***
Setelah liburan Minggu lalu, suasana hati Nathan mulai membaik. Pria itu terlihat lebih baik dari hari sebelumnya. Bahkan Nathan kini sudah bisa kembali berbaur dengan karyawannya yang lain. Semua karyawan merasakan perubahan itu. Walau tidak secara menyeluruh, setidaknya Nathan tidak lagi kaku terhadap mereka.
“Pagi, Mr. Vincent!” sambut para karyawan saat berpapasan dengan Nathan. Nathan yang hari-hari sebelumnya setelah kehilangan Anna sering kali bersikap dingin kini berangsur-angsur berubah sedikit menghangat. Senyumnya sudah mulai terbit menyapa para karyawan lagi. Sikapnya tak sedingin waktu itu. Dan sekarang lebih banyak menebarkan senyumnya.
Saat melihat Nathan yang berjalan beriringan bersama Anya yang menjabat sebagai sekretaris keduanya, membuat gosip tentang hubungan kedua orang itu menyebar antar karyawan kantor. Banyak dari mereka yang setuju dengan hubungan antara Nathan dan Anya. Karena menurut mereka, Nathan dan Anya sama-sama tampan dan cantik lalu tak kalah kaya dan berkuasa. Bahkan dunia entertainment pun juga ikut merilis berita mengenai gosip yang beredar. Nathan tahu gosip itu, hanya saja ia malas untuk menjelaskan hubungannya dan Anya yang sebenarnya. Ia dan Anya sekedar sahabat dan tak lebih dari itu. Nathan memilih mengabaikan semuanya. Anya yang melihat respon Nathan yang tidak membantah rumor yang terjadi, membuat gadis itu menaruh harapan lebih pada Nathan.
Nathan berjalan cepat menuju lift disusul Anya di belakangnya. Di dalam lift kini hanya ada mereka berdua saja. Nathan sibuk dengan ponselnya sedangkan Anya sibuk mengamati Nathan. Sejak rumor itu beredar, hubungan Nathan dan Anya tetap sama saja hanya yang membedakan adalah Nathan yang lebih banyak diam dari biasanya.
“Anya, apa kau yakin akan bertahan untuk terus menjadi sekretaris keduaku? Kau punya pekerjaanmu sendiri, kenapa kau memilih untuk tetap berada di sini?” tanya Nathan yang sudah jengah dengan keadaan ini. Ia sedikit risih walau nyatanya Anya sedikit membantunya untuk mengurus beberapa berkas dan meyakinkan klien mereka. Namun, rasa canggung antara mereka berdua sangat menganggunya.
Anya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Nathan. Gadis itu menggeleng tegas membantah pemikiran Nathan yang beranggapan bahwa ia jenuh dengan pekerjaannya saat ini. Padahal apapun yang ia kerjakan bersama Nathan adalah hal menyenangkan baginya.
“Lagi pula profesi model ku biasanya di lakukan di malam hari. Jadi, pagi sampai sore aku memiliki banyak waktu luang sehingga aku memanfaatkannya untuk mendapatkan uang lebih banyak.” Alasan Anya masih begitu meragukan bagi Nathan. Ia dapat dengan jelas melihat lingkar hitam di bawah mata Anya. Gadis itu terlihat kurang tidur.
“Kau kelelahan, Anya!” tersirat kekhawatiran dalam raut wajah Nathan. Pria itu mendekat pada Anya dan memegang bahu gadis itu dengan lembut.
“Kau butuh uang banyak? Katakan berapa? Jika kau memerlukan uang lebih banyak, maka aku bisa memberikannya padamu tanpa kau perlu bersusah payah bekerja keras seperti ini. Kau tinggal katakan, berapa uang yang kau perlukan sekarang? Kita itu sahabat dan kau sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri. Dan tidak mungkin jika aku akan perhitungan padamu,” ucap Nathan yang terlihat sangat cemas melihat wajah kusut Anya.
Anya tersenyum lembut saat melihat kekhawatiran dalam mata Nathan untuknya, akan tetapi bukan itu masalah sebenarnya mengapa ia kurang tidur selama dua hari ini.
Masalah utamanya adalah ia yang mendapat laporan dari anak buahnya mengatakan ada seorang gadis bernama Anna di New York. Mereka bahkan bertanya dan meminta izin padanya untuk membunuh gadis bernama Anna itu atau tidak. Anya tidak percaya dengan apa yang anak buahnya katakan. Pasalnya, Singapura dan New York sangat jauh dan ada berpuluh-puluh negara yang berada di jalur Singapura-New York. Lantas kenapa harus begitu kebetulan berada di New York? Anya mendinginkan kepalanya dan tidak bertindak gegabah. Gadis itu meminta data identitas gadis bernama Anna.
Dan saat melihat info identitas gadis itu dari data yang didapat orang suruhannya, benar ternyata itu adalah gadis Nathan. Gadis yang dicari oleh Nathan berminggu-minggu ini. Anya berubah takut dan gelisah. Kenapa bisa gadis itu berada di New York? Anya menjadi sangat cemas dan bermaksud untuk memerintahkan orang suruhannya agar segera menculik Anna. Namun, melihat wajah gadis itu dengan teliti, Anya tak mampu melakukan hal kotor seperti itu. Anya mengurungkan niat jahatnya. Berbagai pemikiran mengganggunya. Dan pada akhirnya, Anya memutuskan untuk tidak membunuh gadis tak bersalah itu. Anya sadar jika perasaan Nathan yang timbul untuk sosok Anna itu bukanlah salah gadis bernama Anna seutuhnya. Salahkan perasaan yang tumbuh di hati Nathan. Jadi bukan Anna yang salah, melainkan Nathan.
Namun, setelah sadar ia tak boleh melakukan aksi kriminal, tetap saja Anya akan menyusun rencana lain agar Anna tak bertemu dengan Nathan. Bagaimana pun nanti, ia akan menghalangi kedua orang itu untuk bertemu. Bukankah itu lebih baik daripada harus membunuh Anna? Pikir Anya.
“Apa kau mengkhawatirkan ku?” tanya Anya dengan binar senang pada matanya dan ada secercah harapan di sana.
“Tentu saja aku sangat khawatir! Sahabat mana yang tidak sedih melihat sahabatnya terlihat begitu tertekan. Sekarang katakan padaku, siapa yang menyebabkanmu seperti ini?” tanya Nathan dengan sedikit memaksa.
DEG!
Jantung Anya terasa seolah diremas kuat oleh perkataan pahit yang dikatakan Nathan. Sudah sangat jelas dalam kalimatnya tadi bahwa Nathan hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat bukan sebagai wanita lajang atau pandangan pria yang tertarik pada wanita. Rasa sayang pria itu bahkan berbeda dari yang diharapkan Anya. Ia pikir sayang itulah yang akan membuatnya dan Nathan menjadi semakin dekat dan menimbulkan buih-buih cinta. Namun, nyatanya tidak seperti itu. Anya telah mendapat tamparan keras soal siapa yang selalu berada di hati Nathan.
Cinta Anya bertepuk sebelah tangan. Dan Anya tidak suka itu! Sejak kecil, ia selalu mendapatkan apa yang ia mau dan tentu tidak ada yang pernah membantahnya. Karena tidak kuat dengan tingkat Nathan yang tak peka pada perasaan nya. Akhirnya Anya berniat menyatakan perasaannya saat itu juga.
“Nath—” kalimat Anya terhenti saat tiba-tiba seseorang menelepon Nathan. Pria itu sibuk berbincang dalam pembicaraan seputar bisnis. Sedangkan Anya menatap sendu pada Nathan yang mengabaikan keberadaannya. Nathan bahkan lebih dulu keluar dari lift menuju ke meja kerja pria itu.
Setelah selesai dengan obrolan bersama klien pentingnya. Barulah Nathan sadar jika telah meninggalkan Anya. Pria itu berjalan keluar kembali, tetapi dikejutkan dengan Anya yang kini telah berdiri di depan pintu ruangan nya.
“Apa ja—”
“Aku menyukaimu,” ucap Anya dengan kesungguhannya. Gadis itu memberanikan dirinya untuk menatap retina mata Nathan.
Nathan terdiam. Pria itu terkejut dengan pengakuan Anya yang tiba-tiba. Tidak pernah terpikirkan oleh akal sehatnya jika Anya akan menyukai dirinya yang merupakan sahabat gadis itu sendiri.
“Apa yang kau katakan?” tanya Nathan yang tak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Aku menyukaimu!” ucap Anya penuh keyakinan.
“Aku mencintaimu!” tekan Anya sekali lagi.
“Aku mengagumimu!” Anya sedikit meninggikan ucapannya.
“Bisakah kau anggap aku lebih dari sekedar sahabat?” harap Anya dengan bibir bergetar dan mata yang perlahan mulai berair.
Nathan sedikit memundurkan langkahnya. Gadis di depannya terlihat bukan seperti Anya yang ia kenal. Kenapa Anya mengatakan hal itu secara tiba-tiba seperti ini? Kenapa gadis itu berubah sedikit berbeda? Bahkan Nathan tak kunjung menanggapi ucapan Anya yang sangat aneh dan di luar pemikiran nya.
“Aku ingin dianggap lebih dari sekedar sahabat! Aku ingin kau menjadi milikku. Tidak bisakah itu terjadi? Bisakah kau lupakan gadis bernama Anna itu dan lihatlah aku yang menyukaimu dengan segenap hatiku,” ucap Anya terdengar frustasi.
“Aku tidak bisa. Anna masih selalu menjadi ratu di hatiku. Tak ada yang bisa menggantinya. Tak ada yang bisa menyembuhkan luka hati ini kecuali dirinya. Maaf, maafkan aku.” Nathan menunduk dalam merasa bersalah dengan ucapannya. Perasaan Anya terlihat begitu tulus untuknya. Sedangkan ia dengan tegas menolak cinta itu. Saat melihat tubuh Anya yang bergetar ketika mendengar penolakan itu membuat Nathan merasa sedih. Ia menarik Anya ke dalam pelukan hangatnya.
Nathan tak tega melihat air mata itu jatuh membanjiri wajah cantik sahabatnya ini. Nathan berasa menjadi lelaki b******n sekarang. Nathan mengelus punggung Anya untuk menenangkan gadis itu dari kesedihan yang tercipta. Baru kali ini Nathan merasa bersalah saat menolak perasaan gadis yang terus terang menyatakan cinta padanya, sebelumnya bahkan Nathan begitu acuh tak acuh pada gadis dan wanita yang mengejarnya.
“Jangan menangis,” bisik Nathan.
“Kau jahat! Bagaimana bisa kau begitu tega menolakku! Jahat! Jahat!” Nathan menerima pukulan Anya dengan suka rela.
“Pukul aku sesukamu tapi ingatlah, jangan pernah kau melukai dirimu sendiri. Mengerti?” ucap Nathan.
“Aku tahu bagaimana rasamu yang bertepuk sebelah tangan itu. Tapi aku harap kau jangan menjadi sepertiku. Terpuruk karena cinta. Tolong jangan sepertiku, paham? Aku sangat menyayangimu layaknya sahabat. Tidak lebih dan tidak kurang. Jadi, lebih baik kau kubur perasaan itu dan kita jalani hidup seperti biasanya.” Ucap Nathan panjang lebar sejak tadi.
Anya menjauh dari tubuh Nathan. Gadis itu menggeleng keras dengan air mata yang terus saja berjatuhan. Nathan adalah cinta pertamanya dan pria itu juga awal patah hatinya. Anya memilih berlari masuk kembali menuju lift dan meninggalkan Nathan yang menatap dirinya sendu.
Saat menyadari hanya tinggal ia sendiri di sana, Nathan memegang area tempat jantungnya berdetak. Tak ada debaran di sana yang berarti tidak ada cinta untuk Anya. Namun, ketika Nathan memikirkan Anna, debaran itu mulai terasa cepat. Nathan menggeram. Pria itu memukul dinding di sampingnya dan meremas rambutnya dengan frustasi.
“Anna! Apa yang kau lakukan padaku hingga seperti ini!” bentak Nathan.
“Aku bahkan menyakiti hati sahabatku demi dirimu, Anna! Lalu, kenapa kau tega pergi dariku? ARGGH!” frustasi Nathan.
***
“Ada apa, Anya? Kenapa...” ucap Aaron yang tergesa-gesa menghampiri Anya. Namun, saat melihat wajah Anya yang penuh dengan air mata membuat Aaron khawatir dan bertanya-tanya.
“Kenapa kau menangis? Siapa yang sudah membuatmu begini? Katakan padaku, akan aku beri dia pelajaran.” Anya menghapus kasar air matanya dan segera memeluk erat tubuh Aaron, sahabatnya yang paling mengerti dirinya.
“Nathan menolakku. Di-dia bahkan tak mau mempertimbangkan perasaan ku lebih dulu...” adu Anya.
Aaron menghela napas mendengarnya, pria itu sudah sangat menyangka apa yang akan terjadi jika Anya mengatakan cintanya pada Nathan. Dan benar. Nathan pasti menolak Anya karena pria itu sudah memiliki pujaan hatinya. Tak ada yang dapat Aaron lakukan selain membalas pelukan Anya dan mengusap punggung gadis itu.
Kedua hati yang sama-sama patah.
Patah hati Anya yang disebabkan oleh penolakan Nathan dan patah hati Aaron karena pernyataan Anya. Cinta yang tak berujung di antara ketiganya.
“Sudah, berhentilah menangis. Kau tampak jelek dengan hidung merah dan mata sembab itu. Hm?” Aaron melepas paksa pelukan mereka dan menghapus air mata Anya.
“Kau itu berharga layaknya berlian dan tak sepantasnya berlian takut tak bertuan. Siapa yang tak mau berlian, hah? Semua orang bahkan memiliki itu walau mereka tahu harganya mahal. Dan kau itu berlian, Anya. Kau tak pantas menangisi yang bukan untukku. Kau harus merelakan nya.” Anya menggeleng lemah, ia kembali terisak.
“Aku tidak bisa...”
“Kau bisa! Kau gadis kuat dan tak boleh menjadi lemah hanya karena masalah ini. Okay?” Aaron terus menyemangati Anya hingga perlahan membuat gadis itu sedikit tenang.
“Terima kasih,” cicit Anya dengan suara serak. Aaron tersenyum lebar saat merasakan Anya yang sepertinya akan merelakan Nathan. Bukan kah itu tandanya ia akan memiliki celah untuk mengambil hati gadis itu? Bukankah begitu?
‘Andai aku yang lebih dulu bertemu denganmu, kurasa aku yang akan menjadi pria yang kau cintai.’ batin Aaron berandai-andai.
***
Nathan masih sibuk di ruang kerjanya. Seorang diri tanpa ada siapapun di sana. Nathan masih memikirkan Anya. Gadis itu mungkin sedang menangis karenanya. Akan tetapi, bagaimana pun juga ia harus menolak Anya demi gadis itu sendiri. Ia tak ingin ketika ia menerima Anya menjadi kekasihnya dengan membiarkan perasaannya masih untuk Anna. Dapat dipastikan bahwa Anya akan semakin terluka. Lebih baik patah sekali daripada patah berkali-kali.
“Aku harus menjauh darinya sejenak,” gumam Nathan.
Nathan kembali melanjutkan tugasnya yang sempat tertunda. Pria itu terlihat sangat fokus pada layar laptop di depannya. Namun siapa sangka jika pria itu tengah memikirkan di mana keberadaan Anna.
***
Cafe mulai sepi dan hanya tinggal menyisakan seorang gadis dan dua pasangan pengunjung. Gadis yang duduk sendirian itu menikmati coffe pesanannya sembari menatap toko bunga di depan cafe ini berada. Tatapan gadis itu sering kali, terkadang menatap kosong berubah nyalang penuh kebencian dan berakhir dengan tatapan sendu.
Terlihat seorang gadis dan pria berpakaian pelayan ciri khas dari toko bunga di sana. Wajah gadis itu bersinar bahagia dengan tawa anggunnya. Anya mengeratkan cengkraman nya pada gelas yang sedang ia pegang. Anya membenci senyum gadis itu! Tawa bahkan semua yang melekat pada tubuhnya.
Dia adalah Quensya Anna Taheer. Gadis yang selama ini Nathan cari. Sangat lucu saat mengetahui bahwa para orang suruhan Nathan tak berhasil menemukan gadis itu sedangkan ia dengan bantuan anak buahnya dapat menemukan keberadaan Anna dengan cepat.
“Bodoh,” gumam Anya diiringi dengan seringainya.
Anna yang saat itu sedang menyiram bunga dengan teman prianya merasakan seseorang sedang mengawasinya. Gadis itu mengusap tengkuknya tanda risih. Dan mengedarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan. Namun, tak ada seorangpun yang terlihat mengamatinya. Dan ketika ia menoleh ke belakang, tatapan lembut Anna bertubrukan dengan tatapan tajam Anya. Anna memberikan senyum tipisnya namun dibalas dengan seringai jahat Anya.
“Ada apa dengannya?” gumam Anna. Walau hanya berupa gumaman, bukan berarti teman pria Anna tak mendengarnya.
“Ada apa?” tanya teman pria Anna yang bernama Calvin Prawidjaya Artha.
“Dia terlihat aneh,” bisik Anna sembari melirik kecil ke arah Anya. Calvin menatap pada arah yang gadis itu tunjuk dan kembali menatap Anna.
“Jangan hiraukan, mungkin dia sedikit tidak waras.” Calvin tertawa dan diberi sedikit cubitan pedas oleh Anna.
Setelah tugas Anna selesai, gadis itu segera pamit pada pemilik toko dan juga Calvin. Saat keluar dari toko, Anna kembali melihat Anya. Gadis itu bahkan tak terlihat beranjak dari tempatnya barang sedikitpun. Dan lagi-lagi tatapan mereka kembali bertemu. Anna mengernyit saat melihat tatapan penuh kebencian yang Anya lemparkan untuknya.
“Apa ada yang salah dengan penampilanku? Kenapa dia menatapku seperti itu?” Anna bergidik ngeri dan merasakan bulu kuduknya berdiri. Dengan cepat Anna bergegas menuju apartemen tempatnya tinggal dengan berjalan kaki menuju ke sana.
Langkah Anna semakin cepat saat menyadari seseorang sedang mengikutinya dari belakang. Anna tidak ingin menoleh karena ia takut hal yang ia pikirkan terjadi. Trauma yang disebabkan orang tuanya masih begitu membekas di ingatan Anna.
Anna berlari semakin cepat dengan ritme jantung yang menggila. Bahkan tanpa disadarinya, air mata sudah mulai berjatuhan menyentuh pipinya.
“Tolong jangan siksa aku...” gumam Anna dalam larinya.
Namun, sebuah tangan berhasil meraih bahunya dan menarik tubuh itu untuk berbalik menghadap ke belakang. Anna dengan refleks segera melindungi kepalanya dengan kedua lengan yang ia punya.
“Benarkah kau, Anna?”
Anna terkejut dengan suara itu. Orang itu tahu namanya? Anna menggeleng takut, gadis itu berusaha menjauh namun bahunya di cengkram kuat.
“Kau Anna?” tanya orang itu lagi dengan nada mendesak agar Anna mengakuinya.
“Jangan sakiti aku, aku mohon...” pinta Anna dengan tubuh bergetar.
“Hey, tenanglah. Aku tidak berniat menyakitimu.” Mendengar jawaban itu, Anna akhirnya sedikit demi sedikit menurunkan tangan yang tadi melindungi kepalanya.
“Aku, Anya. Lebih tepatnya adalah Anya Gloria Rawnie. Kau Anna, bukan? Quensya Anna Taheer?” ucap orang itu yang ternyata adalah Anya.
Anna sedikit bernapas lega namun tak menghilangkan rasa takutnya. Gadis itu sedikit memberi jarak antara dirinya dan Anya.
“Ya, itu aku.” Anna sedikit was-was dengan gadis yang berada di hadapannya. Ia bahkan tak mengenal gadis itu dan ini kali pertamanya ke New York. Sangat aneh jika mengetahui orang asing mengenal nama lengkapnya. Bahkan pada Calvin, sahabatnya pun ia hanya memperkenalkan namanya dengan Quensya Anna tanpa ada nama Taheer di belakangnya.
“Aku hanya ingin mengatakan padamu,” suara Anya berubah dingin dengan tatapan datar menatap Anna. “Jauhi Nathan ku!” teriak Anya dengan nada meninggi.
Anna tak paham dengan maksud Anya yang mengatakan jauhi Nathan. Siapa Nathan? Apakah ia pernah bertemu dengan orang bernama Nathan itu? Berbagai pikiran berkecamuk dalam benak Anna memikirkan siapa Nathan sebenarnya.
Anya yang melihat raut kebingungan Anna sedikit memundurkan memajukan langkahnya untuk lebih dekat dengan Anna. Tatapan nyalang penuh kebencian itu ia lemparkan untuk Anna yang menurutnya bertingkah sok polos dan tak mengerti apa-apa.
“JAUHI NATHAN KU!” bentak Anya.
Anna terlonjak kaget dengan bentakan Anya yang begitu keras. Gadis itu menunduk dan menganggukkan kepalanya saja. Lagi pula ia tak mengenal Nathan, jadi berarti ia memang tak pernah mendekati Nathan.
‘Atau salah seorang pelanggan toko bunga Mrs. Wilson ada yang bernama Nathan?’ batin Anna menduga-duga.
“Ku pegang ucapanmu! Jangan pernah dekati Nathan, atau akan ku buat hidupmu bagai neraka. Camkan itu!” ancam Anya dan segera berbalik pergi meninggalkan Anna yang terdiam.
“Sepertinya yang dikatakan Calvin tentang gadis itu, benar adanya. Dia terlihat... tidak waras,” gumam Anna dan kembali melanjutkan langkahnya menuju apartemen yang tinggal berjarak sekitar dua ratus meter dari tempatnya berada.
Saat telah tiba di lantai paling atas, tempat apartemennya berada, Anna segera masuk dan membersihkan tubuhnya yang berkeringat. Calvin sebenarnya juga tinggal satu apartemen dengannya, tetapi karena pria itu masih ada kerjaan di toko bunga untuk membantu Mrs. Wilson membuat Anna harus pulang lebih dulu.
Setelah Anna selesai membersihkan tubuhnya. Gadis itu segera bergegas menuju ruang tamu. Mengambil cemilan dan menonton siaran kesukaannya. Mata Anna tetap tertahan pada televisi tanpa mengalihkannya barang sejenak. Tangan yang sibuk mengambil cemilan dan memasukkannya ke mulut. Serta mulutnya yang terus berceloteh kesal pada pemeran tv dan tak henti mengemil. Menggemaskan.
Saat mendengar bunyi bel, Anna segera berdiri dan berlari untuk membukakan pintu.
“Sudah selesai?” tanya Anna pada Calvin. Pria itu tak membalas, ia segera masuk dan melemparkan tubuhnya yang lelah ke arah sofa. Saat tulang-tulang nya merenggang, helaan napas lega terdengar dari celah bibir Calvin.
“Mandilah terlebih dahulu! Kau terlihat kotor dan berdebu!” ketus Anna sembari menutup hidungnya. “Dan jangan lupakan bau badanmu itu, iuhh.”
Calvin terkekeh mendengar gerutuan Anna dan segera berdiri. Tangan besarnya mengacak gemas puncak kepala Anna.
“Baiklah-baiklah. Aku akan mandi terlebih dahulu,” ucap Calvin dengan senyumannya.
Anna kembali duduk dan menikmati tontonannya. Sepuluh menit kemudian, Calvin datang dengan piyama lucu pembelian Anna dan duduk di samping gadis itu yang sibuk menonton.
Anna menyandarkan kepalanya di bahu Calvin. Dan Calvin menerima itu dengan senang hati.
“Vin,” panggil Anna masih dengan pandangan di televisi.
“Kenapa?” sahut Calvin yang menatap Anna dari atas puncak kepala gadis itu.
“Gadis yang tadi sore kau bilang tidak waras, ternyata...” Calvin menunggu sambungan kata yang akan Anna ucapkan. Namun, sudah menunggu sedikit lama Anna malah tak melanjutkan kalimat menggantungnya.
“Ck! Ternyata apa? Kau kalau mau memberi info jangan setengah-setengah,” kesal Calvin.
Anna terkekeh geli. Gadis itu menegakkan kembali kepalanya dan menghadap Calvin yang sedang menatapnya.
“Ternyata dia memang sedikit tidak waras,” sambung Anna.
“Hah? Apa maksudmu?” kening Calvin mengerut dalam. Padahal tadi sore ia hanya asal-asalan menyebutkan itu.
“Tadi ketika aku pulang sendiri, dia mengerjarku lalu berkata padaku agar tak mendekati Nathan nya. Aku pikir dia itu penjahat suruhan Mama dan Papa ku di Singapura, ternyata dia hanya menyuruhku untuk tidak mendekati Nathannya.” Calvin mengangkat alisnya. Pria itu sedikit menaruh curiga pada gadis yang sedang Anna bicarakan.
“Dan parahnya lagi, dia mengenal nama lengkapku! Aku tak pernah memberitahukan namaku pada sembarang orang. Hanya padamu dan Mrs. Wilson, dan kenapa dia bisa tau yang seharusnya tak ia ketahui?” rasa curiga Calvin tergantikan dengan kewaspadaan. Pria itu lebih mendekatkan dirinya pada Anna.
“Apa dia mengetahui tempat tinggal kita?” tanya Calvin risau.
“Sepertinya tidak, karena dia segera pergi setelah mengatakan hal itu tanpa menatapku lagi.” Calvin menghela napas lega.
“Ingat ini, jika nanti ada orang lagi yang mencurigakan mengikutimu, jangan pulang! Kau harus bisa mengelabui orang itu agar dia tak mengetahui tempat tinggal kita. Jika itu orang biasa mungkin tak masalah, tetapi jika dia adalah orang jahat maka bahaya lah kita. Kita harus mengganti apartemen baru jika begitu,” ucap Calvin mewanti-wanti.
“Hm, aku tidak janji. Kau tau sendiri kan? Aku tidak bisa berpikir jernih saat panik,” ucap Anna.
“Hah, kau ini. Yasudah, lain kali ketika merasakan hal aneh yang mengintaimu maka cepat-cepat hubungan aku segera. Okay?” Anna mengangguk patuh.
‘Tak akan kubiarkan kau kembali merasakan pahit nya hidup, Ann.’ batin Calvin berjanji.
***
Seperti biasa, hari ini setelah kemarin yang merupakan hari melelahkan bagi Nathan, pria itu akhirnya sedikit merasa lega saat Anya tetap bertingkah biasa padanya. Namun, Nathan tak bisa untuk tidak menjaga jarak dengan Anya. Ia ingin menjaga hati untuk Anna dan di satu sisi tak mau menambah luka bagi Anya.
Nathan sibuk dengan berbagai berkas di hadapannya. Dan tiba-tiba sekretaris barunya datang. Sekretaris yang menggantikan Anya untuk menemaninya meeting di luar.
“Hari ini jadwal meeting bersama pimpinan Zero Corp di sebuah cafe tak jauh dari sini, Pak.” Nathan mengangguk.
“Pukul berapa?” tanya Nathan yang sudah membereskan berkas yang berhambur di meja kerjanya.
“Satu jam lagi, Pak.” Nathan mengangguk dan mempersiapkan berkas yang ada. Pria itu lalu menatap sekretarisnya.
“Siapkan dirimu, aku ingin berangkat lima belas menit lebih awal dari waktu bertemu.” Sekretaris itu mengangguk patuh dan undur diri dari hadapan Nathan.
“Seberat apapun masalah yang ditanggung, waktu tak pernah berhenti berputar. Huh, aku harap ketika kita dipertemukan Tuhan nanti, aku lebih bisa menjamin kesejahteraan hidupmu,” ucap Nathan sembari melihat kepadatan kota New York dari atas bangunannya.
Tok... Tok...
“Masuk.”
“Waktunya berangkat, Pak.”
Nathan segera berdiri dari duduknya dan membenarkan jas yang ia pakai.
“Baiklah.”
***
“Senang bisa bekerja sama dengan Anda, Mr. Verry.” Puji Nathan sembari berjabat tangan dengan pria paruh baya di depannya.
“Harusnya aku yang berkata seperti itu Mr. Vincent. Terima kasih telah mau bekerja sama dengan perusahaanku,” ucap Mr. Verry dengan tawanya.
“Baiklah jika begitu, kami pamit lebih dulu. Semoga harimu indah, anak muda.” Nathan tersenyum dan sedikit membungkuk hormat.
“Apa ada jadwal lagi?” tanya Nathan pada sekretaris nya.
“Tidak ada, Pak.”
“Baguslah kalau begitu, kau bisa pulang lebih dulu. Aku ingin menikmati kopi di sini sejenak.” Sekretaris itu mengangguk dan meninggalkan Nathan sendiri.
Nathan memesan kopi kesukaannya. Ketika kopi itu sampai, ia terus memperhatikan kendaraan serta pejalan kaki yang berlalu-lalang di depannya.
Saat sibuk menatap ke arah luar, tatapan Nathan terpaku pada seorang gadis yang membelakanginya. Gadis itu tampak familiar di kepalanya. Saat gadis pelayan toko bunga itu akan berbalik mengarah padanya. Nathan mempertajam mempertajam penglihatannya dan terkejut saat melihat tubuh seorang gadis yang menghalangi pandangannya.
“Ha-hai!”
***