9. Berlibur Ke London

2329 Kata
*** Anya merentangkan kedua tangannya saat keluar dari pesawat pribadi milik Nathan. Setelah cukup lelah mengurus administrasi agar bisa mendapat izin penerbangan dan izin wisata, akhirnya mereka berlima sampai di tempat tujuan. Anya menghirup bebas udara London itu. Sejuk dan begitu menenangkan. Itulah yang mereka rasakan. “Say hello to me, London!” teriak Anya begitu senang. Gadis itu menarik Alysia bersamanya untuk turun lebih dulu. Setelah perjalanan melelahkan yang menempuh waktu enam jam lebih di pesawat, akhirnya mereka mampu menginjakkan kaki ke London. Walau ini bukan yang pertama kali bagi mereka ke London, tetapi ini adalah momen pertama mereka berkumpul bersama ke London. “Aku suka London,” gumam Alysia saat melihat indahnya hamparan bintang yang tercipta dan kelap-kelip lampu yang ada di sana. Yea, dari kelima orang itu hanya Alysia yang tak pernah menginjakkan kakinya ke negara lain selain di New York. Kakak dan ayahnya melarang gadis itu pergi ke negara manapun, bahkan untuk keluar kota saja Alysia dilarang keras. “Tunggu saat besok kita mulai berwisata mengelilingi London dengan sangat puas!” Anya mengobrol senang bersama Alysia. Para gadis itu menghiraukan keberadaan ketiga pria di belakang mereka. “Kita tak membawa satu set pakaian untuk berganti, dan kenapa kita memegang koper? Apa sekarang aku sudah berganti profesi menjadi pembantu?” gerutu Gabriel sembari membawa koper milik Anya. “Ck! Kemarikan, biar aku yang membawanya.” Dengan senang hati Gabriel menyerahkan koper Anya pada Aaron. Pria itu tersenyum senang sedangkan Aaron menatapnya sinis. “Lemah, koper segini ringannya malah menggerutu,” sinis Aaron. “Tangan bos tidak boleh lecet, wahai karyawan.” Aaron memutar bola mata malas. Pandangan matanya kembali fokus pada Anya. Sedangkan, Nathan sejak tadi terus diam sembari menatap Alysia adiknya. “Alysia, jangan pernah lepaskan peganganmu pada lengan Anya. Apa kau mengerti?” peringat Nathan. Alysia memberikan jempolnya pada sang kakak dan memberikan kedipan mata mengerti. “Sebentar lagi sopirku akan menjemput kalian untuk menuju mansion, jadi pergilah lebih dulu. Kami bertiga akan membeli beberapa set pakaian,” ucap Nathan. Tepat sekitar dua menit setelah Nathan mengucapkan kalimatnya. Dua mobil datang menyambut mereka. Alysia keheranan dengan yang terjadi. Kakaknya punya sopir di London? Lalu, mansion? Apakah kakaknya itu sering ke London hingga membeli sebuah mansion? “Kak Anya, boleh Alysia bertanya?” Anya menatap adik sahabatnya itu dengan pandangan seolah berkata, tanya apa? “Apa Kak Nathan sering ke London?” Anya menggerakkan matanya ke kanan dan ke kiri sembari terus mengingat-ingat. “Setahuku dia sering kemari, entah mengurus bisnisnya atau sekedar menemani ku berlibur. Kenapa?” jawab Anya. Alysia sedikit berdecak kagum, kakaknya itu sering ke London dan pernah pergi berdua dengan Anya. Ingat! Hanya berdua! Lalu, bukankah jika seseorang terbiasa bersama maka akan tumbuh rasa cinta? Tapi, kakaknya tidak mencintai Anya. Atau jangan-jangan Anya yang menyukai kakaknya? “Kak,” panggil Alysia ragu. “Ya?” Anya menatap Alysia untuk menunggu hal apa yang akan dibicarakan gadis itu padanya. “Apa kau menyukai Kak Nathan?” tanya Alysia. Suasana menjadi sedikit canggung antara mereka. Bahkan terlihat jelas jika Anya tak nyaman dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Alysia padanya. Alysia tahu diri dengan pertanyaannya yang sensitif dan segera mengubah topik pembicaraan. “Kak Anya ke—” “Ya,” sahut Anya. “Ha? Ya? Maksudnya?” Alysia sedikit berpikir sejenak sebelum mengerti arah pembicaraan Anya. “Benarkah? Tapi kenapa tidak bilang pada Kak Nathan?” ucap Alysia yang sedikit terkejut dengan fakta yang ada. Ia tak menyangka, kakaknya itu ternyata disukai oleh banyak gadis dan ternyata Anya juga menyukai kakaknya itu. “Ada kalanya perasaan sulit untuk diungkapkan karena tak ingin mengubah aku menjadi saya,” balas Anya dengan tersenyum masam. Alysia paham maksud yang diucapkan oleh Anya barusan. Kata 'aku berubah jadi saya.' itu berarti hubungan mereka yang dulunya akrab menjadi asing. Alysia juga membenarkan apa yang diucapkan Anya. Ia dulu juga punya teman akrab yang baru ia kenal dua bulan. Dan di bulan ketiga, pria itu menyatakan cintanya di depan mahasiswa yang satu fakultas dengannya. Alysia tentu saja menolak dan membuat keakraban mereka merenggang menjadi asing sekarang. “Al tau bagaimana rasanya, jadi Al tidak bisa berkata lagi selain menyemangati Kak Anya. Jangan menyerah hanya karena Kak Nathan menyebalkan itu. Kak Anya itu seorang model terkenal, pasti banyak pria yang menginginkan Kak Anya untuk menjadi kekasih mereka. Yang sabar, ya, Kak.” Alysia mengusap punggung Anya lembut. Anya tersenyum kecil, “Kau ini masih kecil tapi sudah bisa bertingkah seperti orang dewasa. Aish, sepertinya aku harus berguru padamu, anak muda.” Sahut Anya yang menyelipkan sedikit candaan. Namun, siapa sangka hatinya mengumpat kesal pada sosok Anna. Jika saja gadis itu tidak ada di kehidupan Nathan, mungkin saat ini ia dan Nathan sudah hidup bahagia. “Intinya, selama liburan ini. Kita harus bersenang-senang!” “Mm, kita harus bersenang-senang!” *** Nathan dan kedua sahabat prianya sedang berkeliling mall di kawasan London itu. Ketiga pria itu telah selesai membeli pakaian untuk mereka gunakan pulang ini dan besok hari. Dan kini mereka akan membeli makan malam untuk berlima di sebuah restoran terfavorit dan terenak di ibukota itu. Membutuhkan cukup waktu lama untuk membiarkan mereka memilih makanan apa yang akan dimakan bersama. Dan pilihan mereka jatuh pada Lamb sandwich. Makanan itu adalah salah satu kuliner terenak dan terunik karena terdiri dari dua potong roti dengan isian daging domba empuk berbumbu khusus, keju, sayuran serta saus tomat di dalamnya. Dan karena malam sudah semakin larut, mereka hanya mampu membeli itu saja. Dan untuk besok, sepertinya mereka bisa memilih sendiri nanti saat berwisata. “Sudah agak lama aku tidak kemari. Sekitar setengah tahun mungkin,” ucap A Gabriel sembari menatap indahnya London. “Tidak ada bertanya, jadi tidak penting.” Sahut Aaron yang membuat Gabriel mendengus kasar. Kedua pria itu selalu saja bertentangan. Nathan bahkan sudah angkat tangan dengan sikap kedua sahabatnya itu. “Apa hanya membeli ini?” tanya Nathan sembari mengangkat makanan yang akan mereka santap berlima. “Ya, untuk malam ini sepertinya itu saja dulu. Karena kan kita lelah baru sampai dan pastinya ingin beristirahat lebih awal.” Sahut Aaron. “Baiklah, jadi apa sekarang kita pulang?” tanya Nathan lagi. “Ya.” “Tidak!” Aaron dan Nathan menatap pada Gabriel yang menjawab tidak, dan dengan kompak Nathan dan Aaron berkata, “Kenapa?” “Tentu saja jangan pulang! Kita baru sampai di London, kenapa mau pulang lagi ke New York?” jelas Gabriel. Ketika mendengar penuturan Gabriel, Nathan jadi tahu bagaimana kondisi mental Aaron menghadapi tingkah absurd Gabriel. Nathan menoleh pada Aaron dan menatap Aaron dengan tampang kasihan. Kasihan karena mungkin saja jika Aaron sangat tersiksa selama ini. “Maksudku, pulang ke mansion milikku bukan ke New York. Paham?” dengan sabar Nathan mengelus kepala Gabriel dan mendepaknya dengan keras. “ADUH! Kurang ajar, kepala pangeran dipukul oleh bawahan! Ini jelas p**********n. Akan aku adukan kau pada pihak berwajib agar segera bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan terhadap pangeran tampan ini,” ucap Gabriel mendramatisir keadaan seolah ia sedang tersakiti begitu dalam oleh Nathan. Aaron yang gemas, ikut memberikan pukulan geram di tengkuk Gabriel. Pria itu perlu di sadarkan dari segala tingkah yang sangat aneh dan menggelikan. “Kalian jahat! Aku, pria tampan yang baik hati dan tidak sombong ini dianiaya dengan begitu kejam oleh siluman seperti kalian!” pekik Gabriel yang berhasil mengundang banyak pasang mata menatap pada mereka. “Dasar Gabriel bodoh!” ketus Aaron dan segera bergegas memasuki mobil mereka. Gabriel memberikan senyum lebarnya sebelum memasuki mobil dan hal itu semakin mengundang kericuhan dari para gadis yang lewat di sana. Senyum lebar Gabriel terlihat sangat manis dan mempesona. Beberapa wanita dan gadis yang melihat tingkah Gabriel yang friendly berhasil membuat pipi mereka bersemu merah. Bahkan Nathan dan Aaron yang sudah berada di mobil menjadi geram. Dengan cepat Nathan menarik pergelangan tangan Gabriel untuk segera masuk mobil tanpa menghiraukan kepala pria itu yang tadinya menghantui bagian atas mobilnya. “Bisa pelan tidak? Kau ini kasar sekali!” dengus Gabriel. “Kau memperlambat waktu pulang kita! Para gadis mungkin sedang kelaparan sekarang dan jika ketika pulang mereka mengamuk, kupastikan kau yang akan menjadi tersangka!” kesal Nathan. Gabriel membenarkan ucapan Nathan dalam hatinya dan ia berusaha menutup rapat mulutnya agar tidak terus bicara panjang lebar. Samar-samar Gabriel tersenyum kecil. ‘Tak apa bertingkah i***t, selagi itu mampu menghibur suasana hati para sahabat tercintaku ini.' batin Gabriel senang. Setelah sekitar lima belas menit perjalanan, barulah mobil mereka sampai di mansion megah milik Nathan. Sang tuan rumah segera turun lebih dulu dan memimpin jalan. Aaron dan Gabriel mengikuti Nathan dari belakang sembari mengamati sekitar. Interior dari mansion itu terlihat elegan namun sederhana dan tidak berlebihan. Dari pajangan dinding serta alat-alat yang ada di sana terlihat dengan ciri khas antik. Gabriel bahkan bisa menebak harga satu barang itu ketika dijual. Sekitar harga lima sampai enam juta dolar tiap barangnya. “Eh, kalian sudah pulang. Di mana makanannya?” Anya turun dari lantai atas sembari berlari kecil melewati tangga. Gadis itu menadahkan tangannya meminta makanan ia dan Alysia. “Ini, untuk malam ini lebih baik ini dulu saja. Besok baru kita cari makan di luar bersama sesuai selera,” ucap Nathan. Anya mengambil bungkus makanan yang disodorkan Nathan dan melihatnya. Yah setidaknya menu makanan itu tidak buruk. Anya berterima kasih dan bergegas kembali menuju kamarnya dan Alysia. “Apa kita sekamar bertiga?” pertanyaan konyol itu tercetus begitu saja dari mulut Gabriel, membuat Aaron merinding dibuatnya. “Lebih baik aku tidur di sofa daripada harus tidur satu kamar denganmu.” Pendapat Aaron diangguki Nathan. “Tenang saja, mansion ku ini ada banyak kamar. Ada tujuh kamar di lantai dua dan lima kamar di lantai satu serta dua kamar di lantai tiga. Terserah kalian ingin kamar yang mana, yang jelas aku memilih kamar di lantai dua.” Penjelasan Nathan membuat mulur Gabriel sedikit menganga. Benarkah kamar mansion Nathan begitu banyak? Itu mansion atau tempat penginapan? pikir Gabriel bertanya-tanya. “Simpan otak cerdas mu untuk besok. Dan jangan sampai kau membuang waktu mu dengan berpikir yang tidak penting.” Lagi-lagi Aaron mengucapkan kalimat ketusnya. “Ah, kalian akan tidur di lantai dua. Baiklah, aku juga akan di lantai dua.” “Ya ya ya, cepatlah tidur.” *** Pagi menjelang. Nathan bangun lebih awal dari mereka semua. Lalu, disusul Anya yang baru saja bangun dan ikut bergabung dengan Nathan sembari duduk di taman halaman depan mansion itu. “Mereka sudah bangun?” tanya Nathan. “Hm,sepertinya sudah. Mereka tengah bersiap,” sahut Anya. “Kau sudah siap?” tanya Nathan tanpa menatap Anya. Wajah pria itu terlihat lebih segar dari sebelumnya. Setengah jam mereka menunggu, akhirnya Aaron, Gabriel dan Alysia sudah siap. Mereka melanjutkan liburan mereka dengan berwisata mengelilingi London untuk hari ini. Setelah sampai di tempat wisata pertama, Anya lebih dulu keluar mobil saat telah sampai di tempat wisata mereka. Kini mereka berlima baru sampai di wisata pertama mereka yaitu Hyde Park atau Taman Hyde. Taman itu adalah salah satu taman terbesar yang berada di pusat kota London. Taman ini mempunyai lebih dari empat ribu pohon, sebuah danau besar, padang rumput, serta berbagai bunga hias yang sangat indah. Selain itu, taman ini merupakan salah satu tempat wisata terbaik di London. Para pengunjung dapat berenang, bermain skateboard, dan bersepeda. Kemudian, taman ini juga mempunyai restoran tepi danau yang menghidangkan berbagai macam makanan. Hal yang pertama mereka lakukan adalah mengabadikan momen mereka dengan berfoto sebanyak mungkin. Yang paling antusias adalah Anya, Alysia dan Gabriel. Sedangkan Nathan dan Aaron fokus mengamati mereka seperti halnya orang tua mengamati kegiatan anak-anak mereka. Nathan tertawa saat melihat Anya dan Alysia yang usil mendorong tubuh Gabriel hingga jatuh ke dalam danau saat akan berfoto yang kesekian kalinya. Bahkan Aaron juga ikut tertawa terbahak-bahak melihat aksi ketiga orang itu. Aaron tak lupa untuk mengabadikan hal konyol itu di ponselnya. Bahkan tawa Nathan pun ikut ia abadikan. Kejadian langka setelah dua bulan terakhir melihat Nathan terpuruk. Dalam foto terakhir mereka di tempat itu, wajah mereka tampak berseri bahagia. Memancarkan kebahagiaan begitu besar. Dan seterusnya. Mereka berwisata ke berbagai tempat di London, seperti Tower Bridge, Big Ben, Trafalgar Square, Tower of London, River Thames, The British Museum, The National Gallery, Buckingham Palace dan diakhiri pada malam hari ke London Eye. Di London Eye, mereka bisa menikmati panorama indah kota London dari atas. Alysia sangat terkagum-kagum dan begitu antusias saat menatapnya. Sedangkan Nathan sibuk menatap ke bawah berharap gadis yang ia harapkan akan muncul di bawah sana. Anya yang fokus pada keindahan kota sedangkan Aaron fokus menatap indahnya wajah Anya yang begitu kalem. Berbeda dari keempat orang itu yang cenderung suka melihat kota London dari atas, Gabriel malah kebalikannya. Pria itu bahkan keringat dingin dan misuh-misuh ketakutan pada Aaron. Jangan salahkan Nathan atau mereka yang mengajak Gabriel untuk ikut naik. Tetapi, Gabriel lah yang berniat ingin ikut naik walau ia tahu bahwa dirinya takut pada ketinggian tanpa pengamanan ketat seperti halnya di pesawat. “Tolong, ini kapan selesai berputarnya? Kepalaku sudah pusing,” adu Gabriel jujur kali ini. Aaron hanya menatap Gabriel sejenak dan berpikir jika pria itu sangat penakut sekali. Dan tak ada yang menghiraukan keadaan Gabriel yang ketakutan. Alysia yang sempat menoleh menatap pada Gabriel yang kini berwajah pusat. Gadis itu kaget dan segera membantu Gabriel untuk tenang. “Kak Gabriel pejamkan mata saja, okay? Pegang tangan Alysia dan anggap sebagai penopang Kak Gabriel agar tak jatuh. Pejamkan mata dan rileks kan pikiran. Pikirkan hal-hal menyenangkan.” Gabriel melakukan segala perintah Alysia dengan patuh. Pria itu bahkan menghembuskan napasnya teratur melalui hidung dan mulut. Saat melihat Gabriel yang mulai tenang dan ditambah senyum aneh yang tercetak jelas di sana, akhirnya Alsyia penasaran untuk menanyakan hal itu. “Kak Gabriel memikirkan apa?” tanya Alysia penasaran. “Tidur dengan pe—” PLETAK! Dengan sangat geram, Aaron memukul punggung pria itu. Membuat perhatian Nathan dan Anya beralih ke mereka. “Bisa-bisanya kau berpikir m***m di keadaan seperti ini, GABRIEL!” amuk Aaron sembari menjewer telinga Gabriel kencang. “Aduh! Maaf! Maafkan aku! Lepaskan, aduh!” Gabriel sebenarnya ingin membuka mata, namun sadar ia masih berada di dalam tempat s****n ini, akhirnya Gabriel pasrah dianiaya lagi oleh sahabatnya itu. “Jahat! Kejam!” ucap Gabriel dengan cemberut. Alysia tersenyum melihat akhir dari kunjungan mereka. Gadis itu menghirup rakus udara London malam itu. Besok ia sudah pulang kembali ke kota asalnya dan bisa jadi lama tak akan menginjakkan kaki ke London lagi. ‘Liburan pertama yang mengesankan.’ batin Alysia. ‘Satu langkah mulai dekat.’ batin Anya. Nathan merasa sedih saat tak kunjung mendapati gadis yang ia harapkan kehadiran. Dan Gabriel serta Aaron yang masih sibuk adu mulut. ‘Anna, aku tak menemukanmu di sini. Lalu, beritahu aku di mana dirimu itu?’ ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN