***
“Ha-hai!”
Pandangan Nathan terhalang saat seseorang tiba-tiba berdiri di hadapannya. Pria itu mengernyit saat hanya berhasil melihat bentukan hidung gadis pelayan toko bunga tadi dan pandangannya kini beralih pada orang yang berdiri di hadapannya.
“Anya?” cicit Nathan. Nathan menatap ke arah belakang Anya dan tak menemukan gadis tadi. Kening Nathan berkerut dalam. Ia merasa sangat familiar dengan punggung mungil gadis tadi, akan tetapi gadis itu sudah tak terlihat lagi. Kemana perginya gadis itu?
“Ka-kau sedang apa di sini?” tanya Anya kikuk. Gadis itu mengambil posisi untuk duduk di hadapan Nathan dan berusaha menutupi arah pandang Nathan.
‘s**l! Aku kecolongan!’ batin Anya mengumpat.
“Dan kau kenapa ada di sini?” ucap Nathan balik bertanya. Perhatiannya kini sudah teralihkan seutuhnya pada Anya.
Anya gelisah dalam duduknya, ia menggaruk pipi serta menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dan hal itu tidak luput dari penglihatan Nathan. Pria itu tidak merasa terganggu atas kehadiran Anya yang tiba-tiba, ia bahkan merasa sedikit lega setidaknya Anya masih mau menegurnya.
“Aku tadi lewat sini dan tidak sengaja melihatmu. Jadi, tidak salahkan jika aku singgah memastikan itu kau atau bukan?” ucap Anya beralibi.
“Tidak,” balas Nathan singkat.
Suasana di antara berubah jadi hening dan berujung canggung. Nathan bahkan menyesap kopinya dengan sedikit tertatih. Matanya melirik pada Anya yang menunduk di hadapannya.
“Ekhem!” deham Nathan mencairkan suasana canggung di antara mereka. Nathan meletakkan gelas kopinya perlahan dan duduk dengan tegap.
“Jadi, kenapa berdiam diri?” tanya Nathan dengan senyuman tulusnya.
“Ah, ya? A-aku... baiklah, aku pergi.” Anya segera berdiri dan sedikit membungkuk hormat. “Maafkan aku karena sudah mengganggu waktumu. Selamat sore, semoga harimu indah.” Anya berjalan tergesa melewati Nathan, namun pria itu lebih dulu menahan pergelangan tangan Anya.
“Duduklah kembali, Anya. Aku ingin bicara,” ucap Nathan lembut.
“Ba-baik,” ucap Anya gugup sembari duduk di kursinya kembali. Nathan melihat gerak-gerik Anya yang terlihat sangat menggemaskan. Pipi gadis itu merona samar menambah kesan cantiknya.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Nathan berbasa-basi.
Anya tertawa renyah dan berkata, “Kenapa jadi begini? Pertanyaanmu seolah mengatakan jika kita sudah berpisah sejak lama. Oh, ayolah! Aku hanya menyatakan perasaanku bukan ini yang ku mau,” ketus Anya. Gadis itu bersikap angkuh seperti halnya dulu sebelum ia menyatakan perasaannya.
“Jangan pikir karena kau pria tertampan yang pernah aku jumpai, jadi aku tidak bisa move on darimu! Enak saja! Banyak pria tampan di luar sana yang jauh lebih baik darimu dan tentunya menyukaiku. Jangan terlalu lebay!” sinis Anya, gadis itu melempar tatapan meremehkannya.
Nathan tak tersinggung. Pria itu bahkan tertawa dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Pria itu menatap Anya dengan senyum lebarnya.
“Ini yang aku mau. Kau dan aku tetap akan menjadi kita, tetapi hanya sebagai sahabat. Pilihlah laki-laki yang jauh lebih baik dariku, yang bisa menghargai perasaanmu. Dan tentu saja itu bukan aku, karena selamanya kita hanya sahabat. Paham, sayang?” Nathan mengacak gemas rambut tergerai indah milik Anya. Hati Nathan merasakan kelegaan ketika masalahnya dan Anya sedikit mereda.
“Maaf, aku memang bodoh. Aku bodoh karena nekat untuk tetap mencintaimu, padahal sejak awal kau sudah memperingatkan ku. Bodohnya aku,” ucap Anya dengan kekehannya namun berbeda dengan hatinya yang mungkin sudah tersiksa di dalam sana.
“Tidak, Anya. Tidak ada yang salah dari perasaan. Karena perasaan itu datang dari hati sedangkan pilihan hati tak bisa kita pilih. Tapi setidaknya bisa kita cegah. Aku yakin, kau bisa mengendalikan perasaan mu padaku.” Anya tersenyum masam mendengar penuturan Nathan. Mudah saja berbicara tetapi sulit untuk dilakukan.
“Tapi kau tidak bisa mengendalikan perasaan mu untuk gadis itu,” sarkas Anya menyinggung. Melihat ekspresi terkejut Nathan, menambah nyeri dalam hati Anya..
“Tapi ini berbeda,” gumam Nathan dengan mengalihkan pandangan ke gelas berisi kopi miliknya. Nathan menyesap perlahan sembari melihat Anya yang mencebikkan bibirnya untuk mengejek perkataan Nathan.
“Berbeda dalam artian? Itu sama saja menurutku. Bahkan jika dibandingkan antara aku dan kau, maka aku akan berteriak paling keras bahwa kau adalah manusia yang lebih bodoh dariku. Dasar tak berkaca,” ketus Anya. Tangan gadis itu bersedekap di depan dadanya sembari menatap Nathan dengan dagu terangkat angkuh.
“Aku mencintainya diiringi dengan candu serta obsesi, dia bagai nikotin yang membuatku tak pernah berhenti memikirkan gadis itu, dia canduku asal kau tau. Oh ayolah, berhenti membahas soal perasaan ini. Bagaimana jika kita membahas pekerjaan mu?” ucap Nathan mengalihkan pembicaraan.
“Pekerjaanku?” Anya menaikkan sebelah alisnya.
“Kau lupa jika kau masih sekretarisku, tapi sepertinya hari ini, kau ku pecat.” Anya menganga melihat sikap Nathan, gadis itu kembali mencebikkan bibirnya.
“Bayar gajiku! Enak saja sembarangan memecatku tanpa memberiku uang gaji terlebih dahulu. Aku sudah bekerja selama tujuh hari di bulan ini, maka gajiku akan tetap ada jika kau akan memecat ku.”
Nathan kembali tertawa lepas. Pria itu memajukan sedikit wajahnya. “Bagaimana jika gajimu aku ganti dengan jalan-jalan bersamaku sepanjang sore ini? Apa kau mau, Nona Anya yang terhormat?” tawar Nathan.
Hatinya Anya menghangat melihat senyum yang Nathan berikan untuknya. Gadis itu bersikap seolah terpaksa menerima tawaran Nathan, “Ah, sepertinya tidak ada cara lain mengasihanimu, CEO miskin.”
Nathan beranjak dari duduknya dan bergerak mendekat kursi Anya. Pria itu mengulurkan tangannya untuk meminta gadis itu agar menyambut sambutan tangannya. Tentu saja dengan senang hati Anya menerima uluran tangan Nathan. Kedua insan manusia itu terlihat sangat bahagia. Tangan mereka saling menggenggam dan keluar dari cafe bersama setelah membayar minumannya.
Tanpa diketahui Nathan, gadis misterius yang begitu familiar menurutnya tadi, melihat semua yang Nathan dan Anya lakukan. Walau tidak tahu apa yang mereka bicarakan, hanya satu yang mampu Anna ketahui. Pria yang berada di hadapan Anya itu pasti adalah Nathan. Saat Anna menatap intens pada sosok Nathan, gadis itu menggaruk pipinya. Ia tak mengenali pria itu lalu kenapa Anya menyuruhnya menjauhi pria itu? Anna menggelengkan kepalanya. Sejauh yang ia lihat, Anya terlalu waras untuk dikatakan gila.
“Ah, sebaiknya aku menghindari kekasih gadis itu. Mungkin saja mereka bertengkar dan tanpa sengaja si Nathan itu menyebutkan ku sebagai alibinya. Aish, menyusahkan saja!” pikir Anna dan kembali memasuki toko bunga itu.
“Sedang apa?”
Anna terperanjat kaget melihat Calvin yang sudah ada di hadapannya dengan tampang bertanya. “Kutanya sedang apa?” tanya Calvin sekali lagi.
“Oh itu, aku melihat gadis gila kemarin bersama kekasihnya.” Calvin melirik ke arah belakang tubuh Anna untuk melihat apa yang Anna ucapkan itu benar atau tidak.
“Mereka sudah pergi,” ucap Anna dan membalik paksa tubuh Calvin lalu mendorong punggung tegap Calvin untuk beranjak masuk kembali toko mereka.
“Jangan kepo dengan urusan orang, itu tidak baik!” peringat Anna.
“Iya iya, dasar tikus kecil.”
***
“Mom, apa sudah ada kabar?” Nathan mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil sembari tangan kanannya memegang ponsel.
“Belum, Nak. Tidak ada kabar yang mengatakan berjumpa dengan gadismu.” Nathan menghembuskan napas gusar.
“Bailklah jika begitu, aku matikan panggilannya, ya Mom? Semoga hari mu indah.” Ucap Nathan.
“Baiklah, sayang. Kau jaga kesehatanmu, jangan terlalu memikirkannya. Jika dia memang jodoh yang Tuhan berikan untukmu, pasti dia akan datang padamu. Pegang ucapan Mom mu ini. Okay?” ucap Evelyn memberikan suntikan semangat untuk Nathan.
“Baik, Mom.”
Nathan merebahkan tubuhnya yang kelelahan. Tadi sore, ia menghabiskan banyak waktu untuk berjalan-jalan bersama Anya demi agar hubungannya dan Anya membaik kembali. Dan satu beban pikirannya sudah berkurang, namun beban utama yang ia tanggung tak kunjung hilang.
“Baiklah, ku beri kau waktu lebih lama tanpaku, Ann.”
***
“Benarkah?” tanya Anna begitu antusias pada pria di depannya. Gadis itu duduk dengan punggung tegap dan tangan yang memegang bahu Calvin. Senyum keduanya saling membalas satu sama lain.
“Benar, Anna. Aku akan melamar pekerjaan di sebuah perusahaan dengan bantuan Mrs. Wilson,” balas Calvin ikut memegang bahu Anna dan menariknya mendekat.
Calvin membawa tubuh mungil Anna ke dalam pelukannya, “Aku akan bekerja kantoran. Dan kita tidak perlu lagi bekerja sebagai pelayan toko bunga,” ucap Calvin.
Senyum Anna sedikit demi sedikit mulai menghilang dan membuat Anna bertanya-tanya. “Kita? Apa maksudmu?” tanya Anna pada akhirnya.
“Aku dan kau tak perlu lagi bekerja sebagai pelayan,” ulang Calvin dengan perlahan.
“Kenapa? Apa maksudmu, kita berdua akan bekerja kantoran? Apakah begitu?” Bola mata Calvin sedikit membesar. Pria itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Bukan begitu maksudku,” ucap Calvin sedikit salah tingkah.
“Jadi, maksudmu?” Anna menatap Calvin dengan penuh rasa penasaran. Mata bulatnya bersinar polos saat melihat Calvin. Dan entah dari mana datangnya, Calvin tiba-tiba merasa serangan jantung hanya karena melihat wajah menggemaskan Anna.
“Aku akan bekerja, lalu kau berhenti bekerja sebagai pelayan toko bunga dan hanya di rumah saja. Paham maksudku?” Sontak Anna terdiam. Ia tak memprotes ataupun menerima. “Arg, lebih jelasnya seperti ini. Aku kepala keluarga dan kau sebagai bendaharanya. Nah, apa kau setuju?”
“Maksudmu, biarkan kau yang bertanggung jawab soal urusan keuangan. Dan aku yang akan mengatur keuanganmu. Begitu?” tanya Anna dan dengan cepat Calvin mengangguk.
“Benar sekali.”
“Tidak mau!” tolak Anna tegas. Gadis itu bersedekap d**a dan mengangkat dagu tinggi sembari menatap sinis pada Calvin.
“Kenapa?” heran Calvin.
“Sejujurnya aku bekerja sebagai pelayan toko bunga itu bukan karena uang, tetapi aku senang melakukannya. Menyiram bunga, menyaksikan bunga yang kuncup menjadi mekar dan yang paling aku suka adalah wangi mereka yang menyeruak ke dalam hidungku. Aku suka itu semua. Dan perkara kau yang akan ganti pekerjaan ya terserah kau saja. Tapi, tidak denganku. Titik!” tekan Anna dengan matanya yang bergerak ke sana kemari. Gadis itu terlihat begitu antusias saat menceritakan tentang bunga. Calvin tersenyum lembut. Pria itu menatap manik penuh ketulusan milik Anna. Sungguh ia tak menyangka ada orang tua yang begitu tega menyakiti Anna yang menurutnya sederhana dan polos ini.
“Ya sudah, terserah apa katamu. Lakukan apa yang akan kau lakukan dan aku akan selalu mendukungmu.” Anna menyengir lebar dan mengecup pipi pria itu dengan senyuman terbaiknya.
Calvin membeku di tempat. Tubuhnya terasa kaku tak dapat digerakkan. Bahkan entah kenapa tanpa disadarinya, ia menelan saliva kasar. Matanya menatap liar ke segala arah tanpa mau melihat Anna. Rasa hangat tiba-tiba terasa menjalar ke pipinya. Wajah Calvin yang berkulit sedikit kuning langsat itu merona malu, sangat imut.
“Ada apa denganmu?” Anna mengulurkan tangannya dan menaruh di kening Calvin, mengecek apakah pria itu sakit atau tidak. Dan hasilnya terasa normal. Calvin menepis pelan tangan Anna hingga membuat gadis itu semakin menatapnya intens karena aneh.
“A-aku mau mandi dulu, hari terasa panas sekali di luar.” Tanpa menunggu jawaban Anna, Calvin segera bergegas menuju kamar miliknya.
Anna menatap punggung Calvin hingga punggung itu hilang di balik pintu. Anna mengangkat bahu tanda tak ingin tahu lebih lanjut akan sikap Calvin yang berbeda itu. Gadis itu ikut masuk ke dalam kamarnya sendiri dan tentu saja ingin tidur.
“Panas apanya? Di luar terlihat dingin,” gumam Anna dan menarik selimut sampai d**a.
Pikiran Anna kembali teringat pada sosok Nathan yang ia anggap sebagai kekasih Anya. Anna mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping dan menatap dinding itu dengan tatapan menerawang.
“Dia Nathan?” Anna bermonolog.
“Nathan...” Anna terdiam sejenak dalam pemikirannya sendiri. “Sahabatku dulu juga bernama Nathan.”
“Ah, tidak mungkin. Nathanku bukan Nathannya.”
Anna memejamkan matanya dan segera tertidur.
***