***
Nathan melambaikan tangannya pada Anya yang perlahan menjauh dari jangkauannya. Gadis itu membawa koper menuju pesawat yang akan ditumpanginya untuk penerbangan menuju Paris. Nathan menghembuskan napas lelah. Gadis itu sempat merengek agar ia tidak sering-sering keluar sendiri. Entahlah, tapi itu terdengar sedikit manis baginya.
Saat sosok Anya tak nampak lagi sejauh mata memandang, Nathan berbalik dan pulang dengan ditemani Zack yang setia bersamanya. Pria dengan pakaian casualnya itu berjalan dengan tangan yang berada di saku celananya. Pandangan matanya menatap area bandara yang begitu dipenuhi oleh ratusan atau mungkin ribuan orang. Nathan beralih melihat arloji yang sedang ia gunakan.
“Zack, kita kembali ke rumah dan membahas beberapa berkas penting dengan kolegaku besok,” ucap Nathan tanpa menatap Zack yang berada di samping kanannya.
“Baik, Tuan Muda.” balas Zack dengan sikap formalnya.
“Tidak perlu berkata formal jika aku memakai pakaian casual atau saat hanya ada kita tanpa pengawal lainnya. Mengerti?” ucap Nathan diselingi decak malasnya.
“Baiklah, Athan.” Ucap Zack dan menegakkan tubuhnya yang tadi sedikit membungkuk hormat. Pria itu merubah sikapnya yang formal menjadi santai.
“Jangan panggil aku, Athan!” ketus Nathan sembari mendengus kesal.
Zack tertawa dan melirik Nathan dengan tatapan meremehkan, “Terserahku, lagi pula Athan masih termasuk dalam namamu.”
Nathan memutar bola matanya malas, pria itu mendelik pada Zack di sampingnya. “Aku tidak suka nama Athan, itu mengingatkanku dengan si Pak Tua Ethan. Menyebalkan jika namaku harus sama dengannya,” ucap Nathan yang terlihat bergidik ngeri.
“Kenapa? Tuan besar begitu berwibawa menurutku. Seharusnya kau yang tidak layak disamakan dengannya. Kau hanya ibarat bongkahan batu krikil sedangkan dia serpihan berlian,” ejek Zack yang semakin menjadi-jadi.
“Dari sudut pandang mana yang memperlihatkan dia adalah pria berwibawa? Dari semua sisi bahkan jika dilihat dari lubang sedotan pun, dia tetap terlihat jelek dan menggelikan.” Zack mengangkat alisnya meragukan ucapan Nathan. Bagaimana bisa Nathan menjelekkan ayahnya sendiri? Apa pria itu tidak takut dikutuk menjadi batu? Atau mendapatkan musibah karena perkataan itu? Zack menggeleng dramatis membayangkan akhir hidup Nathan. Sangat malang nasib anak durhaka itu.
“Ada apa!” Nathan menyipitkan matanya saat melihat Zack yang menatap dirinya seolah mengasihani anak kucing.
“Tidak, hanya saja memikirkan bagaimana akhir hidupmu yang selama hidup menjadi anak durhaka pada ayahmu sendiri. Apa kau akan tersambar petir? Atau dikutuk menjadi batu oleh ayahmu? Oh, atau kau berubah menjadi manusia berkepala babi? Ah, bisa jadi,” ucap Zack membayangkan.
“Dasar anak buah tidak tau diri!” Nathan memukul punggung pria itu hingga Zack sedikit tersedak.
“Hei! Sakit, bodoh!” ketus Zack sembari membalas memukul punggung Nathan.
“Ah, sudahlah. Aku gila jika meladeni tingkah bodohmu,” ucap Nathan yang mengalah pada akhirnya, sedangkan Zack menanggapi perkataan itu dengan mencebikkan bibirnya mengejek.
“Oh, ya. Bagaimana dengan pencarian pria bernama Calvin? Apa kau sudah dapat petunjuk?” tanya Nathan yang teringat akan sosok Calvin.
Zack sempat tersentak kecil dengan bola mata sedikit melebar. Ia baru ingat soal Calvin kemarin. Dan saat melihat Nathan yang menatapnya penuh rasa penasaran dan meminta penjelasan, membuatnya menyeringai jahat.
Nathan melihat seringaian jahat milik Zack dan mengangkat alis sebelah kanannya. Pria itu menanti tak sabar dengan apa yang akan Zack sampaikan untuknya.
“Cepat, s****n!” ketus Nathan yang jengah hanya melihat seringaian pria itu.
“Bagaimana jika kita melakukan pertukaran? Kau untung dan aku juga untung,” tawar Zack.
“Tidak! Kau adalah anak buahku jika kau lupa itu. Tidak ada tawar menawar antara anak buah dan bos,” tolak Nathan mentah-mentah.
“Oh, baiklah.” Zack melangkah lebar namun terkesan santai. Nathan yang ditinggalkan merasa kesal dan menyusul langkah anak buahnya itu.
”Jadi, bagaimana?” tanya Nathan kesal.
“Dia bernama Calvin Prawidjaya Artha, tinggal di Jalan X di sebuah apartemen dengan seorang gadis bernama Anna. Pria itu bekerja sebagai pelayan toko bunga bersama gadis bernama Anna itu dan baru kemarin pria itu baru saja diterima kerja di perusahaan besar,” jelas Zack yang terlihat santai. Namun berbeda dengan Nathan yang terdiam saat Zack menyebutkan sebuah nama.
Dengan sedikit nada berharap, Nathan bertanya pada Zack yang diam. “Apa Annanya adalah Annaku? Maksudku, apa dia Anna yang sama dengan orang yang selama ini kucari?” tanya Nathan yang sedikit ragu namun menaruh harapan besar di dalamnya.
Zack menyeringai dan menatap Nathan dengan sinis. “Kau memerintahkan aku untuk mencaritahu siapa Calvin bukan siapa Annanya pria itu,” sinis Zack.
Nathan ternganga saat melihat jawaban tak sopan sang anak buah. Dengan sedikit nada penuh kuasanya, ia merubah rautnya menjadi datar. “Beritahu aku sekarang!” ucap Nathan penuh nada perintah. Zack tidak takut sama sekali, pria itu bahkan ikut merubah rautnya menjadi datar dan menatap sekilas pada Nathan di sampingnya.
Zack memilih menjawab pertanyaan Nathan dengan mengendikkan bahunya tanda tidak tahu menahu perkara Annanya Calvin.
Nathan menghentikan langkahnya dan menghembuskan napas kasar. Pada akhirnya ia harus melakukan tawar menawar dengan salah seorang sahabatnya itu. “Berhenti Zack! Baiklah aku terima tawaranmu.” ucap Nathan dengan tegas.
Zack menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Nathan. Pria itu tersenyum miring dan kembali melanjutkan langkahnya. “Kemarilah, mari kita bicarakan negosiasi ini di dalam ruang kerjamu.”
Nathan semakin kesal saat Zack memerintahkannya seolah pria itulah majikan di antara mereka berdua. Nathan menepis rasa kesalnya dan berjalan cepat menuju mobilnya terparkir.
“Bisa-bisanya aku diperdaya oleh anak buah ku sendiri. Dasar bodoh,” gumam Nathan.
Di dalam perjalanan pulang, Nathan dan Zack berbeda mobil. Zack menggunakan mobilnya sendiri dengan masih bersikap siaga melihat sekitar yang sekiranya akan membahayakan bagi majikannya. Berbeda Zack, Nathan malah sibuk mengumpat di dalam mobil ditemani sopirnya itu. Namun tidak bisa dipungkiri jika jantungnya kini tengah berdetak cepat akibat memikirkan kemungkinan jika Anna yang selama ini menjadi sahabat Calvin adalah Annanya. Walau ada rasa tidak suka jika membayangkan Anna nya akan berteman dengan seorang pria, tetapi Calvin tanpa sadar telah menjaga Anna untuknya. Bayangan menyenangkan tentang Nathan yang akan merebut Anna nya dari Calvin menjadi sirna saat memikirkan kemungkinan jika Anna itu bukanlah Anna yang ia maksud.
“Tuan Muda!” Nathan sedikit tersentak saat suara sedikit kuat itu mengagetkannya yang tengah melamun indah tentang Anna. Nathan hendak bertanya, namun saat melihat rumah mewahnya sudah ada di depan mata, akhirnya ia mengurungkan niat bertanya itu.
Nathan bergegas turun dari mobil tanpa ingin menunggu bodyguard nya membukakan pintu mobil itu untuknya. Nathan merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan dan bergegas pergi memasuki rumah itu dengan diikuti empat bodyguard miliknya. Nathan berbalik dan mengangkat tangan kanannya mengisyaratkan untuk lara anak buahnya untuk berhenti.
“Pergilah, tak perlu mengikutiku. Dan perintahkan pada Zack untuk segera menghadap padaku di ruang kerja,” ucap Nathan. Keempat anak buahnya mengangguk dan segera membubarkan diri. Nathan memilih memasuki lift untuk sampai di lantai tiga, tempat di mana ruang kerjanya berada sekarang.
Saat pintu lift terbuka, Nathan bergegas memasuki ruang kerjanya sembari menunggu Zack dengan tidak sabar.
Setelah sekitar sepuluh menit, barulah Zack muncul dengan membawa sebuah berkas data pribadi tentang Calvin.
“Cepat beritahukan sekarang, kau sudah membuatmu menunggu lama!” ketus Nathan.
Zack berjalan menghadap pada Nathan dan memberikan sedikit bungkukan penuh hormat. Dan segera duduk di kursi tepat di hadapan Nathan yang hanya dipisahkan oleh meja kerja pria itu.
“Jadi?” tuntut Nathan yang sudah tidak sabar.
“Sebelum aku memberikan infonya, alangkah baiknya kita membicarakan persoalan negosiasi yang akan terjadi. Bagaimana?” Nathan memutar bola matanya malas. Ia tak dapat menebak apa isi kepala Zack yang kekeuh ingin bernegosiasi dengannya. Bahkan sebelumnya pria itu tidak pernah meminta apapun padanya.
“Baiklah, tentang apa itu?” tanya Nathan jengah.
“Biarkan aku menjaga Alysia sepenuhnya,” ucap Zack tenang. Sementara Nathan menaikkan alisnya heran. Apakah negosiasi yang dimaksud Zack adalah tentang ini? Aneh. Bukankah sejak awal Nathan sudah mengamanahkan pada Zack untuk menjaga Alysia, adiknya.
“Hanya itu? Kau bodoh sekali ternyata, tentu saja aku menyetujuinya. Sejak awal Alysia sudah ku—”
“Biarkan dia menjadi kekasihku,” potong Zack tanpa rasa takut ataupun gugup sedikitpun. Dalam matanya bahkan hanya ada ketulusan serta tekat kuat.
Nathan mengeratkan rahangnya. Ia yang merupakan seorang kakak dari Alysia tak terima jika adiknya akan memiliki kekasih, walau kekasih gadis itu adalah anak buah dan sahabatnya sekalipun.
“Tidak.” Nathan menolak sembari memberikan tatapan datar dan dinginnya pada Zack. Zack pun tak kalah memberikan tatapan datarnya. Pria itu menatap Nathan dengan penuh keyakinan.
“Aku bisa menjaganya lebih dari kau.”
“Aku bilang tidak, tetap tidak!”
“Aku mencintainya.”
“Lalu, hubungannya denganku apa? Walau kau mencintai adikku melebih semua pria yang pernah mencintainya, tetap saja jawabanku tidak. Dia masih terlalu kecil untuk me—”
“Dua puluh tahun adalah waktu untuk menginjak dewasa. Sampai kapan kau akan terus mengekangnya seperti ini?” ucap Zack dengan suara rendahnya. Terdengar jelas jika Zack tidak suka dengan jawaban yang diberikan Nathan padanya.
“Sampai aku menemukan pria yang cocok un—”
“Akulah prianya.”
“Aku tidak ingin dia mendapat gunjingan karena memiliki kekasih yang merupakan anak bu—”
“Kau lupa alasanku menjadi anak buahmu? Itu karena aku kabur dari rumahku saat pria tua itu menyuruhku untuk mengambil jabatannya segera.” Nathan terdiam. Ia tak mampu berkata lagi.
“Kau tidak sesuai dengan kriterianya. Dia suka pria romantis dan kau tidak romantis,” ucap Nathan dengan alibinya yang tidak seratus persen salah.
Zack menyeringai menatap Nathan, senyum miring itu akhirnya digantikan dengan bibir yang kemudian berkata, “Kata siapa aku tidak romantis? Coba kau tanyakan pada adikmu dan lihat bagaimana tanggapannya.” Tantang Zack tersenyum menang.
“s**l!” desis Nathan kesal. “Apa saja yang sudah kau lakukan dengannya?” tanya Nathan dengan emosi.
“Tidak terlalu kelewatan, hanya sedikit mencicipi bibir manisnya saja.”
“s****n kau!” Nathan menendang kasar tulang kering Zack dari bawah meja yang memisahkan mereka. Zack menggeram sakit sembari memegang tulang keringnya yang baru saja ditendang oleh Nathan.
“Dia sudah dewasa, bodoh! Kau saja yang terlalu kolot dan mengekangnya,” kesal Zack.
Suasana berubah sunyi.
Nathan menatap Zack yang sedang menggerutu sembari memegang bekas tendangannya. Tatapan Nathan mencari sumber ketulusan Zack untuk adiknya dan saat pandangan Zack beralih padanya, Nathan berdeham saat melihat Zack menatapnya tak kalah serius.
“Huh, terserah kau saja. Kuserahkan semuanya padamu, tapi ingat! Jika satu kali saja aku mendapati adikku sedang menangisimu, saat itu pula kepala bodohmu terpisah dari badannya.” Ucap Nathan.
Ada kebahagiaan yang tersirat dalam tatapan Zack. Senyuman yang jarang ia berikan pada orang-orang sekitarnya itu timbul tanpa diperintahkan.
“Benarkah?” ucap Zack dengan intonasi senangnya. Nathan terkejut. Saat Zack sadar dengan nada bicaranya, pria itu berdeham keras dan kembali bertanya dengan nada cool miliknya. “Maksudku, benarkah apa yang kau ucapkan itu?”
“Ya ya ya, sekarang bagaimana dengan info Anna.”
Zack merapikan kerah seragamnya dan berdiri tegap. Pria itu mengulurkan sebuah berkas data pribadi milik Calvin dan juga Anna yang merupakan sahabat Calvin.
“Buka dan lihat apa yang akan terjadi jika kau melihatnya,” ucap Zack dengan misterius yang berhasil membuat rasa penasaran serta berdebar Nathan semakin berpacu cepat.
Nathan meraih berkas itu dengan cepat dan membukanya perlahan. Saat halaman pertama yang menampilkan data tentang Calvin. Nathan sedikit terkejut saat ternyata pria itu adalah salah seorang karyawannya yang baru saja diterima kemarin. Dan beralih ke halaman berikutnya yang menampilkan biodata tentang Anna. Nathan terdiam seketika dengan perasaan mencelos. Dengan kening berkerut dan napas kecewa bercampur kesal, Nathan menutup berkas itu dan menatap Zack dengan tatapan datar yang menusuk.
“s****n!”
***
Sejak kemarin suasana hati Nathan berubah memburuk. Pria itu akhirnya menyempatkan dirinya untuk singgah sebentar pada cafe yang dekat dengan perusahaan. Memesan kopi kesukaannya sembari menatap sebuah toko kecil di hadapannya. Rasa kesal itu membuatnya mendengus berkali-kali hingga membuat orang sekitar pria itu menjadi heran sendiri.
Saat pesanan kopinya sudah datang, Nathan segera menyesapnya perlahan sembari menikmati rasa kopi yang terasa begitu pas di lidahnya. Tatapan Nathan tak beralih sedikit pun dari toko yang ada di hadapan cafe ini.
Tatapan Nathan melebar saat melihat seorang gadis cantik keluar dari dalam toko bunga itu. Nathan bahkan hampir tersedak dibuatnya. Nathan menajamkan penglihatan dan menatap lekat gadis yang tengah tersenyum bahagia sembari menyiram bunganya.
Nathan mengeluarkan ponsel miliknya dan memfoto gadis itu. Saat fotonya berhasil ia ambil, Nathan lalu membandingkan foto gadis itu dengan foto lain yang berada di galeri ponselnya. Dan detik itu juga, Nathan menyudahi acara minumnya dan berjalan mendekati gadis itu.
“Benarkah dia Anna? Atau hanya sekedar mirip?” gumam Nathan pada dirinya sendiri.
Pria itu terlihat sangat penasaran dan segera berjalan mendekati gadis yang mirip dengan Annanya.
“Permisi,” ucap Nathan sopan pada gadis itu.
Gadis yang ternyata adalah Anna itu segera menyudahi aksi menyiramnya dan berbalik menatap siapa yang berbicara sopan dengannya itu.
Anna tersentak kaget saat d**a bidang pria itu berada dekat dengannya. Hingga ujung hidung mancung Anna menyentuh baju itu. Anna mendongak karena tingginya dan pria itu sangat kontras terlihat sangat jauh berbeda. Anna memundurkan langkahnya dan semakin terkejut dengan siapa ia sedang berhadapan.
‘Bukankah pria ini adalah kekasih gadis waktu itu? Ada apa dia kemari?’ batin Anna sedikit was-was jika ketahuan oleh gadis waktu itu.
Setelah sadar dari lamunannya, Anna yang merasakan pegal pada lehernya saat terus-terusan mendongak segera menunduk dalam. Gadis itu merutuki kedatangan Nathan yang membahayakan dirinya. Ya, membahayakannya yang apabila ketahuan Anya maka ia akan menerima kembali amukan gadis itu
“Ada apa, Tuan?” tanya Anna sedikit gugup, saat telah bisa mengendalikan ketakutannya.
Nathan yang berpikir Anna menunduk karena lelah mendongak, akhirnya memilih untuk segera merendahkan wajahnya agar sejajar dengan gadis itu, setidaknya Anna hanya perlu melirik ke atas tanpa perlu mendongakkan kepalanya.
“Benarkah kau Anna?” tanya Nathan.
Anna diam tak menanggapi, namun karena Nathan yang sama diamnya dengan ia, akhirnya Anna terpaksa menjawab pertanyaan pria itu.
“Ya, aku Anna.”
‘Gotcha! Dapat!’
***