***
“Lebih dari itu.”
“Lebih dari yang kau tau.”
“I love you so much! Every time and every where, I always love you! "
Anna meneguk kasar salivanya. Bibirnya yang tadi sempat dikecup sebentar oleh Nathan membuat jantungnya berdetak menggila. Debaran itu membuat Anna menjadi salah tingkah dan berefek pada telinganya yang memerah dan merambat menuju pipi. Gadis itu merasakan sesuatu yang hangat menjalar di pipinya. Mata Anna dan Nathan saling memandang dalam diam. Keduanya tak ada yang saling mengalihkan pandangan. Tiba-tiba entah setan dari mana, pandangan Anna turun pada bibir Nathan yang sedikit basah. Pandangan gadis itu terlihat penasaran dengan bibir Nathan. Bibir yang sedikit terlihat merah muda itu begitu menggoda.
‘Apa baru saja bibir itu singgah di bibirku?‘ batin Anna.
Hal itu tak luput dari perhatian Nathan. Pria itu sejak tadi memperhatikan Anna yang menatap bibirnya dengan rasa penasaran. Nathan terkekeh geli dan bibirnya menyeringai.
Saat tengah asyik memperhatikan bibir seksi Nathan, Anna tersentak kaget saat bibir itu menyeringai. Tatapan Anna kembali menatap mata Nathan dan ia kembali terpesona.
“Kenapa?” tanya Nathan saat Anna menatapnya lamat.
Anna menyentuh bibirnya sembari menatap bibir Nathan. “A-apa baru saja kau menciumku?” tanya Anna yang masih terlihat kaget.
“Tidak, itu bukan ciuman. Tadi hanya sebuah kecupan. Apa kau tau bagaimana ciuman itu? Baiklah, akan ku tunjukkan.”
Nathan meraih tengkuk Anna dan menarik kepala gadis itu mendekati wajahnya. Wajah mereka semakin dekat, bahkan Anna bisa merasakan harumnya helaan napas Nathan. Tubuh Anna menegang kaku karena ia tak pernah melakukan hal ini. Nathan adalah yang pertama. Anna ingin menolak dan memberontak, tapi apa daya dirinya yang tak kunjung bisa menggerakkan segala persendiannya. Seolah dirinya lupa bagaimana cara menggerakkan tubuhnya sendiri.
Wajah mereka semakin dekat dan kini hidung mereka sudah saling bersentuhan. Anna tak berani menggerakkan kepalanya karena jika ia menggerakkan kepalanya itu maka bisa dipastikan jika bibirnya akan menyentuh bibir Nathan.
Nathan tersenyum geli saat mata gadisnya tak kunjung menutup. Tatapan mata bulat itu masih sama polosnya seperti Anna waktu kecil. Nathan tak langsung menyentuhkan bibirnya pada bibir Anna, melainkan membiarkan posisi kepala Anna yang tegak sedangkan kepalanya yang memiring ke samping.
“Bolehkah?” tanya Nathan meminta izin sebelum ia mencium bibir tipis menggoda milik Anna.
Akibat Nathan yang berbicara, permukaan bibirnya dan Anna saling bersentuh tipis. Anna menahan napasnya saat merasakan bulu kuduknya berdiri. Gadis itu merasakan dunianya berputar.
“Anna,” panggil Nathan pelan dengan nada s*****l.
Anna ingin menjauhkan kepalanya, namun terlambat karena Nathan sudah mengetahui akan penolakan yang gadis itu akan lontarkan.
“Diam berarti iya.”
Nathan melakukannya. Pria itu mencium bibir Anna dengan sangat dalam menyalurkan rasa cintanya. Penuh kelembutan dan juga begitu s*****l. Nathan tak tahan dengan rasa manis bibir Anna dan terus mencobanya lagi dan lagi. Hingga sebuah tepukan pada dadanya menyadarkan ia kembali pada dunianya. Nathan melepaskan tautan bibirnya dan Anna. Nathan tak merasakan oksigennya menipis karena asyik menikmati bibir Anna, namun berbanding terbalik dengan Anna yang hampir saja pingsan karena kehabisan napas. Gadis itu menghirup oksigen dengan sangat rakus dengan d**a kembang kempis karenanya. Wajah Anna pun terlihat memerah pudar paduan antara merona dan pucat.
Nathan tersenyum bangga saat melihat hasil karyanya yang sungguh luar biasa. Anna dengan penampilan rambut sedikit berantakan karena ia yang tadi memegang tengkuk Anna dan ditambah bibir tipis Anna yang sedikit bengkak serta bercampur saliva miliknya.
Nathan menghapus sisa salivanya di bibir Anna dan menatap gadis itu dengan penuh cinta. “Aku suka dengan karyaku yang satu ini,” ucap Nathan dengan tersenyum lebar menampilkan wajah tampannya yang bersinar.
Anna memalingkan wajahnya karena malu. Ia merutuki dirinya sendiri karena larut oleh ciuman yang diberikan Nathan. Tidak! Anna seharusnya membenci pria di hadapannya ini! Tapi ada apa dengan hatinya yang tetap terus mendambakan Nathan? Hatinya menolak keras untuk membenci Nathan. Anna bingung saat dihadapkan pada posisi di mana ia harus memilih antara pikirannya yang memerintahkannya untuk membenci pria itu atau memilih berpihak pada hatinya yang menyuruhnya untuk memaafkan Nathan dan menjalin cinta bersama.
“I love you,” ucap Nathan lagi-lagi mengutarakan perasaannya pada Anna.
Anna hanya diam tanpa menolak maupun membalas. Gadis itu hanya diam tanpa tahu harus menjawab apa. Nathan kecewa saat Anna tak mengatakan hal yang ingin ia dengar dari mulut gadis itu, tetapi sepertinya kepercayaan Anna pada dirinya belum kembali utuh.
Nathan menghembuskan napas kasar dan menenangkan dirinya. Setidaknya Anna tidak menolak ciumannya. Nathan menghapus sisa air mata Anna dan mengelus pelan pipi gadis itu.
“Maafkan aku, Ann.”
Anna hanya diam. Gadis itu masih sibuk pada hal yang mereka lakukan beberapa menit yang lalu. Dan hal itu membuat Nathan berpikir jika Anna marah padanya.
“Anna, maafkan aku. Tolong maafkan aku,” ucap Nathan dengan begitu memelas. Pria itu bahkan menggenggam tangan Anna karena begitu takut jika Anna akan semakin marah padanya, dan lebih bahaya jika gadis itu membencinya.
“Anna ma—”
“Aku ingin pulang,” potong Anna kikuk. Gadis itu beranjak pergi, namun Nathan segera berdiri dan menahan pergelangan tangannya.
“Akanku antar,” ucap Nathan. Bukan tawaran melainkan seperti perintah mutlak.
“Maaf, tapi aku tidak ingin pulang bersamamu.” Nathan dengan sekuat tenaga menekan rasa sakitnya saat mendengar penolakan Anna.
Dengan memasang wajah tebal, pria itu menarik Anna dan membawa gadis itu pada mobilnya yang terparkir indah. Matanya melirik bodyguard yang sejak tadi mengamatinya dari jauh untuk pergi lebih dulu.
Nathan membukakan pintu penumpang samping pengemudi dan mempersilahkan Anna untuk masuk ke dalam mobilnya. Anna menolak dan ingin pergi, akan tetapi dengan mudah Nathan mendorong tubuh mungil itu untuk memasuki mobilnya. Nathan mengunci terlebih dahulu pintu mobil bagian penumpang dan berjalan menuju pintu kursi pengemudi.
Nathan melajukan mobilnya membelah jalanan. Suasana hening kembali tercipta di antara mereka berdua. Anna menatap tak minat pada pemandangan di luar jendela mobil. Sedangkan Nathan sejak tadi menatap Anna dengan curi-curi pandang.
“Berhenti.”
Nathan menghentikan mobilnya di tempat parkir pada gedung bertingkat yang salah satu dari apartemen di sana adalah apartemen Anna.
Nathan mengertakkan rahangnya saat kembali sadar bahwa Anna tinggal satu apartemen dengan seorang pria. Rasa cemburu melingkupi hati Nathan hingga membuat pria itu memegang tangan Anna yang hendak keluar mobil. Tatapan tajam Nathan membuat Anna sedikit takut dan risih.
“Tinggalkan apartemen itu dan tinggallah di rumahku,” ucap Nathan.
Anna berdecak dan hendak menolak, namun dipotong oleh Nathan, “Aku tinggal di rumah utamaku sedangkan kau tinggal di rumah milikku yang tak pernah ku huni sebelumnya.”
Anna semakin bingung. Rumah tidak pernah dihuni? Bukankah berarti sama saja dengan rumah kumuh dan berhantu? Anna merinding sejenak dan menatap Nathan dengan tatapan garangnya.
“Terima kasih, tapi aku tetap tidak akan mau!” Tegas Anna. Gadis itu keluar dari mobil dan membanting pintu mobil dengan keras.
BUGH!
“ARGH! s****n!” geram Nathan murka. Pria itu memukul stir mobilnya. Pandangannya terus tertuju pada Anna yang masuk ke dalam gedung itu.
“Tidak boleh, Ann. Tidak ada pria lain yang boleh dekat denganmu selain aku!” Ucapan penuh kepemilikan itu terlontar begitu saja di mulut Nathan. Pria itu meraup wajahnya kesal dan kembali memukul stir mobil.
Nathan mengambil ponselnya dan melakukan panggilan telepon pada Zack.
Saat panggilan sudah diangkat oleh Zack, Nathan segera berucap sebelum pria di seberang sana melakukan salam hormat seperti biasanya.
“Lakukan segala cara agar Anna ku tidak tinggal satu apartemen dengan pria itu.”
“Baik, Tuan Muda.”
Nathan mematikan terlebih dahulu sambungan panggilannya dan menatap gedung apartemen bertingkat yang ada di hadapannya.
“Maafkan aku yang egois, Anna. Aku... aku hanya tidak ingin kau mencintainya karena telah terbiasa tinggal bersama.” Nathan berucap lirih. Tangan Nathan naik perlahan meremas area jantungnya dan kembali berkata, “Di sini terasa sakit saat kau berdekatan dengan pria lain. Aku tidak sanggup menahan sakitnya.”
Setelah sekitar tiga puluh menit hanya berdiam diri di tempat parkir itu, Nathan akhirnya menjalankan mobilnya untuk kembali pulang menuju rumahnya. Hari ini, ibu dan ayahnya baru saja pulang dari Traveling Jepang.
***
Nathan memasuki rumahnya yang begitu ramai karena ada neneknya yang berkunjung.
“Grandma,” ucap Nathan saat melihat ada Serra, ibu dari ibunya. Pria itu berjalan pelan menuju Serra dan memeluk neneknya dengan penuh kelembutan. Neneknya terlihat masih bugar walau umurnya sudah berkepala tujuh.
“Grandfa?” tanya Nathan yang merasa heran saat tidak melihat kakeknya.
“Oh, Grandfa mu sedang ada urusan dengan teman karibnya.” Serra menuntun cucu pertamanya untuk duduk di sofa yang ada.
“Bagaimana dengan tugas CEO yang kau jalani? Apa ada yang menyulitkanmu, Cucuku?” tanya Serra sembari mengelus punggung tangan Nathan.
Nathan menggeleng lemah. Dan itu terlihat dari wajah suram Nathan. Serra memegang bahu Nathan dan meminta penjelasan lebih.
“Tidak ada kesulitan dalam menangani tugasku sebagai CEO, Grandma. Namun, aku sedang patah hati.” Serra tersenyum geli saat melihat Nathan mengadu sedih.
“Siapa gadis yang berani menolak cucu Grandma yang begitu tampan ini? Katakan dan akan Grandma pastikan dia untuk periksa mata. Mungkin gadis itu mengalami kelainan pada matanya,” gurau Serra.
Nathan mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah foto yang baru saja ia ambil hari ini untuk diperlihatkan pada Serra. Serra mengamati gadis cantik dalam foto yang sedang bercakap dengan gadis kecil. Sinar mata gadis itu membuat Serra terpukau saat melihatnya. Tatapan itu penuh ketulusan. Dan Serra bangga ketika cucu nya bisa memilih calon yang baik.
“Dia sangat cantik, pantas saja dia menolakmu, sayang. Mungkin cucu nenek ini kalah saing,” canda Serra yang membuat Nathan merajuk.
“Eh, Kak Nathan sudah pulang.” Alysia datang bergabung dan duduk di samping Nathan. Gadis yang tengah datang bulan itu merangkul mesra lengan kekar Nathan. Masa haid nya membuat ia menjadi lebih manja dari hari-hari sebelumnya.
“Kak, aku mau kentang goreng dan buah mangga muda.”
Nathan menatap kaget pada Alysia. Pria itu mendelik tajam pada adiknya dan berkata, “Kenapa kau menginginkan itu? Apa kau hamil?”
“HEH! SEMBARANGAN!” Alysia menoyor kepala Nathan gemas.
“Aku ngidam!”
“Hah? Ngidam? Bukankah berarti kau hamil?” tanya Nathan yang merasa bingung sendiri.
Serra terkekeh saat melihat tingkah kedua cucunya. Sangat menggemaskan.
“Nathan Cucuku, ngidam bisa dialami oleh seorang wanita yang sedang hamil baik itu ibu janin ataupun ayahnya. Dan selain itu, wanita yang sedang datang bulan juga bisa mengalami ngidam,” jelas Serra dengan begitu pengertian.
“Nah, dengarkan itu! Wanita tua saja tau, bagaimana bisa kau tidak tau itu,” ketus Alysia.
Serra menarik pelan telinga Alysia yang mengatainya wanita tua, walau sebenarnya memang begitu. “Tua tua begini, tapi Grandma masih terlihat bugar dan sehat layaknya usia empat puluhan. Dasar Cucu durhaka.” Alysia mengaduh sakit dan meminta maaf pada neneknya. Alysia antara ingin tertawa dan kasihan pada dirinya sendiri.
“Mana aku tau, aku tidak pernah datang bulan jadi tidak tau menahu tentang hal itu,” ketus Nathan.
Alysia yang telinganya baru dilepas oleh Serra menjadi tertawa saat melihat penuturan Nathan yang terlihat merajuk. Bahkan Serra sama halnya dengan Alysia.
Nathan yang memahami ucapan neneknya menegang kaku seketika ketika ingat bahwa Anna juga sedang datang bulan. Apa gadisnya itu sedang mengidam juga? Lalu jika gadisnya mengidam, siapa yang akan membelikannya makanan yang ia mau. Apakah Calvin?
SIAL!
Batin Nathan mengumpat kesal. Pria itu bergegas membuka ponselnya untuk menghubungi Anna namun terhenti saat ia baru ingat jika dirinya belum sempat meminta nomor ponsel gadis itu.
Nathan semakin geram dan melempar ponselnya di sofa samping tubuhnya. Nathan menyandarkan punggungnya dengan lemas.
“Apa gadisku juga akan mengidam?” gumam Nathan yang masih didengar oleh Alysia dan juga Serra.
Serra terkekeh dan menepuk bahu kokoh Nathan, “Tenanglah, sayang. Tidak semua wanita merasakan ngidam saat datang bulan.” Nathan menghembuskan napas lega.
“Eh, Kak Nathan sudah menemukan seorang kekasih?” tanya Alysia heboh.
Nathan tak membalas melainkan menatap sinis ada Alysia. “Tentu saja!”
“Apa sudah move on dari kakak ipar?”
Nathan mendengus, “Tentu saja, tidak! Dia lah yang akan menjadi kekasihku serta istriku di masa depan!”
Anna mengernyit saat mendengar nada penuh keangkuhan yang Nathan lontarkan. Sangat percaya diri sekali.
“Yakin jika dia menyukaimu? Bagaimana jika ternyata dia ada seseorang yang begitu ia cintai. Uluh-uluh, kurasa kau akan tercampakkan, Kak.”
Nathan mendengus kesal dan beranjak dari duduknya. Suasana hatinya semakin memburuk saat adiknya itu kembali memprovokasinya untuk berpikiran negatif. Nathan kesal dan pamit pada Serra untuk masuk menuju kamarnya.
***
Nathan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Pria itu baru saja selesai mandi dan berencana tidur setelahnya.
Nathan memakai pengering rambut untuk mempercepat waktunya dan segera beranjak menaiki ranjang. Nathan meraih ponselnya dan lagi-lagi mengamati wajah cantik Anna dari potretnya tadi siang.
“Grandma benar, dia sangat cantik dan begitu sempurna.”
Nathan menghadapkan tubuhnya menyamping. Pemikiran negatif bermunculan di kepalanya.
“Apa yang dikatakan Alysia benar adanya?”
“ARGHH! Menyebalkan!” Nathan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya dan memilih segera tidur.
***