Hari-hari berlalu, Ujian Kenaikan Kelas sudah mulai berjalan, hari ini merupakan hari ke-tiga mereka Ujian. Masih kurang tiga hari lagi maka Ujian mereka akan selesai, kini adalah saat-saatnya mereka untuk menunjukkan kemampuannya, entah kemampuan mengerjakan soal sendiri, atau kemampuan mengerjakan soal dengan menyontek jawaban teman. Tapi hal seperti itu sudah biasa, banyak kok yang dari kemarin ketahuan mencontek oleh guru penjaga.
Ada yang hanya ditegur saja, ada yang dijewer telinganya, ada yang robek kertas jawabannya, dan ada pula yang sampai dikeluarkan dari kelas. Tapi untung saja hal itu tidak terjadi pada Alen, melainkan pada Devan. Cowok itu ketahuan mencontek jawaban Alen tadi, alhasil kertas jawabannya dirobek dan diganti yang baru. Devan sih ribut, manggil-manggil nama Alen gak ada akhlak, soalnya bangku mereka dipisah, mereka duduknya sendiri-sendiri.
Alen terduduk diam diatas bangku yang sudah peyot, cowok itu menatap kosong kearah depan, setelah selesai mengerjakan soal Ujiannya tadi, Alen langsung keluar dari kelas. Dan disini lah ia sekarang, diatas rooftop luas milik SMA Galaksi.
Alen mengetuk-ngetukkan kayu panjang yang sedari tadi ia pegang, mukanya terlihat datar tanpa senyum, dan itu terlihat menakutkan, apalagi alisnya Alen tebal, itu menambah kesan sangar lagi.
"Alen." suara panggilan itu berasal dari belakang tubuh Alen, suara yang sangat familiar ditelinganya, tanpa menoleh pun Alen sudah tau siapa pemilik suara itu.
Raina. Gadis dengan rambut panjang yang tergerai itu berjalan mendekat kearah Alen. Ia agak takut sebenarnya untuk mendekat, karena selama ini mereka jarang sekali mengobrol jika tidak membahas hal yang penting. Jadi, hubungan mereka kini kian merenggang.
Tangan Raina bergerak untuk menyentuh bahu Alen, Alen yang mendapatkan sentuhan secara tiba-tiba itu langsung dibuat terkejut, entah kenapa jantungnya jadi berdetak tak karuan, cowok itu sangat rindu pada gadis ini, sudah sekian lama mereka tidak terlihat bersama.
Raina berjalan maju ke depan, ia juga ingin duduk disebelah Alen, tetapi Raina izin dulu, "Boleh aku duduk disini?" tanya Raina.
"Boleh," sahut Alen masih menatap ke depan.
Raina pun langsung duduk disebelah Alen, hanya ada keheningan diantara mereka. Sumpah, ini adalah momen ter-awkward yang pernah Raina rasakan selama bersama Alen. Bisa saja cowok itu terlihat acuh didepan Raina, padahal aslinya ia menahan untuk tidak bertanya.
"Alen?" panggil Raina lagi, lalu Alen berdehem.
"Kita masih pacaran kan?" tanya Raina sambil menoleh kearah Alen. Cowok itu pun melakukan hal yang sama, ia juga menoleh kearah Raina.
"Kalau lo masih nganggepnya gitu, berarti ya masih," balas Alen.
"Kamu masih marah ya?" tebak Raina tetapi Alen hanya diam saja.
"Maaf Alen..." lirih Raina.
Alen meliriknya, "Lo udah terlalu banyak minta maaf, jangan kebanyakan minta maaf sama orang."
"Aku selalu minta maaf karena dari kemarin-kemarin kamu belum maafin aku," ucap Raina, nadanya terdengar lesu.
"Liat Ra, ini apa?" Alen bertanya secara tiba-tiba, cowok itu menunjukkan beling yang kini sudah ia pegang.
Raina melihatnya, "Beling, kenapa?" tanya Raina bingung.
Alen tiba-tiba menggenggam beling itu terlihat sangat kuat, membuat Raina membulatkan matanya, gadis itu terkejut dengan hal yang dilakukan oleh Alen.
"Alen! Kamu ngapain! Lepas belingnya! Nanti tangan kamu berdarah!" pekik Raina, gadis itu mengambil tangan Alen dan berusaha membuka genggaman tangan itu.
Raina semakin terkejut saat melihat ada darah segar yang mengalir dari telapak tangan Alen, tetapi cowok itu seperti tidak merasakan apa-apa, ia seperti mati rasa.
"Alen gak usah gila! Sadar! Jangan sakitin diri kamu sendiri!" Raina masih terus berusaha membuka tangan Alen.
"Nggak sakit Ra, lebih sakit ngeliat lo hilang tanpa kabar," kata Alen.
"Buka tangannya!" Raina berteriak.
Raina terus memaksa agar Alen membuka kepalan tangannya, karena darah segar berwarna merah itu sudah mengalir terus sedari tadi, membuat Raina ngeri dan takut sendiri melihatnya. Sampai akhirnya tangan Alen itu terbuka, ehm sangat mengerikan, Raina meringis ngilu.
Alen langsung melempar beling itu ke sembarang tempat, mata Raina terpejam, tetapi kedua tangannya bergerak untuk meraih tangan Alen. Saat sudah tersentuh, tangan Raina bergetar, lalu gadis itu membuka matanya perlahan, ia mencoba berani.
"Sshh." Raina meringis sambil menggigit bibir bawahnya.
"Ayo ke UKS, ini harus cepet dibersihin terus diobatin, kalau nggak nanti bisa infeksi," ujar Raina khawatir.
Alen menarik tangannya, cowok itu langsung turun dari meja, menatap Raina beberapa detik lalu langsung pergi begitu saja, dengan tangan yang dijatuhkan seperti biasa, membuat darahnya menetes hingga ke lantai.
"Alen mau kemana?" tanya Raina, cewek itu langsung turun dan menyusul kepergian Alen.
Raina turun dari rooftop, gadis itu berusaha menyamai langkah Alen yang lebih besar dari langkahnya. Alen berjalan menuju ke ruang UKS, cowok itu ingin mengobati lukanya sendiri.
Setelah sampai, Alen langsung menuju wastafel yang ada disana, dan langsung mencuci darah yang ada ditelapak tangannya sampai bersih, tetapi darahnya tetap saja mengucur.
"Aku ambilin kotak P3K dulu ya Len," ucap Raina, lantas gadis itu langsung mengambilnya.
Saat Alen masih menaruh tangannya itu dibawah aliran air keran, tiba-tiba saja ada Freya yang datang dengan raut wajah panik.
"Astaga, tangan kamu kenapa Kak?" tanya Freya langsung menghampiri Alen.
"Gak apa," sahut Alen.
"Darahnya banyak banget, harus cepet-cepet diobatin Kak, nanti bisa infeksi..." ujar Freya seperti Raina tadi.
Saat Raina baru kembali dengan kotak P3K ditangannya, seketika dirinya terdiam saat melihat ada Freya yang datang kesini.
"Mana P3K nya, biar aku aja yang obatin. Kak Raina balik ke kelas aja, udah ada aku disini, Kak Alen gak butuh kamu," kata Freya pada Raina sambil merebut kotak P3K nya.
Raina masih terdiam ditempat, kini kotak P3K itu sudah berada ditangan Freya. Cewek itu sudah mulai meneteskan alkohol ke tangan Alen. Raina hanya bisa menatap Alen dengan kecewa, Alen tidak menolak perlakuan Freya terhadapnya, padahal sudah jelas-jelas Raina yang notabene nya masih pacar Alen sedang berada dihadapannya saat ini.
Alen balas menatap Raina dengan tatapan biasa saja, cowok itu seperti tidak ada rasa bersalah sama sekali, dan hal itu membuat Raina semakin jengkel. Akhirnya dengan perasaan tidak suka Raina langsung pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua di UKS ini.
"Gue mau ingetin satu hal sama lo Frey," ucap Alen membuat Freya mendongak dan menghentikan aktivitasnya.
"Apa Kak?"
"Sebentar lagi lo harus jauh-jauh dari gue." kata Alen pada Freya.
✨✨✨
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi nyaring lima menit yang lalu, karena hari ini adalah hari-hari Ujian, jadinya jadwal jam pulangnya tidak sampai sore. Para murid-murid sudah berbondong-bondong keluar kelas dan berjalan menuju parkiran atau pintu gerbang sekolah. Rasanya lega karena telah melaksanakan Ujian hari ini, apalagi hari ini jadwalnya adalah matematika, jadinya mereka langsung bisa santuy pada hari-hari esok.
Raina berjalan keluar kelas bersama dengan Via, kedua cewek itu berjalan menuju lorong utama yang akan membawa mereka ke parkiran yang dekat dengan gerbang sekolah.
"Hari ini Kak Raka nggak sekolah, aku pulangnya gimana ya Vi?" tanya Raina pada Via, karena hari ini Raka izin tidak masuk sekolah karena sakit, jadinya ia nanti akan mengikuti Ujian susulan sendiri.
"Gimana ya Raa? Hari ini gue dijemput naik motor sama Bunda gue, jadinya kalo lo mau bareng nggak mungkin bisa..." balas Via dengan jujur.
Raina melemaskan bahunya, gadis itu tampak jelek mood nya hari ini.
"Sama Alen aja gimana Ra? Lo mau?" tanya Via.
Raina mengerutkan keningnya, "Masa sama Alen sih? Hubungan aku sama dia itu lagi gak baik," balas Raina.
"Ohh...iyaya Ra..gue lupa." ucap Via sambil meringis.
"Devan dimana ya?" tanya Raina.
"Devan kan masih ngerjain soal Ujian, dia kan ngulang lagi tadi, jadinya pasti lama kalo nungguin tuh cowok, lagian bebel amat, udah dibilangin jangan nyonyek tetep aja badung! Udah ke-dua kalinya dia kayak gitu," oceh Via.
"Sama Zidan aja Ra!" seru Via membuat Raina menggeleng cepat.
"Nggak ah nggak! Apaan, nggak mau." tolak Raina.
Via menghela napas, "Yaudah, kalo gitu enggak ada pilihan lain, lo pulangnya bareng Alen aja. Ayo cari dia diparkiran, kayaknya tuh cowok belum pulang," ujar Via, lalu tanpa basa-basi lagi Via langsung menarik tangan Raina untuk ikut dengannya menuju parkiran.
Sesampainya diparkiran, kedua perempuan itu celingak-celinguk mencari keberadaan motor Alen.
"Nah, itu dia Ra! Beneran kan dia belum pulang!" seru Via bersemangat, lalu ia kembali menarik Raina untuk menghampiri Alen, cowok itu parkir motor dibawah pohon rindang.
Saat Raina dan Via sudah sampai didekat Alen, Via langsung berujar, "Len, pulang barengin Raina ya! Raka hari ini gak sekolah, jadinya dia gak ada barengan," ucap Via pada Alen saat cowok itu baru saja ingin memakai helm.
Saat Alen ingin menyahut tiba-tiba saja ada Freya yang datang dan langsung mendekati Alen.
"Gak bisa, Kak Alen udah sama aku, dia udah janji mau nganterin aku terapi oksigen terus nganterin aku pulang," sambar Freya.
"Heh, lo siapanya Alen? Yang pacarnya Alen itu Raina, bukan lo! Jadi gak usah bersikap seakan-akan lo itu pacarnya Alen deh ya!" omel Via, siang-siang bolong begini Via sudah tersulut emosi.
"Tapi Kak Alen nya bakalan tetep mau nganterin aku, bukan nganterin Kak Raina." balas Freya.
Via menatap Freya jengkel, lalu ia menatap Alen, "Lo mau nganterin dia Len? Lo gak mau nganterin Raina?" tanya Via pada Alen.
"Iya." hanya itu balasan dari Alen.
Via mendelik tak percaya, ia lantas melirik kearah Raina yang sedang menampakkan guratan kesedihan diwajahnya, hal itu membuat Via semakin geram. Tangan Raina menggenggam erat tangan Via, gadis itu seperti tengah menguatkan dirinya sendiri.
"Raina pacar lo loh Len. Tapi lo lebih pilih nih bocil? Ewh," cibir Via menatap jijik kearah Freya.
"Karena Freya mau terapi oksigen," balas Alen, hal itu membuat Freya langsung mengembangkan senyum kemenangannya pada Via.
Saat Via ingin bergerak maju, tiba-tiba saja Raina menahannya, "Udah nggak papa Vi, aku bisa pulang sendiri kok. Masih bisa naik taksi, atau pesen grab," kata Raina, terdengar jika nada suaranya bergetar.
"Tapi Ra--"
"Nggak apa-apa Vi, yaudah ya, aku pulang duluan." pamit Raina pada Via, lalu gadis itu langsung pergi tanpa menatap Alen sedikit pun.
"Ra! Raina!" panggil Via, tetapi Raina tak mengindahkannya.
Alen, Via dan Freya menatap kepergian Raina, gadis itu berjalan cepat kearah gerbang, sampai dirinya tak lagi terlihat ditikungan jalan.
Via sudah kehabisan kesabaran, memang cowok b******k seperti Alen ini harus diberitahu dengan cara kasar agar mengerti. Via juga perempuan, jelas ia tahu bagaimana perasaan gadis itu, pasti hatinya sakit.
Via maju mendekat kearah Alen, kedua tangannya mengepal disamping badan, tatapannya menusuk tajam kearah Alen, terlihat sangat nyalang.
Via mendorong d**a Alen dengan kuat, hingga cowok itu agak terhuyung ke belakang dan hampir menabrak motornya. Hal itu membuat Alen dan Freya sama-sama terkejut.
"b******k!"
"Percuma otak lo pinter kalau lo gak punya hati sama aja!"
"Gue udah kesel selama ini ngeliat perilaku lo Len! Gue udah gedek banget ngeliat lo sama Freya! Jijik tau gak! Otak lo itu dimana sih? Raina itu pacar lo, harusnya lo lebih mentingin dia ketimbang ini bocah!" Via menujuk Freya dengan telunjuknya.
"Freya sakit," sahut Alen.
Via semakin menggeram, ia sudah tidak bisa menyembunyikan rahasia ini pada Alen lagi, ia harus mengatakannya, ini demi kebaikan Raina, agar Alen sadar dan tidak menyakiti hati Raina lagi.
"Asalkan lo tau ya, selama ini Raina nyembunyiin sesuatu dari lo, yang selama ini gak pernah lo tau," ujar Via.
"Apa?"
"Raina itu sakit. Lo tau dia sakit apa? Leukemia, itu kanker darah. Udah dua bulan dia menderita sakit itu, tapi dia gak pernah mau bilang sama lo!"
"Lo tau alasannya apa? Dia nggak mau lo khawatir, dia nggak mau ngerepotin lo, dia nggak mau buat lo kepikiran. Kurang baik apa Raina? Kurang sabar apa Raina ngadepin sikap lo?"
Alen malah terkekeh seakan tak percaya, "Lo nggak usah bercanda Vi."
Via semakin menatap Alen dengan tajam, "Gue gak lagi bercanda, apa lo liat dimuka gue kalo gue lagi bercanda?!"
"Gue terpaksa harus bilang ini ke lo, nggak papa kalau misalnya nanti Raina marah sama gue gara-gara udah ngasih tau hal ini ke lo. Yang penting lo sadar!"
"Lo tau kanker leukemia kan? Itu kanker bahaya banget Len, itu kanker jaringan pembentuk darah yang bisa buat penderitanya meninggal."
"Penyakit yang diderita Raina lebih berat dari penyakit sesek nafas yang diderita sama dia!" Via lagi-lagi menunjuk Freya dengan tampang emosi. "Lo itu terlalu lemah Frey! Terlalu manja! Terlalu caper buat deket-deket sama Alen! Penyakit yang selama ini diderita sama orang yang selalu lo jagain dan selalu lo jadiin alesan, itu gak sebanding sama penyakitnya Raina!"
"Udah sadar atau belum lo Len? Masih gak percaya? Lo inget waktu kita gak sengaja ketemu di Rumah Sakit tepat didepan ruang ICU? Lo tau itu yang lagi dirawat disana siapa? Raina. Itu Raina! Pacar lo!"
Alen terdiam membisu ditempat, tubuhnya seakan-akan menjadi patung, lidahnya terasa kelu untuk sekedar berbicara. Matanya menerawang membayangkan wajah Raina.
"Apa lo bakalan nunggu Raina meninggal dan pergi ninggalin kita semua baru lo akan sadar?!"
"Buka mata lo! Pake otak lo! Gue harap otak lo gak ketinggalan dirahim nya nyokap lo."
"Satu minggu kemarin waktu Raina gak sekolah, dia bilang ke gue kalau misalnya lo nyariin dia, gue disuruh bilang kalau Raina ada acara keluarga, padahal gak ada. Raina itu seminggu dirawat di Rumah Sakit." ujar Via, hatinya seketika terasa sesak karena ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Raina.
Rasanya bagai dihantam ribuan beton, jantung Alen berpacu sangat cepat, rasanya mengetahui hal ini Alen sangat terkejut, ia merasa menjadi cowok ter-b******k yang pernah ada didunia. Bagaimana bisa selama ini Alen tidak tahu? Bagaimana bisa selama ini Alen malah menjaga perempuan lain? Bagaimana bisa selama ini Alen malah berdekatan dengan Freya padahal pacarnya sendiri juga sedang sakit, bahkan lebih parah.
"Ngomong dong! Kenapa diem aja? Lo mendadak bisu?" Via bertanya dengan ngegas.
Alen mengusap wajahnya dengan satu tangan, lalu ia menghembuskan napasnya berat.
"Ohh gue tau, pasti lo langsung merasa bersalah banget kan sama dia? Bisa lo bayangin sesakit apa hatinya Raina selama ini? Lo itu terlalu b******k buat Raina yang baik ."
"Lo juga dari kemarin malah nyuekin dia, alasannya hanya karena Raina gak ngabarin lo kan? Basi banget alasannya," kata Via.
"Buat lo!" Via menatap Freya sambil menunjuk wajahnya, "Kecil-kecil nggak usah belajar jadi pelakor ya, lo bangga gitu kalau bisa jalan dan deket sama cowok orang? Cih," maki Via.
"Disekolah itu tempat buat belajar, bukan buat jadi pelakor. Muka lo doang polos tapi kelakuannya burik."
"Percuma lo cantik kalau kerjaannya gatel sama cowok orang. Masih kecil aja udah kaya gini, kalau udah gede mau jadi apa lo?" ucap Via pada Freya.
Freya menggertakkan rahangnya, wajahnya sangat annoying, seperti ingin dicakar. Kalau saja ini tidak sedang disekolah, pasti Via sudah geregetan dan langsung mencakar-cakar wajahnya untuk mewakili Raina.
"Woy!" Via mendorong bahu Alen, "Udah sadar belom?! Perlu gue siram air selokan? Biar bau lo busuk sama kaya hati lo. Masih mau nyakitin Raina? Masih mau deket-deket sama Freya? Jawab dong, jangan diem aja." ujar Via, salah satu sudut bibirnya terangkat.
"Gue saranin buat cepet-cepet minta maaf ke Raina, sebelum terlambat. Karena kesempatan itu nggak akan datang dua kali. Dan, penyesalan itu ada diakhir." kata Via, lalu cewek itu langsung pergi meninggalkan Alen dan Freya.
Via pergi menjauh, cewek itu langsung merasa lega saat mengatakan semuanya, biar saja, biar Alen cepat sadar.
Alen berteriak frustasi, cowok itu mengacak rambutnya dan meninju batang pohon berkali-kali sampai berbunyi keras, padahal luka yang tadi baru saja dililit perban. Tetapi ia sudah melukai kembali tangannya, buku-buku jarinya sampai memerah.
"Stupid, and that is me. Anj**g!"
✨✨✨
TBC
SILAHKAN VOTE DAN KOMEN
SEE U NEXT PART!!!

-Alen Dirgantara-