuman bilang kalo ada acara keluarga gitu aja, selebihnya dia nggak cerita." balas Via.
"Kenapa? Lo kangen ya sama dia?" celetuk Devan sambil senyum-senyum.
Alen mengangguk, "Suka bener lo kalo ngomong. Udah empat hari dia gak ada kabar, gimana gak kangen?"
"Ulu ulu kaciannn..." ejek Devan yang langsung mendapatkan toyoran gratis dari Alen.
✨✨✨
"Pa, aku kapan boleh pulangnya? Bosen disini terus," ucap Raina pada Arka.
Arka mengelus rambut Raina sambil tersenyum, "Besok kamu boleh pulang kata Dokter Alya."
"Serius?" kedua mata Raina langsung berbinar.
"Serius dong, makanya rajin minum obat, biar cepet sembuh trus pulang," balas Arka.
"Oke!" balas Raina antusias. "Ehm Pa, maafin aku ya, gara-gara aku sakit Papa jadi nggak bisa istirahat yang cukup. Padahal kan Papa capek kerja," ucap Raina.
"Enggak apa-apa, yang penting kamu cepet sembuh," balas Arka. "Besok kalau kamu udah sembuh kita jalan-jalan."
"Kemana?" tanya Raina antusias.
"Ke Villa nya Om Nan-"
"No Arka. Enggak. Jangan kesana, aku males ketemu Nando." sahut Cherry, memotong perkataan Arka, membuat Arka dan Raina menoleh.
"Loh kenapa?" tanya Arka.
"Males ngeliat tingkah absurd nya dia, baru juga seminggu yang lalu ketemu," balas Cherry.
"Trus kemana dong?"
"Terserah,"
"Yaudah kalau gitu ke pantai aja," ucap Arka.
"Jangan pantai, anginnya terlalu kenceng buat Raina," balas Cherry.
"Yaudah terus kemana? Hm?" tanya Arka.
"Terserah kamu," balas Cherry.
"Puncak kayanya bagus.."
"Masa puncak sih?" sahut Cherry.
Arka mendengus kesal, "Tadi katanya terserah, tapi dipilihin tempat protes terus, maunya apa? Ribet bener," gumam Arka, namun bisa didengar oleh Cherry.
"Ngomong apa barusan?!"
"Siapa yang ngomong sih? Kamu salah denger, gak pernah bersihin kuping sih," celetuk Arka, membuat Raina menahan tawanya ketika melihat Cherry mendelik kesal.
"Sembarangan aja kalo ngomong!"
"Yaudah maaf atuh," kata Arka. "Lagian kalau kamu nggak mau kesana nggak papa, kan aku ngajaknya Raina bukan kamu," tambah Arka.
"Jahat banget sih kamu Ka!" kesal Cherry. "Nanti malem tidur diluar aja, gak usah dikamar."
"Yah jangan dong, jahat bener istri gue," Arka memelas.
"Biarin, emang aku pikirin?" sahut Cherry.
Raina yang sedari tadi menonton perdebatan antara Mama dan Papa nya itu hanya bisa senyum-senyum sendiri, entah kenapa Raina malah suka melihat yang seperti ini, mama muda dan papa muda asix.
"Mama sama Papa kalo mau pacaran jangan disini dong," ujar Raina membuat Arka dan Cherry langsung menoleh kearahnya bersamaan.
"Siapa yang pacaran?!" sahut mereka bebarengan dengan nada sewot.
Raina terkikik geli, "Ciyeeeee, barengan..."
"Suka deh kalo ngeliat kalian kaya gini," tambah Raina.
"Ini namanya berantem sayang, bukan pacaran, kenapa kamu malah suka? Heran." decak Arka.
"Berantemnya kalian itu romantis tau," ucap Raina.
"Iya emang dari dulu Papa romantis," sahut Arka sombong.
"Hilih, pencitraan!" timpal Cherry.
"Kan emang kenyataannya kaya gitu. Kamu sering nangis karena aku terlalu romantis," balas Arka pada Cherry.
"Enggak sampe nangis tuh," balas Cherry.
"Ohhh lupa? Yang dirooftop kafenya Nando itu apa kalo nggak nangis? Trus yang dipuncak? Dan selain itu masih banyak lagi," ucap Arka.
"Yayayaya," sahut Cherry dengan malas, akhirnya perempuan itu memilih mengalah saja.
Arka pun langsung tersenyum penuh kemenangan, lalu tangannya bergerak mengacak rambut Cherry didepan Raina, membuat Raina memekik tertahan.
"Ekhem....Rara disiniii..." sindir Raina sambil pura-pura batuk. Membuat Arka terkekeh.
"Yaudah, Rara maunya kemana?" tanya Arka pada Raina.
"Kemana aja, asalkan sama Mama Papa dan Kak Raka," balas Raina.
"Oke nanti Papa pikirin." kata Arka.
✨✨✨
Dua hari kemudian akhirnya Raina kembali pergi ke sekolah, ia menggunakan cardigan berwarna abu-abu tua, cewek itu datang bersamaan dengan Via. Raka? Sudah masuk ke kelasnya sendiri.
"Seminggu lo nggak masuk Alen nyariin lo terus tau ga Ra," ucap Via.
Raina menoleh kearahnya, "Oh ya? Dia nggak jadi marah sama aku?"
Via mengedikkan bahunya, "Jelasnya sih enggak. Tapi..selama nggak ada lo, dia semakin deket sama Freya.."
Raina menghela napas, "Gitu ya?" ujar Raina dan Via pun mengangguk.
"Itu bocil emang caper banget sama Alen. Gue kira dia itu polos nggak ngerti apa-apa, ehh ternyata begitu aslinya." ucap Via. "Emang bener ya jangan ngeliat orang dari tampangnya."
Saat mereka sedang berjalan dilorong utama, mereka tak sengaja berpapasan dengan Alen dan Freya. Raut wajah Alen menandakan bahwa ia sedang terkejut melihat kahadiran Raina disekolah ini setelah seminggu lamanya gadis itu tak ada kabar.
"Haii Alen.." sapa Raina sambil tersenyum, tetapi tanpa dugaan Raina cowok itu tidak membalas sapaannya. Alen hanya memasang wajah datar, kedua tangannya masuk ke dalam saku celana abu-abunya, dan masih pagi begini seragam Alen sudah keluar dari celana.
"Lo gak denger ya? Raina lagi nyapa lo!" tegur Via karena kesal melihat wajah Alen yang sangat menjengkelkan, seperti ingin digampar.
"Denger," sahut Alen cuek.
"Trus kenapa lo diem aja?! Kemarin-kemarin aja lo nyariin dia, nanya-nanyain dia kemana, kapan pulang, gimana kabarnya. Ehhh sekarang giliran orangnya ada didepan mata malah lo cuekin. Anda sehat?" tanya Via dengan satu tangan berada dipinggang.
"Iya itu kan kemarin, sekarang nggak." balas Alen, membuat Raina mematung ditempat, cewek itu kaget dengan jawaban Alen.
"Eh! Kok lo kayak gitu sih Len!" bentak Via marah.
"Lagian siapa yang betah nungguin dia yang nggak ada kabar. Pergi gak bilang-bilang, handphone nya gak aktif. Setiap hari gue dateng ke rumahnya, tapi selalu gak ada siapa-siapa. Kaya orang gila gue nge-khawatirin dia, dan dia dateng-dateng tanpa rasa bersalah sedikit pun?" Alen berujar tanpa menatap wajah Raina, padahal sedari tadi Raina menatapnya dengan wajah menahan rindu.
Memang sudah seminggu Raina tidak datang ke sekolah, tidak mengabari Alen, tidak melihat cowok itu, tidak mendengar suaranya. Tetapi sekalinya melihat dan mendengar suara yang dari kemarin ia rindukan kenapa jadinya malah seperti ini. Alen langsung menghujaminya dengan kalimat--yang menurut Raina itu agak nyelekit untuk didengar.
"Len, lo gak boleh bilang kayak gitu, lo gak tau hal yang sebenarnya kayak gimana. Gue tau lo khawatir banget sama Raina tapi jangan kaya gini juga, kasian tau dia. Seminggu yang lalu waktu terakhir ketemu sama Raina lo ngasarin dia, sekarang baru aja ketemu lo udah ngasarin dia lagi. Dia itu cewek, hatinya sensitif, gampang nangis, lo jangan seenaknya kalo ngomong." kata Via geram.
Alen menatap Via dengan muka datar, "Hal yang sebenarnya emang gimana? Lo bisa jelasin?"
"Raina itu sak--"
Raina meremat tangan kiri Via yang ia genggam sedari tadi, memberi kode agar cewek itu tidak memberitahu Alen yang sesungguhnya.
"Maaf Len kalau selama seminggu ini aku enggak ada kabar dan udah bikin kamu khawatir, aku enggak ada maksud sama sekali, maaf." ucap Raina sambil menatap lekat kedua mata Alen, tetapi Alen tidak menatapnya.
Lalu kedua mata Raina langsung mengarah ke tangan Freya, Freya sedang memegang tangan Alen, hal itu membuat Raina sedih. Lalu pandangannya beralih ke wajah Freya, ada plaster yang menempel didahinya, hal itu membuat Raina seketika ingat akan kejadian seminggu yang lalu.
"Frey, maaf ya atas kejadian seminggu yang lalu. Aku nggak sengaja," ucap Raina tulus.
Tetapi Freya malah balas memandangnya dengan muka tak enak dipandang, "Oke nggak papa. Harusnya sih dari kemarin bilangnya. Untung aja aku gak kenapa-napa." ucap Freya seperti menyindir.
"Heh Frey, kalo udah dimintain maaf tuh jawabnya yang bener, jangan nyinyir kayak gitu." balas Via gedek dengan Freya.
"Aku gak nyinyir, b aja tuh," sahut Freya.
Via menggeram lalu memandang Alen dengan tatapan menghunus, "Eh Len, lo habis diapain sama ini bocil? Dijampi-jampi? Dipelet? Sampe lo mau-maunya nempel-nempel terus sama dia, enggak gatel emang badan lo?" sinis Via.
"Nih ya Ra, gue kasih tau ke lo, gue sebenernya dari kemarin udah enek ngeliat Alen sama Freya terus. Gue bongkar aja ya biar lo tau Alen itu kayak apa waktu gak ada lo. Setiap hari berangkat pulang sekolah selalu sama Freya, ke kantin sama Freya, latihan sama Freya, pokoknya apa-apa sama Freya deh! Muak gue ngeliatnya setiap hari. Gak pernah mikirin perasaan pacarnya itu kayak gimana!" Via berucap sarkastik.
"Freya lagi sakit." hanya tiga kata itu yang keluar dari mulut Alen.
"Gobloookkkk! Alasan lo itu Len? Asalkan lo tau ya! Raina itu juga sakit! Sakitnya malah lebih parah dari itu bocil! Kalo Raina gak nyuruh ngerahasiain ini, gue udah teriak dari tadi!" geram Via, cewek itu berucap dalam hati.
"Sakit apaan? Sesek napas? Sakit kayak gitu doang aja manja! Nih, cewek yang ada disebelah gue lebih sakit! Sakit hati!" amuk Via menggebu-gebu sambil menunjuk Raina yang ada disebelahnya.
"Aku lebih dari sakit hati Via..." batin Raina.
Para murid yang berlalu lalang dilorong ini sempat memperhatikan mereka yang tengah ribut sedari tadi.
"Lagian, Kak Raina nya kaya gitu sih, pergi nggak ngasih kabar Kak Alen," sahut Freya.
"Gue gak ngomong sama lo ya bocil," balas Via kesal, membuat Freya mendengus dan memutar bola matanya malas.
"Jangan sampe pemikiran lo ketularan jadi kaya anak kecil gara-gara deket sama dia terus!" ucap Via ada Alen.
"Pacar lo siapa sih Len?! Raina atau Freya?!" tanya Via dengan emosi.
"Raina lah," sahut Alen cepat dengan refleks.
"Kalau pacar lo Raina, kenapa lo gandengan tangan sama Freya?! Kenapa lo deket-deket sama Freya?! Gak ada otak!"
"Kalau gue jadi Raina, udah gue putusin lo dari seminggu yang lalu!"
"Muka lo emang ganteng tapi sayang gak ada hati!"
"Dasar fuckboy!"
"Pergi aja yuk Ra, mulai hari ini gak usah duduk sama Alen lagi. Duduk sama gue aja," ucap Via, setelah itu Via langsung menarik tangan Raina untuk pergi dari hadapan Alen dan Freya.
Alen langsung melepaskan tangannya dari genggaman Freya, cowok itu menoleh ke belakang, melihat punggung Via dan Raina yang mulai menjauh. Alen kesal, lantas cowok itu langsung menendang kaleng minuman kosong yang ada didekat kakinya.
"Argh s**t!" umpat Alen.
✨✨✨
TBC
VOTE AND KOMEN YANG BANYAK