***
Nathan membawa Anna menuju sebuah taman indah di tengah kota New York yang padat. Suasana di antara mereka terasa amat canggung, bahkan terhitung sejak sepuluh menit yang lalu sampai sekarang tidak ada yang mengeluarkan suaranya. Baik Nathan maupun Anna, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Anna memperhatikan sekitarnya. Kenapa jadi sepi pengunjung? Kenapa di taman ini hanya ada dirinya dan Nathan? Bukankah saat mereka ke sini masih sangat ramai oleh pasangan remaja yang sedang kasmaran? Lalu, di manakah semua orang itu?
Nathan yang sejak tadi memandang diam-diam pada Anna menjadi tertawa kecil saat melihat ekspresi Anna yang menggemaskan. Gadis itu sibuk menengok ke sana kemari entah apa yang ia cari. Nathan semakin gemas saat Anna menggembungkan pipinya kala apa yang ia cari tak kunjung dapat. Nathan semakin sulit untuk mengalihkan tatapannya dari wajah Anna. Bahkan pria itu kini menghadap Anna dan secara terang-terangan menatap Anna sambil bertopang dagu dengan senyum sangat manis.
Anna merasakan ada seseorang yang tengah menatapnya hingga membuat tubuhnya terasa begitu gelisah. Anna menoleh cepat ke sampingnya mengikuti instingnya sendiri. Dan tepat saat ia menoleh ke samping, ia melihat Nathan yang menatapnya lekat dengan senyum mengembang sehingga menyebabkan matanya menyipit. Pria itu bahkan tak mengalihkan tatapannya walau sudah tertangkap basah oleh Anna, sebaliknya Anna yang bergegas memalingkan mukanya karena merasa sangat malu. Area pipinya bahkan terasa hangat. Anna merutuki dirinya yang salah tingkah.
‘Oh come on! Don't make me look like a fool in front of him.’ Batin Anna kesal.
Nathan tersenyum geli saat melihat Anna yang memalingkan muka membelakanginya. Dapat ia lihat bahwa Anna kini sedang merona, terbukti telinganya yang memerah. Nathan semakin sulit untuk mengalihkannya dari ciptaan Tuhan yang teramat indah di depannya. Beribu kupu-kupu seolah berterbangan melingkupi hatinya.
Awal pertemuannya dengan Anna berawal saat Alysia yang menyuruhnya saat datang bulan pertama gadis itu. Padahal saat itu Nathan berusaha menolak permintaan Alysia karena sibuk dan Alysia yang merengek padanya hingga ia mau melakukan hal memalukan itu. Membeli pembalut. Ah, menggelikan. Tapi, jika saja saat itu Nathan menolak, ia tak akan bertemu dengan Calvin dan berkenalan dengan pria itu dan berujung menemukan Annanya. Secara tak sadar bahwa Alysia berperan dalam pertemuannya dengan Anna.
‘Adikku yang manis, tunggu hadiah dariku.’ Batin Nathan.
Nathan tersadar dari lamunan singkatnya saat Anna berdiri dari kursi taman itu dan hendak pergi. Nathan panik dan akan menghalangi gadis itu untuk pergi, namun ternyata ia salah. Anna tidak pergi meninggalkannya pulang melainkan pergi menghampiri seorang gadis kecil yang menangis di dekat pohon. Nathan duduk diam mengamati apa yang akan Anna lakukan.
Gadis itu berjongkok menyetarakan tingginya dengan si gadis kecil. Dapat Nathan lihat bahwa Anna sedang berbicara entah apa itu dengan gadis kecil di sana. Anna menghapus air mata gadis kecil itu sembari mengucapkan kalimat penenang. Hal itu membuat hati Nathan dilingkupi rasa hangat dan cintanya untuk Anna semakin bertambah hingga memenuhi isi hatinya.
Nathan mengeluarkan ponselnya dan memotret Anna secara diam-diam saat gadis itu mengecup pipi chubby milik si gadis kecil. Anna berdiri dan menggandeng tangan mungil gadis kecil itu dan berjalan menuju Nathan. Nathan dengan sigap kembali menyimpan ponselnya sembari menatap Anna dengan tatapan teduh penuh cinta.
Anna kembali duduk di kursinya dan memangku gadis kecil yang ia bawa tadi. Nathan sedikit berdeham untuk mengurangi rasa canggungnya dan bertanya pada gadis kecil itu.
“Di mana ibumu?” tanya Nathan sembari menunduk menatap gadis yang berada di pangkuan Anna.
“Mama tadi pergi beli es krim.” Nathan mengerutkan keningnya.
“Lalu, kenapa kau ada di sini?” tanya Nathan lagi.
“Mama menyuruhku menunggunya di kursi taman itu.” Tunjuk gadis kecil itu di sebuah kursi taman yang tak jauh dari tempat mereka. “Lalu, tiba-tiba Paman berkepala botak datang dan menyuruhku pergi. Aku... aku takut padanya dan pergi dari sana,” lanjut gadis kecil itu dengan mata berkaca-kaca hendak menangis.
“Siapa namamu, sayang?” ucap Anna dengan suara lembut penuh keibuan.
Mendengar kata sayang keluar dengan mulus dari sela-sela bibir Anna membuat tubuh Nathan bergetar senang. Padahal ia tahu jika gadis itu memanggil sayang pada gadis kecil di pangkuannya bukan pada dirinya, tetapi tetap saja Nathan yang merasakan efek dari panggilan itu. Jantung Nathan bergetar dengan detakan yang menyesakkan. Ia ingin Anna menyebutkan kata sayang itu untuknya juga.
‘Oh ayolah, jangan membuat gadisku ilfeel karena tingkah memalukan ini!’ Batin Nathan merutuki dirinya sendiri.
“Namaku Angel, Mom.”
Anna dan Nathan terkejut saat gadis itu menyebut Anna dengan panggilan Mom. Anna terkekeh dan mengacak pelan puncak kepala Angel dengan gemas. Berbeda dengan Nathan yang kini menatap Angel dengan tatapan intens.
“Kenapa kau memanggil Bibi ini dengan sebutan Mom?” tanya Nathan yang terdengar sedikit tidak suka.
“Mama bilang, Angel punya Mom. Kata Mama, Mom cantik dan baik. Tapi, Angel tidak pernah melihat Mom. Mama bilang Mom sedang berada di surga. Tapi tidak pernah pulang karena tersesat.” Gadis itu menunduk sedih. “Lalu, Bibi Anna sangat cantik dan baik, bukankah berarti Bibi Anna adalah Mom ku? Benarkan?” tanya Angel dengan sangat polos. Gadis itu bahkan menyeruakkan kepala kecilnya di perut ramping Anna. Angel memeluk Anna dengan sangat erat.
“Mom, ayo pulang temui Dad. Dia merindukanmu,” gumam Angel begitu sedih.
Anna yang mencerna perlahan perkataan Angel menyadari sesuatu. Jika ternyata Angel memiliki Dad, Mom dan Mama. Berarti bisa dikatakan jika Mama yang gadis itu katakan adalah ibu sambungnya dan Mom yang ia ceritakan adalah ibu kandungnya yang kemungkinan sudah meninggal dunia. Bukankah begitu?
Anna balas memeluk tubuh Angel untuk memberikan ketabahan pada si gadis kecil nan rapuh di dekapannya itu. Anna merasa sedih dengan apa yang gadis ini alami. Pemikiran tentang ibu sambung Angel yang sengaja meninggalkan gadis kecil ini sendirian semakin membuat Anna gelisah. Aura keibuan Anna terpancar hingga membuat Nathan yang sejak tadi menggertakkan rahangnya tak suka menjadi sedikit melembut melihat Anna yang begitu tulus.
Pemikiran buruk Anna tentang ibu sambung Angel menjadi hancur saat seorang wanita berlari mendekatinya dengan air mata dan tatapan khawatir. Wanita itu memanggil Angel dan segera menarik Angel ke dalam gendongannya.
“Ya Tuhan, akhirnya Mama menemukanmu, Nak.” Ibu sambung dari Angel mengecup seluruh permukaan wajah Angel. Tercetak jelas jika wanita itu begitu menyayangi Angel.
Anna yang tadinya terdiam karena terkejut menjadi tenang saat persepsi dirinya tentang ibu sambung Angel ternyata salah. Gadis itu tersenyum pada wanita di depannya.
“Maafkan saya atas keteledoran ini, dan terima kasih banyak karena telah menjaganya. Saya berhutang budi pada kalian,” ucap wanita itu sembari membungkuk hormat berkali-kali.
“Tidak masalah, saya hanya membantu menenangkannya yang menangis.” Wanita yang berada di depan Anna tersenyum dan mengangguk.
“Kalau begitu saya pamit pergi, sekali lagi terima kasih.”
Anna mengangguk tapi tidak dengan Nathan yang masih sibuk menatap Angel.
“Aku tidak mau pulang tanpa Mom,” rengek Angel di gendongan wanita itu.
“Siapa yang kau panggil Mom, sayang? Ingatlah, Mom sedang di surga sekarang. Tidak mungkin dia ada di sini.” Wanita itu berkata dengan penuh kehati-hatian.
“Tapi...”
“Kits pulang, ya? Dad sedang khawatir mencarimu, Nak.” Angel membungkam bibirnya dan mengangguk lemah.
“Baik, Mama.” Angel berkata dengan sangat lirih. Wanita itu mengangguk kecil mengisyaratkan untuk undur diri dari hadapan Anna dan juga Nathan.
Saat Nathan dan Anna kembali hanya berdua saja, membuat suasana hening tercipta. Anna sibuk memikirkan Angel yang baru saja pergi, sedangkan Nathan sibuk menatap Anna yang tersenyum tipis.
“Apa kau senang dipanggil Mom?” tanya Nathan dengan pandangan serius.
Anna sempat tersentak kecil dan menoleh pada Nathan. Saat melihat sorot penuh tanya pada mata Nathan membuat Anna menunduk sembari mengangguk kecil.
“Ya, aku suka anak kecil. Dan aku juga menyukai panggilan Mom yang anak kecil sematkan untukku,” jawab Anna. Tanpa diketahui Nathan bahwa gadis itu sangat ingin merasakan bagaimana dekapan hangat penuh kasih sayang dari yang namanya ibu.
“Baiklah, akan kubuat kau menjadi Mom dari anak-anakku,” gumam Nathan yang sangat pelan.
“Kau bicara apa?” tanya Anna yang tak mendengar gumaman Nathan.
“Tidak,” sahut Nathan cepat.
Suasana kembali hening.
“Anna,” panggil Nathan penuh kelembutan.
“Apa kau merasa lebih baik setelah jauh dari orang tuamu?” tanya Nathan lagi sebelum Anna sempat menyahuti panggilannya.
Terdengar helaan napas dari sela-sela bibir Anna, gadis itu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi taman sembari mendongak menatap langit.
“Ya, aku merasa sangat lebih baik dari sebelumnya.” Nathan menghela napas lega saat mendengar jawaban gadisnya.
“Kau tinggal di mana?” tanya Nathan. Walau sebenarnya ia tahu jika gadisnya itu tinggal di tempat yang sama dengan Calvin.
“Aku tinggal di sebuah apartemen dekat toko bunga tempatku bekerja,” ucap Anna. Nathan senang saat Anna berkata jujur padanya.
“Apa kau tinggal sendiri?” tanya Nathan. Dan saat melihat Anna yang menggeleng, membuat kening Nathan berkerut dalam. Apa maksud gelengan gadisnya? Apa Anna tinggal bersama seorang gadis lain bersamanya?
“Aku tinggal bersama sahabatku, Calvin.”
DEG!
Jantung Nathan kembali berulah, bukan karena bahagia tapi karena sebuah gejolak emosi saat mendengar penuturan gadisnya.
Anna dan Calvin tidak memiliki hubungan keluarga seperti halnya sepupu atau sejenisnya. Calvin dan Anna hanya sebatas sahabat, itu yang terdapat dari data yang diberikan Zack padanya. Nathan mengumpat kasar dalam hatinya untuk Zack. Anak buah sekaligus sahabatnya itu tidak menyantumkan laporan jika Anna tinggal di satu apartemen yang sama dengan Calvin.
SIALAN!
Anna menatap Nathan dengan bingung saat melihat wajah pria itu yang menegang dengan rahangnya yang mengeras. Anna semakin bingung kala Nathan menatapnya dengan ekspresi sedih, marah, kesal bahkan Anna sedikit bingung saat melihat raut tak suka seolah cemburu dari wajah tampan di sampingnya.
“Kenape ekspresimu begitu?” tanya Anna ingin menuntaskan rasa penasarannya.
“Sejak kapan kau tinggal bersamanya?” tanya Nathan tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan Anna barusan.
Mata indah milik Anna melirik ke atas dan ke kiri memikirkan jawaban untuk pertanyaan Nathan. “Sekitar... satu bulan lebih. Eh, bukan. Dua bulan lebih tiga hari,” jawab Anna yang semakin membuat gejolak kecemburuan pada hati Nathan menggebu membakar rongga dadanya.
“Selama itu dan bodohnya aku baru menemukanmu sekarang! Argh, s**l!” maki Nathan pada dirinya.
“Maksudmu?” tanya Anna heran.
“Pindahlah ke rumahku,” ucap Nathan antara ajakan dan perintah.
“Hah?” cengo Anna menatap tak percaya pada Nathan yang tampil bodoh di depannya. Bagaimana bisa ia mengajak Anna untuk pindah ke rumahnya sedangkan ia sudah memiliki tempat tinggal sendiri bersama sahabatnya.
“Tidak!” tolak Anna tegas.
“Tapi tidak baik untukmu tinggal berdua dengan seorang pria yang berkedok sebagai sahabatmu!”
Anna mendelik menatap Nathan saat ucapan penuh rasa kesal itu terlontar untuknya. “Hey, Tuan. Kau lupa bahwa kau adalah orang asing? Bagaimana bisa aku memilih meninggalkan sahabatku untuk tinggal bersama pria asing sepertimu?” ketus Anna yang terlihat kesal dan sedikit tersinggung akan ucapan tak pantas Nathan.
Anna berdiri hendak pergi, namun Nathan menarik lengannya dan mendudukkan gadis itu kembali di tempatnya semula.
“Aku bukan orang asing, Anna. Aku Nathan, Nathaniel Vincent.” Nathan merasakan sesak pada area jantungnya saat Anna memalingkan muka tak ingin menatapnya.
“Aku tidak percaya dan aku tidak mau percaya!”
Nathan meraih sakunya dengan tergesa dan mengeluarkan kartu tanda pengenalnya. Pria itu menunjukkannya di hadapan Anna. “Ini, ini kartu pengenalku. Aku benar adalah Nathaniel Vincent. Aku sahabat masa kecilmu, Anna.”
Anna melirik kartu pengenal yang disodorkan Nathan padanya dan membaca nama yang tertera di sana. Tiba-tiba rasa sakit hati timbul di hatinya saat ternyata pria di sampingnya benar adalah Nathan yang ia kenal. Bukan perasaan haru dan bahagia, melainkan perasaan benci dan marah pada Nathan. Anna semakin memalingkan mukanya agar pria itu tidak melihat dirinya yang sempat meneteskan air mata.
Rasa kecewanya pada Nathan mengalahkan rasa bahagianya saat menemukan pria itu. Anna sudah terlanjur kecewa pada penantiannya terhadap Nathan di saat tersulit dirinya dalam hidup ini. Bahkan ketika dirinya diseret paksa untuk dijualkan secara ilegal ke luar negeri, Anna selalu berharap ada orang yang akan menyelamatkannya dan orang itu adalah Nathan. Tapi, bukan Nathan melainkan Calvin. Jadi, tidak salah bukan jika Anna berhenti mengharapkan pria pengecut di sampingnya ini?
“Waktu itu...”
FLASHBACK
“Anna, kenapa menangis?” tanya seorang anak laki-laki sembari berlari kecil menghampiri seorang gadis di taman bermain tempat mereka biasanya bertemu.
Gadis kecil itu mendongak dengan buliran air mata di pipinya serta sesuatu yang keluar dari hidung gadis itu.
“Mama membentakku, Nathan. Untuk pertama kalinya, Mama marah besar padaku,” adu Anna.
Nathan duduk di samping Anna dan mengusap pelan punggung kecil Anna. Anak laki-laki itu merapikan rambut Anna yang berantakan dan juga menghapus air mata Anna dengan jemari kecilnya.
“Jangan menangis, mungkin kau melakukan kesalahan hingga membuat Mamamu marah. Coba katakan, kau melakukan hal apa yang membuat Mamamu marah?”
“A-aku hanya ma-makan siang lebih dulu tanpa menunggu Mama dan Papa. A-aku lapar karena Mama tidak membolehkan ku makan malam bersama mereka tadi malam, hiks...” isak tangis Anna yang terdengar pilu. Padahal ia baru memakan satu suap dan Mama nya sudah memarahinya sembari melempar piring makannya.
Nathan kecil terkejut. Anak laki-laki itu memeluk Anna dan bertanya setelahnya, “Apa masih lapar?”
Anna mengangguk kecil.
“Ayo, makan bersama keluargaku. Mom dan Dad ku sangat baik, kau pasti menyukai mereka.” Nathan mengulurkan tangannya pada Anna dan disambut Anna dengan ragu-ragu.
Anna dikenalkan pada Evelyn dan Ethan. Mereka makan siang bersama dan Anna tersenyum senang di tengah kehangatan keluarga itu. Saat tatapan Anna jatuh pada perut Evelyn yang sedikit buncit, kening Anna mengerut dalam.
“Bibi sudah makan begitu banyak, apa tidak juga kenyang?” ucap Anna masih dengan tatapannya pada perut Evelyn.
“Apa maksudmu, Nak?” tanya Evelyn yang bingung.
Anna menatap Evelyn dan kembali beralih pada perut wanita itu. Tangan kecil Anna menunjuk perut Evelyn dan berkata, “Perut Bibi sudah membesar, itu tandanya sudah kenyang.” Ucapan polos dari Anna membuat Evelyn, Ethan serta Nathan menjadi tertawa.
Ethan mendekat pada Evelyn dan mengusap perut Evelyn dengan perlahan, “Ya, dan asal kau tau bahwa Paman lah yang telah membuat Bibi mu ini kenyang. Dan perutnya akan semakin kenyang hingga lima bulan ke depan.”
Tatapan polos Anna terpusat pada Ethan yang mengusap perut Evelyn. Gadis kecil itu membuka perutnya dan melihat perutnya yang rata. “Coba saja jika aku bisa kenyang tanpa makan, pasti aku tidak kesulitan.”
Tawa Ethan semakin keras saat melihat lontaran kalimat polos Anna. Gadis itu sangat menggemaskan di matanya.
Dan tiba-tiba, Ethan mengucapkan kalimat asal untuk menggoda anaknya yang kini sedang tersipu malu karena melihat perut Anna.
“Tanyakan saja pada Nathan. Waktu kalian sudah besar nanti, Nathan bisa membuatmu kenyang sembilan bulan, Nak.” Ethan tertawa terbahak-bahak saat melihat Nathan menatapnya tajam sedangkan Anna menatap Nathan dengan binar bahagia.
Evelyn mencubit lengan Ethan agar tidak mengajarkan hal yang belum pantas di dengar oleh anak kecil seperti Nathan dan Anna. Dasar tidak tahu malu, pikirnya.
“Kenapa harus menunggu besar, Paman? Anna sudah besar!” ucap Anna sembari berdiri dari kursinya. Tatapan gadis itu menatap pada Nathan, “Nathan, ayo buat aku kenyang sembilan bulan!”
Wajah Nathan memucat di tempat. Tatapannya menatap tajam pada sang ayah dan menendang tulang kering Ethan dengan sangat keras. Ethan mengaduh sakit tetapi ia tetap melanjutkan tawanya.
“Kau masih kecil,” ucap Nathan.
Evelyn terkejut saat mendengarkan hal itu. Bukankah berarti itu tandanya Nathan menyukai Anna hingga menjawab seperti itu bukan melainkan kalimat menolak seperti ‘Tidak, aku tidak mau.’?
“Bibi, aku sudah besar kan?” tanya Anna dengan mata yang berkaca-kaca. Nathan tidak tega saat melihat Anna yang hendak menangis. Dan segera berkata, ”Baiklah, ketika besar nanti kau akan menjadi pengantin ku.” Ethan dan Evelyn terkejut. Keduanya menatap Nathan tak menyangka.
Ethan berdeham pelan untuk kembali menetralkan rasa terkejutnya. ”Kenapa kau ingin sekali kenyang sembilan bulan, Nak?” tanya Ethan.
“Agar Mama dan Papa tidak marah ketika aku makan banyak. Aku ingin kenyang agar mereka tidak marah.”
Wajah Evelyn, Ethan dan Nathan berubah tegang dan begitu terkejut. Nathan turun dari kursinya dan mendekat pada Anna. Anak laki-laki itu memeluk Anna yang menangis sedih.
Evelyn dan Ethan saling berpandangan seolah sedang telepati.
“Tenang, ada aku. Jika kau membutuhkanku, sebut saja namaku. Aku akan datang menolongmu, Ann.”
Anna menatap Nathan dengan lekat, gadis kecil itu mengulurkan jari kelingkingnya dan berkata, “Janji?”
“Ya, aku janji.”
FLASHBACK END.
“Dan lihat? Ketika aku beribu kali memanggil namamu, kau tak pernah datang padaku. Kau mengingkari janji itu! Kau pembohong!” Anna tak mampu menahan air matanya. Gadis itu terlihat begitu kecewa dan membuat Nathan sakit karenanya.
Nathan mencoba meraih jemari Anna, namun ditepis pelan oleh gadis itu.
“Ketika orang tuaku yang terus-terusan menyiksaku, hanya namamu yang selalu kusebutkan dan kuharapkan kehadirannya. Kau tidak datang, aku tetap akan menyebut namamu di setiap p********n yang ku dapatkan. Bahkan ketika aku diperjualbelikan oleh kedua orang tua k**i itu pun, aku tetap mengharapkan kau menolongku. Tapi, kau juga tidak datang di saat itu. Kau tidak datang, Nathan!” Anna mengucapkan semua yang ia tanggung selama ini pada Nathan. Bahkan Anna menunjuk tepat pada d**a area jantung Nathan ketika ia mengucapkan, “Kau tidak pernah ada untukku! Kau seolah menghilang di telan bumi!” tangis Anna semakin jelas terdengar sangat pilu.
Jantung Nathan seolah ditikam saat mendengar pengakuan Anna. Annanya membutuhkannya sejak lama. Gadis itu terlihat sangat rapuh. Nathan memeluk Anna dengan berusaha menenangkan Anna yang memberontak.
“Kau bahkan pindah jauh dariku! Kau pergi jauh ke negara yang tak bisa aku gapai saat itu! Kau meninggalkanku, Nath! Kau jahat!” tangis Anna dalam pelukan Nathan.
“Ya, Ann. Aku tahu, aku jahat. Aku sangat jahat. Hina aku sepuasmu, tapi jangan pernah membenciku, Ann. Tolong, jangan membenciku.”
“Tidak, aku tidak membencimu. Aku lebih dari itu!”
DEG!
“Hukum saja aku, Ann. Siksa saja aku sebagaimana mereka menyiksamu. Berikan aku luka seperti mereka melukaimu. Tapi, tolong jangan jauhi aku apalagi membenciku. Aku tidak bisa! Aku tidak bisa, Anna. Mengertilah.”
Isak tangis Anna sedikit mereda saat mendengar suara Nathan yang bergetar dan degup jantung pria itu yang sangat cepat menurutnya. Kepala Anna yang berada tepat di d**a bidang Nathan membuatnya mampu mendengar dengan jelas degupan jantung pria itu.
“Tidak.” Hanya gumaman kecil dari bibir Anna membuat jantung Nathan semakin menggila dan Anna tahu tentang hal itu.
“Anna, jangan begini.” Nathan memeluk Anna semakin erat dengan menyeruakkan kepalanya untuk menghirup harum tubuh Anna yang mampu membuatnya sedikit merasanya tenang, hanya sedikit.
Anna terdiam tak lagi terisak sedih. Gadis itu bukan lagi gadis polos seperti halnya Anna kecil. Ia tahu degup jantung itu menandakan tentang hal apa. Dan ada rasa senang saat menyadarinya.
Nathan menyukainya, bahkan bisa dikatakan lebih dari itu.
Anna sedikit menjauhkan wajahnya dari d**a Nathan dan berkata, “Apa mau mencintaiku?”
Nathan terdiam lalu tanpa izin segera mengecup bibir gadisnya.
“Lebih dari itu.”
***