12. Dua Gadis Menyusahkan

2300 Kata
*** Tring... Tring... Tring... Suara alarm membuat suasana kamar yang awalnya hening menjadi sangat bising, bahkan gadis yang tadi sedang asyik berkelana dalam mimpinya menjadi terganggu. Gadis itu mengubah posisi tidurnya berkali-kali dan tak kunjung menemukan posisi yang nyaman. Telinga gadis itu terasa berdengung mendengar nyaringnya bunyi alarm yang bising. Walau sudah ditutupi oleh bantal, tetap saja bunyi itu masuk ke dalam telinganya. “ARGHH!” geram gadis itu yang duduk seketika sembari melempar bantalnya. Gadis itu menatap nyalang pada alarm kecil pembuat onar di pagi hari. “Anna, bangun!” panggil Calvin dari luar kamar. Anna mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan menatap pintu itu dengan lekat. Entah kenapa suasana hati Anna sangat buruk pagi ini. Perutnya yang sejak dini hari sekitar pukul tiga pagi tadi sangat sakit seolah tengah diremas kencang oleh sesuatu yang tak kasat mata. Anna memegang perutnya yang masih terasa sakit dan bergerak turun dari ranjang. Namun, saat ia telah berdiri dari ranjang, Anna tak menyadari jika ada noda darah di seprei ranjangnya. Gadis itu berjalan gontai menuju pintu dan membukanya dengan lemah. “Hm?” sahut Anna. Calvin terkejut saat melihat penampilan Anna yang sangat berantakan. Rambut yang kusut, kantung mata yang terlihat jelas berwarna hitam, mata memerah dan sedikit bengkak, lalu bibirnya begitu pucat. Raut wajah Calvin berubah khawatir, pria itu menerobos masuk dan berdiri semakin dekat dengan Anna. Tangannya terulur menyentuh kening Anna dan kecemasannya semakin meningkat. Kening Anna terasa hangat. “Anna, kau sakit!” pekik Calvin khawatir. Anna yang matanya sempat terbuka tutup karena masih mengantuk menjadi melek seketika. Anna menatap cengo pada Calvin. “Ha? Aku sakit?” tanyanya bingung. Dan saat melihat mata Calvin yang memancarkan kecemasan, cepat-cepat Anna menggeleng keras. “Aku tidak sakit! Kau saja yang lebay,” ucap Anna diselingi tawa renyahnya. “Tapi suhu tubuhmu hangat, Ann!” kekeuh Calvin. “Aku bilang tidak, berarti tidak. Kau lihat? Aku sehat dari segala sisi.” Anna memutar tubuhnya menunjukkan semua sisi dari tubuhnya untuk membuat Calvin percaya bahwa ia sedang baik-baik saja. Namun, saat Anna tadi berputar menunjukkan tubuh bagian belakangnya, Calvin mengernyit bingung. Apa itu? Pikir Calvin yang melihat noda di celana Anna yang berwarna biru. “Ann, itu apa?” tunjuk Calvin pada bagian celananya yang kotor. “Apanya yang apa?” tanya Anna sembari melihat arah yang ditunjuk Calvin, tetapi sayang ia tak mampu melihat tubuh bagian belakangnya. “Berbaliklah agar aku bisa lebih jelas melihatnya,” perintah Calvin. Anna menurut dan segera membelakangi Calvin, membiarkan pria itu melihat apa yang dimaksudnya tadi. “Anna,” panggil Calvin pelan. Calvin berdiri kikuk di hadapan Anna sembari memegang tengkuknya. “Kenapa? Apa kotornya banyak?” tanya Anna heran. Calvin terlihat salah tingkah dan bertanya pelan, “Kapan tanggalmu datang bulan?” tanya Calvin. Anna tetap saja tidak kunjung mengerti. Bahkan gadis itu mencuramkan alisnya menatap sikap aneh Calvin. “Kenapa menanyakan datang bulan ku? Aku biasanya datang bulan ketika tanggal dua... PULUH SATU! Ini tanggal dua puluh dua? Ja-jangan bilang jika aku...” Calvin mengerti maksud ucapan Anna yang menggantung dan mengangguk mengiyakan isyarat itu. “Aaa!” pekik Anna malu. Gadis itu mendorong tubuh Calvin untuk keluar dari kamarnya dan bergegas mengunci pintu itu. Jantungnya berdetak cepat karena panik dan malu. Sangat malu. “Aish! Bagaimana bisa aku lupa dengan tanggal ulang tahun- eh datang bulan ku sendiri. Arghh, malunya aku!” Anna berlari menuju kamar mandi. Namun, saat melihat seprei ranjangnya yang ternodai oleh darah haid miliknya membuat kepala Anna berdenyut nyeri. Anna bergegas membongkar seprei kotor itu dan menggantinya dengan seprei baru berwarna ungu. Anna berdecak kesal karena kebodohannya dan suasana hatinya semakin memburuk. Anna melanjutkan kembali langkahnya menuju kamar mandi dan bergegas membersihkan diri. Saat ia akan memilih pembalutnya, tiba-tiba tangan yang ia gunakan untuk meraba tak kunjung menjumpai barang yang ia butuhkan itu. Mata Anna melebar. Gadis itu mengacak sedikit pakaian nya dan tetap tak menemukan barang berharga kebutuhannya. “Kenapa aku begitu s**l?” Anna hampir menangis karena hal itu. Suasana hatinya mudah berubah-ubah. Sepertinya Anna akan menjadi moody beberapa hari ini. “Apa aku harus keluar membelinya sendiri? Tapi, bagaimana nanti jika anu ku mengeluarkan anunya di sana? Mau ditaruh mana mukaku ini?” frustasi Anna. Gadis itu terus berjalan bolak-balik karena sedang mempertimbangkan sesuatu yang menyangkut harga dirinya. Dan pada akhirnya, Anna tak ada pilihan lain selain meminta Calvin untuk membelikannya pembalut. Semoga pria itu mau. “Ca-Calvin,” panggil Anna sedikit lebih keras. Gadis itu membuka pintunya sedikit dan mengintip untuk melihat keberadaan Calvin. Tanpa menunggu waktu lama, Calvin datang sembari membawa roti di tangannya. Calvin memasukkan roti itu ke dalam mulutnya dan mengunyah perlahan, mulut yang penuh roti itu berkata “Kenapa, Ann? Apa ada yang bisa kubantu?” tanya Calvin yang begitu perhatian. “A-aku... em... bisakah kau membelikan ku pembalut?” Anna mengecilkan suaranya saat diakhir kalimat. Calvin tersedak dan terbatuk hebat. Pria itu menepuk dadanya yang terasa sesak karena tersedak. Dan alhasil hal itu membuat Anna semakin malu. Gadis itu hendak mengurungkan niatnya sebelum Calvin berkata, “Pembalut seperti apa?” tanya Calvin. “Terserah yang seperti apa.” BRAK! Anna menutup pintunya dengan keras karena sudah terlanjur malu. Sedangkan Calvin terkejut di depan pintu dengan mulut yang terbuka hendak bicara. “Tapi masalahnya aku tidak tau bentukan pembalut itu seperti apa,” gumam Calvin. “Hah, sudahlah. Nanti bisa bertanya pada seseorang jika aku bingung.” Calvin mengeluarkan motor besarnya. Pria itu terlihat sangat gagah ketika menaiki motor besar itu, tapi siapa sangka pria gagah itu akan membeli sebuah pembalut? Calvin mencari tempat minimarket yang sedikit jauh dari lokasi rumahnya. Bukan karena minimarket di sekitar rumahnya yang masih tutup, akan tetapi karena Calvin tidak ingin orang-orang yang berada di sekitarnya tahu tentang perkara yang memalukan ini. Dan untuk mewanti-wanti, Calvin memilih minimarket yang jarang dikunjungi orang-orang yang dikenalnya. Saat Calvin memarkirkan motor besarnya, pandangan gadis-gadus yang ada di sana sudah terpusat pada sosok Calvin yang gentleman. Pria itu turun dari motornya dan memberikan senyum sopan lalu bergegas memasuki minimarket. Calvin berkeliling mencari barang titipan Anna itu dan sudah sekitar lima kali putaran ia mencari benda itu, namun sayangnya Calvin menjadi frustasi karena tak menemukannya. Calvin melirik ke kanan dan ke kiri untuk menanyakan barang itu. Namun, lagi-lagi keberuntungan tidak sedang berpihak padanya. Di sekitarnya hanya ada laki-laki dan tidak ada perempuan untuk ia tanyai. “Aish. Kenapa tidak lihat internet? CK, bodoh!” Calvin meraba saku celana, jaket dan bajunya tetapi lagi-lagi Calvin tidak beruntung. Pria itu lupa membawa ponselnya. Seorang pria mendekati Calvin dengan tatapan heran. “Kau kenapa?” tanya pria itu. Calvin mendongakkan kepalanya dan melihat siapa yang sedang berbicara dengannya itu. Calvin bingung ingin menjawab apa, ia menggaruk tengkuknya dan memilih untuk menggeleng. “Kau sedang ingin mencari apa? Jika saja aku tahu, maka akan ku bantu.” Calvin sedikit ragu, namun bukankah lebih baik ia menanyakan pada sesama lelaki agar malunya tak terlalu besar? Baiklah, sepertinya tidak ada cara lain. Calvin menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa dan menghembuskannya secara kasar. “Aku sedang mencari pembalut,” ucap Calvin dengan nada cepat. Pria yang tadi berada di hadapan Calvin menjadi terdiam dengan bola mata yang melebar. Pria di depannya itu terlihat menahan tawanya dan alhasil Calvin mendengus. “Tertawa saja jika ingin tertawa. Aku tidak masalah sama sekali,” ketus Calvin pada pria di hadapannya. “Ah, tidak. Aku pikir kita senasib,” ucap pria itu setelah berhasil menghentikan tawanya. “Maksudmu?” tanya Calvin tak mengerti. “Adik perempuan ku datang bulan hari ini dan aku yang diperintahkan nya untuk membeli benda itu. Padahal aku sudah menolak tapi karena Mom yang memaksaku, aku jadi tidak bisa berbuat apa-apa.” Pria itu menjelaskan maksudnya. “Wah, benarkah? Sahabatku juga datang bulan hari ini dan tidak ada orang lain yang bisa dia mintai tolong selain aku, jadi aku menerimanya.” Ungkap Calvin. “Haha, perempuan kadang kala merepotkan juga ternyata. Oh ya, sahabatmu itu suka yang tipe apa?” Calvin mengernyitkan keningnya. Tipe apa yang dimaksud pria di depannya? Apa tipe pria yang disukai Anna? Atau apa? Merasakan raut kebingungan Calvin, pria itu akhirnya menjelaskan lebih detail apa yang ia maksud. “Maksudku tipe pembalut seperti apa yang sahabatmu suka? Bersayap atau tidak?” Calvin melongo. Ia berpikir jika pria di depannya ini sudah sangat paham betul tentang benda terkutuk itu. Wah, pria langka. “Apa jika bersayap Anna bisa terbang?” tanya Calvin tanpa sadar. Pria yang menjadi lawan bicara Calvin menjadi tertawa terbahak-bahak. Tetapi tiba-tiba tawanya terhenti saat menyadari jika Calvin mengucapkan sebuah nama. “Tunggu, siapa nama sahabatmu itu?” tanya pria itu. “Anna. Namanya adalah Anna, kenapa?” DEG! Pria itu membatu di tempat. Dan senyum kikuk tiba-tiba hadir di bibirnya. “Oh ya, namamu siapa?” tanya Calvin. Pria itu mengulurkan tangannya berniat untuk memperkenalkan diri. “Namaku Nathaniel Vincent, kau bisa menyapaku dengan panggilan Nathan.” Calvin membalas uluran tangan Nathan dan memperkenalkan namanya. “Namaku Calvin,” ucap Calvin dengan senyumnya. Nathan melepas lebih dulu jabat tangan mereka dan berjalan mengambil benda yang mereka butuhkan. Calvin membuntuti pria itu dari belakang. “Ini, sepertinya cocok. Karena menurut adikku, dia selalu suka dengan yang panjang dan bersayap. Dan mungkin sahabatmu juga menyukainya.” Seolah mendapat barang teramat langka, Calvin meraih benda itu dari tangan Nathan dan melihatnya dengan takjub. “Woah, impressive. Terima kasih, bro.” Calvin menepuk bahu Nathan bangga. “Baiklah, aku duluan kalau begitu. Aku takut sahabatku itu menunggu lama.” Nathan menganggukkan kepalanya. Arah pandangnya terus tertuju pada punggung Calvin yang menuju kasir lalu pergi keluar. Nathan menunduk dan melirik benda yang ia pegang. “Sepertinya tidak mungkin Anna ada di sekitar sini sedangkan para anak buahku memberi kabar tak menemukannya. Anna nya bukan Annaku. Ya, sepertinya begitu.” Nathan mengusir pemikirannya agar tak kembali larut dalam kesedihan. Pria itu mengambil pembalut sebanyak yang ia bisa dan membawanya ke kasir. Nathan sebenarnya malu, tetapi rasa cueknya lebih besar dari rasa malunya. Dan memilih untuk menulikan pendengaran nya pada godaan ibu-ibu yang juga sedang berbelanja dengannya. *** Anna sudah bersiap dengan pakaiannya. Gadis itu terlihat sedikit senang karena suatu hal. Dan hal itu tentang Calvin yang perhatian sejak tadi. Sejak pagi, Anna sakit perut berkepanjangan. Untungnya hari ini adalah hari libur jadi Calvin tak perlu bersusah payah meminta izin libur pada Mrs. Wilson. Anna bahkan kini tengah meringkuk sembari meremas perutnya yang begitu nyeri. Anna mengerang sakit dan sampai-sampai ia menangis. Anna tak tahan dan menumpahkannya dengan tangisan. Calvin merasa kewalahan dengan sikap moody Anna dan juga khawatir dengan kesakitan yang dirasakan Anna. “Sakit, Vin.” Keluh Anna sejak tadi bahkan sudah berkali-kali gadis itu mengulang kalimat yang sama. “Bagian mana yang sakit? Apa masih sakit setelah aku berikan minyak angin tadi? Astaga bagaimana ini? Oh Tuhan aku tidak tau harus apa, Ann. Tolonglah jangan menangis. Kau cantik, kau anak baik, jangan menangis ya.” Bukannya berhenti menangis, Anna malah semakin mengencangkan tangisannya. “Anna berhenti menangis, ya? Aku belikan cokelat, apa kau mau? Apa kau ingin ke toko bunga untuk menghirup harum bunga itu?” cerocos Calvin kalut. “Tidak! Argh!” “Lepaskan tanganmu dari perutmu itu, kemari aku lihat bagian mana yang sakit.” Calvin meraba perut Anna dan memijatnya pelan. Dengan wajah seriusnya, Calvin dengan telaten mengusap perut gadis itu. Dan ajaibnya, tangisan Anna mereda dan kini digantikan dengan idaman kecil. Saat merasa Anna tak menangis lagi, Calvin menjauhkan tangannya dari perut gadis itu. Namun, di detik berikutnya tangan Calvin ditahan oleh Anna. Gadis itu kembali meletakkan tangan Calvin di atas perutnya. “Aku nyaman, tolong jangan angkat tanganmu.” Calvin terdiam dan hanya menerima segala perlakuan Anna. Tangannya ia letakkan pada perut Anna yang terasa hangat. Dan pandangannya beralih pada mata Anna yang perlahan memberat dan tertidur. Gadis itu akhirnya tertidur lelap setelah menangis berjalm-jam lamanya. Calvin menatap arloji di pergelangan tangan yang satunya dan di sana menunjukkan pukul setengah satu siang. Calvin memastikan terlebih dahulu bahwa Anna sudah benar-benar tidur atau belum. Dan ketika sudah yakin jika Anna sudah tertidur. Calvin mengangkat tubuh ringan itu dan membawanya ke kamar. Calvin merebahkan tubuh Anna dengan lembut di atas ranjang dan menyelimuti gadis itu. “Tidurlah dengan nyenyak, Princess.” *** Beda tempat namun di waktu yang sama. “KAKAK!” teriak seorang gadis dengan kesetanan. Gadis itu berkacak pinggang di lantai atas dekat tangga dan mencari sosok pria yang begitu menyebalkan menurutnya. “Kenapa, sayang?” tanya Nathan yang baru saja keluar dari arah dapur. “Gendong aku turun,” rengek Alysia. Nathan sedikit tersedak dengan salivanya sendiri. Pria itu menaikkan sebelah alisnya menatap tingkat aneh yang Alysia tunjukkan. “Kenala tidak turun sendiri? Bukankah biasanya kau turun sendiri? Ada apa denganmu?” tanya Nathan heran. “Kakak gendong!” rengek Alysia dengan memaksa. Nathan menggeleng tak percaya, pria itu menghembuskan napas pelan dan menaiki tangga untuk berada di lantai atas tempat Alysia berada. Nathan berjongkok di hadapan Alysia yang mengisyaratkan untuk gadis itu naik ke punggungnya. “Tidak mau! Aku ingin di gendong gaya bridal style!” pinta Alysia memaksa. “Naik atau turun sendiri?” ucap Nathan jengah. “Gendong bridal style! Kalau tidak mau, akan aku adukan pada Daddy jika kau bersikap menyebalkan. Dan berakhir Dad memarahimu dan mengasihaniku. Kau akan diberi hukuman dan aku akan dimanja,” ucap Alysia penuh dengan keangkuhan. “Alysia Berliane Vincent, ingatlah jika aku kakakmu bukan temanmu. Bersikaplah sopan sedikit,” peringat Nathan. Namun, siapa sangka gadis itu malah berubah sedih dengan mata berkaca-kaca hendak menangis. “Pergilah, aku tidak jadi turun!” Alysia berlari menuju kamarnya dan masuk serta menutup pintunya kencang. BRAK! Nathan meraup wajahnya yang begitu frustasi menghadapi gadis yang tengah datang bulan itu. Di satu sisi ia memikirkan Alysia dan di sisi lain ia memikirkan sahabat dari pria yang baru saja ia kenal tadi pagi. Anna. Nama sahabat pria itu adalah Anna. Apakah Anna Calvin adalah Anna yang selama ini ia cari? Dan bagaimana caranya agar ia bisa memastikan itu? “Zack!” panggil Nathan. Zack yang sejak awal berada di dekat kamar Alysia segera berlari menghampiri Nathan. “Iya, Tuan Muda?” sahut Zack. “Cari tahu perihal seorang pria bernama Calvin di sekitaran minimarket X,” perintah Nathan. “Baik, Tuan Muda.” Sebelum Zack pergi dari hadapannya, Nathan lebih dulu mencegah langkah pria itu. “Perintahkan saja anak buahmu, kau bujuklah Alysia yang sedang merajuk padaku. Ku harap kau bisa mengatasinya.” Tanpa diketahui Nathan, Zack sedikit mengeluarkan seringaiannya. Pria itu menunduk penuh penghormatan, “Baik, Tuan Muda.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN