15. Ketemu!

1100 Kata
*** “Benarkah kau Anna?” tanya Nathan. Anna diam tak menanggapi, namun karena Nathan yang sama diamnya dengan ia, akhirnya Anna terpaksa menjawab pertanyaan pria itu. “Ya, aku Anna.” ‘Gotcha! Dapat!’ Nathan kembali menegakkan tubuhnya. Anna mengernyit bingung ketika pria tinggi nan tampan di depannya ini terlihat menegang kaku dengan seutas senyum yang bertengger manis di bibir seksinya. Dan yang semakin membuat Anna heran adalah mata hitam kelam itu yang menunjukkan emosi bergejolak. Tatapan redup nan sendu itu menatap tepat di retina matanya. Tatapan itu membuat Anna risih, tetapi di waktu yang sama ia merasa nyaman. Bibir Nathan bergetar dengan sangat kentara saat ingin memanggil nama gadis itu. Bahkan jantungnya begitu sesak oleh rasa rindu yang menggebu. Tangannya terkepal hingga menyebabkan urat-urat lengannya tampak jelas. “A-Anna...” panggil Nathan lemah. Anna yang merasa dipanggil dengan suara penuh kesedihan itu pun semakin bingung. Ia memiringkan kepalanya untuk menatap wajah Nathan lekat. “Anna,” panggil Nathan lagi. “Anna!” kini Nathan memanggil nama Anna dengan sirat nada bahagia dan tawa yang tiba-tiba datang tanpa sebab. Pria itu menyugar rambutnya dengan kasar dan tertawa miris. Pria itu tertawa sembari melihat Anna. “Kau lah Anna ku! Gadisku! Haha, bodohnya aku!” Nathan tertawa lepas saat merasakan beban berat yang selama ini ia tanggung hilang begitu saja. Pria itu kembali menatap tajam pada Anna yang melihatnya dengan takut-takut dan berjalan mundur perlahan menjauhinya. Nathan tidak terima saat gadis itu menjauhinya. Dengan cekatan, pria itu menarik paksa tangan Anna hingga gadis itu masuk ke dalam dekapan hangatnya. Nathan memeluk Anna dengan sangat erat sembari menghirup rakus harum gadisnya. Harum Vanila yang menyeruak entah dari tubuh Anna atau dari parfum yang gadis itu pakai, berhasil membuat Nathan menyukai harum itu dalam sekali menghirupnya. Nathan menyeruakkan wajahnya di sela-sela leher Anna, semakin mengendus harum gadisnya. Anna yang tadinya melamun karena saking terkejutnya menjadi terlonjak kaget saat pria itu menguselkan hidung mancungnya di area leher Anna yang begitu sensitif. Anna bahkan merasa sangat geli dan berusaha sekuat tenaga yang ia punya untuk mendorong tubuh pria asing ini. “Lepaskan, Tuan. Anda sudah sangat kurang ajar pada saya!” gertak Anna yang bergerak risih dalam pelukan Nathan. Nathan sedikit melonggarkan pelukannya, namun tidak sampai terlepas. Dagunya bahkan masih setia bertengger di bahu Anna. Pria itu tersenyum lebar hingga tanpa disadarinya ia telah meneteskan air mata. Wajah Nathan bergerak menuju telinga gadis itu dan berbisik dengan suara rendah. “Bodohnya aku yang mencarimu ke segala pelosok dunia padahal kau ada di dekatku. Kau berada satu kota denganku. Kenapa aku bodoh karena baru menemukanmu di dekatku?” “Aku bodoh!” umpat Nathan merutuki dirinya sendiri. “Aku seperti orang gila karena kehilanganmu dan nyatanya kau selalu ada di dekatku. Bodoh, bodoh, bodoh!’ gerutu Nathan. “Aku yang uring-uringan karena kehilanganmu, membuatku sangat frustasi.” Nathan mengucap segala luapan emosi yang ia tahan. “Aku mencintaimu, Anna.” Saat Nathan berhasil mengucapkan itu, pria itu mendekap Anna seolah takut jika gadis itu akan pergi darinya. Kini tubuh Anna yang berubah tegang saat mendengar pria asing itu mengucapkan kalimat manis penuh dusta untuknya. Anna kesal dan ia semakin brutal untuk melepaskan pelukannya dengan Nathan. Dan setelah usahanya sedikit lama, akhirnya gadis itu bisa melepaskan diri dari kungkungan menyesakkan tadi. “Maaf, Tuan. Mungkin Anda salah orang, saya bukanlah orang yang Anda maksud,” ucap Anna masih mempertahankan sikap profesional nya sebagai pelayan toko bunga. “Anna lihat aku,” perintah Nathan sarat akan nada tak ingin dibantah. Anna mendongak untuk bisa menatap Nathan yang tingginya jauh melampaui dirinya yang pendek itu. Anna terpesona dengan wajah Nathan yang terlihat berseri-seri di antara awan biru yang berada di belakang pria itu. “Apa?” tanya Anna. “Quensya Anna Taheer, benarkan itu namamu?” tanya Nathan dengan sangat berharap jika gadis di depannya mengangguk. “Iya, aku orangnya. Ada apa?” Tatapan Anna berubah menjadi sendu saat nama terakhirnya disebutkan. Taheer adalah nama marga keluarganya. Ah, keluarga ya? Bahkan Anna tidak berhak menyebut mereka adalah keluarganya. Karena pada nyatanya, ia hanya seorang anak yang ditukar oleh ibu kandungnya sendiri dengan anak dari pasangan orang kaya. Dan bukankah berarti dia bukan anak kandung dari kedua orang tua yang sudah ia anggap sebagai ayah dan ibunya sejak ia kecil dulu? Mendapat sebuah fakta itu membuat luka pada hatinya menganga lebar penuh lara. “Nathaniel Vincent, itu namaku. Sosok bocah laki-laki yang dulu berjanji padamu akan membuatmu menjadi pengantinku suatu saat nanti. Kau ingat aku?” ucap Nathan dengan berharap jika Anna juga mengingat kenangan manis mereka. Jantung Anna berdetak cepat saat nama sahabat masa kecilnya terucap oleh bibir pria itu dan lebih mengejutkan lagi bahwa pria itu mengaku adalah Nathan sahabatnya. “Maaf, Tuan. Tapi kurasa, Nathan temanku itu bukan dirimu.” Nathan menaikkan alisnya menatap Anna bingung. Kenapa gadis itu tak percaya jika ia adalah Nathaniel Vincent? Dan lagi, kenapa ada pancaran sendu dalam mata gadisnya? Oh, Tuhan! Ada apa ini sebenarnya? “Berhenti menatapku dengan tatapan sedihmu, Ann!” frustasi Nathan. “Nathanku... dia tidak pernah ada di saat aku membutuhkannya. Dan kupikir dia telah mati ahaha,” cicit Anna dengan suara bergetar dan tawa sarkasme nya. DEG! Nathan terpaku di tempatnya. Jantung Nathan seolah diremas kuat hingga menorehkan luka tak kasat mata. Tangannya terkepal erat saat melihat tetesan air mata jatuh di hadapan Anna. Tetesan air mata yang berasal dari wajah Anna yang menunduk dalam. Nathan menggertakkan rahangnya kuat. Ia tahu, pasti selama ini Anna tersiksa hidup dengan kedua orang tua kejam itu. Anna nya selalu disiksa dengan sangat kejam. Anna nya menangis dalam sepi di kegelapan malam. Anna nya membutuhkannya. Namun, Nathan merasa menjadi sosok pengecut karena tak berani menjemput Anna sejak lama. Ia terlalu takut akan penolakan gadis itu jika ia merebut Anna dari kedua orang tuanya. Tapi nyatanya, gadis itu berharap ia segera datang menolong. Tak sanggup lagi melihat tubuh Anna yang bergetar karena rasa takut dan sedih, Nathan segera memeluk tubuh mungil itu. Nathan merasakan jantungnya dan jantung Anna berdetak seirama. Nathan juga merasakan sakit yang gadisnya rasakan. Nathan mengusap punggung Anna untuk menenangkan gadisnya. Dan setelah isakan Anna tak terdengar lagi, Nathan melepas pelukannya dan memegang lembut jemari Anna. “Ikutlah denganku, mari bicarakan semuanya.” Nathan mengajak Anna untuk berbicara berdua mengenai mereka. Mengenai kehidupan Anna dan juga mengenai seberapa menderitanya Nathan saat mengetahui Anna menghilang. “Anna...” panggil Nathan saat melihat Anna yang menatap ragu uluran tangan pria itu. “Percayalah padaku, Anna.” “Anna.” Nathan menatap Anna dengan perasaan sedih. Tatapan Nathan turun pada uluran tangannya yang tak kunjung disambut. Pria itu merasakan kecewa. Kecewa pada dirinya karena telah membuat Anna tak lagi percaya padanya. Saat Nathan mengepalkan tangannya yang terulur dan hendak kembali menarik tangannya, dengan secara tiba-tiba Anna memegang jemarinya. Jemari kecil nan lentik itu begitu pas dalam genggaman tangan besar milik Nathan. “Baiklah, Nathan.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN