33. Tenggelam

2457 Kata
Alen dan Raina kini tengah berjalan-jalan di pasar tradisional yang ada didekat pantai tersebut. Banyak sekali pengunjung yang berlalu lalang dan berdatangan ke tempat ini, disini banyak yang berjualan baju pantai, topi pantai, sandal pantai, gantungan kunci, gelang dan kalung dari kerang laut dan juga mutiara. Raina menoleh kearah kanan, disana ada banyak perhiasan yang digantung, Raina yang tertarik pun langsung berbelok kesana. Sementara Alen, cowok itu tadi sedang menerima telepon dari seseorang, dan berjalan tepat disamping Raina, tanpa menggandeng tangannya. Setelah memutuskan sambungan, Alen pun memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu tangan cowok itu terayun hendak menggandeng tangan Raina, tetapi nihil, Alen tidak merasakan apa-apa, tangannya hanya terasa menggapai angin. Alen pun langsung menoleh, tidak ada Raina disebelahnya, Alen pun memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri, pacarnya itu benar-benar tidak ada. Benar kan? Baru dilepas sebentar saja genggamannya gadis itu langsung hilang begitu saja. "Astaga, dimana lagi ni bocah?" gerutu Alen mulai kebingungan. "Baru dilepas sebentar aja udah ilang," kata Alen. Alen memutar tubuhnya ke belakang, matanya menyapu keramaian yang ada disini, cowok itu berusaha mencari Raina. Akhirnya Alen kembali berjalan ke belakang, matanya terus mengamati ke kanan dan ke kiri. Sampai akhirnya Alen bisa melihat perawakan tubuh Raina dari belakang, cowok itu yakin jika itu adalah Raina, karena Alen sangat hafal dengan bentukan tubuh Raina. Dengan buru-buru Alen langsung mempercepat langkahnya, saat sudah dekat Alen benar-benar yakin kalau yang sedang membelakanginya saat ini adalah Raina. "Ra," Alen menyentuh bahu Raina, membuat cewek yang sedang asik melihat-lihat berbagai macam perhiasan itu terjengit karena terkejut. Raina menoleh seketika, ekspresinya menunjukkan jika gadis itu kaget, padahal Alen hanya menyentuh bahunya dengan pelan, tidak kasar sama sekali. "Kenapa kaget?" Alen tertawa renyah saat melihat ekspresi wajah Raina. Raina langsung cemberut karena kesal, "Kamu dateng-dateng langsung megang, jadinya kaget!" omel Raina. "Yaudah maaf atuh," ucap Alen. "Kamu juga kenapa ilang-ilangan? Aku bingung nyariinnya tau nggak? Kalau mau kemana-mana tuh bilang," kini giliran Alen yang mengomel. Raina nyengir dengan wajah tanpa dosa, "Ehehe iya maap, abisnya kamu lama kalo telponan, keliatannya sibuk, jadi aku langsung belok aja kesini," ujar Raina. "Lain kali jangan kaya gitu ya sayang," kata Alen sambil memegang kepala Raina dengan satu tangan. "Aye-aye kapten!" balas Raina. "Kamu lagi liat apa disini?" tanya Alen pada Raina. "Ini," Raina menunjukkan sebuah dream catcher berwarna putih.  "Bagus kan?" tanya Raina pada Alen dengan sumringah. "Bagus, kamu mau? Beli aja, aku beliin," ujar Alen. "Serius?" "Serius lah, dua rius malah," balas Alen. Raina pun langsung tersenyum, lalu gadis itu segera menyerahkannya kepada penjual, dan Alen pun langsung membayarnya. Setelah itu mereka kembali melanjutkan jalan-jalannya menyusuri pasar ini. "Makasih yaaa!" ucap Raina sambil memeluk sebelah lengan Alen. "Sama-sama," balas Alen. "Enggak mau beli baju?" tawar Alen. "Enggak, ngapain? Ini bajunya udah kering sendiri kena angin sama matahari," balas Raina. "Yaudah kalo ngga mau. Sekarang makan yuk," ajak Alen yang langsung diangguki oleh Raina. ✨✨✨ Setelah selesai makan tadi, kini mereka berdua tengah berjalan-jalan di dermaga menikmati indahnya langit sore.  "Bagus banget astagaaaa! Jadi inget Maldives tau!" seru Raina sambil membenarkan letak rambutnya. "Emangnya kamu pernah kesana?" tanya Alen. "Pernah dong! Waktu itu pas liburan sekolah diajak Papa main kesana, tempatnya baguuuus banget!" Raina menyeru sangat bersemangat menceritakannya pada Alen. Alen terkekeh mendengarnya, "Kapan-kapan mau kesana lagi nggak Ra?" tanya Alen iseng. "Sama siapa? Kamu?" tanya Raina sekenanya. "Iya, besok kalau kita bulan madu kesana aja," balas Alen, wajahnya sangat tenang. Berbeda dengan Raina, gadis itu sudah membulatkan kedua matanya karena terkejut. "Aminin dong, masa diem-diem aja," tambah Alen yang membuat Raina langsung mengerjapkan matanya beberapa kali. "Aku udah bilang amin dalam hati, amin paling serius," ujar Alen. Raina pun tersenyum malu-malu, "Iya aamiin." balas Raina. Alen pun langsung mengacak gemas puncak kepala Raina, lalu cowok itu tiba-tiba langsung berjongkok didepan Raina, membuat Raina mengernyit bingung. "Kamu ngapain?" tanya Raina. "Sini naik," ujar Alen sambil menunjuk punggungnya. "Hah?" "Naik, aku gendong sampe ke gazebo yang ada disana, biar kamu nggak capek," kata Alen. Awalnya Raina masih ragu-ragu, tetapi akhirnya Raina mendekat dan langsung mengambil posisi dipunggung kekar cowok itu. Alen langsung menyangga kedua lutut Raina, tangan Raina ia kalungkan dileher Alen. Lantas Alen pun segera berdiri dan berjalan menggendong Raina sampai ke ujung dermaga. Badan Raina kecil, jadi tidak ada apa-apanya buat Alen, rasanya seperti tidak ada beban sama sekali saat menggendong cewek ini. "Kamu nggak capek?" tanya Raina tepat disebelah kepala Alen. "Enggak lah, kamu ringan nggak ada beban," sahut Alen. "Masa sih?" "He'em." "Pasti karena kamu ikut karate ya? Makanya bilang aku ringan," ucap Raina. "Enggak juga," sahut Alen. "Kamu pernah gendong cewek lain nggak selain aku?" Raina bertanya, mendadak kepo. "Gendong kaya gini?" "Iyaaa." "Enggak pernah, cuma pernah gendong kamu aja kalo kaya gini," balas Alen jujur. Saat mereka sudah sampai di gazebo yang berada diujung dermaga, Alen pun langsung menurunkan Raina dari punggungnya. Cowok itu duduk disana, Raina pun mengikutinya. Raina mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selempangnya, cewek itu tengah membuat insta story di i********: miliknya, foto selfinya yang ia ambil bersama Alen tadi juga sudah ia jadikan story. Angin pantai yang lumayan kencang membuat rambut Raina berkibar indah kesana-kemari, hal itu membuat Alen menjauhkan wajahnya dari rambut Raina, karena sedari tadi rambutnya itu selalu mengenai wajahnya terus. "Ra, rambutnya ganggu," ujar Alen sambil menyibak rambut Raina yang menghalangi pengelihatannya. "Namanya juga kena angin," balas Raina tak mau disalahkan. Akhirnya tangan Alen bergerak untuk menyatukan semua rambut Raina dengan perlahan, rambutnya sangat halus dan lembut, sangat mudah diatur. Cowok itu bermaksud ingin menguncir rambut Raina menjadi satu seperti kunciran kuda. "Kamu emangnya bisa ngiket rambut?" Raina bertanya pada Alen, cewek itu kini mengambil posisi bersila. "Bisa dong," sahut Alen. "Nih karetnya," Raina menunjukkan pergelangan tangan kirinya yang ada sebuah karet gelang berwarna hitam. Alen pun mengambilnya, cowok itu langsung mengikatkannya pada rambut Raina, dan...hasilnya kini rambut Raina sudah terikat menjadi satu diatas, Alen menggulung rambutnya menjadi cemolan, hasilnya tidak begitu rapi, tapi itu malah membuatnya terlihat bagus. "Selesai," ucap Alen dengan bangganya, cowok itu tersenyum melihat hasil karya tangannya. Raina meraba rambutnya itu, lalu berucap, "Not too bad..." Raina lagi-lagi tersenyum, padahal ini adalah hal yang sederhana, tetapi mampu membuat Raina senang atas perlakuan Alen kepadanya. Sampai tiba-tiba saja Alen merasa ingin buang air kecil, cowok itu seketika berdiri membuat Raina mendongak. "Mau kemana?" "Mau ke toilet, mau ikut?" tanya Alen, masih sempat-sempatnya jail. "Enggak lah," sahut Raina cepat. "Yaudah, tunggu disini bentar ya, jangan kemana-mana, tetep disini, jangan ngilang," peringat Alen. "Iyaaa, kamu jangan lama-lama," pesan Raina. "Kenapa? Kangen ya?" goda Alen. "Ish nggak! Aku takut sendirian disini," kata Raina. "Iya-iya nggak lama kok, toilet nya jugaan deket," balas Alen. "Oke!" "Inget jangan kemana-mana!" peringat Alen lagi. "Iya-iya, udah sana buruan," usir Raina. Alen pun langsung berlari meninggalkan Raina di gazebo itu sendirian, cowok itu buru-buru agar tidak terlalu lama meninggalkan Raina sendirian disini. Raina mengayun-ayunkan kedua kakinya, cewek itu menatap ke arah laut yang luas, pemandangannya sangat indah, anginnya juga menyejukkan, matahari juga sudah mulai tenggelam disebelah barat sana. "Tuhan...tolong sembuhin penyakit Rara ya? Rara masih pengin ngerasain ini semua, ngerasain rasanya disayang sama orang-orang yang Rara sayang," kata Raina memohon. Saat Raina sedang tenggelam dalam hamparan lautan yang indah, tiba-tiba saja ada seseorang yang menghampirinya. "Hai," sapa orang itu. Raina sontak menoleh, ia mendapati seorang cowok berpakaian santai berambut messy dengan kamera DSLR yang sedang ia kalungi dilehernya. "Hai," balas Raina. "Gue boleh duduk disini?" tanya orang itu. "Boleh kok," balas Raina ramah. Cowok itu pun langsung duduk disebelah Raina, ia membuka kamera nya, mengangkatnya dan memfokuskan pada objek pantai. Sampai, tanpa Raina sadari cowok itu tiba-tiba mengarahkan kamera nya pada Raina, wajah Raina terlihat dari samping, cowok itu tersenyum melihat wajah Raina dari kamera nya. Ckrek Cowok itu berhasil memotret Raina, suara cekrekan kamera itu membuat Raina langsung menoleh. "Kamu—foto aku?" Raina bertanya dengan ragu-ragu. "Iya, sorry ya, gue tertarik soalnya," ucap cowok itu. "Oh ya, nama lo siapa?" "Raina," jawab Raina. Cowok itu langsung manggut-manggut, "Lo nggak mungkin kesini sendirian kan?" "Enggak, aku kesini sama pacar," balas Raina selalu ramah. "Yah, udah punya pacar ternyata, gue kira masih jomblo," ucap cowok itu langsung disusul tertawa renyah. Raina hanya meliriknya sambil terkekeh kecil, membuat cowok itu memandangnya agak lama. "Lo gak mau nanya nama gue siapa gitu?" tanyanya. Raina menoleh kearahnya, "Pengin banget ya?" "Iya terserah lo sih," sahut cowok itu. "Yaudah, nama kamu siapa?" tanya Raina pada akhirnya. Cowok itu langsung mengangkat kedua sudut bibirnya, "Bara, sekolah di SMA Angkasa," ucapnya. Raina mengerutkan keningnya. "Cuma ngasih tau aja," tambah cowok yang bernama Bara tersebut. "Itu sekolahan Mama sama Papa aku," kata Raina. "Oh ya?" Raina mengangguk. "Kalau lo sekolah dimana?" "Di SMA Galaksi," balas Raina, Bara pun manggut-manggut. Raina tiba-tiba saja langsung berdiri, cewek itu berjalan ke ujung dermaga, lebih mendekat ke arah air laut. Raina berjongkok disana, tangannya hendak menggapai air, tetapi ia kesusahan. "Awas ntar lo jatuh," ujar Bara yang tiba-tiba berada disebelah Raina. Bara mengajak Raina berbicara, sekedar ingin mengetahui lebih dalam cewek ini. Bara sudah terpesona beberapa kali pada Raina, mulai dari wajahnya yang cantik dan manis, cara tertawanya, senyumnya, gaya bicaranya yang ramah, dan hal itu membuat nyaman. Sayangnya udah punya pacar. Saat mereka tengah asik mengobrol sambil tertawa, tiba-tiba saja ada seseorang yang mendekat kearah mereka, orang itu berjalan dengan perlahan, ia memakai jaket hitam dan memakai tudung jaketnya agar kepalanya tertutupi. "AAA!" Raina berteriak, cewek itu jatuh ke dalam air, ada seseorang yang mendorongnya sampai terjungkal. Sedangkan seseorang yang tadi sengaja mendorong Raina, kini langsung cepat-cepat pergi dan berlari menjauh. Bara yang melihat itu langsung panik, sedangkan Raina, cewek itu berteriak berkali-kali meminta pertolongan, Raina bisa berenang, tetapi saat ini kakinya terasa keram untuk digerakkan, apalagi air nya lumayan dalam. "Tolong! Tolong!" teriak Raina, cewek itu kini sudah tenggelam ke bawah, tepat ke dasar laut.  ✨✨✨ Alen baru saja keluar dari dalam toilet, ia lama karena menunggu antrean yang panjang, kini cowok itu sudah kembali berjalan cepat-cepat menuju dermaga untuk menemui Raina, Alen berharap ceweknya itu masih ada ditempatnya. Brukkk "AWH!" rintih seseorang yang tak sengaja menabrak tubuh Alen. "Woy! Kalau jalan tuh pake mata!" amuk Alen pada seseorang yang sedang menunduk sambil memegangi tudung jaket hitamnya. Setelah itu, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun seseorang itu langsung pergi begitu saja dari hadapan Alen. "Bukannya minta maaf malah kabur!" ujar Alen, kesal pada orang itu. Akhirnya Alen kembali melanjutkan langkah kakinya, sampai menuju ujung dermaga, tempat dimana ia menyuruh Raina untuk diam disana. Mata Alen seketika memicing saat melihat ada seorang cowok yang baru saja menggendong Raina naik ke atas dermaga, pakaiannya basah sama seperti Raina. Alen pun langsung berlari, cowok itu mendekat kearah mereka berdua. Suara derap langkah Alen membuat Bara menoleh, rambut cowok itu basah karena baru saja ia menyelamatkan Raina yang kini sudah tidak sadarkan diri. "Ra!" pekik Alen, cowok itu langsung berjongkok disebelah tubuh Raina yang basah kuyup. "Lo apain cewek gue?" tanya Alen pada Bara. "Gue nyelametin dia, tadi ada orang yang dorong dia ke laut, sampe tenggelem," balas Bara. Alen sempat memikirkannya sebentar, tetapi menurutnya hal itu lebih baik dipikirkan nanti saja, sekarang yang penting keselamatan Raina lebih dulu. Alen beralih ke Raina, cowok itu menepuk-nepuk pipi Raina, "Ra, bangun Ra," "Ra, bangun." ucap Alen, cowok itu sangat panik. Alen pun langsung menekan d**a Raina beberapa kali, melakukan kompresi d**a, berharap cewek itu sadar, Alen tau itu dari beberapa pengetahuan yang pernah ia lihat atau pun ia dengar. "Please Ra, bangun." Alen menempatkan kepala Raina pada pahanya, lalu kembali menepuk-nepuk pipi gadis itu. "Lo pacarnya kan?" tanya Bara tiba-tiba. "Iya, kenapa?" sahut Alen cepat. "Kasih nafas buatan lah," ujar Bara. Alen pun langsung tercenung sesaat, cowok itu diam memikirkannya. "Buruan, apa mau gue aja?" kata Bara, membuat Alen langsung menatap tajam ke arahnya, tandanya Alen tidak suka kata-kata itu. Dengan cepat akhirnya tangan kanan Alen menarik dagu Raina ke atas, lalu telapak tangan kirinya memegang dahi Raina, untuk membuka saluran pernapasan hingga kepala Raina mendongak. Setelah itu Alen mencubit hidung Raina agar tertutup, lalu kepala Alen semakin mendekat ke wajah Raina. Sampai akhirnya bibir Alen menyentuh bibir Raina, cowok itu langsung meniupkan napasnya dimulut Raina. Alen melakukan hal itu selama beberapa detik, sampai akhirnya Raina terbatuk dan mengeluarkan air dari mulutnya. "Uhuk! Uhuk!" Alen langsung bernapas lega, akhirnya Raina tersadar dari pingsannya, sepertinya cewek itu juga minum air laut. Napas Raina tak beraturan, dadanya naik turun karena masih merasa sesak. Pandangannya menatap wajah Alen yang ada disampingnya. Raina langsung bangun dan duduk, gadis itu langsung memeluk tubuh Alen sambil gemetaran, karena dirinya kedinginan. Alen pun langsung merengkuhnya, tak peduli jika nanti bajunya akan ikutan basah, yang penting Raina merasa hangat. "Dingin," kata Raina, cewek itu menggigil. "Kita pulang ya, kamu harus cepet-cepet ganti baju," ujar Alen semakin mengeratkan pelukannya. Raina mengangguk, lalu Alen membantu Raina untuk berdiri, sebelum mereka pergi, Alen memandang ke arah Bara yang kini juga ikut berdiri. "Thanks Bro, udah nyelametin Raina, gue hutang budi sama lo," ucap Alen para Bara. "Yoi santai aja," balas Bara. "Gue pulang duluan," kata Alen, cowok itu langsung memapah Raina, meninggalkan Bara yang masih diam menatap mereka sampai menjauh. ✨✨✨ "Maaf ya Ra, gara-gara aku kelamaan ninggalin kamu, jadi kaya gini," ujar Alen pada Raina saat mereka sudah di mobil. Tubuh Raina kini sudah dibaluti oleh jaket Alen yang tak sengaja tertinggal dimobil, untung saja ada jaket ini. "Enggak apa-apa, aku baik-baik aja," balas Raina. "Badan kamu enggak sakit kan Ra? Kepala kamu enggak pusing? Atau—" "Enggak Alen. Aku baik-baik aja," sahut Raina, tidak ingin membuat Alen khawatir. "Syukurlah kalau gitu, aku takut banget Ra, kalau kamu kenapa-napa," ujar Alen, sesekali menoleh kearah Raina, karena dirinya sedang menyetir. "Jangan takut," balas Raina sambil tersenyum tipis. "Maaf ya Ra," kata Alen. "Maaf buat apa lagi?" Raina bingung. "Tadi aku----cium kamu." ucap Alen. ✨✨✨ Kejadian saat mereka masih di dermaga. Brukkk "AWH!" rintihnya sambil memegangi tudung jaketnya. Ia sedikit melirik ke arah orang yang tak sengaja ia tabrak. "Woy! Kalau jalan tuh pake mata!" amuk Alen pada dirinya. "Alen?!" teriaknya dalam hati. "Gawat, gue harus cepet-cepet pergi dari sini," batinnya. Setelah itu ia pun langsung pergi dari hadapan Alen dengan buru-buru, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. "Bukannya minta maaf malah kabur!" dirinya sempat mendengar Alen berbicara seperti itu padanya. Setelah itu, ia pun bersembunyi dibalik pohon kelapa yang menjulang tinggi, dari sini ia bisa melihat Alen tengah berlari menuju ujung dermaga untuk menghampiri Raina, yang baru saja ditolong oleh Bara. Dirinya masih terus memperhatikan mereka bertiga, sampai akhirnya ia melihat Alen memberikan napas buatan untuk Raina. "Akh! Sial! Kenapa malah dikasih napas buatan sama Alen? Harusnya cowok itu yang ngasih, bukan Alen!" ia mencak-mencak karena kesal, rencananya tidak sesuai ekspetasinya. "Sial! Sial! Sial!" umpatnya berkali-kali. ✨✨✨
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN