***
“Ta-tapi, bagaimana bisa...” Nathan berucap dengan terbata-bata. Apa ia salah strategi?
‘Kenapa jadi begini?’ frustasi Nathan.
“Bagaimana apanya?” tanya Anna mencuramkan alisnya bingung.
“Kenapa kau harus ikut dengannya? Kau kan bisa tinggal di sini,” ucap Nathan yang tidak tahu ingin menanyakan apa karena pikirannya yang blank.
“Tentu saja aku akan ikut dengannya. Aku kemari bersamanya dan aku hanya bergantung padanya, jika dia pergi aku akan ikut kemanapun dia pergi.” Anna mengucapkan kalimatnya dengan begitu ringan tanpa tahu jika perkataan itu sedikit menggores perasaan Nathan.
“Tapi kan ada aku untuk menjadi tempatmu bergantung, kau bisa meminta apapun padaku. Aku akan menjagamu lebih dari dia menjagamu,” ucap Nathan.
“Kau orang asing,” sinis Anna.
Redup mata Nathan memancarkan sendu dan kemarahan. “Aku bukan orang asing, Ann!” Tanpa sadar, Nathan menaikkan sedikit nada bicaranya.
“Ya, benar. Tapi aku tidak percaya padamu, Tuan.”
Nathan terdiam di tempat. Kenapa Anna terus saja melukai perasaannya? Apa gadis itu tidak memikirkan tentang bagaimana perasaan nya ini?
“Jika tidak ada yang ingin kau lakukan, pergilah. Aku juga akan pulang awal hari ini,” ucap Anna dan melewati Nathan.
“Tidak!” teriak Nathan dengan spontan. Pria itu bahkan segera menggenggam pergelangan Anna dengan erat namun tidak menyakiti gadisnya. Wajah Nathan berubah menegang ditambah kekesalan yang begitu amat tercetak jelas di sana.
“Kau tidak boleh pergi apalagi pindah negara bersamanya!” perintah Nathan yang terdengar panik.
Anna menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan yang kebingungan. Gadis itu melepas pegangan Nathan pada pergelangannya, akan tetapi tidak sampai terhitung detik Nathan kembali menggenggamnya. Anna menatap tajam pada Nathan. Ada apa dengan pria ini?
“Aku tidak pernah bilang akan pindah ke negara lain, walau memang kenyataannya seperti itu. Lalu, bagaimana bisa kau tau tentang itu, Tuan?” Anna mencondongkan wajahnya pada Nathan dan menatap pria itu dengan tatapan curiganya. “Apa kau memata-matai ku dan Calvin?” tanya Anna sekali lagi dengan tatapan yang semakin membuat Nathan tersudutkan.
“Ya... ya karena aku adalah bosnya. Aku tau segala hal yang dikerjakan karyawan ku," alibi Nathan walau tidak semuanya salah.
“Hm...” Anna menatap Nathan lebih dalam lagi sehingga membuat dirinya tanpa sadar sedang berjinjit untuk mencoba menyamakan tingginya dengan Nathan walau tidak bisa.
“Apa kau yang mengaturnya?” tanya Anna.
Nathan melirik ke samping kanan dan kiri untuk menghilangkan degup jantungnya yang menggila karena takut tertangkap basah sudah berencana memisahkan Anna dan Calvin. Namun, alasan lain dari degup jantungnya yang berdetak cepat adalah Anna yang begitu dekat dengannya. Pria itu bahkan bisa merasakan bau vanila yang menguar dari tubuh ramping Anna yang tercium sangat memabukkan baginya. Nathan memundurkan tubuhnya berusaha untuk menjaga jarak aman dan agar ia tak kebablasan mencium gadis itu lagi.
Namun, Anna dengan sangat berani menarik dasinya hingga membuat wajah Nathan kini berada tepat di depan wajah Anna. “Katakan, Tuan. Katakan apa ini adalah ulahmu? Calvin bahkan baru bekerja belum genap satu bulan tetapi ia sudah dipindahkan tugas ke Spanyol? Kau bilang, kau adalah bosnya. Jadi, benarkah itu ulahmu?”
SIAL!
Nathan mengumpat saat disadari jika gadisnya mampu memahami sedikit kondisi yang terjadi. Namun, ada satu hal yang membuat Nathan takut. Bukan takut karena Anna mengetahui rencananya, melainkan takut jika dirinya tidak bisa menahan diri dari godaan yang berada di hadapannya. Wajah cantik Anna terpampang jelas di depannya dan apa ia bisa mengabaikan ini?
Tentu saja, tidak!
Nathan meraih tengkuk Anna dengan cepat dan membuat kedua bibir bertemu. Bibirnya dan bibir Anna kembali menyatu. Akan tetapi, kali ini Anna tidak terdiam kaku seperti halnya kemarin. Gadis itu sangat malu saat mendengar pekikan dari kedua temannya dan memukul berkali-kali d**a bidang Nathan yang terasa keras. Pikiran Anna kosong saat bibir itu bergerak membelai bibirnya. Anna tidak bisa tinggal diam! Ia akan malu setengah mati jika ia terlihat menikmati hal ini di hadapan orang lain.
Anna mencubit, memukul bahkan menjambak rambut Nathan agar ciuman itu terlepas. Namun, Nathan semakin mendorong tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka, tangan kiri Nathan yang bebas bahkan kini sudah bertengger manis memeluk pinggangnya.
‘Oh Tuhan, tolong selamatkan aku dari predator ini!’ batin Anna keras.
Dan saat itu pula, lintasan sebuah buku novel romance yang pernah ia baca terlintas dalam benaknya. Anna mengingat jika dalam novel itu bahwa wanita pemeran utama menggigit bibir seorang penculik yang merupakan peran pria utama dalam novel dan perbuatan sang wanita membuat ciumannya terlepas.
Anna berusaha memberanikan diri untuk melakukan itu. Gadis itu memposisikan bibirnya agar bibir Nathan berada di antara sela-sela giginya. Hal itu membuat Nathan bersorak senang dalam hati mengira jika Anna membalas ciumannya. Namun, detik berikutnya.
“Ssht...” desis Nathan saat dirasakan jika Anna menggigit bibirnya. Nathan tak melepaskan tautan bibir mereka. Pria itu hanya menghentikan lumatannya saja. Sementara Anna menyumpah serapahi pria itu. Di rasakan jika Nathan sedang lengah, Anna memanfaatkannya dengan mendorong pria itu dengan sekuat tenaga menggunakan tangannya yang terlihat mungil.
Dan berhasil!
Tautan bibir mereka terlepas dengan Anna yang terlihat menghirup oksigen cepat dan Nathan yang masih terlihat cengo. Pria itu meraih bibirnya dan merintih sakit saat tangannya tepat mengenai bibirnya yang berdarah. Itu pasti menimbulkan luka. Anna sedikit khawatir saat melihat kedua alis Nathan yang mencuram dan terlihat meringis sakit.
Gadis itu mendekati Nathan dan melihat luka yang ia berikan pada bibir pria itu. Timbul rasa bersalah dalam dirinya. Anna bahkan hendak mengelap sedikit noda darah di bawah dagu pria itu. Namun sesuatu hal terjadi membuatnya terkesiap, Nathan menepis pelan tangannya dan segera pergi dari hadapannya.
Tangan Anna yang menggantung di udara membuat gadis itu semakin merasa bersalah dan gelisah. Anna ingin mengejar Nathan, tetapi kakinya seolah tak mau digerakkan. Anna merasa jantungnya berdetak pelan dengan rasa sedikit rasa sesak. Pandangannya menatap pada arah pintu tempat Nathan menghilang.
“Apa aku keterlaluan?” gumam Anna.
***
Nathan bergegas masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di tempat semula. Pria itu menatap spion dalam mobil dan melihat luka yang dibuat oleh Anna. Hatinya berdesir tatkala mengingat hal itu. Wajah Nathan terlihat jelas memerah layaknya kepiting rebus bahkan bagian telinganya seperti tersiram air panas. Nathan menepuk pipinya berkali-kali. Pria itu berusaha mengubah warna wajahnya seperti semula agar tak merona.
“Nathan sadar! Kau pria pejantan sejati! Bagaimana bisa hanya mendapat respon seperti itu membuatmu sampai merona seperti ini? Argh! Apa Anna melihatnya? Apa gadisku melihat wajah memalukan ini? ARGH! s**l!” gerutu Nathan. Pria itu bahkan menyembunyikan dirinya saat Anna keluar dari toko dengan berganti pakaian menjadi casual. Dan kali ini, Nathan kembali merasa bodoh. Anna tidak mungkin bisa melihatnya karena mobilnya ini dilapisi kaca anti tembus pandang. Jika dilihat dari luar, maka hanya akan terlihat jendela mobil yang berwarna hitam gelap.
Nathan mengamati Anna yang menyeberang jalan dan mencari taksi. Untuk membuat hatinya tenang, Nathan mengikuti Anna dari belakang dengan jarak sekitar sepuluh meter.
Setelah sampai di gedung apartemen tempat Anna tinggal, Nathan masih setia menunggu gadis itu untuk memasuki gedung di depannya. Setelah Anna menghilang dari jangkauan matanya, Nathan menghembuskan napas lega. Pria itu sibuk dengan pikirannya hingga sebuah ingatan kembali teringat saat kejadian sebelum ciuman itu terjadi.
“Astaga! Aku lupa menghubungi Zack,” ucap Nathan. Nathan segera menghubungi Zack dengan ponselnya. Kekesalan kembali melingkupi dirinya saat mengingat jika ia gagal memisahkan Anna dan Calvin, tetapi malah mengancam dirinya untuk semakin jauh dari Anna.
Panggilan tersambung.
“Batalkan penugasan pria s****n itu dan potong gajinya hingga lima puluh persen!” ucap Nathan menggebu-gebu.
“Tapi, kenapa, Tuan Muda?” Terdengar jelas jika Zack sedang kebingungan di seberang sana.
“Jika aku bilang potong gaji ya potong gaji!” kesal Nathan.
“Tapi bukankah itu menyalahi aturan keprofesionalan kerja?”
Nathan mendengus. Pria itu menghela napas kesal dan berkata, “Potong gajinya bulan ini dan tambahkan di bulan depan.”
“Tapi—”
“Aku atasanmu dan kau bawahanku, turuti aku maka gajimu akan aman, Zack!” ucap Nathan yang terdengar merupakan sebuah ancaman.
Nathan segera memutuskan sambungan panggilannya dengan sepihak.
Di seberang sana, Zack mendengus geli melihat sikap kekanakan Nathan. Padahal selama ia bekerja dengan pria itu, Nathan adalah sosok atasan yang tegas dan adil. Lalu, kenapa sekejap berubah menjadi bos yang semena-mena? Zack menggelengkan kepala miris, ia rasa gadis bernama Anna itu sangat berarti untuk Nathan. Ya, sangat berarti.
“Kurang pengalaman, kurang berkelas dan kurang gentle. Sepertinya pria itu perlu masuk kelas percintaan,” ucap Zack dan segera melakukan tugas yang diperintahkan Nathan.
***
“Aku pulang,” ucap Calvin dengan lesu sembari memasuki apartemen miliknya bersama Anna. Wajah Calvin terlihat kusut dan ditambah rautnya yang begitu memprihatinkan.
Anna bergegas menghampiri Calvin dan menanyakan alasan kenapa wajah pria itu tampil berbeda dari pagi tadi. Calvin berjalan gontai melewati Anna dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Terdengar helaan napas Calvin.
“Ada apa denganmu?” tanya Anna khawatir. Gadis itu dengan segala kepeduliannya, memijat kepala Calvin untuk merilekskan Calvin.
“Aku melakukan kesalahan kecil dan gajiku untuk bulan ini dipotong setengahnya,” ucap Calvin dengan frustasi. Apa perusahaan tempatnya bekerja memiliki peraturan yang begitu ketat hingga melakukan sedikit kesalahan bisa berakibat pada gajinya yang akan dipotong? Calvin sedikit merasa wajar jika peraturannya ketat karena tempatnya bekerja adalah salah satu perusahan terbesar kedua di dunia bisnis.
“APA!” pekik Anna yang tanpa disengaja menekan kuat pelipis Calvin yang tadi ia pijat.
“AU!” Calvin sontak mengaduh sakit karena perbuatan Anna. Karena suasana hatinya yang buruk, membuat Calvin menatap Anna tajam. Dan yang Anna lakukan hanya menyengir lebar tanpa rasa berdosa.
“Aku turut prihatin atas apa yang menimpamu, sobat. Kau sepertinya tertekan, ada baiknya kau masuk ke kamarmu, bersihkan tubuhmu lalu tidur.” Anna tersenyum manis pada Calvin. Ia tidak ingin menunjukkan raut prihatin karena itu akan semakin membuat Calvin menjadi sedih.
“Tidak perlu dipikirkan, kau hanya perlu melupakannya dan bekerja lebih baik lagi. Okay?” ucap Anna menyuntikkan semangat pada Calvin.
Calvin mengangguk lemah dan segera bangkit dari duduknya. Pria itu kembali berjalan gontai menuju kamarnya.
Sementara Anna, ia kembali duduk di atas karpet lembut sembari menonton kartun kesukaannya. Anna mengemil cemilannya hingga tanpa sadar cemilan itu sudah habis tak ada lagi yang tersisa. Pikiran Anna sempat teralihkan dengan masalah Calvin. Apa itu ada hubungannya dengan Nathan? Bukankah Nathan bilang jika ia adalah bos dari Calvin?
Anna menepis pikirannya soal pekerjaan Calvin. Sekarang yang lebih penting adalah soal cemilannya. Gadis itu beranjak menuju kulkas di dapur dan tak menemukan cemilan. Gadis itu kesal dan merasa tidak bisa hidup tanpa mengemil makanan. Akhirnya, tanpa meminta izin pada Calvin, Anna keluar dari apartemen. Hari sudah sore menjelang malam, bahkan senja terlihat jelas di langit. Anna berjalan sendiri meninggalkan gedung apartemen itu sembari berjalan menuju minimarket terdekat.
Tanpa sepengetahuan Anna, seseorang sudah mengikutinya sejak ia keluar dari area gedung apartemen itu. Anna tak menyadarinya karena ia sibuk dengan cemilan apa saja yang akan ia beli nanti.
Anna memasuki minimarket tanpa sadar jika dirinya hanya menggunakan hoodie kebesaran milik Calvin dan celana pendek sebatas lima jari di atas lutut. Anna terlalu sibuk dengan makanan hingga lupa dengan caranya berpakaian.
Sementara orang yang sejak tadi mengikuti Anna memasang tatapan garang ke sekitar. Menatap penuh aura pengancaman pada pria yang berani menatap gadisnya.
Ya, pria yang mengikuti Anna adalah Nathan. Sejak siang tadi, Nathan tidak kunjung pergi dari area gedung apartemen tempat Anna berada. Nathan mengawasi Anna dari jauh. Dan saat seorang pria hendak mendekati Anna karena melihat Anna yang kesulitan mengambil sebuah cemilan yang berada jauh dari jangkauan gadisnya, Nathan bergerak cepat mendahului pria yang sok baik itu. Nathan menatap penuh permusuhan dan mengibaskan tangannya untuk mengusir pria itu.
Anna yang membelakangi Nathan, jadi tidak melihat apa yang sedang terjadi di belakangnya. Nathan mendekati tubuhnya Anna, tepatnya pria itu berdiri di belakang tubuh Anna. Nathan dengan mudah mengambil barang yang diinginkan Anna dan memberikannya pada Anna.
“Terima ka—”
“Eh?” Anna sedikit terlonjat kaget saat menyadari Nathan yang menolongnya.
“Ke-kenapa kau ada di sini?” tanya Anna kikuk. Kejadian terakhir kali di toko bunga membuat Anna menjadi kikuk dan perasaan bersalah masih berada dalam hatinya.
“Kenapa?” Nathan memasang wajah datarnya dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Anna. “Tentu karena kau,” ucap Nathan dengan penuh keseriusan.
Anna meneguk saliva kasar dan tertawa hambar. Gadis itu menggaruk pipinya yang tidak gatal dan berkata, “Maaf atas yang terjadi tadi siang,” ucap Anna.
Nathan menaikkan sebelah alisnya.
“Kenapa meminta maaf?” tanya Nathan heran.
“Maaf karena membuat bibirmu terluka,” cicit Anna sembari menunduk dalam. Wajah Anna tertutupi oleh rambutnya yang menjuntai ke arahnya menunduk.
Tanpa sepengetahuan Anna, Nathan melepas jas panjang formalnya dan mengikatkan jas mahal itu di pinggang Anna untuk menutupi paha Anna yang terekspos.
“Tidak apa, aku suka dengan yang kau lakukan tadi siang. Itu terlihat menyenangkan,” bisik Nathan di telinga Anna. Dan kembali berbisik, “Dan jangan lupa jaga caramu berpakaian, Nona. Jika tidak, maka aku akan memelukmu agar tak ada yang melihat hak milikku.”
‘s**l! Pipiku memanas!’ batin Anna frustasi.
***