31. Tengah Malam

2442 Kata
“Menangis adalah cara hatimu berbicara ketika bibir tidak mampu menjelaskan rasa sakit yang kau rasakan” —Raina Arkayla. Pukul 23.56 Suara dentuman musik DJ yang sangat keras dan juga lampu disko warna-warni itu kini tengah menemani banyak orang yang datang ke tempat haram ini. Dilantai dansa banyak kaum perempuan dan laki-laki yang sedang berjoget ria sambil berloncat-loncat mengikuti irama musik, mereka nampak asik sendiri dengan dunia malam. Alen Dirgantara. Sudah tiga jam lamanya cowok itu berada ditempat ini, club malam yang isinya didominasi oleh cewek-cewek malam yang berpakaian minim dan om-om berduit. Kenyataan yang baru saja ia terima, menjadikan tamparan keras untuknya. Alen memang b******k, ia masih terus memaki dirinya sendiri karena kesalahan fatal yang telah ia buat pada Raina. Gelas demi gelas alkohol sudah mengalir membasahi tenggorokannya, dunia malam itu kini menjadi tujuan Alen untuk menenangkan pikirannya yang sedang kalut, walaupun dipikirannya terus saja terbayang wajah Raina. Kepala Alen semakin pusing, jelas saja, cowok itu sudah minum sangat banyak, ditambah lagi suara dentuman musik yang begitu keras memasuki pendengarannya. "Len, udah woy! lo minum terus kaga berhenti-berhenti, kasian badan lo ntar," ujar Devan pada Alen sambil menyingkirkan gelas yang dipegang Alen. Namun Alen malah mengabaikan perkataan Devan, cowok itu terus meminum minumannya sampai habis, diisi lagi, habis, lalu diisi lagi dan begitu seterusnya. Devan yang melihatnya mengacak rambutnya frustasi, cowok itu jengkel pada temannya yang satu ini, karena tidak bisa dibilangin. "Ra, jangan marah.." racau Alen. "Maaf Ra.." "Aku bener-bener bodoh, aku nggak tau kalau kamu sakit." "Jangan pergi tinggalin aku Ra," "Aku nggak mau kehilangan kamu." racau Alen lagi, cowok itu dalam keadaan setengah sadar. Devan menampar pipi Alen agak keras, "Istighfar Len, istighfar....!" "Raina nangis kalo tau lo kayak gini," ucap Devan. "Dari kemarin Raina juga udah nangis gara-gara gue." sahut Alen. "Makanya jangan g****k-g****k jadi orang Len Len.." kata Devan. "Jadinya gini kan sekarang? Hubungan lo sama dia udah diambang antara putus atau nggak." "Jangan putus lah!" sahut Alen cepat. "Yaudah makanya minta maaf sana, bukannya malah mabuk-mabukan kaya gini, kalo misalnya tadi gue gak ngikutin lo, udah pasti pingsan disini lo Len," ujar Devan. Berita tentang Raina yang mengidap penyakit leukimia itu juga sudah didengar oleh Devan, cowok itu benar-benar terkejut. Ia kasihan pada gadis itu, pada masa-masa remajanya ia malah ditimpa penyakit seberat itu. Ditambah lagi sudah dibuat sakit hati oleh Alen, makin jadi plus-plus. Tiba-tiba saja ada seorang cewek yang datang dan membelai pipi Alen dengan genit. "Hai sayang," ucap cewek berpakaian minim tersebut. Alen memicingkan matanya, "Pingkan, ngapain lo disini?" tanyanya masih dalam keadaan setengah sadar karena pengaruh alkohol. "Mau nemenin lo lah Len, ngapain lagi emang?" balas Pingkan sambil menggelayutkan tangannya dileher Alen. Karena merasa risih Alen langsung menyentak tangan itu, membuat Pingkan cemberut karena Alen menolaknya. "Kenapa sih Len?" tanya Pingkan, cewek itu berbicara dengan wajah yang sangat dekat dengan Alen. "Gimana sama Freya? Lo jadinya pilih Raina atau Freya? Enggak usah pilih mereka ya, pilih gue aja," ucap Pingkan. Alen berdecak, cowok itu lagi-lagi menolak perbuatan Pingkan, walaupun dalam keadaan mabuk begini Alen masih sadar. "Udah mending lo minggir!" usir Alen. "Ihh kurang apa sih gue Len? Sampe lo terus-terusan nolak gue?" tanya Pingkan dengan kesal. Alen tak membalas perkataannya, cowok itu langsung bangkit dari duduknya, sebelum pergi Alen masih sempat meminum vodka nya yang sisa sedikit. Lalu cowok itu mengambil jaket, ponsel dan kontak motornya, setelah itu Alen langsung pergi begitu saja. "Woi, mau kemana lo nyet!" panggil Devan. Cowok itu lantas mengikuti kepergian Alen. "Alennnn!!! Ish!" teriak Pingkan sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal. Alen berjalan keluar sampai dengan parkiran, cowok itu agak sempoyongan karena kepalanya pusing, setelah mencapai motornya ia segera memakai helm dan menaiki motornya itu. "Woi monyet! Lo mau pulang naik motor sendiri?!" Devan bertanya dengan ngegas. "Jangan bahayain diri lo sendiri. Lo kalo naik motor udah kayak orang kesetanan, ditambah lagi sekarang lo mabok. Jadi apa lo ntar? Yang ada bukannya nyampe rumah, malah nyampe kuburan lo!" kata Devan. Tetapi Alen tak mengindahkannya, cowok itu kini sudah memundurkan motornya, dan sudah menyalakan mesinnya. "Wah ngeyel kalo dibilangin ni anak," kata Devan lagi, dan lagi-lagi Alen tak mendengarkannya, cowok itu sudah meng-gas motornya berkali-kali sampai berbunyi nyaring. "b***k lo ya!?" "Jangan balapannn Alennn! Ya Allah! Allahuakbar! Gua masih sayang ama lu Len, lebih tepatnya sama otak lu, ntar kalo lu dead gimana?! Yang ngasih gue contekan siapaaa?! Ujiannya masih kurang tiga hari lagi! Nanti kalo gua gak naik kelas gimanaaa?!" Devan memekik sangat dramatis, ia juga mengacak rambutnya frustasi karena temannya yang satu ini tidak bisa dibilangi. "Plissss Len, plissss! Jangan balapan sekarang, lo lagi mabok!" "Sayangi nyawamu!" "Hidup cuma satu kali!" "Nanti Raina nangis kalo tau lo mati Len. Kalo lo mati trus ntar yang jadi pacarnya Raina siapa? Gue? Ehm ya gue mau-mau aja sih," kata Devan. Alen melirik Devan tanpa ekspresi, cowok itu malas mendengarkan ocehan Devan yang sangat ngelantur dan tidak jelas. Maka dari itu, akhirnya Alen langsung melajukan motornya meninggalkan Devan sendirian. "Woyyyyyy?! Istighfar Len! Jangan kebut-kebutannnnn!!!" teriak Devan. "Ya Allah lindungilah teman hambamu ini," Devan mengangkat kedua tangannya, berdoa. ✨✨✨ Pukul 01.15 Raina membuka matanya secara tiba-tiba, tengah malam seperti ini adalah kebiasaannya untuk selalu buang air kecil. Raina duduk lalu menyibak selimut tebalnya, gadis itu langsung berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk membuang air kecil. Lima menit kemudian akhirnya Raina keluar dari kamar mandi, gadis itu menguap sambil mengucek matanya yang kini membengkak karena sedari tadi pulang sekolah gadis itu menangis. Tadi jadinya Raina pulang naik go-car, gadis itu sudah menangis mulai dari dirinya meninggalkan parkiran tadi siang. Raina duduk dipinggiran kasur, entah kenapa tiba-tiba saja kantuknya hilang, Raina jadi kesal jika seperti ini, pasti ia akan sulit tidur sampai nanti subuh. Akhirnya gadis itu memilih untuk menonton tv saja dengan volume yang sangat kecil agar tidak mengganggu yang lainnya. Dok dok dok! Dok dok dok! Raina berjengit karena terkejut, cewek itu baru saja mendengar ada suara gedoran dari luar pintu kaca balkonnya. Jantung Raina menjadi berdegup tak karuan, ia jadi merasa takut. Siapa yang mengetuk pintu kamarnya tengah malam begini? Pintu balkon lagi. Karena ketakutan Raina akhirnya langsung bersembunyi dibalik selimutnya, cewek itu menutupi semua badannya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Matanya mencoba memejam untuk kembali tidur, tetapi tidak bisa. Televisinya masih menyala, jelasnya bayangan cahaya tv nya akan terlihat dari luar walaupun sudah ditutupi oleh gorden. Dok dok dok Dok dok dok Sial! Pintu kacanya masih terus saja diketuk dari luar, Raina kini menjadi berkeringat karena saking takutnya, padahal AC kamarnya sudah hidup. "Siapa sih?!" ucap Raina dibalik selimut. "Eh, tadi aku kunci atau nggak ya? Aduhhh!" Raina semakin parno. Dok dok dok Raina berdecak, akhirnya cewek itu langsung menyibak kembali selimutnya sambil menoleh kearah balkon kamarnya. Astaga. Raina bisa melihat bayangan sesuatu disana. Entah mendapatkan keberanian dari mana akhirnya cewek itu langsung berdiri menapak lantai, dan langsung berjalan perlahan kearah pintu balkon. Pintu balkon kamar Raina itu terbuat dari kaca yang transparan, jadi walaupun sudah ditutupi oleh gorden yang panjang tetap saja bayangan dari luar kelihatan. Raina terus melangkahkan kakinya, setelah hampir sampai cewek itu langsung mengangkat tangannya untuk membuka kunci, dengan perlahan tapi pasti. Cklek Pintu sudah tidak lagi terkunci, kini tangan Raina memegang gagang pintu untuk ia geser ke samping. Srekkk Raina terkejut bukan main, tanpa aba-aba atau permisi terlebih dahulu tiba-tiba saja ada seseorang yang tengah memakai kaos hitam polos menabrak tubuhnya, laki-laki itu memeluknya dengan sangat erat, seakan tak ingin kehilangan. "Maaf Ra." ucap Alen. Alen lah yang sedari tadi mengetuk-ngetuk pintu balkon kamar Raina, cowok itu nekat kesini malam-malam setelah selesai berkelana tidak jelas dijalanan tadi. Alen tidak jadi balapan, cowok itu memilih mengelilingi kota Jakarta sampai jadinya berakhir dirumah Raina. "Alen. Kamu habis minum ya." tebak Raina. Raina bisa mencium bau alkohol dari tubuh Alen, Raina bisa menebak pasti Alen habis mabuk. Raina mencoba melepaskan pelukannya dari Alen, tetapi Alen malah semakin mengeratkannya, membuat Raina kesusahan bernapas. "Alen, lepasin. Aku kesusahan napas." keluh Raina dan akhirnya Alen langsung melepaskannya. Alen menundukkan kepalanya agar bisa mensejajari tatapan Raina, tatapannya sangat sayu memandang Raina, matanya juga memerah. "Masuk aja, diluar dingin." kata Raina, akhirnya Raina mengajak Alen masuk ke dalam, lalu gadis itu menutup kembali pintunya tanpa dikunci, agar angin dari luar tidak masuk ke dalam. Raina dan Alen duduk dipinggiran kasur, Alen terus saja menatap Raina dengan tatapan bersalahnya, setelah Via mengungkapkan semuanya tadi, kini Alen langsung tersadar akan semuanya. "Kamu ngapain malem-malem kesini? Mabuk lagi," ucap Raina dengan tidak suka. "Maaf Ra. Maafin aku, aku udah bikin kamu sakit hati dan jatuh se-jatuh-jatuhnya, aku nggak maksud buat kamu kaya gitu, Ra." ujar Alen, kali ini Alen mengatakannya dengan keadaan sadar. Raina hanya bisa diam sambil terus menatap kedua mata Alen yang sayu. "Jangan pernah berfikiran untuk pergi Ra, jangan." "Aku nggak pernah ada maksud buat nyakitin hati kamu, Ra." kata Alen, kedua tangannya menggenggam tangan kanan Raina. "Tapi kenapa dari kemarin kamu deket sama Freya terus? Padahal kamu tau kalau aku itu pacar kamu," balas Raina. "Maaf karena aku nggak bilang sama kamu sebelumnya, selama ini aku cuma nepatin janji aku sama dia, dia nyuruh aku buat selalu ngejagain dia. Dan aku deket sama dia nggak ada alasan lain Ra, aku nggak pernah suka sama Freya," ucap Alen. "Jadi selama ini kamu deket sama dia karena hal itu?" tanya Raina dan Alen pun mengangguk. "Maaf karena selama ini aku selalu buat kamu nangis, buat kamu kecewa, buat kamu sedih, aku tau aku b******k. Dari awal aku emang udah sadar kalau aku nggak pantes buat kamu Ra," kata Alen. "Aku bener-bener merasa bersalah banget sama kamu Ra, apalagi saat tau kalau kamu sakit. Kenapa kamu nggak bilang ke aku Ra?" tanya Alen. Raina langsung menunjukkan raut wajah terkejut, darimana Alen tahu kalau dirinya sedang sakit? Hatinya kini semakin bergemuruh tak karuan. "Kenapa kamu nyimpen sakit ini sendirian? Apa gunanya aku jadi pacar kamu Ra? Kalau aku tau ini dari awal aku akan terus jagain kamu, bukan malah jagain cewek lain.." kata Alen lagi. "Karena aku nggak mau ngerepotin kamu Alen, aku nggak mau kamu kepikiran, aku nggak mau kamu terbebani sama penyakit aku..." balas Raina, kedua matanya kini mulai memerah, tatapannya sendu. Alen menggeleng, "Nggak ada yang terbebani Ra. Kamu seharusnya cerita sejak awal, biar nggak kejadian kaya gini. Sampai sekarang bahkan aku masih susah buat maafin diri aku sendiri Ra. Aku tau kata maaf nggak akan cukup buat kamu maafin aku," "Apa kamu masih mau maafin cowok b******k kaya aku Ra?" tanya Alen, diwajahnya terlihat jelas bahwa Alen sangat berharap jika Raina akan memaafkannya. "Bagaimana kamu bisa mengucapkan kata 'maafkan aku' saat kamu sendiri tau bahwa kata-kata itu enggak cukup. Dan bagaimana kamu bisa minta aku untuk maafin kamu sedangkan kamu sendiri belum bisa maafin diri kamu sendiri? Kamu harus maafin diri kamu sendiri dulu Alen," kata Raina. Alen menghela napasnya berat, "Sulit Ra, untuk maafin diri sendiri." "Kalau gitu aku juga nggak akan maafin kamu," balas Raina. Alen terdiam sejenak, "Iya Ra, maaf. Aku maafin diri aku sendiri, jangan benci aku, Ra." ucap Alen. Raina tersenyum, lalu berucap, "Aku maafin kamu, enggak mungkin aku enggak maafin kamu. Buat apa juga aku benci sama kamu? Lagian aku lagi sakit Alen, aku butuh banyak orang untuk sayang sama aku, aku butuh banyak orang untuk nyemangatin aku buat lawan penyakit ini, biar aku cepet sembuh, itu pun kalau Tuhan berkendak ingin aku sembuh, kalau Tuhan berkehendak lain? Aku bisa apa? Aku cuma bisa terima," kata Raina dengan air mata yang sudah berkaca-kaca, terlihat jelas diwajahnya kepedihan yang mendalam. Dengan cepat Alen langsung menarik Raina ke dalam dekapannya, cowok itu memeluk Raina dengan sangat erat, memberikan kehangatan untuknya. Didalam pelukan Alen, Raina malah semakin menangis kejer, gadis itu terisak merasakan sakit yang begitu dalam menjalar luas didalam hatinya. Alen semakin mengeratkan dekapan tangannya ditubuh Raina, cowok itu mengusap rambut panjang Raina yang kini mulai menipis akibat kemoterapi yang Raina jalani. Alen memejamkan kedua matanya, cowok itu bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Raina, perasaan itu seakan-akan menjalar. "Ra, kamu harus kuat, aku yakin kamu pasti bisa ngelawan penyakit ini. Kamu pasti sembuh," kata Alen, memberi semangat. "Tapi apa aku kuat Len? Selama dua bulan ini aku selalu kesakitan terus, aku harus rajin minum obat, aku harus rajin kontrol ke Dokter, aku juga harus rajin kemoterapi, dan aku nggak suka itu Len. Terapi itu buat aku gampang lelah, terapi itu buat aku sering muntah, terapi itu buat rambut aku rontok, aku enggak mau rambut aku habis, nanti semua orang takut ngeliat aku karena aku jelek.." Raina berbicara sambil menangis terisak. Alen kembali menenangkannya, "Ssttt, enggak akan ada yang takut ngelihat kamu Ra, kamu itu cantik, selalu cantik, mau kaya gimana pun fisik kamu, mau kaya gimana pun kondisi kamu, kamu itu tetep cantik Ra, selalu cantik, enggak pernah kurang, apalagi dimata aku, Ra." ujar Alen tulus dari dalam hati. "Kalau kamu lagi kesakitan bilang sama aku Ra, biar kamu enggak ngerasain sakit itu sendirian, biar kamu enggak nanggung sakit itu sendirian. Ada aku Ra, aku bakalan selalu ada buat kamu." kata Alen, suaranya parau. "Nanti kalau tiba-tiba aku enggak kuat terus tiba-tiba nyawa aku diambil sama Tuhan gimana? Aku bakalan pergi ninggalin kamu, ninggalin Mama, Papa, Kak Raka, dan semuanya." ucap Raina dengan suara bergetar, tangisannya begitu pilu. "Hei, kamu ngomong apa? Kamu enggak boleh ngomong kaya gitu Ra, kamu harus yakin kalau kamu pasti sembuh. Kamu harus terus berusaha dan terus berdoa sama Tuhan, semuanya sayang sama kamu Ra, semuanya enggak mau kamu pergi, kamu harus tetep disini Ra, sama kita semua." ujar Alen, cowok itu berbicara tepat disebelah telinga Raina. "Kamu kuat Ra, kamu pasti bisa." ucap Alen, jujur hatinya saat ini sangat sakit mendengar Raina bertutur sepeti tadi. Ia benar-benar tidak ingin kehilangan Raina dalam hidupnya. Ia sangat menyayangi Raina. Raina melonggarkan pelukan mereka, kedua matanya yang basah itu menatap manik mata Alen yang sendu dan memerah. "Makasih Alen," ucap Raina, berusaha untuk tersenyum. "Enggak ada kata makasih Ra, semuanya aku lakuin karena memang ini tugas aku. Aku sayang banget sama kamu Ra, jadi jangan pergi ya?" kata Alen lembut, sambil mengusap air mata Raina. Raina mengangguk, sambil menjawab, "Aku juga sayang banget sama kamu Len." Dan, bertepatan saat itu, darah segar langsung mengalir dari lubang hidung Raina, hal itu membuat Alen langsung terkejut. "Ra!" pekik Alen dan langsung mengelap darah itu menggunakan jari tangannya tanpa merasa jijik. Raina malah terkekeh dengan air mata yang terus mengalir dipipi, "Enggak apa-apa Alen. Ini udah biasa." balas Raina. Alen terbuat terdiam ditempat, bagaimana bisa selama ini Alen malah menyakiti perempuan seperti Raina. Raina jauh lebih membutuhkan dirinya ketimbang Freya, jadi mulai saat ini Alen akan terus menjaga dan mendampingi Raina semampu dan selama yang ia bisa. ✨✨✨
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN