Liked by rainaarkaylaa, devanpranadipa, and 30.345 others
alendirgantara bidadari jatuh dari surga @rainaarkaylaa
(komentar dinonaktifkan)
✨✨✨
Beberapa hari kemudian...
Setelah seminggu lamanya mereka mengikuti Ujian Kenaikan Kelas, akhirnya hari ini waktunya mereka untuk menerima raport. Mulai dari kelas X, XI, dan XII.
Hari ini banyak para orangtua atau wali murid yang datang ke sekolah untuk mengambil raport anaknya. Seperti biasa, yang akan mengambil raport milik Raka dan Raina adalah Cherry, itu sudah tradisi turun temurun sejak dulu, Arka? Mana pernah dia mau datang untuk mengambil raport.
Sedangkan yang akan mengambil raport milik Alen adalah Salsa, cowok itu tidak pernah menyuruh Mama nya itu padahal, tetapi Salsa selalu datang untuk mengambilnya. Alhasil Cherry dan Salsa hari ini jelas bertemu lagi, hubungan mereka kini baik-baik saja, tidak ada lagi perseteruan seperti dulu.
Saat ini Raina tengah duduk-duduk dikantin bersama Alen, Devan, dan juga Via. Mereka berempat asik makan jajan sambil minum jus pesanan masing-masing. Mereka memilih menunggu orangtua nya disini saja.
"Bidadari jatuh dari surga, hilihhhh!" ucap Via sambil melihat postingan di i********: Alen yang cowok itu unggah beberapa hari lalu.
Alen langsung mengangkat pandang, "Kenapa? Salah?" tanyanya.
"Nggak. Nggak salah," sahut Via.
"Udah kayak coboy junior aja caption lo Len," ujar Devan sambil mengunyah ciki-cikinya.
"Gue pikir lo bakalan diputusin sama Raina, ehh ternyata enggak, malah dimaafin, kenapa Ra? Harusnya lo putusin aja dia, biar jadi orang gila, puas ntar gue liatnya," kata Via sambil menatap Alen dan Raina bergantian.
"Kompor banget lo," sahut Alen agak kesal.
"Bodo amat, masih kesel gue sama lo Len. Enak banget jadi lo, beruntung banget lo bisa dapetin cewek kaya Raina yang sabarnya nggak ketulungan. Kalau misalnya gue jadi pacar lo, udah abis gue gampar muka lo," ucap Via pada Alen.
"Raina kan lemah lembut, gak kayak lo barbar," Devan menyahut, membuat Via meliriknya tajam.
"Gampar mau?" tanya Via pada Devan.
"Gak! Jangan!" tolak Devan cepat.
"Lo udah sadar kan sekarang?" tanya Via pada Alen.
"Udeh, lo nanya ada seratus kali," celetuk Alen jengah.
"Alhamdulillah kalo gitu, gak sia-sia gue ngabis-ngabisin tenaga buat marah-marah sama lo. Sorry ya Ra, gue terpaksa harus bongkar rahasia lo ke Alen, soalnya ni cowok gak bakalan sadar kalo gue gak ngasih tau yang sebenarnya." ujar Via pada Raina.
Raina mengangguk mengerti, "Enggak papa. Makasi juga ya Vi, karena kamu udah berani nyadarin Alen," balas Raina sambil terkekeh.
"Ngapain juga takut sama dia Ra? Sama-sama makan nasi," balas Via. "Cuma gue heran aja sama orang-orang yang takut sama dia," tambahnya.
"Lo ngomong kaya gak ada gue disini," sindir Alen pada Via.
"Biarin aja, suka-suka Via, wle." Via menjulurkan lidahnya ke Alen. "Awas aja kalo lo kayak gitu lagi ke Raina, gue bakalan maju digarda terdepan!" seru Via pada Alen.
"Oke Vi." sahut Alen sekenanya.
"Besok kan udah liburan nih, kalian pada mau kemana?" tanya Devan.
"Dirumah aja palingan, gak ada yang ngajak gue jalan-jalan," balas Via.
"Sama gue aja Vi, gue ajak lo ke—"
"Kemana?" sambar Via nampak excited.
"Ke kolam ikan depan komplek," sahut Devan sambil cekikikan.
Wajah Via yang tadinya sumringah kini langsung berubah menjadi jengkel, "t*i lo Van."
Alen lantas melirik kearah Raina, gadis itu tengah asik bermain ponsel, lalu Alen langsung mencubit pipinya pelan.
"Ra," panggil Alen, Raina langsung menoleh.
"Apa?"
"Besok jalan-jalan yuk?" ajak Alen.
"Kemana?"
"Ehm kemana aja, keliling dunia asalkan sama kamu juga gapapa," kata Alen, membuat Raina langsung mencibir.
"Okeee."
✨✨✨
"Mamaaaa! Gimana hasilnya? Nilai aku bagus gaaa?" tanya Raina pada Cherry yang baru saja keluar dari kelasnya.
"Bagus, bagus bangettt, kamu dapet peringkat satu sayang," ucap Cherry sambil tersenyum dan memeluk Raina dengan sebelah tangan.
"Yessss!" seru Raina kegirangan, lalu beberapa detik berikutnya ia teringat akan sesuatu. "Terus Alen peringkat berapa Ma? Mama tau?"
Cherry melepaskan pelukannya, "Peringkat dua dia, nilainya sama kamu cuma beda sedikit," balas Cherry.
Raina manggut-manggut, "Karena aku peringkat satu, aku nanti mau minta hadiah ah sama Papa," cengir Raina.
"Hadiah apa?"
"Belum tau sih Ma," balas Raina.
"Yaudah, sekarang kamu pegang dulu ini raportnya, Mama mau ganti ke kelasnya Raka, sebentar lagi mulai," ujar Cherry sambil menyerahkan raport milik Raina.
"Oke Ma!" sahut Raina.
Cherry pun langsung bergegas masuk ke kelas XI IPA 8, kelas Raka. Untung saja kelas Raina dan kelas Raka tidak bebarengan waktu mengambilnya, jadi Cherry masih bisa bergantian, dan tidak perlu bingung.
Raina mengedarkan pandangannya, tepat dibawah pohon beringin ada Alen dan Mama-nya seperti tengah mengobrol, ralat, lebih tepatnya hanya Mama-nya saja yang berbicara, Alen tidak.
Karena merasa tertarik untuk kesana, Raina pun langsung datang menghampiri mereka.
"Halo Tante," sapa Raina ramah pada Salsa.
Salsa dan Alen refleks menoleh, "Halo cantik," balas Salsa sambil tersenyum.
"Dapet peringkat satu ya? Selamat ya sayang, Mama sama Papa kamu pasti bangga," ucap Salsa pada Raina.
"Iya Tante, makasi yaa," balas Raina.
Salsa mengangguk, "Liburannya kan panjang, kapan-kapan ajak Raina main ke rumah ya Len," ujar Salsa.
"Hmm." sahut Alen.
Raina bisa merasakan aura ke-canggungan diantara mereka, padahal Salsa selalu berusaha untuk selalu hangat dan tersenyum pada Alen, tetapi Alen selalu acuh dan tidak peduli.
"Yaudah, kalau gitu Mama pulang ya Len? Atau mungkin kamu mau pulang bareng Mama?" tanya Salsa pada Alen.
"Nggak, Alen pulang sendiri." balas Alen.
Salsa tersenyum lalu mengangguk, tangannya terangkat untuk mengelus pipi Alen, hal itu membuat Alen tersentak dan darahnya berdesir. Setelah itu Salsa langsung pamit pada Raina, dan pergi meninggalkan mereka.
"Kamu kenapa gitu?" tanya Raina saat Salsa sudah pergi.
"Gitu apanya?" tanya Alen bingung.
"Cuek sama Mama kamu, enggak boleh tau, surga ada ditelapak kaki ibu, ntar kamu kuwalat," ucap Raina sambil menunjuk wajah Alen sekilas.
"Apa sih Ra," sahut Alen nampak tak suka.
Raina mendengus, lalu pandangannya tak sengaja menangkap kearah Freya, cewek itu tertangkap basah tengah memperhatikan dirinya dan Alen sedari tadi.
"Ada Freya," baru saja Raina berucap seperti itu, Freya langsung pergi dari tempatnya, wajahnya tadi memasang raut yang tidak bisa diartikan.
"Mana?" tanya Alen sambil celingukan, lalu dirinya melihat Freya yang sudah pergi menjauh.
"Udah pergi dia," sahut Raina. "Kenapa pergi? Kenapa nggak nyamperin kamu?" Raina agak menyindir.
Alen menoleh kearah Raina, "Emangnya kamu mau dia kaya gitu? Bagus dong kalo dia pergi," ucap Alen sambil tersenyum.
"Ya enggak lah, mungkin dia udah sadar," balas Raina.
Semenjak dirinya dikata-katai oleh Via beberapa waktu lalu, akhirnya ia tidak pernah menemui Alen lagi, cewek itu seakan-akan menjauh dari Alen, mungkin dirinya sadar, jika cinta tidak harus memiliki, ia masih bisa menyukai Alen secara diam-diam seperti dulu, tanpa merusak hubungannya dengan Raina.
Kalau Pingkan? Cewek itu kesal setengah mati, pasalnya dirinya sudah kehabisan waktu untuk mendapatkan Alen. Cewek itu kini sudah lulus dari sekolah, beruntung kan? Seharusnya kalian juga ikut senang karena Pingkan sudah lulus, jadinya sudah tidak ada lagi mak lampir yang akan mengganggu hubungan Alen dan Raina.
"Besok siap-siap jam tiga ya, aku jemput kamu, kita jalan-jalan." kata Alen.
✨✨✨
Seperti kata Alen kemarin, kini Raina sedang bersiap-siap, gadis itu hari ini memakai outfit pantai karena Alen bilang akan mengajaknya kesana, dan rambutnya ia biarkan tergerai. Wajahnya hanya ia poles pelembab dan liptint dibibir agar tidak pucat.

Setelah selesai, Raina langsung mengambil tas selempangnya yang berbentuk bundar dan terbuat dari rotan berwarna putih, gadis itu memakainya dan mengisinya dengan barang-barang kecil yang sekiranya ia butuhkan. Setelah itu tak lupa juga Raina menyemprotkan parfum favoritnya yang wanginya sangat lembut dan khas wangi Raina.
Raina berdiri didepan cermin besar miliknya, ia menatap pantulan tubuhnya disana, terlihat manis. Raina tersenyum, tak lama setelah itu akhirnya ia mengambil ponselnya dan langsung turun ke bawah karena Alen sudah sampai.
Raina berlarian kecil menuruni tangga, gadis itu nampak antusias sekali hari ini. Aroma tubuhnya yang menyeruak langsung membuat Alen menoleh, cowok itu tersenyum, terpana melihat Raina yang semakin hari bertambah cantik dan manis.
"Halo Alen!" sapa Raina dengan sumringah, lalu Alen berdiri tepat dihadapan cewek itu.
Mereka berdua sama-sama menunduk, sama-sama memperhatikan outfit masing-masing. Raina menyusuri tubuh Alen dari ujung kaki hingga ujung kepala, Raina tak bisa bohong, hari ini Alen ganteng banget. Cowok itu mengenakan kaos putih polos dengan luaran kemeja hitam bermotif bunga-bunga yang kancingnya dibuka semua.

(Itu Jimin kah gais? Anggap aja itu Alen yaa, tanpa tato dan anting loh yaa)
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Alen pada Raina dengan satu alis yang diangkat.
"Eh, emang aku senyum-senyum ya?" tanya Raina balik sambil memainkan jari-jarinya.
"Iya, tuh pipi sampe merah juga," goda Alen mulai jail.
Refleks Raina langsung memegang kedua pipinya, "Masa sih?!" Raina panik.
Alen tertawa dengan suara berat bercampur serak, bahkan suara tertawanya saja bisa membuat jantung Raina berdetak tak karuan.
"Kok malah ketawa sih!" kesal Raina.
"Lagian kamu lucu banget," ucap Alen sambil menetralkan tertawanya.
"Kalian udah mau berangkat?" tanya Cherry yang baru saja keluar dari kamarnya.
Mereka serempak menoleh dan menjawab, "Iya Ma-Iya Tan."
"Kalau gitu, saya permisi dulu ya Tante, Raina nya saya pinjem," pamit Alen pada Cherry sambil menyalimi tangannya.
"Iya kasep, hati-hati dijalan yaa." balas Cherry.
"Siap Tante," sahut Alen.
"Raina pergi ya Maaa!" Raina salim tangan ke Cherry.
"Iya sayang, jangan kecapekan ya. Have a nice day!" kata Cherry.
✨✨✨
Alen menggandeng tangan kanan Raina, agar cewek itu tidak lepas dan hilang dari jangkauannya. Semenjak mereka turun dari mobil tadi, Raina terus saja mengembangkan senyumnya, dan Alen pun ikut tersenyum karenanya. Cuaca hari ini begitu cerah dan itu sangat mewakili hati Raina saat ini. Angin sepoi-sepoi yang menyejukkan itu berhembus menerpa rambut dan kulit mereka.
"Mau kemana?" tanya Alen sambil menyugar rambutnya ke belakang.
"Kesana yuk? Aku pengen lebih deket sama pantainya," ujar Raina.
"Oke." Alen pun langsung mengikuti langkah Raina, cewek itu yang menarik tangannya.
Lama-kelamaan Raina bukannya berjalan, cewek itu malah berlari, matanya berbinar saat melihat pasir pantai yang begitu putih dan hamparan air laut yang berwarna biru kehijauan. Mereka sudah sampai ditepi pantai, kaki Raina hampir saja menyentuh air jika Alen tak segera menahannya.
"This is a beautiful place!" seru Raina.
"Kaya kamu Ra," kata Alen, membuat Raina menoleh padanya.
"Oh yaa?"
"Iya, cantik." puji Alen.
Raina seketika tersenyum, lalu cewek itu langsung duduk diayunan yang tersedia disana.

Alen yang melihatnya langsung mendorong pelan ayunan itu, Raina duduk menghadap kearah pantai, sedangkan Alen berdiri tepat dibelakangnya.
"Dorong yang kenceng Aleennn!" seru Raina, Alen pun langsung mendorong punggung Raina.
Gadis itu menyeru berkali-kali, ia tertawa lepas, rambutnya yang panjang itu langsung berkibar indah. Alen sangat senang melihatnya, ia senang jika Raina bisa tertawa lepas seperti ini, hal ini bisa membuat Raina melupakan sejenak penyakit yang selalu membuatnya merasa sedih.
"Pegangan Ra!" kata Alen, saat Raina ingin merentangkan kedua tangannya.
"Iyaa-iyaaa!"
"Berhentiin Len, aku mau balik kanan," ucap Raina, Alen pun langsung menghentikan ayunannya.
Raina pun langsung berdiri dan mengganti posisi duduknya menjadi menghadap kearah Alen dan membelakangi pantai.
"Dorongin lagii," pinta Raina.
"Nabrak dong ntar," sahut Alen.
"Enggaaakkk!"
"Yaudeehhhh," Alen menarik kedua tali ayunan itu, lalu langsung melepaskannya.
Raina kembali berayun seperti tadi, bedanya sekarang Alen bisa melihat wajahnya dari depan, membuat Alen tersenyum. Cowok itu mengeluarkan ponselnya dari saku celana, ia berniat memotret Raina.
Ckrek
Ckrek
Ckrek
Banyak hasil jepretan yang Alen ambil, isinya bagus-bagus semua. Alen asik memperhatikan semua foto-foto itu, sampai akhirnya Raina menyeru.
"Alen!"
Alen terkejut, saat cowok itu mendongak tiba-tiba saja wajah Raina ada didepan wajahnya, sangat dekat, hidung dan dahi mereka sama-sama terbentur, dan nyaris saja mereka berciuman.
"Anjir!" Alen mengelus hidungnya yang nyut-nyutan, begitu pun juga Raina. Kini ayunannya sudah diam seperti semula.
"Sakiit tau," keluh Raina sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sama Ra, lagian kamu nggak nge-rem," sahut Alen.
"Udah nge-rem itu tadi, tapi tetep nabrak," ujar Raina.
"Tapi harusnya tadi gak usah di-rem sih Ra, biar kena," celetuk Alen sambil tersenyum jail.
Raina mendelik, "Ihh! Kamu!"
Alen tertawa terbahak, sampai kedua bahunya bergetar, lalu cowok itu menyeringai kearah Raina, membuat cewek itu menatap was-was kearahnya.
"Kenapa ngelihatin kaya gitu?" tanya Raina.
Alen mendekat, cowok itu langsung menggelitiki perut Raina, membuat Raina menggeliat dan tertawa cekikikan akibat ulah Alen.
Raina tak mau kalah, cewek itu turun dari ayunannya, lalu langsung membalas perlakuan Alen sehingga cowok itu berteriak sambil ketawa-ketawa, karena kuku Raina panjang-panjang.
"Ra! Ra! Kuku kamu panjang-panjang! Ampun Ra ampun!" pekik Alen sambil ketawa-ketawa.
"Rasain wleee, siapa suruh jailin aku duluan?" Raina terus menghujami Alen dengan jari-jari tangannya, sampai Alen terjatuh duduk dipasir.
"Ups," Raina terdiam ia mengedipkan matanya beberapa kali.
Alen memberikan pandangan yang membuat Raina ketakutan, Alen langsung berdiri, cowok itu hendak menangkap tubuh Raina tetapi Raina sudah duluan berlari kearah pantai. Alen mengikutinya, langkah mereka membuat air pantai itu terciprat sampai tinggi.
Alen menarik tangan Raina dengan satu kali hentakan, dan tubuh Raina langsung tertangkap. Alen memeluknya, "Kena kan, lagian nantangin sih," kata Alen.
Kini mereka sudah nyebur ke dalam air, tingginya masih sebatas lutut mereka.
"Ishh Alen, lepasinnnn!" pinta Raina sambil berontak.
Akhirnya Alen melepaskannya, cowok itu menatap Raina dengan serius, tubuhnya dengan Raina sangat dekat, hal itu membuat Raina meneguk salivanya dengan susah payah. Jantungnya berpacu tak karuan lagi, tak terhitung sudah berapa kali Raina seperti ini karena Alen.
"Deg-deg an nggak Ra?" tanya Alen secara tiba-tiba.
Raina mengangguk, lalu tangan kanannya tiba-tiba saja diambil oleh Alen. Cowok itu mengarahkan tangan Raina ke d**a kiri Alen, Alen menekannya agar Raina bisa merasakannya.
"Apa yang kamu rasain?" tanya Alen pada Raina. Raina bisa merasakan detak jantung Alen dari tangannya.
"Detak jantung kamu," balas Raina.
"Gimana ritmenya?" tanya Alen lagi, matanya terus mengamati Raina.
"Cepet," sahut Raina. "Kamu deg-deg an juga ya?" tanya Raina.
Alen tersenyum sambil mengangguk, "Iya, sama kaya kamu kan Ra? Aku selalu kaya gini setiap deket sama kamu," kata Alen.
Kedua pipi Raina langsung memerah, mukanya terasa panas mulai dari leher hingga telinga.
"Bahagia terus ya Ra? Jangan sedih-sedih," bisik Alen tepat ditelinga Raina.
"Iya." balas Raina.
"Lanjut lagi gak nih?"
"Apanya?" tanya Raina.
Tanpa aba-aba Alen langsung mencipratkan air itu kearah Raina, membuat Raina refleks memekik.
"Alennn! Basah tau gak? Nanti pulangnya gimanaaaa?" pekik Raina.
"Gampang, bisa beli lagi nanti," balas Alen dengan entengnya.
Oke. Alen sudah menantangnya, Raina juga tidak mau kalah, cewek itu balas mencipratkan air itu kearah Alen, sampai wajah dan bajunya basah.
Jadinya sekarang mereka malah bermain air, terus mencipratkan air satu sama lain, mereka juga saling kejar-kejaran sambil tertawa lepas, seakan-akan dunia milik berdua.
“Karena kamu adalah alasan, kenapa aku tetap ada disini.”
—Raina Arkayla.