***
Wajah suram dan penuh tekanan melingkupi wajah tampan seorang pria yang kini tengah duduk angkuh di kursi singgasananya. Tatapan tajam serta raut datarnya semakin membuat aura di sekitar pria itu menjadi gelap dan mencekam.
Nathan. Dialah orangnya.
Pria itu sedang duduk di kursi CEO kebesarannya sembari menunggu seseorang untuk datang memberikan informasi yang ia mau. Nathan tak kunjung tenang di posisi duduknya. Tangannya kadang kala mengetuk meja sehingga menghasilkan nada irama yang begitu menakutkan bagi dua orang bodyguard yang ada di ruangan yang sama dengannya.
Rahang Nathan mengeras saat orang yang ia tunggu tak kunjung datang. Nathan terus-menerus menengok pada arloji hitam yang melingkar indah di pergelangan tangannya.
“Dia telat tiga puluh empat detik dari waktu yang seharusnya!” geram Nathan.
Setiap lima detik sekali, pria itu terus kembali menengok arlojinya. Sumpah serapah sudah bersemayam di hatinya. Pria itu bahkan berjanji akan memberikan hukuman pada orang itu karena telah membuatnya menunggu.
Suara derit pintu yang terbuka membuat Nathan mendongakkan kepalanya menatap seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Tatapan Nathan berubah semakin tajam.
“Kau terlambat satu menit dua puluh empat detik,” ucap Nathan dengan raut datar dan suara rendahnya yang terdengar mengerikan.
“Maafkan saya, Tuan Muda.” Zack membungkuk atas permintaan maafnya. Melihat wajah kusut Nathan, menyadarkan Zack bahwa ia tengah berada di kondisi berbahaya sekarang. Sekali saja ia salah bicara, bisa-bisa Nathan akan kembali menghukumnya seperti dua tahun lalu. Hukuman di mana ia diperintahkan mencari buronan perusahaan yang melarikan diri dengan membawa uang hasil penggelapan dana. Tentu saja hal itu membuat Zack kewalahan dan butuh waktu lima bulan untuk menyelesaikan hukumannya.
“Katakan,” perintah Nathan yang terlihat sudah tidak sabar.
“Saya tidak bisa membuat Nona Anna untuk pergi dari apartemen itu karena sepertinya tidak ada kelemahan pada gadis Anda, Tuan. Dia hanya bekerja sebagai pelayan toko bunga dan tidak ada yang bisa mengancamnya.”
“Kenapa tidak culik pria s****n itu dan ancam gadisku untuk alasan agar pindah ke tempat lain?!” desis Nathan marah.
“Bukankah hal itu akan membuat Nona Anna menjadi menaruh kecurigaan untukmu, Tuan? Karena di mana-mana, seseorang diculik itu akan meminta tebusan uang bukan melainkan tebusan agar ia pindah tempat tinggal,” ucap Zack. Pria itu menahan senyumnya sekuat tenaga agar Nathan tak semakin marah.
‘ARGH s**l! Aku terlihat bodoh sekarang.’ batin Nathan berteriak frustasi.
Melihat Nathan yang terdiam dengan raut wajah yang semakin datar dan suram membuat Zack segera berkata, “Hanya ada satu cara agar Nona Anna tidak tinggal satu apartemen dengan pria itu, Tuan Muda.”
Nathan menatap Zack cepat dan menaikkan alis matanya sebelah kanan menantikan apa yang akan Zack ucapkan selanjutnya.
“Bebankan tugas pada Calvin yang merupakan salah seorang karyawan Vincent Company ke sebuah cabang perusahaan yang jauh dari tempat ini, semisal berikan dia tugas di perusahaan Anda yang berada di Spanyol atau di Perancis. Itu usul yang dapat sa—”
“Bagus! Aku suka rencanamu,” ucap Nathan senang.
Zack tersenyum simpul. Pria itu kembali berkata, “Ingin berapa lama ia ditugaskan, Tuan Muda?”
“Selamanya! Jauhkan ia dari Anna selama-lamanya,” ucap Nathan tanpa keraguan sedikitpun. Bibir pria itu tercetak jelas seringaiannya dan juga matanya yang berbinar senang.
“Baik, Tuan Muda.”
“Berhenti!” Zack menghentikan langkahnya yang ingin keluar dari ruangan itu dan berbalik menatap Nathan kembali.
“Lakukan hari ini, aku tidak ingin menunggu besok.” Zack mengangguk kembali dan segera keluar.
Nathan meraih gagang telepon yang menghubungkan langsung dengan sekretarisnya. “Masuk keruangan saya sekarang,” ucap Nathan dan kembali menaruh telepon itu pada tempatnya. Tak perlu menunggu lama, seorang wanita yang merupakan sekretarisnya datang memasuki ruangan miliknya.
“Sebutkan jadwalku hari ini,” perintah Nathan dengan mengalihkan tatapannya pada berkas di tangannya.
“Pukul sepuluh pagi, Anda akan mengadakan rapat dengan beberapa direksi mengenai proyek besar perusahaan Minggu lalu. Pukul dua siang, Anda akan menghadiri jamuan makan siang bersama Mr. Franky membahas perihal kontrak kerja. Hanya itu, Tuan.” Wanita yang bernama Vita itu mengakhiri ucapannya dengan sedikit menunduk. Sedikit informasi sekretaris bernama Vita ini berbeda dengan sekretaris sebelumnya. Nathan memecat sekretarisnya yang kemarin karena merasa risih saat wanita itu dengan sengaja menjajakan tubuhnya pada Nathan. Tentu saja Nathan tidak mentolerir segala hal seperti itu dan menggantikannya dengan Vita.
“Baiklah, beritahu para direksi untuk mulai rapat pada pukul sembilan dan beritahu pada Paman Dean untuk menggantikanku menemui Mr. Franky,” ucap Nathan. Pria itu menutup berkas yang tadi hanya ia bolak-balik dan menatap Vita dengan sedikit senyuman ramahnya.
“Ba-baik, Tuan.” Ucap Vita dengan sedikit terbata. Vita merona saat melihat senyum Nathan yang mengembang, namun ia sadar jika bosnya itu telah memiliki kekasih.
‘Jangan sampai aku dipecat seperti sekretaris sebelumnya.’ batin Vita.
***
Nathan duduk di kursi pengemudi mobilnya sembari menatap sebuah toko bunga tak jauh darinya. Nathan bahkan melihat Anna keluar masuk toko karena saking ramainya pembeli. Entah Nathan yang terlalu berpikir negatif atau memang begitu kenyataannya, sejak tadi yang membeli bunga-bunga di toko itu hanyalah pria. Pria-pria itu bahkan dengan terang-terangan tersenyum saat Anna memberikan rekomendasi beberapa bunga dan karena itulah Nathan kesal. Pria itu menggeram kesal dan menggenggam stir mobil dengan sangat kuat hingga menyebabkan buku-buku jarinya memutih.
“Anna hanya milikku, s****n!” desis Nathan dengan kecemburuan yang sudah membuncah saat melihat seorang pria menyapu lembut pipi Anna yang kotor.
Nathan bergegas turun dari mobilnya dan mendekati Anna yang sepertinya menegang kaku di tempat. Gadis itu hanya diam saja tanpa menolak dan membuat Nathan merasakan sakit pada hatinya.
‘Apa Anna selalu begitu ke semua pria? Kupikir hanya padaku.' Batin Nathan dengan sedikit mengeluarkan tawa mirisnya.
Nathan dengan langkah lebarnya mendekati Anna dan pria itu. Nathan memegang pergelangan tangan pria yang berani menyentuh gadisnya. Nathan bahkan melemparkan tatapan tajam untuk mengintimidasi lawannya itu.
Anna terkejut dengan kedatangan Nathan yang mendadak berada di depannya. Degup jantung Anna kembali berulah saat menyadari kehadiran Nathan di sekitarnya. Bahkan Anna mengabaikan pelanggannya yang kini terlihat tertekan di bawah tatapan mengintimidasi Nathan.
“Jangan sentuh dia!” peringat Nathan dengan sangat tajam. Pria itu menghempas kasar tangan pria yang ia genggam barusan. Nathan bahkan menyembunyikan tubuh Anna di balik tubuhnya.
“Maaf, Tuan. Saya hanya ingin membersihkan sedikit kotoran di pipi gadis itu,” ucap pria tadi yang memberikan sedikit pembelaan pada dirinya sendiri.
Nathan menatap sinis pada pria itu dan berkata, “Persetan dengan alasan itu. Jangan pernah menyentuhnya jika tak ingin kau mendapatkan akibat dari perbuatanmu itu.” Nathan mengancam dengan sungguh-sungguh. Ia bersumpah akan membuat hidup pria itu hancur jika kembali menyentuh gadisnya.
Tanpa kata, pria itu kembali menaruh bunga yang hendak ia beli dan bergegas pergi secepatnya dari hadapan Nathan yang sedang mengamuk layaknya singa.
“Tuan, bunganya!” panggil Anna saat pelanggannya pergi begitu saja.
Nathan berbalik menatap Anna lekat saat gadis itu memanggil pria tadi. Pria itu tidak suka melihat Anna memanggil pria lain. Sikap posesifnya kembali menguasai dirinya. Nathan sangat marah bahkan ia mengepalkan tangannya dengan erat.
Nathan mengatur napasnya karena tidak ingin menyakiti perasaan Anna. Ia tidak mau gadis itu semakin membencinya. Nathan memegang bahu Anna dan membuat gadis mungil itu mendongak menatapnya.
“Jangan sedih hanya karena kehilangan pelanggan seperti dia! Aku bisa menggantikannya dan bahkan bisa memborong semua bunga yang ada di sini agar kau senang. Tolong jangan merasa sedih karena itu,” ucap Nathan yang terdengar frustasi.
Entah sejak kapan perasaan Nathan berubah sangat sensitif seperti ini. Saat Anna menghela napas lelah, hal itu bahkan membuat hati Nathan mencelos mendengarnya. Ulu hatinya begitu sakit saat mendengar helaan itu. Apa Anna merasa tertekan? Apa Anna tidak suka dengan ucapannya? Kemungkinan-kemungkinan buruk kembali menguasai Nathan dan itu berhasil dihentikan oleh gadis di depannya saat gadis itu berkata, “Ya.”
Anna tidak tahu harus berkata apalagi selain kata ya. Anna bahkan ingin mengacak rambutnya sendiri karena perkara Nathan. Pria itu membuat jantungnya menggila dan pria itu juga yang menghilangkan pelanggannya.
Anna memasuki kembali toko bunga tempatnya bekerja dan tanpa diduga bahwa Nathan juga ikut masuk mengekorinya layaknya anak kecil pada ibunya. Tatapan dua orang pelayan toko bunga lainnya membuat Anna menjadi malu. Malu karena Nathan menjadi pusat perhatian sebab ketampanan yang tidak manusiawi baginya. Teman satu kerja Anna bahkan menatap gadis itu dengan tatapan menggoda.
Sembari mengekori Anna, Nathan menatap isi toko itu melihat berbagai jenis bunga yang bertengger cantik di sana. Nathan bahkan langsung jatuh cinta saat matanya tertuju pada bunga mawar putih yang mekar dengan sangat indah.
Nathan memanggil Anna dan menunjuk bunga itu, dan berkata, “Berikan aku bunga itu, Ann.”
Anna menoleh menatap arah yang Nathan tunjuk dan menatap Nathan kembali. “Anda menginginkannya, Tuan?” tanya Anna begitu formal.
“Nathan, panggil namaku Nathan. Jangan bersikap formal,” ucap Nathan dengan sedikit nada memelas.
“Kerja tetap kerja, sikap profesional harus diterapkan saat bekerja.” Nathan semakin terkagum dengan Anna. Dan hal itu yang membuat Nathan kembali menambah kadar cintanya untuk Anna.
“Baiklah-baiklah,” ucap Nathan yang memilih mengalah.
Anna berjalan menuju bunga itu dan memetiknya beberapa tangkai. Dengan jemari mungil dan lentiknya itu, Anna dengan lihai membungkus bunganya dalam tatanan yang begitu cantik. Nathan suka dan lebih menyukai pemilik tangan yang membuatnya.
Setelah selesai, Anna segera menyerahkannya pada Nathan. “Lima dolar untuk itu, Tuan.”
Nathan segera memberikan sejumlah uang yang diinginkan. Pria itu menatap Anna di depannya dengan tatapan memuja.
“Anna a—” Ucapan Nathan terhenti mendadak saat suara nyaring sebuah ponsel terdengar mendadak di saku celana Anna.
Anna bergegas mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan itu.
“Ada apa, Calvin?”
“...”
“Hah, benarkah? Lalu, aku harus apa?”
Nathan tersenyum saat rencananya sudah dijalankan oleh Zack.
“Pindah? Serius? Baiklah.”
Nathan mengulum senyum dan menatap Anna dengan ekspresi pura-pura polos saat gadis itu menyudahi panggilannya.
“Ada apa?” tanya Nathan sekedar basa basi.
“Aku akan pindah bersama Calvin.”
“HAH?!”
***